BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peran pendidikan pada abad-21 menjadi semakin penting dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki keterampilan berpikir, menggunakan teknologi dan media informasi (Mayasari et al., 2016). Selain itu abad-21 adalah abad pengetahuan, dimana setiap orang sangat mudah mendapatkan suatu informasi atau pengetahuan terbaru dengan cepat. Perubahan tersebut memicu Indonesia sebagai negara berkembang untuk terus meningkatkan sumber daya manusia melalui peningkatan pendidikan di setiap jenjang untuk bersaing dengan negara-negara lain (Wijaya et al., 2016).
Menurut OECD (2018) menyampaikan hasil studi PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018 Indonesia perlu meningkatkan kualitas pendidikan, sejalan dengan hal itu tercatat bahwa hasil studi PISA Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara dengan rata-rata skor kemampuan membaca 371, kemampuan matematika 379, dan kemampuan sains 396. Hasil tersebut masih tertinggal sangat jauh dibandingkan dengan rata-rata negara OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) yang memiliki rata-rata skor tinggi, tercatat pada kemampuan membaca mencapai 487, matematika mencapai 489, dan sains mencapai 489. Hasil studi tersebut menunjukkan rendahnya kemampuan membaca, matematika, dan sains dapat mempengaruhi keterampilan seseorang.
Menurut Pangestuti (2014) rendahnya minat membaca berdampak pada keterampilan berpikir kritis seseorang, karena membaca merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir. Aktivitas membaca memicu pengaktifan pikiran melalui rangkaian aktivitas mental yang sangat kompleks, selain itu dalam proses membaca seseorang mengalami proses berpikir untuk memahami ide dan gagasannya secara luas (divergen thinking).
Rendahnya keterampilan tersebut menjadi masalah bagi bangsa Indonesia dikarenakan persaingan pada abad-21 yang berjalan ketat dan tidak cukup jika
hanya menguasai ketiga kemampuan tersebut, sehingga seseorang harus mampu menguasai kemampuan-kemampuan yang lain.
Menurut Zubaidah (2016) pada abad ke-21 ditekankan menguasai tujuh kemampuan berikut: (1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) kolaborasi dan kepemimpinan, (3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi, (4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur, (5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis, (6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan (7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi, dengan hal ini perlu dikembangkan keterampilan belajar siswa baik di dalam atau luar kelas. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 3 (2020) tentang Standar Nasional Pendidikan Indonesia untuk meningkatkan keterampilan pada abad-21 harus diterapkan “The 6Cs” yaitu computational thinking, creativity, critical thinking, collaboration, communication,dan compassion.
Salah satu diantaranya adalah keterampilan berpikir kritis, keterampilan ini adalah proses disiplin yang secara intelektual aktif dan terampil mengkonseptulisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis dan atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari atau dihasilkan oleh pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk kepercayaan dan tindakan (Tawil & Liliasari, 2013). Selain itu, keterampilan berpikir kritis menurut Ennis (2011) adalah sesuatu yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan mengarah pada sebuah tujuan, dimana salah satu tujuan utama yang sangat penting adalah untuk membantu seseorang membuat suatu keputusan yang tepat dan terbaik dalam hidupnya.
Keterampilan berpikir kritis sangat tepat jika diterapkan dalam sebuah pembelajaran dikarenakan membuat siswa memiliki kemampuan dan strategi dalam memecahkan suatu masalah dengan tepat (Saheri et al., 2017). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 22 (2016) juga menegaskan tentang proses pembelajaran dalam satuan pendidikan lebih baik diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk aktif dan berpikir kritis. Pembelajaran tersebut harus dilakukan dengan cara guru dan siswa saling berinteraksi secara aktif, kreatif,
kritis, keterampilan serta menyenangkan. Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 revisi sangat menganjurkan untuk menerapkan aspek-aspek keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya berpusat pada penguasaan materi pembelajaran saja (transfer of knowledge) yang telah diberikan oleh guru tetapi pemahaman lain seperti kemampuan pemecahan suatu masalah (Saheri et al., 2017).
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 18 Semarang, diperoleh hasil belajar siswa kelas VIII pada penilaian akhir semester ganjil rata-rata mendapatkan nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Siswa yang belum mencapai KKM adalah siswa yang kurang aktif dan kritis dalam pembelajaran dikarenakan siswa tersebut hanya menghafalkan teori yang ada. Hal ini sesuai dengan materi pada sistem ekskresi yang membutuhkan pemikiran dan pemahaman yang dalam dikarenakan organ-organ yang dipelajari berada di dalam tubuh manusia sendiri serta banyak istilah dalam proses ilmiah yang muncul pada materi ini.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA di SMP Negeri 18 Semarang mempunyai kendala berupa pemilihan model dan media pembelajaran yang digunakan saat penyampaian materi, salah satu materi tersebut adalah sistem ekskresi manusia. Guru dalam menyampaikan materi hanya menggunakan metode ceramah didukung dengan gambar yang ada dalam buku panduan. Proses pembelajaran tersebut mendapat tanggapan dari siswa melalui hasil wawancara, dimana siswa mengharapkan adanya proses pembelajaran yang menyenangkan, membuat siswa aktif, dan menimbulkan minat belajar dari siswa sehingga membuat suasana kelas menjadi kondusif dan nyaman dalam proses pembelajaran. Kurniawan & Maryani (2015) menyatakan bahwa lingkungan kondusif dapat meningkatkan keaktifan dan keterampilan berpikir kritis, sedangkan jika lingkungan tidak kondusif dapat menurunkan keaktifan dan keterampilan berpikir kritis siswa sehingga sulit untuk menanamkan konsep kepada siswa.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Muliana (2019) menunjukkan bahwa beberapa penyebab rendahnya keterampilan berpikir kritis
siswa dalam pembelajaran IPA yaitu proses pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered), guru masih mengajar dengan cara ceramah, dan soal-soal evaluasi yang diberikan hanya pada tingkatan ranah C1 dan C2 belum cukup untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa. Faktor lain yang menyebabkan keterampilan berpikir kritis siswa rendah pada pembelajaran IPA karena pembelajaran tidak menggunakan strategi mengajar yang dilengkapi dengan model dan metode pembelajaran yang sesuai.
Model pembelajaran Remap TGT (Reading & concept map - Teams Games Tournament) adalah solusi dalam suatu pembelajaran karena didukung oleh penelitian Pangestuti (2014) dengan Remap teams games tournament, dapat meningkatkan minat baca, kemampuan berpikir kritis, kesadaran dan keterampilan metakognitif, serta hasil belajar IPA siswa. Model pembelajaran ini didahului dengan adanya Remap berupa reading dan concept map sebelum pembelajaran dan ini membantu dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan di dukung TGT dengan tahapan yaitu presentasi kelas, teams, games, tournament, dan penghargaan kelompok yang disertai pertanyaan dalam games yang menarik dan membuat siswa berpikir secara luas dengan demikian memacu bertambah dan meluasnya pengetahuan siswa (Pangestuti, 2014).
Model pembelajaran Remap teams games tournament memiliki banyak keunggulan yaitu: 1) kelompok mempunyai buah pikiran yang lebih kaya dibandingkan dengan yang dimiliki perorangan, 2) membuat anggota kelompok termotivasi dengan kehadiran anggota kelompok lain, 3) anggota yang pemalu menjadi bebas mengemukakan pikirannya dalam kelompok kecil, 4) menghasilkan keputusan yang lebih baik, 5) partisipasi dalam diskusi meningkatkan pemahaman diri sendiri maupun orang lain (Erlinda, 2017).
Pembelajaran Remap teams games tournament selain memiliki kelebihan juga terdapat kekurangan yaitu belum adanya media yang unik untuk mendukung dalam proses pembelajaran. Media yang unik sangat dibutuhkan untuk menarik minat siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, media yang tepat dalam hal ini yaitu picture card dan snake ladder sebagai pelengkap dari Remap teams games tournament. Secara umum manfaat yang diperoleh melalui pengunaan
media yang unik adalah proses pembelajaran berjalan lebih menarik, lebih interaktif, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja, sehingga meningkatkan keaktifan serta keterampilan berpikir siswa (Husein et al., 2015).
Berdasarkan permasalahan tersebut mengenai kurangnya keterampilan berpikir kritis siswa, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Model Remap Teams Games Tournament Berbantuan Picture Card dan Snake Ladder terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Sistem Ekskresi.”