BAB V ANALISIS DATA
4. Layanan Konseling/Pemberian Bimbingan Psikologis
Dalam pemberian konseling/bimbingan psikolgis, maka harus diketahui apa yang menjadi masalah dari si korban, agar bisa di diagnosa, apa yang menjadi masalah korban dan bagaimana solusi yang akan diberikan untuk si korban. Bagaimana pun juga para korban kekerasan harus bisa kembali ke fungsi sosialnya untuk menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Konseling merupakan suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dan klien yang berisi usaha yang laras, unik, human (manusiawi), yang dilakukan dalam suasana keahilan dan yang didasari atas norma-norma yang berlaku, agar klien memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat kini dan mungkin pada masa yang akan datang (Sukardi dalam Adi, 2013: 24).
Pengertian lainnya menurut
Dalam melakukan konseling/bimbingan psikologis maka harus dilakukan wawancara terhadap korban, berkaitan dengan latar belakang masalah, kejadian kasus, sampai harapan-harapan korban kedepannya. Konseling/pemberian bimbingan Prayitno (dalam Adi, 2013: 24), mendefinisikan konseling adalah bantuan yang diberikan oleh konselor kepada klien dalam rangka pengentasan masalah klien. Dalam suasana tatap muka yang dilaksanakan interaksi langsung antara konselor dengan klien. Pembahasan masalah tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi menyangkut rahasia pribadi klien), bersifat meluas meliputi berbagai segi yang menyangkut permasalahan klien, namun juga bersifat spesifik mengarah pengentasan masalah klien.
psikologis adalah tindakan yang dilakukan sebagai upaya penguatan psikologis korban.
Dalam penguatan psikologis korban, perlu adanya tenaga ahli yang bisa mengetahui secara mendalam bagaimana permasalahan yang diahadapi oleh korban. SW mengatakan bahwa dirinya pernah diajukan untuk dilakukan tes psikologi oleh pihak Yayasan Pusaka Indonesia terutama divisi anak dan perempuan, agar SW bisa mengurangi rasa traumanya terhadap kejadian tersebut. Berikut penuturan SW :
“Kakak memang pernah ditawari oleh bapak Mitra dan ibu Elisabeth untuk melakukan tes psikologi yang sudah mereka sediakan, katanya mereka kerjasama dengan fakultas psikologi dari USU (Universitas Sumatera Utara), mahasiswa dari sana yang melakukannya, tetapi kakak sudah dapat nasehat dan motivasi dari ibu Elisabeth, mungkin karena kami sama-sama perempuan jadinya nyambung kalau berbicaranya, lebih paham satu sama lain”.
SW mengaku pernah diminta tes psikologi dan SW mau untuk melakukan tes psikologi yang bekerjasama dengan mahasiswa psikologi USU, dalam tes psikologi tersebut SW selalu melakukannya sebanyak 2 kali dalam waktu 1 bulan saja. Berikut penuturan SW :
“Selama melakukan konseling/pemberian bimbingan psikologis, kakak hanya 2 kali mendapatkan bimbingan psikologis dari divisi anak dan perempuan karena juga keterbatasan waktu yang kakak miliki. 2 kali itu pun dalam jangka waktu 1 bulan, karena pada saat itu juga kakak harus fokus sama proses hukum ini dan kakak juga harus kerja untuk makan dan bayar uang sekolah anak”.
EJ juga membenarkan bahwa anaknya begitu sibuk dan banyak sekali hal yang harus SW kerjakan dari bekerja, mengurus anak dan fokus sama masalah hukum. Ej juga mengatakan bahwa anaknya sebenarnya cukup terbantu dengan adanya konseling/bimbingan psikologis yang diberikan oleh Yayasan Pusaka Indonesia. Berikut penuturan EJ :
“Anak saya mendapatkan bimbingan psikologis itu sebanyak 2 kali, sebenarnya harus rutin dan berkala, agar dia mendapatkan manfaat dan mampu menghilangkan rasa traumanya dan cara terbaik baginya untuk menjelaskan kepada anaknya tentang permasalahannya dengan mantan
suaminya. Bagaimanapun juga anaknya itu harus sudah dijelaskan dan mengerti apa yang terjadi, agar mereka tidak terus bertanya tentang bapaknya yang tidak jelas, entah dimana dia itu”.
Penulis juga melihat bahwa EJ begitu sangat ingin anaknya tidak mengingat mantan suaminya lagi, dari apa yang penulis lihat bahwa EJ mengharapkan dari konseling/bimbingan psikologis memberikan jalan keluar bagi SW untuk menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran yang terbaik baginya.
SW merasa setelah mengikuti konseling/bimbingan psikologis bahwa masalahnya sedikit terbantu, karena SW mendapatkan motivasi dan dorongan untuk sedikit mengurangi rasa traumanya, walaupun tidak seutuhnya rasa trauma yang SW alami akan hilang, tetapi SW juga menyadari bukan orang lain yang membuatnya kuat tetapi semua berasal dari dirinya sendiri. SW juga mengatakan :
“Jujur saja kakak cukup terbantu dengan konseling/bimbingan psikologis yang diberikan Yayasan Pusaka Indonesia, walaupun tidak sepernuhnya rasa trauma, tidak percaya diri, ketergantungan ekonomi sama dia tidak mudah lepas dari hidup kakak. Mungkin karena kami tidak setiap hari ngobrolnya, makannya hasilnya kurang maksimal, tetapi kakak sudah banyak berterimahkasih sama Pusaka Indonesia”.
Konseling/bimbingan psikologis yang diberikan Yayasan Pusaka Indonesia, terutama divisi anak dan perempuan yang telah mengajak kliennya untuk bimbingan psikologis agar lebih kuat dan tegar menghadapi masalahnya. SW juga mengatakan :
“Kakak sudah banyak mendapatkan manfaat dari konseling/bimbingan psikologis tersebut, karena tanpa konseling, kakak tidak akan bisa seperti ini, walaupun bukan hanya konseling, tetapi nasehat orangtua dan motivasi yang diberikan ibu Eli sama kakak. Setelah konseling kakak jadi lebih percaya diri untuk menjalani hidup walaupun trauma itu tidak akan pernah hilang dari hidup kakak”.
Sebagai seorang ibu, EJ mengaharapkan anaknya mendapatkan banyak manfaat dari konseling/bimbingan psikologis tersebut, agar SW bisa menjalankan hidupnya dan membesarkan anak-anaknya tanpa beban dan rasa tidak percaya diri.
EJ juga mengaharapkan agar SW mengambil manfaat dan hidayah dari apa yang SW alami. Berikut penuturan EJ :
“Sebagai seorang ibu dari empat orang anak yang sudah pada nikah semua, saya paling memikirkan anak saya SW karena dia satu-satunya anak perempuan. Saya berharap agar dia banyak tawakal dan berdoa dari masalah yang dihadapinya dan mengambil banyak manfaat yang baik. SW mengatakan bahwa dirinya cukup mendapatkan manfaat dari konseling/bimbingan psikologis tersebut”.
SW juga menjelaskan dari konseling/bimbingan psikologis tersebut, banyak manfaat yang didapatkannya, mulai dari penguatan secara mental, rasa percaya diri, trauma, dan hal-hal lainnya. SW juga mengatakan bahwa dirinya begitu sangat senang mendapatkan bimbingan psikologis dan juga mendapatkan penguatan spritual dari konseling tersebut.
SW begitu sangat mengharapkan agar dirinya bisa rutin untuk melakukan konseling/bimbingan psikologis, karena dengan konseling SW bisa lebih leluasa bercerita dan juga psikolog yang melakukan konseling terhadap SW akan lebih paham permasalahan SW dan cara serta upaya yang terbaik untuk SW bisa menjalani fungsi sosialnya dengan baik.
Dari konseling/pemberian bimbingan psikologis tersebut, SW berharap agar dirinya lebih rutin dan konseling secara berkala agar mendapatkan manfaat yang maksimal dan mampu untuk menatap hidup dan meyusun hidup yang lebih baik. Berikut penuturan SW :
“Kakak berharap, agar konsultasi secara rutin dan berkala untuk mendapatkan manfaat dan dapat terbantu dari perasaan yang yang bisa kakak jelaskan secara lebih terbuka karena ini cuma perasaan yang datang dari hati dan pikiran. Semua masalah ini sudah banyak makan waktu, pikiran dan terutama hati kakak. Kakak berharap dari konseling tersebut, kakak bisa menjadi ibu yang kuat, kuat untuk menjadi singgle parent dan tidak lagi tergantung sama laki-laki, kakak juga tidak mau ingat-ingat masalah ini lagi agar kakak bisa menatap masa depan yang lebih baik”.
Penulis melihat bahwa SW sudah mulai menjadi seorang ibu yang kuat dan SW tidak mau lagi hidup dari masalah yang sudah- sudah dan SW berusaha mengambil hikmah dari masalah tersebut agar bisa belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. SW sudah bisa tertawa dan gembira lagi, walaupun masalah tersebut sudah satu tahun SW alami.