A. Pengertian tentang Produk Halal
2. Pengertian Halal dan Haram
Sementara itu, kata “Halal” berasal dari Bahasa arab yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Menurut ibn manzhur halal itu berasal dari kata “al-hillu” yang berarti tidak terikat (al-thalaq). Oleh karna itu, al-muhillu berarti orang kafir yang boleh diperangi karna tidak terikat perjanjian damai dalam kita14. Lafadz halal merupakan lawan kata
“haram“, sedangkan lafadz “haram” itu pada asalnya berarti mencegah
7 Sutanto dan William, Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid kedua, Ketujuh (Jakarta:
Erlangga, 1996).
14 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab, Vol. Juz XIII (Dar al-Ma’arif.),h.177.
atau merintangi (al-man’u). oleh karena itu setiap yang diharamkan (al muhrimu) itu menjadi tercegah atau terlarang. Lafadz al muhrimu merupakan lawan dari lafadz al muhillu yang berarti orang kafir yang tidak boleh diperangi karena terikat perjanjian damai dengan kita. 15
Menurut Abdul Aziz Dahlan dalam Buku Ensiklopedia Hukum Islam menjelaskan pengertian Halal. Halal berasal dari kata halla, yahillu, hillan yang artinya membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan, dan membolehkan. Segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut dalam Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam16
Dalam buku ensiklopedia Islam Indonesia disebutkan bahwa halal artinya tidak di larang, dan diijinkan melakukan atau memanfaatkannya.
Halal itu dapat di ketahui apabila ada suatu dalil yang menghalalkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan apabila tidak ada suatu dalil yang menghalalkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan apabila tidak ada suatu dalil pun yang mengharamkan atau melarangnya.17
15 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab Juz XIII,h.176.
8Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2006),h.505–506.
9 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedia Islam Indonesia (Jakarta:
Djambatan, 2002), h. 346.
Halal dapat ditinjau dari segi pandangan hukum dan thayyib yaitu yang melekat pada materi (Produk). Oleh karena itu halal harus mencakup dua aspek, yaitu halal secara lahiriah dan batiniah. Halal secara lahiriah dikaitkan dengan yang dapat diketahui dengan panca indera, khususnya penglihatan, penciuman dan pendengaran.
Menyangkut status kesehatan, pemeriksaan laboratorium dan lain-lain.
Di samping itu, peralatan yang dipergunakan pada proses pembuatan produk tersebut tidak digunakan juga untuk mengolah suatu bahan yang haram. Jenis bahan baku, pekerja dan teknik mengerjakan harus memenuhi kriteria halal.
Produk halal menjelaskan bahwa produk halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat.18 Menurut Pasal 1 Angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan menyatakan bahwa :
“Panganan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang di olah melalui proses rekayasa genetik dan iridasi pangan, dan yang pengelolaanya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam
18 Pasal 1 undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tetang Produk halal.
Haram Sesuatu yang dilarang mengerjakannya. Haram adalah salah satu bentuk hukum taklifi. Menurut ulama ushul fikih, terdapat dua definisi haram, yaitu dari segi batasan dan esensinya serta dari segi bentuk dan sifatnya. Dari segi batasan dan esensinya, Imam al-Ghazali merumuskan haram dengan “sesuatu yang dituntut Syari’ (Allah SWT dan Rasul-Nya) untuk ditinggalkan melalui tuntutan secara pasti dan mengikat”. Dari segi bentuk dan sifatnya, Imam al-Baidawi merumuskan haram dengan “sesuatu perbuatan yang pelakunya dicela19
Menurut hukum Islam, secara garis besar perkara (benda) haram terbagi menjadi dua. haram li-zatih dan haram li-gairih. Kelompok pertama, subtansi benda tersebut diharamkan; sedangkan yang kedua, subtansi bendanya halal (tidak haram) namun cara penanganan atau memperolehnya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.20 Dengan demikian, benda haram jenis kedua terbagi dua. Pertama, bendanya halal tapi cara penangananya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam;
misalnya kambing yang tidak dipotong secara syar‟i, sedangkan yang kedua, bendanya halal tapi diperoleh dengan jalan atau cara yang dilarang oleh agama, misalnya hasil korupsi, menipu dan sebagainya.
Mengenai benda haram ini di jelaskan, antara lain dalam firman Allah.21
19 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam,h.523.
20 Tim Penyusun, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Sejak 1975, (Jakarta: Erlangga, 2011), h.948.
21 Tim Penyusun , Himpunan Fatwa Majlis Ulama sejak 1975. h.949.
Barang yang haram karena sifat-sifatnya atau sebab memperolehnya atau oleh sebab keduanya, tidak dapat dihalalkan lagi. Sebaliknya barang yang telah halal karena sifat-sifatnya, maka tidak dapat diharamkan kecuali berdasarkan cara (sebab) memperolenya.22
Kehalalan merupakan sangat penting dan utama bagi umat muslim kerena hubungannya dengan Allah SWT. Kehalalan tertera dalam ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi:
14 Syeikh Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Kaidah-Kaidah Hukum, (Mesir: Nusa Media, 2011), h. 75.
HARAM
Li- Ghairihi Haram karena cara
perolehannya atau penanganannya.
bendanya halal namun cara memperolehnya
dengan jalan yang dilarang oleh agama oleh ajaran islam
contoh nya:
kambing yang di potong tidak
ُﻞُﺳﱡﺮﻟٱ ﺎَﻬﱡـﻳَﺄ َٰﻳ
Artinya: Allah berfirman, “ wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku maha mengetahui apa yang kamu kerjakan
.
Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Dan hadis yang berbunyi
ﺎًﺒﱢﻴَﻃ ﱠﻻِإ ُﻞَﺒْﻘَـﻳ َﻻ ٌﺐﱢﻴَﻃ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ
Artinya: Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. (HR Muslim)
Ayat tersebut adalah menyuruh agar kita senantiasa untuk mengkosumni yang ada di muka bumi ini yang serba halal dan baik, baik makanan dan minuman bahkan selain itu seperti kosmetik, obat-obatan dan lain-lainnya. Kosmetik dan obat-obatan keduanya di sebut halal apabila bahan-bahan yang terkandung dalam keduanysa harus dari bahan baku pilihan yang sesuai syariat islam dan memiliki sertifikasi halal dari Majlis Ulama Indonesia.
Sedangkan Thayyib berarti baik, lezat dan artinya bahwa sesuatu makanan tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kadaluarsa) atau tercampur benda najis 23