• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Penutup, kesimpulan dan saran

D. Macam-macam Mahar

Mengenai kewajiban mahar, para fuqaha’ telah sepakat bahwa mahar wajib diberikan oleh seorang mempelai laki-laki kepada mempelai wanita. Waktu pemberian mahar biasa dilakukan pada waktu akad perkawinan. Mahar yang dimaksudkan terdiri dari beberapa macam, yaitu:36

1. Mahar Musamma

Mahar musamma yaitu mahar yang disebutkan dalam akad nikah, baik bentuk maupun jumlahnya. Mahar musamma ada dua macam, yaitu: (1) mahar musamma muajjal, yakni mahar yang segera diberikan oleh calon suami kepada calon isterinya. (2) mahar musamma ghair muajjal, yaitu mahar yang pemberiannya ditangguhkan.

Dalam hal demikian, pembayaran mahar musamma diwajibkan hukumnya apabila telah terjadi dukhul, apabila salah seorang suami atau isteri meninggal dunia sebagaimana telah disepakati oleh para ulama apabila telah terjadi khalwat, suami wajib membayar mahar.

Ulama fikih sepakat bahwa dalam pelaksanaannya, mahar musamma harus diberikan secara penuh apabila:

a. Telah bercampur (bersenggama)

36 Beni Ahmad Saebani, Fikih Munakahat, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hal. 276

Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 20

Artinya: “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain , sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang Dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?”

Dalam ayat ini terdapat dalil dilarangnya suami mengambil mahar yang telah diberikan kepada isterinya, karena perceraian yang dilakukan oleh suami bukan disebabkan karena isterinya melakukan fahisyah yang nyata (perbuatan keji).37

b. Salah satu dari suami isteri meninggal.

Mahar musamma juga wajib dibayar seluruhnya apabila suami telah bercampur dengan isteri, dan ternyata nikahnya rusak dengan sebab-sebab tertentu, seperti si isteri dikira perawan ternyata janda, hamil dari bekas suami lama, atau istrinya ternyata mahram sendiri. Akan tetapi jika si isteri dicerai sebelum bercampur, hanya wajib dibayar setengahnya. Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 237:

37 M. Quraish Shihab, Ibid, hal. 463



Artinya: “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, Padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema'afkan atau dima'afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan.”

Dalam kitab tafsir Ibn Katsir ayat di atas menjelaskan bahwa ketika pelaksanaan akad nikah mahar disebutkan oleh suami kepada isterinya, setelah itu suami menceraikan isterinya sebelum dicampuri, maka suami tersebut berkewajiban memberikan setengah dari mahar yang telah disebutkan. Pemberian setengah dari mahar ini merupakan suatu kesepakatan para ulama dan tidak terdapat lagi perbedaan diantara mereka.38

Ayat ini menunjukkan bahwa jika tidak ditentukan mahar, maka tidak diwajibkan memberi setengah bagian dari mahar. Jika suami tidak menentukan mahar untuk isterinya sampai dia menyetubuhinya, isteri berhak mendapatkan mahar mitsil.39

38 ‘Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, (Kairo: Mu- assasah Daar al- Hilaal Kairo, 1994), hal. 613

39 Wahbah az-Zuhaili, Op.Cit, hal. 247

Dalam kitab Fathul Qarib juga dijelaskan:40

ُﺮْﮭَﻤﻟا ُﻒْﺼِﻧ ﺎَﮭِﺑ ِلْﻮُﺧﱡﺪﻟا َﻞْﺒَﻗ ِق َﻼﱠﻄﻟﺎِﺑ ُﻂُﻘْﺴَﯾَو

“Gugurnya pernikahan sebab talak sebelum berhubungan, maka isteri mendapatkan separoh dari maharnya”

Adapun bila perceraian terjadi sebelum hubungan kelamin dan sebelumnya jumlah mahar tidak dijelaskan dalam akad nikah, maka tidak ada kewajiban untuk memberikan mahar. Sebagai imbalannya Allah mewajibkan apa yang bernama mut’ah, yaitu pemberian tertentu yang nilainya diserahkan kepada kemampuan suami.41 Hal ini dijelaskan secara langsung oleh Allah SWT, dalam Q.S Al-Baqarah ayat 236:

Artinya: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), Yaitu pemberian menurut yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.”

40 Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qarib, (Surabaya: Kharisma, 2000), hal. 236

41 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), hal 90

Dalam kitab tafisr Al-Mishbah ayat di atas menjelaskan bahwa mahar merupakan sesuatu yang diwajibkan atas suami yang harus diberikan kepada isteri, tetapi mahar ini hendaknya diberikan dengan tulus.

Ayat di atas menggambarkan bahwa jika akad nikah sudah dilaksanakan tetapi belum ditentukan maharnya, lalu suami menceraikan perempuan tersebut maka perbuatan itu tidak dipandang dosa. Dengan demikian dapat dipahami bahwa mahar tidak termasuk rukun ataupun syarat dalam perkawinan. Jika mahar adalah rukun atau syarat dalam akad, tentu suami tidak boleh menceraikan isterinya selama mahar belum diberikan.42

b. Mahar Mitsil

Mahar mitsil adalah mahar yang tidak disebutkan bentuk dan jenisnya dalam akad. Ukuran mahar ini disamakan dengan mahar wanita yang seimbang ketika menikah dari keluarga bapaknya seperti saudara perempuan sekandung, saudara perempuan ayah, dan seterusnya.

Menurut ulama Syafi’iyah yang dipedomani dalam mempertimbangkan mahar mitsil adalah dengan melihat beberapa wanita dari keluarga ashabahnya untuk mencari persamaan ukuran mahar. Yang perlu diperhatikan terhadap wanita-wanita keluarga ashabah perempuan ketika mencari ukuran mahar mitsil adalah dari segi status mereka terhadap perempuan, mereka satu sifat dengannya dan yang paling dekat dengannya.43

42 Shafra, Op. Cit, hal. 140

43 Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak), (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 186

Pertimbangan persamaan antara dua wanita yang sama dalam sifatnya adalah persamaan dalam usia, kecerdasan, kecantikan, kekayaan, perawan dan janda, karena mahar akan berbeda sebab perbedaan sifat tersebut44. Penulis Syarah At-Tahrir telah meringkas kondisi wajib mahar mitsil dalam perkataannya:

wajib mahar mitsil pada lima tempat, yaitu dalam nikah, bersenggama, khulu’, meralat dari persaksian dan persusuan.

Ulama Hanafiyah secara spesifik memberi batasan mahar mitsil itu dengan mahar yang pernah diterima oleh saudaranya, bibinya dan anak saudara pamannya yang sama dan sepadan umurnya, kecantikannya, kekayaannya, kecerdasannya, tingkat keberagamaannya, dan negeri tempat tinggalnya.

Mahar mitsil diwajibkan dalam tiga kemungkinan:

1. Dalam keadaan suami tidak ada menyebutkan sama sekali mahar atau jumlahnya.

2. Suami menyebutkan mahar musamma, namun mahar tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau mahar tersebut cacat seperti maharnya adalah minuman keras.

3. Suami ada menyebutkan mahar musamma, namun kemudian suami isteri berselisih dalam jumlah atau sifat mahar tersebut dan tidak dapat diselesaikan.45

44 Ibid, hal. 187

45 Ibid, hal. 188

Menurut pendapat penulis mengenai mahar musamma, bahwa seorang suami yang telah menikahi calon isterinya, wajib memberikan mahar sesuai dengan yang disebutkan dalam akad nikah. Dimana setelah dilihat akad nikah tersebut sah, maha isteri berhak untuk mendapatkan maharnya. Apabila setelah dilangsungkan akad nikah, namun ternyata akad nikahnya tidak sah, maka bagi isteri ia mendapatkan mahar mitsil, yaitu, mahar yang disesuaikan dengan mahar-mahar yang diberikan pada perempuan yang sama dengannya.

Dokumen terkait