A. Latar Belakang Lahirnya UU No 33 Tahun 2014
Mengkonsumsi produk halal adalah perintah agama islam, dan hal tersebut merupakan bagian dari ibadah. Selain itu UUD 1945 juga menjamin masyarakat indonsia memiliki hak dalam menjalankan ibadah urusan individu muslim dengan Allah SWT.
Namun karena hal ini mengandung banyak aspek yang harus dipenuhi dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari, dan melibatkan banyak orang (pihak) maka negara harus hadir untuk memberikan jaminan (kepastin hukum) ini sama halnya dengan mengapa pemerintah perlu menghadirkan UU zakat, Umrah, dan Haji, dsb.
Kita juga tidak bisa melupakan sejarah, bahwa pada tahun 1988, peneliti Universitas Briwijaya Malang meneliti produk yang mengandung gelatin, shortening, lard, yang diduga kuat dari tulang, jaringan urat dan lemak babi. Dan ternyata banyak produksi di Indonesia yang mengandung gelatin, shortening dan lard tersebut.
Hasil penelitian tersebut menghebohkan public yang membuat penjualan berbagai produk di tingakt nasional turun hingga 30 persen.
Begitu pula kasus ajinomoto pada tahun 2001, yang mana ajinomoto yang telah mendapatkan sertifikasi halal MUI, ternyta mengganti bahan pembuatan MSG dari polypeptone yang halal dengan bactosoytone yang haram karena dari babi. Maka disinilah pentingnya lahirnya UU No 33 Tahun 2014 tentang jaminan bahwa yang beredar itu produk yang halal. Berikut jawaban wawancara dengan pihak BPJPH
Bahwa lahirnya uu 33 tahun 14 itu tujuan nya adalah dalam rangka untuk memberikan keamanan, kepastian hukum, kenyamanan, serta ketersediaan produk halal di masyarakat sebab bagaimana pun juga adalah negara kita adalah mayoritas muslim sehingga masyarakat itu betul betul harus dipastikan ketersediaan produk halal dan disitulah hadir pemerintah untuk memberikan kepastian hukum, jangan sampai masyarakat ini mudah mengkonsumsi produk yang selama ini beredar dipasarkan di dalam negeri itu sesutau prodak yang memang yang tidak halal sebab halal didalam sudah otomatis toyyib, dan belum tentu toyyib belum tentu halal. 70
1. Urgensi lahirnya UU No 33 tahun tahun 2014
Saat ini beredar di masyarakat kita berbagai makanan dan minuman yang ternyta masih terlalu banyak yang belum bersertifikat halal. Hal ini tidak terlepas dari sertifikat halal yang selama ini masih bersifat sukarela, belum menjadi sebuah
70 Wawancara dengan Dr.H.A. Sukandar, M.Ag, Kepala Bidang Registrasi Halal, Tanggal 31 Oktober 2019. Di Kantor BPJPH.
kewajiban yang ditetapkan negara. Maka perlu aturan untuk melindungi konsumen, yang mana aturan berupa UU No 33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal yang mewajibkan produk yang beredar di Indonesia bersertifikat halal.
Fakta tersebut juga dapat diartikan bahwa masih banyak produk halal yang produsennya belum sadar betapa pentingnya mengurus sertifikat halal produknya demi meningkatkan daya saing, atau sebenernya produk yang oleh produsennya di klaim halal tersebut faktanya memang masih mengandung suatu yang haram. Sehingga bila mengurus sertifikat halal pun, produk tersebut tidak akan mendapatkannya,karena memang tidak bisa memenuhi standar halal. Maka disinilah perlunya produk mengurus sertifikat halal, agar nantinya LPH mengaudit produk tersebut, dan bila memang halal, yaa berhak mendapatkan sertifikat halal. Berikut jawaban wawancara dengan pihak BPJPH.
urgensinya dalam rangka penguatan dan pengakuan pemerintah. Dimana pemerintah pun juga harus memperhatikan kepada dunia usaha bukan hanya sekedar memperhatikan kepada konsumen/customer muslim tapi juga bagi para pelaku usaha agar punya nilai tambah juga. Sebab di era saat ini masyarakat sudah mulai kritis untuk bisa mengkonsumsi produk yang halal. Maka untuk menambah asset sehingga income lebih punya nilai tambah maka produk2 halal yang di inisiasi oleh
parapelaku usaha ini sehingga bisa menambah income untuk peluku usaha. 71
2. Apa yang dinamakan sertifikasi halal dan sertifikat halal
Sertifikat halal adalah kegiatan atau proses untuk bisa memperoleh sertifikat halal, yang mana hal tersebut melibatkan tiga pihak (tiga pilar utama) yaitu Badan Penyelnggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sertifkat halal adalah pangakuan kehalalan suatu produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang dikeluarkan oleh MUI. Sedangkan Label Halal adalah tanda kehalalan suatu produk. Berikut jawaban wawancara dengan pihak BPJPH.
Sertifikasi itu prosesnya, untuk keluar sertifikat halal, dari mulai pelaku usaha daftar ke BPJPH dengan mangajukan dokumen2 yang di perlukan dan dibutuhkan yang terstandar , apa-apa saja yang harus bawa oleh para pelaku usaha dan setelah itu prosesnya di verifikasi oleh pihak BPJPH akan terhadap berapa dokumen itu secara oke yang memenuhi tidak perlu di lengkapi maka dia mendapatkan nomer pendaftaran, klo sudah mendapatkan nomer pendaftaran ini sudah di hitung , hari kerja untuk penyelesaian verifikasi ini kerja nya 10 hari, tapi mungkin situasi yang ada klo memang volume beban kerja nya sedikit pasti akan cepat, tapi standar 10 hari kerja , nah kemudian setelah itu verfikasi selesai kemudian nanti kita akan menyerahkan kepada pelaku usaha itu beberapa LPH. LPH adalah Lembaga Pemeriksa Halal nanti
71 Wawancara dengan Dr.H.A. Sukandar, M.Ag, Kepala Bidang Registrasi Halal, Tanggal 31 Oktober 2019. Di Kantor BPJPH.
ada beberapa LPH, namun yang saat ini sudah ready masih lppom MUI , jadi lppom MUI yang selama ini melakukn sertifikasi halal itu berubah menjadi LPH, dimana para auditor sedang mengikuti uji kompetensi di MUI sertifikat nya mereka sudah selesai di bawa ke BPJPH untuk di registrasi , maka nnt lah kita mengakui keberadaan LPH , jadi selama ini yang memeriksa dari pihak lppom MUI, dan skrng dari pihak BPJPH belum ready, jadi nnt kinerja nya atau alur kerja BPJPH ini tidak seperti yang selama ini di MUI, karna lppom MUI kan mulai menerima pendaftaran hingga juga yang memeriksa ke lapangan, jadi melibtkan kaitan dngn LPH ini indipenden bukan orng BPJPH yang memeriksa prodak itu adalah LPH menugaskan auditor yang ada di dalam LPH itu , setelah LPH beres kembalikan ke BPJPH nanti di serahkan kepada MUI untuk di sidang fatwa , jadi ada 3 institusi yang terlibat di dalam nya sebagi mitra kerja, BPJPH, LPH dan MUI , kalo kemarin satu pintu kalo sekarang tidak bisa karna 3 instutusi ini yang memiliki kewenangan masing-masing dan tidak bisa di interpensi oleh siapa pun, dulu MUI masuk di MUI dan keluar sertifikat di situ, sekarang engga kalo mengajukan sertifikasi halal di BPJPH , tapi yang menguji verifikasi ke lapangn bukan orang dari BPJPH , auditor yang menugaskan oleh LPH yang mengsidangkan halal atau tidaknya MUI hasil sidang fatwa itu nanti di serahkan kepada BPJPH untuk diterbitkan sertifikat halal , dan keluarlah sertifikat halal. 72
3. Apakah sertfikasi halal berlaku pada semua produk di Indonesia
Produk yang jelas haram, seperti minuman keras, daging bagi olahan dsb, yaa tidak perlu sertifikasi halal. Dan tidak perlu
72 Wawancara dengan Dr.H.A. Sukandar, M.Ag, Kepala Bidang Registrasi Halal, Tanggal 31 Oktober 2019. Di Kantor BPJPH.
juga produk tersebut di urus sertifikasi haramnya, karena memang tidak ada sertifikasi haram di Indonesia. Yang pasti produk yang oleh produsennya di klaim sebagai produk halal harus memiliki sertifikasi . dalam hal ini sudah di atur dalam pasal 26 UU jaminan produk halal (UU JPH). Ayat 1 berbunyi pelaku usaha yang memproduksi produk dari bahan yang berasal dari bahan yang diharamkan sebagaimana di maksud dalam pasal 18 dan pasal 20 dikecualikan dari mengajukan permohonan sertfikasi halal.
Sedangkan ayat 2 nya berbunyi pelaku usaha sebagaiaman dimaksud ayat 1 wajib mencantumkan keterangan tidak halal dalam produknya. Berikut jawaban wawancara dengan pihak BPJPH.
Wajib bersertifikat halal ini mulai berlaku pada tanggal 17 oktober 2019, undang undang yang memerintahkan tapi karena mengingat pemerintah harus memperhatikn berbagai kondisi yang ada dilapangan, kesiapan BPJPH sebagai pelaksana sertifikasi halal, kesiapan juga para pelaku usaha kaitan dengan sertifikasi halal karena dulu kan bersifat Voluntry. Sekarang mandatory wajib. Perlu diperhatikan walaupun wajib tgl 17 oktober tapi kita memberikan tahapan.
Dari tahapan ini agar memberikan keleluasaan bagi para pelaku usaha terutama untuk mikro umkm. Untuk produk produsen menengah keatas tidak ada persoalan. Uang banyak sdm tersedia. Kalo untuk umkm uang tidak ada. Sdm hanya itu dia sebagai owner. Sebagai marketingnya kan73
73 Wawancara dengan Dr.H.A. Sukandar, M.Ag, Kepala Bidang Registrasi Halal, Tanggal 31 Oktober 2019. Di Kantor BPJPH.
4. Bagaimanan ketentuan produk halal di Indonesia
Produk harus memenuhi standar halal terlebih dahulu, dan itu berdasarkan pengujian oleh LPH. Dari situlah nantinya akan di berproses yang berujung pada diterbitkannya sertfikat halal. Bila dari LPH nya menyatakan produk ini tidak memenuhi standar halal, ya tidak akan diterbitkan sertifikasi halal untuk produk tersebut. Serttifikasi halal dari BPJPH berlaku selama 4 tahun, kecuali terdapat perubahan komposisi bahan (pasal 42 UU No 33 Tahun 2014 tentan Jaminan Produk Halal)
Ketentuannya bahwa produk di Indonesia ini adalah semua produk yang masuk, yang beredar dipasarkan wajib bersertifikasi halal, ada di pasal 4 uu no.33 tahun 2014. Oleh karna itu maka produk yang beredar di Indonesia ini wajib besrtifikasi halal, namun ada tahapan untuk lima tahun sejak 17 oktober 2019 sampai 17 oktober 2024. Ini untuk makanan dan minuman. Sementara untuk kosmetik obat produk kimiawai, produk biologi, rekayasa genetic, barang gunaan (sepatu) . akan dimulai pada 2021, 7 tahun yang akan datang untuk makanan dan minuman. Jadi wajib selama lima tahun itu mereka sertifikasi. Misalkan siapnya tahun ini ya silahkan tahun ini daftar, oh belum siap nih silahkan tahun depan.
Pokoknya dikasih waktu sampai tgl 17 oktober 2024, kalua sampai saat itu belum juga bersertifikat halal, maka tidak boleh produknya beredar. Kecuali pada label itu harus mencantumkan keterangan tidak halal. Sehingga memberikan informasi kepada masyarakat ini, agar jangan tertipu
masyarakat ini, nantinya masyarakat akan melihat ini produk halal atau tidak. Walaupun itu dia menyatakan saya halal, tetapi karena tidak ikut proses sertifikasi, harus mencantumkan informasi keterangan tidak halal. Itu pada saat nanti setelah tgl 17 oktober 2024 bagi yang makanan dan minuman yang tidak bersertifikat halal. Kalau bagi yang bersertifikat aman, cukup ditempelkan logonya.74
5. Bagaimana bentuk legalitas sertifikasi halal di Indonesia
Yang legal hanyalah sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh BPJPH. Namun saat ini produk yang sudah memiliki sertifikasi halal dari LPPOM MUI tetap legal, sampai dengan masa berlakunya sertifikasi tersebut habis. Bila sudah habis maka produsen harus ke BPJPH untuk mengurus sertifikasi halal produknya per 17 oktober 2019 LPPOM MUI sudah tidak berhak lagi mengeluarkan sertifikasi halal. berikut jawaban wawancara dengan pihak BPJPH.
Kuat, karena kita ini pemerintah. Legal formanya kuat kemudian juga pemberlakuannya tidak hanya 2 tahun tapi 4 tahun masa berlkunya sertfikiasi halal.75