BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Metode Cooperative Learning
3. Macam-macam Metode Cooperative Learning
Ada beberapa variasi jenis metode cooperative learning antaralain yaitu:
a. Student Teams Achievement Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Menurut Slavin (2007) dalam buku Rusman (2011:213) STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang palig banyak diteliti. Model telah digunakan dalam penyampaian mata pelajaran matematika, IPA, IPS, bahasa inggris dan banyak subjek lainnya.
Dalam STAD, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian guru memberikan suatu pelajaran dan siswa didalam kelompok memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah menguasai materi tersebut. Kemudian guru memberikan kuis perseorangan dan pada saat itu siswa tidak boleh saling membantu. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sebelumnya. Nilai-nilai ini kemudian dijumlah untuk mendapat nilai kelompok dan kelompok yang dapat mencapai kriteria tertentu bisa mendapat sertifikat atau hadiah.
44 b. Jigsaw
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerjasama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
c. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
GI dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa sendiri dengan tiap kelompok memiliki kebebasan untuk memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, kemudian membuat hasil kelompok. Selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi yang mereka peroleh.
d. Make a Match (Membuat Pasangan)
Make a match merupakan salah satu jenis dari metode kooperatif. Metode ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan metode ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. (Rusman,2011:223)
45
Penerapan metode ini dimulai dengan mempersiapkan kartu-kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban. Setelah itu guru membagi siswa menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok pembawa kartu pertanyaan, kelompok kedua merupakan kelompok pembawa kartu jawaban, dan kelompok ketiga adalah kelompok penilai. (Suprijono, 2011:95)
Kemudian guru meminta kelompok pertanyaan dan jawaban untuk menemukan pasangannya, setelah mereka menemukan pasangannya mereka menunjukkan jawabannya kepada kelompok penilai. Kemudian mendiskusikan ketepatan jawabannya dan mengonfirmasikan hal-hal yang telah mereka lakukan yaitu memasangkan pertanyaan dan jawaban dan melaksanakan penilaian.
e. Model TGT (Team Games Tournaments)
Menurut Saco (2006) dalam buku Rusman (2011:224), dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis dan pertanyaan-pertanyaan seputar materi.
f. Model Struktural
Terdapat enam komponen utama di dalam tipe pendekatan struktural, yaitu struktur dan konstruk yang berkaitan,
prinsip-46
prinsip dasar, pembentukan kelompok dan pembentukan kelas, kelompok, tata kelola, serta keterampilan sosial.
g. Think-Pair-Share
“Thinking”, pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. (Suprijono, 2011 : 91)
Selanjutnya, “Pairing”, pada tahap ini guru meminta peserta didik untuk berpasang-pasangan. (Suprijono, 2011:91) Dengan pasangannya siswa diminta untuk saling berdiskusi tentang topik atau permasalahan yang harus diselesaikan sehingga lebih bermakna.
Setelah berdiskusi, kelompok-kelompok atau pasangan-pasangan tersebut memaparkan hasil kelompok mereka yang lebih dikenal dengan “Sharing”. (Suprijono, 2011: 91) Dalam hal ini diupayakan terjadinya proses tanya jawab sehingga peserta didik dapat menemukan pengetahuan yang telah dipelajarinya.
h. Numbered Heads Together
Metode ini diawali dengan Numbering. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil, dan memberi masing-masing anggota nomor. Kemudian guru memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada tiap-tiap kelompok, guru memberi kesempatan kepada tiap-tiap kelompok untuk menyatukan kepalanya “Head
47
Together” berdiskusi menemukan jawabannya. (Suprijono, 2011:92)
Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan sampai nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapatkan giliran untuk menjawab pertanyaan. Berdasarkan jawaban tersebut guru dapat mengembangkan hasil diskusi dan jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan pengetahuan bagi siswa.
i. Two Stay Tow Stay
Dalam metode ini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok. Kemudian guru memberikan tugas untuk didiskusikan jawabannya oleh tiap-tiap kelompok.
Setelah diskusi intra kelompok usai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu kekelompok lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas memiliki kewajiban menerima tamu dari kelompok lain. Tugas mereka adalah menyajikan hasil kerja kelompoknya kepada tamu. Dua orang yang bertugas sebagai tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Setelah mereka menunaikan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. (Suprijono, 2011:94)
Setelah kembali kekelompok asal, peserta didik yang bertamu dan menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka lakukan.
j. Listening Team
Metode ini diawali dengan pemaparan materi pembelajaran oleh guru, kemudian siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok penanya, kelompok kedua dan ketiga adalah kelompok penjawab. Diantara kelompok kedua dan
48
ketiga memiliki perspektif yang berbeda. Dengan perbedaan tersebut diupayakan akan memunculkan diskusi dan tanya jawab yang aktif sehingga mereka dapat menemukan pengetahuan struktural. Kelompok ke empat adalah kelompok yang bertugas mereview dan membuat kesimpulan dari hasil diskusi.
k. The Power of Two
Metode ini diawali dengan pemberian pertanyaan-pertanyaan. Guru meminta setiap siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut, kemudian guru meminta siswa untuk mencari pasangan kelompok mereka. Setelah berpasangan mereka saling menjelaskan jawaban masing-masing. Kemudian mereka menyusun kembali jawaban yang telah disepakati. Setelah itu pasangan tersebut akan membandingkan jawaban mereka dengan pasangan lainnya. Diakhir pelajaran buatlah rumusan-rumusan rangkuman sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan. (Suprijono, 2011:101)
4. Manfaat Metode Cooperative learning