BAGAN 1: DASAR-DASAR FILOSOFIS BAGI IDEOLOGI PENDIDIKAN
4. Liberalisme Pendidikan
Bagi seorang pendidik liberal, tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Liberalisme pendidikan ini berbeda-beda dalam intensitasnya, dari yang relatif lunak, yakni liberalisme metodis yang diajukan oleh teoretisi seperti Maria Montessori, ke liberalisme direktif (liberalisme yang bersifat mengarahkan) yang barangkali paling sarat dengan muatan filosofi John Dewey hingga ke liberalisme non- direktif, atau ‘liberalisme laissez faire’ (liberalisme tanpa pengarahan) yang merupakan sudut pandang A.S. Neill atau Carl Rogers.
Beberapa landasan pendidikan Liberal (O’neill, 2002:352-354) yaitu:
1) Seluruh kegiatan belajar bersifat relatif terhadap sifat-sifat dan isi pengalaman personal. Pengalaman personal melahirkan pengetahuan personal, dan seluruh pengetahuan personal dengan demikian merupakan keluaran dari pengalaman/perilaku personal sehubungan dengan sejumlah kondisi objektif tertentu. (inilah prinsip dasar relatifisme psikologis)
2) Begitu subjektivitas (yakni sebuah rasa kesadaran personal yang diniatkan, yang semakin berkembang ke arah sebuah sistem diri yang mekar secara penuh, atau disebut juga ‘kepribadian’) muncul dari proses-proses perkembangan personal, seluruh tindakan belajar yang punya arti penting cenderung untuk bersifat
subjektif, dalam arti bahwa ia sebagian besar diatur oleh yang volisional, dan karenanya merupakan perhatian yang bersifat pilih-pilih atau selektif. (landasan subjektifisme).
3) Seluruh kegiatan belajar pada puncaknya mengakar pada keterlibatan dalam pengertian-inderawi yang aktif. (ini adalah landasan berbagai prinsip filosofis yang terkait dengan empirisme, behaviorisme, materialisme, dan empirisme biogis).
4) Seluruh kegiatan belajar pada dasarnya merupakan proses pengujian gagasan- gagasan, dalam situasi-situasi pemecahan masalah secara praktis. (prinsip dasar pragmatisme dan instrumentalisme).
5) Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu – dan, sebagai implikasinya, juga cara terbaik untuk hidup, karena belajar secara efektif adalah kunci ke kehidupan yang efektif – adalah dengan cara melakukan penyelidikan kritis yang diatur oleh pengertian-pengertian eksperimental, yang mencirikan cara berpikir ilmiah. (Landasan eksperimentalisme filosofis dan eksperimentalisme ilmiah).
6) Pengalaman kejiwaan yang paling dini – pengalaman yang dialami oleh orang yang belajar (the learner) pada waktu ia masih kanak-kanak, termasuk latihan- latihan emosional dan kognitif yang pertama-tama diterimanya – sangatlah penting karena pengalaman itu berlangsung lebih dulu ketimbang pengalaman- pengalaman logis dan psikologis lanjutannya. Pengalaman paling dini tadi menjadi landasan pembentukan kemapanan sistem-diri yang kemudian ada (dan pada gilirannya melahirkan subjektifitas), seperti juga menjadi dasar bagi proses- proses kepribadian yang lebih jauh lagi, yang muncul di usia yang lebih tua. (dasar sudut pandang psikologis developmentalisme).
7) Tindakan belajar dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensi emosional dari perilaku personal – yakni prinsip penguatan (reinforcement). Jika hal-hal lain setara, individu hanya mempelajari tindakan-tindakan yang menghasilkan konsekuensi-konsekuensi hedonis (kenikmatan atau ketidaknikmatan), entah itu yang bersifat fisik ataukah psikologis. Tindakan-tindakan netral yang sifatnya afektif (hedonis) tidaklah dipelajari (demi segala tujuan praktis), sedangkan perilaku yang dikuatkan secara negatif (artinya, ditolak) biasanya ditinggalkan
demi perilaku bercorak lain yang memunculkan (atau menjanjikan munculnya) corak-corak pergaulan yang lebih positif. Prinsip kesenangan/kenikmatan mengatur seluruh pengalaman manusia. Dalam kegiatan belajar, jika hal-hal lain setara, pengalaman kenikmatan menentukan apa yang harus dipelajari selanjutnya, dan penyelidikan eksperimental menjadi cara belajar yang efektif, dan karena itu berguna untuk memaksimalkan pengalaman kenikmatan/kesenangan selama mungkin. (landasan hedonisme psikologis).
8) Karena manusia adalah mahluk sosial yang bersandar pada orang-orang lain untuk bertahan hidup selama masa bayi dan kanak-kanak, dan bergantung kepada kondisi-kondisi budaya yang menjamin perilaku yang berhasil baik dalam persaingan antar-spesies, maupun dalam persaingan antar-masyarakat dalam spesies (manusia) itu sendiri, ataupun persaingan antar-individu dalam sebuah masyarakat; maka kegiatan belajar secara personal selalu berlangsung dalam konteks pengalaman sosial, dan hakikat serta isi pengalaman sosial itu, secara logis maupun psikologis, mendahului pengalaman yang murni bersifat personal. Dengan begitu, maka seluruh pengalaman personal sejalan dengan (atau cocok dengan) rumusan sosial mengenai kenyataan (rumus itu sudah ada lebih dulu dan sudah mendominasi). (Inilah landasan relatifisme budaya).
9) Penyelidikan eksperimental, seperti juga jenis persekolahan yang tersimpul di dalam orientasi nilai semacam itu, hanya bisa ada di bawah kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan dilakukannya penyelidikan eksperimental sejati, khususnya penerapan metode-metode penelitian ilmiah kepada berbagai persoalan personal dan sosial – bukan hanya sekadar diterapkan di wilayah ilmu-ilmu pengetahuan fisik yang bebas nilai saja. Singkatnya, sebuah proses penyelidikan personal yang bersifat terbuka dan kritis, jika diangkat menjadi sebuah sasaran/tujuan kolektif bagi masyarakat secara keseluruhan, menyiratkan adanya sejenis organisasi budaya yang mampu menyediakan berbagai prasyarat sosial, ekonomi, dan politik demi perwujudan pemikiran eksperimental. Penyelidikan personal apapun yang terbuka dan kritis memerlukan sebuah masyarakat yang terbuka (yang demokratis) yang berdiri di atas landasan pembagian kekuasaan ekonomis yang relatif merata, dan menampilkan hak-hak politik yang rinci dan gamblang, dalam
wilayah kebebasan berbicara, kebebasan berserikat, dan seterusnya. (Landasan cita-cita ‘demokrasi sosial’).
10) Berdasarkan kondisi-kondisi yang dipaparkan di atas, seorang anak dengan potensi rata-rata dapat menjadi efektif secara personal sekaligus bertanggungjawab secara sosial. Kecerdasan praktis terlatih, yang dipandang sebagai tujuan sosial, dapat menjadi dasar bagi lingkaran sinergisme positif sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, dan karena itu kecerdasan praktis yang terlatih mengabsahkan adanya sikap optimistis sehubungan dengan kemampuan manusia untuk mengatur dirinya sendiri secara cerdas.
Ideologi mendasar liberalisme pendidikan dengan demikian dapat diuraikan sebagai berikut.
Tujuan Pendidikan Secara Keseluruhan
Tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang efektif.
Sasaran-sasaran Sekolah
Sekolah ada lantaran dua alasan mendasar:
1) Menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara efektif bagi dirinya sendiri.
2) Untuk mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasarkan pada metode-metode ilmiah-rasional. Ciri-ciri Umum Liberalisme Pendidikan
1) Menganggap bahwa pengetahuan terutama berfungsi sebagai sebuah alat untuk digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis, bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan ke arah tujuan berupa perilaku efektif dalam menangani situasi-situasi sehari-hari.
2) Menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu, atau ketunggalan (singularitas) setiap pribadi sebagai sebuah pribadi.
3) Menekankan pemikiran efektif (kecerdasan praktis), mengarahkan perhatian utamanya kepada kemampuan setiap individu untuk menyelesaikan persoalan- persoalan personalnya sendiri secara efektif.
4) Memandang pendidikan sebagai perkembangan dari keefektivan personal. 5) Memusatkan perhatian kepada tatacara-tatacara pemecahan masalah secara
individual maupun berkelompok, menekankan situasi sekarang dan masa depan yang dekat sebagaimana dipahami berdasarkan kebutuhan-kebutuhan serta problem-problem individual yang ada.
6) Menekankan perubahan sosial secara tidak langsung, melalui perkembangan kemampuan tiap orang berperilaku praktis dan efektif, dalam mengejar sasaran-sasaran personalnya sendiri, menekankan perubahan-perubahan berskala kecil yang terus menerus/berkelanjutan, di dalam sebuah situasi yang pada umumnya stabil.
7) Berdasarkan kepada sebuah sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/atau prakiraan-prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan itu.
8) Dididirikan di atas tatacara-tatacara pembuktian secara ilmiah-rasional
9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada pengetahuan yang diperoleh dari pembuktian eksperimental dan/atau tatacara-tatacara pengambilan keputusan secara demokratis.
Anak Sebagai Pelajar
Seorang anak pada umumnya cenderung untuk menjadi baik (yakni, untuk menginginkan/melakukan tindakan yang efektif dan tercerahkan) berdasarkan konsekuensi-konsekuensi alamiah dari perilakunya sendiri yang terus berkelanjutan.
Perbedaan-perbedaan individual lebih penting ketimbang persamaan- persamaannya, dan perbedaan-perbedaan itu bersifat menentukan (determinatif) dalam penetapan program-program pendidikan.
Anak-anak secara moral setara, dan mereka mesti memiliki kesetaraan kesempatan untuk berjuang demi ganjaran-ganjaran sosial yang pada dasarnya disetarakan (dibagikan merata).
Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan diri yang bersifat sosial itu menjadi dasar bagi seluruh penentuan ‘diri’ selanjutnya: si anak adalah ‘bebas’ hanya di dalam konteks determinisme sosial dan psikologis.
Administrasi dan Pengendalian Pendidikan
Wewenang pendidikan harus ditanamkan di tangan para pendidik yang telah memperoleh latihan tingkat tinggi, yang memiliki komitmen terhadap proses penyelidikan kritis dan yang mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan sehubungan dengan informasi baru yang relevan.
Wewenang guru harus didasarkan terutama pada keterampilan-keterampilan yang dimilikinya dalam bidang pendidikan.
Sifat-sifat Hakiki Kurikulum
1) Sekolah harus menekankan keefektifan pesonal, melatih anak untuk menyesuaikan diri secara efektif dengan tuntutan-tuntutan situasinya sendiri sebagaimana ia memahami situasi tersebut.
2) Sekolah mesti menekankan pemecahan masalah secara praktis
3) Penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara praktis.
4) Pelajaran harus bersifat ditentukan lebih dulu/wajib sekaligus pilihan, dengan penekanan yang kira-kira seimbang/sama besar.
5) Penekanan harus diletakkan pada yang bersifat intelektual dan praktis melebihi yang akademik.
6) Sekolah harus menekankan penjelajahan yang terbuka dan kritis ke dalam masalah-masalah dan isu-isu kontemporer, sebagaimana itu semua dipahami sebagai hal-hal penting oleh para siswa sendiri. Penekanan utama mesti diarahkan ke pendekatan-pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan kegiatan kelompok serta bersifat antar-disiplin (keilmuan), melibatkan pelatihan dalam area-area tertentu seperti misalnya logika praktis, metode ilmiah, ilmu-ilmu pengetahuan sosial dan behavioral, sejarah, dans sebagian besar dari ilmu-ilmu alam serta humanistik.
Metode-metode Pengajaran dan Penilaian Hasil Belajar
Guru harus menyandarkan diri terutama pada tatacara-tatacara pemecahan masalah secara individual maupun kelompok yang diterapkan pada persoalan- persoalan yang dikenali berdasarkan minat-minat personal para siswa sendiri, penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara di ruang kelas yang lebih terbuka dan bersifat eksperimental.
Disiplin dan hapalan bisa bernilai jika ia diperlukan demi menguasai suatu keterampilan yang pada puncaknya akan diperlukan untuk menangani problema personal yang penting secara efektif. Namun kegiatan belajar cenderung untuk menjadi sebuah dampak sampingan dari sebuah kegiatan yang bermakna; dan disiplin serta hapalan harus ditekan hingga menjadi seminimal mungkin.
Kegiatan belajar yang diarahkan oleh siswa, seiring dengan perencanaan pendidikan yang bersifat persekutuan (kolaboratif) antara guru dengan para siswa, adalah kegiatan belajar yang lebih baik ketimbang yang ditentukan dan diarahkan oleh guru.
Sang guru mesti dipandang sebagai pengorganisir dan penuntun kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalaman belajar. Ujian yang didasarkan pada peragaan aktif (simulasi) yang bersifat praktis di kelas dalam situasi-situasi yang mirip dengan kehidupan cenderung lebih baik ketimbang ujian biasa lewat kertas dan pensil. Persaingan antar pribadi serta penjenjangan atau penyusunan peringkat nilai siswa harus diminimalisir dan/atau dilenyapkan sama sekali karena yang seperti itu menyuburkan sikap-sikap buruk dan melemahkan motivasi diri siswa.
Penekanan mesti diletakkan pada yang bersifat afektif (motivasi), yang membentuk dasar bagi yang kognitif; landasan-landasan inderawi, daya tangkap dan motorik-emosional juga penting artinya bagi kegiatan belajar.
Penekanan mesti diletakkan pada penyesuaian prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang ada sekarang dengan yang lebih baik. Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan adalah aspek pusat persekolahan yang normal, sebab keduanya menjamin kondisi-kondisi/syarat-syarat emosional yang diperlukan bagi berlangsungnya kegiatan belajar yang efektif.
Kendali Ruang Kelas
Para siswa harus dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri dalam arti seketika, namun haruslah diakui bahwa pertanggungjawaban siswa pada puncaknya tidak dapat dituntut dalam ranah konsep tradisional apapun tentang ‘kehendak bebas’
Para guru secara umum harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolok ukur tingkah laku; ia harus meminta nasihat/usulan dan persetujuan siswa dalam memapankan aturan-aturan tentang perilaku di dalam kelas.
Lantaran tindakan bermoral pada puncaknya adalah tindakan paling cerdas yang tersedia dalam situasi khusus yang manapun juga, maka pendidikan moral (pelatihan watak) pastilah merupakan keluaran sampingan dari tindakan guru membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya untuk memecahkan masalah secara efektif.