• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Masalah

Dalam dokumen ABSTRAK Dewi Murti Hidayat (Halaman 14-18)

Dalam kehidupan, manusia selalu membutuhkan makanan sehari-harinya.

Mereka membutuhkan makanan untuk kebutuhan dan kesehatan jasmaninya . Sejak dahulu ummat dan bangsa-bangsa ini berbeda dalam persoalan makanan dan minuman, apa yang boleh dan yang tidak boleh1. Dalam memilih makanan yang baik, hendak nya sebagai umat muslim memilih makanan yang sehat menurut islam.

Dalam ajaran Islam banyak peraturan yang berkaitan dengan “makanan”, dari mulai mengatur makanan yang halal haram, etika makanan, sampai mengatur idealitas dan kuantitas di dalam perut. Salah satu peraturan terpenting adalah larangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram.

Mengkonsumsi yang haram atau belum diketahui kehalalannya akan berakibat serius, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Thabrani.

Seruan Allah kepada umat manusia agar mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik dan menyehatkan tidak lain adalah demi tercapainya kemaslahatan bagi umat manusia itu sendiri dalam Al-Qur’an di tuliskan

َٰﻳ ﺎَﻬﱡـﻳَﺄ رَﻷٱ ِﰲ ﺎﱠِﳑ ْاﻮُﻠُﻛ ُسﺎﱠﻨﻟٱ ﻼَٰﻠَﺣ ِض

َﻻَو ﺎﺒﱢﻴَﻃ ُﻪﱠﻧِﺈِﻨَٰﻄﻴﱠﺸﻟٱ ِتَٰﻮُﻄُﺧ ْاﻮُﻌِﺒﱠﺘَـﺗ ۥ ﻢُﻜَﻟ

ٌﲔِﺒﱡﻣ ّوُﺪَﻋ

 

1 Yusuf Qaradhawi, Halal dan Haram (Jakarta: Rabbani Pers, 2002), h45.

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 2: 168)

Hikmah dibalik perintah itu adalah agar agama, jiwa, dan akal serta keturunan dan harta dapat terjaga dan terpelihara dengan baik. Dengan terjaganya kemaslahatan tersebut seorang mukallaf di harapkan akan sanggup menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini dan akan memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat.

Seiring berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang termasuk cara pengolahan bahan pangan yang semakin variatif. Di pasaran dapat ditemukan beragam produk olahan dari berbagai bahan dasar, baik yang diproduksi pabrik makanan lokal maupun impor dari perusahaan asing. Bahkan sekarang banyak pembuatan makanan olahan yang bersifat kompleks dan makanan tersebut dibuat dari berbagai kandungan yang tidak semuanya jelas kehalalannya2. Sebagian masyarakat awam berpandangan bahwa makanan yang sehat dan baik sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dan asupan gizi3. Padahal semua asupan yang sehat dan baik itu tidak akan menambah kesehatan dan kebaikan jika tidak dilengkapi dengan faktor halal4

Isu tentang produk makanan dan minuman yang diharamkan dan berbahaya sedang mendapatkan perhatian masyarakat. Produk-produk makanan instan,

 

2 Rachmad Usman, Hukum Ekonomi dalam Dinamika, (Jakarta: Djambatan, 2004), h., 74  

3 Kurniawan Budi sutrisno, Tanggung jawab Pelaku Usaha Terhadap Pemberian Label  Halal pada Produk Makanan dan Minuman Perspektif Hukum perlindungan Konsumen, (Jurnal  Penelitian Universitas Mataram: Vol. 18, No. 1, 2014), h., 90 

4 Muhammad Ibnu Elmi As Pelu, Label Halal: Antara Spiritualitas Bisnis dan Komoditas  Agama, (Malang: Madani , 2009), h., 22 

makanan cepat saji, restoran samoai jajanan pasar pun merupakan hal yang rawan dicemari oleh jenis makanan yang tidak halal baik dari segi bahan, maupun prosesnya5. Masalah halal haram dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebab masalah tersebut meliputi hampir sebagian besar ajaran Islam.

Di Indonesia, BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Hakal) dapat membantu masyarakat mengetahui tentang labelitas produk yang mereka konsumsi. Lembaga ini bertugas sebagai mengawasi produk yang beredar di masyarakat dengan cara memberikan sertifikat halal sehingga produk yang telah memiliki sertifikat tersebut dapat memberikan label halal kepada produknya.

Artinya produk tersebut secara proses dan kandungannya telah lulus diperiksa dan terbebas dari unsur-unsur yang dilarang oleh ajaran islam, atau produk tersebut telah menjadi katagori produk halal dan tidak mengandung unsur haram dan dapat dikonsumsi secara aman oleh konsumen muslim6

Bersamaan dengan itu, ternyata masih banyak produsen yang belum mempunyai sertifikat halal dalam produk ataupun perusahaannya , sehingga banyak yang mengambil jalan pintas untuk meraih keuntungan semata. Dalam proses produksi saja banyak sekali para produsen yang menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya ataupun dalam produknya mengandung unsur-unsur non halaldalam artian haram seperti borax, kandungan minyak babi dan lain sebagainya yang bertentangan dengan syariat Islam. Begitupun dalam proses

 

5 Diana Candra Dewi, Rahasia Dibalik Makanan Haram (Malang: UIN‐Malang, 2007), h.iii 

6 Retno Sulistyowati, "Lebelitas Halal", artikel ini diakses pada alamat http://www.esqmagazine.com.    

tahap selanjutnya seringkali pelaku usaha menghalalkan berbagai cara agar upaya produk pangan mereka laku di pasaran. Salah satu upaya modus yang mereka lakukan adalah dengan mencantumkan label halal MUI pada kemasan produknya, tanpa melalui proses sertifikasi halal dari MUI7

Lahirnya undang-undang Nomer 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal (UUJPH) makin mempertegas betapa mendesaknya persoalan halal haram dalam ranai produksi dari pelaku usaha hingga sampai dan di konsumsi oleh konsumen. Karena diantara mereka ada peran pihak distributor, subdistributor, grosir, pengecer sebelum sampai ke tangan konsumen akhir. Diberlakukannya undang-undang UUJPH pihak konsumen (masyarakat luas) mendapatkan kepastian hukum terhdap produk makanan dan barang konsumsi lainya.

Demikian pula dengan usaha, hadirnya UUJPH memberikan panduan bagaimana mengolah, memproses, memproduksi dan memasarkam produk kepada masyarakat konsumen serta bagaimana membuat informasi produk halal kepada konsumen

Dengan adanya jaminanan produk halal, produsen juga menuai manfaat , perusahaan bisa mendapat manfaat , yaitu produk yang bersertifikasi halal digemari komsumen dan menambah tingkat penjualan. Menyediakan pangan halal dapat menjadi bisnis yang sangat prospektif, karena dengan label (sertifikasi) halal dapat mengundang pelanggan yang loyal. Hal ini bukan saja diminati oleh muslim tetapi juga masyarakat non muslim

 

7 Lembaga Kajian Islam dan Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jurnal  Syariah Sertifikasi ProdukHalal, Edisi 3, 2015., hlm., 28 

Tetapi BPJPH ini dinilai belum siap untuk menerima pendaftaran Sertifikasi Halal walaupun kewajiban sudah dimulai diberlakukan pada 17 Oktiber 2019.

Di antaranya yaitu pertama Kodisi pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) meskipun kewajiban sudah diberlakukan, di PTSP tidak ada form informasi maupun pendaftaran untuk megurus Sertifikat Halal , kedua Website pendaftaran belum dapat di akses, ketiga Belum terbitnya Peraturan Mentri agama soal waktu Pengurusan Sertifikat, keempat Ketidakpahaman beberapa pegawai PTSP mengenai pendaftaran Sertifikat Halal.8

Berdasarkan hal-hal yang telah di paparkan di atas dan untuk meneliti tentang sertifikasi produk halal maka penulis ingin meneliti dan membahasnya dalam skripsi yang berjudul “ KESIAPAN BPJPH DALAM PELAKSANAAN UU NO 33 TAHUN 2014 TENTANG JPH ”

Dalam dokumen ABSTRAK Dewi Murti Hidayat (Halaman 14-18)