IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1. Letak Geografis dan Administratif
Kota Pontianak terletak pada posisi 0002’24’’LU – 0001’37’’LS dan 109016’25’’BT – 109023’04’’BT dengan luas wilayah 107,82 km2. Secara administratif terdiri atas 5 (lima) Kecamatan, sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 5 Tahun 2002 yaitu, Kecamatan Pontianak Utara, Kecamatan Pontianak Selatan, Kecamatan Pontianak Timur, Kecamatan Pontia nak Barat dan Kecamatan Pontianak Kota (Gambar 3).
4.1.2. Iklim
Kota Pontianak termasuk daerah beriklim tropis tipe A dengan curah hujan rata-rata setiap tahunnya mencapai kisaran 2.800-3. 400 mm atau 233-283 mm/bulan dengan hari hujan 10-16 hari hujan/bulan, sedangkan temperatur rata- rata per hari mencapai 26,30C-26,90C dengan kelembaban mencapai 86% -89%, lamapenyinaran matahari rata -rata 59,16%. Curah hujan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir rata-rata 258,5 mm dengan kisaran antara 225,3 mm - 325,7 mm, keadaan iklim Kota Pontianak selama 10 (sepuluh tahun) terakhir disajikan pada Lampiran 2.
Berdasarkan kondisi iklim yang demikian Kota Pontianak secara ekologis termasuk dalam kategori keadaan yang kurang nyaman terutama dari sisi suhu dan kelembaban. Iklim ideal untuk kenyamanan manusia menurut Laurie (1984) adalah udara yang bersih, dengan suhu antara 10oC–26,7oC, kelembaban antara 40– 75 %, udara yang tidak terperangkap dan angin tidak kencang serta terlindung terhadap hujan. Iklim juga sangat berpengaruh terhadap kenyamanan yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat aktivitas seseorang (Mount 1979). Keberadaan RTH diharapkan dapat menurunkan suhu, walaupun mungkin kelembaban sulit dimodifikasi.
4.1.3. Topografi
Kota Pontianak terletak pada ketinggian sekitar 0,8-1,5 m di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan berkisar 0-2%, selain itu Kota Pontianak mempunyai karakteristik fisik alami yaitu wilayahnya sebagian besar dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut/sungai. Sekitar 5.227,36 ha (48,48%) dari luas Kota Pontianak merupakan lahan yang terpengaruh oleh pasang surutnya air laut/sungai (tergenang periodik), kawasan yang selalu tergenang 3,25 ha (0,03%), tidak terpengaruh oleh pasang surut air seluas 5.020,92 ha (46,57%), dan selebihnya yaitu 530,48 ha (4,92% ) merupakan daerah perairan sungai/saluran (Pemda Kota Pontianak 2002).
Berdasarkan data Bappeda Kota Pontianak (2002) kawasan yang dipengaruhi pasang surut dan rawan penggenangan di Kecamatan Pontianak Selatan 1.617,88 ha (55,09% dari luas Kecamatan), Kecamatan Pontianak Timur
714,01 ha (81,33% dari luas Kecamatan), Kecamatan Pontianak Barat 867,15 ha (43,12% dari luas Kecamatan), Kecamatan Pontianak Kota 776,78 ha (75,12% dari luas Kecamatan), dan Kecamatan Pontianak Utara 1.254,79 ha (37,71% dari luas Kecamatan). Urgensi pengembangan RTH Kota Pontianak berdasarkan ketergenangan tertera pada Tabel 5.
Tabel 5. Urgensi pengembangan RTH Kota Pontianak berdasarkan ketergenangan wilayah
Sumber: Bappeda Kota Pontianak 2002 dan analisis data
4.1.4. Jenis Tanah
Tanah yang terdapat di Kota Pontianak secara umum merupakan struktur batuan yang terbentuk dari sedimen alluvial yang terbentuk dari endapan rawa yang terdiri dari lempung dan lempung kelanauan, mengandung banyak sisa tumbuhan. Daerah yang jauh dari aliran sungai lapisan ini bagian atasnya ditutupi oleh lapisan gambut dengan ketebalan sekitar 32%, berwarna coklat, lunak dan lembab, apabila dalam keadaan kering mudah terbakar serta mudah terkikis oleh arus air. Jenis tanah lainnya yang mendominasi yaitu jenis tanah organosol (peat soil) dengan luas 5.592 ha (51,86%), jenis tanah alluvial dengan luas 2.715 ha (25,19%) dan jenis tanah gley dengan luas 2.475 ha (22,95%). Jenis tanah gambut terluas terdapat di Kecamatan Pontianak Utara yaitu 3.634,33 ha (97,64% dari luas kecamatan), Kecamatan Pontianak Selatan 1.780,51 ha (60,62% dari luas kecamatan), dan Kecamatan Pontianak Barat 177,15 ha (8,81% dari luas kecamatan).
Menurut data hasil digitasi Peta Penggunaan Lahan 1999/2000, keadaan kawasan gambut dibagi menjadi dua jenis, yaitu gambut dengan kedalaman kurang dari 1 m, secara umum terdapat mulai dari tepian Sungai Kapuas hingga 2- 3 km ke arah daratan, dan gambut dengan kedalaman 1 m atau lebih yang terdapat di atas jarak tersebut. Berdasarkan Kepres 80 Tahun 1999, lahan gambut dengan
No Bentuk Luas (ha) % Urgensi
1 Tergenang periodik 5.227,36 48,48 Tinggi
2 Tidak tergenang 5.020,92 46,57 Sedang
3 Selalu tergenang 3,25 0,03 Rendah
ketebalan kurang dari 3 m dapat digunakan untuk pengembangan kawasan budidaya pertanian, kehutanan, perkebunan maupun perikanan. Sedangkan kawasan dengan tipologi lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 3 m, sesuai Kepres 32 Tahun 1990 ditetapkan sebagai kawasan lindung atau konservasi. Urgensi pengembangan RTH Kota Pontianak berdasarkan jenis tanah tertera pada Tabel 6.
Tabel 6. Urgensi pengembangan RTH Kota Pontianak berdasarkan jenis tanah
Sumber: Bappeda Kota Pontianak 2002 dan analisis data
4.1.5. Hidrologi
Kota Pontianak terletak diantara dua buah sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak dengan lebar bervariasi berkisar antara 170 – 1.400 m. Badan air Sungai Kapuas terdiri dari 3 bagian yaitu; (1) Sungai Kapuas Besar dengan panjang 5,7 km, lebar 600-1150 m dan lebar rata-rata 787 m, kedalaman lebih dangkal dibandingkan bagian hulu yaitu 7-12 m atau rat-rata 8,3 m, (2) Sungai Kapuas Kecil dengan panjang 4,8 km, lebar 190-245 m, dan lebar rata -rata 217 m, kedalaman sungai antara 15-17 m atau rata -rata 16 m, (3) Sungai Landak dengan panjang 4,6 km, lebar 210-220 m, lebar rata-rata 253 m, kedalaman sungai 7-12 m atau rata-rata 8,3m. Sungai Kapuas berfungsi sebagai sarana transportasi, mata pencaharian masyarakat, sumber air bersih, river cathment dan sebagai drainase kota.
Berdasarkan fungsinya, maka kondisi sepanjang Sungai Kapuas cenderung mengalami perubahan dari kawasan konservasi menjadi kawasan terbangun. Pada kawasan sepanjang tepian Tugu Khatulistiwa di Kecamatan Pontianak Utara kondisi eksisting terjadi abrasi, sedangkan di sepanjang tepian Jalan Komodor Yos Sudarso Kecamatan Pontianak Barat kawasan mangrove berubah menjadi kawasan pergudangan, pelabuhan dan perumahan.
No Jenis tanah Luas (ha) % Urgensi
1 Gambut 5.592 51,86 Tinggi
2 Aluvial 2. 715 25,19 Sedang
Pada Sungai Kapuas dan Sungai Landak terdapat sungai-sungai serta parit- parit yang letaknya tersebar di beberapa wilayah kecamatan, fungsinya antara lain sebagai drainase kota dan transportasi. Parit-parit tersebut yaitu Parit Sungai Jawi yang terletak di Kecamatan Pontianak Kota dan Kecamatan Pontianak Barat, Parit Tokaya di Kecamatan Pontianak Selatan, Parit Sungai Selamat dan Parit Malaya di Kecamatan Pontianak Utara. Penyebaran parit dan sungai di Kota Pontianak tertera pada Tabel 7.
Tabel 7. Sungai dan Parit di Kota Pontianak
No. Kecamatan Kelurahan Sungai/Parit Keterangan
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pontianak Utara Batu Layang - Sungai Kapuas Besar - Parit Sungai Kunyit
- Sungai Utama
Siantan Hilir - Sungai Kapuas Besar - Parit Makmur - Parit Sungai Putat - Parit Sungai Selamat - Parit Sungai Sahang
- Sungai Utama
- panjang 6 km
Siantan Tengah - Sungai kapuas Besar - Parit Wan Salim - Parit Pekong - Parit Makmur - Parit Banseng
- Sungai Utama
Siantan Hulu - Sungai Landak - Parit Jawa - Parit Malaya - Parit Nanas - Parit Pangeran - Sungai Utama - panjang 5,96 km 2. Pontianak Selatan
Bangka Belitung - Sungai Kapuas Kecil - Parit Sungai Raya - Parit H. Husin - Parit Bangka - Parit Bansir
- Sungai Utama
Benua Melayu Laut - Sungai Kapuas Kecil - Parit bansir - Parit Tokaya - Parit Setia Budi - Parit Besar
- Sungai Utama
Benua Melayu Darat - Sungai Kapuas Kecil - Parit Tokaya - Parit Besar
- Sungai Utama - DAS > 1.00 ha
Parit Tokaya - Parit Tokaya - pj 7,5 km 3. Pontianak Timur Parit Mayor - Sungai Kapuas Kecil
- Parit Mayor
- Sungai Utama
Banjar Serasan - Sungai Kapuas Kecil - Parit H. Yusuf Karim
- Sungai Utama
Saigon - Parit H. Yusuf Karim - Parit Semerangkai Tanjung Hulu - Sungai Landak
- Parit Daeng Lasibe - Parit Langgar
(1) (2) (3) (4) (5) Tanjung Hilir - Sungai Landak
- Parit Kongsi - Parit Jepon - Parit Beting
- Sungai Utama
Dalam Bugis - Sungai Kapuas Besar - Parit Semerangkai - Parit Wan Bakar Kapur - Parit Beting
- Parit T ambelan - Parit Kongsi - Parit Pangeran Pati
- Sungai Utama
T ambelan Sampit - Sungai Kapuas Kecil - Parit Tambelan - Parit Wan Bakar Kapur - Parit Pangeran Pati
- Sungai Utama
4. Pontianak Barat Pal Lima - Parit Sungai Jawi - Parit Nipah Kuning Sungai Jawi Dalam - Parit Sungai Jawi
Sungai Jawi Luar - Sungai Kapuas Besar - Parit Sungai Jawi - Sungai Beliung
- Sungai Utama
Sungai Beliung - Sungai Kapuas Besar - Parit Sungai Beliung - Parit Sambas - Sungai Serok - Parit Nipah kuning
- Sungai Utama
5. Pontianak Kota Mariana - Sungai Kapuas Besar - Parit Sungai Jawi - Parit Syahbandar - Parit Mariana
- Sungai Utama - DAS >1.000 ha - pj 7,11 km
Tengah - Parit S. Bangkong
Darat Sekip - Sungai Kapuas Besar - Parit Besar
- Sungai Utama
Sungai Bangkong - Parit S. Bangkong
Sungai Jawi - Parit Sungai Kakap
Sumber: BPS Kota Pontianak 2003.
Tabel 7 di atas dapat dijelaskan bahwa Parit Tokaya dengan panjang 7,5 km dan Parit Sungai Jawi dengan panjang 7,11 km (panjang keseluruhan 19,68 km mencakup Kabupaten Pontianak), merupakan saluran drainase perkotaan dengan kategori besar, DAS lebih dari 1.000 ha. Kedua parit ini merupakan saluran drainase induk, dan daerah tangkapan air, di hulu kawasan ini didominasi oleh jenis tanah gambut yang mudah tererosi. Parit-parit ini sebelumnya dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi, dan sampai sekarang kadang-kadang masih dijumpai untuk membawa produksi pertanian dari daerah lain ke Kota Pontianak, sehingga pada kawasan sepa njang parit kadang-kadang terjadi abrasi.
Parit Sungai Selamatpanjang 6 kmdanParit Malaya panjang 5,96 km di Kecamatan Pontianak Utara merupakan drainase yang meliputi kawasan tangkapan air lahan gambut di bagian hulu. Parit-parit ini juga kadang-kadang dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi namun alat angkut yang digunakan jenis perahu (sampan) yang kecil, sehingga tidak menimbulkan abrasi sepanjang bantaran parit.
Pada bantaran Sungai Kapuas Besar yang terdapat di Kecamatan Pontianak Utara (Kelurahan Batu Layang, Kelurahan Siantan Hilir) dan Kecamatan Pontianak Barat (Kelurahan Sungai Jawi Luar, Kelurahan Sungai Beliung), sepanjang bantaran sungai yang bervegetasi mangrove sebagai kawasan konservasi berubah menjadi kawasan pergudangan, pelabuhan, dan pemukiman (Bappeda Kota Pontianak 2004). Bantaran sungai ini telah terabrasi akibat gelombang dan kikisan ombak, karena sungai merupakan sarana transportasi air. Kondisi Sungai Kapuas secara kualitas mengalami penurunan akibat pencemaran, dan intruisi air laut. Berdasarkan analisis kualitas air Sungai Kapuas sesuai Kepmen KLH No. 02/MEN-KLH/I/1998 tentang baku mutu air untuk keperluan pariwisata dan rekreasi (mandi, renang dan selam) nilai BOD Sungai Kapuas dengan nilai rata-rata kurang dari 6 mg/l. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan oksigen untuk biota air terpenuhi, karena kebutuhan oksigen bakteri untuk mendekomposisi bahan organik rendah. Nilai COD pada Sungai Kapuas tergolong rendah dengan rata -rata 22,89 mg/l. Hal ini menunjukkan tingkat pencemaran sungai oleh limbah domestik maupun industri, namun ada beberapa kawasan yang masih memiliki vegetasi dapat menurunkan nilai COD Sungai, karena jumlah oksigen terlarut cukup tersedia.
Dari penjelasan di atas, pengembangan RTH pada kawasan ini dapat berfungsi sebagai konservasi kawasan tepian air (riparian), dan sebagai penyeimbang ekologis sungai. Salah satu upaya pengembangan adalah dengan mempertahankan kawasan dengan habitat aslinya. Menurut Forman dan Godron (1986), koridor sepanjang sungai (riparian vegetation) berfungsi sebagai penahan kikisan gelombang, penahan aliran permukaan tanah mengandung sedimentasi, serta mengurangi kandungan partikel terkandung dalam sungai. Urgensi pengemba ngan RTH Kota Pontianak berdasarkan tingkat abrasi pada Tabel 8.
Tabel 8. Urgensi pengembangan RTH Kota Pontianak berdasarkan tingkat abrasi
Sumber: Bappeda Kota Pontianak 2002 dan analisis data
4.2. Kondisi Sosial Ekonomi