• Tidak ada hasil yang ditemukan

Liberalisme yang kemudian bermetamorfosa menjadi neoliberalisme telah menjadi prinsip yang tertanam kuat di dalam tata kelola perekonomian global pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua. Sampai detik ini, belum ada suatu al-ternatif paradigma yang dapat secara total menggantikan peranan dominan dari liberalisme/neoliberalisme pada tataran global. Analisis di dalam sub-bab ini berlandaskan pada suatu asumsi kritis bahwa posisi dominan paradigma liberalisme/neoliberalisme di tingkat global tidaklah dapat dilepaskan dari kepent-ingan aktor-aktor tertentu. Sebagai hasilnya, dampak positif dari implementasinya hanya akan dirasakan secara maksimal oleh segelintir aktor yang berada di balik kokohnya posisi paradigma tersebut. Analisis dalam bab ini memperlihatkan jejak sejarah upaya penanaman prinsip liberalisme dalam tata kelola perekonomian du-nia, sepak terjang institusi internasional dalam liberalisasi perekonomian negara-negara berkembang dan dampak negatif dari penerapan prinsip liberalisme tersebut. Berlandaskan pada perspektif kritis, bab ini dibagi ke dalam enam bagian. Pada bagian pertama, akan ditelusuri jejak sejarah awal ditanamkannya prinsip liberal-isme yang mencerminkan hegemoni visi dan kepentingan segelintir negara tertentu dalam tata kelola perekonomian dunia. Dilanjutkan pada bagian kedua dan ketiga yang mendeskripsikan upaya penanaman prinsip liberalisme secara sistematis di negara-negara berkembang oleh institusi finansial internasional. Pada bagian keem-pat dan kelima berisikan irisan kritis skema-skema strategi liberalisasi perdagangan dalam berbagai bentuk, baik secara multilateral melalui World Trade Organization (WTO), kesepakatan perdagangan bebas bilateral ataupun regional. Di bagian tera-khir akan dijelaskan secara kritis bagaimana dampak sesungguhnya dari implemen-tasi liberalisme/neoliberalisme di negara-negara berkembang.

Secara keseluruhan, bab ini memperlihatkan bahwa implementasi liberalisme/neoliberalisme merupakan akar dari tiga persoalan besar ekonomi yang melekat di dalam perekonomian negara-negara berkembang dalam bentuk keren-tanan fundamen ekonomi terhadap krisis, kemiskinan dan ketimpangan. Berlandas-kan pada hasil analisis tersebut, bab ini diposisiBerlandas-kan sebagai suatu pelajaran penting bagi agenda-agenda perekonomian lainnya, khususnya di tingkat regional yang ber-landaskan pada liberalisme/neoliberalisme. Sekaligus sebagai suatu bentuk pema-haman awal mengenai pentingnya fundamen ekonomi yang kuat dan kesiapan eko-nomi suatu negara dalam menghadapi arus liberalisasi ekoeko-nomi yang tak kunjung henti, mengingat betapa pahitnya beban yang harus ditanggung oleh kelompok ma-syarakat miskin di negara-negara berkembang sebagai imbas dari laju liberalisasi.

Sistem Bretton Woods, Jejak Awal Liberalisasi Ekonomi Internasional Kokohnya prinsip liberalisme yang tertanam di dalam tata kelola perekonomian dunia tidaklah terwujud melalui proses yang alami. Prinsip liberalisme yang sampai detik ini menjadi landasan perekonomian global dapat tertanam sebagai hasil dari campur tangan kekuatan kepentingan-kepentingan segelintir aktor yang meraup keuntungan dari lestarinya prinsip ini dalam tata kelola perekonomian dunia. Ber-bagai realitas negatif dan kepedihan yang merupakan imbas dari penerapan prinsip ini di berbagai belahan dunia seakan tidak terlihat dan tidak terdengar tertelan oleh kuatnya komitmen global untuk mempertahankan posisi dominan dari prinsip ini.

Bretton Woods, New Hampshire, 1-22 Juli 1944, 44 negara yang dipelopori oleh Amerika Serikat dan Inggris mengadakan suatu konferensi untuk membahas rancangan perekonomian dunia pasca perang di tengah Perang Dunia II yang masih berkecamuk. Momentum inilah yang menandai titik awal ditanamkannya prinsip liberalisme sebagai landasan dari tata kelola perekonomian global. Pemerintah negara-negara yang bertemu dalam konferensi tersebut bersepakat untuk menja-dikan kerjasama ekonomi internasional sebagai kunci bagi terciptanya perdamaian dan kesejahteraan dunia.1 Suatu hal yang menjadi catatan sejarah penting dari kon-ferensi ini terletak pada kesepakatan bahwa kerjasama ekonomi internasional ha-rus berlandaskan pada suatu pasar dunia, di mana barang-barang dan modal dapat bergerak dengan bebas.2 Pada titik inilah tercermin komitmen yang kuat terhadap peranan entitas pasar yang menjadi inti dari liberalisme ditanamkan sebagai lan-dasan tata kelola perekonomian dunia.

Namun demikian, fase Bretton Woods bukanlah merupakan satu-satunya fase dalam upaya penanaman prinsip liberalisme di tingkat global secara mendalam. Dialektika antara entitas negara dan pasar belumlah sepenuhnya dimenangkan oleh pasar pada fase Bretton Woods ini. Kesadaran akan kegagalan entitas pasar (market

failures) dalam mengelola perekonomian dunia telah melahirkan suatu kesepakatan

untuk menciptakan tiga institusi regulatoris yaitu the International Monetary Fund (IMF), the International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dan

International Trade Organization (ITO).3 Ketiga institusi inilah yang kemudian

berperan sebagai institusi regulatoris untuk mengelola perekonomian dunia yang berlandasakan pada kebebasan pasar.

Landasan tata kelola yang dihasilkan dari Konferensi Bretton Woods merupak-an sintesis merupak-antara pemikirmerupak-an ymerupak-ang mengedepmerupak-ankmerupak-an permerupak-anmerupak-an entitas negara dmerupak-an pas-ar. Pada satu sisi, rezim ekonomi internasional yang dilahirkan melalui Konferensi Bretton Woods merupakan suatu reaksi atas proteksionisme negara yang diterapkan pada tahun 1930-an.4 Pemikiran ekonomi klasik Adam Smith memainkan pengaruh besar dalam proses negosiasi Konferensi Bretton Woods. Keyakinan bahwa perda-gangan yang bebas dari hambatan dapat mencegah perang melahirkan perdamaian dunia menjadi landasan bagi ditetapkan kerjasama internasional yang berlandaskan pada kebebasan pasar dalam tata kelola perekonomian pasca Perang Dunia II.

Ker-1 Richard Peet, Unholy Trinity: The IMF, World Bank and WTO (London: Zed Books,

2003), 27.

2 Richard Peet, Unholy Trinity, 27.

3 Richard Peet, Unholy Trinity, 27.

jasama ekonomi pasca Perang Dunia II dimungkinkan dengan adanya perubahan ideologi proteksionisme yang berlaku pada tahun 1930-an.5 Kebijakan-kebijakan protektif yang diambil negara dalam bentuk tarif, kuota impor, kontrol mata uang, pembatasan ekspor kapital, diyakini sebagai akar dari bencana ekonomi.6

Pemikiran liberal yang memberikan ruang penting bagi peranan atau campur tangan pemerintah ala John Maynard Keynes, berada pada sisi dialektika lain dari negosiasi tatanan ekonomi dunia pada Konferensi Bretton Woods. Pertemuan yang berlangsung selama 22 hari di Bretton Woods untuk menentukan tatanan ekonomi dunia pasca perang menjadi momentum bagi perluasan pemikiran Keynes pada skala internasional. Pada tataran nasional, pemikiran Keynes mengenai intervensi negara dalam perekonomian, berlandaskan pada suatu asumsi mengenai penting-nya peranan pemerintah dalam pengelolaan kebijakan ekonomi domestik.7 Pemiki-ran ini memandang bahwa pengeluaPemiki-ran defisit pemerintah merupakan suatu lang-kah yang efektif, terutama dalam kacamata liberal untuk meningkatkan pelayanan sosial bagi masyarakat.8 Selain itu, pengalaman depresi ekonomi di tahun 1930-an juga memperlihatkan bagaimana prinsip pasar bebas tidak dapat menciptakan kese-jahteraan manusia secara spontan.9 Dengan kata lain, berlandaskan pada pemikiran ini, tata kelola perekonomian dunia pasca perang membutuhkan peranan pemerin-tah (negara) dalam menciptakan stabilitas. Pemerinpemerin-tah harus memainkan peranan atau tanggung jawab kolektif dalam mengelola sistem perekonomian dunia.10

Sintesis di antara kedua pemikiran yang pada dasarnya memiliki akar yang sama inilah yang kemudian menjadi landasan bagi lahirnya arsitektur finansial internasi-onal yang dikenal dengan istilah Sistem Bretton Woods. Meskipun sistem ini tidak dapat menjadi model yang mendamaikan persoalan “trilema” finansial internasi-onal dalam bentuk nilai tukar yang stabil, mobilitas modal dan otonomi kebijakan nasional,11 namun model ini mampu mensinergiskan kepentingan pemikiran liber-alisme klasik dengan pemikiran Keynesian yang memberikan ruang bagi peranan pemerintah dalam ekonomi. Jacob Viner misalnya, seorang pemikir liberal klasik dapat menerima model Bretton Woods dikarenakan keyakinan akan kesepakatan timbal balik merupakan satu-satunya cara untuk menciptakan perdagangan dan mo-bilitas kapital yang lebih bebas.12 Selain itu, peluang untuk kembali kepada kondisi pra-1914, di mana intervensi pemerintah sangat besar dalam perekonomian domes-tik dan internasional sudah dipandang tidak mungkin terjadi, semakin menegaskan keyakinan kepada model Bretton Woods ini.13

Atas dasar sintesis pemikiran inilah lahir Sistem Bretton Woods yang berangkat

5 Henry Hazlitt, From Bretton Woods to World Inflation: A Study of Causes and

Conse-quences (Chicago: Regnery Gateway, 1984), 53.

6 Henry Hazlitt, From Bretton Woods to World Inflation, 53.

7 Richard Peet, From Bretton Woods to World Inflation, 34.

8 Richard Peet, From Bretton Woods to World Inflation, 35.

9 Richard Peet, From Bretton Woods to World Inflation, 35.

10 Richard Peet, From Bretton Woods to World Inflation, 36.

11 Bill Dunn, Global Political Economy: A Marxist Critique (London: Pluto Press, 2009),

209.

12 Razeen Sally, Classical Liberalism and International Economic Order: Studies in Theory

and Intellectual History (London & New York: Routledge, 1998), 97.

dari standar tukar emas berlandaskan pada tiga prinsip fundamental.14 Pertama, nilai tukar yang dipatok namun dapat disesuaikan terkait dengan kondisi tertentu terutama ketika terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium). Kedua, diperbole-hkannya kontrol untuk membatasi arus kapital internasional. Ketiga, diciptakan suatu institusi baru, yaitu IMF, untuk mengawasi kebijakan ekonomi nasional dan menjadi penopang dana bagi negara-negara yang mengalami masalah ketidakseim-bangan neraca pembayaran.15 Ketiga elemen di dalam Sistem Bretton Woods ini dalam fungsinya saling melengkapi satu sama lain. Nilai tukar yang dipatok dan dapat disesuaikan dapat berjalan hanya ketika kontrol terhadap arus kapital dimiliki di mana terdapat ruang untuk melindungi nilai tukar arus kapital yang tidak sta-bil.16 Sementara itu, IMF menyediakan sumber dana untuk mempertahankan nilai tukar tetap di tengah tekanan pasar, IMF juga memainkan fungsi pengawasan bagi langkah-langkah kebijakan negara yang menyalahi aturan di dalam sistem.17 Secara lebih spesifik terdapat beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi model Bretton Woods:18

1. Prinsip kontrol internasional terhadap nilai tukar mata uang negara-negara di dunia. Berangkat dari depresiasi kompetitif mata uang di tahun 1930-an, Sistem Bretton Woods melahirkan suatu mekanisme yang dikenal dengan istilah “fleksibilitas terkelola” (managed flexibility). Dalam mekanisme ini, nilai tukar mata uang ditentukan berdasarkan standar emas, dengan nilai yang bervariasi, namun dapat dilakukan penyesuaian nilai tukar ketika berada dalam situasi drastis dan atas persetujuan IMF.

2. Terdapat suatu cadangan dana yang dapat disetorkan negara-negara kepada IMF dan dapat ditarik sewaktu-waktu ketika negara mengalami defisit neraca pembayaran atas persetujuan dari IMF. Dana yang disetorkan ini jumlah berdasarkan kuota yang telah diatur dalam kesepakatan dan terkait juga dengan hak suara masing-masing negara di dalam IMF.

3. Untuk menciptakan perdagangan multilateral, setelah lima tahun periode transisi, seluruh negara anggota harus menghapuskan kontrol nilai tukar sehingga mata uang dapat ditukarkan satu sama lain pada tingkatan resmi tanpa ada batasan atau diskriminasi kecuali mendapat persetujuan dari IMF.

4. Diciptakan suatu “mata uang langka” (scarce currency) untuk mengurangi instabilitas sebagai hasil dari surplus neraca pembayaran suatu negara. IMF memiliki wewenang terkait pengaturan dalam prinsip ini.

5. Dibentuknya suatu institusi permanen untuk memajukan kerjasama moneter internasional dan menyediakan mekanisme di mana negara-negara dapat berkonsultasi dan bekerjasama. Institusi tersebut adalah IMF, yang merupakan sebuah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang juga merupakan bagian dari institusi Bretton Woods bersama-sama dengan IBRD dan ITO. Prinsip-prinsip tata kelola ekonomi internasional yang diatur berlandaskan Sistem Bretton Woods mencerminkan bagaimana sinergi antara pemikiran

liberal-14 Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the International Monetary System,

2nd Edition (Princeton & Oxford: Princeton University Press, 2008), 91.

15 Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the International Monetary System,

91.

16 Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the International Monetary System,

92.

17 Barry Eichengreen, Globalizing Capital: A History of the International Monetary System,

92.

isme ekonomi klasik dengan pemikiran Keynesian. Tata kelola perekonomian inter-nasional pasca Perang Dunia II banyak yang menyebutnya sebagai era Keynesian, meskipun pada dasarnya pengaruh pemikiran terhadap kebijakan ekonomi sangat-lah kecil di luar Inggris dan Skandinavia.19 Terlebih jika, dicermati secara kritis dan mendalam, Sistem Bretton Woods lahir sebagai suatu pilihan jangka pendek pen-dukung liberalisme klasik untuk menanamkan secara mendalam prinsip liberalisasi jangka panjang dalam tata kelola perekonomian dunia.

Sepanjang sejarah, hegemoni selalu melekat dalam upaya tata kelola pereko-nomian dunia. Terkait dengan posisi negara-negara berkembang dalam jejak lib-eralisasi perekonomian internasional melalui penciptaan Sistem Bretton Woods, terdapat beberapa fenomena menarik yang muncul sebagai hasil irisan kritis ter-hadap sejarah. Pertama, Sistem Bretton Woods lahir sebagai hasil kompromi dan formalisasi kesepakatan Amerika Serikat dan Inggris. Sistem Bretton Woods meru-pakan wujud dari kompromi visi tatanan ekonomi pasca Perang Dunia II di antara kedua negara tersebut. Dalam pertemuan di Bretton Woods 1944, Amerika Serikat meletakkan prioritas pada kebijakan moneter yang stabil sebagai pelajaran dari goncangan ekonomi di tahun 1930-an.20 Sebaliknya, Inggris justru memprioritas-kan kebebasan kebijamemprioritas-kan moneter, terkait dengan pengalaman di tahun 1920-an, di mana bank sentral Inggris tidak memiliki kebebasan ruang gerak untuk menyesuai-kan kebijamenyesuai-kan dengan kebutuhan ekonomi.21 Lahirnya prinsip nilai tukar tetap yang dapat disesuaikan dan prinsip kontrol kapital merupakan buah kompromi dari dua visi yang bertentangan di antara kedua negara besar tersebut.22 Proses menuju terca-painya kompromi di antara keduanya, pada dasarnya tidaklah terjadi pada saat Kon-ferensi Bretton Woods. KonKon-ferensi ini lebih merupakan suatu wujud formalisasi kesepakatan dari kedua negara yang telah melakukan serangkaian pertemuan sebe-lumnya. Konferensi Bretton Woods merupakan bagian akhir dari proses negosiasi di antara departemen keuangan Amerika Serikat dan Inggris yang telah berjalan selama dua setengah tahun sebelumnya.23 Menurut Raymon Mikesell, yang meru-pakan ekonom Divisi Penelitian Moneter, Departemen Keuangan Amerika Serikat dari tahun 1942-1947, konferensi Bretton Woods merupakan sebuah pertemuan pe-nyusunan rancangan, di mana substansinya sebagian besar telah ditetapkan sebel-umnya oleh delegasi Amerika Serikat dan Inggris dengan dukungan dari Kanada.24

Bahkan, lebih jauh lagi, kesepakatan finansial di antara Amerika Serikat dan Inggris didasarkan pada kesepakatan politik sebelumnya di antara Presiden Franklin Del-ano Roosevelt dan Perdana Menteri Winston Churcill.25 Kesepakatan ini semakin menunjukkan adanya agenda tersembunyi di balik konferensi Bretton Woods. Me-lalui serangkaian kesepakatan bilateral, Amerika Serikat dan Inggris bersama-sama membentuk tatanan dunia berlandaskan pada perdagangan bebas dan prinsip

per-19 Bill Dunn, Global Political Economy, 135.

20 Barry Eichengreen, Global Imbalances and the Lessons of Bretton Woods (Cambridge,

Massachusetts: The MIT Press, 2007), 9.

21 Barry Eichengreen, Global Imbalances and the Lessons of Bretton Woods, 9.

22 Barry Eichengreen, Global Imbalances and the Lessons of Bretton Woods, 9-10.

23 Richard Peet, Unholy Trinity, 40.

24 Raymond Mikesell, The Bretton Woods Debates: A Memoir, Essays in International

Fi-nance, No. 192, March, (New Jersey: Princeton University Press, 1994), 34.

tukaran mata uang, yaitu sebuah dunia yang seusai dengan kepentingan ekonomi mereka sendiri sebagai negara industri dominan.26

Kedua, aturan yang berlaku di dalam institusi Bretton Woods, khususnya IMF

sangat mencerminkan kepentingan dari Amerika Serikat dan Inggris. Pengaturan hak suara di dalam institusi ini didasarkan pada kuota deposito dan iuran dalam dana stabilisasi IMF, bukan berdasarkan pada prinsip demokrasi di mana satu neg-ara memiliki hak satu suneg-ara. Amerika Serikat dan Inggris memastikan memiliki hak suara dominan atas kebijakan-kebijakan di dalam IMF. Dengan iuran sebesar US$ 2.750.000.000, Amerika Serikat menguasai sepertiga dari total kuota.27 Se-mentara Inggris berada pada posisi kedua teratas dalam jumlah iuran yaitu sebesar US$ 1.300.000.000.28 Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, IMF merupakan institusi yang memainkan peranan penting dalam tata kelola moneter internasional berdasarkan Sistem Bretton Woods. IMF menjadi institusi yang mengendalikan keputusan penyesuaian nilai tukar, pengawasan kebijakan dan pengucuran dana penyelamatan. Dengan posisi hak suara dominan di dalamnya, Amerika Serikat dan Inggris telah menanamkan visi dan memastikan dominasinya dalam tata kelola perekonomian global pasca Perang Dunia Kedua.

Ketiga, terwujudnya Sistem Bretton Woods dalam pengelolaan perekonomian

dunia juga tidak dapat dilepaskan dari adanya kepentingan-kepentingan finansial dari Amerika Serikat dan Inggris. Bretton Woods pada dasarnya lebih merupakan salah satu bentuk nafsu agresif pasar kapitalis pada skala global melampaui batas-batas negara-bangsa.29 Hal ini tercermin dari dukungan kepentingan-kepentingan finansial di kota London terhadap kesepakatan yang dicapai di Bretton Woods pada Juli 1944.30

Keempat, tujuan dari pertemuan Bretton Woods dinyatakan untuk menciptakan

landasan tatanan dunia yang lebih aman pasca Perang Dunia II, yang dapat meng-hindarkan dunia dari terulangnya kembali bencana di tahun 1930-an.31 Konferensi ini mencerminkan suatu komitmen terhadap pasar bebas yang dijadikan sebagai landasan dari tatanan dunia pasca perang. Dalam ranah politik, muncul kesediaan dari Amerika Serikat untuk menjadi anggota PBB dan dalam ranah ekonomi ter-dapat suatu komitmen terhadap pasar bebas (yang terkendali).32 Untuk memaju-kan perdagangan bebas, harus diciptamemaju-kan suatu mata uang yang diterima secara internasional sebagai instrumen perdagangan internasional. Di sisi lain, jika suatu negara mengalami defisit perdagangan maka akan muncul ketidakmampuan untuk membayar kebutuhan impornya.33 Dalam kondisi ini, perdagangan internasional dapat mengalami goncangan. Untuk itu dalam kesepakatan Bretton Woods didiri-kanlah institusi yang menyediakan dana pinjaman untuk menyelamatkan negara

26 Richard Peet, Unholy Trinity, 40.

27 Michael Hudson, Super Imperialism: The Origins and Fundamentals of U.S. World

Dom-inance (London: Pluto Press, 1972), 280.

28 Michael Hudson, Super Imperialism, 280.

29 Richard Peet, Unholy Trinity 33.

30 Bill Dunn, Global Political Economy, 37.

31 Ray Kiely, Empire in Age of Globalization: US Hegemony and Neoliberal Disorder

(Lon-don: Pluto Press, 2005), 89.

32 Ray Kiely, Empire in Age of Globalization, 89.

yang mengalami defisit perdagangan dan menyelamatkan perdagangan interna-sional secara keseluruhan. Persoalan inilah yang menjadi inti dari terbentuknya Sistem Bretton Woods, di mana komitmen terhadap perdagangan bebas sebagai prinsip liberalisme menjadi landasan bagi terciptanya suatu sistem yang menjadi landasan penataan perekonomian dunia. Masa Bretton Woods juga diwarnai oleh suatu bentuk “kedermawanan” dari Amerika Serikat melalui program pendanaan pembangunan kembali dunia pasca perang. Meskipun pada kenyataannya sikap Amerika Serikat tersebut tidaklah cukup dermawan dengan adanya kepentingan bagi negara pemenang perang tersebut untuk merekonstruksi perekonomian dunia guna menciptakan pasar bagi kepentingan perekonomiannya yang berlandaskan pada produksi skala besar yang hanya akan meraup keuntungan melalui pasar yang dapat menyerap produksi massif mereka.34

Kelima, dalam konteks posisi negara-negara berkembang dalam penciptaan tata

kelola perekonomian global, kenyataannya kelompok negara ini sedari awal berada posisi yang tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan negara maju. Suatu fakta tercatat dalam sejarah bahwa di dalam Konferensi Bretton Woods negara-negara berkembang dipandang hanya menjadi beban bagi negara-negara maju dalam men-gelola perekonomian dunia. Yang menjadi persoalan dalam konferensi ini bukan-lah terletak pada ketidakmampuan negara-negara berkembang dalam menawarkan gagasan yang menjadi landasan tata kelola perekonomian, akan tetapi lebih kepada terbatasnya ruang yang diberikan negara-negara maju bagi negara-negara berkem-bang untuk menanamkan sudut pandang mereka. Sebagaimana telah dijelaskan se-belumnya, kesepakatan yang dicapai dalam Konferensi Bretton Woods lebih meru-pakan wujud kompromi visi dari Amerika Serikat dan Inggris, sementara posisi negara berkembang hanya menjadi alat legitimasi dari kesepakatan yang menjadi landasan aturan yang berskala internasional tersebut. Konferensi Bretton Woods di-hadiri oleh delegasi dari 44 negara Sekutu, di mana Departemen Keuangan Amerika Serikat bertindak sebagai tuan rumah. Kondisi Perang Dunia II yang masih berke-camuk, menyebabkan hanya 15 negara yang dapat mengirimkan menteri keuangan mereka ke konferensi tersebut. Indikator yang menunjukkan posisi negara berkem-bang sebagai alat legitimasi dalam konferensi ini terlihat melalui terbatasnya ruang dan waktu bagi kelompok negara ini untuk mempelajari dan memposisikan sudut pandang mereka dalam penataan perekonomian dunia. Suatu pernyataan Keynes yang bernada arogan menjadi fakta menyedihkan bagi jejak sejarah peranan negara berkembang dalam proses penataan perekonomian dunia. Keynes mendeskripsikan konferensi tersebut, dalam pernyataan, ‘dua puluh satu negara yang diundang (ke Bretton Woods) tidak memiliki kontribusi apapun dan hanya akan menjadi beban.’35

Meskipun menyakitkan, pernyataan Keynes tersebut adalah fakta, di mana pada konferensi Bretton Woods tersebut 44 negara menandatangani suatu kesepakatan tanpa memiliki waktu atau kesempatan untuk membacanya.36

Keenam, meskipun kenyataannya negara-negara berkembang tidak diberikan

ruang yang cukup untuk menanamkan visi mereka dalam penciptaan suatu sistem

34 Ray Kiely, Empire in Age of Globalization, 89.

35 Samuel E. Sanderson, The Politics of Trade in Latin American Development (Stanford:

Stanford University Press, 1992), 30).

36 A. Van Dormael, Bretton Woods: Birth of a Monetary System (New York: Holmes and

dalam perekonomian global melalui Konferensi Bretton Woods, namun kelompok negara ini berpartisipasi secara penuh di dalam sistem tersebut.37 Sebagian besar negara berkembang mempertahankan penerapan nilai tukar tetap sejalan dengan pembatasan perdagangan dan kontrol kapital.38 Dalam kondisi ini semakin jelas posisi negara berkembang yang hanya menjadi obyek bagi sistem di mana mereka