ASEAN 2015
Penjelasan di dalam bab kedua dalam buku ini memberikan sebuah pesan yang sangat eksplisit bahwa kesiapan ekonomi merupakan sesuatu yang bersifat sangat mutlak bagi suatu negara jika tidak ingin menelan pil pahit keterpurukan ekonomi sebagai imbas dari implementasi neoliberalisme dalam beberapa skema, termasuk skema integrasi regional. Agenda pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN di tahun 2015, merupakan sebuah agenda integrasi regional yang berlandaskan pada neoliberalisme, sebagaimana telah diidentifikasi dan dijelaskan dalam bab tiga. Dengan demikian, Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki komitmen besar dan kuat terhadap agenda tersebut harus memiliki kesiapan ekonomi sebagai syarat mutlak jika tidak ingin tergilas dalam persaingan berbasis neoliberal ini.
Bab ini berupaya untuk memberikan potret secara kritis kondisi kesiapan eko-nomi Indonesia dalam menghadapi agenda Masyarakat Ekoeko-nomi ASEAN 2015. Terdapat lima aspek penting ekonomi yang akan ditelaah di dalam bab ini. Pada bagian pertama, akan diperlihatkan bagaimana bahwa pada kenyataannya, sektor industri manufaktur Indonesia, sebagai salah satu roda penggerak ekonomi, masih berada dalam keadaan yang terpuruk dan terus mengalami penurunan kinerja dan daya saing dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Bagian kedua mencoba untuk menganalisis kesiapan ekonomi Indonesia dalam agenda liberalisa-si sektor jasa, yang dikhususkan dalam jasa pariwisata. Faktanya, daya saing pari-wisata Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan tiga negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia, Thailand dan Singapura. Telaah terhadapi kualitas sumber daya manusia pada bagian berikutnya semakin memperlihatkan bagaimana penca-paian pembangunan manusia Indonesia dalam dimensi kesehatan dan pendidikan masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Teng-gara lainnya. Sebagai hasilnya, kualitas tenaga kerja yang lahir juga merupakan tenaga kerja yang tidak tidak terampil dan berpendidikan rendah. Sementara itu, agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN memprioritaskan pada fasilitas tenaga kerja yang terampil, bukan tenaga kerja yang tidak terampil dan berpendidikan rendah, yang merupakan bagian dominan dari angkatan kerja di Indonesia. Dalam aspek iklim investasi, sebagai aspek penting dalam agenda integrasi neoliberal, iklim yang ada di Indonesia juga masih kurang kondusif dan atraktif untuk dapat menarik modal asing dalam jumlah besar.
Berlandaskan pada telaah dalam kelima aspek penting ekonomi tersebut, bab ini berujung pada kesimpulan bahwa perekonomian Indonesia masih belum
memi-liki kesiapan yang memadai untuk dapat bersaing dalam agenda Masyarakat Eko-nomi ASEAN. Selain itu, berdasarkan telaah pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah Indonesia tahun 2004-2009 dan 2010-2014, tampak bahwa pemerintah Indonesia tidak memiliki langkah-langkah yang berarti dalam mempersiapkan perekonomian Indonesia dalam menghadapi agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Daya Saing dan Kinerja Industri Manufaktur Indonesia
Fenomena krisis utang luar negeri yang melanda negara-negara berkembang di tahun 1980-an, menjadi momentum bagi kegagalan asumsi teoritis paradigma neoklasik dalam bentuk keunggulan komparatif. Peristiwa ini membuktikan bahwa ketergantungan negara-negara berkembang terhadap spesialisasi ekspor produk ko-moditas mentah tidak dapat menjadi fundamen ekonomi yang kokoh dan berkelan-jutan. Asumsi konseptual mengenai perdagangan dalam bentuk terms of trade, menemukan kesesuaian dengan fakta empiris, bahwa keuntungan dalam perdagan-gan internasional akan diraup secara maksimal oleh negara-negara denperdagan-gan kara-kteristik industri manufaktur (pengolahan) yang kuat. Hal ini terjadi dikarenakan tidak hanya nilai tambah yang tinggi dari produksi manufaktur, akan tetapi juga dikarenakan karakteristik lain dari industri ini, terutama karakteristik produk ber-basis teknologi tinggi.
Pasca terjadinya krisis utang luar negeri negara-negara berkembang, kemudian terjadi pergeseran orientasi pembangunan ekonomi yang lebih menitikberatkan pada pengembangan industri manufaktur. Negara-negara berkembang, terutama di Asia Timur, secara bertahap mulai melakukan pergeseran ekspor dalam perdagan-gan internasional. Dari ekspor yang menperdagan-gandalkan pada produk-produk dasar atau komoditas mentah ke arah ekspor produk-produk menengah atau produk akhir. Se-hingga tidak heran, kemudian pada awal tahun 1990-an lebih dari 60 persen ekspor negara-negara Asia Tenggara dan Timur ke Jepang misalnya, merupakan barang-barang manufaktur.1 Sepanjang tahun 1980-an, persentase sektor manufaktur ter-hadap PDB negara-negara Asia Timur mengalami peningkatan sampai hampir me-nyentuh 35 persen.2 Angka ini bertahan pada posisi di atas 30 persen pada tahun 1990-an.3
Pergeseran ini mencerminkan suatu kesadaran dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang mengenai pentingnya kebijakan pengembangan indus-tri manufaktur. Karakteristik utama dari indusindus-tri manufaktur terletak pada aktifitas ekonomi yang berupaya untuk mengubah barang dasar menjadi barang jadi atau setengah jadi dengan cara mekanis, kimia ataupun dengan tangan. Melalui upaya pengolahan ini, dapat diperoleh suatu peningkatan nilai barang dari yang bernilai
1 Dilip K. Daas, Regionalism in Global Trade (Cheltenham & Northampton: Edward Elgar,
2004), 126.
2 United Nations Industrial Development Organization, Industrial Development Report
2009, Breaking in and Moving Up: New Industrial Challenges for the Bottom Billion and the Middle-Income Countries (UNIDO, 2009), 6.
3 United Nations Industrial Development Organization, Industrial Development Report
rendah atau kurang menjadi barang yang bernilai lebih tinggi, yang berorientasi kepada barang-barang fase akhir, yang siap dikonsumsi. Karakteristik inilah yang menjadikan industri manufaktur menjadi landasan bagi terbangunnya fundamen ekonomi yang kokoh bagi suatu negara. Bahkan Fred Zimmerman dan Dave Beal menyatakan bahwa industri manufaktur memiliki kaitan yang sangat vital terha-dap kesejahteraan.4 Tidak hanya negara-negara maju yang merasakan manfaat dan keuntungan dari keutamaan industri manufaktur, terutama dalam kemampuannya dalam menghasilkan nilai tambah dan memenuhi kebutuhan manusia. Pada dekade terakhir abad ke-20, semakin banyak negara yang merasakan manfaat dari upaya industri manufaktur bernilai tambah tinggi terhadap kehidupan masyarakat.5
Industri manufaktur, pada dasarnya merupakan kunci bagi keberhasilan ekono-mi negara-negara maju dalam menaiki tangga pembangunan. Melalui campur tan-gan pemerintah yang sangat besar dalam sejarah perkembantan-gan ekonomi Amerika Serikat dan Inggris, kedua negara ini dapat tumbuh menjadi negara industri maju di dunia. Industri-industri baru berhasil dikembangkan di kedua negara ini yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya campur tangan pemerintah.6 Analisis historis Ha-Joon Chang, memperlihatkan bagaimana strategi pembangunan negara-negara yang saat ini berada dalam kelompok negara maju tersebut dilandaskan pada strate-gi pembangunan industri yang ditopang oleh nasionalisme ekonomi.7 Bahkan untuk mengembangkan industri manufaktur dalam negerinya, negara-negara ini menerap-kan kebijamenerap-kan proteksionisme untuk melindungi industri domestik, yang ironisnya menjadi suatu kebijakan yang “haram” untuk dilakukan negara-negara berkembang selama beberapa dekade terakhir.8
Berlandaskan pada prinsip nasionalisme ekonomi, dalam bentuk proteksi dan subsidi, negara-negara maju berhasil membangun fundamen ekonomi yang kokoh berlandaskan pada industri manufaktur.9 Meskipun perjalan ekonomi dunia me-nyaksikan pergeseran ke arah industri di bidang jasa, stuktur perdagangan negara-negara maju tetap mencerminkan peranan penting industri manufaktur bagi pereko-nomian (lihat Tabel 4.1). Di Amerika Serikat, sebagai contoh, persoalan ekonomi yang dihadapi pada paruh kedua dekade 2000-an berjalan seiring dengan penurunan performa industri manufaktur. Sebelumnya, pada dekade 1990-an, peranan industri manufaktur sangat besar bagi perekonomian Amerika Serikat. Sektor manufaktur di negara ini mengalami pertumbuhan sebesar 47 persen dari tahun 1992 sampai 2000.10 Produksi barang-barang yang berdaya tahan lama, seperti mobil, pesawat, dan peralatan pengolah data, mengalami peningkatan 73 persen selama periode ini.11 Peningkatan luar biasa produktifitas manufaktur Amerika Serikat menjadikan negara ini tidak tertandingi oleh produksi negara-negara maju lainnya. Besarnya
4 Fred Zimmerman & Dave Beal, Manufacturing Works: The Vital Link Between
Produc-tion and Prosperity (Chicago: Dearborn Financial Publishing, Inc., 2002), 1.
5 Fred Zimmerman & Dave Beal, Manufacturing Works, 17.
6 Ha-Joon Chang, Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical
Perspec-tive (London: Anthem Press, 2002), 3.
7 Ha-Joon Chang, Kicking Away the Ladder, 19-51.
8 Ha-Joon Chang, Kicking Away the Ladder, 19-51.
9 Dodi Mantra, Jurus Tendang Tangga China, Kompas, 4 Februari 2010
10 Fred Zimmerman & Dave Beal, Manufacturing Works, 6.
pengaruh industri manufaktur terhadap perekonomian Amerika Serikat tercermin dari defisit perdagangan yang menandai semakin memburuknya performa ekonomi negara adi daya ini (lihat Gambar 4.1). Perkembangan aktifitas ekonomi di sektor jasa yang sangat rapuh, terutama di bidang finansial, menjadikan beban berat bagi perekonomian Amerika Serikat.
Tabel 4.1
Perubahan Struktur Perdagangan berdasarkan Kelompok Negara tahun 1990 dan 2005
Sumber: Bill Dunn, Global Political Economy: A Marxist Critique (London: Pluto Press, 2009), 182.
Industri manufaktur juga memainkan peranan yang sangat besar bagi perekono-mian negara-negara Uni Eropa. Industri manufaktur merupakan tulang punggung bagi perekonomian Eropa. Sebanyak lebih dari 2.230.000 perusahaan di 23 sektor industri memberikan lapangan pekerjaan sebesar lebih dari 34 juta.12 Nilai tambah yang dihasilkan dari sektor manufaktur Eropa mencapai 1.630 milyar Euro, dengan 70 persen di antaranya berasal dari enam bidang utama, yaitu otomotif, peralatan elektronik dan optik, bahan makanan, kimia, produk metal dasar dan fabrikasi serta mekanik.13 Sektor manufaktur memainkan peranan besar bagi keuntungan Uni Er-opa dalam perdagangan internasional (lihat Gambar 4.2). Bahkan begitu besarnya peranan sektor industri manufaktur bagi masa depan perekonomian tidak hanya Eropa, tetapi juga dunia, Uni Eropa telah melakukan upaya transformasi paradig-ma terkait dengan pembangunan yang berkelanjutan dan kompetitif (Competitive
Sustainable Development) ke arah pembangunan manufaktur berkelanjutan dan
kompetitif (Competitive Sustainable Manufacturing).14 Melalui perhatian dan pen-geluaran besar di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi serta inovasi (Education, Research and Technological Development and Innovation/ E&RTD&I), Uni Eropa merupakan kelompok negara yang mengedepankan upa-ya pengembangan industri manufaktur sebagai kunci keberhasilan pembangunan ekonomi dunia.15 Tercatat sebesar 80 persen pengeluaran di bidang penelitian dan pengembangan teknologi (RTD) sektor swasta di Uni Eropa dialokasikan pada
sek-12 F. Jovane, E. Westkamper & D. Williams, The Manufuture Road: Towards Competitive
and Sustainable High-Adding-Value Manufacturing (Berlin: Springer, 2009), 12-13.
13 F. Jovane, E. Westkamper & D. Williams, The Manufuture Road, 12-13.
14 F. Jovane, E. Westkamper & D. Williams, The Manufuture Road, 8.
tor manufaktur.16 Langkah ini telah menghasilan produk-produk inovatif baru yang menopang 75 persen dari total ekspor Uni Eropa.17
16 F. Jovane, E. Westkamper & D. Williams, The Manufuture Road, 12.
Gambar
4.1
Struktur
Perdagangan Dunia 2005
Sumber: Bill Dunn,
Global Political Economy:
A Marxist Critique
Gambar 4.2
Struktur Sektoral Perdagangan Dunia berdasarkan Kawasan tahun 2006
Sumber: F. Jovane, E. Westkamper & D. Williams, The Manufuture Road:
To-wards Competitive and Sustainable High-Adding-Value Manufacturing (Berlin:
Springer, 2009), 13.
Keberhasilan China tumbuh sebagai raksasa ekonomi dunia selama dua dekade terakhir juga tidak dapat dilepaskan dari peranan pembangunan industri manufaktur. Bahkan dapat dikatakan bahwa industri manufaktur merupakan kunci bagi pertum-buhan luar biasa perekonomian negeri Tirai Bambu ini. Selama tahun 1990-2005, ekspor China mengalami peningkatan sebesar dua puluh lima kali lipat, diband-ingkan dengan peningkatan sebesar empat kali lipat yang dialami dua belas nega-ra eksportir terbesar di dunia pada periode yang sama.18 Pada tahun 2005, ekspor China mencapai sebesar 25 persen dari total ekspor seluruh negara selain dua belas eksportir teratas.19 Yang menjadi kunci dari keberhasilan perekonomian China ini terletak pada pembangunan industri manufaktur.20 Selama periode 2000-2005, sek-tor manufaktur memiliki porsi 32 persen dari PDB China dan 89 persen total ekspor barang.21 Hal ini menjadikan China semakin terspesialisasi di sektor manufaktur dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya (Lihat Tabel 4.2).22
Kon-18 Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufacturing Exports of
Other Developing Countries,” dalam Robert C. Feenstra & Shang-Jin Wei, China’s Growing Role in World Trade (London: The University of Chicago Press, Ltd. & National Bureau of Economic Research, 2010), 137.
19 Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufacturing Exports of
Other Developing Countries,” 137.
20 Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufacturing Exports of
Other Developing Countries,” 137.
21 Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufacturing Exports of
Other Developing Countries,” 137.
disi ini juga telah menjadikan China sebagai sumber pasokan utama barang-barang konsumsi dan produk manufaktur padat karya di dunia, yang juga telah memberi-kan tememberi-kanan pada harga produk di dunia.23
Tabel 4.2
Spesialisasi Sektor Manufaktur Negara-Negara Berkembang
Sumber: Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufac-turing Exports of Other Developing Countries,” dalam Robert C. Feenstra & Shang-Jin Wei, China’s Growing Role in World Trade (London: The University of Chicago Press, Ltd. & National Bureau of Economic Research, 2010), 139. Other Developing Countries,” 137.
23 Gordon H. Hanson & Raymond Robertson, “China and the Manufacturing Exports of
Sejalan dengan perkembangan ekonomi negara-negara Asia Timur dan Teng-gara lainnya, sektor manufaktur di Indonesia mengalami peningkatan pada periode 1980-2000. Pada periode tersebut, kinerja industri manufaktur Indonesia dikategor-ikan sebagai salah satu pemenang utama (main winners) bersama beberapa negara berkembang lain yang kebanyakan berasal dari kawasan Asia Timur.24 Pemerintah Indonesia sendiri mengakui dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Na-sional 2004-2009, bahwa sektor manufaktur merupakan motor bagi pertumbuhan ekonomi.25 Pada dasarnya, selama dua dekade sebelum krisis yang melanda Indo-nesia di penghujung tahun 1997, sektor manufaktur IndoIndo-nesia telah mengalami per-tumbuhan dan telah terlihat arah pergeseran orientasi ekspor yang mengandalkan pada spesialisasi industri manufaktur. Pada tahun 1996, tercatat pertumbuhan sektor industri pengolahan (manufaktur) 11,6 persen berdasarkan tahun dasar 1993.26
Namun demikian, performa sektor manufaktur yang cukup baik sampai dengan pertengahan tahun 1990-an ini, dihantam oleh krisis moneter yang menular dengan cepat dalam lingkup yang bersifat multidimensi. Pertumbuhan ekonomi yang dicer-minkan dari Produk Domestik Bruto Riil sebesar 7,8 persen di tahun 1996, mengal-ami penurunan menjadi 4,9 persen di tahun 1997 dan merosot dengan sangat tajam menjadi -13,7 persen di tahun 1998.27 Beban berat krisis ini juga membawa dampak yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sektor industri pengolahan (manufak-tur) Indonesia. Pertumbuhan pada level 11,6 persen di tahun 1996, anjlok menjadi 6,4 persen di tahun 1997 dan terpuruk pada level 12,9 persen di tahun 1998.28 Se-bagai imbasnya, penurunan pertumbuhan industri manufaktur ini berdampak pada penurunan nilai ekspor nonmigas yang mengalami penurunan sebesar 12,3 persen atau sebesar US$ 40,3 miliar, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 17 persen pada tahun sebelumnya.29 Khusus di bidang manufaktur, nilai ekspor barang pada sektor ini menurun 14 persen dibandingkan dengan kenaikan sebesar 18,1 persen pada tahun sebelumnya (lihat Tabel 4.3).30 Selain itu, imbas dari krisis ini juga telah membawa dampak pada menurunnya nilai ekspor nonmigas Indonesia, terutama penurunan tajam di sektor manufaktur (lihat Gambar 4.3).
Pemerintah Indonesia pada dasarnya sangat menyadari dan mengakui peran-an penting sektor mperan-anufaktur sebagai motor penggerak ekonomi. Selama periode awal krisis, meskipun mengalami kemerosotan yang tajam, sektor manufaktur tetap menjadi andalan utama sektor nonmigas dengan komposisi 76,8 persen dari perole-han devisa ekspor Indonesia masih bertumpu pada sektor ini.31 Berlandaskan pada pentingnya sektor industri manufaktur, selama satu dekade pasca puncak krisis di tahun 1998, pemerintah Indonesia menyatakan diri telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kembali performa sektor industri ini. Berkaitan dengan agenda
24 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009.
25 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009.
26 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, 3.
27 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, 3.
28 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, 3.
29 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, 45.
30 Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, 45.
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, salah satu prioritas dan arah kebijakan pemban-gunan pemerintah adalah melalui peningkatan daya saing industri manufaktur.32
Sebagaimana disebutkan dalam RPJMN 2004-2009, kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan utilitas kapasitas terpasang; memperkuat struktur industri; mem-perkuat basis produksi; meingkatkan daya saing dengan tekanan pada industri yang menyerap lebih banyak tenaga kerja; memenuhi kebutuhan dalam negeri; memiliki potensi ekspor; serta mengolah sumber daya alam dalam negeri.33
Tabel 4.3
Nilai Ekspor Kelompok Barang Manufaktur
Sumber: Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999 ,47.
32 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian I.1-15.
33 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Gambar 4.3
Pertumbuhan Ekspor Nonmigas
Sumber: Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999 ,46.
Selain permasalahan penurunan pertumbuhan, industri sektor manufaktur juga diwarnai oleh persoalan penurunan daya saing yang telah berawal sebelum krisis tahun 1997.34 Bahkan penurunan ini telah mengindikasikan terjadinya deindustri-alisasi, yang ditunjukkan oleh gejala dalam bentuk tingkat realisasi kapasitas ter-pasang produksi (utilisasi kapasitas), jumlah perusahaan dan indeks produksi (lihat Tabel 4.4). Pemerintah mengidentifikasi penyebab utama permasalahan di sektor manufaktur ini terletak pada daya saing produk-produk manufaktur yang lemah.35
Untuk mengatasi persoalan daya saing yang melemah, dalam RPJMN 2004-2009, pemerintah telah menentukan arah kebijakan dalam berbagai bentuk seperti lan-dasan ekonomi makro yang kuat untuk meningkatkan kinerja daya saing manufak-tur, peningkatan sumber daya manusia di bidang manufaktur dan intervensi lang-sung pemerintah secara fungsional dalam bentuk investasi dan layanan publik pada hal-hal di mana mekanisme pasar tidak dapat berlangsung.36 Salah satu aspek utama dari intervensi tersebut terletak pada upaya pengembangan penelitian dan pengem-bangan (research and development/R&D) untuk pembaruan dan inovasi teknologi produksi.37
34 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian IV.18-3.
35 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian IV.18-3.
36 Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jang-ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian IV.18-6,7.
Jang-Akan tetapi, realitas empiris memperlihatkan bagaimana berbagai arah kebi-jakan pembangunan industri manufaktur yang dituangkan dalam RPJMN 2004-2009 tersebut tidaklah diterjemahkan secara spesifik dan nyata dalam implemen-tasinya di lapangan. Hal ini terbukti dari kegagalan pemerintah Indonesia melalui arah kebijakan tersebut, untuk meningkatkan kembali kinerja pertumbuhan dan daya saing industri manufaktur sebagai motor penggerak perekonomian. Selama periode 1998 sampai dengan 2009, industri manufaktur tidak memperlihatkan per-tumbuhan yang signifikan, bahkan terjadi kecenderungan penurunan (lihat Gambar 4.4). Pada tahun 1999 terlihat pertumbuhan industri pengolahan mengalami perbai-kan, menjadi sebesar 3,8 persen dibandingkan dengan -11,4 persen di tahun 1998.38
Angka ini mengalami peningkatan kembali menjadi 6,2 persen di tahun 2000, na-mun menurun kembali menjadi 4,3 persen di tahun 2001.39 Bahkan kecenderungan pertumbuhan industri pengolahan ini terus mengalami penurunan sampai pada titik terendah di tahun 2009 dengan nilai sebesar 2,11 persen (lihat Gambar 4.4).40 Data tersebut mencerminkan kondisi sektor manufaktur, terutama dari sisi produksi yang cenderung mengalami penurunan berdasarkan persentase pertumbuhan ekonomi.
Tabel 4.4
Indikator Sektor Industri Pengolahan Indonesia 1996-2002
Sumber: Lampiran Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian IV.18-3.
ka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, Bagian IV.18-6,7.
38 Laporan Tahunan Bank Indonesia 2000, 5.
39 Laporan Tahunan Bank Indonesia 2001, 5.
Gambar 4.4
Pertumbuhan Industri Pengolahan Indonesia 1996-2009
Catatan: Data tahun 1996 dan 1997 berdasarkan tahun anggaran dasar 1993, se-mentara data tahun 1998-2009 berdasarkan persentase pertumbuhan year on year (yoy).
Sumber: Berdasarkan indikator makroekonomi dalam Laporan Perekonomian Indonesia Bank Indonesia tahun 1996 sampai 2009.
Tabel 4.5
Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Sektoral)
Sumber: Laporan Perekonomian Indonesia Bank Indonesia 2009
Pemerintah Indonesia sendiri mengakui di dalam Rencana Pembangunan Jang-ka Menengah Nasional 2009-2014, bahwa dari sisi produksi, industri pengolahan nonmigas mengalami pertumbuhan rendah selama 2004-2009.41 Kondisi sektor manufaktur yang masih memperlihatkan kinerja yang rendah ini merupakan bukti bagi minimnya implementasi riil kebijakan pemerintah Indonesia untuk mem-persiapkan industri manufaktur dalam menghadapi agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Pemerintah Indonesia sendiri pada dasarnya telah mengidentifikasi beberapa permasalahan spesifik di sektor industri manufaktur, dalam bentuk seb-agai berikut: 42
41 Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2009-2014, I-82
Jang-1. KKN (korupsi, kolusi dan nepostisme) dan layanan umum yang buruk.
2. Cost of money yang relatif tinggi.
3. Administrasi perpajakan yang belum optimal. 4. Kandungan impor yang sangat tinggi.
5. Lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi. 6. Kualitas SDM yang relatif rendah.
7. Iklim persaingan yang kurang sehat. 8. Struktur industri masih lemah.
9. Peranan industri kecil dan menengah (termasuk rumah tangga) masih min-im.
10. Sebaran industri yang terpusat di Pulau Jawa.
Berbagai persoalan yang telah teridentifikasi tersebut diyakini menjadi penye-bab bagi terpuruknya daya saing ekspor, terutama dalam bentuk biaya overhead produksi yang tinggi, di mana pengeluaran untuk berbagai pungutan dan untuk biaya buruknya layanan umum menambah biaya overhead sekitar 8,7 persen – 11,2 persen.43 Dinyatakan dalam RPJMN 2004-2009 bahwa berdasarkan hasil