Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) penyebab terjadinya amblasan dengan pada awal bulan Agustus 2007 bekerjasama mengetahui respon konduktivitas dan melakukan penelitian dengan Pusat Vulkanologi permisivitas elektrik lapisan batuan melalui dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi pancaran gelombang elektromagnetik EM. untuk melakukan pengukuran di daerah tanggul
Waktu Kejadian Gerakan Tanah. yang sering mengalami amblasan. Pekerjaan
Bencana gerakan tanah yang berupa nendatan dilakukan pada tanggal 13 Agustus 2007 diawali
dan retakan dimulai pada hari Sabtu tanggal 28 dengan melakukan pengukuran menggunakan
Juli 2007, pada beberapa lokasi tanggul di sekitar metoda GPR. Pengukuran GPR dilakukan di
pusat semburan lumpur panas, di wilayah Tanggul Titik 25, Tanggul Titik 13-14, jalan tol
Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi lama dekat Tanggul Titik 43, dan ruas jalan yang
Jawa Timur. retak di Desa Reno Kenongo.
Akibat Gerakan Tanah. Lokasi Pemeriksaan GPR
Berdasarkan data lapangan akibat gerakan tanah Daerah pemeriksaan termasuk wilayah
adalah : Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa
•1 (satu) buah rumah di Desa Renokenongo Timur. Secara geografis terletak pada koordinat
rusak berat. 112° 40' 37.4" sampai 112° 44' 15.6" BT dan -7°
•Badan jalan TOL antara Gempol – Porong (telah 33' 20.9" sampai -7° 31' 8.8" LS.
ditutup) pada titik 43 mengalami retakan. •Tanggul penahan semburan lumpur Sidoarjo Tujuan Pengukuran
pada titik 25, 11 dan 14 mengalami retakan Pengukuran GPR (Ground Penetrating Radar)
dan nendatan. guna mempelajari kondisi bawah permukaan
Morfologi Daerah Bencana
Gerakan Tanah
Secara umum daerah Porong dan sekitarnya 1.Pada tanggul titik 25 :
Terjadi nendatan yang memotong tanggul mempunyai morfologi dataran dan landai
dengan arah N 40º E, panjang lintasannya ± dengan tinggi permukaan tanah hampir sama
25 m, lebar rekahannya 7 – 15 cm, tinggi dengan tinggi permukaan air laut rata-rata
penurunan muka tanahnya 15 – 20 cm dan dengan beda elevasi 1 – 1,5 meter. Kondisi saat
dalamnya 20 – 30 cm ini memperlihatkan bahwa, aliran lumpur di
sekitar daerah semburan bergerak ke arah timur
Berdekatan dengan titik 25 terdapat pula mendekati S. Porong karena kemiringan
zona retakan/ nendatan pada permukaan topografi yang melandai relatif ke arah timur.
lumpur panas yang telah mengering Topografi daerah Porong yang merupakan
membentuk lintasan tanah yang hancur dataran rendah dan rata tersebut akan
sepanjang ± 30 m dengan arah N 45º E yang mengakibatkan aliran lumpur yang masuk ke
sungai Porong dan tambak-tambak disekitarnya bergerak lambat.
Batuan Dasar dan Struktur Geologi Kondisi bawah permukaan daerah Porong dan sekitarnya terdiri dari Formasi Pucangan dengan litologi tuff, batupasir tufaan, shale serta batulempung yang disisipi batupasir dan batulanau, kemudian dibagian bawah dari Formasi Pucangan adalah batupasir vulkanik yang disisipi batulempung. Di bawah Formasi Pucangan adalah Formasi Kalibeng. Formasi Kalibeng atas dengan litologi batulempung yang disisipi batupasir dan batulanau tetapi dominan yang lebih banyak adalah batulempung. Formasi Kalibeng bagian bawah terdiri dari perselingan batupasir dan batulanau serta setempat- setempat dijumapai batugamping reef. Sedangkan bagian yang paling bawah adalah Formasi Kujung/ Prupuh dengan litologi Batugamping. Perselingan dari batupasir dan batu lanau serta Batugamping dari Formasi ini yang diperkirakan merupakan sumber dari lumpur Panas Sidoarjo. Sesar Watukosek yang terletak di bagian selatan Sidoarjo dengan arah menyerong ke timur laut merupakan zona lemah. Sesar mikro yang melewati daerah semburan dan sekitarnya menjadi intensif karena ada reaktivasi tektonik akibat pembebanan dan berongganya bawah permukaan. Semua retakan dan amblesan umumnya mengikuti tren Watukosek dan mempunyai pola elipsoid.
S e p u t a r G e o l o g iL i n t a s a n G e o l o g i
46 W a r t a G e o l o g i . D e s e m b e r 2 0 0 7
Radargram Lintasan Tanggul Titik 13-14. Menunjukkan adanya kompaksi lapisan tanggul yang tidak merata. Tanggul yang relatif baru yaitu hingga kedalaman + 5 meter menunjukkan lapisan tanah yang lebih kompak.
Radargram Lintasan Tanggul Titik 25. Kenampakan di bagian permukaan Lintasan Tanggul Titik 25 yaitu memperlihatkan adanya nendatan pada permukaan tanggul.
di indikasikan zona retakan dan nendatan
Pengukuran GPR pada Tanggul Titik 25 tersebut sebagai kelurusan Sesar Watukosek
Panjang lintasan pengukuran GPR pada Tanggul
“Watukosek Fault Lineament” .
Titik 25 yaitu 35 meter dengan arah baratlaut- 2. Pada tanggul antara titik 13 dan 14: tenggara dan memotong bidang pada tanggul Terdapat retakan yang memotong tanggul yang sering jebol. Radargram pada pengukuran dengan arah N 100º E, panjang lintasannya ini menunjukkan adanya rekahan tanah (crack). ±15 m, lebar rekahannya 10–15 cm dan Hal ini ditunjukkan oleh garis-garis tegas pada dalamnya 20 – 25 cm . radargram yang tiba-tiba putus dan mengalami ketidakselarasan / penurunan garis radargram di 3 . P a d a d a e r a h p e r m u k i m a n meter ke-18 hingga meter ke-27. Pada meter ke-
Renokenongo: 27, radargram menunjukkan adanya penurunan
Gerakan tanah yang terjadi di wilayah tanggul + 0.3-1.0 meter pada bagian barat laut. permukiman Renokenongo mengakibatkan Kemungkinan penurunan ini disebabkan sebuah rumah mengalami kerusakan berat, tanggul berada pada zona lemah, yang diduga akibat retakan dan nendatan pada dinding dan
lantai rumah. Arah nendatan dan retakan yang memotong bangunan N 40
?
E, lebar rekahan tanahnya 15 – 20 cm, panjang lintasannya ± 30 m dan tinggi penurunan muka tanahnya ± 20 cm.4. Pada titik 43 (badan jalan TOL Gempol – Porong)
Terjadi retakan yang memotong badan jalan dengan arah N 40º E, panjang lintasannya ± 20 m, lebar rekahannya 5 – 7 cm dan dalamnya 10 – 15 cm.
Hasil Pengukuran GPR Melalui Analisa Radargram
Pengukuran GPR (Ground Penetrating Radar)
guna mempelajari kondisi bawah permukaan penyebab terjadinya amblasan dengan mengetahui respon konduktivitas dan permisivitas elektrik lapisan batuan melalui pancaran gelombang elektromagnetik EM. Pengukuran dilakukan di daerah tanggul yang sering mengalami amblasan, maka pada tanggal 6 Agustus 2007 dilakukan pengukuran dengan metoda GPR. Pengukuran GPR dilakukan di Tanggul Titik 25, Tanggul Titik 13-14, jalan tol lama dekat Tanggul Titik 43, dan ruas jalan yang retak di Desa Reno Kenongo. Berikut ini disajikan radargram hasil pengukuran di masing-masing lintasan pengukuran :
Radargram Lintasan ruas jalan tol dekat Tanggul titik 43. menunjukkan adanya rekahan tanah (crack). Hal ini ditunjukkan oleh garis-garis tegas pada radargram yang tiba-tiba putus dan mengalami penurunan di meter ke-55 dengan kedalaman hingga + 1.25 meter.
Radargram Lintasan permukiman di Desa Reno Kenongo. Menunjukkan adanya pelipatan tanah pada meter ke-5 dan mengalami penurunan tanah pada meter ke-20 dengan kedalaman hingga + 2 meter.
adanya indikasi Sesar Watukosek. Namun, karena ada reaktivasi tektonik akibat penurunan ini bukan karena aktivitas Sesar pembebanan.
Watukosek.
•Penurunan muka tanah, retakan dan nendatan di daerah ini disebabkan oleh adanya rongga Pengukuran pada Tanggul Titik 13-14
Panjang lintasan pengukuran GPR adalah 60 bawah permukaan sebagai akibat dari meter yang memanjang di antara Tanggul 13 dan keluarnya lumpur, air dan gas secara massive Tanggul 14 dengan arah baratdaya- timurlaut. dari dalam tanah ke permukaan.
Radargram pada pengukuran ini menunjukkan
•Penurunan karena beban dari lumpur yang adanya kompaksi lapisan tanggul yang tidak
mengalami kompaksi. merata. Tanggul yang relatif baru yaitu hingga
kedalaman + 5 meter menunjukkan lapisan tanah yang lebih kompak. Hal ini ditunjukkan oleh garis-garis tegas dan lurus pada radargram. Namun demikian, potensi tanggul untuk mengalami retakan/crack masih dimungkinkan pada beberapa bagian tanggul. Hal ini ditunjukkan oleh garis tegas pada radargram yang tiba-tiba terputus.
Pengukuran pada Titik 43 (Jalan tol Gempol-Porong)
Panjang lintasan pengukuran GPR adalah 60 meter yang berarah baratlaut-tenggara, memotong jalan tol yang mengalami keretakan. Radargram pada pengukuran ini menunjukkan adanya rekahan tanah (crack). Hal ini ditunjukkan oleh garis-garis tegas pada radargram yang tiba- tiba putus dan mengalami penurunan di meter ke-55 dengan kedalaman hingga + 1.25 meter. Bidang yang mengalami penurunan memiliki pola yang identik dengan Tanggul Titik 25 yaitu pada bidang tanggul bagian BaratLaut.
Pengukuran di Daerah Permukiman Desa Renokenongo
Panjang lintasan pengukuran GPR adalah 30 meter yang memanjang dari barat ke timur. Sebab Terjadinya Gerakan Tanah
•Sesar Watukosek yang terletak di bagian selatan Sidoarjo dengan arah barat daya ke timur laut (N 40º E) yang melewati sebelah timur pusat semburan lumpur merupakan zona lemah. •Sesar mikro yang juga melewati daerah pusat
semburan dan sekitarnya menjadi intensif
S e p u t a r G e o l o g iL i n t a s a n G e o l o g i
48 W a r t a G e o l o g i . D e s e m b e r 2 0 0 7
Nendatan yang terjadi pada tanggul di titik 25, tampak adanya penurunan muka tanah antara 15 – 20 cm dan rekahan tanah antara 7 – 10 cm, dengan arah N 40º E.
Zona retakan dan nendatan pada permukaan endapan lumpur didaerah sekitar Tanggul titik 25 yang telah mengering yang diindikasikan sebagai kelurusan Sesar Watukosek dengan arah N 40º E.
Daerah nendatan dan retakan yang diindikasikan sebagai kelurusan Sesar Watukosek
•Penurunan karena adanya konsolidasi alamiah kerusakan pada tanggul dan badan jalan. dari lapisan-lapisan tanah, serta penurunan
Rekomendasi : karena adanya aktifasi struktur Sesar
Berdasarkan hasil pemeriksaan GPR pada Watukosek secara lokal.
beberapa titik yang dilalui oleh kelurusan Sesar Watukosek menunjukan daerah tersebut labil •Akibatnya daerah sekitar pusat semburan
sehingga masih berpotensi terjadi gerakan tanah lumpur memperlihatkan gejala pergerakan
susulan berupa amblesan dan retakan, maka menurun yang dicirikan adanya retakan dan
direkomendasikan : nendatan, terutama pada daerah yang dilalui
•Pada tanggul di titik 25, 11, 13, 14 dan pada oleh lintasan utama Sesar Watukosek, yaitu
tanggul yang berdekatan dengan titik 43, agar pada tanggul di titik 25, 43 dan di daerah
dilakukan pemadatan tanah timbunan yang permukiman Renokenongo.
lebih sempurna atau dilakukan pembuatan tanggul yang lebih kuat.