• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Perlindungan yang di dapatkan Korban

BAB V ANALISIS DATA

6. Proses Perlindungan yang di dapatkan Korban

Proses perlindungan yang dimaksud adalah Rehabilitasi dan Reintegrasi yang didapatkan oleh korban. Dimana rehabilitasi sangat dibutuhkan agar pada proses

reintegrasi, si korban dapat kembali kemasyarakat dan kefungsi sosialnya. Rehabilitasi adalah pemulihan dari gangguan terhadap kondisi fisik, psikis, dan sosial, agar dapat melaksanakan perannya kembali secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Sedangkan Reintegrasi adalah penyatuan kembali korban tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga pada pihak keluarga atau pengganti keluarga yang dapat memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan bagi

korban (Sumber :

pukul 10.15 WIB).

Proses perlindungan yang berikan adalah langkah atau cara-cara yang dilakukan kepada korban yang kasusnya telah selesai ditangani. Dimana rehabilitasi merupakan proses untuk pemulihan kondisi korban (penguatan secara psikologis, apabila diperlukan oleh korban), sedangkan reintegrasi merupakan prosses untuk mengembalikan korban kepada lingkungan keluarga dan masyarakat.

Setiap korban yang akan diberikan rehabilitasi, harus dilihat dari kondisi dan kasus korban itu sendiri. Apakah perlu dilakukan rehabilitasi untuk korban, hal tersebut juga bisa diminta oleh korban untuk diberikan rehabilitasi untuk ketahap reintegrasi. Rehabilitasi sangat diperlukan oleh korban karena bagaimanapun juga si korban akan melakukan reintegrasi yaitu kembali kekeluarga dan masyarakat.

Sebelum kembali kekeluarga dan masyarakat, maka harus dilakukan rehabilitasi terhadap SW. Rehabilitasi ini dilakukan setelah kasus hukum yang dihadapi oleh korban sudah selesai, agar korban tidak mengalami penolakan dalam keluarga, masyarakat dan dari dalam dirinya sendiri atau psikisnya. Berikut penuturan SW :

“Kakak tidak mendapatkan rehabilitasi dari divisi anak dan perempuan, tetapi mereka memang memberikan penguatan untuk mental kakak dan penguatan motivasi”.

Sebelum proses hukum berjalan, SW sudah diberikan bekal untuk kembali kuat dan mampu untuk keluar dari ketergantungan ekonomi terhadap mantan suaminya. EJ juga mengatakan bahwa SW sudah diberikan nasehat dan arahan dari keluarga serta penguatan mental yang keluarga berikan, walaupun tidak mendapatkan rehabilitasi tetapi SW bisa lebih kuat karena dukungan yang kuat dari keluarganya.

Meskipun tidak mendapatkan atau tidak diberikan rehabilitasi, karena kondisi SW yang dilihat oleh divisi anak dan perempuan tidak terlalu parah dan divisi anak dan perempuan juga melihat kalau SW begitu sangat mendapat dukungan dari keluarga, bagaimana pun juga jika ingin kembali kemasyarakat maka SW harus mendapatkan penguatan terlebih dahulu dari keluarganya, karena hanya dari keluargalah seseorang bisa diterima kembali ke masyarakat dan tidak mengalami penolakan.

Berdasarkan proses reintegrasi, maka SW dengan mudah melakukannya karena sebelumnya SW sudah diterima oleh keluarganya dan mendapatkan dukungan yang kuat dari keluarga serta mendapatkan bimbingan konseling dari psikolog agar SW dengan mudah untuk bersosialisasi kembali dengan masyarakat sekitarnya serta mengembalikan rasa percaya diri SW. Berikut penuturan EJ :

“SW memang tidak pernah di rehabilitasi oleh bapak Mitra tetapi dia sudah dapat penguatan psikologi oleh psikolog serta kami juga mendukungnya untuk membangkitkan rasa percaya dirinya. Makannya saat reintegrasi untuk SW tidak perlu susah payah lagi, walau bagaimanpun dia tetap bagian dari keluarga ini, tidak perlu malu untuk hal ini dan tidak perlu dengar omongan orang lain tetapi SW harus yakin sama dirinya sendiri, ini semua untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya”.

SW begitu sangat terbantu dengan adanya penguatan psikologis yang sudah diberikan oleh Yayasan Pusaka Indonesia dan manfaat yang didapatkannya begitu sangat besar, dimana rasa percaya untuk kembali kemasyarakat atau kefungsi

sosialnya bisa kembali, SW tidak perlu malu atau pun menjadikan ini sebagai aib yang harus ditutup-tutupi tetapi adalah pembelajaran yang harus diambil manfaat dan hikmatnya. SW juga tidak perlu takut lagi dengan pikiran dan pembicaraan masyarakat tentang dirinya, walaupun SW tahu bahwa masyarakat Indonesia masih menaggap hal-hal seperti ini adalah suatu aib dalam keluarga tetapi lingkungan tempat SW tinggal sekarang tidak terlalu berpikir seperti itu terhadapnya, hanya 1 atau 2 orang saja yang masih berpikiran seperti itu. SW juga mengatakan :

“Kakak sangat mengharapkan kalau kakak kembali kemasyarakat, tidak ada yang membicarakan hal-hal yang tidak baik, walaupun hal seperti itu tidak bisa kita hindari. Lagi pula Pusaka Indonesia juga sudah memberikan dukungan dan keluarga kakak juga seperti itu”.

SW tidak begitu berharap banyak tetapi SW ingin masyarakat dapat menerimanya dengan cara tidak membicarakannya secara berlebihan karena hal tersebut akan membuatnya sulit untuk percaya diri kembali dan juga demi anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Begitu juga dengan EJ yang mengatakan bahwa SW harus menjadi ibu yang kuat demi anak-anaknya tidak perlu peduli dengan apa yang oranglain katakan kepadanya.

Penulis juga melihat bahwa SW sudah bisa kembali kemasyarakat dengan meningkatkan rasa percaya dirinya. SW juga sudah tidak ketergantungan ekonomi lagi terhadap mantan suaminya serta SW juga tidak mau mengingat atau melihat kebelekang lagi untuk mengingat kejadian yang pernah SW alami, dalam kehidupan bertetanggapun, SW begitu sangat akrab terhadap tetangga dan warga yang ada di sekitar rumah ibunya atau di rumahnya yang sekarang, dimana rumah tersebut tidak terlalu jauh dari rumah ibunya.

7. Monitoring

Setiap korban atau klien yang sudah selesai proses hukumnya, maka akan kembali ke kehidupannya yang sebelumnya, monitoring dibutuhkan oleh setiap

korban atau klien yang didampingi oleh Yayasan Pusaka Indonesia. Monitoring yang dimaksud adalah timbal balik atau manfaat yang sudah didapatkan oleh korban serta kegiatan yang dimiliki oleh Yayasan Pusaka Indonesia demi membantu korban yang masih mempunyai masalah terhadap masalah yang dihadapi sebelumnya. Dengan monitoring maka bisa dilihat bagaimana kehidupan korban setelah permasalahannya selesai dan tidak perlu lagi didampingi. Jadi monitoring adalah penilaian secara terus menerus terhadap fungsi kegiatan-kegiatan program-program di dalam hal jadwal penggunaan input/masukan data oleh kelompok sasaran berkaitan dengan harapan-harapan yang telah direncanakan (Daryanto dan Abdullah, 2012: 27).

Pengertian lain dari monitoring adalah sebagai suatu proses mengukur, mencatat, mengumpulkan, memproses dan mengkomunikasikan informasi untuk membantu pengambilan keputusan manajemen program/proyek (Calyton dalam Daryanto dan Abdullah, 2012: 27).

Dilihat dari berbagai pengertian tersebut, maka monitoring adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan Yayasan Pusaka Indonesia untuk mengetahui perkembangan kondisi (fisik, psikologis, sosial, ekonomi) dari korban dan dilihat dari permasalah korban yang mengalami kekerasan fisik dan ekonomi atau penelantaran, maka Yayasan Pusaka Indonesia, khususnya divisi anak dan perempuan melakukan kunjungan ke rumah korban atau melalui telepon untuk mengetahui kondisi korban selanjutnya, dan memantau perkembangan dari modal usaha yang telah diberikan agar korban bisa mandiri dan tidak lagi ketergantungan terhadap orang lain serta mengikutsertakan korban dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan Yayasan Pusaka Indonesia, dengan tujuan agar korban bisa memotivasi dirinya dan oranglain serta menambah pengetahuannya terhadap program yang di buat oleh Yayasan Pusaka Indonesia.

Dilihat dari bentuk permasalahan yang dihadapi oleh SW, maka diperlukan bantuan secara finansial agar SW mempunyai penghasilan untuk dirinya dan anak-anaknya serta juga untuk melepaskan dirinya dari ketergantungan terhadap mantan suaminya. Berikut penuturan SW :

“ Bapak Mitra memang pernah datang ke rumah kakak yang waktu itu kakak masih tinggal di rumah mama. Bapak Mitra datang hanya mengajak kakak berbicara saja dan menanyakan tetang kondisi kakak. Bapak Mitra juga bertanya sama kakak, tentang kegiatan yang sudah kakak lakukan setelah persidangan kemarin selesai”.

EJ juga menambahkan kalau Pak Mitra masih sering mendatangi kami untuk menanyakan kabar anak saya, bukan hanya datang kemari secara langsung tetapi juga menelepon kami dan juga rencananya SW akan meminta Yayasan Pusaka Indonesia untuk mendampingi SW dalam proses perceraian dimata hukum.

Bapak Mitra selaku koordinator divisi anak dan perempuan, selalu mengajak SW untuk ikut dalam CU (Credit Union) yang dikelola oleh Yayasan Pusaka Indonesia dengan tujuan agar SW bisa membuka usaha sendiri dan mampu secara ekonomi karena Yayasan Pusaka Indonesia mengetahui bahwa SW dulunya adalah ibu rumah tangga. Berikut penuturan SW :

“ Kakak memang pernah diajak bapak Mitra untuk bergabung dan menabung dengan CU yang dikelola oleh ibu Tina selaku koordinator kewirausahaan, hal tersebut dilakukan oleh bapak Mitra mungkin dengan tujuan agar kakak bisa mandiri dan mempunyai usaha sendiri. Kakak sangat tertarik sekali dengan ajakan tersebut, lagi pula untuk kerja di perusahaan atau tempat orang lain, sepertinya tidak mungkin karena usia kakak yang sudah kepala tiga. Kakak lebih tertarik untuk buat usaha sendiri”.

SW menganggap bahwa dirinya memang pernah diminta untuk datang ke Yayasan Pusaka Indonesia untuk menunjukkan perkembangan diri. Serta menceritakan apa saja yang menjadi kendalanya setelah lewati proses reintegrasi. SW juga mengatakan bahwa dirinya sangat tertarik untuk menabung atau meminjam uang di CU atau simpan pinjam.

Dalam beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Pusaka Indonesia, divisi anak dan perempuan akan mengajak atau selalu siap jika ada mantan klien yang pernah ditangani untuk mengajak kerja sama. SW belum pernah diajak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bentuknya seminar, workshop atau acara lainnya. Berikut penuturan SW :

“Kakak belum pernah diajak sama Pusaka Indonesia untuk melakukan kegiatan atau ikut dalam kegiatan yang dilakukan oleh Pusaka, lagi pula kakak sudah mau fokus sama usaha yang baru kakak buat. Ini pun kakak sudah mulai sibuk dan banyak waktu kakak diluar. Semua ini demi anak, kalau Pusaka punya acara yang berkaitan dengan usaha kakak dan diajak untuk kerjasama, kakak mau ikut”.

Peneliti juga melihat bahwa SW sudah bisa mandiri, dimana SW sudah punya usaha sendiri yaitu bisnis online dalam jual beli jilbab yang di produksi sendiri. Modal yang dimiliki SW berasal dari bantuan Yayasan Pusaka Indonesia yaitu CU dengan mengikuti prosedur yang dibuat oleh divisi kewirausahaan.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh EJ yang mengatakan bahwa SW tidak pernah diajak untuk ikut atau membuat kerjasama dalam satu kegiatan, mungkin saja kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Pusaka Indonesia, tidak sesuai dengan usaha yang baru dibangun oleh SW. EJ juga mengatakan bahwa dirinya sangat ingin melihat usaha anaknya maju dan sukses, agar SW dapat berdiri sendiri dari usaha dan kerja kerasnya.

5.4 Informan II

Nama : ART

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 29 tahun

Agama : Kristen Protestan

Jumlah Anak : 2 orang

Pelaku KDRT : FWT (Suami)

Bentuk KDRT yang dialami : Kekerasan Ekonomi (Penelantaran)

1. Upaya Investigasi

Hampir sama dengan SW yang mengalami kekerasan ekonomi (penelantaran) dan kekerasan fisik, tetapi ART hanya mengalami kekerasan ekonomi (pelantaran). Namun ART memang tidak separah SW yang harus mengalami 2 bentuk kekerasan sekaligus. Berikut hasil analisis advokasi korban kekerasan dalam rumah tangga yang dialami ART.

ART adalah ibu dari 2 orang anak, ia mengalami kekerasan ekonomi atau penelantaran, dimana pelakunya adalah suaminya sendiri yang berumur 33 tahun. Mereka sudah menikah hampir 3 tahun, ART yang sehari-hari adalah pegawai swasta. Mereka memutuskan untuk tinggal berdua dengan menyewa rumah dan semua barang yang mereka punya masih tergolong kredit.

Semua barang-barang rumah tangga mereka berasal dari kerja keras bersama. Selama 2 tahun menikah, suami ART selalu memberikan nafkah walaupun tidak tentu dikarenakan pekerjaan FWT yang tidak tentu. setelah 2 tahun usia pernikahan mereka, FWT mendapatkan pekerja disalah satu perusahaan distributor barang, dimana FWT bekerja sebagai karyawan swasta. ART yang juga bekerja di salah satu perusahaan komunikasi di Medan, karena kesibukan masing- masing, membuat mereka sering ribut, tetapi setahun terakhir sebelum masuk 3 tahun usia pernikahan mereka. Suami SW sering tiba-tiba memarahi istrinya. Ia juga jarang pulang dan memberikan nafkah kepada istri dan anak.

ART selalu mempercayai suaminya, ia tidak pernah merasa curiga dengan perilaku suaminya, berikut penuturan ART tentang peristiwa yang dialaminya :

“Suami aku sebenarnya orang yang baik dan penyayang. Kejadiannya pada bulan Maret tahun 2012, Dia mendapatkan pekerjaan yang bagus untuknya. Dia bilang kalau kehidupan kami akan lebih baik, apalagi kami sudah punya 2 anak, anak kami masih kecil umur mereka berbeda 1 tahun. Setelah 6 bulan bekerja, dia jadi jarang pulang ke rumah, jangankan untuk pulang, bahkan sudah 6 bulan kami tidak pernah dijumpai sama dia, bahkan memberi kabar saja dia tidak mau, padahal anak-anaknya masih kecil-kecil yang membutuhkan bapaknya. Bahkan aku sempat cuti untuk melahirkan anak kami. Sampai aku harus minta bantuan orangtuaku untuk memberi makan anak kami.”

Pada saat kejadian itu ART tidak mau langsung curiga, walaupun ada rasa curiga, bingung dan bahkan menangis, ART merasa kaget dan terkejut, karena suaminya tidak memberikan kabar dan keadaanya. Dari bentuk kekerasan ekonomi (penelantaran) yang ART mengalami tekanan psikis dan ekonomi. Pada saat itu juga ART bercerita kepada keluarganya dan keluarganya menyuruh ART untuk terus mencari tahu kabar tentang suaminya.

Bukan hanya kekerasan ekonomi yang ART alami tetapi juga kekerasan psikis, dimana ART sangat tertekan dengan kondisi finansial yang harus dihadapinya. Ditambah lagi usia anaknya yang masih 2 tahun dan 1 tahun yang sangat membutuhkan banyak biaya untuk membeli susu dan kebutuhan lainnya. NSR yang merupakan ibu kandung ART juga menuturkan bahwa anaknya sangat berjuang untuk hidup bersama FWT, karena dulu mantan suaminya ini adalah seorang yang tidak tentu kerjanya, NSR merasa bingung terhadap ART karena mau menikah dengan laki-laki yang tidak jelas masa depannya. Karena sudah menjadi pilihan ART, kami tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi bagaimana pun juga dia adalah anak, maka abang dan kakak dari ART selalu membantunya setelah selama 6 bulan suaminya tidak jelas kabarnya. Keluarga melihat bahwa ART harus bekerja sendiri dan mengurus 2 anak serta gaji yang masih belum cukup untuk kehidupan mereka. NSR juga menambahkan bahwa ia curiga kalau FWT telah selingkuh karena jarang pulang.

Penulis juga melihat bahwa NSR masih sangat kecewa dengan mantan menantunya. Setelah 6 bulan awal saja FWT memberikan kabar dan 6 bulan setelah itu tidak ada kabar, akhirnya ART mencari tahu tentang FWT melalui tempat kerjanya dan datang ke rumah orangtua FWT, awalnya tempat kerja tersebut tidak mau berja sama dengan ART tetapi tiba-tiba saja perusahaan yang bergerak dibidang distribusi barang tersebut mau bekerja sama dengan ART. Perusahaan mengatakan bahwa FWT sudah tidak bekerja lagi selama 1 minggu. Setelah itu ART langsung menghubungi teman dan orang-orang yang dia kenal untuk mencari FWT, setelah 3 minggu mencari akhirnya ART berhasil menemukan FWT di salah satu hotel mawar di Medan bersama perempuan yang tidak lain adalah teman satu tempat kerja dengan FWT. Berikut penuturan ART :

“Aku merasa tidak percaya, kalau suamiku selingkuh. Aku sempat drop karena kejadian tersebut, pada saat itu sampai 1 minggu aku terus saja menangis sampai-sampai aku jatuh sakit dan berobat ke Klinik, ternyata dokternya bilang kalau aku terlalu banyak berpikir dan lelah. Stres sedikit saja aku bisa sakit, apalagi kejadian ini membuat aku jadi stres sekali. aku tidak habis pikir, kenapa dia tega sekali menghianati kami. Padahal dulu aku berjuang untuk menikah dengannya, uang saja dia tidak punya, malah mau selingkuh. Dia memang tidak pernah memukul aku, bahkan saat ketahuan dia cuma diam saja, setelah kejadian itu aku langsung ke rumah orangtuaku”. Penulis pada saat mewawancarai ART, beliau terlihat sudah mulai tegar dan kuat, apalagi sekarang ART sudah bisa bekerja tanpa beban, semua itu ART lakukan untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya. Sekarang ART sudah tinggal di rumahnya sendiri. ART tidak lagi tinggal dirumahnya yang lama, karena rumah tersebut masih kredit. ART juga menjelaskan bahwa pada saat mulai masuk kerja lagi setalah cuti melahirkan. Ternyata belakangan ini suami ART meninggalkan hutang yang banyak kepada rentnir dan barang-barang rumah tangga yang mereka miliki.

ART juga menjelaskan bahwa rumah atas namanya pun terpaksa ART yang harus bayar, padahal rumah tersebut yang menggunakan adalah mereka berdua

apalagi suaminya yang seharusnya bertanggung jawab. NSR juga menjelaskan bahwa :

“Anak saya terlalu percaya sama mantan suaminya, sampai- sampai dia jatuh sakit, saya sedih sekali waktu lihat keadaan anak saya. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk anak saya, ini adalah takdir yang terbaik dari Tuhan untuk anak saya”.

ART merasa sangat terbantu dengan upaya yang diberikan oleh Yayasan Pusaka Indonesia. Yayasan Pusaka Indonesia banyak memberikan bantuan kepada ART mulai dari proses di kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. ART tahu tentang Yayasan Pusaka Indonesia dari temannya yang pernah menjadi klien juga. Berikut penuturan ART :

“Aku banyak dibantu sama Pusaka Indonesia, kalau tidak dibantu mungkin aku akan dibuat seperti bola yang diputar sana- sini. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, makannya waktu itu aku agak bingung. Untung saja ada teman aku yang menyuruh atau menyarani datang ke Pusaka Indonesia. Setelah di Pusaka Indonesia, aku disambut dengan hangat oleh mereka. aku terus didampingi selama proses hukum”.

NSR juga menambahkan bahwa dengan dibantu Yayasan Pusaka Indonesia, anaknya merasa tidak bingung lagi. Apalagi selama proses hukum berjalan, keluarga FWT tidak pernah mendatangi anak saya untuk berdamai atau meminta maaf, tetapi mereka sudah terlanjur sakit hati sama kelakuan FWT. FWT dulu datang melamar ART dengan baik-baik tetapi sekarang dia melakukan tindakan yang NSR rasa bahwa hal tersebut adalah hal menyakitkan.

Bahkan sampai hari ini ART masih trauma untuk berumah tangga kembali, padahal kejadian tersebut 1 tahun yang lalu. ART juga mengatakan:

“Apa karena orangtuaku yang sangat percaya sama dia, sehingga aku diperlakukan seperti ini. Apa tidak ada orang yang bisa mencintaiku dengan tulus, jangan hanya memanfaatkan kebaikan orangtuaku”.

Sampai sekarang dipikiran ART hanya untuk membesarkan anak-anaknya saja. ART juga sudah bekerja dengan sangat, karena ART sadar tidak mungkin orangtua, abang dan kakaknya yang terus membantunya. Apalagi ART mengatakan

bahwa kalau abang dan kakaknya terus membantunya pasti akan ada iri dan rasa tidak suka serta keributan dari salah satu saudaranya atau iparnya, walaupun tidak mengatakan secara langsung sama ART. Penulis juga melihat ART sudah mulai bangkit secara ekonomi, apalagi ART kuat juga karena anak-anaknya.

Dalam memberikan tempat yang layak agar ART merasa aman, tetapi selama proses hukum ART berjalan, ART sama sekali tidak pernah ditelepon dan didatangi oleh keluarga dari mantan suaminya, mereka sama sekali tidak ada meminta berdamai atau meminta maaf dengan ART. Berikut penuturan ART :