DAFTAR TABEL
IV. HASIL KEGIATAN
2. Slow Onset Events:
Slow onset events adalah kejadian perubahan iklim yang sangat lambat namun lebih pasti terjadi, seperti kenaikan permukaan laut, peningkatan temperatur permukaan atmosfer dan temperatur permukaan laut, serta pengasaman laut. Meskipun lambat namun peristiwa-peristiwa tersebut dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang dialami oleh para nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam. Bagi nelayan tangkap, kejadian ini dapat menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan perikanan akibat semakin hilangnya area berpijah dan tempat perkembangbiakan ikan. Kenaikan permukaan air laut dan perubahan siklus air dapat mengakibatkan perubahan kondisi lahan lokasi budidaya sehingga tidak lagi sesuai dengan habitat ikan budidaya. Para petambak garam semakin kesulitan memperoleh lahan tambak garam karena penggenangan daerah pesisir pantai semakin meluas.
Konten yang perlu dimasukkan ke dalam RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi-daya Ikan, dan Petambak Garam dapat mengambil pelajaran (Lesson Learned) dari kajian mengenai uji coba Asuransi Petani atau Kelompok Tani dari Kementerian Pertanian.
Pemberian asuransi bagi para petani dan kelompok tani ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan Petani. Tujuan diberikannya asuransi bagi para petani ini adalah untuk menyediakan ganti rugi ketika terjadi gagal panen yang dikarenakan risiko banjir, kekeringan, hama dan wabah penyakit tertentu. Risiko kegagalan panen akibat kebakaran serta bencana alam lain seperti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, tsunami, serta angin ribut bukan merupakan risiko yang ditanggung oleh asuransi. Dengan adanya asuransi ini, petani yang menghadapi gagal panen akibat hal-hal tersebut akan mendapatkan ganti rugi setara Rp 6.000.000,- sebagai biaya penanaman
Analisis dan Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Refocusing) 60 kembali. Petani yang layak untuk mendapatkan asuransi ini harus memenuhi beberapa kriteria yang ditetapkan, yaitu:
Petani harus terdaftar sebagai anggota kelompok tani dengan manajemen administrasi yang aktif
Petani harus mengikuti praktek pertanian yang baik (good agriculture) yang merupakan arahan dari Kementerian Pertanian
Petani harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, terdapat pula kriteria lokasi yang dapat menerima asuransi, yang meliputi:
Lokasi memenuhi standar persyaratan untuk penanaman padi, terutama sistem irigasi
Lokasi berada di area yang relatif luas dengan batasan yang jelas
Petani yang memenuhi syarat adalah petani marjinal yang merupakan pemilik lahan atau penggarap lahan dengan luas tidak lebih dari dua hektar.
Selain persyaratan di atas, kegagalan panen dapat diberikan asuransi apabila terjadi setelah 10 hari pertama masa panen serta intensitas kerusakan mencapai 75% atau lebih dan luas kerusakan minimal 75% dari total luas lahan.
4.6.3 Rekomendasi Kebijakan
Mengacu pada permasalahan utama bahwa belum ada kepastian hukum dalam rangka melindungi nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam dalam menghadapi potensi kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim, maka kebijakan yang direkomendasikan adalah penyusunan regulasi yang melindungi nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak dalam rangka menghadapi menghadapi potensi kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim. Strategi yang dilakukan adalah Memasukkan (mainstreaming) penanganan unsur kerugian dan kerusakan (loss and damage) perubahan iklim ke dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam yang saat ini sedang disusun.
4.6.4 Implikasi Kebijakan
Kebijakan yang direkomendasikan tersebut mengandung implikasi sebagai berikut.
Pembentukan Satuan Tugas (Task Force) guna mendampingi dan memberikan konsultasi di dalam proses mainstreaming unsur kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim ke dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam.
Penugasan Satuan Tugas tersebut untuk menyusun kebijakan, strategi, program, peta jalan (roadmap) implementasinya, serta kriteria indikator, basis data, dan proses monitoring dan evaluasi untuk program asuransi perlindungan bagi nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam dengan mengacu pada lesson learned pada Asuransi Petani atau Kelompok Tani dari Kementerian Pertanian.
Satuan Tugas tersebut dapat terdiri dari unsur-unsur Kementerian Kelautan dan Perikanan.
4.7 PDB Sektor Perikanan 2015 dan Proyeksi 2016
4.7.1 Pengertian, Konsep dan Definisi yang Digunakan
1. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor perikanan. Perhitungannya dapat dilakukan dengan formula sebagai berikut:
[PDB] = [NILAI PRODUKSI] – [BIAYA INPUT SEKUNDER]
[NILAI PRODUKSI] adalah nilai dari hasil produksi semua sektor perikanan di Indonesia pada periode tertentu (misal satu tahun atau satu kuartal).
[BIAYA INPUT SEKUNDER] adalah nilai yang dibayarkan sektor perikanan untuk semua ongkos produksi seperti bahan baku, bibit, BBM, dan lainnya, KECUALI upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan.Jadi sebenarnya yang dimaksud dengan PDB sektor perikanan adalah nilai dari
Analisis dan Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Refocusing) 62 upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas produksi di sektor perikanan (Nilai tambah).
2. PDB atas dasar harga berlaku adalah PDB yang dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku pada periode perhitungan. Kadang disebut PDB nominal (dalam rupiah).
3. PDB atas dasar harga konstan adalah PDB yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun acuan tertentu misal tahun 2010. Ini dilakukan agar kita dapat melihat fluktuasi kuantitas saja. Kadang disebut PDB riil (dalam rupiah).
4. Pertumbuhan ekonomi sektor perikanan adalah perubahan PDB (atas dasar harga konstan) sektor perikanan dari satu periode ke periode berikutnya (dalam persen).
5. Share PDB sektor perikanan adalah sumbangan PDB sektor pertanian dalam PDB nasional dari semua sektor (dalam persen).
4.7.2 Analisis Deskriptif Data Terkini PDB Sektor Perikanan
PDB sektor perikanan (harga berlaku) pada tahun 2014 tercatat sebesar Rp 247 trilyun. Sampai kuartal ketiga tahun 2015, PDB sektor perikanan pada tahun 2015 tercatat sebesar Rp 209 trilyun. Diramalkan untuk keseluruhan tahun 2015 akan mencapai Rp 284 trilyun (Tabel 18). Sumbangan PDB sektor perikanan pada tahun 2014 adalah sebesar 2.21%, pada tahun 2015, sampai kuartal ke3, sebesar 2.23.
Pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan PDB) sektor perikanan di kuartal ketiga tercatat sebesar 8.4%, yang merupakan perubahan PDB pada kuartal ketiga tahun 2015 dibanding kuartal yang sama (ketiga) tahun 2014. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 4.7%, pertumbuhan ekonomi sektor perikanan ini relatif jauh lebih tinggi. Hal yang sama terjadi di kuartal kedua (7.2%) dan kuartal pertama 2015 (8.4%) (jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional). Pertumbuhan ekonomi sektor perikanan yang relatif tinggi ini terjadi sudah terjadi sejak tahun 2011. Pertumbuhan ekonomi sektor perikanan kuartal ketiga tercatat tertingi selama 4 tahun terakhir (sejak
tahun 2012), dan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kuartal 3 tahun 2011 (Gambar 6).
Tabel 18. PDB Sektor Perikanan dan Nasional (Rp Milyar)
PDB Nasional PDB Perikanan Harga konstan 2010 Harga berlaku Harga konstan 2010 Harga berlaku Sumbangan (%) 2014 Kuartal 1 2,060,482 2,499,878 44,970 56,639 2.18 Kuartal 2 2,139,301 2,613,109 46,769 59,509 2.19 Kuartal 3 2,206,875 2,739,466 47,636 63,199 2.16 Kuartal 4 2,161,458 2,690,241 50,270 67,748 2.33 Total 8,568,116 10,542,694 189,643 247,094 2.21 2015 Kuartal 1 2,157,657 2,726,479 48,769 66,973 2.26 Kuartal 2 2,239,313 2,865,246 50,123 69,270 2.24 Kuartal 3 2,311,211 2,982,562 51,621 73,360 2.23 Kuartal 4* - - 52,671 74,344 - Total * - - 203,184 283,947 - Catatan: *) Proyeksi
Sumber: BPS dan proyeksi adalah perhitungan tim penyusun
Gambar 6. Pertumbuhan Ekonomi Kuartalan (Year-on-Year) Sektor Perikanan (%)
Sumber: BPS melalui CEIC
2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Kuartal 1 Kuartal 2 Kuartal 3 Kuartal 4
Analisis dan Kajian Pembangunan Kelautan dan Perikanan (Refocusing) 64 Kesimpulan sementara dari data-data tersebut adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sektor perikanan di tahun 2015, padadi kuartal 1 dan kuartal 2belum nampak menunjukkan percepatan berarti dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun di kuartal ke-3, dibandingkan tahun 2012 sd 2013, pertumbuhan ekonomi sektor perikanan cenderung menunjukkan percepatan. Update terhadap analisis ini bisa dilakukan di awal tahun depan ketika PDB kuartal ke-4 diumumkan oleh BPS.