• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Pengertian Layanan Penguasaan Konten

Layanan penguasaan konten adalah salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan siswa dalam menguasai kemamapuan. Menurut Prayitno (2004:2), Layanan penguasaan konten adalah layanan bantuan kepada individu (sendiri-sendiri ataupun dalam kelompok) untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa lyanan penguasaan konten adalah layanan yang diberikan kepada individu berupa bantuan untuk menguasai suatu kemampuan atau kompetensi yang merupakan suatu kemampuan tertentu yang dimiliki oleh individu, yang mana kompetensi itu salah satunya berupa kerjasama yang dapat digunakan untuk mengembangkan perilaku prososial yang dimiliki.

Menurut Supriyo (dalam Hidayati, 2016:31) mendefinisikan layanan penguasaan konten :

Layanan pembelajaran yang sekarang layanan penguasaan konten adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi yang belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan kegiatan belajar lainnya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa layanan penguasaan konten adalah yang diberikan individu dalam mengembangkan sikap dan

kebiasaan belajar dengan memberikan materi yang cocok agar dapat mengentaskan permasalahan atau memecahkan permasalahan yang dialami oleh individu sehingga tidak terganggunya kehidupan sehari hari dengan terentaskannya permasalahan melalui layanan penguasaan konten maka tercapailah tujuan yang diharapkan. Dengan memberikan layanan penguasaan konten dapat mengatasi permasalahan yang dialami individu.

Menurut Prayitno (dalam Numri, 2015:49), yang menyatakan bahwa : Layanan penguasaan konten (PKO) merupakan layanan bantuan kepada individu (sendiri-sendiri atau dalam kelompok), untuk menguasai kemampuan atau kompetensi yang dipelajari itu merupakan suatu yang unik konten yang didalamnya terkandung fakta dan data, konsep dan proses, hukum atau aturan, nilai persepsi, efeksi, sikap dan tindakan yang terkait didalamnya layanan penguasaan konten membantu individu dalam menguasai aspek-aspek konten tersebut secara tersinergikan dengan penguasaan konten individu diharapkan mampu memahami kebutuhannya serta mampu mengatasi masalah-masalah yang dialaminya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa layanan penguasaan konten adalah dapat membantu individu menguasai aspek konten yang dapat membantu individu memahami serta mengatasi masalah yang dialami dengan memberikan layanan penguasaan konten dianggap sebagai kebutuhan individu. materi layanan disajikan melalui kegiatan belajar. Menurut Nirwana (2012:75) layanan penguasaan konten merupakan layanan bantuan yang diberikan baik kelompok maupun individu untuk mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi individu dalam masalah belajar didalamnya mencakup kesulitan dari luar atau dalam diri individu itu.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa layanan penguasaan konten adalah layanan yang diberikan kepada individu berupa bantuan untuk mengatasi permasalahan dalam berlajar yang didalamnya terdapat masalah belajar yang mencakup kesulitan yang dialami oleh diri

individu sehingga melalui layanan penguasaan konten dapat terentaskannya masalah yang dialami individu.

b. Tujuan Layanan Penguasaan Konten

Layanan Penguasaan Konten memiliki dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum layanan penguasaan konten adalah dikuasainya konten tertentu. Dengan terkuasainya konten ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah yang dialami atau yang dihdapai sehingga KES tidak terganggu.

Prayitno (dalam Sulistiyanto, 2014:28) dikelompokkan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus seperti berikut:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum layanan penguasaan konten adalah dikuasainya suatu konten tertentu. Penguasaan konten ini perlu bagi individu atau klien untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara kebiasaan tertentu untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah-masalahnya.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penguasaan konten dapat dilihat pertama dari kepentingan individu atau klien mempelajarinya, dan kedua isi konten itu sendiri.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami tujuan layanan penguasaan konten ada dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu agar klien dapat menanmbah wawasan dan pemahaman dalam menguasai konten tertentu dengan memberikan arahan penilaian dalam mengatasi masalah-masalah. Tujuan khususnya adalah disesuaikan dengan kebutuhan siswa atau bisa dipelajari dengan memberikan materi layanan penguasaan konten.

Tohirin (dalam Puspitarini, 2016:30-31) mengemukakan bahwa tujuan khusus layanan penguasaan konten terkait dengan fungsi-fungsi konseling adalah sebagai berikut:

1) Fungsi pemahaman, guru pembimbing dan peserta didik perlu menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi fokus layanan penguasaan konten.

2) Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan penguasaan konten memang terarah kepada terhindar kannya individu/ atau peserta didik dari mengalami masalah tertentu.

3) Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami klien.

4) Fungsi pengembangan dan pemeliharaan, pemberian konten tertentu dapat membantu individu dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dan memelihara potensi yang telah dikembangkan.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa fungsi yang akan digunakan adalah yang pertama fungsi pemahaman yaitu memberikan pemahaman mengenai permasalahan yang dialaminya sehingga dari permasalahan tersebut diberikan layanan oleh guru pembimbing. Kedua fungsi pencegahan, sebelum terjadi permasalahan yang besar diberikan pencegahan melauli layanan yang diberikan. Ketiga fungsi pengentasan yaitu apabila klien sedang mengalami suatu permasalahan maka untuk mengatasi permasalahan diberikan layanan. Terakhir fungsi pengembangan dan pemeliharaan yaitu terbatunya individu dalam mengembangkan semua potensi yang ada pada individu dan menjaga potensi yang berkembang.

Senada dengan Prayitno (2017:94-95) tujuan khusus layanan penguasaan konten terkait dengan funsi-fungsi konseling :

1) Fungsi pemahaman, menyangkut konten-konten yang isinya merupakan berbagai hal yang perlu dikuasai. Dalam hal ini seluruh aspek konten (yaitu fakta, data, konsep, proses, hukum dan aturan, nilai dan bahkan aspek yang menyangkut persepsi, afeksi, sikap dan tindakan) memerlukan pemahaman yang memadai. Konselor dank lien perlu menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi fokus layanan penguasaan konten.

2) Fungsi pencegahan, dapat menjadi muatan layanan penguasaan konten apabila kontennya terarah kepada terhindarnya individu atau klien dari mengalami masalah-masalah tertentu (atau kehidupan efektif sehari-hari terganggu (KES-T).

3) Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah (KES-T) yang sedang dialami klien.

4) Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan satu sisi dan sisi lain memelihara potensi individu atau sasaran layanan. Pembelajaran dalam layanan penguasaan konten dapat mengamban fungsi pemngembangan dan pemeliharaan potensi individu.

5) Penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya. Dengan demikian, layanan penguasaan konten dapat mendukung fungsi advokasi.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa fungsi dari bimbingan layanan penguasaan konten adalah untuk memberikan pemahaman kepada individu mengenai permasalahan yang terjadi di dalam dirinya, dalam layanan ini juga berfungsi agar individu dapat terhindar dari masalah yang dapat menghambat perkembangan dirinya, mampu mengentaskan dan mengembangkan semua potensi yang ada di dalam diri individu itu sendiri sehingga penguasaan konten tepat dan terarah yang memungkinkan individu membela diri terhadap pelanggaran hak atau adanya suatu ancaman.

Sedangkan Menurut Tohirin (dalam Rauhil, 2014:3), Tujuan dari layanan penguasaan konten adalah :

Agar siswa menguasai aspek-aspek konten atau kemampuan tertentu secara terintegrasi, dengan penguasaan konten oleh siswa akan

berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan pemilihan dan sikap untuk menguasai cara-cara tertentu memenuhi kebutuhan dan menguasai masalah-masalahnya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa tujuan dari layanan penguasaan konten adalah menguasasi aspek konten dengan memperluas wawasan yang mengarahkan pada pemilihan sikap diharapkan individu dapat memahami cara-cara tertentu memenuhi kebutuhan dan mengembangkan cara tersebut dengan harapan individu dapat menguasai masalah-masalah yang dialaminya.

c. Komponen Layanan Penguasaan Konten

Layanan penguasaan konten dapat terlaksana apabila mempunyai komponen pokok dalam layanan. Prayitno (2004:5) mengatakan komponen pokok layanan penguasaan konten :

1) Konselor

Konselor adalah tenaga ahli pelayanan konseling, penyelenggaraan layanan penguasaan konten dengan menggunakan berbagai modus dan media layanan.

2) Individu adalah subjek yang menerima layanan

3) Konten merupakan isi dari layanan penguasaan konten yaitu materi yang sesuai.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa komponen yang menjadi pokok dalam layanan pertama konselor. Konselor merupakan ahli dalam bidang konseling dan penggerak utama dalam memberikan layanan penguasaan konten yang dipercaya mampu menyelenggarakan layanan dengan menggunakan berbagai modus dan media layanan.

Selajutnya komponen yang kedua yaitu individu. individu menjadi komponen penting dalam layanan karena kalau tidak ada individu maka kepada siapa layanan akan diberikan karena tujuan dari layanan dikuasai

oleh konten tertentu adalah individu sebagai subjek dalam menerima layanan yang diberikan.

Sejalan dengan hal diatas komponen yang ketiga yaitu isi dari layanan yang diberikan oleh konselor. Materi yang diberikan dalam layanan ini terkait dengan pengembangan individu atau peningkatan tingkah laku individu yang diharapkan.

d. Azas Layanan Penguasaan Konten

Layanan Penguasaan Konten pada umumnya bersifat terbuka. Asas yang paling diutamakan adalah kegiatan yang ada didalam proses layanan.

Asas kegiatan ini dilandasi oleh asas kesukarelaan dan keterbukaan dari peserta layanan. Dengan ketiga asas tersebut proses layanan akan berjalan lancar dengan keterlibatan penuh peserta layanan.

Secara khusus, layanan penguasaan konten diselenggarakan terhadap klien tertentu. Layanan khusus ini dapat disertai asas kerahasiaan apabila klien dengan kontennya itu menghendakinya. Dalam hal ini konselor harus memenuhhi dan menepati asas tersebut.

Menurut Prayitno (2012 : 94), Ada 3 (azas) yang utama dalam pemberian layanan penguasaan konten walaupun masih banyak lagi azas-azas di dalam bimbingan dan konseling, di antara ketiga azas-azas-azas-azas tersebut antara lain :

1) Azas Kegiatan

Azas ini pada pola konseling multi dimensional yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor.

2) Azas kesukarelaan.

Klien diharapkan secara suka dan rela tantap ragu-ragu ataupun merasa terpaksa, menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan segenap fakta, data dan seluk-beluk kebenaran dengan masalah itu kepada konselor.

3) Azas Keterbukaan.

Klien di harapkan keterus terangan dan kejujuran dalam mengungkapkan masalah yang dihadapinya.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa ada tiga azas dalam layanan penguasaan konten pertama azas kegiatan yaitu proses layanan yang diberikan kepada individu yang membutuhkan dengan menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Kedua Azas kesukarelaan yaitu individu diharapkan secara sukarela tanpa adanya paksaan atau keragu-raguan dalam mengungkapkan permasalahan yang terjadi tanpa harus dibuat-buat atau yang sedang dialami klien kepada konselor. Terakhir azas keterbukaan, diharapkan klien jujur dalam mengungkapkan kondisi permasalahan yang dihadapinya dengan keterlibatan penuh peserta sehingga layanan penguasaan konten dapat diselengggarakan dengan baik.

e. Pelaksanaan Layanan Penguasaan Konten

Setiap layanan dalam bimbingan dan konseling memerlukan konsep yang matang sebelum diberikan kepada siswa, termasuk layanan penguasaan konten. Oleh karena itu pemberian layanan penguasaan konten memiliki tahap yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, tindak lanjut atau penilaian dan laporan. Prayitno (2017:104-105), menjelaskan operasionalisasi layanan penguasaan konten ke dalam beberapa tahap yaitu:

1) Perencanaan

2) Mengorganisasikan unsur-unsur dan sasaran layanan 3) Pelaksanaan

4) Penilaian

5) Tindak lanjut dan laporan

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa langkah-langkah pelaksanaan layanan penguasaan konten yaitu yang Setelah konselor menetapkan peserta layanannya maka ditentukan konten yang ingin dijelaskan kemudian tetapkan proses dan langkah-langkah layanan. setelah selesai merencanakan, kemudian mengorganisasikan unsur-unsur dan sasaran layanan. Konselor mempersiapkan media yang akan digunakan. Setelah itu barulah kegiatan layanan dilaksanakan. Konselor melakukan kegiatan layanan melalui proses pembelajaran penguasaan konten.

Setelah kegiatan dilaksanakan, selanjutnya dilakukan penilaian.

Penilaian disesuaikan dengan acuan, kompetensi, usaha, rasa, dan sungguh- sungguh (AKURS-nya). Penilaian berupa, penilaian segera (laiseg) yang dilakukan dalam proses layanan, penilaian jangka pendek (laijapen) yang dilakukan dalam jangka waktu satu minggu sampai satu bulan, serta penilaian jangka panjang (laijapang) yang dilakukan setelah satu bulan lebih setelah layanan diberikan.

Tahap terakhir adalah tindak lanjut dan laporan. Konselor membicarakan dengan pihak terkait tindak lanjutnya dan kemudian melaksanakannya. Tindak lanjut ini diiringi dengan penyususnan laporan secara lengkap dan menyampaikannya kepada pihak terkait serta mendokumentasikannya.

Dokumen terkait