BAB V ANALISIS DATA
5. Layanan Pendampingan dalam Proses Hukum (Litigasi)
Dalam memberikan perlindungan terhadap korban maka harus dilakukan pendampingan dalam proses hukum (Litigasi) agar korban merasa adil jika kasusnya dibawa ke mata hukum dan di dampingi oleh pendampingnya yaitu dari divisi anak dan perempuan maka dari itu pendampingan secara hukum sangat diperlukan korban. Litigasi adalah proses dimana seorang individu atau badan membawa sengketa, kasus ke pengadilan atau pengaduan dan penyelesaian tuntutan atau penggantian atas kerusakan (Usman, 2012: 23).
Proses pengadilan juga dikenal sebagai tuntutan hukum dan istilah, biasanya mengacu pada persidangan pengadilan sipil. Litigasi digunakan terutama ketika sengketa atau keluhan tidak bisa diselesaikan dengan cara lain.
SW mengatakan pada saat datang ke Pusaka Indonesia dan SW setuju untuk di dampingi oleh Pusaka, maka bapak Mitra langsung membuatkan surat kuasa bahwasanya SW akan menjadi klien dari bapak Mitra dan ibu Elisabeth. Setelah konsultasi dan membuat surat kuasa untuk kliennya, maka bapak Mitra dan ibu Eli Dimana Pendampingan dalam proses hukum (Litigasi) adalah langkah hukum berupa pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), apabila pihak keluarga korban menginginkan kasusnya dilanjutkan atau proses hukum mulai dari polisi, jaksa sampai pengadilan demi korban memperoleh bantuan/perlindungan hukum.
langsung menentukan langkah hukum seperti membuat laporan ke kantor polisi. Berikut penuturan SW :
“Saat kakak datang ke Pusaka Indonesia, kakak langsung konsultasi dengan bapak Mitra dan ibu eli, setelah kami ngobrol tentang permasalahan kakak. Mereka langsung membuatkan kakak surat kuasa dan maunya kakak terhadap kasus ini. Langsung hari itu juga surat kuasanya dibuat dan keesokan harinya langsung dilaporkan ke kantor polisi. Kakak pergi bersama bapak Mitra untuk melaporkan kasus tersebut”.
Dari proses tersebut maka SW langsung diproses di kantor polisi unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak). Dari sanalah SW mulai menceritakan kasus yang dialaminya, dari laporan tersebut polisi langsung memprosesnya dan memasukkan kasus tersebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga, walaupun mantan suami SW tidak langsung di penjara pada saat itu juga.
Selama proses hukum di kepolisian atau selama proses penyidikan, SW terus di dampingi oleh Bang Mitra agar SW merasa lebih nyaman dan tidak bingung serta pendampingan tersebut juga menjadga hal-hal yang tidak diinginkan. Berikut penuturan SW :
“Dikepolisian kakak terus ditemani sama bapak Mitra, kalau tidak di dampingi mungkin kakak akan di oper- oper seperti bola. Untung saja bapak Mitra terus mendampingi, jadinya kakak tidak kebingungan, tidak perlu repot-repot karena ada yang lebih paham, lagi pula bapak Mitra sudah biasa menangani hal-hal seperti ini”.
EJ juga mengatakan bahwa dengan didampingi oleh Yayasan Pusaka Indonesia, SW merasa lebih paham bagaimana prosesnya dan tindakan apa yang harus dilakukan SW. Pusaka Indonesia begitu sangat membantu karena hal ini belum pernah mengahadapi oleh SW. EJ juga mengatakan :
“Jika tidak didampingi oleh Pusaka Indonesia, mungkin saja kasus anak saya ini akan mengambang atau mungkin kami akan di oper- oper, tidak jelas arahnya mau kemana”.
Bukan hanya proses hukum di kepolisian, tetapi juga di kejaksaan SW terus didampingi, walaupun sempat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) nya dikembalikan
lagi dari kejaksaan, karena menurut kejaksaan, BAP milik SW belum lengkap. Tetapi akhirnya setelah dilengkapi oleh kepolisian, BAP SW langsung diterima, tetapi suami SW belum juga di penjara
Pihak Yayasan Pusaka Indonesia pun tidak bertindak diam dari laporan yang diberikan oleh SW, bahwasanya mantan suami SW belum juga masuk penjara. Bapak Mitra pun melayangkan atau mengirim surat keberatan dan meminta ARFR segera ditangkap. Melalui kejaksaan, akhirnya ARFR ditanggap dan dimasukkan didalam kantor polisi. Berikut penuturan SW :
“Awalnya kakak agak bingung dan takut, didalam hati kakak selalu bertanya-tanya kenapa ARFR belum juga di penjara. Kakak terus berkomunikasi dengan bapak Mitra dan membicarakan hal tersebut, tetapi untung lah ketika BAP kakak sudah masuk di kejaksaan dan bapak Mitra mengirim surat keberatan ke kejaksaan, pihak mereka langsung merespon kami. Tadinya kakak pikir kenapa tidak adil hukum ini, tetapi setelah ditangkap suami kakak, ada rasa lega dan tenang”.
SW begitu sangat tenang melihat suaminya di masukkan ke dalam penjara, berikut juga penuturan EJ yang mengatakan bahwa selama ini ada ke khawatiran dari keluarga SW tentang status ARFR. Padahal kalau menurut laporan ARFR adalah pelakunya dan harus ditangkap, serta begitu lambat polisi untuk menangkap ARFR. Polisi menangkapnya setelah bapak Mitra mengirim surat keberatan ke kejaksaan dan segera diproses.
Penulis juga dapat melihat dari permasalahan dan cerita dari SW bahwa pihak kepolisian begitu sangat lambat dalam memproses kasus ini. Penulis juga melihat bahwa SW berharap banyak kepada kepolisian untuk memberi rasa keadilan terhadap SW dan keluarganya.
Bukan hanya di kepolisian, kejaksaan tetapi juga di pengadilan, SW terus didampingi oleh divisi anak dan perempuan. SW begitu sangat terbantu dan tertolong karena didampingi sampai kasusnya lepas perkara di pengadilan, walaupun proses ini
begitu sangat menyita waktu, pikiran dan hati tetapi SW terus bersemangat untuk menutut keadilannya. Berikut penuturan SW :
“Kakak begitu sangat terbantu dengan didampingi oleh Pusaka Indonesia, apalagi Pusaka Indonesia sudah menjelaskan sejak awal, apa saja yang menjadi resiko kakak. Tetapi Pusaka Indonesia juga memotivasi kakak untuk terus berjuang mencari keadilan. Selama diproses pengadilan berjalan dan mengalami penundaan beberapa hari, Ibu dari ARFR terus saja datangi kakak untuk berdamai dan menawarkan beberapa uang, tetapi kakak tidak mau karena hati kakak sudah terlalu sakit dengan semua kebohongan ARFR. Apalagi uang-uang kami itu ternyata dikasih sama madunya dari pada kakak dan anak-anaknya”.
Selama di kepolisian, kejaksaan SW terus didampingi oleh koordinator divisi anak dan perempuan yaitu bapak Mitra serta di pengadilan SW didampingi oleh ibu Elisabeth, bapak Mitra dan bapak riki selaku calon advokat yang sedang magang di Yayasan Pusaka Indonesia. Selama proses pengadilan tersebut SW di dampingi oleh 3 orang yang merupakan pengacara dan satu diantaranya yaitu ibu Elisabeth sudah mendapatkan kartu advokat resmi dari Peradi (Persatuan Advokat Indonesia).
EJ juga mengatakan bahwa selama proses hukum berjalan di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, SW terus didampingi dan mendapatkan perlindungan serta merasa sangat terbantu dengan adanya arahan, motivasi dan penjelasan yang diberikan oleh Yayasan Pusaka Indonesia serta juga kerja keras yang dilakukan Pusaka Indonesia dan SW menjadi tidak sia- sia untuk mendapatkan keadilan. Proses hukum di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan cukup memuaskan, SW cukup kecewa ketika proses hukum di kepolisian dan pengadilan, tetapi ketika di kejaksaan SW merasa sangat puas. SW juga mengatakan :
“Waktu proses hukum di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, kakak terus saja didampingi oleh bapak Mitra, ibu Eli dan bapak Riki. Mereka begitu sangat bekerja keras untuk kasus yang kakak hadapi”.
SW merasa sangat puas dengan kerja keras yang dilakukan oleh Yayasan Pusaka Indonesia terutama divisi anak dan perempuan. Dari proses tersebut, SW
mendapatkan banyak manfaat terutama dalam proses hukum. SW juga merasa puas setelah suaminya divonis bersalah dan dihukum penjara selama 1 tahun 3 bulan. Berikut penuturan SW :
“Kerja keras Pusaka Indonesia begitu sangat memuaskan dan membuahkan hasil yang maksimal. Mantan suami kakak divonis bersalah dan dihukum kurungan selama 1 tahun 3 bulan. Akhirnya dia mendapatkan balasannya sendiri atas perbuatannya itu, kakak sempat berbicara sama dia waktu dia dimasukkan kedalam penjara, sebelum dia divonis. Dia sempat bilang sama kakak kalau tidak ada istri yang memasukkan suaminya didalam penjara dan kami sempat ribut ditempat kunjungan penjara, bukannya dia minta maaf tetapi terus menyalahi kakak”.
EJ juga menambahkan bahwa mereka sangat puas dengan hasil persidangan, bukan hanya proses dipersidangan tetapi juga di kepolisian dan kejaksaan, Yayasan Pusaka Indonesia sudah banyak bekerja keras atas kasus ini. EJ juga mengatakan bahwa mantan menantunya itu, walaupun sudah masuk penjara masih saja menyalahkan SW, padahal ini terjadi karena perbuatan ARFR yang telah melakukan kekerasan fisik dan kekerasan ekonomi (penelantaran) terhadap istri dan anaknya. Terlepas dari semua itu EJ tetap merasa sangat terbantu dan puas dengan hasil yang didapatkan. Dari proses hukum tersebut SW menjadi lebih tenang dan terbantu, apalagi vonis tersebut sudah dijatuhkan kepada ARFR, walaupun ARFR tidak bisa menerimanya. EJ juga mengatakan bahwa sebenarnya ia mengharapkan hukuman yang maksimal yaitu 5 tahun penjara untuk ARFR, tetapi dengan pertimbangan hukum yang dilihat dari anak-anak mereka yang masih kecil dan membutuhkan peran kedua orangtuanya, serta pertimbangan yang lainnya maka ARFR di jatuhi hukuman yang lebih rendah dari hukuman maksimal yang tercantum dalam Undang-Undang tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga.