• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mainstreaming Unsur Penanganan Kerugian dan Kerusakan (Loss and

DAFTAR TABEL

IV. HASIL KEGIATAN

4.6 Mainstreaming Unsur Penanganan Kerugian dan Kerusakan (Loss and

Damage) Perubahan Iklim ke dalam RUU Perlindungan dan

Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, Petambak Garam di Pesisir 4.6.1 Analisis Situasi

Perubahan iklim sudah menjadi perhatian dan permasalahan global. Komunitas ilmuwan yang tergabung di dalam Intergovernmental Panel for Climate Change (IPCC) telah mengeluarkan hasil kajian ke-5 (Fifth Assessment Report) pada tahun 2015 yang lebih memastikan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh faktor anthropogenik. Pemimpin antar negara yang tergabung di dalam forum United Nations Framework Conventon on Climate Change (UNFCCC) telah melakukan Conference of the Parties (COP) yang setiap tahun bertemu untuk membahas kebijakan dan strategi penanggulangan isu pemanasan global dan perubahan iklim.

Pemanasan global disebabkan oleh terjadinya peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer bumi. Fenomena tersebut kemudian diikuti dengan terjadinya cuaca ekstrim dan slow onset events seperti kenaikan permukaan laut, peningkatan temperatur, pengasaman laut, dan gelombang badai (storm surge). Dampak dari perubahan iklim di antaranya adalah penggenangan akibat kenaikan muka air laut di daerah pesisir, peningkatan abrasi daerah pesisir, serta hilangnya sumber air minum. Berbagai dampak di berbagai negara di dunia telah menimbulkan kerugian dan kerusakan (loss and damage), baik secara sosial dan ekonomi.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang tidak luput dalam merasakan dampak perubahan iklim khususnya di daerah pantai dan pulau-pulau kecil. Kerentanan itu dialami oleh lebih dari 42 juta penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Selain itu, lebih dari 80% bencana yang terjadi di Indonesia merupakan jenis hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, serta termasuk penggenangan air laut di daerah pesisir.

Urgensi penanganan dampak perubahan iklim untuk kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil secara khusus sudah dituangkan ke dalam bentuk dokumen perencanaan, seperti Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API; Bappenas, 2014). . Di tingkat internasional, Pemerintah Indonesia kemudian menuangkannya dalam bentuk laporan berupa Intended Nationally Determined

Analisis dan Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Refocusing) 56 Contributions (INDC) pada COP oleh UNFCCC bulan November-Desember 2015 di Paris.

Pada dokumen RAN-API telah dikemukakan beberapa strategi dalam rangka meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim (climate resilience strategies) di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, yang meliputi: (a) stabilitas kehidupan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap ancaman perubahan iklim, (b) peningkatan kualitas lingkungan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, (c) pelaksanaan pembangunan struktur adaptasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, (d) penyesuaian rencana tata wilayah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap ancaman perubahan iklim, serta (e) pengembangan dan optimalisasi riset dan sistem informasi tentang perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Strategi ini diwujudkan melalui lima program utama, yaitu (a) peningkatan kapasitas kehidupan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, (b) pengelolaan dan pendayagunaan lingkungan dan ekosistem, (c) penerapan tindakan adaptasi struktural dan non struktural, (d) pengintegrasian upaya adaptasi ke dalam rencana pengeelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta (e) peningkatan sistem pendukung adaptasi perubahan iklim.

Tujuan yang ingin dicapai dari ketahanan terhadap perubahan iklim tersebut adalah: (a) kepastian di dalam perencanaan ruang wilayah dan guna lahan, (b) keamanan kepemilikan atau hukum, (c) keamanan pangan, (d) keamanan air, dan (e) energi terbarukan.

Strategi dan program di atas telah menunjukkan bahwa masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan populasi yang memerlukan ketahanan yang besar terhadap dampak perubahan iklim. Dampak perubahan iklim dapat berpengaruh besar pada mata pencaharian mereka yang mayoritas bekerja sebagai nelayan tangkap, nelayan budidaya, dan petambak garam. Berbagai dampak itu dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan yang tidak sedikit, baik pada aspek sosial dan ekonomi. Menurut UNFCCC, konsep ini mengacu pada kerugian dan kerusakan yang tidak dapat dihindari (unavoidable) sekalipun dengan aksi mitigasi dan adaptasi secara optimal. Peningkatan ketahanan terhadap potensi kerugian dan kerusakan terhadap dampak perubahan iklim tersebut dapat diwujudkan melalui perlindungan baik sosial dan ekonomi bagi nelayan tangkap,

nelayan budidaya, dan petambak garam , seiring dengan upaya adaptasi untuk mengurangi kerentanannya.

Bentuk perlindungan yang paling dasar yang diperlukan dalam hal ini adalah kepastian hukum dan sekaligus mewujudkan ketahanan terhadap perubahan iklim, khususnya terhadap unsur kerugian dan kerusakan. terhadap ketiga tipe masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 22 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2014 tentang Perlindungan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam Rakyat yang Terkena Bencana Alam belum cukup kuat dari sisi kepastian hukum. Demikian pula Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam walaupun sudah dapat memberitakan kepastian hukum, namun juga perlu mempertimbangkan unsur kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim ke dalam rancangannya.

4.6.2 Temuan Utama

Isu dan konsep kerugian dan kerusakan di Indonesia baru sebatas rekomendasi kebijakan yang dikeluarkan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada tahun 2013. Namun demikian, konsep kerugian dan kerusakan ini sebenarnya telah diwujudkan dalam bentuk program asuransi pertanian yang diuji coba oleh Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) pada tahun 2015. Program tersebut merupakan amanah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Konsep kerugian dan kerusakan juga perlu diterapkan dan dikembangkan pada masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang terkena dampak perubahan iklim. Pada saat ini konsep tersebut belum secara jelas atau sepenuhnya termaktub dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam. RUU tersebut baru menyatakan di dalam Pasal 3.e bahwa salah satu tujuan perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam adalah untuk melindungi dari risikorisiko bencana alam dan perubahan iklim. Jaminan risiko

Analisis dan Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Refocusing) 58 terhadap nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam sudah dinyatakan di dalam Pasal 7 (2.d), dimana pada Pasal 28 dijelaskan pada Pasal 28 bahwa jaminan risiko tersebut meliputi bencana alam, kerugian dan kerusakan fasilitas penangkapan ikan, endemik penyakit ikan yang terinfeksi, dampak perubahan iklim, polusi, dan risiko lainnya yang diatur oleh Keputusan Menteri. Jaminan risiko tersebut akan meliputi unsur-unsur yang disebutkan dalam RUU tersebut sebagai berikut.

a. Jaminan kepastian usaha

b. Jaminan risiko penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, dan pergaraman c. Jaminan keamanan dan keselamatan

Dengan adanya jaminan tersebut, perlindungan terhadap nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam menjadi lebih realistis dan implementatif.

Pada RUU ini, dijelaskan pula mengenai asuransi yang dibedakan menjadi asuransi perikanan dan asuransi pergaraman. Asuransi perikanan adalah perjanjian antara nelayan atau pembudidaya ikan dengan pihak perusahaan asuransi untuk mengikatkan diri dalam pertanggungan risiko penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan. Sedangkan asuransi pergaraman adalah perjanjian antara petambak garam dengan pihak perusahaan asuransi untuk mengikatkan diri dalam pertanggungan risiko usaha garam.

Asuransi ini merupakan salah satu jaminan yang melindungi nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam. Namun pada RUU ini, tidak ada penjelasan yang spesifik mengenai bentuk perlindungan tersebut dalam menghadapi potensi kerugian dan kerusakan (loss and damage) akibat perubahan iklim. RUU tersebut juga tidak menjelaskan bagaimana skema dari asuransi perikanan maupun asuransi pergaraman.

Di dalam konsep kerugian dan kerusakan, dampak perubahan iklim dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kejadian cuaca ekstrim dan slow onset events.