PROGRAM KERJA NAHDLATUL ULAMA MASA KHIDMAT 2017- 2020
1.1. LATAR BELAKANG
Program kerja Nahdlatul Ulama masa kerja 2017-2020 merupakan bagian yang tidak terpisah dari Program kerja Nahdlatul Ulama 2015-2020 yang merupakan hasil Muktamar Jombang. Program Kerja ini disusun berdasarkan tiga langkah utama, yaitu pertama, identifikasi program prioritas yang
diamanahkan Muktamar Jombang, penajaman program prioritas hasil Raker I PBNU di Acacia Hotel Jakarta dan hasil Raker II PBNU yang dilaksanakan di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta.
Kedua, pencapaian implementasi program prioritas oleh unit pelaksana program terkait pada periode tahun 2015 hingga pertengahan tahun 2017. Ketiga, identifikasi berbagai isu strategis dan hambatan/permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan
program baik pada aspek internal institusi maupun situasi kondisi eksternal unit pelaksana program.
Unit Pelaksana Program terdiri atas lembaga, banom maupun badan Badan Khusus yang dibentuk untuk melaksanakan program tertentu. Melalui Sidang Komisi Program pada Munas-Konbes NU Mataram, NTB 23-25 November 2017, materi program kerja dibahas dan mendapat pengesahan melalui Sidang Pleno pada tanggal 24 Nopember 2017. Program Kerja Nahdlatul Ulama masa khidmat 2017-2020 menjadi acuan untuk pelaksanaan program PBNU hingga akhir masa kepengurusan PBNU 2020.
Untuk penyusunan program kerja di atas dilakukan telaah dokumen atas dokumen terkait dengan Muktamar NU Jombang
2015, Raker I PBNU dan Raker II PBNU. Diskusi kelompok terarah untuk empat bidang prioritas, yakni bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan kaderisasi. Selain itu juga telah dilakukan workshop statuta, organisasi dan tata kelola perguruan
tinggi, madrasah/ sekolah, dan rumah sakit di Surabaya pada
3-4 November 2017. Kegiatan Pra-Munas juga diselenggarakan khusus terkait dengan kajian peran ulama NU dalam membangun peradaban damai dan toleran. Juga ditelaah dokumen yang terkait dengan MoU, laporan kegiatan pada tingkat Sekretariat PBNU, lembaga dan badan otonom, serta kegiatan badan-badan khusus yang dibentuk untuk kegiatan tertentu. Telaah dokumen diakukan terutama untuk melihat aspek pencapaian program, ruang lingkup kegiatan, sasaran, dan sumber pembiayaan. Di
samping itu diidentifikasi permasalahan dan hambatan yang
ditemui dalam pelaksanaan program.
Program kerja ini disusun secara sistematis sehingga mampu memberikan gambaran jelas tentang rencana program PBNU hingga 2020, pencapaian program 2015–bulan Juni 2017–, permasalahan dan aksi koreksi yang dibutuhkan sehingga program dapat diselesaikan dengan baik sampai akhir masa kepengurusan PBNU tahun 2020.
Draf program kerja telah dibahas melalui Sidang Komisi Program Munas-Konbes Mataram 2017 dengan terlebih dahulu dibahas di masing-masing pengurus wilayah, sehingga mendapat pendalaman terutama terkait aspek relevansi dan dampak program di tingkat wilayah dan cabang NU. Peserta Sidang Komisi Program juga mendapat pengalaman belajar dan model intervensi dari berbagai bidang, terutama pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan.
Program kerja ini dimulai dengan melakukan analisis stakeholder yang mencakup kebijakan eksternal dan internal PBNU yang mempengaruhi arah dan pelaksanaan program PBNU,
visi, misi, program dasar, pencapaian program, dan permasalahan umum serta rekomendasi bagi pelaksanaan program hingga tahun 2020. 1.2. ANALISIS STAKEHOLDERS
Analisis stakehoders dilihat dari dua aspek: eksternal dan internal. Perhatian diberikan pada aspek kebijakan atau perundang-undangan yang akan mempengaruhi situasi dan kondisi NU di masa datang.
Eksternal
Pemerintah pada tanggal 10 Juli 2017 mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang RI (Perppu) Nomor 2 tahun 2017 tentang perubahan atas undang-undang Nomor 17 tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan. Perppu ini sebagai sarana untuk mencegah meluasnya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945. PBNU sangat mendukung keluarnya Perppu tersebut. Pada 1 Agustus 2017 berdasarkan Perppu Nomor 2 tahun 2017 di atas, melalui SK Menhukham Nomor AHU 01.08. tahun 2017 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan karena dianggap bertentangan dengan Pancasila.
Pada 6 September 2017 keluar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Perpres ini menjadi hasil akhir dari kegigihan Ketum PBNU dan seluruh pengurus harian NU hingga di daerah untuk menolak kebijakan 5 hari sekolah yang dicanangkan Mendikbud melalui Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah yang jelas akan menggerus eksistensi ribuan madrasah diniyah di lingkungan NU.
UU RI Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan jaminan kesehatan. Sedangkan BPJS Ketenakerjaan memberikan jaminan kecelakaan kerja, hari tua, pension, dan kematian. Sistem jaminan sosial ini akan sangat berdampak pada masyarakat khususnya kaum Nahdliyin karena berada dalam strata masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sementara PBNU mengemban amanah agar kaum Nahdliyin mendapat manfaat maksimal atas keluarnya undang-undang terkait jaminan sosial ini. Di samping itu implementasi dari undang-undang ini juga akan berdampak pada pemberian pelayanan kesehatan baik pada tingkat pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama (klinik pratama) maupun rujukan (rumah sakit) di lingkungan NU. PBNU harus mengambil kesempatan atas keterbukaan peluang untuk menjadi pemberi pelayanan kesehatan. Tahun 2019 seluruh penduduk Indonesia diharapkan telah tercakup dalam BPJS (universal coverage) melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Internal
Pelaksanaan program-program NU sangat tergantung pada bekerjanya fungsi dan tugas pokok unit pelaksana program yang terdiri atas lembaga, badan otonom, dan panitia ad hoc
yang dibentuk sesuai kebutuhan. Pelaksanaan program ini harus mendapat dukungan penuh dari fungsi kesekretariatan dan mendapat arahan, pembinaan, koordinasi dari Ketua PBNU sesuai penugasan bidang masing-masing. Pelaksanaan program harus sejalan dan mengarah pada pencapaian dan target yang yang telah ditetapkan dalam Muktamar NU 2015 di Jombang. Perencanaan tahunan perlu dilakukan oleh setiap unit pelaksana program. Pelaksanaan program sangat membutuhkan adanya instrumen kendali manajemen berupa supervisi, monitoring, dan evaluasi. Mekanisme rapat harus berjalan dengan baik. Demikian juga sistem informasi, dokumentasi, dan sistem pelaporan sesuai kerangka waktu, tiga bulanan, semester, dan tahunan.