BAB III TINJAUAN NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH
A. Tinjauan Internal
5. Latar
Latar yang terdapat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Berikut akan penulis jelaskan secara rinci.
a. Latar Tempat
Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy secara garis besar banyak mengambil tempat di dua negara, yaitu Mesir dan Indonesia. Berikut secara spesifik akan dipaparkan lokasi-lokasi kejadian dalam novel tersebut.
1) Kota Alexandria, Mesir:
Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut Mediterania. Nun jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria. Sejak dulu Alexandria memang terkenal sebagai kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediterania. Pelabuhan utama Alexandria saat ini ada di kanan dan kiri kawasan Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu terletak di semenanjung Alexandria lama. Di ujung semenanjung itu berdiri dua benteng bersejarah. Yaitu Benteng Qaitbai dan Benteng El Atta. ...22
… Pak Ali langsung tancap gas melintas di atas El Ghaish Street menuju ke arah pusat perbelanjaan di kawasan El Manshiya. Azzam menikmati perjalanan itu dengan hati nyaman dan bahagia. Meskipun sebenarnya ia sangat lelah, namun rasa bahagia itu mampu mengatasi rasa lelahnya. Entah kenapa ia merasa malam itu terasa begitu indah. Berjalan di sepanjang jalan utama Kota Alexandria dengan mobil mewah bersama seorang
Putri Duta Besar yang pualam. …23
2) Kota Kairo, Mesir:
Sementara itu di belahan lain Kota Cairo, tampak sebuah sedan Fiat putih keluar dari pelataran Fakultas Darul Ulum, Cairo University. Sedan itu melaju pelan di Sarwat Street lalu belok
kanan ke Gami‟at El Qahirah Street, kemudian belok kanan
melintas di depan Zoological Garden dan terus melaju ke arah sungai Nil.24
22Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 7. 23Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 17.
45
Daarul Ifta’ adalah tempat di mana Mufti Mesir berkantor. Keduanya berdiri tepat di tepi barat Shalah Salim Avenue, yang membentang dari kawasan Cairo lama, tepatnya dari kawasan Malik El Shaleh, terus melintas di depan Benteng Shalahuddin hingga ke kawasan Abbasea. Shalah Salim Avenue, ini termasuk
jalan raya yang paling terkenal di Cairo. …25
3) Desa Wangen, Polanharjo, Klaten:
Anna berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan menghayati tasbih alam Desa Wangen pagi itu. Dengan dibalut mukena putih, ia menikmati keindahan Desa Wangen dari jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan saat ia kecil dulu. Tidak jauh berbeda. Aroma daun padi dari persawahan di barat desa. Goresan yang indah bernuansa surgawi. Angin pagi yang mengalir sejuk
menyapa rerumputan yang bergoyang-goyang seolah
bersembahyang.26
Pesantren Daarul Quran terletak di jantung Desa Wangen. (…)
Desa Wangen sendiri dikelilingi oleh sawah yang hijau. Dulu desa itu dikenal sebagai desa terpencil di tengah sawah. Letaknya cukup jauh dari Kota Solo maupun dari Klaten. Jalan utama menuju Wangen dulunya adalah jalan dari Pasar Tegalgondo yang sekarang sudah beraspal. Dari Desa Wangen, panorama Gunung Merapi sangat jelas dan memukau. …27
4) Kota Solo (Surakarta), Jawa Tengah:
… Selepas Maghrib ia langsung mengajak Furqan jalan-jalan mengelilingi Kota Solo. Mereka hanya berdua. Pak Andi Hasan dan yang lain memilih istirahat di hotel. Mobil Toyota Fortuner berplat B itu melaju tenang di jalan Slamet Riyadi. Jalan utama kota Solo itu lebar dan ramai. Di kanan kiri berdiri bangunan-bangunan metropolis; mall, hotel, bank, butik, rumah makan, pusat elektronik dan lain sebagainya. Meskipun bukan sebuah Ibu Kota provinsi, Solo bisa disebut kota yang kesepuluh terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang dan Yogyakarta.28
25Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 106.
26Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 356-357. 27Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 406.
46
Ada yang mengatakan, bahwa Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Sebagian orang-orang Solo meyakini hal itu. (…) Pasar Klewer adalah urat
nadi perekonomian masyarakat Solo. Terletak tepat di sebelah Keraton dan tepat di selatan Masjid Agung. Tiga tempat itu seolah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena letaknya yang sangat strategis, pasar ini tak pernah sepi dari hiruk-pikuk pembeli dan pedagang. Bahkan pelancong.29
5) Dusun Sraten, Kartasura:
Rumah sederhana itu terletak di sebuah dusun kecil bernama Sraten. Sebuah dusun yang berada di Masjid Al Mannar, Kartasura. Letaknya di sebelah barat jalan raya Solo-Jogja. Tak jauh dari markas Kopassus, Kandang Menjangan, Surakarta. Sebuah dusun yang damai. Sawah-sawahnya mulai disulap jadi perumahan. Posisi dusun itu sebenarnya sangat strategis. Terletak tak jauh dari pusat peradaban dan budaya. Tak jauh dari pusat belanja dan pendidikan. Transportasi juga mudah. Dari jalan raya besar letaknya hanya ratusan meter saja. Ke jalan raya bisa jalan kaki. Dari Pasar Kartasura bisa dikatakan dekat. Kira-kira dua kilo saja. Dari kampus STAIN Surakarta juga dekat. Ke bandara juga dekat. Ke kampus UMS tidak terlau jauh. Ke pusat Kota Solo sangat mudah.30
6) Lebak Bulus, Jakarta Selatan:
Ia sebenarnya ingin naik kereta. Seperti cerita ayahnya. Agar bisa melihat Monas segera. Namun jika naik kereta ia berangkat sendirian. Tak punya teman. Jika naik bus kebetulan ada seorang teman kuliahnya di UNS dulu yang pulang ke Jakarta. Rumahnya
tak jauh dari Terminal Lebak Bulus. …31
Pukul lima pagi bus Cepat Jaya itu memasuki Terminal Lebak Bulus. Hari masih gelap dan sisa-sisa fajar masih tampak di
langit. …32
7) Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan:
Selesai makan Rina mengajak Husna jalan-jalan ke Mall Bintaro. Lalu melihat kampus UIN. Jam dua siang mereka kembali ke rumah Rina dan tidur siang. Jam empat sore Husna
29Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 545.
30Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 389-390. 31Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 445.
47
bangun. Mandi. Shalat Ashar lalu membaca buku yang sempat ia
beli di samping kampus UIN. …33
8) Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat:
Usai shalat Maghrib mereka berempat berjalan kaki ke TIM. Pusat budaya yang ada di jantung Kota Jakarta itu tak pernah sepi
dari karya cipta. (…) Mereka berjalan santai. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di gerbang TIM. “Ini tho yang namanya Taman Ismail Marzuki yang terkenal itu.” Ujar Azzam dengan
perasaan gembira yang meluap. …34
9) Kota Kudus, Jawa Tengah:
Azzam melewati jalan Kiai Telingsing dan mengikuti panduan yang diberikan oleh Pak Mahbub. Tak lama kemudian sampailah mereka di depan Masjid Al Aqsha, nama lain dari masjid Menara Kudus. Azzam parkir tak jauh dari masjid. Aura Kudus sebagai kota santri sangat terasa. Di jalan dan di gang banyak santri putra berpeci yang hilir mudik, dan banyak santri putri berjalan dengan jilbabnya yang bersih menawan.35
b. Latar Waktu
Latar waktu dalam novel Ketika Cinta Bertasbih tidak ditunjukkan secara jelas, dalam arti tidak menekankan waktu sejarah yang pasti seperti terjadi pada kurun tahun sekian hingga tahun sekian. Latar waktu yang terdapat dalam novel ini lebih terpusat pada waktu harian, seperti pagi, siang, sore, dan malam. Berikut akan dipaparkan latar waktu yang terdapat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.
1) Latar pagi
Sambil menyenandungkan zikir pagi Azzam berjalan di atas pasir yang lembut. Ia berjalan di samping Pak Ali. Hari masih
sangat pagi. Pantai Cleopatra masih sepi. …36
Matahari pagi mulai menyinari bumi Kinanah. Sinarnya hangat, sehangat celoteh anak-anak Mesir yang keluar dari rumahnya untuk berangkat ke sekolah. Di rumah Azzam suasana
33Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 453.
34Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 468.
35Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 620.
48
tegang belum hilang. Fadhil belum juga sadar sampai jam enam pagi.37
2) Latar siang
Siang itu sebelum jam dua belas, semua orang dalam
rombongan “Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di Alexandria” sudah keluar dari hotel. Tepat jam setengah satu
mereka sudah bergerak meninggalkan Alexandria menuju Cairo. ...38
Dan siang itu Pesantren Wangen menggelar acara besar yang berbeda dari hari-hari biasa. Acara siang itu adalah bedah buku
kumpulan cerpen remaja terbaik nasional berjudul „Menari
Bersama Ombak‟ karya penulis muda berbakat dari Kartasura.39
3) Latar sore
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. …40
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu indah. Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih.
Bergelombang naik turun. …41
4) Latar Malam
Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya yang lain.
Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. …42
… Malam itu Kota Cairo terasa sejahtera. Angin musim semi
mengalir semilir. Pelan. Berhembus dari utara ke selatan. Menerobos sela-sela pintu dan jendela apartemen. Menebarkan kesejukan-kesejukan.43
37Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 193.
38Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 65.
39Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 409.
40Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 3.
41Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 4.
42Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 12.
49
c. Latar Sosial
Novel Ketika Cinta Bertasbih mempunyai latar sosial yang beragam, yang merupakan gabungan dari beberapa kebudayaan, yaitu kebudayaan Jawa, Arab (Mesir) dan pesantren.
Latar kebudayaan Jawa dapat dilihat dari cuplikan kata-kata yang menyebutkan atau menggunakan bahasa Jawa sebagai penjelas atau selingan cerita.
Berikut ini akan dipaparkan sebagian dari penggunaan latar kebudayaan Jawa dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.
Kata-kata abahnya itu memang sangat membekas dalam dirinya. Kata-kata abah saat berusaha menghiburnya kala ia dimurkai ibunya liburan tahun lalu. Ia dimurkai gara-gara asyik membaca saat diminta ibunya mengupaskan mangga keponakannya si Kecil Ilham, putra
kakak sulungnya. Saat itu ia hanya menjawab, “Inggih, sekedap” dan ia
masih konsentrasi membaca buku yang baru ia beli dari Shopping
Centre Jogja. …44
… Apa gunanya jadi sarjana, lulusan Al Azhar kalau tidak tanggap sasmita, kalau disuruh ibunya tidak segera beranjak!”45
“Ilmu titen itu berangkat dari kejelian orang-orang dahulu meniteni, yaitu mengamati kejadian-kejadian dalam kehidupan, peristiwa-peristiwa di alam. Dari pengamatan yang berulang-ulang itu akhirnya bisa disimpulkan sebuah struktur kejadian. Dari struktur itulah lahir ilmu titen. Ilmu titen ini sebenarnya sudah masuk dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia. Mulai dari manusia paling primitif sampai manusia paling modern.46
“Pantangan anak pertama menikah dengan anak ketiga di Solo disebut lusan. Nomor telu artinya tiga menikah dengan nomor pisan, artinya satu. Katanya kalau nekat menikah nanti salah satu dari orangtua pengantin putra atau pengantin putri akan mati.47
“Contohnya ini Kak, dulu ketika ekosistem alam masih seimbang. Gas kaca di angkasa sana tidak merajalela seperti sekarang. Ozon belum bolong. Ada ilmu titen yang oleh orang Jawa disebut pranata mongso. Pembagian masa dalam satu tahun untuk bertani. Ada masa
44Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 93. 45Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 93.
46Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 582. 47Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 586.
50
untuk mencangkul membalik tanah, ada masa untuk menanam, ada masa untuk menyiangi, dan ada masa untuk panen. Hitungannya selalu
tepat. …48
Adapun latar kebudayaan Arab (Mesir) juga banyak dijumpai di dalam novel Ketika Cinta Bertasbih ini, sebagaimana ditunjukkan dalam cuplikan-cuplikan berikut.
“Iya. Setahu saya memang adat di Mesir itu seorang suami malu
kalau isterinya tidak gemuk. Malu dianggap tidak bisa memberi makan
dan tidak bisa mensejahterakan isterinya.”49
… Terkadang orang Mesir menjawab dengan santai, “Itulah bedanya
orang Indonesia dengan orang Mesir. Orang Indonesia terlalu rendah diri, terlalu minder dengan kemampuannya, dan tidak bisa memotivasi diri. Sedangkan orang Mesir selalu percaya diri. Selalu bisa memotivasi diri! Kita bisa menginternasionalkan yang kecil.” Maka biasanya orang Indonesia akan diam sambil terus menggerutu di dalam hati, “Dasar orang Mesir anak Fir‟aun, sombong sekali!”50
Ini bukan kali pertama Azzam mendengar cerita seperti ini. Di Mesir dan negara Arab lainnya, menikah memang sangat mahal. Sehingga tidak sedikit yang terlambat menikah. Golongan yang pas-pasan punya, tapi tidak kaya, biasanya banyak terlambat. Baik lelaki maupun perempuan. Justru sekalian golongan miskin malah banyak yang nikah muda. Mereka menikah dengan sesama orang miskin, sehingga syarat-syarat bersifat material sama-sama dimudahkan.51
Latar budaya pesantren juga ditemukan di dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, sebagaimana ditunjukkan dalam cuplikan-cuplikan berikut.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air Desa Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling
pesantren, mengetok kamar demi kamar sambil berkata, “Shalat, shalat, shalat!” Setelah semua kamar diketuk, sang Abah mengajaknya kembali
ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri ada yang sudah shalat. Ada yang masih mendengkur berselimut sarung.52
Usai shalat Subuh dan berzikir. Kiai Lutfi mengajak santrinya untuk melantunkan zikir pagi. Lalu beliau membacakan kitab Subulus Salam
48Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 587. 49Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 20. 50Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 87. 51Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 131. 52Habiburrahman El Shirazy, Ketika Cinta Bertasbih…, h. 355-356.
51
karya Imam Ash Shan‟ani yang merupakan penjelas kitab Bulughul Maram yang disusun oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani. Subulus Salam adalah satu dari tiga kitab yang menjadi wirid Kiai Lutfi. Artinya kitab itu adalah salah satu kitab yang senantiasa dibaca berulang-ulang
oleh Kiai Lutfi. …53
Sudah jamak di dunia pesantren bahwa seorang Kiai biasanya memiliki kitab-kitab andalan yang sangat dia kuasai dan ia ajarkan kepada santrinya. Kitab itu jadi wiridnya. Sehingga ia jadi seolah-olah hafal kitab itu. Dengan melihat kitab yang dijadikan wirid maka para
santri dan masyarakat bisa mengetahui kepakaran seorang Kiai. …54