• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN POLITIK JAMAAH NU

Dalam dokumen Hasil Munas dan Konbes NU 2017 (Halaman 183-190)

PROGRAM KERJA NAHDLATUL ULAMA MASA KHIDMAT 2017- 2020

3. PROGRAM DASAR

3.4. PENDIDIKAN POLITIK JAMAAH NU

Terjadi perubahan sosial politik mendasar di masa reformasi. Telah terjadi amandemen UU Dasar 45. Muncul berbagai UU maupun kebijakan baru. Peran masyarakat sipil dalam proses pembangunan menjadi lebih penting. Sistem desentralisasi dengan kebijakan UU Nomor 22 tahun 1999 dan kemudian direvisi menjadi UU Nomor 32 tahun 2004 telah memberikan

kekuasaan besar pada pemerintahan daerah, kabupaten/kota.

Kebijakan tersebut memungkinkan terbukanya ruang baru bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan pengambilan keputusan kebijakan publik. Partisipasi masyarakat menjadi hak asasi manusia. Partisipasi di bidang politik bisa dilakukan dalam proses penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari. Dengan keterlibatan masyarakat UU dan kebijakan diharapkan lebih berorientasi pada kepentingan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, pro rakyat miskin, perempuan, dan kelompok marginal lainnya.

NU sebagai jamaah dan jamiyyah merupakan salah satu komponen bangsa yang senantiasa mendorong negara untuk memberikan perhatian dan pemihakan kepada kelompok masyarakat yang termarjinalkan, masyarakat tereksklusi, dan masyarakat miskin (al-mustadh’afin).

Hasil yang diharapkan

1. Tumbuhnya kesadaran jamaah NU tentang posisi NU

sebagai komponen bangsa pendiri dan pengawal NKRI, Pancasila, dan senantiasa mengawal, mengamankan negara dari ancaman kelompok radikal.

2. Tumbuhnya kesadaran pengurus maupun jamaah NU

tentang pentingnya terlibat dalam proses pembangunan, mulai dari proses perencanaan di tingkat desa serta pengawalan terhadap pelaksanaannya.

3. Tumbuhnya kesadaran pengurus maupun jamaah

NU untuk mengkritisi dan terlibat secara aktif dalam rancangan UU, kebijakan pembangunan di semua bidang, di tingkat nasional dan daerah. Perlu dijaga agar

UU/kebijakan mencerminkan keadilan, kesejahteraan

masyarakat, etika, moral, dan nilai dasar keaswajaan. 3.5. PELAYANAN KESEHATAN

Penyiapan SDM NU yang berkualitas mesti dilakukan sejak dini agar tercapai sehat jasmani, rohani, dan sosial. Pelayanan kesehatan menjamin keadaan setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang baik sehingga hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Indikator kesehatan suatu negara dapat dilihat dari sejumlah indikator yaitu: angka kematian bayi, balita, dan ibu melahirkan, harapan hidup, angka kesakitan, dan berbagai penyakit menular.

Penguatan SDM yang berkualitas di lingkungan NU melalui pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan melalui pelayanan kesehatan di tingkat desa, fasilitas rumah sakit, klinik maupun balai pengobatan. Untuk mempercepat pembangunan fasiltas pelayanan kesehatan di lingkungan NU yang masih terbatas, maka perlu diadakan badan khusus yang melakukan percepatan pendirian fasilitas kesehatan. Badan ini memiliki struktur organisasi di tingkat pusat, wilayah, dan cabang NU, bertanggung jawab langsung kepada PBNU.

Bentuk kelembagaannya terdiri dari badan pengurus dan pelaksana. Badan pengurus ditunjuk dan dingkat oleh PBNU dengan periode masa jabatan sama dengan PBNU. Badan pelaksana bekerja secara profesional yang ditetapkan oleh badan pengurus. Badan Penyelenggara Bidang Kesehatan Nahdlatul Ulama (BPBK-NU) akan melakukan standardisasi bidang

pengelolaan/manajemen, pelayanan kesehatan, peningkatan

kualitas tenaga medis, dan pengembangan pelayanan sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Hasil yang diharapkan

1. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan baik yang berbasis masyarakat, maupun pusat pelayanan kesehatan (RS, klinik, balai pengobatan, rumah bersalin).

2. Berdiri Badan Penyelenggara Bidang Kesehatan

Nahdlatul Ulama (BPBK NU), struktur organisasinya di tingkat pusat, wilayah, sampai tingkat cabang. Dewan pengurus di wilayah ditunjuk PWNU yang ditetapkan PBNU, di cabang ditunjuk PCNU yang ditetapkan PBNU.

3. Berdiri pusat-pusat pelayanan kesehatan di kota/

kabupaten/PCNU yang difasilitasi oleh BPBK NU.

dengan kebutuhan klien/pasien dan perkembangan ilmu

serta teknologi bidang kesehatan. 3.6. EKONOMI KERAKYATAN

Visi dan cita-cita NU tercapainya kesejahteraan dan rasa keadilan bagi jamaah NU melalui berbagai program yang dilaksanakan.

Jamaah NU terdiri atas berbagai profesi di antaranya pedagang (formal dan informal), pengusaha (di bidang jasa dan nonjasa), buruh (sektor formal dan informal di dalam dan di luar negeri), pegawai (negri dan swasta), konsultan, guru (swasta dan negeri), TNI, politisi, nelayan, dan petani.

Profesi sebagai petani merupakan bagian besar dari jamaah NU. Bagi generasi muda NU yang hidup di desa profesi sebagai petani tersebut cenderung ditinggalkan dan lebih memilih pergi ke kota untuk menekuni profesi yang baru sama sekali atau melanjutkan profesinya yang sewaktu di desa juga ditekuni yaitu sebagai tukang bangunan dan lain-lain. Masalahnya bagaimana NU bisa memberikan perhatian kepada para jamaah NU dengan profesinya masing-masing itu, mendorong meningkatkan taraf kesejahtaraan maupun rasa keadilan bagi jamaah NU? Berbagai

bidang/sektor yang bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mewujudkan kesejahteraan dan rasa keadilan warga/jamaah di

antaranya ialah bidang perekonomian, ketenagakerjaan, dan perlindungan hukum.

Orientasi pengembangan perekonomian NU melalui berbagai program aksi maupun advokasi ke depan hendaknya; pertama, bertumpu pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, melibatkan partisipasi pelaku ekonomi yaitu masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya. Kedua,

masyarakat. Ketiga, memihak kepada orang miskin, marjinal, dan mereka yang tereksklusi terstigma karena agama maupun kepercayaannya. Keempat, mendayagunakan sumber daya manusia yang ada secara optimal untuk menjawab melimpahnya tenaga kerja yang tidak bisa masuk dalam pasar kerja, tetapi tidak untuk mengeksploitasi. Kelima, tidak melakukan kerusakan lingkungan, serta tidak berlebih-lebihan memanfaatkan sumber daya alam dan menjaga keberlangsungannya. Keenam, mengantisipasi terjadinya

bonus demografi (2010-2035) dengan mendorong pihak-pihak pengambil kebijakan agar bonus demografi dimanfaatkan secara

optimal, bukan malah menjadi petaka buat bangsa ini. Ketujuh, menumbuhkan keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Perhatian pengembangan sektor pertanian dan perikanan

hendaknya menjadi utama karena secara demografis sebagian

besar jamaah NU berada di pedesaan, daerah terpencil, dan wilayah transmigrasi. Apalagi dengan diberlakukannya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Tanpa menyampingkan sektor ekonomi lain yang berkembang di perkotaan khususnya sektor

informal karena secara demografis telah terjadi migrasi penduduk dari desa ke kota secara signifikan yang di dalamnya banyak juga

jamaah NU.

Dari sisi pengelola maupun pelaku perekonomian di lingkungan NU mesti berpegang teguh pada prinsip dasar membangun manusia unggul atau “Mabadi Khaira Ummah” ( As-Shidqu/jujur, Al-Amanah wal Wafa bil Ahdi/amanah dan menepati

janji, Al-Adalah/bersikap adil, At-Ta‘awun/gotong royong dan

tolong menolong, Al-Istiqamah/konsisten).

Sudah saatnya NU memperkuat jejaring internal pelaku ekonomi kalangan jamaah NU berdasarkan domisili (antarkota, antarprovinsi, antarpulau) dan jenis usaha ekonomi yang dikembangkan, baik secara individu maupun berkelompok.

Jejaring tersebut dimaksudkan untuk saling memperkuat usaha masing-masing maupun secara bersama di bidang produksi, distribusi, pemasaran, permodalan, dan manajemen menuju terwujudnya perekonomian NU yang kuat dan mandiri.

Seluruh program perekonomian di lingkungan NU akan berjalan efektif dengan berdasarkan prinsip-prinsip sebagaimana yang disebut di atas jika didukung dengan kelembagaan yang kuat. Kelembagaan yang dimaksud ialah sebuah Badan Penyelenggara Perekonomian NU (BPP-NU) yang dibentuk untuk itu.

Hasil yang diharapkan

1. Terbentuknya Badan Penyelenggara Perekonomian NU

(BPP NU) yang berkedudukan di pusat dan memiliki

struktur organisasi sampai di tingkat Kab/kota/cabang

NU. Bertanggung jawab langsung kepada PBNU, bentuk kelembagaannya terdiri atas dewan pengurus dan dewan pelaksana (eksekutif). Dewan pengurus ditunjuk dan ditetapkan oleh PBNU dengan periode masa jabatan sesuai dengan PBNU. Dewan pelaksana (eksekutif) bekerja secara profesional yang direkrut dan ditetapkan oleh dewan pengurus. Dewan pengurus di wilayah ditunjuk PWNU dan ditetapkan PBNU, di tingkat cabang ditunjuk PCNU diangkat PBNU.

2. Tumbuhnya kesadaran dan praktik wiraswasta,

mengembangkan agroindustri, pertanian, perikanan, perkebunan bagi jamaah NU.

3. Jamaah NU dapat memanfaatkan fasilitas yang pemerintah dan swasta untuk meningkatkan usaha produktif kreatif, bekerja sama dengan kementerian tenaga kerja dalam mengoptimalkan pemanfaatan balai latihan kerja (BLK) dan, dengan perusahaan swasta untuk job training.

fasilitas permodalan bagi UKM melalui lembaga keuangan khusus atau unit kerja khusus di lembaga keuangan yang sudah ada bagi jamaah NU maupun masyarakat luas, untuk mewujudkan perekonomian yang kuat dan mandiri.

5. Terbentuk dan berfungsinya kelompok usah produktif

maupun UKM jamaah NU di tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten dalam bentuk koperasi maupun nonkoperasi dalam berbagai sektor perekonomian yang dikembangkan oleh jamaah NU sehingga bisa mengakses permodalan serta dukungan manajemen, dan capacity building dari Induk Koperasi NU (syirkah muawanah), dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok usaha produktif khususnya

dan warga/jamaah NU umumnya.

6. Terjadinya jejaring antarpelaku ekonomi di kalangan jamaah NU dalam wadah Perhimpunan Saudagar NU, baik berdasarkan domisili (antarkota, antarprovinsi, antarpulau) maupun jenis usaha ekonomi yang dikembangkan untuk saling memperkuat usaha masing-masing maupun secara bersama di bidang produksi, distribusi maupun pemasaran, permodalan dan manajemen menuju terwujudnya perekonomian NU yang kuat dan mandiri.

3.7. KETENAGAKERJAAN

Bagian yang masih belum mendapat perhatian yang optimal dari NU ialah SDM yang masuk dalam lapangan kerja sebagai buruh perusahaan swasta maupun BUMN, baik yang berada

di dalam maupun di luar negeri (tenaga kerja Indonesia/tenaga

kerja wanita) termasuk tenaga kerja di sektor informal sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Tenaga kerja di atas berasal dari desa mayoritas dari keluarga

jamaah NU. Para TKI/TKW/PRT bisa membantu tumbuhnya

jamaah NU belum sepenuhnya mendapatkan hak-haknya sebagai pekerja karena berbagai faktor baik internal perusahaan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapat perlakuan tidak adil.

Karena itu perhatian yang besar terhadap SDM NU yang berada dalam sektor ketenagakerjaan akan memberikan kontribusi terhadap perbaikan angka Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia.

Hasil yang diharapkan

1. Tumbuhnya pemahaman dan kesadaran para tenaga

kerja/buruh dari jamaah NU terhadap hak-haknya serta

kewajibannya di tempat kerja mereka masing-masing sehingga dapat memperjuangkan pemenuhan hak-hak mereka.

2. Terkonsolidasinya para tenaga kerja/buruh dari jamaah NU

yang tersebar di beberapa regional kawasan industri maupun pusat-pusat perusahaan pelayanan jasa baik yang di dalam maupun di luar negeri dalam satu wadah organisasi buruh yang dinaungi oleh Sarbumusi NU.

3. Berkembangnya organisasi buruh warga/jamaah NU dan

mampu memperjuangkan dan melindungi hak-hak sebagai buruh baik di sektor formal maupun informal baik mereka yang ada di dalam maupun luar negeri sesuai dengan aturan yang ada.

Dalam dokumen Hasil Munas dan Konbes NU 2017 (Halaman 183-190)