BAB V ANALISIS DATA
3. Layanan Pemeriksaan Kondisi Kesehatan
Setiap korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang mengalami kondisi yang menyebabkan rasa luka padanya akan dilakukan visum, hal tersebut dilakukan demi melengkapi BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Pemeriksaan kondisi kesehatan adalah melakukan langkah- langkah medis yang dipandang perlu untuk korban, misalnya Visum et Repertum, rekan medik (bagi korban kekerasan fisik dan seksual).
Menurut Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Dimana kesehatan begitu sangat penting, maka dari itu harus ada upaya pemeriksaan
Setiap korban yang mengalami kekerasan pasti akan meninggalkan luka, bisa dari fisik, psikis, ekonomi dan hal lainnya yang membuat korban tidak berdaya, tetapi disini kondisi kesehatan yang dimaksud adalah pemeriksaan di Rumah Sakit yaitu dengan visum.
membawa korban ke Rumah Sakit (RS), dengan merujuk ke Pusat Layanan Terpadu di RS polda dengan tujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan korban dan pada saat visum, korban di upayakan adanya pendampingan saat pemeriksaan kesehatan dengan tujuan agar korban serasa terlindungi.
SW pada saat dibawa ke Kantor Polisi untuk dilakukan pemeriksaan, maka pada saat itu pihak penyidik dari kepolisian menyarankan SW untuk divisum, karena dilihat dari bentuk laporan yang dia ajukan di kantor polisi bersama dengan Bapak Mitra selaku koordinator divisi anak dan perempuan. Berikut penuturan SW :
“Pada saat itu adalah ke 3 kalinya kakak mendatangi kantor polisi, pada saat itu pihak penyidik meminta kakak untuk dilakukan visum di Rumah Sakit yang sudah di tunjuk oleh pihak kepolisian, kakak langsung dibawa ke
Rumah Sakit Pirngadi untuk divisum dan bapak Mitra juga mengatakan, tidak apa-apa kalau divisum, biar polisi bisa tahu kondisi kesehatan SW”.
Pada saat divisum, SW merasa sangat takut dan bingung, karena SW berpikir akan dilakukan pemeriksaan yang terlalu beresiko atau mengerikan. Rasa takut itu juga dibenarkan oleh EJ, yang juga mengatakan kalau anaknya tidak pernah mengalami hal seperti ini, SW merasa sangat gugup menjalaninya karena ini adalah hal pertama yang SW alami.
Pihak Yayasan Pusaka Indonesia juga mengatakan kalau untuk visum yang paling berhak untuk melakukan visum adalah rujukan dari penyidik polisi, karena mereka menganggap hal tersebut perlu, maka akan divisum, jika mereka menganggap tidak perlu maka tidak akan divisum. Selama divisum yang melakukan adalah pihak kepolisian sesuai dengan Rumah Sakit yang ditunjuk. Kalau di Jakarta, maka yang melakukan visum adalah Rumah Sakit Bhayangkara milik kepolisian pusat.
Selama visum SW terus saja di dampingi oleh Bapak Mitra, agar SW tidak merasa takut atau merasa terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan, karena ini adalah pengalaman pertama baginya. Berikut penuturan SW :
“Selama kakak melakukan visum, bapak Mitra terus mendampingi kakak. Bahkan saat di bawa ke Rumah Sakit Pirngadi, bapak Mitra yang membonceng kakak dengan naik sepeda motor bapak Mitra, padahal bapak Mitra nyuruh kakak untuk naik mobil polisi agar diantar ke Rumah Sakitnya, tetapi kakak tidak mau, kakak merasa lebih aman jika bersama bapak Mitra, selama divisum untuk diperiksa luka lebam pada bagian wajah kakak. Ternyata dokter memang melihat memar pada bagian wajah kakak”.
SW mengatakan bahwa dirinya terus saja didampingi oleh Bapak Mitra, apalagi pada saat kebingungan dan stres, Bapak Mitra dengan candaannya membuat SW mulai sedikit tenang. Walaupun tidak menghilangkan sepenuhnya rasa takut SW, tetapi rasa takut itu sedikit berkurang agar SW lebih santai. Bapak Mitra juga mengatakan kalau dirinya sudah biasa melihat klien yang seperti itu, maka dari itu
kita harus bisa membuatnya sedikit menghilangkan rasa takutnya dengan candaan yang biasa dilakukan bapak Mitra.
Penulis juga melihat pada saat itu SW sudah mulai mengeluarkan candaan yang membuatnya terus tertawa. Pada saat diwawancarai tentang pengalamannya selama visum, SW sudah bisa lepas untuk bercerita, tidak terlihat wajah takutnya pada saat divisum. Hingga saat ini visum adalah pengalaman yang sangat berharga bagi SW, apalagi pada saat itu di temukan bekas luka lebam pada bagian wajah. SW begitu sangat bersemangat saat menceritakan pengalamannya dalam proses visum, SW juga menunjukkan bagian wajah yang mana, pada saat ia di pukul oleh mantan suaminya.
EJ selaku mama SW, juga menuturkan bahwa anaknya merasa lebih nyaman jika terus di dampingi, karena dengan di dampingi SW akan lebih mengerti apa saja hal yang harus ia lakukan. Sebagai orangtua, EJ sangat mendukung jika anaknya terus semangat untuk mendapatkan keadilan dari permasalahan yang SW sedang alami.
Dokter membenarkan kalau ada luka pada bagian wajah SW, luka tersebut tidak perlu membuat SW dirawat-inap ataupun diobname dalam jangka waktu tertentu. Berikut penuturan SW :
“Pada saat itu kakak tidak perlu mengantri lagi karena sudah ada ruangan khusus untuk kakak melakukan visum dan juga hanya sedikit pada saat itu yang akan melakukan visum dari kepolisian. Pada saat itu dokter memeriksa bagian wajah kakak dengan suatu alat medis, kakak tidak tahu apa nama alat tersebut, dokter juga bertanya pada kakak, apakah kakak pernah mengalami atau punya penyakit tertentu. Kakak juga ada disuruh mengisi biodata dari Rumah Sakit. Rasa takut kakak sudah mulai hilang ketika kakak diperiksa, dokter juga mengatakan kalau kakak tidak perlu takut, gugup, ataupun tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh. Dokter juga mengatakan visum ini tidak akan menyebabkan dampak tertentu buat kakak”.
SW juga mengatakan pada saat itu bahwa dirinya sudah merasa puas dengan hasil visum yang telah di keluarkan pihak rumah sakit, walaupun hasil visumnya
tidak langsung keluar pada saat itu juga. Tetapi ketika mendapatkan laporan dari Bang Mitra yang mendapatkan informasi tersebut dari kepolisian.