• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

5. Penelitian Pengembangan

Penelitian dan pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2010: 297). Penelitian pengembangan biasanya disebut pengembangan berbasis penelitian (research based development) merupakan jenis penelitian yang sedang meningkat penggunaannya dalam pemecahan masalah praktis dalam dunia penelitian, terutama penelitian pendidikan dan pembelajaran.

Prosedur penelitian pengembangan terdiri atas dua tahap yaitu (a) mengembangkan produk model, dan (b) menguji kualitas dan atau efektivitas produk yang dihasilkan.

Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang berorientasi untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan penelitian pengembangan tidak

23

dimaksudkan untuk menguji teori, tetapi untuk menghasilkan atau mengembangkan produk dan menguji kualitasnya (Nana Syaodih Sukmadinata, 2008 : 196).

Mengacu pada percobaan yang telah dilakukan pada Far West Laboratory, secara lengkap menurut Brog dan Gall (1989) dalam Nana Syaodih Sukmadinata (2008: 201-202), ada sepuluh langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengemebangan, yaitu sebagai berikut.

1) Penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting).

Pengukuran kebutuhan, studi literature, penelitian dalam skala kecil, dan pertimbangan – pertimbangan dari segi nilai.

2) Perencanaan (planning) yaitu menyusun rencana penelitian, meliputi kemampuan – kemampuan yang di perlukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah – langkah penelitian, dan kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas.

3) Pengembangan draft produk (develop preliminary from of product).

Pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrument evaluasi.

4) Uji coba lapangan awal (preliminary field testing). Uji coba di lapangan pada 1 sampai 3 sekolah dengan 6 sampai 12 subjek uji coba ( pendidik). Selama ini uji coba dilaksanakan pengamatan, wawancara, dan pengedaran angket.

5) Merevisi hasil uji coba ( main product revesion)

24

6) Uji coba lapangan (main field testing). Melakukan uji coba yang lebih luas 5 sampai dengan 15 sekolah dengan 30 sampai dengan 100 orang uji coba. Data kuantitatif penampilan pendidik sebelum dan sesudah menggunakan model yang dicobakan di kumpulkan. Hasisl – hasil pengumpulan data dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok pembanding.

7) Penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan (operasional product revision).

8) Uji pelaksanaan lapangan (operasional fielt testing). Dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah melibatkan 40 sampai 200 subjek. Penguji dilakukan melalui angket, wawancara, observasi, dan analisis hasilnya.

9) Penyempurnaan produk akhir (final product revesion). Penyempurnaan didasarkan masukan dari uji pelaksanaan lapangan.

10) Desiminasi dan implementasi (dissemination and implementation).

Melaporkan hasilnya dalam pertemuan professional dan dalam jurnal, bekerjasama dengan penerbit untuk penerbitan, serta memonitor penyebaran untuk pengontrolan kualitas.

Dari kesepuluh langkah penelitian pengembangan ini apabila diikuti dengan benar, data meghasilkan sebuah produk pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, yang siap dioperasikan atau digunakan di sekolah-sekolah.

25 B. Tinjauan Ilmu Kimia

1. Ilmu Kimia

Kimia merupakan ilmu yang termasuk dalam rumpun IPA, oleh karenanya kimia mempunyai karakteristik yang sama dengan IPA. Karakterisitik tersebut adalah dari segi objeknya, cara memperoleh, serta kegunaannya. Kimia merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan induktif namun pada perkembangannya kimia juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori deduktif. Menurut (Tresna Wijaya 1998: 33-34), pembelajaran kimia harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Materi pembelajaran memperhatikan perkembangan ilmu kimia.

b. Memberikan pengertian yang baik dan mendalam tentang bidang kimia c. Memeberikan wawasan mengenai cara berfikir ilmiah

d. Memberikan pengalaman kerja kimia nyata dan merangsang siswa berlatih berpikir secara kritis dan ilmiah melalui kerja praktik di laboraturium.

e. Menyadarkan siswa kegunaan ilmu kimia dalam industri dan kehidupan sehari-hari.

Pengajaran kimia tidak hanya merupakan penamaan fakta kepada peserta didik, tetapi juga merupakan suatu usaha untuk mendidik peserta didik agar mengambil manfaat dari cara-cara kerja ilmuwan. Tujuan pengajaran kimia adalah memperoleh pamahaman yang tahan lama perihal beberapa fakta, kemampuan mengenal, dan memecahkan masalah, mempunyai keterampilan dalam

26

penggunaan laboraturium, serta memunyai sikap ilmiah yang dapat ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Materi kimia SMA/MA kelas XI Konfigurasi Elektron

Elektron tersusun dalam atom mengikuti tiga aturan, yaitu asas aufbau, asas larangan pauli, kaidah hund.

a. Asas Aufbau

Aufbau berprinsip bahwa pengisisan elektron pada orbital dimulai dari tingkat energy terendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Orbita s mempunyai tingkat energy terendah, dan berturut-turut makin tinggi untuk orbital p, d, dan f.

pengisian elektron pada orbital atau sub kulit akan lebih jelas dengan menggunakan diagram pada gambar 1

Gambar 1. Diagram tingkat energi

b. Asas larangan pauli

Pauli mengemukakan hipotesisnya yang menyatakan bahwa dalam satu atom tidak mungkin dua elektron mempunyai keempat bilangan kuantum sama.

Misal, 2 elektron akan menempati subkulit 1s. Tiga bilangan kuantum pertama

27

akan mempunyai nilai yang sama (n = 1, l = 0, m = 0). Untuk itu bilangan kuantum yang terakhir, yaitu bilangan kuantum spin(s) harus mempunyai nilai berbeda +1/2 dan -1/2.

Dengan kata lain, setiap orbital maksimal hanya dapat terisi 2 elektron dengan arah spin berlawanan. Sebagai contoh, pengisian elektron pada orbital 1s digambarkan sebagai berikut:

Mengapa pada satu orbital hanya dapat ditempati maksimal oleh dua elektron? Karena jika ada elektron ketiga, maka elektron tersebut pasti akan mempunyai spin yang sama dengan salah satu elektron yang terdahulu dan itu akan melanggar asas larangan Pauli dengan demikian tidak dibenarkan. Jumlah elektron maksimal untuk tiap subkulit sama dengan dua kali dari jumlah orbitalnya.

c. Kaidah Hund

Frederick Hund, 1927 (dikenal Hund) mengatakan bahwa pengisian elektron pada orbital yang setingkat (energinya sama) dalam satu orbital adalah satu per satu dengan arah spin yang sama sebelum berpasangan. Asas ini dikemukakan berdasarkan penalaran bahwa energi tolak-menolak antara dua elektron akan minimum jika jarak antara elektron berjauhan. Untuk lebih memahaminya, perhatikan gambaran pengisian elektron pada orbital p.

Contoh pengisian yang benar:

28 Contoh pengisian yang salah

Untuk penulisan konfigurasi elektron yang mempunyai jumlah elektron besar dapat dilakukan penyederhanaan. Penyederhanaan dilakukan dengan menuliskan simbol dari unsur gas mulia yang mempunyai nomor atom di bawahnya, diikuti dengan penulisan kekurangan jumlah elektron setelah gas mulia tersebut.

3. Materi kimia SMA/MA kelas XI Tabel Periodik Unsur

Table periodik yang digunakan saat ini adalah table periodik modern atau dikenal dengan nama tabel periodik bentuk panjang. Pada tabel periodik ini lajur – lajur horizontal yang disebut periode. Disusun berdasarkan kenaikan nomor atom, sedangkan lajur vertikal disebut yang disebut golongan. (Sri Rahayu Ningsih dkk, 2007: 17-20)

a. Pengelompokan unsur – unsur

Tabel periodik unsur – unsur terdiri dari dua golongan besar, yaitu golongan utama (golongan A) dan golongan transisi (golongan B). Penggolongan

29

unsur ini didasarkan atas konfigurasi elektron atom–atom. Dari konfigurasi elektron atom – atomnya, unsur juga dapat di kelompokkan ke dalam blok yaitu blok s, blok p, blok d, dan blok f.

Unsur – unsur blok s dan blok p masuk dalam golongan utama (golongan A), sedangkan Unsur – unsur blok d dan blok f masuk dalam golongan transisi (golongan B)

b. Penentuan golongan dan periode 1) Golongan utama (golongan A)

Unsur yang termasuk golongan utama adalah unsur – unsur yang elektron terakhir terdapat sub kulit s atau sub kulit p. unsur golongan utama termasuk ke dalam unsur blok s dan blok p. pada golongan utama, elektron valensi adalah jumlah elekron pada kulit terluar.

a) Unsur – unsur blok s

Unsur – unsur yang tersusun dari atom dengan konfigurasi elektron terakhirnya berada pada sub kulit s, termasuk unsur – unsur bloks.

Contoh:

11Na: 1s2 1s2 2p6 3s1

Unsur Na terletak pada Golongan IA, periode 3, blok s Atau [Ne] 3s1

56Ba: 1s2 1s2 2p6 3s2 3p6 3d10 4s2 4p6 4d10 5s2 5p6 6s2 unsur Ba terletak pada golongan IIA, periode 6, bloks Atau [Xe] 6s2

30

Tabel 1. Elektron Valensi AtomUnsur Blok s Golongan Elektron Valensi terakhirnya berada pada sub kulit sdan sub kulit p, termasuk unsur – unsur blok p.

Contoh:

13Al: 1s2 1s2 2p6 3s2 3p1

Unsur Al terletak pada golongan IIIA, periode 3, blok p Tabel 2. Elektron Valensi Atom Unsur Blok p

Golongan Elektron valensi

31 2) Golongan transisi ( golongan B)

Unsur – unsur yang termasuk golongan transisi adalah unusr – unsur yang elektron terakhirnya terdapat pada sub kulit d dan sub kulit f. unsur golongan transisi termasuk ke dalam unsur blok d dan blok f.

a) Unsur – unsur blok d

Untuk unsur blok d, elektron valensinya adalah elektron pada kulit terluar dan elektron pada sub kulit d dari kulit kedua terluar.

Table 3. Elektron Valensi Atom Unsur blok d

Golongan Elektron Valensi

32 b) Unsur – unsur blok f

Atom unsur blok f mempunyai elektron valensi sub kulit s pada kulit terluar dan elektron pada sub kulit f dari kulit ketiga terluar. Blok f terdiri dari dua golongan yaitu golongan lantanida dan golongan aktinida.

1) Unsur – unsur lantanida

Unsur – unsur lantanida adalah unsur yang mempunyai sifat mirip dengan unsur lanthanum (La), sehingga dimasukkan ke dalam satu golongan.

Unsur – unsur lantanida termasuk periode 6, sama dengan lantanum. Elektron terakhir dari atom unsur lantanida menmpati sub kulit 4f. Jumlah elektron di subkulit 4f mulai dari 1 sampai dengan 14, sehingga golongan lantanida terdiri dari 14 unsur.

Contoh:

60Nd: [Xe] 6s2 4f4

67Ho: [Xe] 6s2 4f4

Unsur golongan Nd dan Ho terletak pada golongan lantanida, periode 6, blok d 2) Unsur – unsur aktinida

Unsur – unsur aktinida termasuk golongan IIIB periode 7 sama dengan aktinum. Elektron terakhir dari atom unsur aktinida menempati sub kulit 5f.

Jumlah di sub kulit 5f mulai dari 1 sampai dengan 14 sehingga golongan aktinida terdiri dari 14 unsur.

Contoh:

33

95Am: [Rn] 7s2 5f7

102No: [Rn] 7s2 5f14

Unsur golongan Am dan No terletak pada golongan aktinida, periode 7, blok f

Table 4. Elektron Valensi Atom Unsur Blok f Golongan Elektron valensi

Lantanida

Aktinida

6s2 4f1-14

7s2 5f1-14

4. Mobile Learning

a. Pengertian Mobile Learning

Mobile learning didefinisikan oleh Clark Quinn dalam tulisan (Triarso, Agus: 2010) adalah media pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersedian materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Istilah m-learning atau mobile learning merujuk pada penggunaan perangkat genggam seperti android, tablet, smartphone, handphone, laptop dan perangkat teknologi informasi yang banyak digunakan dalam belajar mengajar, dalam hal ini difokuskan pada perangkat handphone.

Perkembangan terbaru dalam teknologi handphone semakin memungkinkan untuk mendukung mobile learning dan memanfaatkan situasi belajar spontan. Menurut Goh, mobile learning menawarkan kesempatan baru

34

untuk mengintegrasikan belajar spontan dalam skenario pembelajaran yang lebih formal. (Goh, 2009) (Ahmadi dkk, 2010:30).

Ally (2004: 1), mendefinisikan bahwa mobile learning adalah penyampaian materi pembelajran elektronik menggunakan peralatan komputasi mobile. Akses dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Kedua definisi diatas menekankan pada penggunaan peralatan komputasi mobile untuk mengakses materi pelajaran. Penggunaan peralatan mobile memungkinkan siswa bisa mengakses materi kapan saja dan dimana saja.

Menurut Nugraha (2010: 10), peralatan mobile device yang digunakan antara lain adalah handphone, PDA maupun smartphone. Meskipun demikian, secara umum peralatan mobile yang digunakan bisa berupa apa saja yang berukuran kecil, mudah di bawa dari satu tempat ketempat lain, dan bisa digunakan untuk mengakses materi pelajaran baik dari memori internal device maupun melalui akses jaringan internet.

Wijaya (2006: 2), menjelaskan bahwa tidak semua materi mengajar cocok disampaikan dengan konsep mobile learning. Materi yang tidak cocok antara lain materi yang bersifat “hands on”, keterampilan sebagai mana dokter gigi, seni music khususnya mencipta lagu, interview skills, team work, seperti marketing maupun materi yang membutuhkan pengungkapan ekspresi seperti tarian.

Mobile learning merupakan kelanjutan dari pembelajaran elektronik atau lebih dikenal dengan e – learning yang merupakan bagian dari D-learning

35

(distance learning – pembelajaran jarak jauh) (Georgiev: 2004: 1). Hal ini sejalan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional BAB 1 pasal 1 poin 15 yang menyatakan:

Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Gambar 2. skema pembelajaran m- learning (Georgiev dkk: 2004)

Pembelajaran jarak jauh dimaksudkan untuk mengatasi jarak dan waktu antara guru dengan siswa, sehingga proses pembelajaran tetap berjalan meskipun guru dan siswa tidak berada pada waktu dan tempat yang sama. Media yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh bisa berupa modul, buku, dan media mengajar lain. Namun pembelajaran jarak jauh lebih identik dengan penggunaan media elekronik sehingga dikenal dengan istilah elektronik learning atau e-learning .

Pada pembelajaran e-learning kebebasan untuk belajar tanpa harus terikat waktu dan tempat menjadi faktor penting yang sering ditekankan. Namun Holzinger (2005: 1), menjelaskan bahwa di dalam e-learning tradisional kebutuhan minimum pada sebuah PC yang terhubung dengan jaringan internet.

Dengan demikian memiliki konsekuensi independensi waktu dan tempat tidak

36

sepenuhnya terpenuhi karena siswa harus berada di depan komputer atau TV yang berada ditempat tertentu.

Untuk mengatasi keterbatasan pada e-learning dikembangkan model pembelajaran baru dengan memanfaatkan peralatan elektronik mobile (mobile device). Penggunaan mobil device memunculkan istilah baru dalam dunia pendidikan yaitu mobile learning atau lebih dikenal dengan istilah m-learning.

Menurut Wood (2005) dalam Riyanto (2006: 387), istilah mobile learning (m-learning) mengacu pada penggunaan perangkat IT genggam (handphone), laptop, dan tablet PC, dalam pengajaran dan pembelajaran.

Peralatan yang digunakan pada m-learning menggunakan perangkat mobile yang sangat fleksibel untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Pada mobile learning akses data menggunakan jaringan wireless dengan kecepatan yang di batasi oleh teknologi jaringan wireless yang diantaranya adalah GPRS, 3G, wifi. Model pembelajaran m- learning adalah bentuk interaksi antara guru dan siswa yang bersifat informal.

b. Implementasi Mobile Learning

Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi bergerak (mobile device) seperti PDA atau Handphone memungkinkan pembelajaran jarak jauh mobile learning bisa berlangsung fleksibel dan dinamis terhadap ruang dan waktu.

Penggunaan mobil device juga memberi kesempatan lebih banyak antara guru dan siswa untuk dapat berkolaborasi dan berinteraksi secara informal (Riyanto, 2006:

2).

37

Menurut Zulkifli (2011: 15), terdapat tiga model implementasi mobile learning dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, yaitu sebagai suplemen (tambahan) yang sifatnya pilihan (opsional), pelengkap (komplemen), dan pengganti (subtitusi).

1) Tambahan (suplemen)

Mobile learning menjadi suplemen atau tambahan jika penggunaan m-learning terpisah dari proses pembelajaran yang berlangsung. Siswa tidak ada keharusan untuk menggunakan m-learning. Meskipun bersifat opsional, siswa yang menggunakan m-learning tentu memiliki tambahan wawasan dan pengalaman belajar.

2) Pelengkap (komplemen)

Mobile learning berfungsi sebagai pelengkap pembelajaran di kelas jika learning deprogram untuk melengkapi pembelajaran di kelas. Materi m-learning digunakan sebagai penguat (reinforsmen) atau pengulang (remedial) bagi siswa.

3) Pengganti(subtitusi)

Mobile learning berfungsi sebagai pengganti jika m-learning sepenuhnya digunakan umenggantikan proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran sperti ini bertujuan memberi keleluasaan pada siswa untuk mengatur jadwal pembelajaran dengan kegiatan siswa lainnya. Pembelajaran seperti ini lebih efektif digunakan pada jenjang pendidikan tinggi seperti yang telah diterapkan pada beberapa perguruan tinggi di negara maju.

38

Wijaya (2006: 3), menjelaskan bahwa kesiapan untuk mengimplementasikan mobile learning di dalam pendidikan sangat bergantung pada semua stakeholder yang terkait. Kesiapan dapat di pahami sebagai kemampuan untuk menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam mobile learning.

Adapun stakeholder yang terkait antara lain guru, siswa, sekolah sebagai pihak penyelenggara dan pemerintah sebagai penyedia infrastruktur.

Mobile learning memiliki teknologi konektifitas yang lebih fleksibel antara lain Wifi, GSM/CDMA, dan GPRS. Satu peralatan mobile bisa menggunakan lebih dari satu macam teknologi komunikasi memiliki karakteristik yang berbeda. Pemilihan teknologi komunikasi yang digunakan mempengaruhi jangkauan dan kecepatan akses dari peralatan mbile yang digunakan.

Mobile learning memungkinkan komunikasi antara guru dan siswa bisa berlangsung secara synchronous atau asynchronous. Komunikasi asynchronous berlangsung jika antara guru dan siswaberada pada saat yang bersamaan. Contoh yang paling umum dari komunikasi synchronous ini adalah komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa yang berada pada saat yang berbeda. Pada saat tertentu guru mengunggah materi dan dan disaat yang lain siswa mengunduh materi untuk dipelajari. Sistem m-learning dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajran atau layanan informasi administrasi. Contoh pemanfaatan sistem mobile learning dalam pembelajaran antara lain materi, soal – soal tes, dll.

Pemanfaatan sistem mobile learning untuk layanan informasi administrasi contohnya adalah laporan nilai akademis siswa, pengumuman sekolah dll.

39 c. Kelebihan dan Kekurangan Mobile learning

Beberapa kelebihan Mobile learning dibandingkan dengan pembelajaran lain sebagai berikut:

1) Dapat digunakan dimanapun dan kapanpun

2) Memiliki harga yang relative lebih murah dibandingkan dengan PC desktop 3) Ukuran perangkat yang kecil dan ringan daripada PC desktop

4) Diperkirakan dapat mengikutsertakan lebih banyak pembelajar karena m-learning memanfaatkan teknologi yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

5) Fitur makin canggih

6) Jangkauan wireless/seluler yang luas sehingga akses ke sumber daya pembelajaran lebih mudah dan cepat.

Mobile learning memiliki keterbatasan–keterbatasan terutama dari sisi perangkat/media belajarnya. Keterbatasan perangkat bergerak antara lain sebagai berikut:

1) Kemampuan pemroses

2) Kapasitas memori untuk menyimpan 3) Layar tampilan

4) Catu daya 5) Network

Kekurangan mobile learning sendiri sebenarnya lambat laun dapat teratasi khususnya dengan perkembangan teknologi yang semakin maju.

40

Kecepatan processor pada ponsel semakin lama semakin baik, sedangkan kapasitas memori, terutama memori eksternal ssaat ini semakin besar dan murah.

Hal ini yang perlu diperhatikan dalam penggunaan dalam penggunaan mobile learning adalah bahwa tidak semua konten pembelajaran konvensional maupun konten pembelajaran e-learning dapat ditransformasikan ke dalam konten mobile learning.

Sistem yang optimal adalah menggabungkan mobile learning dengan e-learning, dimana ada alternatif proses pembelajaran dilakukan dengan perangkat computer atau device bergerak (handphone) atau digabungkan dengan sistem tradisional.

5. Android

Android menurut Don (2010) adalah sistem operasi berbasis linux yang dipergunakan sebagai pengelola sumber daya perangkat keras baik untuk ponsel, smartphone, dan juga PC tablet. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan bermacam peranti bergerak. Awalnya Google Inc membeli android Inc, pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan android dibentuk Open Handset Alliance (OHA), konsorsium dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, termasuk google, HTC, Intel, Motorola, qualcomm, T-Mobil, dan Nvidia.

Pada saat perilisan perdana android, 5 November 2007, Android bersama open handset Alliance menyatakan mendukung pengembangan standar terbuka

41

perangkat seluler. Di lain pihak Google merilis kode – kode android di bawah lisensi Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan standar terbuka perangkat seluler. Di dunia ini terdapat dua jenis distributor sistem operasi Android. Pertama yang mendaat dukungan penuh dari Google atau Google Mail services (GMS) dan kedua adalah yang benar – benar berbasis distribusinya tanpa dukungan langsung Google atau dikenal sebagao Open Handset Distribution (OHD).

Beberapa produk/versi dari android a. Android versi 1.1

Pada 9 Maret 2009, Google merilis Android versi 1.1Android versi ini dilengkapai dengan pembaruan estetis pada aplikasi, jam alarm, voice searc (pencarian suara), pengiriman pesan dengan gmail, dan pemberitahuan email.

b. Android versi 1.5 (Cupcake)

Pada pertengahan Mei 2009, Google kembali merilis telepon seluler dengan menggunakan Android dan SDK (Software Development Kit) dengan versi 1.5 (Cupcake). Terdapat beberapa pembaruan termasuk juga penambahan beberapa fitur dalam seluler versi ini yakni kemampuan merekam dan menonton video dengan modus kamera, mengunggah video ke youtube dan gambar ke picasa langsung dari telepon, dukungan Bluetooth, A2DP, kemampuan terhubung secara otomatis ke headset Bluetooth, dan keyboard pada layar yang dapat disesuaikan dengan sistem.

42 c. Android versi 1.6 (Donut)

Donut versi 1.6 dirilis pada September dengan menampilkan proses pencarian yang lebih baik disbanding sebelumnya, penggunaan baterai indikator dan kontrol applet VPN. Fitur lainnya adalah galeri yang memungkinan pengguna untuk memilih foto yang dihapus; kamera, camcorder, dan galeri yang diintegrasikan; CDMA/EVDO, 802.1x, VPN, Gestures, dan Text-to-speech engine; kemampuan dial kontak; teknologi text to change speech (tidak tersedia pada semua ponsel; pengadaan resolusi VWGA.

d. Android versi 2.0/2.1 (Éclair)

Pada 3 Desember 2009 kembali diluncurkan ponsel Android dengan versi 2.0/2.1 (Éclair), perubahan yang dilakukan adalah mengoptimalkan hardware, peningkatan Google Maps 3.1.2, perubahan UI dan dengan browser baru dan dukungan HTML5, daftar kontak yang baru, dukungan flash untuk kamera 3,2 MP, digital zoom, dan Bluetooth.

Untuk bergerak cepat dalam persaingan perangkat generasi berikut, Google melakukan investasi dengan mengadakan kompetisi aplikasi mobile terbaik (killer apps – aplikasi unggulan). Kompetisi ini berhadiah $25,000 bagi setiap pengemabng aplikasi terpilih. Kompetisi diadakan selama dua tahap yang tiap tahapnya dipilih 50 aplikasi terbaik. Dengan semakin berkembangnya dan semakin bertambahnya jumlah handset android, semakin banyak pihak ketiga

43

yang berminat untuk menyalurkan aplikasi mereka kepada sistem operasi android.

Aplikasi terkenal yang diubah ke dalam sistem operasi android adalah shazam, backgrounds, dan WeatherBug. Sistem operasi android dalam situs internet juga dianggap penting untuk menciptakan aplikasi android asli, conthnya aoleh MySpace dan Facebook.

e. Android versi 2.2 (Froyo: Frozen Yoghurt)

Pada 20 Mei 2010, android versi 2.2 (Froyo) diluncurkan. Perubahan umumnya terhadap versi – versi sebelumnya anatara lain dukungan Adobe Flash 10.1, kecepatan kinerja dan aplikasi 2 sampai 5 kali lebih cepat, intergrasi v8 JavaScript engine yang dipakai Google Chrome untuk mempercepat kemampuan rendering pada browser, pemasangan aplikasi dalam SD card, kemampuan Wifi Hotspot portable, dan kemampuan auto update dalam aplikasi Android Market.

f. Android versi 2.3 (Gingerberad)

Pada 6 desember 2010, Android versi 2.3 (Gingerberad) diluncurkan.

Perubahan – perubahan umumnya yang didapat dari android versi ini antara lain peningkatan kemampuan permainan (gaming), peningkatan fungsi copy paste, layar antar muka (User Interface) didedsain ulang, dukungan format video VP8 dan WebM, efek audio baru (reverb, equalization, headphone virtualization, dan bass boost), dukungan kemampuan near field communication (NFC), dan dukungan jumlah kamera yang lebih dari satu.

44 g. Android versi 3.0/3.1 (Honeycomb)

Android Honeycomb dirancang khusus untuk tablet. Android versi ini

Android Honeycomb dirancang khusus untuk tablet. Android versi ini