BAB I. PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau masukkan sebagai berikut :
1. Bagi Perusahaan
Bagi perusahaan diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai pentingnya kebijakan dividen, ukuran perusahaan, struktur modal dan CSR sebagai pertimbangan perusahaan dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya dalam meningkatkan nilai perusahaan.
2. Bagi pihak Akademis
Bagi pihak akademis diharapkan penelitian ini dapat dijadikan kontibusi untuk kajian akademik untuk mengetahui pengaruh kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal terhadap nilai perusahaan.
3. Bagi Peneliti selanjutnya
Bagi pihak akademis sebagai bahan referensi dan pembanding bagi mereka yang berminat mengadakan penelitian lebih lanjut dibidang ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Landasan teori menjabarkan teori-teori yang mendukung hipotesis serta sangat berguna dalam analisis hasil penelitian. Landasan teori berisi pemaparan teori serta argumentasi yang disusun sebagai tuntunan dalam memecahkan masalah penelitian serta perumusan hipotesis.
2.1.1 Pengertian Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan dapat menggambarkan keadaan perusahaan. Dengan baiknya nilai perusahaan maka perusahaan akan dipandang baik oleh para calon investor dan pihak eksternal perusahaan lainnya. Salah satunya, pandangan nilai perusahaan bagi pihak kreditur. Bagi pihak kreditur nilai perusahaan berkaitan dengan likuiditas perusahaan, yaitu perusahaan dinilai mampu atau tidaknya mengembalikan pinjaman yang diberikan oleh pihak kreditur. Apabila nilai perusahaan tersirat tidak baik maka investor akan menilai perusahaan dengan nilai rendah. Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja perusahaan juga baik. Jika nilai sahamnya tinggi bisa dikatakan nilai perusahaannya juga baik. Karena salah satu tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham.
Nilai perusahaan merupakan indikator penting bagi investor untuk menilai perusahaan secara keseluruhan (Nurlela dan Islahuddin, 2008). Tujuan
utama dari pendirian perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan, memakmurkan pemilik perusahaan/saham, dan memaksimalkan nilai perusahaan dinilai dari harga saham. Ketiganya memiliki inti yang sama hanya penekanan yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak berbeda (Martono dan Harjito, 2010).
Menurut Brigham dan Houston (2013) nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Dalam mengelola perusahaan para pemegang saham sebagai principal dapat menunjuk para profesional (manajerial) atau sering juga disebut sebagai agen untuk mencapai tujuan perusahaan.
Salah satu tujuan utama suatu perusahaan adalah memaksimumkan nilai perusahaan, nilai perusahaan digunakan sebagai pengukur keberhasilan perusahaan karena dengan meningkatnya nilai perusahaan berarti meningktnya kamakmuran pemilik perusahaan atau pemegang saham(Martono dan Harjito, 2010). Nilai perusahaan dapat dilihat dari nilai saham perusahaan yang bersangkutan. Nilai perusahaan pada dasarnya diukur dari beberapa aspek salah satunya adalah harga pasar saham perusahaan, karena harga pasar saham perusahaan mencerminkan penilaian investor atas keseluruhan ekuitas yang dimiliki (Permanasari, 2010).
Nilai perusahaan sebagai nilai pasar alasannya karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran atau keuntungan bagi pemegang saham secara maksimum jika harga saham perusahaan meningkat (Rika dan Ishlahuddin. 2008).
Semakin tinggi harga saham, maka makin tinggi keuntungan pemegang saham sehingga keadaan ini akan diminati oleh investor karena dengan permintaan
saham yang meningkatkan menyebabkan nilai perusahaan juga akan meningkat.
Nilai perusahaan merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar (Keown, et al, 2007). Harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli diartikan sebagai harga pasar atas perusahaan itu sendiri. Nilai perusahaan dapat dicapai dengan maksimum jika para pemegang saham menyerahkan urusan pengelolaan perusahaan kepada orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya.
Semakin tinggi nilai perusahaan semakin besar kemakmuran yang diterima oleh pemilik perusahaan (Husnan dan Pudjiastuti 2012). Tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang atau present value semua keuntungan pemegang saham akan meningkat apabila harga saham yang dimiliki meningkat (Sartono 2012).
Nilai perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan menggunakan Tobin’s Q. Perusahaan yang memiliki Tobin’s Q dengan nilai yang semakin tinggi menunjukkan bahwa prospek pertumbuhan perusahaan semakin baik, karena investor akan mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk perusahaan yang memiliki nilai pasar aset yang lebih besar daripada nilai bukunya. Apabila nilai Tobin’s Q lebih kecil dari 1, berarti investasi dalam aset tidak menarik (Herawaty, 2008). Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi.
Tobin’s Q dihitung dengan membandingkan rasio nilai pasar saham perusahaan dengan nilai buku ekuitas perusahaan (Weston dan Copeland, 2001).
Rasio Q lebih unggul daripada rasio nilai pasar terhadap nilai buku karena rasio
ini fokus pada berapa nilai perusahaan saat ini secara relatif terhadap berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggantinya saat ini. Adapun rumus Tobin’s Q menurut Weston dan Copeland, (2012) adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Q = Nilai Perusahaan
EM = Nilai pasar ekuitas (Equity Market Value), yang diperoleh dari hasil perkalian harga saham penutupan (closing price) akhir tahun dengan jumlah saham yang beredar pada akhir tahun.
EBV = Nilai buku dari ekuitas (Equity Book Value), yang diperoleh dari selisih total aset perusahaan dengan total kewajiban.
D = Nilai buku dari total utang.
2.1.2 Kebijakan Dividen
2.1.2.1 Pengertian Kebijakan dividen
Kebijakan dividen (dividend policy) adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akandibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen makaakan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya akan mengurangi total sumber dana intern atau internal financing (Setiawati, 2012).
Laba ditahan merupakan salah satu sumber dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan, sedangkan dividen merupakan aliran kas
keluar yang dibayar kepada pemegang saham. Dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan (Setiawati, 2012). Rasiopembayaran dividen (dividend payout ratio) yaitu perbandingan antara dividend per share (DPS) dengan Earning Per Share (EPS).
Keputusan yang diambil oleh manajemen terkait dengan pembayaran dividen meliputi elemen-elemen:
1. Dividen yang dibayarkan apakah dividen rendah atau dividen tinggi, hal ini sangat tergantung pada preferensi pemegang saham perusahaan yang akan diputuskan oleh rapat umum pemegang saham.
2. Dividen yang akan dibayarkan bersifat stabil atau tida stabil, hal ini harus diputuskan dengan baik karena menyangkut minat investor dimasa mendatang.
3. Dividen yang akan di bayarkan apakah setiap tahun atau periodik.
4. Apakah kebijakan dividen untuk dibagikan harus di umumkan, biasanya diumumkan resmi.
2.1.2.2 Teori Kebijakan dividen 1. Teori Kebijakan Dividen
Brigham dan Houston (2006) menyatakan beberapa teori kebijakan dividen, diantaranya:
a. Dividen Tidak Relevan (Dividend Irrelevance Theory)
Nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh pembayaran dividen. MM berpendapat bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh pendapatan yang
dihasilkan oleh aktivitasnya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi diantaranya dividen dan laba di tahan.
b. Teori Perbedaan Pajak (Tax Diffrential Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividend dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak.
c. Teori Signaling Hypotesist
Suatu kenaikan dividen merupakan sinyal bahwa perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik dimasa mendatang, demikian juga sebaliknya. Teori signaling hypotesis adalah teori yang menyatakan bahwa investor menganggap perubahan dividen sebagai pertanda bagi perkiraan manajemen atau laba.
2.1.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen menurut Sartono (2001) adalah sebagai berikut:
1. Likuiditas
Dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, semakin besar posisi kas perusahaan dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan maka menunjukkan semakin besar kemampuan perusahaan tersebut untuk membayarkan dividennya.
2. Kebutuhan Dana Perusahaan
Kebutuhan dana perusahaan merupakan faktor lain yang mempengaruhi
posisi kas perusahaan dan harus dipertimbangkan dalam melakukan analisis kebijakan dividen.
3. Stabilitas Dividen
Stabilitas dividen merupakam faktor penting bagi investor jika dibandingkan dengan pembayaran deviden yang tinggi. Karena stabilitas dividen di sini mengindikasikan bahwa perusahaan tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan.
2.1.2.4 Penetapan dalam kebijakan dividen
Penetapan dalam kebijakan dividen adalah sebagai berikut :
1. Investor menganggap kenaikan dividen sebagai sinyal positif bahwa perusahaan memiliki peospek yang baik demikian sebaliknya. Sehingga investir loyal kepada perusahaan, maka perusahaan cenderung tidak menurunkan dividen yang dibagikan.
2. Investor cenderung lebih menyukai dividen yang tidak fluktuasi atau stabil, karena ada beberapa investor yang menghindari resiko sehingga kestabilan pembayaran dividen akan lebih menjanjikan bagi investor.
Bentuk umum dari dividen adalah dividen kas,seperti namanya, pembayaran kas diberikan secara langsung kepada pemegang saham dan pembayaran itu dibuat dalam bisnis reguler. Kadang-kadang perusahaan melakukan pembayaran dividen ekstra yang tidak pasti setiap tahunnya, bisa dilanjutkan bisa juga tidakdi lanjutkan di tahun yang akan datang.Pembayaran dividen kas mengurangi kas perusahaan dan laba yang ditahan.
Rasio pembayaran dividen (deviden payout ratio) mengukur porsi
penghasilan yang dibayarkan dalam deviden. Investor yang mencari pertumbuhan dalam harga pasar akan mengharapkan rasio ini kecil, sebaliknya investor yang mencari deviden akan mengharapkan rasio yang besar.
Rasio pembayaran dividen diukur dengan cara membagi besarnya dividen per lembar saham dengan laba bersih per lembar saham (Arifin, Zaenal, 2005) yang secara matematis dapat dinyatakan dengan rumus berikut:
Rasio Pembayaran Dividen = 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑑𝑑𝑡𝑡𝑑𝑑 𝑝𝑝𝑑𝑑𝑝𝑝𝑝𝑝𝑑𝑑𝑝𝑝𝑝𝑝𝑡𝑡𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑡𝑡ℎ𝑡𝑡𝑝𝑝 𝑝𝑝𝑡𝑡𝑝𝑝𝑡𝑡 𝑝𝑝𝑑𝑑𝑝𝑝𝑠𝑠𝑑𝑑 ℎ 𝑝𝑝𝑑𝑑𝑝𝑝𝑝𝑝𝑑𝑑𝑝𝑝𝑝𝑝𝑡𝑡𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑡𝑡ℎ𝑡𝑡𝑝𝑝
2.1.3 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki perusahaan. Perusahaan besar biasanya dapat memilih pendanaan dari berbagai bentuk utang, termasuk penawaran special yang lebih menguntungkan dibandingkan yang ditawarkan oleh perusahaan kecil, semakin besar jumlah uang yang terlibat, semakin besar kemungkinan pembuatan kontrak yang dirancang sesuai dengan preferensi kedua pihak sebagai ganti dari penggunaan kontrak standar utang (Sawir, 2014). Ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki oleh perusahaan (Sujianto, 2001).
Klasifikasi usaha menurut UU No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
1. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah
atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang ini.
2. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimilki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang – Undang ini.
3. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menegah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.
Salah satu ukuran kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba yang maksimal dapat dilihat dari rasio - rasio yang menunjukkan perkembangan atau kemunduran dari operasional normal perusahaan tersebut, hal ini dapat dilihat salah satunya dari rasio pertumbuhan, dimana rasio pertumbuhan menunjukkan ukuran kenaikan atau penurunan kinerja keuangan suatu perusahaan yang dapat dilihat dari perbandingan tahun sebelum dan sesudah maupun sedang berjalan untuk beberapa pos akuntansi keuangan perusahaan.Dalam rasio pertumbuhan ini akan dihitung seberapa jauh pertumbuhan dari beberapa pos penting dalam laporan keuangan. Variabel ini diukur dengan rata-rata jumlah nilai kekayaan yang dimiliki suatu perusahaan
(total aktiva). Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio. Ukuran (size) perusahaan bisa diukur dengan menggunakan total aktiva, penjualan, atau modal dari perusahaan tersebut. Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah ukuran aktiva dari perusahaan tersebut.
Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total asset yang kecil (Basuki, 2006).
Total aset dipilih sebagai proksi dari variabel ukuran perusahaan. Ini dikarenakan total aset lebih stabil dan representatif dalam menunjukkan ukuran perusahan dibanding kapitaliasi pasar dan penjualan yang sangat dipengaruhi oleh demand and supply (Sudarmadji dan Sularto, 2007). Karena total asset bernilai besar maka hal ini dapat disederhanakan dengan mentransformasikan kedalam logaritma natural (Ghozali, 20013) sehingga ukuran perusahaan dapat dihitung dengan
Ukuran perusahaan = Ln total aktiva
2.1.4 Teori Dasar Struktur Modal
Beberapa teori struktur modal yang dapat memudahkan perumusan suatu kebijakan struktur keuangan yang lebih baik dan mencapai struktur modal yang optimal adalah sebagai berikut:
2.1.4.1 Teori Pendekatan Modigliani dan Miller
Pada tahun 1950-an, dua orang ekonom menentang pandangan tradisional struktur modal. Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Kemudian pada awal tahun 1960-an, kedua ekonom tersebut memasukkan faktor pajak ke dalam analisis mereka. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan nilai perusahaan tanpa hutang. Kenaikan nilai tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari penggunaan hutang.
1. Teori MM tanpa pajak
Pada tahun 1958 mereka mengajukan suatu teori yang ilmiah tentang struktur modal perusahaan. Saham dan obligasi diperjual belikan di suatu pasar modal yang sempurna Seluruh aliran kas adalah perpetuitas (sama jumlahnya setiap periode hingga waktu tak terhingga). Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan adalah nol atau EBIT selalu sama. Teori struktur modal modern yang pertama adalah teori Modigliani dan Miller (teori MM).
Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2001).
2. Teori MM Dengan Pajak
Pada tahun 1963, MM menerbitkan artikel sebagai lanjutan teori MM tahun 1958. Asumsi yang diubah adalah adanya pajak terhadap penghasilan perusahaan. Dengan adanya pajak ini, MM menyimpulkan bahwa penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak.
2.1.4.2 Teori Trade-Off
Dalam kenyataan, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan (Myres, 2001). Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan.
Penelitian di luar negeri menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai sekitar 20% dari nilai perusahaan. Biaya tersebut mencakup dua hal :
1. Biaya langsung: biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, biaya pengacara, biaya akuntan, dan biaya lainnya yang sejenis.
2. Biaya tidak langsung: biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal. Misal, supplier barangkali tidak akan mau memasok barang karena mengkhawatirkan kemungkinan tidak terbayar.
Biaya lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan hutang (agency cost of debt). Jika hutang meningkat, maka konflik antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan meningkat. Dalam situasi tersebut, pemegang hutang akan semakin meningkatkan pengawasan (monitoring) terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya-biaya monitoring (persyaratan yang lebih ketat, menambah jumlah akuntan, dsb) dan bisa juga dalam bentuk kenaikan tingkat bunga.
2.1.4.3 Struktur Modal
Salah satu isu penting yang di hadapi oleh manajer keuangan adalah
struktur modal. Riyanto (2001) mengemukakan struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing (jangka panjang) dengan modal sendiri. Menurut Weston dan Copeland (1996), keputusan untuk memilih sumber pembiayaan merupakan keputusan bidang keuangan yang paling penting bagi perusahaan. Menurut Brigham dan Houston (1998), struktur modal merupakan kombinasi atau bauran segenap pos yang masuk ke dalam sisi kanan neraca sumber modal perusahaan. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang memaksimalkan harga dari saham perusahaan.
Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2006) struktur modal terbaik adalah struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan atau harga saham, sehingga perusahaan yang memiliki struktur modal yang baik akan mampu meningkatkan nilai perusahaan. Penentuan struktur modal bagi suatu perusahaan merupakan salah satu bentuk keputusan keuangan yang penting, karena keputusan ini berpengaruh terhadap pencapaian tujuan manajemen keuangan perusahaan.
Struktur modal berkaitan dengan sumber dana, baik yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan. Menurut Riyanto (2001) sumber intern adalah modal atau dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan, yang berarti suatu pembelanjaan dengan “kekuatan sendiri”. Sumber pendanaan internal berasal dari dana yang terkumpul dari laba yang ditahan dari kegiatan perusahaandan depresiasi. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik yang merupakan komponen modal sendiri dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal pinjaman atau hutang.Setiap perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya selalu berupaya untuk menjaga keseimbangan
finansialnya. Perusahaan akan memilih sumber dana yang paling rendah biayanya di antara berbagai alternatif sumber dana yang tersedia. Sebab, komposisi hutang dan ekuitas yang tidak optimal akan menyebabkan berkurangnya profitabilitas perusahaan dan sebaliknya.
Hutang jangka pendek tidak diperhitungkan dalam struktur modal karenautang jenis ini umumnya bersifat spontan (berubah sesuai dengan perubahantingkat penjualan) sementara itu hutang jangka panjang bersifat tetap selama jangka waktu yang relatif panjang (lebih dari satu tahun) sehingga keberadaannya lebih dipikirkan oleh para manajer keuangan. Itulah alasan utama mengapastruktur modal hanya terdiri dari utang jangka panjang dan ekuitas.
Karena alas anitu pulalah biaya modal hanya mempertimbangkan sumber dana jangka panjang (Riyanto, 2001).
Biasanya penggunaan rasio solvabilitas atau leverage disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Artinya perusahaan dapat menggunakan rasio leverage secara keseluruhan atau sebagian dari masing-masing jenis rasio solvabilitas yang ada. Terdapat beberapa jenis rasio solvabilitas yang sering digunakan perusahaan.
Adapun jenis-jenis rasio yang ada dalam rasio solvabilitas anatara lain:
1. Debt to asset ratio (DAR) 2. Debt to equity ratio (DER)
3. Long term debt to equity ratio (LDER) 4. Tangible assets debt coverage
5. Current liabilites to net worth 6. Times interest earned (TIE) 7. Fixed charge coverage
8. Equity to total assets ratio (EAR)
Menurut Kasmir (2008) Debt to Asset Ratio (DAR) adalah rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Menurut Marggaretha Debt to Asset Ratio (DAR) adalah variabel yang mendefinisikan seberapa banyak proporsi dari aktiva yang sumber pendanaannya berasal dari pinjaman atau kredit. Adapun rumus untuk menghitung Debt to Asset Ratio (DAR) menurut Kasmir (2008) adalah sebagai berikut:
DAR= Total Hutang Total Aset
2.1.4.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal 1. Struktur Aktiva
Struktur aktiva adalah penentuan berapa besar alokasi untuk masing – masing komponen aktiva, baik dalam aktiva lancar maupun dalam aktiva tetap Menurut Mamhud (2003). Besarnya aktiva tetap suatu perusahaan dapat menentukan besarnya penggunaan hutang. Perusahaan yang memiliki aktiva tetap dalam jumlah besar dapat menggunakan hutang dalam jumlah besar karena aktiva tersebut dapatdigunakan sebagai jaminan pinjaman.
Struktur aset berhubungan dengan jumlah kekayaan (aset) yang dapat dijadikan jaminan Manan (2004). Perusahaan yang struktur asetnya lebih fleksibelakan cenderung menggunakan utang lebih besar dari pada perusahaan yang struktur asetnya tidak fleksibel.
Struktur modal bertujuan memadukan sumber dana permanen yang selanjutnya digunakan perusahaan dengan cara yang diharapkan akan mampu
memaksimumkan nilai perusahaan. Struktur modal erat kaitannya dengan keputusan pendanaan yang dilakukan perusahaan. Pemilihan sumber dana dapat berasal dari dalam maupun luar. Sumber dana internal perusahaan dapat berasal dari laba ditahan dan depresiasi, sedangkan sumber dana eksternal perusahaan berasal dari hutang maupun modal sendiri.
Pemilihan struktur modal yang pada akhirnya juga menentukan berapa banyak hutang yang akan digunakan perusahaan untuk mendanai aktivanya.
Apabila hasil pengembalian atas aktiva lebih besar daripada biaya hutang, maka akan menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal dengan menggunakan hutang ini juga akan meningkat. Bila hasil pengembalian atas aktiva lebih kecil dari pada biaya hutang maka leverage akan mengurangi hasil pengembalian atas modal sehingga nilai perusahaan akan turun.
Struktur modal erat kaitannya dengan keputusan pendanaan yang dilakukan perusahaan. Pemilihan sumber dana dapat berasal dari dalam maupun luar. Sumber dana internal perusahaan dapat berasal dari laba ditahan dan depresiasi, sedangkan sumber dana eksternal perusahaan berasal dari hutang maupun modal sendiri. Pemilihan struktur modal yang pada akhirnya juga menentukan berapa banyak hutang yang akan digunakan perusahaan untuk mendanai aktivanya. Apabila hasil pengembalian atas aktiva lebih besar daripada biaya hutang, maka akan menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal dengan menggunakan hutang ini juga akan meningkat. Bila hasil pengembalian atas aktiva lebih kecil dari pada biaya hutang maka leverage akan mengurangi hasil pengembalian atas modal sehingga nilai perusahaan akan turun. Keputusan
pendanaan atau permodalan serta keputusan pengelolaan aset harus diambil dengan tetap berpedomankan pada tujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
Rasio ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Investor tidak hanya berharap laba, namun memperhitungkan
Rasio ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Investor tidak hanya berharap laba, namun memperhitungkan