• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maluku dan Papua

Dalam dokumen BPPT OutlookEnergiIndonesia 2009 (Halaman 150-156)

GAS BUMI, LPG, DAN LNG

F. Maluku dan Papua

Cadangan bat ubara yang t erdapat di wilayah ini hanya ada di Maluku Ut ara dan Propinsi Papua Barat . Propinsi Maluku Ut ara memiliki cadangan bat ubara dengan kalori rendah (< 5. 100 kkal / kg) sedangkan Papua Barat cadangan bat ubaranya t erdiri at as bat ubara yang berkalori sedang (5. 100 – 6. 100 kkal/ kg) hingga sangat t inggi (> 7. 100 kkal/ kg). Saat ini di Maluku Ut ara belum ada kegiat an eksplorasi maupun eksploit asi sedangkan di Papua Barat saat ini sedang dilakukan kegiat an eksplorasi.

Sement ara it u, hampir semua propinsi di wilayah t ersebut belum ada pengguna bat ubara, sat u-sat unya pengguna bat ubara adalah pembangkit list rik milik PT Freeport di Propinsi Papua. Pembangkit t ersebut j uga memil iki pelabuhan khusus unt uk bongkar muat bat ubara.

6. 5 Rekomendasi Kebij akan dan Penerapan Teknologi

Dalam rangka mempersiapkan peningkat an produksi bat ubara pada wakt u 20 t ahun yang akan dat ang perlu dipersiapkan peningkat an pembangunan inf rast rukt ur sist em dist ribusi bat ubara yang t erpadu dari t ambang ke konsumen pengguna ant ara lain meliput i rencana j alur lalu lint as pengangkut an bat ubara, kapasit as dan lokasi pelabuhan bongkar muat bat ubara, sert a j enis dan ukuran sarana angkut an yang akan dipergunakan. Perencanaan pengembangan inf rast rukt ur pemanf aat an bat ubara perlu dilakukan secara t erpadu dengan melibat kan semua st akehol der. Selain it u j uga diperl ukan sosial isasi t ahapan pembangunan inf rast rukt ur bat ubara ke berbagai st akehol der sehingga diperoleh sinkronisasi dan part isipasi at au ket erlibat an semua st akehol der.

Unt uk memanf aat kan cadangan bat ubara muda at au berkalori rendah yang sangat besar di Indonesia perlu dikembangkan t eknologinya. Bat ubara muda t ersebut dapat dimanf aat kan sebagai bahan baku pembuat an bat ubara cair dan bahan bakar pembangkit l ist rik di mulut t ambang. Pembuat an bat ubara cair diperl ukan sebagai salah sat u cara diversif ikasi bahan bakar pada sekt or t ransport asi unt uk mengurangi penggunaan BBM. Sement ara it u, pembangunan pembangkit list rik di mulut t ambang bukan saj a dapat mengat asi ket erbat asan penyediaan energi list rik, t et api j uga dapat berdampak pada pengurangan konsumsi BBM unt uk pembangkit . Umumnya bat ubara yang dipergunakan unt uk pembangkit di mulut t ambang t ersebut adalah bat ubara muda yang nilai kalornya rendah dan kandungan airnya yang t inggi, sehingga kurang ekonomis unt uk dit ransport asikan j arak j auh. Selain it u, bat ubara muda at au bat ubara kualit as rendah t ersebut t idak aman unt uk dit ransport asikan, karena sif at nya yang mudah t erbakar.

Bat ubara

Pemanf aat an bat ubara muda lainnya adalah pembuat an briket bat ubara unt uk bahan bakar pada sekt or rumah t angga maupun indust ri kecil. Namun pengembangan pemanf aat an briket bat ubara t ersebut t erkendala oleh masalah polusi yang dit imbulkannya, sert a kurang parkt is t erut ama dal am penyalaan pert ama.

Pemanf aat an bat ubara muda unt uk bahan baku bat ubara cair, dan gasif ikasi bat ubara dengan menggunakan t eknologi konversi bat ubara perl u dipert imbangkan dal am upaya diversif ikasi sumber energi dan mengurangi konsumsi BBM. Bat ubara cair diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pada sekt or t ransport asi, sedangkan gas dari bat ubara diharapkan dapat dipergunakan pada sekt or pembangkit list rik. Oleh karena it u konversi bat ubara muda menj adi ket iga j enis produk bat ubara t ersebut diharapkan dapat berdampak pada pengurangan konsumsi minyak dan peningkat an devisa negara.

Cadangan bat ubara yang masih cukup besar diprakirakan akan mendorong peningkat an pemanf aat an bat ubara unt uk memenuhi kebut uhan energi dalam negeri. Namun pemanf aat an bat ubara dal am negeri belum opt imal, karena sebagian besar dari produksi bat ubara Indonesia masih unt uk keperluan ekspor. Hal t ersebut karena lebih menariknya harga bat ubara ekspor dibandingkan dengan harga bat ubara dalam negeri, sehingga produsen bat ubara di Indonesia lebih cenderung menj ual produksi bat ubaranya ke luar negeri. Saat ini Indonesia sudah menj adi negara ekport ir bat ubara t erbesar ke dua di dunia. Padahal cadangan t erbukt i bat ubara Indonesia hanya sekit ar 0, 5% dari t ot al cadangan t erbukt i duni a. Oleh karena it u, unt uk mendorong pemenuhan bat ubara dalam negeri dan mengurangi ekspor bat ubara, pemerint ah perlu lebih mempert egas kebij akan domest i c mar ket obl i gat i on

(DMO).

Selain kebij akan DMO, pemerint ah j uga perlu memberikan insent if sepert i keringanan paj ak bagi perusahaan bat ubara yang mengalokasikan produksi bat ubaranya bagi pemenuhan kebut uhan bat ubara dalam negeri t erut ama unt uk pembangkit list rik. Hal t ersebut dimaksudkan unt uk merangsang invest or pengembangan bat ubara dan merangsang pemanf aat an bat ubara dalam negeri, sehingga perusahaan bat ubara t idak merasa dirugikan dengan relat if rendahnya harga bat ubara dalam negeri dan lebih t ingginya harga bat ubara ekspor.

Ket enagalist rikan

Out look Energi Indonesia 2009 7-1

BAB 7

KETENAGALISTRIKAN

7. 1 Potensi Energi Terbarukan

7. 1. 1 Potensi Tenaga Air

Indonesia memiliki pot ensi t enaga air yang cukup besar, mengingat kondisi t opograf i yang sangat mendukung yait u bergunung dan berbukit sert a dialiri oleh banyak sungai dan adanya danau/ waduk yang cukup pot ensial sebagai sumber t enaga air. Pot ensi t enaga air yang besarnya dari t ahun 2003 - 2005 cenderung konst an t ersebut t ersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan mempunyai peluang unt uk dapat dikembangkan secara opt imal, khususnya yang berada di luar Jawa. Sedangkan pot ensi t enaga air di Jawa walaupun cukup besar namun sebagian besar t elah dimanf aat kan. Selain it u lahan di Jawa sudah t erbat as sehingga unt uk mengembangkan t enaga air skala besar akan menemui banyak kendala.

Selain pot ensi t enaga air skala besar, Indonesia j uga mempunyai pot ensi t enaga air skala kecil (mini dan mikrohidro) yang berkapasit as ant ara 200 - 5. 000 kW. Sepert i halnya pot ensi t enaga air skala besar, pot ensi t enaga mikrohidro j uga cukup besar dan t ersebar merat a di seluruh wilayah Indonesia, sepert i Sumat era, Jawa, Kalimant an, Sulawesi, dan pulau lain. Di Sumat era, pot ensi minihidro t ersebar di 8 provinsi, kecuali Provinsi Bangka Belit ung, sedangkan di Jawa, pot ensi mini hidro t ersebar di 5 provinsi dengan pot ensi t erbesar t erdapat di Provinsi Jawa Timur.

Pot ensi t enaga mikrohidro selain dimanf aat kan pada pembangkit list rik j uga unt uk irigasi. Namun hanya di beberapa propinsi sepert i Riau, Jambi, Lampung, Kalimant an Barat , dan Nusa Tenggara Timur yang pot ensinya dapat dimanf aat kan unt uk irigasi. Perkembangan pot ensi dan kapasit as t erpasang t enaga air skala besar dan kecil di Indonesia selama kurun wakt u 2003 - 2005 dit unj ukkan pada Gambar 7. 1.

Pada t ahun 2005, pot ensi t enaga air skala besar adalah sebesar 75, 67 GW dan 71, 14 GW berada di l uar Jawa-Bali, sedangkan pot ensi t enaga air skala kecil pada t ahun yang sama adalah sekit ar 460 MW. Dari t ot al pot ensi t enaga air skala besar t ersebut yang sudah dimanf aat kan adalah sebesar 4. 405 MW (3. 221 MW PLN dan 1. 184 MW non-PLN) dan sebagian besar berada di Jawa. Pot ensi t enaga air di Jawa-Bali hanya sekit ar 6% dari t ot al pot ensi yang ada di Indonesia, sedangkan di pulau lain yang mempunyai pot ensi t enaga air t erbesar, yait u sekit ar 44, 5% dari t ot al pot ensi Indonesia, namun kebanyakan pot ensi t ersebut belum dimanf aat kan secara opt imal .

Ket enagalist rikan

Sumber: Pusdat in-DESDM dan BPPT

Gambar 7. 1 Perkembangan potensi dan kapasitas terpasang tenaga air skala besar dan kecil

Sepert i halnya pot ensi t enaga air skala besar, pot ensi t enaga air skala kecil yang t elah dimanf aat kan masih relat if kecil yait u hanya sekit ar 18% dari t ot al pot ensi yang ada. Pemanf aat an t enaga air skala kecil t ersebut masih relat if kecil karena pot ensinya biasanya berada di daerah t erpencil yang kebut uhan list riknya relat if kecil sehingga unt uk pot ensi minihidro yang lokasinya j auh dari konsumen belum dimanf aat kan. Namun dengan t erj adinya krisis list rik di Indonesia, provinsi yang mempunyai pot ensi t enaga air (hidro dan minihidro), t erut ama di luar Jawa, dapat memanf aat kan pot ensi t enaga air unt uk menghasilkan list rik.

7. 1. 2 Panas Bumi

Pot ensi energi panas bumi j uga cukup besar yang set ara dengan sekit ar 27 ribu MW dan belum dapat dimanf aat kan secara opt imal. Sekit ar 80% dari lokasi panas bumi di Indonesia, sepert i di Sumat era (81 lokasi), Jawa (71 lokasi), Bali dan Nusa Tenggara (27 lokasi), Maluku (15 lokasi), sert a Sulawesi Ut ara (7 lokasi) berasosiasi dengan sist em vulkanik akt if , sedangkan di Sulawesi (43 lokasi), Bangka Belit ung (3 lokasi), Kalimant an (3 lokasi), dan Papua (2 lokasi) berada di lingkungan non-vulkanik akt if . Dari 252 lokasi panas bumi yang ada, hanya 31% yang t elah disurvei secara rinci dan didapat kan pot ensi cadangan. Namun sebagian besar lokasi panas bumi, t erut ama yang berada di daerah t erpencil masih dalam st at us survei pendahul uan, sehingga baru diperoleh pot ensi sumber dayanya.

Sebagian besar dari lokasi panas bumi t erlet ak di lingkungan vulkanik dan sisanya berada di lingkungan bat uan sedimen dan met amorf , sehingga sebagian besar sumber panas bumi t ergolong mempunyai ent hal pi t inggi dengan suhu sekit ar 250 – 300 oC dan sisanya mempunyai ent hal pi rendah at au sering disebut j uga aquat her mal dengan suhu sekit ar 140 oC. Saat ini t elah t ersedia t eknologi pembangkit list rik yang dapat memanf aat kan t enaga panas

Ket enagalist rikan

Out look Energi Indonesia 2009 7-3

bumi dengan suhu sekit ar 140 oC, sehingga di masa mendat ang panas bumi

aquat her mal dapat dimanf aat kan. Gambaran dist ribusi pot ensi panas bumi per wilayah disaj ikan pada Gambar 7. 2.

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 E n e rg i P o te n si a l (M W e )

Ja w a Sum. Ka l. Sula w e si Ba li, NTB,

NTT

M a luku, Pa p ua

C a d . Te rb ukti C a d . Mung kin C a d . Te rd ug a SD Hip o te tis SD Sp e kula tif

Sumber: Direkt orat Invent arisasi Sumberdaya Mineral, 2006

Gambar 7. 2 Potensi panas bumi per wilayah

Sumat era mempunyai pot ensi panas bumi yang paling besar dan t ersebar di 84 lokasi, sepert i daerah Sumat era Ut ara misalnya di daerah Gunung Sinabung, Gunung Sibayak, Sarulla, Sibual-buali , Gunung Sorik Merapi, Gunung Pusuk Buhit dan Simbolan Nainggolan. Namun, pot ensi panas bumi yang sudah dimanf aat kan baru sekit ar 2 MWe yang berl okasi di Gunung Sibayak. Berlainan dengan Sumat era, Jawa walaupun t ot al cadangan panas buminya t idak sebesar di Sumat era, akan t et api pemanf aat annya j auh lebih besar. Hal t ersebut disebabkan kebut uhan list rik di Jawa lebih besar dibanding di l uar Jawa. Selain it u, produksi list rik dari pembangkit l ist rik t enaga panas bumi (PLTP) dapat dengan mudah di akses ke j aringan t ransmisi PLN. Pot ensi panas bumi di Jawa Barat t ersebar di 38 lokasi, yait u Karaha, Wayang Windu, Pat uha, Draj at , Gunung Salak, dan Kamoj ang. Adapun pot ensi panas bumi yang t elah dimanf aat kan adalah di daerah Kamoj ang (140 MWe), Gunung Sal ak (330 MWe), dan Draj at (55 MWe). Sedangkan di Jawa Tengah pot ensi panas bumi yang sudah dimanf aat kan berada di daerah Dieng, yait u sebesar 60 MWe, dengan cadangan t erbukt i sebesar 280 MWe. Di Sulawesi karena sulit nya akses dari lapangan panas bumi ke konsumen menyebabkan pot ensi panas bumi yang t elah dimanf aat kan hanya di daerah Lahendong sebesar 20 MWe. Lapangan panas bumi Lahendong mempunyai cadangan t erbukt i sebesar 65 MWe. Secara keseluruhan, Indonesia mempunyai pot ensi panas bumi sebesar 27. 638 MWe yang t erdiri dari pr oven r eser ve sebesar 2. 305 MWe, pr obabl e r eser ve sebesar 728 MWe, possi bl e r eser ve sebesar 9. 908 MWe, hypot het i cal r esour ce sebesar 4. 430 MWe dan specul at i ve r esour ce sebesar 10. 267 MWe.

Ket enagalist rikan

7. 1. 3 Energi Baru dan Terbarukan Lainnya

Indonesia mempunyai pot ensi energi baru dan t erbarukan (EBT), sepert i biomasa, t enaga surya dan t enaga angin yang t ersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, namun t idak semua EBT di wilayah t ersebut mempunyai peluang unt uk dapat dikembangkan secara opt imal .

Biomasa walaupun pot ensinya cukup besar, namun belum banyak dimanf aat kan, begit u pula dengan t enaga surya dan t enaga angin. Tenaga surya dapat dikembangkan di sel uruh wilayah karena Indonesia t erlet ak t epat di garis khat ulist iwa. Unt uk Indonesia bagian selat an, sepert i Bali dan Nusa Tenggara mempunyai kecepat an angin yang relat if t inggi sehingga sangat sesuai unt uk dikembangkan pembangkit list rik t enaga angin di wilayah t ersebut . Selain biomasa, t enaga mat ahari dan t enaga angin, diprakirakan seperempat darat an Indonesia mengandung deposit mineral radioakt if t erut ama uranium yang dapat dimanf aat kan sebagai sumber bahan bakar unt uk pembangkit list rik t enaga nuklir (PLTN).

A. Biomasa

Biomasa t erdiri at as limbah hut an (kayu bakar dan limbah kayu), limbah pert anian dan perkebunan (padi, j agung, ubi kayu, j agung, limbah kelapa/ kelapa sawit , dan j arak pagar), limbah indust ri (pengolahan kayu dan gula) dan limbah rumah t angga (muni ci pal sol i d wast e) yang merupakan bahan buangan dengan nilai ekonomisnya nol at au sangat rendah. Biomasa t ersebut dapat dimanf aat kan sebagai bahan bakar unt uk menghasilkan list rik at au panas.

Tot al pot ensi biomasa pada t ahun 2005 adalah 49, 8 GW dan baru dimanf aat kan sebesar 0, 3 GW. Sedangkan berdasarkan laporan BPPT, pada t ahun 2004 t ot al pot ensi biomasa (limbah cassava, limbah kayu, limbah kelapa/ kelapa sawit ), limbah indust ri pengolahan kayu, limbah padi, limbah j agung, limbah kelapa sawit dan limbah t ebu di Indonesia adalah sebesar 49, 34 GW.

Pot ensi biomasa t erbesar berada di Sumat era, kemudian bert urut -t urut disusul Jawa, Kalimant an, dan Sulawesi, dengan limbah t ebu menduduki pangsa t ert inggi unt uk Jawa dan Sumat era, karena pada kedua wilayah t ersebut t erdapat pabrik gula dan perkebunan t ebu yang cukup besar. Sedangkan Kalimant an yang sebagian besar indust rinya adalah indust ri pengolahan kayu, mengingat hut an masih banyak t erdapat di wilayah ini, menyebabkan pangsa limbah indust ri pengolahan kayu di wilayah ini menduduki angka t ert inggi, sedangkan di Sulawesi, limbah kelapa sawit menduduki pangsa t ert inggi walaupun besarnya masih lebih rendah dibandingkan Sumat era.

Berlainan dengan limbah hut an, kayu bakar, limbah pert anian dan perkebunan yang mempunyai pot ensi sangat besar, sedangkan limbah kot a (sampah) yang t erdiri dari sampah dapur, plast ik, dan kert as pot ensinya hanya t erbat as di kot a-kot a besar di Indonesia, namun limbah kot a yang berupa sampah kayu,

Ket enagalist rikan

Out look Energi Indonesia 2009 7-5

bambu, kain, karet dan kulit j umlahnya sangat kecil. Pot ensi rat a-rat a limbah kot a di kot a-kot a besar di Indonesia adal ah 0. 5 kg/ kapit a/ hari at au dengan volume sebesar 3 lit er.

Tot al pot ensi biomasa per j enis limbah per wilayah di Indonesia pada t ahun 2004 dit unj ukkan pada Gambar 7. 3, sedangkan kandungan energi pot ensial dalam limbah kot a pada beberapa kot a besar di Indonesia dengan mengambil nilai kalor sampah campuran sebagai nilai kalor rat a-rat a sampah pemukiman/ kot a dit unj ukkan pada Tabel 7. 1.

0 5 10 15 20 25 P o te n si ( G W ) Limb a h Pa d i Limb a h Ja g ung Sing ko ng Limb a h Htn/ Ka yu K. Sa w it Pa le m

Ja w a -Ba li Suma te ra Ka lima nta n Pula u La in

Sumber: BPPT

Gambar 7. 3 Total potensi biomasa per j enis limbah per wilayah tahun 2004

Tabel 7. 1 Potensi energi yang terkandung dalam sampah kota besar

Produksi Potensi Energi

No. K o t a

(ton/ hari) 109 kkal/ hari 103 BOE/ hari

1. Jakart a 6. 000 21, 00 14, 37

2. Surabaya 2. 600 9, 10 6, 23

3. Bandung 2. 200 7, 70 5, 27

Ket erangan : a) Nilai kalor sampah campuran 3. 500 kkal/ kg b) 1 BOE = 1, 461 x 106 kkal

Dalam dokumen BPPT OutlookEnergiIndonesia 2009 (Halaman 150-156)