• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Latar Belakang Masalah

Dizaman era modern sekarang ini, telah banyak berkembang bisnis jajanan pasar khususnya yang berada di wilayah Medan. Berbagai macam rasa, bentuk, juga tampilan jajanan pasar itu semuanya mencoba untuk meraih perhatian calon konsumen sehingga calon konsumen merasa tertarik dan timbul rasa ingin tahu. Semakin banyaknya bisnis jajanan pasar saat ini, maka persaingannya semakin ketat pula. Semakin ketatnya persaingan dalam dunia usaha, akan menuntut kualitas produk setiap perusahaan, dan juga menuntut perusahaan untuk mengambil langkah-langkah serta strategi yang jitu guna memenangkan persaingan dengan kompetitor demi menjaga eksistensi yang dimiliki, juga tentunya mempertahankan bahkan meningkatkan keuntungan atau profit yang dihasilkan.

Langkah serta strategi yang jitu tersebut bisa dari atribut produk, harga, ataupun citra merek. Dengan atribut produk, harga, dan citra merek yang terus dikembangkan guna menciptakan keunggulan kompetitif persaingan dalam industri tentu semakin ketat, hal ini membuat calon dan para konsumen dapat lebih memilih produk yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya. Produk jajanan pasar yang kerap dijumpai adalah olahan ayam. Salah satu bisnis jajanan pasar yang olahannya dari ayam adalah Chicken Holic. Chicken Holic adalah

jajanan yang diambil dari dada ayam pilihan yang berkualitas serta diolah secara higienis dan digoreng dengan racikan bumbu.

Jajanan yang berasal dari kota Medan oleh Lovely Christan dan Dony Chandra itu berdiri sejak November 2004, sebagian besar dipusat perbelanjaan modern di Sumatera Utara, sisanya di pusat keramaian seperti di sekolah favorit atau di kawasan perumahan dan di tahun 2016 ini telah melebarkan sayapnya ke Pekanbaru sebagai wilayah pertama Chicken Holic diluar pulau Sumatera. Pemilik bisnis Chicken Holic telah mendapatkan penghargaan Young & Rise

Entrepreneur untuk kategori Merek Kuliner Lokal dari Himpunan Pengusaha

Muda Indonesia (HIPMI) Medan dan Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan, karena dianggap telah berpartisipasi membantu mengembangkan dunia usaha di kota Medan.

Alasan utama dalam memilih bahan baku ayam adalah karena mudah diperoleh, tidak tergantung pada musim, selalu tersedia dan juga merupakan olahan yang sampai saat ini masih menjadi favorit di kalangan anak-anak dan remaja. Produk Chicken Holic saat ini telah dikenal banyak orang yang sebenarnya untuk memperoleh hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena diawal usaha orang tua melarang mereka untuk berbisnis kuliner sebab tidak adanya kemampuan dan pengalaman dalam bisnis tersebut, akan tetapi karena tekat yang bulat mereka yakin akan dapat melakukannya, juga karena racikan bumbu dari sang Ibu dan bantuan dari teman, nama produk Chicken Holic masih harum sampai saat ini. Pemberian nama Chicken Holic itu alasannya

adalah karena berbahan dasar ayam dan nama Holic terinspirasi dari fans-fans artis yang mencomot kata holic sebagai orang yang sangat fanatic.

Produk (product) menurut Kotler (2009) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen tentunya memiliki atribut produk. Atribut produk pada dasarnya merupakan keunggulan dan keunikan yang dimiliki oleh produk dan merupakan pembeda antara produk sejenis yang ditawarkan oleh perusahaan dengan perusahaan lainnya. Menurut Tjiptono (2007) atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Kemudian menurut Kotler dan Amstrong (2003) atribut produk adalah pengembangan suatu produk atau jasa yang melibatkan penentuan manfaat yang akan diberikan. Atribut dapat dipandang secara obyektif (fisik produk) maupun secara subyektif (pandangan konsumen).

Perbedaan produk Chicken Holic dari para pesaingnya yaitu dari varian rasanya yang bermacam-macam, kemudahan dalam menikmati sajiannya, tekstur yang lebih tipis jadi akan lebih crunchy (renyah). Chicken Holic berslogan “Rajanya Ayam” bersimbolkan ayam jago berjambul dengan warna merah dan putih mempunyai varian rasa yang terdiri dari rasa madu, BBQ, ayam bawang, ayam panggang, seaweed, pizza, keju, mayonnaise dengan level kepedasan :

super spicy, extra spicy, spicy, no spicy. Menu terbaru di tahun 2016 adalah Big Bite Holic Mozarella Cheese yang membuktikan bahwa Chicken Holic terus

berinovasi. Pada produk Chicken Holic ini dikemas dengan kotak mini yang

simple sehingga mudah dibawa kemana-mana, seperti sedang menyantap popcorn.

Akan tetapi, karena penyajian Chicken Holic tersebut langsung dimasak disaat itu juga, maka kemasan yang terbuat dari kertas tersebut akan menjadi cepat lembek dan mudah robek karena Chicken Holic yang masih panas. Hal ini tentunya tidak diinginkan para pelanggan.

Harga juga merupakan salah satu faktor konsumen untuk menentukan keputusan pembelian pada produk. Harini (2008) berpendapat harga merupakan nilai uang yang seseorang butuhkan untuk memperoleh sejumlah produk dan pelayanan. Pengaruh harga terhadap keputusan pembelian sangatlah penting, kerena dengan tingkat harga yang ditetapkan oleh perusahaan dapat menjadi tolak ukur akan permintaan suatu produk. Penetapan harga yang salah atas suatu produk, akan mengakibatkan jumlah penjualan pada suatu produk yang akibatnya penjualan menurun dan pangsa pasarnya berkurang. Oleh sebab itu, dalam penetapan harga, perusahaan harus dapat menentukan harga penjualan sesuai dengan pangsa pasar yang dituju agar penjualan produk dan pangsa pasar semakin meningkat.

Harga Chicken Holic lebih terjangkau dibanding kompetitornya seperti Shihlin, dan Hot Star Large Fried Chicken. Keputusan penetapan harga, haruslah berorientasi pada pembeli. Ketika konsumen membeli suatu produk, mereka menukar suatu nilai (harga) untuk mendapatkan suatu nilai lain (manfaat karena memiliki atau menggunakan produk). Jika pelanggan menganggap bahwa harga lebih tinggi dari nilai produk, maka tidak akan membeli produk. Jika konsumen

menganggap harga berada dibawah nilai produk, maka akan membeli produk tersebut. Beratnya Chicken Holic tidak diketahui oleh calon maupun konsumennya, yang membuat calon maupun konsumen terkadang merasa harga produk Chicken Holic lebih mahal dengan kuantitas/jumlah Chicken Holic yang diberikan.

Selain dari sisi Atribut Produk dan Harga, keputusan pembelian produk

Chicken Holic juga tidak terlepas dari faktor brand image (citra merek) dari

produk tersebut. Dimana menurut Ginting (2011:99) mendefinisikan merek adalah suatu nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi daripadanya untuk menandai produk atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari pesaing. Sedangkan, menurut Jefkin (2005:114) citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya. Jadi, brand image / citra merek merupakan gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara positif.

Semakin baik Citra Merek (Brand image) yang melekat pada produk tersebut maka konsumen akan semakin tertarik untuk membeli, karena konsumen beranggapan bahwa suatu produk dengan citra merek yang sudah terpercaya lebih memberikan rasa aman ketika konsumen itu menggunakan produk yang akan dibeli. Merek Chicken Holic ini walaupun masih berumur 12 tahun tetapi sudah dikenal banyak orang, khususnya yang tinggal di wilayah Sumatera. Dalam kurun

waktu 4 bulan, Chicken Holic sudah dapat membuka beberapa cabang bisnis. Salah satu cabangnya berlokasi di Taman Setia Budi Indah (Tasbih) 1 Medan, yang telah berjalan sejak bulan April tahun 2016. Sekarang ini, merupakan zamannya social media, dimana dengan social media tersebut dapat menaikkan citra diri si pengguna. Tidak jarang para konsumen lebih menyenangi tempat pesaing yang berasal dari Negara Taiwan yang secara tidak langsung dapat menaikkan citra diri si konsumen.

Menurut Kotler dan Keller (2009), perilaku konsumen itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : faktor social, seperti kelompok acuan yaitu kelompok yang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap perilaku orang tersebut. Dari kelompok acuan tersebut, tidak jarang kalangan anak-anak maupun remaja menjadikannya faktor keputusan pembelian seperti pada jajanan pasar. Hal ini disebabkan, biasanya anak-anak maupun remaja membeli jajanan pasar karena dorongan dari teman-temannya, dan dapat pula karena adanya informasi mengenai produk. Selain faktor sosial ada pula faktor pribadi yang dapat berupa dorongan dari diri sendiri karena adanya rasa ingin tau terhadap suatu produk, juga daya tarik untuk mengikuti perkembangan zaman dan telah meningkatnya daya beli konsumen dizaman sekarang ini dalam hal kuliner.

Berdasarkan uraian dari permasalahan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul, Analisis Pengaruh Atribut Produk, Harga, dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Produk Chicken Holic pada Siswa/i SMP Swasta Islam Terpadu Al-Musabbihin, Medan.