• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK Dewi Murti Hidayat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK Dewi Murti Hidayat"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

33 Tahun 2014 tentang JPH”, Program Studi Perbandingan Mazhab Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/ 2020 M, x 82 Halaman.

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kesiapan BPJPH dalam pelaksanan UU No 33 Tahun 2014. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat dari suatu keadaan dan sekedar memaparkan uraian (data dan informasi) yang berdasarkan pada fakta yang diperoleh dari lapangan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa UU No 33 Tahun 2014 ini mewajibkan pada semua produk yang masuk, beredar, diperdagangkan di seluruh wilayah Indonesia harus bersertifikat halal. BPJPH tugas nya adalah memeriksa kelengkapan-kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk sertfikasi halal, antara lain daftar prodak, daftar nama bahan dan dokumen bahan, daftar penyembelih (khusus RPH). Dan menerbitkan sertifkiat halal. LPH tugas nya adalah memeriksa dan menguji kehalalan produk, oleh para Auditor halal di tempat pelaku usaha pada saat produksi. Komisi Fatwa MUI tugas nya adalah melaksanakan pengkajian ilmiah terhadap hasil pemeriksaan atau pengujian kehalalan produk yang di hadirkan oleh para pakar/unsur kementerian/Lembaga atau instansi terkait, dan melaksanakan sidang fatwa halal untuk menerbitkan sertifikat halal.

Kata Kunci: Kesiapan BPJPH, UU No 33 Tahun 2014, Sertifikasi Halal.

Pembimbing : Dr.Fuad Tohari, M.A.

Ahmad Bisyri Abdul Shomad, L.C., M.A.

(6)

Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini diperlukan terutama bagi mereka yang dalam teks karya tulisnya ingin menggunakan beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata bahasa Indonesia atau lingkup masih penggunaannya terbatas.

a. Padanan Aksara

Berikut ini adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:

Huruf

Arab Huruf Latin Keterangan

ا

Tidak dilambangkan

ب

b be

ت

t te

ث

ts te dan es

ج

j Je

ح

h ha dengan garis bawah

خ

kh ka dan ha

د

d de

ذ

dz de dan zet

ر

r Er

ز

z zet

س

s es

ش

sy es dan ye

ص

s es dengan garis bawah

(7)

ط

t te dengan garis bawah

ظ

z zet dengan garis bawah

ع

koma terbalik di atas hadap

kanan

غ

gh ge dan ha

ف

f ef

ق

q Qo

ك

k ka

ل

l el

م

m em

ن

n en

و

w we

ه

h ha

ء

apostrop

ي

y ya

b. Vokal

Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab

Tanda Vokal Latin

Keterangan

ـــــَـــــ a fathah

ـــــِـــــ i kasrah

ـــــُـــــ u dammah

(8)

Tanda Vokal Arab

Tanda Vokal Latin

Keterangan

َي

ـــــَـــــ ai a dan i

و

ـــــَـــــ au a dan u

c. Vokal Panjang

Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab

Tanda Vokal Latin

Keterangan

ــــَـا

â a dengan topi diatas

ــــِـٮ

î i dengan topi atas

ـــُــو

û u dengan topi diatas

d. Kata Sandang

Kata sandang, yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialih aksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyahatau huruf qamariyyah. Misalnya: داھثجلإا =al-ijtihâd

ةصخرلا = al-rukhsah, bukan ar-rukhsah e. Tasydîd (Syaddah)

Dalam alih aksara, syaddah atau tasydîd dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah. Tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf- huruf syamsiyyah. Misalnya: ةعفشلا = al-syuî ‘ah, tidak ditulis asy-syuf ‘ah

f. Ta Marbûtah

Jika ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihasarakan menjadi huruf “t” (te)(lihat contoh 3).

(9)

1 ةعيرش syarî ‘ah

2 ةيملاسلإا ةعيرشلا al- syarî ‘ah al-

islâmiyyah

3 بھاذملا ةنراقم Muqâranat al-madzâhib

g. Huruf Kapital

Walau dalam tulisan Arab tidak dikenal adanya huruf kapital, namun dalam transliterasi, huruf kapital ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diperhatikan bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Misalnya, يراخبلا= al-Bukhâri, tidak ditulis al-Bukhâri.

Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialihaksarakan meski akar kara nama tersebut berasal dari bahasa Arab. Misalnya:

Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Dîn al-Rânîrî.

h. Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’l), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah.

Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:

No Kata Arab Alih Aksara

1

تاروظحملا حيبت ةرورضلا

al-darûrah tubîhu almahzûrât

2

يملاسلإا داصتقلإا

al-iqtisâd al-islâmî

3

هقفلا لوصأ

usûl al-fiqh

4

ةحابلإا ءايشلأا ىف لصلأا

al-‘asl fi al-asyyâ’ alibâhah

5

ةلسرملا ةحلصملا

al-maslahah al-mursalah

    

(10)

ِميِحﱠرلٱ ِن َٰم ۡحﱠرلٱ ِ ﱠ ٱ ِم ۡسِب

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“KESIAPAN BPJPH DALAM PELAKSANAAN UU NO 33 TAHUN 2014 TENTANG JPH”. Shalawat serta salam semoga tetap dan akan terus tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang pribadinya selalu menjadi tauladan bagi kita semua, kepadakeluarganya, kepada sahabatnya sampai kepada para pengikutnya.

Berakhir sudah masa yang indah ini. Peneliti sangat bersyukur atas selesainya penyusunan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat do’a, dukungan, bimbingan, semangat, dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada:

1. Allah SWT dan Rasul nya yang selalu memberikan Nikmat dan Hidayah nya kepada seluruh Hambanya, serta menjadi tauladan bagi ummat nya.

2. Bapak Dr. Ahmad Tholabi, M.A. selaku Dekan Fakultas Syarih dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan selaku Pembimbing Akademik yang selalu memberikan inspirasi dan motifasi penuh kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan Tugas akhir ini dengan baik.

3. Ibu Siti Hanna, M.A. dan Hidayatullah M.H. selaku Kepala Jurusan dan Sekretaris Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum yang telah membantu banyak hal kepada penulis.

4. Bapak Dr.Fuad Tohari, M.A. dan Ahmad BisyriAbdul Shomad, L.C., M.A. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik

5. Seluruh dosen dan karyawan akademik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelayanan sehingga membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

(11)

Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelayanan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Teristimewa Kepada kedua orang tua penulis yaitu ayahanda Bapak. Soleh.Hidayat dan Alm. Tri Murtini dan Ibu penerus ibu Teti Nurhayati , yang telah mencurahkan segenap kasih sayangnya, serta tak putus-putusnya membrikan dukungan baik Moril maupun materil, dan doa kepada penulis dalam menempuh Pendidikan. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan, memberikan kehidupan yang penuh keberkahan dan membalas segala kebikannya, Aamiin.

8. Terima kasih Kepada kakak-kakak Nurul Hidayat S.PD., Muhammad Rezza Hidayat S. Ag., Adis romdhani Dan Keponakan saya Muhammad Kahfi Ar-Rasyid. Yang telah memberikan Doa, dukungan moril dan meteril, serta sebagai Motivator dalam menyelesaikan studi strata 1 saya.

9. Terima Kasih kepada Muhammad Adhi Priyogo S.IP yang selalu membantu dan mensuport penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

10. Terima kasih kepada sabahat sahabat tercinta Mumtaz Khoirunnisa Iris Putranti, Lutfah Rohmanah, Alm Husnia Laili, Faizah Amaliah, Farhatul Uyuniah, yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah penulis ketika terdapat masalah selama perkuliahan.

11. Terima kasih kepada semua teman-teman Perbandingan Mazhab dan Hukum angkatan 2014 atas kebersamaan dan dukungan nya selama penulis menyelesaikan karya ilmiah ini, semoga kita semua menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, negara, dan bangsa.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan ketulusan semua pihak yang telah membantu menyelsaikan skripsi ini dengan melimpahkan rahmat dan karunia nya.

Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Jakarta , 21 Desember 2019 Penulis

(12)

ABSTRAK ... iv 

PEDOMAN TRANSLITERASI ... v 

KATA PENGANTAR ... ix 

DAFTAR ISI... xi 

BAB I ... 1 

PENDAHULUAN ... 1 

A.  Latar Belakang Masalah ... 1 

B.  Identifikasi Masalah ... 5 

C.  Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5 

D.  Tujuan dan Manfaat penelitian ... 6 

G.  Metode Penelitian ... 10 

F.  Sistematika Penulisan ... 13 

BAB II ... 16 

Tinjauan Umum Tentang Sertifikasi Produk Halal ... 16 

A.  Pengertian tentang Produk Halal ... 16 

1. Pengertian produk ... 16

2. Pengertian Halal dan Haram ... 17

3. Pengertian Sertifikasi Halal ... 23

B. Ketentuan produk halal dalam hukum islam ... 25 

1. Definisi makanan halal ... 25

2. Dasar hukum Al-Quran tentang makanan halal ... 27

BAB III ... 37 

Sistem Jaminan Produk Halal di Indonesia ... 37 

A.  Sistem Jaminan Halal di Indonesia ... 37 

1. Prinsip-prinsip SJH ... 39

2. Manfaat menerapkan SJH ... 41

B.  Penentuan Kehalalan Produk Halal ... 42 

1. Kriteria Sistem Jaminan Halal ... 42

(13)

C.  Pentingnya Sistem Sertifikasi Halal ... 58 

BAB IV ... 63 

HASIL WAWANCARA DENGAN PIHAK BPJPH ... 63 

A.  Latar Belakang Lahirnya UU No 33 Tahun 2014 ... 63 

1.  Urgensi lahirnya UU No 33 tahun tahun 2014 ... 64 

2.  Apa yang dinamakan sertifikasi halal dan sertifikat halal ... 66 

3.  Apakah sertfikasi halal berlaku pada semua produk di Indonesia ... 67 

4.  Bagaimanan ketentuan produk halal di Indonesia ... 69 

5.  Bagaimana bentuk legalitas sertifikasi halal di Indonesia ... 70 

B.  Teknisnya dalam Melaksanakan Sertifikasi Halal ... 70 

1.  Ada berapakah auditor halal yang sudah terakrediatsi ... 71 

2.  Hambatan apa saja yang di alami BPJPH dalam melaksanakan sertifikasi halal ... 72 

3.  Upaya BPJPH dalam mengatasi hambatan dalam melaksanakan sertifikasi halal ... 73 

BAB V ... 77 

PENUTUP ... 77 

A.  Kesimpulan ... 77 

B.  Saran ... 78 

DAFTAR PUSTAKA ... 79 

(14)

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan, manusia selalu membutuhkan makanan sehari-harinya.

Mereka membutuhkan makanan untuk kebutuhan dan kesehatan jasmaninya . Sejak dahulu ummat dan bangsa-bangsa ini berbeda dalam persoalan makanan dan minuman, apa yang boleh dan yang tidak boleh1. Dalam memilih makanan yang baik, hendak nya sebagai umat muslim memilih makanan yang sehat menurut islam.

Dalam ajaran Islam banyak peraturan yang berkaitan dengan “makanan”, dari mulai mengatur makanan yang halal haram, etika makanan, sampai mengatur idealitas dan kuantitas di dalam perut. Salah satu peraturan terpenting adalah larangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram.

Mengkonsumsi yang haram atau belum diketahui kehalalannya akan berakibat serius, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Thabrani.

Seruan Allah kepada umat manusia agar mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik dan menyehatkan tidak lain adalah demi tercapainya kemaslahatan bagi umat manusia itu sendiri dalam Al-Qur’an di tuliskan

َٰﻳ ﺎَﻬﱡـﻳَﺄ رَﻷٱ ِﰲ ﺎﱠِﳑ ْاﻮُﻠُﻛ ُسﺎﱠﻨﻟٱ ﻼَٰﻠَﺣ ِض

َﻻَو ﺎﺒﱢﻴَﻃ ُﻪﱠﻧِﺈِﻨَٰﻄﻴﱠﺸﻟٱ ِتَٰﻮُﻄُﺧ ْاﻮُﻌِﺒﱠﺘَـﺗ ۥ ﻢُﻜَﻟ

ٌﲔِﺒﱡﻣ ّوُﺪَﻋ

 

1 Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram (Jakarta: Rabbani Pers, 2002), h45.

(15)

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al- Baqarah: 2: 168)

Hikmah dibalik perintah itu adalah agar agama, jiwa, dan akal serta keturunan dan harta dapat terjaga dan terpelihara dengan baik. Dengan terjaganya kemaslahatan tersebut seorang mukallaf di harapkan akan sanggup menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini dan akan memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat.

Seiring berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang termasuk cara pengolahan bahan pangan yang semakin variatif. Di pasaran dapat ditemukan beragam produk olahan dari berbagai bahan dasar, baik yang diproduksi pabrik makanan lokal maupun impor dari perusahaan asing. Bahkan sekarang banyak pembuatan makanan olahan yang bersifat kompleks dan makanan tersebut dibuat dari berbagai kandungan yang tidak semuanya jelas kehalalannya2. Sebagian masyarakat awam berpandangan bahwa makanan yang sehat dan baik sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dan asupan gizi3. Padahal semua asupan yang sehat dan baik itu tidak akan menambah kesehatan dan kebaikan jika tidak dilengkapi dengan faktor halal4

Isu tentang produk makanan dan minuman yang diharamkan dan berbahaya sedang mendapatkan perhatian masyarakat. Produk-produk makanan instan,

 

2 Rachmad Usman, Hukum Ekonomi dalam Dinamika, (Jakarta: Djambatan, 2004), h., 74  

3 Kurniawan Budi sutrisno, Tanggung jawab Pelaku Usaha Terhadap Pemberian Label  Halal pada Produk Makanan dan Minuman Perspektif Hukum perlindungan Konsumen, (Jurnal  Penelitian Universitas Mataram: Vol. 18, No. 1, 2014), h., 90 

4 Muhammad Ibnu Elmi As Pelu, Label Halal: Antara Spiritualitas Bisnis dan Komoditas  Agama, (Malang: Madani , 2009), h., 22 

(16)

makanan cepat saji, restoran samoai jajanan pasar pun merupakan hal yang rawan dicemari oleh jenis makanan yang tidak halal baik dari segi bahan, maupun prosesnya5. Masalah halal haram dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebab masalah tersebut meliputi hampir sebagian besar ajaran Islam.

Di Indonesia, BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Hakal) dapat membantu masyarakat mengetahui tentang labelitas produk yang mereka konsumsi. Lembaga ini bertugas sebagai mengawasi produk yang beredar di masyarakat dengan cara memberikan sertifikat halal sehingga produk yang telah memiliki sertifikat tersebut dapat memberikan label halal kepada produknya.

Artinya produk tersebut secara proses dan kandungannya telah lulus diperiksa dan terbebas dari unsur-unsur yang dilarang oleh ajaran islam, atau produk tersebut telah menjadi katagori produk halal dan tidak mengandung unsur haram dan dapat dikonsumsi secara aman oleh konsumen muslim6

Bersamaan dengan itu, ternyata masih banyak produsen yang belum mempunyai sertifikat halal dalam produk ataupun perusahaannya , sehingga banyak yang mengambil jalan pintas untuk meraih keuntungan semata. Dalam proses produksi saja banyak sekali para produsen yang menggunakan bahan- bahan kimia berbahaya ataupun dalam produknya mengandung unsur-unsur non halaldalam artian haram seperti borax, kandungan minyak babi dan lain sebagainya yang bertentangan dengan syariat Islam. Begitupun dalam proses

 

5 Diana Candra Dewi, Rahasia Dibalik Makanan Haram (Malang: UIN‐Malang, 2007), h.iii 

6 Retno Sulistyowati, "Lebelitas Halal", artikel ini diakses pada alamat http://www.esqmagazine.com.    

(17)

tahap selanjutnya seringkali pelaku usaha menghalalkan berbagai cara agar upaya produk pangan mereka laku di pasaran. Salah satu upaya modus yang mereka lakukan adalah dengan mencantumkan label halal MUI pada kemasan produknya, tanpa melalui proses sertifikasi halal dari MUI7

Lahirnya undang-undang Nomer 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal (UUJPH) makin mempertegas betapa mendesaknya persoalan halal haram dalam ranai produksi dari pelaku usaha hingga sampai dan di konsumsi oleh konsumen. Karena diantara mereka ada peran pihak distributor, subdistributor, grosir, pengecer sebelum sampai ke tangan konsumen akhir. Diberlakukannya undang-undang UUJPH pihak konsumen (masyarakat luas) mendapatkan kepastian hukum terhdap produk makanan dan barang konsumsi lainya.

Demikian pula dengan usaha, hadirnya UUJPH memberikan panduan bagaimana mengolah, memproses, memproduksi dan memasarkam produk kepada masyarakat konsumen serta bagaimana membuat informasi produk halal kepada konsumen

Dengan adanya jaminanan produk halal, produsen juga menuai manfaat , perusahaan bisa mendapat manfaat , yaitu produk yang bersertifikasi halal digemari komsumen dan menambah tingkat penjualan. Menyediakan pangan halal dapat menjadi bisnis yang sangat prospektif, karena dengan label (sertifikasi) halal dapat mengundang pelanggan yang loyal. Hal ini bukan saja diminati oleh muslim tetapi juga masyarakat non muslim

 

7 Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jurnal  Syariah Sertifikasi ProdukHalal, Edisi 3, 2015., hlm., 28 

(18)

Tetapi BPJPH ini dinilai belum siap untuk menerima pendaftaran Sertifikasi Halal walaupun kewajiban sudah dimulai diberlakukan pada 17 Oktiber 2019.

Di antaranya yaitu pertama Kodisi pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) meskipun kewajiban sudah diberlakukan, di PTSP tidak ada form informasi maupun pendaftaran untuk megurus Sertifikat Halal , kedua Website pendaftaran belum dapat di akses, ketiga Belum terbitnya Peraturan Mentri agama soal waktu Pengurusan Sertifikat, keempat Ketidakpahaman beberapa pegawai PTSP mengenai pendaftaran Sertifikat Halal.8

Berdasarkan hal-hal yang telah di paparkan di atas dan untuk meneliti tentang sertifikasi produk halal maka penulis ingin meneliti dan membahasnya dalam skripsi yang berjudul “ KESIAPAN BPJPH DALAM PELAKSANAAN UU NO 33 TAHUN 2014 TENTANG JPH ”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang penelitian ini, penulis mengidentifikasi beberapa masalah, di antanya yaitu mulai dari pengertian sertifikasi halal, apakah sertifikasi halal berlaku pada semua produk di Indonesia dan bagaimana sistem serifikasi halal di Indonesia, serta apa dasar hukum diberlakukannya sertifikasi halal, bagaimana ketentuan produk halal di Indonesia dan bagaimana bentuk legalitas sertifikasi halal di Indonesia.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

 

8 BPJPH Dinilai Belum Siap Layani Pengurusan Sertifikat Halal, 

http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20191021113744‐92‐441455/bpjph‐dinilai‐belum‐siap‐

layani‐pengurusan ‐sertifikat‐halal 

(19)

1. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, maka penulis akan membatasi masalah yang akan di bahas, sehingga pembahsan lebih jelas dan lebih terarah, sesuai dengan yang di harapkan penulis, di sini penulis akan pembahas tentang “ Kesiapan BPJPH Dalam Pelaksanaan UU No 33 Tahun 2014 Tentang JPH ”

2. Perumusan masalah

a. Bagaimana Kesiapan BPJPH dalam Pelaksanaan UU No 33 Tahun 2014 Tentang JPH ?

b. Bagaimana pembagian tugas antara BPJPH, LPH, dan Komsi Fatwa MUI?

D. Tujuan dan Manfaat penelitian 1. Tujuan penelitian

a. Umtuk mengetahui bagaimana Kesiapan BPJPH dalam Pelaksanaan UU No 33 Tahun 2014 Tentang JPH.

b. Untuk mengetahui tugas-tugas antara BPJPH, LPH dan komisis fatwa MUI.

2. Manfaat penelitian

Sedangkan manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu : a. Manfaat secara Teoritis, yakni memperkaya khazanah keilmuan

khususnya di lingkungan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

(20)

b. Manfaat secara Praktisi, yakni memberikan informasi kepada masyarakat tentang Kesiapan BPJPH dalam pelaksanaan uu no 33 tahun 2014 tentang JPH

c. Manfaat pragmatis :

1. Diharapkan dapat bermanfaat atau dapat di gunakan sebagai informasi bagi masyarakat terkait masalah Kesiapan BPJPH dalam pelaksanaan uu no 33 tahun 2014 tentang JPH.

2. Memberikan bahan masukan bagi akademis dalam menyelesaikan tentang Kesiapan BPJPH dalam pelaksanaan uu no 33 tahun 2014 tentang JPH.

E. Review Studi Terdahulu

Pertama, yaitu, Kewenangan LPPOM MUI Dalam Penentuan Sertifikasi Halal Pasca Berlakunya UU No 33 Tahun 2014:

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarata (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata ) Oleh M. Ade Septiawan Putra Tahun 2013/2014

Dalam penelitian tersebut terdapat permasalahan mengenai kewenangan LPPOM MUI pasca Undang-Undang No 33 Tahun 2014.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukan Undang-Undang No 33 Tahun 2014 JPH maka peluang untuk turut serta berpartisipasi dalam penanganan sertifikasi halal terbuka bagi ormas Islam yang berbadan hukum dengan ini akan terwujud perlindungan konsumen mulim di Indonesia terkait dengan kehalalan sebuah produk.

(21)

Kedua yaitu, Kriteria Sertifikasi Makanan Halal Dalam Prespektif Ibnu Hazm Dan MUI: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarata (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata )Oleh: Hasyim Asy’ari. Tahun 2011

Permasalahan dalam penelitian ini bagaimana pandangan dan metode istinbaht hukum Ibnu Hazm tentang sertifikasi makanan halal dan bagaimana metode istinbaht hukum MUI tentang sertifikasi makanan halal . Lalu hasil penelitian menunjukan bahwa pandangan dan metode istnbath hukum ibnu Hazm tentang sertifikasi makanan halal yaitu ada empat sumber hukum berdasarkan Al-Qur’an khabar dari rosulullah, ijma , dan dalil . dan hasil dari penelitian pandangan dan metode istinbaht hukum MUI tentang sertifikasi makanan halal yaitu setiap keputusan fatwa harus mempunyai dasar dan kitabullah dan sunnag rasul yang mu’tabbarah, serta tidak bertentangan dengan kemaslahatan umat. Jika tidak terdapat dalam kitabullah dan sunnah rasul sebagaimana ditentukan pada pasal 2 ayat 1, keputusan fatwa hendaklah todak bertentangan dengan ijma, Qiyas, yang mu’tabar dan dalil-dalil hukum yang lain, seperti masalah, mursalah dan sadd az- Zari’ah.

Ketiga yaitu Pengaruh Label Halal Dan Tingkat Harga Terhadap Keputusan Menggunakan Prodak Kosmetik (Studi Kasus: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarata (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata ) Oleh: Titi Ernawati Tahun 2015

(22)

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana pangaruh label halal terhadap keputusan menggunakan produk kosmetik dan bagaimana pangaruh harga terhadap keputusan menggunakan produk kosmetik dan hasil dari penelitian tersebut yaitu dari 100 % responden 75% responden telah memakai yang telah berlabel halal sebanyak 15%

responden tidak memakai produk kosmetik yang berlabel halal dan sisanya 10% responden tidak memakai kosmetik yang berlabel halal sangat tinggi karena menjadi pililhan utama dalam ibadah dan berpenampilan. Dan nilai F perhitungan sebesar 7,841 dengan tingkar signifikansi 0,000. Karena tingkat signifikasi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05) dan nilai F tabel sebesar 3,04, sehingga F hitung > F tabel (7,481>3,04), maka H0 do tolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa variable label halal dan tingkat harga secara simultan mempengaruhi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mengambil keputusan menggunakan produk kosmetik.

Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dalam penelitian yang penulis bahas dengan judul Kepastian Hukum Dalam Sertifikasi Produk Halal Menurut Hukum Islam Dan UU No 33 Tahun 2014.

Penelitian ini membahas mengenai bagaimana kesiapan BPJPH dalam sertifikasi produk halal yang dengan lahirnya UU No 33 tahun 2014 tersebut maka semua produk harus mempunyai sertifikasi halal, di antaranya produk pangan, obat-obatan, kosmetik, barang gunaan (bahan

(23)

kimia, sabun, detergen,dll) dan akan menjadi sebuah kewajiban (mandatory) bukan bersifat sukarela (sukarela) . dalam penelitian ini penulis juga akan menelusuri secara langsung dengan bertanya kepada BPJPH bagaimana kesiapan BPJPH dalam sertifikasi produk halal . G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini berdasarkan kepada penelitian hukum yang dilakukan dengan memakai pendekatan normatif empiris, yang mana metode penelitian hukum normatif empiris ini pada dasarnya merupakan penggabungan antara pendekatan hukum normatif dengan adanya penambahan berbagai unsur empiris. Metode penelitian normatif- empiris mengenai implementasi ketentuan hukum normatif dalam aksinya pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam suatu masyarakat.

2. Jenis Penelitian

Dalam jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Kualitatif adalah nilai dari perubahan- perubahan yang tidak dapat dinyatakan dalam angka, melainkan memberikan uraian-uraian sesuai dengan kenyataan dan keadaan yang sebenarnya yang terjadi pada objek penelitian.

Menurut Lexy J. Moleong proses analisis data kualitatif dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambare foto dan sebagainya.

Setelah ditelaah, langkah selanjutnya adalah reduksi data, penyusunan satuan, kategorisasi dan terakhir adalah penafsiran data. Mengenai penelitian deskriptif, metode ini bertujuan untuk menggambar sifat

(24)

sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab dari suatu gejala tertentu.9

Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat dari suatu keadaan dan sekedar memaparkan uraian (data dan informasi) yang berdasarkan pada fakta yang diperoleh dari lapangan.

3. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Data primer, yaitu data yang dikumpulkan melalui penelitian lapangan dengan metode wawancara kepada pihak yang berkompetensi, dalam hal ini BPJPH menjadi kewenangan dalam mendapatkan informasi dalam penelitian ini.

2) Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan melalui metode studi kepustakaan atas buku-buku, dokumen-dokumen serta literature lain yang menunjang objek yang sedang diteliti.

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini antara lain:

a. Penelitian pustaka (library research) dengan melakukan telaah mendalam atas buku, karya ilmiah, artikel, dan dokumen lainnya yang sesuai dengan objek yang diteliti.

b. Penelitian lapangan (field research) yaitu pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap hal-hal yang sesuai dengan objek yang diteliti.

4. Teknik Pengolahan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan cara :

a. Observasi adalah proses penelitian, mengamati, dan menganalisis terhadap objek yang diteliti.10 Jadi penulis secara langsung datang ke lokasi penelitian untuk memperoleh data dan informasi

 

3 Husen Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2004) (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 22.

10 Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, edisi revisi, Bandung :, 1997 (Bandung:

PT. Remaja R osyada Karya, 1997).

(25)

mengenai kesiapan BPJPH dalam pelaksaaan UU No 33 Tahun 2014 tentang JPH.

b. Interview/wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu dimana percakapan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan serta diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Metode ini dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada responden. Jadi teori wawancara ini dilakukan dengan melakukan tanya jawab langsung kepada BPJPH sebagai sumber informasi dalam penelitian dengan pedoman wawancara yang telah peneliti tetapkan, sehingga diperoleh data-data yang diperlukan oleh penulis.

5. Metode Analisis

Analisis data merupakan kegiatan mengurai sesuatu sampai ke komponen-komponennya dan kemudian menelaah hubungan masing- masing komponen dengan keseluruhan konteks dari berbagai sudut pandang. Penelaah dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.11

Data yang akan dikumpulkan akan diolah, dianalisis, dan dinterpretasikan, untuk dapat menggali dan menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu data primer dengan cara wawancara (interview), kemudian dianalisis dan dipadukan atau dikaitkan dengan sumber data sekunder yaitu peraturan perundang-undangan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan mengenai kesiapan BPJPH dalam pelaksanaan UU No 33 Tahun 2014 tentang JPH.

6. Teknik Penulisan

Teknik penulisan dan pedoman yang digunakan oleh Penulis dalam skripsi ini disesuaikan dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah pada

 

11 Sri Mamudji. Dkk, Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, 2005, 67.

(26)

buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017”.

F. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan ini terbagi menjadi beberapa sistematika pembahasan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam penyusunan skripsi serta memudahkan para membacanya dalam membaca dan memahami isi dari skripsi ini. Sistematika pembahasan dalam penelitian ini terbagi atas beberapa bab yaitu :

BAB I Pendahuluan

Pada bab ini membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, studi review terdahulu, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II Tinjuan umum tentang sertifikasi produk halal

Pada bab ini penulis menjelaskan pengertian tentang sertifikasi produk halal, ketentuan produk halasssl dalam hukum islam dan yang terakhir tentang ketentuan produk halal dalam UU no 33 tahun 2014.

BAB III System jaminan produk halal di indonesia

Pada bagian bab ke dua ini penulis menjelaskan tentang system jaminan produk halal, yang di dalam nya terurai beberapa pengertian mengenai pengertian sertifikasi, pengertian produk , pengertian halal kedua yaitu

(27)

penentuan kehalalan produk halal ketiga yaitu pentingnya system sertifikasi halal .

BAB IV kesiapan BPJPH dalam pelaksaan UU No 33 Tahun 2014

Pada bab ini penulis akan menjelaskan bagaimana kesiapan BPJPH dalam pelasanaan UU No 33 Tahun 2014 dan menjelaskan bagaimana pembagian tugas antara BPJPH, LPH, dan Komisi Fatwa MUI.

BAB V Penutup

Dalam bab ini penulis menguraikan kesimpulan serta saran terkait dengan hasil penelitia.

(28)

BAB II

Tinjauan Umum Tentang Sertifikasi Produk Halal  

A. Pengertian tentang Produk Halal 1. Pengertian produk

Produk dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah barang atau jasa yang dibuat dan ditambah gunanya atau nilainya dalam proses produksi dan menjadi hasil akhir dari proses produksi itu.12Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan. Pelanggan memuaskan kebutuhan dan keinginannya lewat produk. Istilah lain dari produk adalah penawaran atau pemecahan.

Produk merupakan segala sesuatu yang dapat di tawarkan pelaku usaha untuk diminta, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan.

Produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan produsen kepada konsumen yaitu untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan mampu memberikan kepuasan bagi penggunanya. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan

 

12 Dendy Sugono dkk, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),h.

1215.

(29)

oleh produsen melalui hasil rinci konsep produk total meliputi barang, kemasan, merek, label, pelayanan, dan jaminan

Menurut Stanton Produk. adalah suatu kumpulan dari atribut- atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya 13

Definisi produk tersebut dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala sesuatu baik berwujud barang atau jasa yang digunakan untuk memuaskan konsumen, dimana setiap barang atau jasa tersebut memiliki manfaat yang berbeda. Pembeli dalam membeli setiap barang tidak hanya membeli sekumpulan atribut fisiknya tetapi lebih dari itu. Pembeli bersedia membayar sesuatu yang diharapkan agar dapat memuaskan keinginan dan kebutuhannya.

2. Pengertian Halal dan Haram

Sementara itu, kata “Halal” berasal dari Bahasa arab yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Menurut ibn manzhur halal itu berasal dari kata “al-hillu” yang berarti tidak terikat (al-thalaq). Oleh karna itu, al-muhillu berarti orang kafir yang boleh diperangi karna tidak terikat perjanjian damai dalam kita14. Lafadz halal merupakan lawan kata

“haram“, sedangkan lafadz “haram” itu pada asalnya berarti mencegah

 

7 Sutanto dan William, Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid kedua, Ketujuh (Jakarta:

Erlangga, 1996).

14 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab, Vol. Juz XIII (Dar al-Ma’arif.),h.177.

(30)

atau merintangi (al-man’u). oleh karena itu setiap yang diharamkan (al muhrimu) itu menjadi tercegah atau terlarang. Lafadz al muhrimu merupakan lawan dari lafadz al muhillu yang berarti orang kafir yang tidak boleh diperangi karena terikat perjanjian damai dengan kita. 15

Menurut Abdul Aziz Dahlan dalam Buku Ensiklopedia Hukum Islam menjelaskan pengertian Halal. Halal berasal dari kata halla, yahillu, hillan yang artinya membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan, dan membolehkan. Segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut dalam Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam16

Dalam buku ensiklopedia Islam Indonesia disebutkan bahwa halal artinya tidak di larang, dan diijinkan melakukan atau memanfaatkannya.

Halal itu dapat di ketahui apabila ada suatu dalil yang menghalalkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan apabila tidak ada suatu dalil yang menghalalkan secara tegas dalam Al-Qur’an dan apabila tidak ada suatu dalil pun yang mengharamkan atau melarangnya.17

 

15 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab Juz XIII,h.176.

8Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2006),h.505–506.

9 Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedia Islam Indonesia (Jakarta:

Djambatan, 2002), h. 346.

(31)

Halal dapat ditinjau dari segi pandangan hukum dan thayyib yaitu yang melekat pada materi (Produk). Oleh karena itu halal harus mencakup dua aspek, yaitu halal secara lahiriah dan batiniah. Halal secara lahiriah dikaitkan dengan yang dapat diketahui dengan panca indera, khususnya penglihatan, penciuman dan pendengaran.

Menyangkut status kesehatan, pemeriksaan laboratorium dan lain-lain.

Di samping itu, peralatan yang dipergunakan pada proses pembuatan produk tersebut tidak digunakan juga untuk mengolah suatu bahan yang haram. Jenis bahan baku, pekerja dan teknik mengerjakan harus memenuhi kriteria halal.

Produk halal menjelaskan bahwa produk halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat.18 Menurut Pasal 1 Angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan menyatakan bahwa :

“Panganan halal adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang di olah melalui proses rekayasa genetik dan iridasi pangan, dan yang pengelolaanya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam

 

18 Pasal 1 undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tetang Produk halal.

(32)

Haram Sesuatu yang dilarang mengerjakannya. Haram adalah salah satu bentuk hukum taklifi. Menurut ulama ushul fikih, terdapat dua definisi haram, yaitu dari segi batasan dan esensinya serta dari segi bentuk dan sifatnya. Dari segi batasan dan esensinya, Imam al-Ghazali merumuskan haram dengan “sesuatu yang dituntut Syari’ (Allah SWT dan Rasul-Nya) untuk ditinggalkan melalui tuntutan secara pasti dan mengikat”. Dari segi bentuk dan sifatnya, Imam al-Baidawi merumuskan haram dengan “sesuatu perbuatan yang pelakunya dicela19

Menurut hukum Islam, secara garis besar perkara (benda) haram terbagi menjadi dua. haram li-zatih dan haram li-gairih. Kelompok pertama, subtansi benda tersebut diharamkan; sedangkan yang kedua, subtansi bendanya halal (tidak haram) namun cara penanganan atau memperolehnya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam.20 Dengan demikian, benda haram jenis kedua terbagi dua. Pertama, bendanya halal tapi cara penangananya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam;

misalnya kambing yang tidak dipotong secara syar‟i, sedangkan yang kedua, bendanya halal tapi diperoleh dengan jalan atau cara yang dilarang oleh agama, misalnya hasil korupsi, menipu dan sebagainya.

Mengenai benda haram ini di jelaskan, antara lain dalam firman Allah.21

 

19 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam,h.523.

20 Tim Penyusun, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Sejak 1975, (Jakarta: Erlangga, 2011), h.948.

21 Tim Penyusun , Himpunan Fatwa Majlis Ulama sejak 1975. h.949.

(33)

Barang yang haram karena sifat-sifatnya atau sebab memperolehnya atau oleh sebab keduanya, tidak dapat dihalalkan lagi. Sebaliknya barang yang telah halal karena sifat-sifatnya, maka tidak dapat diharamkan kecuali berdasarkan cara (sebab) memperolenya.22

Kehalalan merupakan sangat penting dan utama bagi umat muslim kerena hubungannya dengan Allah SWT. Kehalalan tertera dalam ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi:

 

14 Syeikh Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Kaidah-Kaidah Hukum, (Mesir: Nusa Media, 2011), h. 75.

HARAM

Li- Ghairihi Haram karena cara

perolehannya atau penanganannya.

bendanya halal namun cara memperolehnya

dengan jalan yang dilarang oleh agama

contohnya:

hasil korupsi hasil menipu hasil mencuri bendanya halal

namun cara penanganannya tidak dibenarkan oleh ajaran islam

contoh nya:

kambing yang di potong tidak secara syari mendapatkan makanan dengan cara mencuri li-Zatih

makanan yang haram karena

dzatnya

1. bangkai 2. Darah 3. Babi  4. Anjing 5. Khamar 

(34)

ُﻞُﺳﱡﺮﻟٱ ﺎَﻬﱡـﻳَﺄ َٰﻳ ﻋٱَو ِﺖَٰﺒﱢﻴﱠﻄﻟٱ َﻦِﻣ ْاﻮُﻠُﻛ

ِﻠَٰﺻ ْاﻮُﻠَﻤ ﻌَﺗ ﺎَِﲟ ﱢﱐِإ ﺎ ًﻜ

ﻢﻴِﻠَﻋ َنﻮُﻠَﻤ

Artinya: Allah berfirman, “ wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku maha mengetahui apa yang kamu kerjakan

.

َٰﻳ ﺎَﻬﱡـﻳَﺄ رَﻷٱ ِﰲ ﺎﱠِﳑ ْاﻮُﻠُﻛ ُسﺎﱠﻨﻟٱ ﻼَٰﻠَﺣ ِض

ﺎﺒﱢﻴَﻃ َﻻَو ْاﻮُﻌِﺒﱠﺘَـﺗ ِتَٰﻮُﻄُﺧ ِﻦَٰﻄﻴﱠﺸﻟٱ ُﻪﱠﻧِإۥ ﻢُﻜَﻟ ّوُﺪَﻋ ٌﲔِﺒﱡﻣ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dan hadis yang berbunyi

ﺎًﺒﱢﻴَﻃ ﱠﻻِإ ُﻞَﺒْﻘَـﻳ َﻻ ٌﺐﱢﻴَﻃ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ

Artinya: Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. (HR Muslim)

Ayat tersebut adalah menyuruh agar kita senantiasa untuk mengkosumni yang ada di muka bumi ini yang serba halal dan baik, baik makanan dan minuman bahkan selain itu seperti kosmetik, obat-obatan dan lain-lainnya. Kosmetik dan obat-obatan keduanya di sebut halal apabila bahan-bahan yang terkandung dalam keduanysa harus dari bahan baku pilihan yang sesuai syariat islam dan memiliki sertifikasi halal dari Majlis Ulama Indonesia.

(35)

Sedangkan Thayyib berarti baik, lezat dan artinya bahwa sesuatu makanan tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kadaluarsa) atau tercampur benda najis 23

3. Pengertian Sertifikasi Halal

Sertifikasi halal terdiri atas dua kata yaitu sertifikasi dan halal.

Kata “sertifikasi” berasaal dari Bahasa inggris “certificate” yang mempunyai tiga arti yaitu akte , surat keterangan, diploma atau ijazah.24

kata “certificate” kemudian di adopsi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “sertifikat” yang merupakan kata benda. Dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dijelasakan bahwa sertifikat itu berarti tanda atau surat keterangan atau pernyataan tertulis atau tercetak yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti.

Sementara itu, sertifikat, merupakan kegiatan penyeretifikatan atau proses menjadi sertifikat.25

Sementara itu, kata “Halal” berasal dari Bahasa arab yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Menurut ibn manzhur halal itu berasal dari kata “al-hillu” yang berarti tidak terikat (al-thalaq). Oleh karna itu, al-muhillu berarti orang kafir yang boleh diperangi karna tidak terikat perjanjian damai dalam kita.26 Lafadz halal merupakan lawan kata “haram“, sedangkan lafadz “haram” itu pada asalnya berarti

 

23 Dr.Ir.H.Mohammad Nadratuzzaman Hosen Dr.Ir.H.Mohammad Nadratuzzaman Hosen, Panduan Sertifikasi Halal (Jakarta, 2003), h. 2.

24 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Bahasa Inggris Indonesia, cet. ke-19 (Jakarta: PT Gramedia, 1990), 105.

25 Kamus Besar Bahasa Indonesia,h. 928.

26 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab, Vol. Juz XIII (Dar al-Ma’arif.),h.177.

(36)

mencegah atau merintangi (al-man’u). oleh karena itu setiap yang diharamkan (al muhrimu) itu menjadi tercegah atau terlarang. Lafadz al muhrimu merupakan lawan dari lafadz al muhillu yang berarti orang kafir yang tidak boleh diperangi karena terikat perjanjian damai dengan kita.27

Sertifikasi halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majlis ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat islam. Sertifikasi halal ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. Serifikasi halal pada Undang- Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal disebutkan di dalam pasal 1:

“Sertifikasi Halal adalah pengakuan kehalalan suatu produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa tertulis yang dikelarkan oleh MUI”

Sedangkan yang dimaksud dengan sertifkasi halal adalah suatu proses untuk memperoleh sertifikasi halal melalui beberapa tahap untuk membuktikan bahwa bahan, proses produksi dan Sistem Jaminan Halal (SJH) memenuhi standar LPPOM MUI. Sertifikasi halal juga bisa disebut sebagai bukti sah tertulis yang menyatakan kahalalan suatu produk yang dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia atas dasar fatwa yang ditetapkan oleh komisi fatwa MUI.

 

27 Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab Juz XIII,h.176.

(37)

Sertifikasi dan labelisasi halal merupakan dua kegiatan yang berbeda tetapi mempunyai keterkaitan satu sama lain. Sertifikasi halal dapat didefinisian sebagai suatu kegiatan pengujian secara sistematik untuk mengtahui apakah suatu barang yang diproduksi oleh suatu perusahaan telah memenuhi ketentiuan halal. Hasil dari kegiatan sertifikat halal adalah diterbitkan sertifikat halal apabila produk yang dimaksudkan telah memenuhi ketentuan sebagai produk halal.

B. Ketentuan produk halal dalam hukum islam 1. Definisi makanan halal

Kata halal dalam ensiklopedi hukum Islam yaitu: segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya, atau sesuatu yang boleh dikerjakan menurut syara28

Sedangkan Istilah halal dalam al- Qur’an berarti yang dibolehkan. 29 Menurut Al-Jurjani, kata ḥalal berasal dari akar kata ل لاح yang artinya “terbuka”.( Secara istilah, berarti setiap sesuatu yang tidak dikenakan sanki penggunaannya atau sesuatu perbuatan yang dibebaskan syariat untuk dilakukan. Menurut Abū Ja‘far al- Ṭabārī, kata ḥalāl (للاح ) َ◌berarti terlepas atau terbebas.

ِ◌Muḥammad ibn Ali al-Shaukanī berpendapat, dinyatakan sebagai  

28 Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1996),h.505–6.

29 John L. Esposito, Dunia Islam Modern, terj. Eva YN, (bandung: Mizan 2002, 143M), 143.

(38)

halal karena telah terlepas dan terurainya simpul tali atau ikatan larangan yang mencegah30

Makanan yang halal, yaitu makanan yang dibolehkan untuk dimakannya bagi seorang muslim, makanan haram adalah makanan yang dilarang seorang muslim untuk memakannya.

Makanan halal yaitu makanan yang dibolehkan dan yang baik untuk dimakan menurut ajaran Islam, sesuai dalam Al-Qur’an dan Al- Hadis. Sedangkan makanan yang baik adalah makanan yang dapat membawa kesehatan bagi tubuh, dan dapat membawa nafsu makan dan tidak terdapat larangan dalam Al-Quran dan al-Hadis Tetapi dalam hal yang lain diperlukan keterangan yang lebih jelas berdasarkan ijma’ dan qiyas (ra’yi/ijtihad) terhadap sesuatu nash yang sifatnya umum yang harus digali oleh ulama agar kemudian tidak menimbulkan hukum yang syubhat (menimbulkan keraguraguan). Dan para ulama telah ijma’ tentang halalnya binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, dan kambing serta diharamkannya segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya baik dalam bentuk keracunan, timbulnya penyakit atau adanya efek samping (side-effect). Dengan demikian sebagia ulama’

 

30 Muchtar Ali, Muchtar Ali, “Konsep Makanan Halal Dalam Tinjauan Syariah dan Tanggung Jawab Produk Atas Produsen Industri Halal”, Ahkam: Kementerian Agama Republik Indonesia Vol. Xvi, No. 2.

(39)

memberikan keterangan tentang hukum-hukum makanan dan minuman.31

2. Dasar hukum Al-Quran tentang makanan halal

Prinsip pertama yang ditetapkan Islam adalah bahwa pada asalnya segala sesuatu yang diciptakan Allah itu halal dan mubah, tidak ada yang haram, kecuali jika ada nash (dalil) yang shahih (tidak cacat periwayatannya) dan sharih (jelas maknanya) yang mengharamkan32 Para ulama, dalam menetapkan segala sesuatu asalnya boleh, merujuk kepada Al-Quran surat al-Baqarah ayat 29

ٱ َﻮُﻫ رَﻷٱ ِﰲ ﺎﱠﻣ ﻢُﻜَﻟ َﻖَﻠَﺧ يِﺬﱠﻟ ﻌﻴَِﲨ ِض

ﱠُﰒﺎ ﺎَﻤﱠﺴﻟٱ َﱃِإ ٰىَﻮَـﺘﺳٱ ﱠﻦُﻬٰـىﱠﻮَﺴَﻓ ِء

َٰﻮََٰﲰ َﻊﺒَﺳ َﻮُﻫَو ت ﱢﻞُﻜِﺑ ﻲَﺷ ﻢﻴِﻠَﻋ ٍء

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Betapa pentingnya makanan untuk kehidupan manusia, maka Allah swt mengatur bahwa aktifitas makan selalu diikuti dengan rasa puas dan rasa nikmat, sehingga manusia sering lupa bahwa makan itu bertujuan untuk kelangsungan hidup dan bukan sebaliknya hidup untuk makan.

Pada dasarnya semua makanan dan minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran, buah-buahan dan hewan

 

31 Bagian proyek sarana dan prasarana produk halal direktorat Jenderal bimbingan masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Buku Pedoman strategi Kampanye Sosial Produk Halal (Jakarta: Departemen Agama RI, 2003), 3.

32 Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram Dalam Islam (Solo: Era Intermedia, 2003), 36.

(40)

adalah halal, kecuali yang beracun dan membahayakan nyawa manusia. Para ulama sepakat bahwa semua makanan dan minuman yang ditetapkan al-Quran keharamannya adalah haram hukum memakannya, baik banyak maupun sedikit.33

Dasar hukum al-Qur’an tentang makanan halal diantaranya yaitu : QS. al-Mai’dah/5: 88

ﻼَٰﻠَﺣ ُﻪﱠﻠﻟٱ ُﻢُﻜَﻗَزَر ﺎﱠِﳑ ْاﻮُﻠُﻛو ﺎﺒﱢﻴَﻃ

ْاﻮُﻘﱠـﺗٱَو َﻪﱠﻠﻟٱ يِﺬﱠﻟٱ ﻢُﺘﻧَأ ِﻪِﺑ َنﻮُﻨِﻣﺆُﻣۦ

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Ayat-ayat di atas bukan saja menyatakan bahwa mengkonsumsi yang halal hukumnya wajib karena merupakan perintah agama, tetapi menunjukkan juga hal tersebut merupakan salah satu bentuk perwujudan dari rasa syukur dan keimanan kepada Allah. Sebaliknya, mengkonsumsi yang tidak halal dipandang sebagai mengikuti ajaran setan.

Sebenarnya Dalam al-Qur’an makanan yang di haramkan pada pokoknya hanya ada empat yaitu dalam Q.S. al-Baqarah/2: 173

ِﻪِﺑ ﱠﻞِﻫُأ ﺎَﻣَو ِﺮﻳِﺰﻨِﳋٱ َﻢَﳊَو َمﱠﺪﻟٱَو َﺔَﺘﻴَﳌٱ ُﻢُﻜﻴَﻠَﻋ َمﱠﺮَﺣ ﺎَﱠﳕِإ غﺎَﺑ َﲑَﻏ ﱠﺮُﻄﺿٱ ِﻦَﻤَﻓ ِﻪﱠﻠﻟٱ ِﲑَﻐِﻟۦ

َﻻَو دﺎَﻋ َﻼَﻓ َﰒِإ ِﻪﻴَﻠَﻋ ﱠنِإ َﻪﱠﻠﻟٱ رﻮُﻔَﻏ ٌﻢﻴِﺣﱠر

 

33 Bagian proyek sarana dan prasarana produk halal direktorat Jenderal bimbingan masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Petunjuk teknis pedoman sistem produksi halal, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2003), h. 7.

(41)

Artinya: Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat ini telah dijelaskan bahwa makanan yang diharamkan di antaranya :

1. bangkai, yang termasuk kategori bangkai adalah hewan yang mati dengan tidak disembelih; termasuk di dalamnya hewan yang mati tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas, kecuali yang sempat menyembelihnya, hanya bangkai ikan dan belalang saja yang boleh dimakan.

2. Darah, sering pula diistilahkan dengan darah yang mengalir, maksudnya adalah darah yang keluar pada waktu penyembelihan (mengalir) sedangkan darah yang tersisa setelah penyembelihan yang ada pada daging setelah dibersihkan dibolehkan. Dua macam darah yang dibolehkan yaitu jantung dan limpa.

3. Babi, apapun yang berasal dari babi hukumnya haram baik darahnya, dagingnya, maupun tulangnya.

4. Binatang yang ketika disembelih menyebut selain nama Allah. Jadi dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat produk pangan halal menurut syariat Islam adalah :

a. Halal dzatnya

(42)

b. Halal cara memperolehnya c. Halal dalam memprosesnya d. Halal dalam penyimpanannya e. Halal dalam pengangkutannya f. Halal dalam penyajiannya.34

Setiap hewan yang bertaring dan digunakan untuk menyerang mengasanya haram untuk dimakan. Hal ini terlarang berdasarkan hadits Abu Hurairah, Nabi Shallahu’alaihi wa sallam bersabda.

ٌماَﺮَﺣ ُﻪُﻠْﻛَﺄَﻓ ِعﺎَﺒﱢﺴﻟا ْﻦِﻣ ٍبﺎَﻧ يِذ ﱡﻞُﻛ Artinya: “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

ا ْﻦِﻣ ٍﺐَﻠِْﳐ يِذ ﱢﻞُﻛ ْﻦَﻋَو ِعﺎَﺒﱢﺴﻟا ْﻦِﻣ ٍبﺎَﻧ يِذ ﱢﻞُﻛ ْﻦَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر ﻰَﻬَـﻧ ِْﲑﱠﻄﻟ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR.

Muslim)

Sementara itu dalam “Panduan Sertifikat Halal” yang dikeluarkan oleh Departemen Agama, dijelaskan bahwa produk yang halal adalah produk yang memenuhi syarat kehalalan sesuai dengan syariat Islam, antara lain.

 

34 Bagian proyek sarana dan prasarana produk halal direktorat Jenderal bimbingan masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Petunjuk teknis pedoman sistem produksi halal, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2003), h.17.

(43)

1. Tidak mengandung babi dan bahan yang berasal dari babi.

2. Tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan seperti bahan bahan yang berasal dari organ manusia, darah, dan kotoran.

3. Semua bahan yang bersal dari hewan yang disembelih menurut tata cara syariat Islam

4. Semua tempat penyimpanan, tempat penjualan, tempat pengolahan, dan transportasi tidak boleh digunakan untuk babi dan/atau barang tidak halal lainnya. Jika pernah digunakan untuk babi dan/atau barang tidak halal lainnya terdahulu harus dibersihkan dengan tata cara syariat Islam, dan

5. Semua makanan dan minuman yang tidak mengandung khamar.

Maka, secara umum makanan dan minuman yang haram terdiri dari binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai berikut:

1. Hewan : seperti bangkai, darah, babi, dan hewan yang disembelih dengan nama selain Allah (Q.S 2: 173). Hewan yang dihalalkan akan berubah statusnya menjadi haram apabila mati karena tercekik, terbentur, jatuh tertanduk, diterkam binatang buas dan yang disembelih untuk berhala (Q.S 5: 3), kecuali ikan dan belalang boleh dikonsumsi tanpa disembelih. Hewan yang dipandang jijk atau kotor menurut naluri manusia (Q.S 7: 157) (Imam al-Ghazali, 2002: 119). Hewan dan burung buas yang bertaring dan memiliki cakar, hewan-hewan yang oleh ajaran Islam diperintahkan membunuhnya seperti ular, gagak, tikus,

(44)

anjing galak, dan burung elang dan sejenisnya, hewan-hewan yang dilarang membunuhnya seperti semut, lebah, burung hudhud, belatuk, hewan yang hidup di dua jenis alam seperti kodok, penyu dan buaya.

2. Tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran, dan buah-buahan boleh dimakan kecuali yang mendatangkan bahaya atau memabukan baik secara langsung maupun melalui proses. Maka semua jenis tumbuh-tumbuhan yang mengandung racun atau yang memabukan haram dimakan.

3. Semua jenis minuman adalah halal kecuali minuman yang memabukan seperti arak dan yang dicampur dengan benda-benda najis, baik sedikit maupun banyak35

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

ماَﺮَﺣ ٍﺮَْﲬ ﱡﻞُﻛَو ٌﺮَْﲬ ٍﺮِﻜْﺴُﻣ ﱡﻞُﻛ Artinya: “Setiap yang memabukan adalah khomr dan setiap khomr adalah haram.” (HR. Muslim)

Dalam hadits-hadits di atas Rasulullah tidak membeda-bedakan.

Rasulullah juga bersabda:

ﺮِﻜْﺴُﻣ ﱢﻞُﻛ ْﻦَﻋ ْﻢُﻜَﻬْـﻧَأ ﱢﱐإو Artinya: “Dan aku melarang kalian dari segala yang

memabukkan.” (HR. Abu Dawud)

 

35 Panji Adam, “Kedudukan Sertifikasi Halal Dalam Sistem Hukum Nasional Sebagai Upaya Perlindungan Konsumen Dalam Hukum Islam” Vol.1 No.1.h.153.

(45)

C. Ketentuan Produk Halal dalam UU No 33 Tahun 2014

Antusiasme perusahaan produk pangan nasional maupun internasional untuk mencantum label halal pada kemasan produk pangan cukup besar.

Kegiatan pencantuman label halal pada kemasan produk pangan sesungguhnya akan menguntungkan produsen. Di samping penerapan label halal pada kemasan produk pangan, diterapkan juga pemberian sertifikat halal kepada produk pangan cepat saji yang ada di restoran-restoran. Pemberian sertifikat halal pada penyedia makanan cepat saji bertujuan menjamin kehalalan produk.

Di sisi lain, adanya sertifikat halal yang mereka miliki, merupakan jaminan bagi masyarakat yang mengkonsumsinya.36

Penelitian yang dilakukan Yayat Supriyadi menghasilkan bahwa kebijakan labelisasi halal yang digunakan oleh produk industri makanan yang berada di wilayah Jabodetabek sangat berpengaruh secara signifikan terhadap hasil penjualan produk industri makanan di Indonesia. Oleh karena itu, dampak kebijakan labelisasi halal tersebut terhadap ketahanan perusahaan yang menggunakan label halal dan telah mendapatkan sertifikasi halal dari pemerintah-pun adalah sangat signifikan.37

Selain itu, Ashari dalam penelitiannya menyampaikan bahwa Kehalalan suatu produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika bukan hal yang

 

36 Nidya Waras Sayekti, “Jaminan Produk Halal Dalam Perspektif Kelembagaan” 5, no.

2: 12.

37 Yayat Supriyadi, “Pengaruh Kebijakan Labelisasi Halal terhadap Hasil Penjualan Produk Industri Makanan dan Dampaknya pada Ketahanan Perusahaan” (Universitas Indonesia, t.t.), (http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/ detail.jsp?id=100497&lokasi=lokal.

(46)

mudah diketahui, melainkan diperlukan suatu kajian khusus yang cukup mendalam. Kajian tersebut memerlukan pengetahuan dalam bidang-bidang pangan, kimia, biokimia, teknologi industri dan didukung oleh pemahaman IPTEK dan Syariat Islam

Mengenai sertifikasi halal pada produk Halal dalam Undang-Undang Tentang Jaminan Produk Halal.

Pasal 1

Dalam undang – undang ini yang dimaksud dengan :

1. Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait desngan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Ayat ini menjelaskan pengertian dari produk yaitu barang atau jasa seperti makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dapat dipakai, digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.38

2. Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam. Ayat 2 ini menjelaskan pengertian produk halal itu produk yang telah dinyatakan memenuhi syarat halal sesuai dengan syariat islam.39

 

38 Lihat Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

39 Lihat Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

(47)

3. Proses Produk Halal yang selanjutnya disingkat PPH adalah rangkaian kegiatan untuk menjamin kehalalan Produk mencakup penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian Produk. Ayat 3 ini menjelaskan pengertian proses produk halal yang disingkat dengan PPH. Proses produk halal adalah rangkaian proses kegiatan untuk menjamin kehalalan suatu produk meliputi penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan dan penyajian produk.40

4. Jaminan Produk Halal yang selanjutnya disingkat JPH adalah kepastian hukum terhadap kehalalan suatu Produk yang dibuktikan dengan Sertifikat Halal. Ayat 4 menjelaskan pengertian dari Jaminan Produk Halal atau JPH yaitu kepastian hukum terhadap kehalalan suatu produk yang dibuktikan dengan sertifikat.41

5. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang selanjutnya disingkat BPJPH adalah badan yang dibentuk oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan JPH. Pada ayat 5 menjelaskan pengertian dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH yang dibentuk oleh pemerintah dan bertugas menyelenggarakan JPH.42

6. Sertifikat Halal adalah pengakuan kehalalan suatu Produk yang dikeluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang

 

40 Lihat Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

41 Lihat Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

42 Lihat Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

(48)

dikeluarkan oleh MUI. Ayat 6 menjelaskan pengertian sertifikat halal yaitu pengesahan kehalalan suatu produk yang di keluarkan oleh BPJPH berdasarkan fatwa halal tertulis yang dikeluarkan oleh MUI.43

7. Label Halal adalah tanda kehalalan suatu Produk. Ayat 7 menerangkan pengertian dari label halal yaitu tanda kehalalan yang dicantumkan pada bagian/sisi kemasan produk.44

 

43 Lihat Pasal 1 ayat (10) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

44 Lihat Pasal 1 ayat (11) Undang-Undang Nomer 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

(49)

BAB III

Sistem Jaminan Produk Halal di Indonesia

A. Sistem Jaminan Halal di Indonesia

Pada tahun 1980 an terjadi kasus isu lemak babi pada berbagai produk yang beredar di Indonesia, sepertti biskuit dan susu, isu tersebut telah meresahkan masyarakat, khususnya masyarakat muslim.

Kemudian pada tahun 2001, telah terjadi kasus Ajinomoto yang menjadi pertimbangan Kementerian Agama yang mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) nomer 518 tahun 2001 tentang pedoman tata cara pemeriksaaan dan penetepan pangan Halal dan KMA nomer 519 tahun 2001 tentang Lembaga pelaksaan pemerikasaan pangan halal yang berisikan penunjukkan MUI sebagai Lembaga Pelaksana Pemeriksaan Pangan Halal45

Dalam proses dan pelaksanaan sertifikasi halal, LPPOM MUI melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga dan kementerian serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Khusus dengan BPOM, LPPOM MUI bekerja sama dalam pencantuman sertifikat halal pada kemasan untuk produk yang beredar di Indonesia. Berikut alur proses sertifikasi halal yang dilaksanakan oleh LPPOM MUI sebelum diimplementasikannya UU JPH46

 

45 Bahan Rapat Pansus RUU JPH, 2013.

46 “Persyaratan Sertifikasi Halal,” (http://www.halalmui.org/

newMUI/index.php/main/go_to_section/39/1328/page.

(50)

Berdasarkan alur tersebut, pelaku usaha melakukan pendaftaran sertifikasi halal langsung kepada LPPOM MUI dengan dua persyaratan yang harus dipenuhi sebelum dilakukannya audit, yaitu kelengkapan dokumen dan pelunasan pembiayaan. Biaya yang diperlukan untuk pengurusan sertifikasi halal ini adalah Rp1 juta sampai dengan Rp5 juta per sertifikat untuk perusahaan menengah ke atas, dan Rp0 sampai dengan Rp2,5 juta per sertifikat untuk perusahaan kecil-menengah, tergantung besar atau kecilnya perusahaan. Biaya tersebut merupakan biaya jasa yang digunakan untuk mengaudit on desk ataupun on site (lapangan). Biaya tersebut belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi untuk melakukan audit lapangan. Adapun biaya transportasi dan akomodasi ditentukan oleh perusahaan yang mengajukan sertifikasi dan disepakati dalam sebuah akad dengan perusahaan pengaju sertifikat halal47

Sejak tahun 2005 hingga Desember 2011, LPPOM MUI telah mengeluarkan sedikitnya 5.896 sertifikat halal, dengan jumlah produk mencapai 97.794 items dari 3.561 perusahaan. Angka tersebut terus akan meningkat jika ditambah dengan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh LPPPOM MUI daerah yang kini tersebar di 33 provinsi di Indonesia.48 Hingga akhir tahun 2012 jumlah sertifikat yang dikeluarkan

 

47 Diakses pada tanggal 26 Februari 2014 “Inilah Biaya untuk Bisa Raih Label Halal dari MUI,” (http:// bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/26/1446338/.

48 “LPPOM MUI, Pelopor Standar Halal & Pendiri Dewan Pangan Halal Dunia,” t.t., http://www.halalmui.org /newMUI/ index.php/main/go_to_section/2/31/page, diakses 2 juli 2019).

Referensi

Dokumen terkait