• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PENERIMAAN

Dalam dokumen III. PROSES BISNIS SPAN DAN SAKTI (Halaman 52-59)

Gambar 3.11. Proses Bisnis Manajemen Pembayaran pada masa Transisi SPAN

Pada masa transisi, dimana Satker masih menggunakan aplikasi legacy dan KPPN menggunakan SPAN, Satuan Kerja mengirimkan ADK SPM secara langsung ke KPPN. ADK SPM tersebut akan dikonversi dengan menggunakan Aplikasi Konversi yang ada di KPPN.

Selanjutnya file hasil konversi akan diproses dalam SPAN. SP2D akan diterbitkan pada hari yang sama saat SPM diterima oleh KPPN.

MANAJEMEN PENERIMAAN

1. Pengertian dan Konsep Dasar

Pengelolaan penerimaan negara saat ini telah dikembangkan melalui pengupayaan integrasi antara beberapa sistem yang menatausahakan penerimaan negara antara lain melalui penyempurnaan MPN-G2 dan SPAN (Modul GR).

52 Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Penatausahaan penerimaan negara dalam SPAN dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu penerimaan negara melalui Bank Indonesia, Bank Persepsi dan KPPN. Adapun terkait dengan penatausahaan penerimaan negara melalui bank persepsi, SPAN akan melakukan interface (data base to data base) dengan sistem MPN-G2. Sistem MPN-G2 tersebut merupakan feeder data penerimaan bagi SPAN yang terhubung melalui Government Receipt Module. Adapun penatausahaan penerimaan melalui SPAN dan MPN-G2 secara garis besar dapat digambarkan dijelaskan dalam gambar berikut:

Gambar 3.11. Interkoneksi SPAN dengan MPN, MPN-G2, Bank Indonesia dan DJP Sumber : Modul Manajemen Penerimaan

Adapun penerimaan melalui bank persepsi (MPN-G2) terkait dengan satker adalah sebagai berikut:

 PNBP Umum

 PNBP Fungsional

 PFK

53

 Penerimaan Pengembalian Sisa UP

 Penerimaan Pengembalian Belanja

 Penerimaan Pengembalian Pendapatan

Beberapa penerimaan melalui aktivitas tersebut di atas saat ini sedang dibuatkan sistem billing yang nantinya akan dijadikan menghasilkan kode tagihan bagi para wajib setor sebagai dasar pembayaran ke bank/pos persepsi. Adapun sistem billing tersebut sedang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Anggaran yang nantinya akan terhubung dengan sistem Settlemen, switcher, dan collecting agent yang terintegrasi dalam sistem MPN-G2.

Adapun konfigurasi utuh sistem MPN-G2 yang telah dikembangkan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.12. Konfigurasi sistem MPN-G2 Sumber : Modul Manajemen Penerimaan

Secara umum pengembangan sistem MPN-G2 ditujukan untuk mewujudkan sistem penerimaan negara yang terintegrasi dalam satu database, di mana sebelumnya penatausahaan penerimaan negara dilakukan secara terpisah oleh Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

54 Adapun untuk penerimaan dari potongan SPM, data penerimaan perpajakan yang bersumber dari potongan SPM akan disampaikan secara sistem oleh sistem SPAN ke dalam sistem MPN-G2.

Sejalan dengan pembengunan sistem MPN-G2 terkait dengan setoran penerimaan melalui bank persepsi telah disempurnakan dilakukan dengan pembangunan sistem billing dan switching untuk mempermudah penyetoran maupun penatausahaan penerimaan negara.

Dengan konfigurasi sistem MPN-G2 sebagaimana digambarkan tersebut diatas, penyetoran penerimaan negara dengan sistem biling dapat dilakukan di beberapa chanel pembayaran antara lain: via teller bank, internet-banking, phone-banking, sms-banking, ATM, dan lain-lain.

Secara umum, beberapa pokok perubahan atau penyempurnaan proses bisnis penatausahaan penerimaan negara dalam rangka implementasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.

No Pokok-Pokok Perubahan (improvement)

1. Sentralisasi penatausahaan penerimaan negara melalui single database dalam SPAN 2. Sentralisasi pengelolaan Modul Penerimaan Negara melalui MPN G2 untuk

setoran penerimaan negara yang disetor pada bank/pos persepsi.

3. Restrukturisasi rekening penerimaan (rekening kas negara) pada bank/pos persepsi terkait penerapan MPN G2, terutama terkait dengan pemusatan rekening kas negara untuk masing-masing bank/pos persepsi (BP Pusat).

4. Pembayaran setoran penerimaan negara pada bank/pos persepsi dapat dilakukan pada lintas (luar) wilayah kerja KPPN yang bersangkutan. Untuk itu dilakukan jurnal intra-entity (antar satker) pada setiap setoran yang dilakukan.

5. Penerimaan terkait pajak dan bea cukai dicatat (diakui) sebagai penerimaan masing-masing Satker (KPP/KPBC) bersangkutan. Sehingga proses rekonsiliasi data penerimaan dapat dilakukan di tingkat Satker dan KPPN. Untuk itu setiap transaksi pada data MPN harus dapat di mapping sebagai penerimaan KPP/KPBC selaku Satker.

6. Penerimaan dari pengembalian belanja tahun anggaran berjalan dapat mengembalikan sisa pagu yang didahului dengan surat pengajuan pengembalian sisa pagu oleh Satker.

7. Penyampaian LHP dan rekening koran dari bank persepsi/BI secara elektronik dan terstandarisasi.

55 8. Tidak ada proses konsolidasi laporan (LKP) ditingkat pusat karena menggunakan

single database dan laporan dapat di-generate pada setiap level kewenangan yang diberikan.

9. Dapat dilaksanakan proses audit trail terhadap data transaksi, karena setiap adanya perubahan/perbaikan hanya dapat dilakukan dengan mekanisme jurnal reversal/pembalik, sehingga setiap perubahan/perbaikan akan tercatat.

10. Penatausahaan penerimaan negara dengan meminimalisasi penggunaan kertas (less paper).

Tabel Pokok Perubahan Dalam Manajemen Penerimaan

Selama masa peralihan dari MPN existing menjadi MPN-G2, SPAN masih mengakomodir untuk melakukan pencatatan penerimaan melalui bank/pos persepsi dengan menyediakan menu unggah ADK dari bank/pos persepsi.

Proses unggah ADK bank/pos persepsi ke dalam SPAN hampir sama dengan proses unggah ADK bank/pos persepsi yang dilakukan oleh KPPN selama ini. Proses unggah ADK kedalam SPAN menggunakan form SPGR Data Penerimaan dari Bank Persepsi sebagaimana ditunjukkan dengan gambar berikut:

56 Adapun aktivitas pencatatan penerimaan melalui bank/pos persepsi meliputi beberapa aktivitas sebagai berikut:

 Unggah dan validasi ADK yang telah terunggah oleh Staff Seksi Bank/Giro Pos

 Kepala Seksi Bank/Giro Pos melakukan persetujuan (interface) terhadap ADK yang telah tervalidasi.

Konfirmasi setoran (Reviu transaksi penerimaan)

Untuk melakukan konfirmasi setoran yang telah dicatatpada modul penerimaan. dapat dilakukan dengan menggunakan menu user Staff dan Kepala Seksi Bank/Giro Pos di KPPN.

Proses reviu transaksi penerimaan dilakukan dengan membuka form inquiry receipt kemudian lakukan pencarian berdasarkan parameter tertentu, misalnya berdasarkan tanggal penerimaan, tanggal buku, atau berdasarkan nomor penerimaan.

Terkait dengan penerimaan Retur SP2D, Penerimaan Retur dicatat sebagai penerimaan transito di dalam SPAN. Penerimaan Retur terjadi jika ada transaksi debit di rekening retur di KPPN bersangkutan. Dasar pencatatan penerimaan retur adalah rekening Koran yang di unggah melalui modul Manajemen kas (CM).

Namun sehubungan dengan adanya sentralisasi bank operasional, Penerimaan retur SP2D juga akan dilakukan secara terpusat pada Direktorat Pengelolaan Kas Negara melalui form SPGR Data Penerimaan Retur. Dalam hal ini KPPN hanya akan dapat mencetak laporan terkait dengan penerimaan retur SP2D yang yang ada di wilayah kerja KPPN-nya saja.

57 Permintaan laporan

Laporan manajerial yang disediakan dalam SPAN dan dapat diakses oleh KPPN terdiri atas 5 (lima) jenis Laporan, yakni:

- Laporan Daftar Penerimaan

- Laporan Daftar Pelimpahan PBB ke BO III

- Laporan Daftar Pembagian Pembagian DBH PBB

- Laporan Realisasi Penerimaan, Pembagian, dan Penyaluran PBB - Laporan Daftar Retur SP2D

Laporan Manajerial ini dapat diakses dengan membuka form jalankan permintaan, lalu memilih nama laporan apa yang akan di buat. Setiap Laporan memiliki parameter berbeda yang harus diisi oleh pembuat laporan. Sebagai contoh, Laporan Daftar Retur SP2D memiliki parameter periode dan Nomor Rekening Retur.

58 Gambar : Ilustrasi permintaan laporan

Dalam dokumen III. PROSES BISNIS SPAN DAN SAKTI (Halaman 52-59)

Dokumen terkait