• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen Oleh : Muhammad Ade Tri Syah Putra (Halaman 13-19)

Seperti yang telah dikatakan dalam berbagai warta berita acara, pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum secara resmi pada tanggal 8 Juli 2018 ditetapkan oleh KPU Jawa Barat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat untuk periode 2018-2023. Pengesahan yang dilakukan di Aula Setya Permana, yaitu Kantor dari KPU Jawa Barat itu sendiri dibacakan dalam Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Tingkat Provinsi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018 oleh Teppy Darmawan selaku Kabag Hukum, Teknis, dan Hubungan Partisipasi Masyarakat KPU Jawa Barat.1

Pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum berhasil mendapatkan perolehan suara sah sebanyak 7.226.254 suara (32,88%) dengan unggul di beberapa kawasan seperti, Kabupaten Tasikmalaya (363.470 suara), Kabupaten Sumedang (253.744 suara), Kabupaten Kuningan (180.231 suara), Kota Cirebon (56.676 suara), Kota Cimahi (135.268 suara), Kota Banjar (37.766 suara), Kota Bandung (656.090 suara), Kabupaten Indramayu (309.230 suara), Kabupaten Garut (435.652 suara), Kabupaten Cirebon (306.712 suara), Kabupaten Cianjur

1 Rochmanudin dalam Idntimes.com, “KPU Tetapkan Pemenang Pilgub Jabar 2018 Paslon Rindu”, dalam https://www.idntimes.com/news/indonesia/amp/rochmanudin-wijaya/kpu-tetapkan-pemenang-pilgub-jabar-2018-paslon-rindu diakses pada tanggal 1 November 2018.

2

(338.346 suara), Kabupaten Ciamis (251.287 suara), Kabupaten Bandung Barat (350.243 suara), Kabupaten Bandung (743.156 suara).2

Bila melihat sejarah dari beberapa Gubernur Jawa Barat yang lalu, Ridwan Kamil merupakan Gubernur pertama non-partisipan yang memimpin Provinsi Jawa Barat. Terhitung pasca reformasi sampai sekarang (1998-2008), Gubernur Jawa Barat selalu dipimpin dari kalangan partai politik, seperti misalnya Gubernur Jawa Barat yang sebelumnya yaitu Ahmad Heryawan yang merupakan kader PKS yang memimpin Provinsi Jabar selama 2 periode.3 Padahal apabila kita melihat peta persaingan partai politik Jabar pada Pilgub Jabar 2018 ini, Ridwan Kamil memiliki beberapa pesaing yang bisa dibilang sangat diperhitungkan elektabilitas maupun kapabilitasnya di Provinsi Jabar.

Pertama, dari pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu yang mendapatkan dukungan 27 kursi legislatif DPRD Jabar yang terdiri dari Gerindra (11 kursi), PKS (12 kursi), PAN (4 kursi). Kedua, dari pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang mendapatkan dukungan 29 kursi legislatif DPRD Jabar yang terdiri dari Golkar (17 kursi), dan Demokrat (12 kursi). Ketiga, dari pasangan TB Hasanudin – Anton Charliyan yang mendapatkan dukungan 20 kursi legislatif DPRD Jabar yang diusung oleh PDIP. PDIP mungkin tidak berkoalisi dengan

2 Mukhlis Dinillah dalam Detik.com, “Menang di Pilgub Jabar, Ridwan Kamil-Uu Kuasai 14 Daerah”, dalam https://m.detik.com/news/berita-jawa-barat/d-4105482/menang-di-pilgub-jabar-ridwan-kamil-uu-kuasai-14-daerah diakses pada tanggal 6 November 2018.

3 Ani Nursalikah dalam republika.co.id, “Gubernur Jawa Barat dari masa ke masa”, dalam https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/09/06/pelgiy366-gubernur-jawa-barat-dari-masa-ke-masa diakses pada tanggal 31 Juli 2019.

3

partai politik manapun dalam Pilgub Jabar 2018 ini, akan tetapi perlu diingat PDIP merupakan pemenang dalam Pileg 2014 untuk wilayah Jabar.4

Melihat peta persaingan tersebut, tentu bukanlah hal mudah bagi pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dalam memenangkan kontestasi politik di Pilgub Jabar 2018 ini, mengingat Ridwan Kamil yang merupakan gubernur non-partisipan pertama di Jabar dan pasangannya Uu Ruzhanul Ulum yang merupakan kader PPP yang notabene bukan merupakan partai besar di Provinsi Jabar.

Lantas yang membuat permasalahan di atas menjadi penting untuk dibahas, adalah dikarenakan pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum ini unggul perolehan suara untuk wilayah Kabupaten Sumedang. Padahal apabila melihat jumlah dukungan kursi DPRD Kabupaten Sumedang itu sendiri, pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum ini hanya mendapatkan dukungan sebanyak 7 kursi dengan komposisi PPP (5 kursi), PKB (2 kursi), dan Nasdem (0 kursi). Bila dibandingkan dengan 3 pasangan lainnya, jumlah ini terbilang sangat kecil.

Perbandingan tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Gambar 1. Tabel Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Sumedang Periode

Fraksi

2009-2014 2014-2019

Demokrat 6 kursi 4 kursi

Golkar 10 kursi 10 kursi

PKS 6 kursi 6 kursi

4 Herzaky Mahendra Putra dalam kompas.com, “Menakar Peta Politik Pilkada Jabar 2018”, dalam https:// regional.kompas.com/read/2018/01/02/07070011/menakar-peta-politik-pilkada-jabar-2018?Page= all diakses pada tanggal 1 November 2018.

4

PDIP 13 kursi 12 kursi

PAN 3 kursi 3 kursi

PPP 6 kursi 5 kursi

PKB 1 kursi 2 kursi

Hanura 2 kursi 1 kursi

Gerindra 1 kursi 6 kursi

PDS 0 0

PBB 2 kursi 1 kursi

PKPB 0 0

Nasdem 0 0

Jumlah 50 kursi 50 kursi

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com Hal ini menjadi pertanyaan besar apabila kita melihat tabel di atas, pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum hanya mendapatkan dukungan yang terbilang sedikit bila dibandingkan dengan 3 pasangan calon lainnya, sehingga disini peneliti dapat menduga adanya peran yang cukup signifikan dari public relations politik yang diterapkan oleh partai politik pengusung yakni, PPP, PKB, dan Nasdem dalam menaikkan citra politik pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum di wilayah Kabupaten Sumedang.

Romy Frohlich memaknai public relations politik sebagai sebuah pekerjaan atau aktivitas pelayanan kepada publik dengan mengusung beberapa isu yang dapat menarik perhatian khalayak untuk memperoleh simpati maupun dukungan

5

terhadap pihak tertentu.5 Secara tidak langsung, dalam penerapannya public relations politik memerlukan perencanaan yang telah tersusun secara sistematis, terencana, dan terarah yang mana hal ini melibatkan pihak internal dan eksternal agar nantinya dapat memperoleh kesepemahaman pemikiran.

Bila melihat pernyataan di atas, Romy Frohlich ingin menjelaskan bahwasanya public relations politik ini memerlukan sebuah wadah yang dapat menampung hasil dari apa yang telah dikerjakannya. Di sini, partai politik lantas hadir untuk memanfaatkan public relations politik itu sendiri, semata-mata dengan tujuan agar dapat memperoleh simpati serta dukungan yang mana hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya citra positif dari partai politik ataupun seseorang yang mewakili partai politik tertentu.

Dengan banyaknya partai politik baru yang bermunculan pada masa reformasi, membuat public relations politik ikut berkembang pesat yang juga pada saat itu menjadi ilmu terapan baru yang makin dilirik oleh berbagai kalangan akademisi, khususnya akademisi politik. Didukung oleh media massa, jasa konsultan dan taktik serta strategi komunikasi politik membuat public relations politik banyak diterapkan oleh pihak tertentu.6 Dengan demikian dapat dikatakan, sejak saat itu public relations politik dengan partai politik menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya public relations politik merupakan kegiatan komunikasi politik dua arah yang saling berkesinambungan serta menguntungkan kedua belah pihak yang mana kegiatan ini juga bertujuan

5 Heryanto & Zakarsy, Public Relations Politik, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2012), hal. 7.

6 Heryanto & Zakarsy, Public Relations Politik, hal. 6.

6

untuk menaikkan citra politik seseorang agar dapat memperoleh simpati dari khalayak.

Suksesnya Joko Widodo terpilih sebagai Presiden Indonesia saat ini dapat dikatakan sebagai salah satu contoh dari penerapan public relations politik yang telah didukung dengan perkembangan teknologi media massa dan juga sosial media yang memang akhir-akhir ini seringkali diakses oleh siapapun dari berbagai kalangan masyarakat. Sosok Joko Widodo yang tergambar sebagai sosok yang sederhana, merakyat, dan juga memiliki rekam jejak yang bagus merupakan hal yang wajar kalau karier politik Joko Widodo dapat meningkat sangat pesat.

Penelitian ini menjadi menarik untuk diteliti, karena peneliti menemukan beberapa data dan fakta yang menarik untuk dibahas. Pertama, Ridwan Kamil merupakan Calon Gubernur pertama yang berkontestasi dalam Pilgub Jabar yang berasal dari non-partisipan. Kedua, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum memiliki jumlah dukungan partai politik koalisi yang kecil di DPRD Sumedang bila dibandingkan dengan pesaing lainnya dan juga bila dibandingkan dengan periode sebelumnya jumlah dukungan partai politik koalisi Ridwan Kamil tidak mendapatkan kenaikan yang signifikan dengan periode saat ini. Ketiga, Kabupaten Sumedang tidak memiliki basis partai politik yang jelas, karena berdasarkan 2 periode kemarin, PDIP selalu memenangi kontestasi politik legislatif di Kabupaten Sumedang akan tetapi tidak ada satupun dari Bupati maupun Gubernur yang didukung oleh PDIP memenangi kontestasi politik di Kabupaten Sumedang. Keempat, penelitian yang membahas tentang pemilihan

7

umum kepala daerah mungkin sudah banyak, akan tetapi yang mengaitkannya dengan teori public relations politik masih belum terlalu banyak pembahasannya.

Berdasarkan fakta dan beberapa data yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang bagaimana peran dari partai politik pengusung pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yakni, PPP, PKB, dan Nasdem dalam memanfaatkan public relations politik guna menaikkan citra pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dan memenangkan kontestasi pemilihan gubernur Jawa Barat tahun 2018 di wilayah Kabupaten Sumedang. Oleh karena itu, peneliti mengambil sebuah judul penelitian yakni, “PUBLIC RELATIONS POLITIK DAN PARTAI POLITIK (Studi atas Pemenangan Pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dalam Pemilihan Gubernur Provinsi Jawa Barat tahun 2018 di Kabupaten Sumedang)”.

Dalam dokumen Oleh : Muhammad Ade Tri Syah Putra (Halaman 13-19)