• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Ekuitas Merek

4. Loyalitas Merek ( Brand Loyalty ) a.Pengertian Loyalitas Merek a.Pengertian Loyalitas Merek

Menurut Rangkuti (2009:60), loyalitas merek adalah suatu

ukuran kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Sedangkan menurut

Durianto dkk (2004:126), loyalitas merek merupakan suatu ukuran

keterkaitan pelanggan kepada sebuah merek.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa loyalitas

34

terhadap sebuah produk. Ukuran ini mampu memberikan gambaran

tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke produk lain,

terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik

menyangkut harga ataupun atribut lain. Apabila loyalitas meningkat,

maka dapat mengurangi kerentanan kelompok pelanggan dari serangan

kompetitor, sehingga laba yang optimal dapat diperoleh karena

loyalitas merek.

Menurut Yoo dkk (2000:203), indikator-indikator loyalitas merek

antara lain :

1) Konsumen menganggap dirinya loyal terhadap Merek X

2) Merek X akan menjadi pilihan pertama konsumen

3) Konsumen tidak akan membeli merek lain jika jika merek X

tersedia di toko

Menurut Kim dan Kim (2004:120), menyatakan bahwa

indikator-indikator loyalitas merek pada pengukuran Customer Based

Restaurant Brand Equity adalah sebagai berikut :

1) Konsumen mengunjungi restoran tertentu secara rutin

2) Konsumen berminat mengunjungi restoran tertentu lagi

3) Konsumen biasanya menjadikan restoran tertentu sebagai sebagai

pilihan pertama dibandingkan restoran lain

4) Konsumen puas dengan kunjungannya ke restoran tersebut

5) Konsumen akan merekomendasikan restoran tersebut kepada orang

35

6) Konsumen tidak akan beralih ke restoran lain di lain waktu

Dari teori- teori diatas maka dirumuskan indikator – indikator brand loyalty

sebagai berikut :

1. Konsumen membeli produk merek x secara rutin

2. Konsumen berminat membeli produk merek x lagi

3. Merek x akan menjadi pilihan utama konsumen

4. Konsumen merasa puas setelah menggunakan produk merek x

5. Konsumen tidak akan membeli merek lain jika merek x tersedia di toko

6. Konsumen akan merekomendasikan merek x kepada orang lain

7. Konsumen tidak akan beralih ke merek lain di lain waktu

8. Konsumen menganggap dirinya loyal terhadap merek x

b. Fungsi Brand Loyalty

Dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang benar, brand loyalty

dapat menjadi asset strategis bagi perusahaan. Berikut adalah beberapa

potensi yang dapat diberikan oleh brand loyalty bagi perusahaan:

(Durianto, dkk, 2004:127)

a. Reduced Marketing Costs (Mengurangi Biaya Pemasaran)

Biaya pemasaran untuk mempertahankan pelanggan akan lebih

murah dibandingkan dengan upaya untuk mendapatkan

pelanggan baru. Jadi, biaya pemasaran akan mengecil jika brand

loyalty meningkat. Ciri yang paling Nampak dari jenis pelanggan

ini adalah mereka membeli suatu produk karena harganya murah.

36

Loyalitas yang kuat terhadap suatu merek akan menghasilkan

peningkatan perdagangan dan memperkuat keyakinan perantara

pemasaran. Dapat disimpulkan bahwa pembeli ini dalam

membeli suatu merek didsarkan atas kebiasaan mereka selama

ini.

c. Attacing New Customers (Menarik Minat Pelanggan Baru)

Perasaan puas dan suka kepada merek oleh pelanggan akan

menimbulkan perasaan keyakinan bagi calon pelanggan untuk

mengkonsumsi merek tersebut terutama jika pembelian yang

mereka lakukan mengandung resiko tinggi. Di samping itu,

pelanggan yang puas umumnya akan merekomendasikan merek

tersebut kepada orang yang dekat dengannya sehingga dapat

menarik pelanggan baru.

d. Provide Time to Respond to Competitive Threats (Memberi

Waktu untuk Merespons Ancaman Persaingan)

Brand loyalty akan memberikan waktu pada sebuah perusahaan

untuk merespons gerak pesaing. Jika salah satu pesaing

mengembangkan produk yang unggul, pelanggan yang loyal

akan memberikan waktu pada perusahaan tersebut untuk

memperbaharui produknya dengan cara menyesuaikan atau

menetralisasikannya.

37 c. Tingkatan Brand Loyalty

Dalam kaitannya dengan brand loyalty suatu produk, didapati

adanya beberapa tingkatan brand loyalty. Masing-masing tingkatannya

menunjukkan tantangn pemasaran yang harus dihadapi sekaligus asset

yang dapat dimanfaatkan. Adapun tingkatan brand loyalty tersebut

adalah sebagai berikut (Durianto, dkk 2004:128):

a. Switcher (berpindah-pindah)

Switcher adalah tingkat paling dasar dalam tingkatan loyalitas

merek. Semakin tinggi frekuensi pelanggan untuk memindahkan

pembeliannya dari suatu merek ke merek-merek yang lain yang

mengindikasikan mereka sebagai pembeli yang sama sekali tidak

loyal atau tidak tertarik pada merek tersebut. Pada tingkatan ini

merek apa pun mereka anggap memadai serta memegang peranan

yang sangat kecil dalam keputusan pembelian. Ciri yang paling

nampak dari jenis pelanggan ini adalah mereka membeli suatu

produk karena harganya murah.

b. Habitual Buyer (pembeli yang bersifat kebiasaan)

Habitual Buyer adalah pembeli yang dalam tingkat loyalitas

dapat diaktegorikan sebagai pembeli yang puas dengan merek

produk yang dikonsumsinya atau setidaknya mereka tidak

mengalami ketidakpuasan dalam mengkonsumsi merek produk

tersebut. Pada tingkatan ini pada dasarnya tidak didapati alasan

38

produk yang lain atau berpindah merek terutama jika peralihan

tersebut memerlukan usaha, biaya maupun berbagai pengorbanan

lainnya. Dapat disimpulkan bahwa pembeli ini dalam membeli

suatu merek didasarkan atas kebiasaan mereka selama ini.

c. Satiefied Buyer (pembeli yang puas dengan biaya peralihan)

Satiefied Buyer adalah suatu tingkat loyalitas dimana pembeli

merek merasa puas bila mereka mengkonsumsi merek tersebut,

meskipun demikian mungkin saja mereka memindahkan

pembeliannya ke merek lain dengan menanggung switching cost

(biaya peralihan) yang terkait dengan waktu, uang, atau resiko

kinerja yang melekat dengan tindakan mereka beralih merek.

Untuk dapat menarik minat para pembeli yang masuk dalam

tingakt loyalitas ini maka para pesaing perlu mengatasi biaya

peralihan yang harus ditanggung oleh pembeli yang masuk dalam

kategori ini dengan menawarkan berbagai manfaat yang cukup

besar sebagai kompensasinya (switching cost loyal).

d. Likes the Brand (menyukai merek)

Pembeli yang masuk kategori loyalitas ini merupakan pembeli

yang sungguh-sungguh menyukai merek tersebut. Pada tingkatan

ini dijumpai perasaan emosional yang terkait pada merek. Rasa

suka pembeli bisa saja didasari oleh asosiasi yang terkait dengan

simbol, rangkaian pengalaman dalam penggunaan sebelumnya

39

disebabkan oleh perceived quality yang tinggi. Meskipun

demikian seringkali rasa suka ini merupakan suatu perasaan yang

sulit diidentifikasi dan ditelusuri dengan cermat untuk

dikategorikan ke dalam sesuatu yang spesifik.

e. Committed Buyer (pembeli yang komit)

Pada tahapan ini pembeli merupakan pelanggan yang setia.

Mereka memiliki suatu kebanggaan sebagai pengguna suatu

merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi

mereka dipandang dari segi fungsinya maupun sebagai suatu

ekspresi mengenai siapa sebenarnya mereka. Pada tingkatan ini,

salah satu aktualisasi loyalitas pembeli ditunjukkan oleh tindakan

merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada

pihak lain.

Tiap tingkatan brand loyalty mewakili tantangan pemasaran yang

berbeda dan juga mewakili tipe aset yang berbeda dalam pengelolaan

dan eksploitasinya. Tampilan piramida brand loyalty yang umum

40

Gambar 2.6.

Piramida Brand Loyalty

Committed buyer

Liking the brand

Satiesfied buyer Habitual Buyer Switcher Sumber : Durianto dkk, (2004:130)

Dokumen terkait