BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Penulis memaparkan inti dari pembahasan penelitian serta analisis yang didapatkan berdasarkan data
AGAMA, NU DAN GERAKAN LINGKUNGAN
A. LPBI (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU) Terdapat Konsep Gerakan Ekoteologi Islam LPBI NU Lembaga
Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) merupakan lembaga relatif muda dibanding lembaga-lembaga NU lain. Tapi keberadaannya, nyata dirasakan warga nahdliyin, terutama
47
terkait dengan program penanggulangan bencana. Ruang Lingkup Pelaksanaan Program LPBI NU meliputi:
1. Bidang Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim.
• Departemen Pengelolaan Dampak Perubahan Iklim. Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi: pengelolaan program dan diklat berkaitan dengan Adaptasi, mitigasi, REDD (reducing emission form deforestation and forest degradation) atau pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, LULUCF (land used, land used change and forestry) atau penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan kehutanan.
• Departemen Konservasi dan Pengendalian Kerusakan Sumber Daya Alam. Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi: pengolahan sampah dengan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) atau KPD (kurangi, pakai ulang, daur ulang), pengurangan dampak pencemaran dan polusi, pengelolaan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya), pengelolaan degradasi lingkungan.
• Departemen Tata Kelola Lingkungan dan Pemanfaatan Energi Inovatif. Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi:
energi micro hydro, biogas, salinasi, penguatan kapasitas masyarakat, penguatan pesantren dan madrasah
2. Bidang Riset dan Pengembangan
48
• Departemen Pusat informasi dan Pengelolaan Pengetahuan.
Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi: formulasi pengembangan strategi, desiminasi hasil riset, dokumentasi &
pengelolaan informasi.
• Departemen Kajian dan Penelitian. Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi: Kajian dan pemetaan, kerentanan, potensi ancaman, kajian kebijakan berhubungan dengan kebencanaan, lingkungan hidup & perubahan Iklim
3. Bidang Pengurangan Risiko Bencana
• Departemen Kesiapsiagaan. Ruang lingkup Program khusus departemen meliputi: pendidikan, pelatihan dan simulasi terkait dengan pengurangan risiko bencana (PRB) dan Kesiapsiagaan.
Dengan adanya ruang lingkup program LPBI maka program tersebut dapat diimplementasi pada masyarakat yaitu : Pertama soal program clean and sefty untuk 3R (Reuse, Reduce, Recyle red).
Konsentrasinya pengelolan sampah. Sekarang sudah melalui tahap monitoring. Program ini kerja sama LPBI dengan JICA (Japan International Cooperation Aktorcy). Tempat pelaksanaan program ini di Jakarta Barat. LPBI memiliki mesin pengelolaan sampah. Kemudian bagaimana penguatan masyarakat dan sebagainya, ada rumah kompos.
Program Yang kedua adalah kegiatan Advokasi Kelembagaan Bencana (AKB). Program AKB ini yang pertama dilakukan adalah
49
berinisiatif dan mendorong penyusunan peraturan daerah (Perda) di delapan kabupaten. Ini merupakan kerjasama LPBINU dengan AIFDR (Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction). Kabupaten yang dimaksud seperti, Trenggalek, Tulungagung, Malang, Lumajang, Pasuruan, Mojokerto, Lamongan, dan Bojonegoro. Yang kedua, melakukan, tetap penguatan di tingkat masyarakat. Bagaimana masyarakat memiliki kemampuan dalam menanggulangi bencana. Kalau ditingkat pemerintah yang diperkuat itu pada regulasi dan tingkat penguatan kelembagaan, sistem dan struktur, kemudian kapasitas dalam pengelolaannya, kemampuannya dalam menanggulangi bencana. Itu yang dilakukan. Itu tiga hal yang dilakukan. Kalau yang lain-lainnya sama, monitoring empat bulanan ke delapan kabupaten.
Yang ketiga, LPBI NU memiliki yang disebut policy. Aliansi dengan beberapa organisasi, lembaga LSM, yang ini bekerja yang pertama di Platform Nasional tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Ini menekankan pada bagaimana melakukan pengarusutamaan penanggulangan bencana kepada masyarakat dan koordinasi kita itu langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Platform Nasional itu, ya secara tidak langsung itu jadi bagian dari perwakilan kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Itu unsurnya itu dari ormas, LSM, perusahaan, media, kemudian perguruan tinggi, pemerintah sendiri, BNPB.
50
LPBI NU juga bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh NU untuk mengumpulkan dana untuk setiap kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia, dana tersebut akan di donasikan kepada para korban yang terkena bencana alam hingga membuat posko kebencanaan. Tim NU yang tergabung dalam program NU-care tersebut membuka sejumlah posko, dapur umum, tenaga medis dan bantuan lainnya yang dapat digunakan para korban bencana alam. contohnya pada saat tsunami yang terjadi di Donggala, palu. NU menyediakan atau membangun 75 unit hunian sementara, sarana sanitasi, dan penghijauan di Desa Labean Donggala, serta memberikan 1000 paket peralatan pelajar bagi siswa di kabupaten Palu.
Program lain yang terimplementasi adalah sosialisasi LPBI NU kepada pihak-pihak yang lain. Melakukan kegiatan-kegiatan sosialisasi kepada berbagai pihak. PRB itu melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
Mengumpulkan kepala sekolah-kepala sekolah, guru-guru, kemudian bagaimana penanggulangan bencana itu ada di dalam lingkungan sekolahan. Fungsi LPBI NU sebenarnya bersifat mendorong masyarakat.
Tolok ukur keberhasilan LPBI NU, dari tahun pertama dari delapan kabupaten itu, sudah terbit perda penanggulangan bencana.
Program lainnya yaitu Eko Pesantren, Pondok pesantren di Indonesia merupakan “icon” pendidikan Islam yang telah terbukti mampu memberikan wajah dan nuansa politik, sosial, ekonomi, dan perubahan bagi masyarakat Indonesia. Dari pesantrenlah banyak bermunculan
51
pelopor-pelopor pemimpin Islam yang bukan saja terbukti mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa. Pondok pesantren banyak melakuan aksi-aksi lingkungan hidup yang dapat menjadi pelajaran bagi pesantren yang lain, dan dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Tetapi bagaimana agar pesantren dapat menjadi kontributor pada aksi lingkungan hidup secara terukur, termonitor, dan dapat dievaluasi. Secara teoritis tentang kearifan Islam dalam memelihara lingkungan, pesantren memberikan solusi program-program aksi konservasi dan lingkungan hidup yang dapat digerakkan melalui “basis pesantren ramah lingkungan”, yang berpengaruh pada masyarakat yang lebih luas. Program nasional eco pesantren, sebagai salah satu konsep gerakan ekoteologi Islam yang berhasil dikembangkan oleh ormas NU ini telah menjadi program nasional.
Gerakan lingkungan NU lainnya yaitu mengadakan kampanye untuk menyambut hari lingkungan hidup pada tahun 2015, LPBI NU menyelenggarakan Kampanye Go Green di Jakarta yang diikuti oleh para pengurus LPBI, santri dan siswa diwilayah Jakarta dan sejumlah masyarakat umum. Kampanye go green tersebut berisikan tentang penanaman pohon, kebersihan sanitasi, larangan merusak lingkungan dan penambangan hutan limbah ilegal. Karena LPBI juga memberikan perhatian khusus pada kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Dalam hal ini NU juga mengambil peran dalam ikut menjaga lingkungan hidup ini dari tangan yang tidak bertanggungjawab. Dan
52
mengajak kepada masyarakat untuk sadar akan lingkungan di sekitarnya.
Secara khusus, Pengurus Besar NU mengajak agar warga NU dan segenap masyarakat Indonesia untuk berjihad dalam melestarikan lingkungan (jihad bi’ah) dengan tetap berpedoman pada aqidah ahlussunnah wal jamaah yang secara rinci untuk mengaplikasikan nilai-nilai tasawuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini merupakan wujud bagaimana cinta kita kepada tanah air Indonesia. Dalam Muktamar NU di Cipasung tahun 1994bahwa sudah di bahas pula bagaimana hukum penecemaran, dan pengrusakan lingkungan.
Disana telah diputuskan bahwa setiap hal yang merusak lingkungan hukumnya haram, lebih dari itu termasuk tindakan kriminal. Sehingga pengrusakan lingkungan tidak hanya mendapat hukum haram dari agama, namun juga dapat hukuman dari negara. (www.nu.or.id).
Di luar NU, sebenarnya lembaga yang bisa dibilang bisa lebih merangkul mayoritas muslim Indonesia, yaitu MUI, sudah mengharamkan buang sampah sembarangan sejak Desember 2014 lewat Fatwa Nomor 47 Tahun 2014. LPBI NU merekomendasikan adanya fatwa lanjutan tahun 1994 di Cipasung untuk mengeluarkan kembali fatwa terkait sampah plastik. LPBI NU dengan Unit kegiatan BSN-nya sudah merencanakan adanya Fatwa tersebut untuk dibahas pada Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat. Forum tersebut membahas seputar bahaya
53
sampah plastik sehingga dikeluarkanlah fatwa hukum membuang sampah sembarangan.
Alasan munculnya fatwa haram buang sampah sembarangan didasarkan pada fakta tentang sampah sudah meresahkan dan merusak lingkungan. Selain itu, berdasarkan beberapa studi soal penelitian penanganan sampah pada 2012 didapati bahwa sampah yang diproduksi ini ditindaklanjuti tanpa dikelola sebanyak 7 persen, dibakar 5 persen, didaur ulang 7 persen dan dikubur 10 persen. Sampah plastik meski sudah tertimbun itu sulit terurai, bahkan butuh waktu hingga 200 tahun untuk terurai. Ada beberapa keputusan yang dibuat oleh forum tersebut, diantaranya mengharamkan membuang sampah sembarangan.hasil komisi ini mendorong pemerintah menerapkan sanksi kepada oknum yang membuang sampah sembarangan. Karena prinsip dasar syariat ialah menjaga hak asasi manusia secara umum.masalah sampah ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Terutama pihak terkait yang teledor dalam mengelola sampah. Dan, NU mengajak kepada masyarakat supaya memperhatikan tentang masalah sampah. Hal itulah yang mendorong perkembangan unit kegiatan BSN LPBI NU.
B. Bank Sampah Nusantara Lembaga Penanggulangan Bencana dan