• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Normalitas

Dalam dokumen TESIS OLEH ANGGERIANI (Halaman 84-0)

BAB III METODE PENELITIAN

3.8 Uji Asumsi Klasik

3.8.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Ghozali (2013), dalam uji normalitas ini ada 2 cara untuk mendeteksi apakahresidual berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik. Alat uji yang digunakan adalah dengan analisis grafik histogram dan grafik normal probability plot dan uji statistik dengan Kolmogorov-Smirnov Z (1-Sample KS).

Ghozali (2013), dasar pengambilan keputusan dengan analisis grafik normal probability plot adalah :

1. Jika data menyebar di sekitar

2. Garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

3. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah

garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) dilakukan dengan membuat hipotesis :

H0 : Data residual berdistribusi normal Hi : Data residual tidak berdistribusi normal

3.8.2 Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas (Ghozali,2001). Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.

Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:

1. Nilai R2

2. Menganalisis matriks korelasi variabel-variabel independen. Jika antar variabel ada korelasi cukup tinggi, maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolonieritas. Multikolonieritas dapat disebabkan karena adan dan ya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.

yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

3. Multikolonieritas dapat juga dilihat dari nilai tolerance adan Variance Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya.

Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sma dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF = 1/tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukan adanya multikolonierita sadalah nilai tolerance ≤ 0.10 atau sama dengan nilai VIF ≥10.

3.8.3 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi atara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penggangggu) tidak bebasi dari satu observasi ke observasi lainnya.

Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena gangguan pada seseorang individu/kelompok cenderung mempengaruhi gangguan pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya.

Pada data cross section (silang waktu) masalah autokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang berbeda berasal dari individu/kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi.

1. Uji Durbin – Watson (DW test)

Uji Durbin – Watson (DW test) hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya konstanta dalam model regresi dan tidak ada variabel lag diantara variabel independen.

Hipotesis yang akan diuji adalah : H0 : tidak ada autokorelasi (r=0) H1 : ada autokorelasi (r≠0)

Tabel 3.3. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi

Hipotesi nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl

Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada keputusan dl ≤ d ≤ du

Tidak ada korelasi negative Tolak (4 – dl) < d < 4

Tidak ada korelasi negative Tidak ada keputusan (4-du) ≤ d ≤ (4-dl) Tidak ada autokorelasi positif atau negatif Tidak ditolak du < d < (4-du)

3.8.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedositas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Dan jika varians berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedasitas (Ghozali, 2001).

Pengujian heterokedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser, Uji park dan Uji White. Uji Glejser mengusulkan untuk meregresi nilai absolut residual terhadap variabel independen. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heterokedastisitas.

Jika probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%, maka dapat

disimpulkan model regresi tidak mengandung heterokedastisitas (Ghozali, 2001)

3.9 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam analisis regresi ini, akan dilakukan dengan dengan Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t).

Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)

Menurut Ghozali (2013), uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Menurut Fachrudin dan Meliza (2014), dalam penelitian ini nilai thitung akan dibandingkan dengan t tabel pada tingkat signifikansi 5%.

Perumusan hipotesis:

I. H0 : βi

Artinya secara parsial kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan terbuka periode tahun 2012-2016

≤ 0

Ha : βi

Artinya secara parsial kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan terbuka periode tahun 2012-2016

≥ 0

Dimana i = X1, X2,X

Kriteria pengambilan keputusan uji signifikansi parsial (uji t) yaitu:

3

1. Nilai Sig> 0.05, maka Ho diterima, Ha ditolak, artinya variabel independen berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel independen secara parsial.

2. Nilai Sig< 0.05, maka Ho ditolak, Ha diterima, artinya variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel independen secara parsial.

II. H0 : βi

Artinya Corporate Social Responsibility secara signifikan mampu memoderasi pengaruh kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modalberpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan terbuka periode tahun 2012-2016.

= 0

Ha : βi

Artinya Corporate Social Responsibility secara signifikan mampu memoderasi pengaruh kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan terbuka periode tahun 2012-2016.

≠ 0

Dimana i = X1*Z, X2*Z, X3*Z

Kriteria pengambilan keputusan uji signifikansi parsial (uji t) yaitu:

1. Nilai Sig > 0.05, maka Ho diterima, Ha ditolak, artinya variabel Corporate Social Responsibility, secara tidak signifikan mampu memoderasi pengaruh kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan secara parsial.

2. Nilai Sig < 0.05, maka Ho ditolak, Ha diterima, artinya variabel Corporate Social Responsibility secara signifikan mampu memoderasi pengaruh kebijakan dividen, ukuran perusahaan dan struktur modal berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan secara parsial.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia (BEI)

Bursa Efek Indonesia adalah salah satu bursa saham yang dapat memberikan peluang investasi dan sumber pembiayaan dalam upaya mendukung pembangunan Ekonomi Nasional. Bursa Efek Indonesia berperan dalam upaya mengembangkan pemodal lokal yang besar dan solid untuk menciptakan Pasar Modal Indonesia yang stabil.Bursa Efek Indonesia berawal dari berdirinya Bursa Efek di Batavia, yang dikenal sebagai Jakarta saat ini, oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 Desember 1912. Sekuritas yang diperdagangkan adalah saham dan obligasi perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan sekuritas lainnya.

Perkembangan Bursa Efek di Batavia sangat pesat sehingga mendorong pemerintah Belanda membuka Bursa Efek Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Bursa Efek Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Kedua bursa ini kemudian ditutup karena terjadinya gejolak politik di Eropa awal tahun 1939. Bursa Efek di Jakarta pun akhirnya ditutup juga akibat terjadinya perang dunia ke dua tahun 1942, sekaligus menandai berakhirnya aktivitas pasar modal di Indonesia.Pasar Modal di Indonesia kembali digiatkandengan dibukanya kembali Bursa Efek di Jakarta pada tanggal 3 Juni 1952. Pada tahun 1958 kegiatan Bursa Efek di Jakarta kembali dihentikan karena adanya inflasi dan resesi ekonomi. Hal

ini tak berlangsung lama sebab Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali dan akhirnya mengalami kebangkitan pada tahun 1970. Kebangkitan ini disertai dengan dibentuknya Tim Uang dan Pasar Modal, disusul tahun 1976 berdirinya BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal) serta berdirinya perusahaan dan investasi PT Danareksa. Kebangkitan ini didukung dengan diresmikannya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Jakarta oleh Presiden Soeharto tahun 1977.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan Paket Deregulasi Desember 1987 dan Desember 1988 tentang diperbolehkannya swastanisasi Bursa Efek.

PaketDeregulasi ini kemudian mendorong Bursa Efek Jakarta berubah menjadi PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 13 Juli 1992. Pada tahun ini juga BAPEPAM yang awalnya Badan Pelaksana Pasar Modal berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Bursa Efek Jakarta berkembang dengan pesat sehingga kegiatannya semakin ramai dan kompleks. Hal ini menyebabkan sistem perdagangan manual yang selama ini dilakukan di Bursa Efek Jakarta tidak lagi memadai.

Pada tanggal 22 Mei 1995 diterapkanlah suatu sistem otomatis yang dinamakan JATS (Jakarta Automatic Trading System). Sistem yang baru ini dapat memfasilitasi perdagangan saham dengan frekuensi lebih besar dan lebih menjamin kegiatan pasar yang adil dan transparan dibanding dengan sistem perdagangan manual.Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) kemudian bergabung dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007. Penggabungan kedua bursa ini diharapkan dapat menciptakan kondisi perekonomian Indonesia yang lebih baik. Semua perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) diklasifikasikan kedalam 9

sektor BEI. Ke-9 sektor BEI tersebut didasarkan pada klasifikasi industri yang ditetapkan oleh BEI yang disebut JASICA (Jakarta Stock Exchange Industrial Classification).

1. Sektor Utama : Sumber Daya Alam I. Sektor Pertanian

a. Sub sektor Tanaman Pangan b. Sub sektor Perkebunan c. Sub sektor Peternakan d. Sub sektor Perikanan e. Sub sektor Kehutanan II. Sektor Pertambangan

a. Sub sektor Pertambangan Batubara

b. Sub sektor Pertambangan Minyak & Gas Bumi c. Sub sektor Pertambangan Logam dan Mineral lainnya d. Sub sektor Pertambangan Batu-batuan

2. Sektor Manufaktur

I. Sektor Industri Dasar dan Kimia a. Sub sektor Semen

b. Sub sektor Keramik, Porselen & Kaca c. Sub sektor Logam & Sejenisnya d. Sub sektor Kimia

e. Sub sektor Plastik & Kemasan f. Sub sektor Pakan Ternak

g. Sub sektor Kayu & Pengolahannya h. Sub sektor Pulp & Kertas

II. Sektor Aneka Industri

a. Sub sektor Mesin & Alat Berat

b. Sub sektor Otomotif & Komponennya c. Sub sektor Tekstil & Garmen

d. Sub sektor Alas Kaki e. Sub sektor Kabel f. Sub sektor Elektronik

III. Sektor Industri Barang Konsumsi a. Sub sektor Makanan & Minuman b. Sub sektor Rokok

c. Sub sektor Farmasi

d. Sub sektor Kosmetik & Barang Keperluan Rumah Tangga e. Sub sektor Peralatan Rumah Tangga

3. Sektor Jasa

I. Sektor Properti, Real Estat dan Konstruksi Bangunan a. Sub sektor Properti & Real Estat

b. Sub sektor Konstruksi Bangunan II. Sektor Infrastruktur, utilitas & transportasi

a. Sub sektor Energi

b. Sub sektor Jalan Tol, Pelabuhan, Bandara & Sejenisnya c. Sub sektor Telekomunikasi

d. Sub sektor Transportasi

e. Sub sektor Konstruksi Non Bangunan III. Sektor Keuangan

a. Sub sektor Bank

b. Sub sektor Lembaga Pembiayaan c. Sub sektor Perusahaan Efek d. Sub sektor Asuransi

IV. Sektor Perdagangan, Jasa dan Investasi a. Sub sektor Perdagangan Besar b. Sub sektor Perdagangan Eceran

c. Sub sektor Restoran, Hotel & Pariwisata d. Sub sektor Advertising, Printing & Media e. Sub sektor Kesehatan

f. Sub sektor Jasa Komputer & Perangkatnya g. Sub sektor Perusahaan Investasi

4.1.2 Gambaran Umum Sampel Perusahaan Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Penyelenggaraan kegiatan pertambangan dan energi telah mengalami perjalanan yang panjang sejak sebelum merdeka, dalam masa kemerdekaan, dan hingga mencapai keadaan sekarang ini. Pada awal kemerdekaan, kegiatan pengelolaan pertambangan dan energi menghadapi berbagai kesulitan dan tidak banyak yang dapat diperbuat di bidang usaha ini.

Adapun sejarah singkat dari perusahan pertambangan adalah sebagai berikut:

1. PT. Adaro Energy Tbk

Adaro Energy adalah perusahaan energi yang terintegrasi secara vertikal di Indonesia. Adaro Energy bertujuan untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan dari batubara Indonesia serta menyediakan energi yang dapat diandalkan untuk pembangunan Indonesia. Lokasi utama tambang Adaro Energy terletak di Kalimantan Selatan, tempat ditambangnya Envirocoal, batubara termal dengan kadar polutan yang rendah, dan Adaro Energy memiliki anak-anak perusahaan di sepanjang rantai pasokan batubara, mulai dari pertambangan, pengangkutan batubara, pemuatan batubara, pemeliharaan alur sungai, pelabuhan, pemasaran, sampai ketenagalistrikan.

2. PT Elnusa Tbk

PT Elnusa Tbk pertama kali didirikan dengan nama PT Electronika Nusantara berdasarkan Akta Pendirian Nomor 18 tanggal 25 Januari 1969.

Perseroan mulai menjajaki peluang bisnis di industri migas dengan membentuk Divisi Seismic Data Processing. Perseroan melanjutkan ekspansi bisnis ke bidang pengelolaan dan penyimpanan data migas, oilfield services serta bisnis distribusi bahan bakar domestik melalui pendirian PT Sigma Cipta Utama, PT Elnusa Workover Hydraulic dan PT Elnusa Petrofin. Pada tahun 1984 nama Perseroan PT Electronika Nusantara berubah menjadi PT Elnusa. Agar lebih focus sebagai penyedia Jasa Hulu Migas Terintegrasi, Perseroan menggabungkan empat anak perusahaan, yaitu:PT. Elnusa Geosains,PT. Elnusa DrillingServices,PT. Sinar Riau Drillindo, serta PT. Elnusa Workover Services.

3. PT. Medco Energy Internassional Tbk

PT. Medco Energy Internassional Tbk didirikan dengan nama PT. Meta

Epsi Pribumi Drilling Company di tahun 1980. Penawaran saham perdana Perseroan di Bursa Efek Jakarta dilakukan di tahun 1994. Mengakuisisi PT Stanvac Indonesia dari Exxon/Mobil di tahun 1995. Penemuan lapangan minyak dengan cadangan yang besar di Kaji dan Semoga, Blok Rimau, Sumatera Selatan di tahun 1996.

4. PT Golden Energy Mines Tbk

PT Golden Energy Mines Tbk bergerak di bidang perdagangan hasil tambang dan jasa pertambangan. Pada tanggal 13 Maret 1997 Perseroan didirikan dengan nama PT Bumi Kencana Eka Sakti yang kemudian berubah nama menjadi PT Golden Energy Mines Tbk pada tanggal 16 November 2010. Bidang usaha Bergerak di bidang pertambangan melalui Anak Perusahaan dan perdagangan batubara PT Golden Energy Mines Tbk beralamat di Sinar Mas Land Plaza Tower II 6th floor Jl. MH Thamrin No. 51 Jakarta Pusat 10350, Indonesia. Pada tanggal 17 November 2011, Perseroan menjadi perusahaan publik dan tercatat di papan utama BEI. Melalui Penawaran Umum Saham Perdana (“IPO”) tersebut, Perseroan memperoleh dana sebesar Rp 2,205 triliun.

5. PT. Indo Tambang Raya megah Tbk

PT. Indo Tambang Raya megah Tbk merupakan perusahaan produsen batubara Indonesia terkemuka untuk pasar energi dunia. Berdasarkan Akta No. 30 tertanggal 11 Mei 2009 dan Akta No. 24 tertanggal 14 Agustus 2009, dibuat di hadapan Notaris Popie Savitri Martosuhardjo Pharmanto, SH, sebagaimana telah disetujui oleh Surat Keputusan Menteri Hukum & HAM No. AHU-41810.

AH.01.02. Tahun 2009 tertanggal 27 Agustus 2009, maksud dan tujuan

Perusahaan adalah berusaha dalam bidang pertambangan, pembangunan, pengangkutan, perbengkelan, perdagangan, perindustrian dan jasa.

ITMG juga menguasai kepemilikan saham mayoritas di sepuluh anak perusahaan, dimana lima diantaranya mengoperasikan konsesi pertambangan batubara di Pulau Kalimantan, yang meliputi Provinsi Kalimantan Timur, Tengah, dan Selatan. ITMG juga memiliki dan mengoperasikan Terminal Batubara di Bontang, tiga fasilitas Pelabuhan Muat, dan satu Pembangkit Listrik . Kantor PT.

Indo Tambang Raya megah Tbk beralamat di Pondok Indah Office Tower III, 3rd

6. Perusahaan Mitra Investindo Tbk

Floor Jl. Sultan Iskandar Muda Jakarta 12310, Indonesia.

Perusahaan Mitra Investindo Tbkpertama kali didirikan oleh The (Phoa) Tje Min pada tanggal 16 September 1993dengan nama PT Minsuco International Finance. Memulai kegiatan usaha utama di industri jasa pembiayaan (multi finance) pada tahun 1994. Setelah 3 tahun beroperasi, The (Phoa) Tje Min bekerjasama dengan mitra bisnisnya,PT Maharani Paramita melaksanakan penawaran umum saham perdana disertai pencatatanseluruh saham-saham Perseroan (Company Listing) pada PT Bursa Efek Jakarta dan PT BursaEfek Surabaya. Jumlah saham yang dicatatkan seluruhnya 120.000.000 saham dengan hargapenawaran Rp 600 per saham. Nama Perseroan berubah menjadi PT Maharani IntifinanceTbk. dengan kode perdagangan yang hingga kini dikenal dengan nama MITI.

7. PT. Petrosea Tbk.

PT. Petrosea Tbk. merupakan perusahaan multi disiplin yang bergerak

dibidang pertambangen, infrastruktur, minyak dan gas yang telah berpengalaman luas di Indonesia sejak tahun 1972. Keunggulannya adalah pada kemampuan untuk menyediakan jasa pertambangan terpadu pit-to-port. PT. Petrosea Tbk juga menyediakan jasa untuk industri minyak dan gas bumidi Tanjung Batu, Kalimantan Selatand.an Sorong, PapuaBarat yang secara consisten memberikan pelayanan berstandar internasional. Petrosea telah tercatat di Bursa efek Indonesia sejak tahun 1990 dan merupakan perusahaan terbuka pertama dibidaang rekayasa dan kontruksi di Indonesia.

8. Resource Alam Indonesia Tbk

Resource Alam Indonesia Tbk (dahulu Kurnia Kapuas Utama Tbk) didirikan tanggal 08 Juli 1981 dengan nama PT Kurnia Kapuas Utama Glue Industries dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1983. Kantor pusat KKGI berdomisili di Gedung Bumi Raya Utama, Jl. Pembangunan I No. 3, Jakarta dan pabrik berlokasi di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dengan di Pontianak, Kalimantan Barat serta Palembang, Sumatra Selatan.Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan KKGI adalah menjalankan usaha dibidang pertambangan, perhutanan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, perindustrian, pengangkutan dan perdagangan umum.

Pada tahun 2003, perusahaan tersebut merubah namanya menjadi PT Resource Alam indonesia Tbk dan memulai mengembangkan bisnisnya dalam bisnis pertambangan batu bara. Dengan ini, perusahaan ini mulai mengoperasikan 3 tambangnya, yakni Simpang Pasir, Gunung Pinang dan Bayur sejak tahun 2006.Karena lebih memfokuskan dalam industri batu bara membuat perusahaan ini

memutuskan untuk mengklasifikasikan perusahaan dari kimia menjadi pertambangan batu bara pada tahun 2008.

PT Resource Alam Indonesia juga telah menerima beberapa penghargaan yang diraih pada tahun 2012, seperti Best of the Best dalam kategori "Companies Under a Billion" untuk perusahaan Asia Pasifik dan Top 50 Indonesian Companies dari The Forbes serta Enviromental Mining Award oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) "Pratama Pengelolaan Lingkungan Pertambangan".

9. Radiant Utama Interinsco Tbk

Radiant Utama Interinsco Tbk didirikan 22 Agustus 1984 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1984. Kantor pusat RUIS berlokasi di Jalan Kapten Tendean No. 24, Mampang Prapatan, Jakarta.Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Radiant Utama Interinsco Tbk, antara lain:

Haiyanto (27,53%), PT Radiant Nusa Investama (pengendali) (22,64%) dan Nexgram Emerging Capital Ltd (17,28%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan RUIS terutama bergerak di bidang pertambangan minyak dan penyedia jasa penunjang untuk industri migas (minyak dan gas) dari hulu sampai hilir seperti:

jasa konstruksi, operasional dan pemeliharaan; jasa lepas pantai; jasa pengujian tak rusak; jasa inspeksi dan sertifikasi dan jasa penunjang lainnyaPada tanggal 30 Juni 2006, RUIS memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham RUIS (IPO) kepada masyarakat sebanyak 170.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp250,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek

Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Juli 2006

10. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk

Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbkatau dikenal dengan nama Bukit Asam (Persero) Tbk didirikan tanggal 02 Maret 1981. Kantor pusat Bukit Asam berlokasi di Jl. Parigi No. 1 Tanjung Enim 31716, Sumatera Selatan dan kantor korespondensi terletak di Menara Kadin Indonesia Lt. 9 &15.Jln. H.R.

Rasuna Said X-5, Kav. 2-3, Jakarta 12950. Ruang lingkup kegiatan PTBA adalah bergerak dalam bidang industri tambang batubara, meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas dermaga khusus batubara baik untuk keperluan sendiri maupun pihak lain, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap baik untuk keperluan sendiri ataupun pihak lain dan memberikan jasa-jasa konsultasi dan rekayasa dalam bidang yang ada hubungannya dengan industri pertambangan batubara beserta hasil olahannya.

11. PT. Timah Tbk

PT. Timah (PERSERO) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan timah terintegrasi mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, peleburan dan hilirisasi hingga pemasaran dan pengolahan. Perseroan mewarisi sejarah panjang usaha penambangan timah di Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari 200 tahun.

Perseroan beserta entitas anak bergerak dalam bidang pertambangan, perindustrian, perdagangan, pengangkutan, dan jasa yang berkaitan dengan bidang usaha pertambangan, serta bidang usaha berbasis kompetensi seperti sektor

konstruksi, properti, jasa pelayanan rumah sakit dan usaha agro industri.

Perseroan berdomisili di Pangkalpinang, Bangka Belitung dan berlokasi di Jl.

Jenderal Sudirman No. 51 Pangkalpinang, Bangka Belitung.

12. PT. Vale Tbk

PT Vale Tbk mempunyai sejarah yng membanggakan di Indonesia. PT vale didirikan pada bulan Juli 1968. Kemudian di tahun tersebut PT Vale dan pemerintah Indonesia menandatangani kontrak karya yang merupakan lisensi dari Pemerintah Indonesia untuk melakukan eksplorassi, penambangan dan pengolahan bijih nikel. Sejak saat itu PT Vale memulai membangun smelter di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

13. PT Toba Bara Sejahtra Tbk (Perseroan)

PT Toba Bara Sejahtra Tbk (Perseroan) Beroperasi sejak 2007, (Perseroan) awalnya didirikan dengan nama PT Buana Persada Gemilang berdasarkan Akta No. 1 tanggal 3 Agustus 2007 yang disahkan di hadapan Notaris Tintin Surtini, S.H., M.H, M.Kn, sebagai pengganti Surjadi SH, Notaris di Jakarta.

PT Buana Persada Gemilang berubah nama menjadi PT Toba Bara Sejahtra berdasarkan Akta No. 173 tanggal 22 Juli 2010 di hadapan notaris Jimmy Tanal, S.H., yang menggantikan Hasbullah Abdul Rasyid, S.H., M. Kn, Notaris di

PT Buana Persada Gemilang berubah nama menjadi PT Toba Bara Sejahtra berdasarkan Akta No. 173 tanggal 22 Juli 2010 di hadapan notaris Jimmy Tanal, S.H., yang menggantikan Hasbullah Abdul Rasyid, S.H., M. Kn, Notaris di

Dalam dokumen TESIS OLEH ANGGERIANI (Halaman 84-0)