• Tidak ada hasil yang ditemukan

Liberasionisme Pendidikan

BAGAN 1: DASAR-DASAR FILOSOFIS BAGI IDEOLOGI PENDIDIKAN

5. Liberasionisme Pendidikan

Liberasionisme adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita mesti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Liberasionisme pendidikan mencakup sebuah spektrum pandangan yang luas, yang merentang dan liberasionisme pembaharuan yang relatif bersifat konservatif, yang diajukan dipertengahan 1960-an dalam berbagai protes menuntut hak-hak warga negara, ke komitmen yang kuat dan mendesak terhadap liberasionisme revolusioner (seringkali Marxis) dengan seruannya agar sistem pendidikan segera mengambil peran aktif dalam menggulingkan tatanan politik yang ada sekarang.

Bagi pendidik liberasionis, sekolah haruslah bersifat obyektif (rasional-ilmiah), namun tidak sentral. Sekolah memiliki fungsi ideologis: ia ada bukan hanya untuk mengajarkan kepada siswa bagaimanakah cara berpikir yang efektif (secara rasional dan ilmiah), melainkan juga untuk membantu siswa mengenai kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan, yang tersedia sehubungan dengan berbagai problema manusia yang terpenting. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka, namun ia mencakup komitmen tertentu terhadap rangkaian tindakan apa pun yang didukung oleh kesepakatan yang sarat pengetahuan dan bersifat obyektif dalam komunitas intelektual di suatu saat tertentu. Pada puncaknya, liberasionisme pendidikan adalah sebuah orientasi ‘berpusat pada problem atau tatacara’. Namun ia juga meliputi komitmen kedua yang kuat terhadap jawaban-jawaban terbaik yang dibuat oleh

kecerdasan yang terlatih. Ia memandang bahwa sekolah secara moral berkewajiban untuk mengenali dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolah pun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Ideologi dasar liberasionisme pendidikan adalah sebagai berikut.  Tujuan Pendidikan secara Menyeluruh

Tujuan utama pendidikan adalah untuk mendorong pembaharuan-pembaharuan sosial yang perlu, dengan cara memaksimalkan kemerdekaan personal di dalam sekolah, serta dengan cara membela kondisi-kondisi yang lebih manusiawi dan memanusiakan di dalam masyarakat scara umum.

Sasaran-sasaran Sekolah

Sekolah ada lantaran tiga alasan utama:

1) Untuk membantu para siswa mengenali dan menanggapi kebutuhan akan pembaharuan/perombakan sosial

2) Untuk menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan siswa supaya bisa belajar secara efektif bagi dirinya sendiri. 3) Untuk mengajar para siswa tentang bagaimana caranya memecahkan

masalah-masalah praktis melalui penerapan teknik-teknik penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasari oleh metode- metode ilmiah-rasional.

Ciri-ciri Umum Libersionisme Pendidikan

1) Menganggap bahwa pengetahuan adalah alat yang diperlukan untuk melakukan pembaharuan/perombakan sosial.

2) Menekankan manusia sebagai sebentuk keluaran budaya, budaya merupakan penentu-sosial kedirian.

3) Menekankan analitis objektif (ilmiah-rasional) serta evaluasi/penilaian terhadap kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik sosial yang ada.

4) Menganggap pendidikan sebagai perujudan yang paling utuh dari potensi- potensi khas tiap orang sebagai mahluk manusia.

5) Memusatkan perhatian kepada kondisi-kondisi sosial yang menghalang- halangi perujudan paling penuh dari potensi-potensi individu, menekankan masa depan (yakni, perubahan-perubahan dalam sistem yang ada sekarang, yang perlu untuk mendirikan masyarakat yang lebih manusiawi dan memanusiakan).

6) Menekankan perubahan-perubahan ruang lingkup besar yang segera harus dilakukan di dalam masyarakat yang ada sekarang, menekankan perubahan- perubahan penting yang akan mempengaruhi sifat-sifat hakiki dan pelaksanaan sistem sosial yang mapan.

7) Didasarkan pada sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/atau prakiraan- prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan semacam itu.

8) Didirikan di atas landasan prakiraan-prakiraan Marxis atau Marxis baru tentang seluruh kesadaran personal yang ditentukan oleh faktor sosial- ekonomis

9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi ada di tangan mereka yang memahami konsekuensi-konsekuensi patologis (bersifat merusak/berpenyakit) dari kapitalisme kontemporer dan segenap sikap sosial yang dihubungkan dengannya.

Anak-anak Sebagai Pebelajar

Anak-anak condong untuk menjadi baik (yakni, ke arah tindakan yang efektif dan tercerahkan) jika diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik (yakni bersifat rasional dan berkemanusiaan)

Perbedaan-perbedaan individual lebih penting ketimbang kesamaan-kesamaan individual, dan perbedaan-perbedaan itu bersifat menentukan dalam penetapan program-program pendidikan.

Anak-anak secara moral setara dan mereka mesti mendapatkan kesempatan yang setara untuk berjuang demi ganjaran-ganjaran sosial dan intelektual yang lebih luas, lebih mudah diakses, dan dibagikan secara lebih adil/merata.

Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan dari yang bersifat sosial ini menjadi landasan bagi penentuan ‘diri’ lanjutan, anak hanya bebas di dalam konteks determinisme sosial dan psikologis.

Administrasi dan Pengendalian

Wewenang pendidikan mesti ditanamkan di tangan minoritas yang tercerahkan, yang terdiri atas para intelektual yang bertanggung-jawab, yang sepenuhnya sadar akan kebutuhan objektif bagi perubahan-perubahan sosial yang konstruktif, dan yang mampu menanamkan perubahan-perubahan semacam itu melalui sekolah-sekolah.

Wewenang guru mesti terutama didasari ketajaman intelektualnya serta kesadaran sosialnya yang tercerahkan.

Sifat-sifat Hakiki Kurikulum

1) Sekolah harus menekankan pembaharuan/perombakan sosio-ekonomis 2) Sekolah mesti memusatkan perhatian pada pemahaman diri serta tindakan

sosial sekaligus.

3) Penekanan mesti diletakkan pada tindakan yang cerdas dalam mengejar keadilan sosial.

4) Mata pelajaran harus bersifat pilihan dalam batas-batas penentuan yang umum.

5) Penekanan harus diletakkan pada penerapan praktis dari yang sifatnya intelektual (praksis) melebihi apa yang secara sempit bersifat praktis ataupun akademis.

6) Sekolah mesti menekankan problema-problema sosial yang kontroversial, menekankan pengenalan dan analisis terhadap nilai-nilai dan prakiraan- prakiraan dasar yang menggarisbawahi isu-isu sosial, dan memperagakan kepedulian khusus terhadap penerapan apa yang dipelajari di dalam ruang kelas kepada kegiatan-kegiatan yang punya arti penting secara sosial di luar sekolah; sekolah mesti secara tipikal menampilkan pendekatan-pendekatan antar-disiplin keilmuan yang berpusat pada problema, yang meliputi wilayah kajian seperti filosofi, psikologi, kesusasteraan kontemporer, sejarah, dan ilmu-ilmu behavioral dan sosial.

Metode-metode Pengajaran serta Penilaian Hasil Belajar

Harus ada penekanan yang kurang lebih seimbang atau setara pada pemahaman problema (pengenalan dan analisis terhadap problema-problema secara tepat) serta pemecahan masalah.

Disiplin dan hapalan mungkin kadang-kadang perlu supaya bisa menguasai sebuah keterampilan yang akan diperlukan demi manangani problema-problema personal atau sosial yang penting secara efektif, namun kegiatan belajar pada dasarnya adalah keluaran sampingan dari kegiatan yang bermakna, dan hapalan harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin.

Kegiatan belajar mengajar yang diarahkan oleh siswa dalam kerangka kerja kurikulum yang ditentukan berdasarkan relevansi sosialnya adalah lebih tinggi/lebih baik daripada belajar dengan ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sang guru dipandang sebagai panutan dalam hal komitmen intelektual serta keterlibatan sosialnya.

Ujian yang didasarkan kepada perilaku para siswa yang tanpa dilatih/dipesiapkan lebih dulu sebagai tanggapan atas persoalan-persoalan sosial yang penting adalah lebih disukai ketimbang ujian yang dinilai berdasarkan tes- tes biasa di ruang kelas.

Persaingan antarpribadi dan penyusunan peringkat nilai siswa secara tradisional harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin, sebab hal-hal semacam itu menuntun siswa pada sikap-sikap buruk dan motivasi diri yang merosot. Penekanan harus diletakkan pada perlunya lembaga-lembaga sosial yang baru (termasuk lembaga pendidikan).

Bimbingan dan penyuluhan personal, serta terapi kejiwaan, sebagaimana ada di luar sekolah di saat ini, umumnya berfungsi sebagai bentuk tersembunyi dari kontrol sosial dan pelatihan penyesuaian diri anak, yang menghalangi kesadaran anak akan kondisi-kondisi sosial yang melatarbelakanginya, yang melahirkan problema-problema kejiwaan individual.

Kendali di Ruang Kelas

Para siswa mesti dianggap bertanggungjawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri dalam arti seketika, namun mesti diakui bahwa pertanggungjawaban siswa pada puncaknya tidak bisa dituntut dalam arti menurut konsep ‘kehendak bebas’ tradisional.

Para guru harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolok ukur perilaku, dan tolok ukur semacam itu harus ditentukan secara bersama-sama dengan para siswa, sebagai cara mengembangkan rasa tanggung-jawab moral mereka.

Lantaran tindakan yang bermoral adalah tindakan yang paling cerdas, dalam situasi apapun, maka peningkatan kecerdasan praktis adalah corak pendidikan moral yang paling efektif. Di sisi lain, tindakan yang cerdas, sebagai sebuah cita-cita atau corak ideal secara sosial yang dianjurkan, memerlukan adanya masyarakat yang cerdas (yang objektif) di mana setiap orang diberi kesempatan yang setara untuk membuat pilihan-pilihan tercerahkan berdasarkan kesempatan-kesempatan pendidikan yang setara.

Dokumen terkait