MANAJEMEN KAS
2. Proses Bisnis Manajemen Kas
Penyempurnaan proses bisnis pada modul manajemen kas SPAN, antara lain:
a. Pencatatan rekening baru (entry new bank account)
Proses tersebut dilakukan untuk registrasi rekening bank yang akan dilakukan untuk transaksi. Proses registrasi bank dilakukan secara terpusat di Direktorat PKN mengingat adanya konsep kombinasi BAS (segment bank, akun kas) untuk manajemen kas pada SPAN.
Setiap rekening bank yang didaftarkan pada SPAN kedalam segment bank yang disesuaikan/diwakili menjadi lima digit (digit 1 untuk tipe rekening, 4 digit berikutnya merupakan nomor urut).
b. Transfer antar rekening (bank account transfer)
Transfer antar rekening dapat dilakukan oleh KPPN maupun Direktorat PKN sesuai dengan user login masing-masing. User login tersebut juga berguna untuk mengakses SPAN sesuai responsibility yang telah ditetapkan, dan juga dapat digunakan sebagai audit trail.
60 c. Rekonsiliasi bank secara otomatis (auto reconcile)
Rekonsiliasi bank digunakan untuk mencocokkan data yang ada pada SPAN dengan transaksi yang ada di bank (ADK rekening koran bank). Proses rekonsiliasi dilakukan secara harian oleh sistem dan terjadwal. ADK rekening koran yang diterima dari bank harus sesuai dengan requirement SPAN, sehingga proses otomatis tersebut dapat berjalan lancar.
d. Rekonsiliasi bank secara manual (manual reconcile)
Proses rekonsiliasi bank secara manual dilakukan jika ada perbedaan antara transaksi yang ada di SPAN dengan ADK rekening koran bank, dan juga pada rekening yang bersifat dummy seperti rekening transito untuk BLU, dll.
e. Non-aktifasi rekening (closing existing bank account)
Proses tersebut dilakukan untuk menutup rekening yang sudah tidak aktif, sehingga tidak dapat digunakan untuk transaksi.
f. Perencanaan kas (cash forecasting)
Perencanaan kas pada SPAN didasarkan pada data atau transaksi yang terjadi pada modul lain, sehingga dapat diketahui berapa kebutuhan kas secara harian, mingguan, dan bulanan.
Berikut adalah jenis-jenis laporan perencanaan kas pada SPAN:
a. Laporan Perencanaan Pengeluaran Kas Harian b. Laporan Perencanaan Pengeluaran Kas Mingguan c. Laporan Perencanaan Kas Bulanan
d. Laporan Perencanaan Kas Bulanan BUN berdasarkan AFP e. Laporan Monitoring Ketersediaan Pagu DIPA
f. Laporan Perencanaan Pendapatan Bulanan
61 C. PERTANGGUNGJAWABAN
Modul Akuntansi dan Pelaporan pada SAKTI
Pada Satker, modul Akuntansi dan Pelaporan memuat keseluruhan proses yang terkait dengan akuntansi dan pelaporan. Sistem akuntansi yang dipakai dalam SAKTI adalah berbasis akrual. Namun dengan adanya penganggaran berbasis kas dan akuntansi berbasis akrual, maka model pencatatan yang digunakan akan memfasilitasi kebutuhan laporan keuangan yang harus dihasilkan sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2010 mengenai Standar Akuntansi Pemerintah.
Seluruh kegiatan atau transaksi keuangan yang dilakukan oleh 2 (dua) modul sebelumnya, yaitu modul penganggaran dan modul pelaksanaan anggaran, harus dicatat dalam masing-masing sub ledger. Sub ledger adalah istilah yang digunakan untuk aplikasi yang digunakan dalam pencatatan transaksi keuangan pada proses penganggaran dan pelaksanaan anggaran. Semua data yang ada pada Subledger akan dikirim ke General Ledger sehingga semua jurnal akuntansi termasuk pencetakan laporan keuangan akan melalui modul akuntansi dan pelaporan atau yang dikenal dengan nama General Ledger.
Terdapat dua keuntungan yang diperoleh dengan adanya pemisahan tersebut, yaitu pertama, memudahkan pengecekan histori terhadap data-data yang berubah. Kedua, memudahkan proses pelaporan dimana tidak diperlukan lagi proses posting ke buku besar, mengingat telah secara otomatis dihasilkan pada saat transaksi berjalan. Semua pencatatan transaksi keuangan tersebut didasarkan pada elemen Chart of Account (COA).
Elemen COA tersebut meliputi: Satker, KPPN, Akun, Kewenangan, Program, Output, Lokasi, Bank, Anggaran, Dana, Antar Entitas dan Cadangan. Dasar dari penetapan 12 kode tersebut menjadi struktur Bagan Akun Standar adalah untuk pengecekan pagu anggaran dan dasar penyusunan laporan keuangan.
Terkait dengan akuntansi dan pelaporan, terdapat tiga aplikasi yang berjalan saat ini, yaitu:
SIMAK-BMN, aplikasi persediaan, dan aplikasi SAK. Ketiga aplikasi tersebut akan menghasilkan Laporan Keuangan Pemerinta Pusat (LKPP) tingkat Satker/KPA dimana
62 laporan ini terlebih dahulu harus di rekonsiliasi dengan KPPN sebelum diterbitkan atau dikirimkan ke Kantor Pusat Kementerian/Lembaga untuk dikompilasi. Aplikasi Satker yang akan dibangun akan mengintegrasikan ketiga fungsi aplikasi di atas untuk selanjutnya dilakukan pencetakan laporannya. Laporan yang dihasilkan tidak hanya Laporan Keuangan tingkat Instansi, tetapi juga Laporan Bendahara Pengeluaran sehingga terdapat integrasi antara laporan keuangan dengan laporan pertanggungjawaban bendahara.
Disamping itu, terdapat juga fasilitas ‘pooling’ untuk satker yang bertugas mengumpulkan Laporan Keuangan Satker yang menjadi cakupan di wilayahnya. Aplikasi Satker juga diberikan proses tambahan yaitu konsolidasi data kiriman hasil rekonsiliasi tingkat Satker, tingkat wilayah, tingkat Eselon I dan tingkat Kementerian/Lembaga. Konsolidasi laporan tersebut digabung secara hierarkis dimulai dari akun, kelompok akun, dan kelompok belanja.
Dari penjelasan tersebut diatas, maka Aplikasi Satker harus dapat mencakup semua proses akuntansi dan pelaporan, sehingga proses bisnis yang terkait dengan akuntansi dan pelaporan dijelaskan sebagai berikut :
ii. Akuntansi dan Pelaporan
Aplikasi Satker harus menyediakan interface konsolidasi dan penutupan buku besar;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pembuatan ADK rekonsiliasi;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface penyesuaian data rekonsiliasi;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pembuatan Laporan Keuangan Tingkat Instansi;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pembuatan ADK Laporan Keuangan Tingkat Instansi.
iii. Pencatatan dan penatausahaan Barang Milik Negara
Aplikasi Satker harus menyediakan interface perekaman barang persediaan;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pencatatan sata asset ;
63
Aplikasi Satker harus menyediakan interface konsolidasi BMN dalam neraca;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface perekaman Kartu Inventasis Barang;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pengecekan asset tetap yang dihapuskan;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface KIB, DBR, dan DBL.
iv. Pelaporan
Aplikasi Satker harus menyediakan interface upload data LKPP satker, wilayah, dan eselon I;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface kompilasi data LKPP satker, wilayah, dan eselon I;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pencetakan laporan keuangan wilayah, eselon I, dan kementerian/ lembaga;
Aplikasi Satker harus menyediakan interface pembuatan ADK wilayah, eselon I, dan kementerian/lembaga.
b. Modul Manajemen Referensi
Modul Manajemen Referensi mencakup pengelolaan seluruh referensi yang terkait dengan Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi. Modul ini perlu dikelola secara khusus mengingat dinamisnya perubahan data-data referensi. Beberapa data referensi yang sering mengalami perubahan adalah sebagai berikut :
i. Referensi satker, bagian anggaran dan eselon I yang dikelola oleh Ditjen Anggaran ; ii. Referensi akun yang dikelola oleh Ditjen Perbendaharaan ;
iii. Referensi loan dan hibah yang dikelola oleh Ditjen Pengelolaan Utang ; iv. Referensi perbankan yang dikelola oleh Bank Indonesia;
v. Referensi Program, Kegiatan, Output, lokasi dan lain – lain.
Selanjutnya proses update data referensi dilakukan setelah terlebih dahulu diunduh dari Portal SPAN, dimana proses update tersebut dilakukan pada masing-masing Satker. Untuk
64 memastikan bahwa satker telah memakai update versi terakhir, pada menu utama aplikasi Satker harus dicantumkan ‘status versi update referensi’. Dengan demikian diharapkan satker dapat mendeteksi lebih dini status update referensi terakhirnya. Apabila terdapat satker yang belum melakukan update referensinya maka aplikasi akan memberikan pesan berupa notifikasi bahwa update referensi belum dilakukan.
Karakteristik SAKTI
a. Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) meliputi seluruh proses pengelolaan keuangan negara pada SATKER dimulai dari proses Penganggaran, Pelaksanaan dan Pelaporan.
b. SAKTI akan digunakan oleh satuan kerja yang tersebar diseluruh Indonesia yang memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap sampai dengan fasilitas yang sangat minim.
c. SAKTI merupakan gabungan beberapa aplikasi yang keberadaan sebelumnya tersebar pada beberapa kewenangan, seperti bendahara, KPB, PPK, dan PPSPM
d. Kewajiban membuat laporan ada pada sisi satuan kerja karena merupakan salah satu entitas akuntansi, yaitu unit pemerintah pengguna anggaran atau pengguna barang yang berkewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan
AKUNTANSI DAN PELAPORAN pada SPAN
1. 1. Pengertian dan Konsep Dasar
General Ledger merupakan inti dari sistem kerangka pengelolaan keuangan Negara yang terintegrasi. Seluruh transaksi keuangan yang diinput ke dalam sistem akan diposting ke dalam General Ledger sesuai dengan siklus pengelolaan keuangan Negara sehingga GL merupakan sumber data bagi penyusunan laporan keuangan pemerintah. Penyempurnaan proses bisnis GL di dalam SPAN adalah GL terintegrasi terpusat, sehingga transaksi subledger di tiap-tiap KPPN selaku operating units akan terposting ke dalam GL yang terintegrasi.
65 Berkaitan dengan proses bisnis akuntansi dan pelaporan, dalam kerangka SPAN, proses penyusunannya dilakukan oleh aplikasi tunggal sehingga diperlukan suatu teknologi informasi dan database terpusat yang dapat diandalkan untuk mencapai tujuan pengelolaan keuangan negara, agar dapat menyediakan data transaksi keuangan yang lengkap, dapat diakses setiap saat, dan terpadunya sistem operasional akuntansi dan pelaporan. Di samping itu, dilakukan juga restrukturisasi Bagan Akun Standar (BAS) yang menjadi backbone bagi proses pengelolaan keuangan, sehingga pengembangan proses bisnis akuntansi dan pelaporan sebagai bagian dari program SPAN dimaksudkan untuk mencapai tujuan reformasi pengelolaan keuangan negara secara menyeluruh.
2.
3.
4. 2. Proses Bisnis Akuntansi dan Pelaporan
Secara umum, penyempurnaan proses bisnis di bidang akuntansi dan pelaporan pada SPAN meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Penggunaan dua pencatatan dalam satu sistem akuntansi, berupa catatan akrual dan kas.
2. Struktur Bagan Akun Standar memasukan informasi output.
Bagan Akun Standar (BAS) digunakan untuk penjurnalan saat terjadi transaksi pada Subledger Transaction sehingga transaksi dicatat pada Subledger accounting akrual dan kas yang kemudian akan diposting ke kedua GL.
66 3. Menerapkan manajemen komitmen
4. Laporan keuangan berbasis akrual
5. Laporan Manajerial disusun dari satu database 6. Inisiasi laporan keuangan berbasis GFS
7. Rekonsiliasi berbasis internet
8. Integrasi Laporan keuangan dengan laporan kinerja 9. Penggunaan single database dalam pelaporan BUN.
Berdasarkan poin-poin penyempurnaan di atas, maka implementasi akuntansi akrual dengan menggunakan aplikasi SPAN akan membahas hal-hal sebagai berikut:
a. Basis Penganggaran dan Akuntansi
Dalam siklus pengelolaan keuangan negara, penganggaran yang didahului dengan perencanaan, merupakan tahapan penting yang mendasari kegiatan Pemerintah. Basis anggaran yang digunakan saat ini adalah penganggaran berbasis kas, yang berarti setiap anggaran yang dilaksanakan didasarkan pada penerimaan dan pengeluaran kas.
Penganggaran berbasis kas merupakan estimasi atau taksiran penerimaan dan pengeluaran negara yang dalam APBN menggunakan terminologi pendapatan, belanja dan pembiayaan, sehingga penganggaran berbasis kas dapat mengukur realisasi anggaran dengan adanya pelaporan berbasis kas dalam bentuk laporan realisasi anggaran dan laporan perubahan saldo anggaran lebih (SAL). Basis kas dalam penganggaran akan tetap digunakan dengan beberapa pertimbangan antara lain lebih mudah digunakan dibandingkan basis akrual, lebih sederhana penyajian informasinya, dan persetujuan DPR atas anggaran berbasis kas, walaupun Undang-Undang keuangan negara mengindikasikan kemungkinan penggunaan anggaran berbasis akrual dalam beberapa pasal-pasalnya, seperti pada penjelasan penerimaan, pengeluaran, pendapatan dan belanja.
Perubahan fundamental di bidang penganggaran dapat dilihat dari adanya perubahan kebijakan penganggaran dari pengganggaran berbasis masukan (input) menjadi penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). Penganggaran berbasis
67 kinerja ini merupakan suatu model penganggaran yang bertujuan untuk menghubungkan antara alokasi sumber daya dalam bentuk anggaran dengan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi (Diamond, 2003). Hal ini disebabkan bahwa penganggaran berbasis input tidak dapat menyediakan informasi yang diperlukan Pemerintah mengenai efisiensi dan efektivitas operasional Pemerintah (Van der Hoek, 2005). Dengan demikian, penganggaran berbasis kinerja akan memberikan dampak yang lebih baik berupa adanya informasi mengenai kegiatan operasional Pemerintah berupa realisasi kegiatan dengan alokasi sumber daya yang dibutuhkan dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
Penganggaran berbasis kinerja merupakan amanat Undang-Undang Keuangan Negara.
Berdasarkan UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, struktur anggaran belanja negara dirinci menurut Fungsi, Sub-fungsi, Organisasi, Program, Kegiatan, dan Jenis Belanja.
Selain itu, dalam Undang-Undang tersebut juga diamanatkan adanya transparansi dan akuntabilitas keuangan negara yang diwujudkan melalui penjabaran prestasi kerja dari setiap Kementerian Negara/Lembaga.
Laporan Realisasi Anggaran masing-masing Kementerian/Lembaga selain menyajikan realisasi pendapatan dan belanja, juga menjelaskan prestasi kerja Kementerian Negara/Lembaga sehingga pelaporan keuangan akan disertai dengan pelaporan kinerja sesuai dengan pasal 27 Pertauran Pemerintah nomor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Implikasi dari regulasi tersebut dalam restrukturisasi program dan kegiatan adalah pengelolaan dan pelaksanaan anggaran yang berbasis kinerja. Dalam restrukturisasi program dan kegiatan, seluruh program dan kegiatan dilengkapi dengan indikator kinerja beserta anggarannya, untuk digunakan sebagai alat ukur pencapaian tujuan pembangunan yang efektif dan efisien secara teknis operasional serta dalam pengalokasian sumber dayanya.
Terkait dengan penganggaran, maka terdapat perubahan dalam basis akuntansi pemerintah yang digunakan. Basis akuntansi merupakan salah satu prinsip akuntansi untuk menentukan periode pengakuan dan pelaporan suatu transaksi ekonomi dalam laporan
68 keuangan. Ada dua basis utama dalam pencatatan transaksi keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan, Basis Kas dan Basis Akrual. Basis kas akan mencatat transaksi keuangan pada saat kas diterima/dikeluarkan. Sementara itu, basis akrual mencatat transaksi pada saat terjadinya pendapatan atau belanja walaupun kas belum diterima/dikeluarkan. Basis ini sangat umum digunakan dalam praktek bisnis di sektor swasta. Namun demikian, basis akrual dalam sektor publik juga sudah banyak digunakan oleh beberapa negara, antara lain Australia, New Zealand, dan Inggris.
Dalam konteks akuntansi pemerintah berdasarkan UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, penerimaan diakui pada saat kas diterima/masuk ke Kas Negara, sebaliknya pengeluaran diakui pada saat kas keluar dari Kas Negara. Basis Kas tersebut yang selama ini digunakan dalam Sistem Akuntansi Pemerintah kita saat ini, khususnya untuk transaksi penerimaan dan pengeluaran dalam rangka penyusunan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) maupun Laporan Arus Kas (LAK). Sedangkan dalam penyusunan Neraca digunakan basis akrual, berdasarkan data transaksi kas yang terjadi. Basis akuntansi gabungan semacam inilah yang akhirnya dikenal dengan Basis Kas Menuju Akrual.
Dalam SPAN, pengembangan proses bisnis akuntansi dan pelaporan di masa mendatang akan menggunakan basis akrual, dimana transaksi akan diakui dan dicatat pada saat terjadinya walaupun kas belum masuk ke rekening kas negara atau keluar dari kas negara.
Hal ini merupakan implementasi dari amanat Undang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 pasal 1 menyebutkan bahwa “keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut”. Pasal tersebut secara tersirat mengamanatkan konsep akrual karena adanya pengakuan terhadap hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang ke dalam keuangan negara.
Dengan demikian, tujuan penerapan basis akuntansi akrual pada dasarnya untuk memperoleh informasi yang tepat atas jasa yang diberikan pemerintah dengan lebih
69 transparan. Hal ini juga didukung dengan alasan-alasan penggunaan basis akrual diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Akuntansi berbasis kas tidak menghasilkan informasi yang cukup – misal transaksi non kas - untuk pengambilan keputusan ekonomi misalnya informasi tentang hutang dan piutang, sehingga penggunaan basis akrual sangat disarankan.
2. Hanya akuntansi berbasis akrual menyediakan informasi yang tepat untuk menggambarkan biaya operasi yang sebenarnya (full costs of operation), misalnya keputusan apakah suatu pekerjaan harus dikontrakkan atau dilakukan secara swa kelola.
3. Hanya akuntansi berbasis akrual yang dapat menghasilkan informasi yang dapat diandalkan dalam informasi aset dan kewajiban.
4. Hanya akuntansi berbasis akrual yang menghasilkan informasi keuangan yang komprehensif tentang pemerintah, misalnya penghapusan hutang yang tidak ada pengaruhnya di laporan berbasis kas.
b. Kebijakan Akuntansi
Kebijakan akuntansi akrual mengacu pada basis penganggaran dan basis akuntansi yang digunakan oleh Pemerintah Pusat. Berdasarkan urutan pencatatan, kebijakan akuntansi tersebut secara garis besar dibedakan atas:
1. Anggaran
Pencatatan anggaran dibedakan atas pencatatan saat anggaran disahkan dan anggaran dialokasikan. Pada pencatatan anggaran yang disahkan, UU APBN menjadi dasar pencatatan. Rincian atas APBN yang memuat detail dari anggaran serta dokumen yang dipersamakan, seperti rincian APBN-P merupakan dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan APBN. Rincian APBN tersebut diakui pada saat dokumen tersebut dicatat oleh unit yang memiliki fungsi perbendaharaan.
Setelah pencatatan anggaran saat APBN, dilakukan pencatatan atas anggaran yang dialokasikan. Mekanisme pencatatan anggaran yang dialokasikan menggunakan DIPA dan
70 dokumen yang dipersamakan, seperti revisi atas DIPA, sebagai dasar pencatatan DIPA.
Data anggaran yang dialokasikan diakui pada saat dokumen tersebut dicatat oleh pengguna anggaran.
2. Komitmen
Komitmen dibedakan atas transaksi keuangan yang memerlukan kontrak dan tidak memerlukan kontrak. Dokumen sumber yang menjadi dasar pencatatan kontrak adalah nomor registrasi kontrak yang dikeluarkan oleh unit yang memiliki fungsi perbendaharaan.
Nomor tersebut juga menjadi dasar pencatatan komitmen pada pengguna anggaran, sehingga pencatatan kontrak dilakukan sebelum adanya realisasi anggaran. Transaksi yang memerlukan pencatatan kontrak meliputi belanja modal yang menghasilkan aset tetap, belanja barang yang menghasilkan persediaan dan lain-lain.
Sedangkan pada transaksi yang tidak memerlukan kontrak, dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan adalah nomor register nonkontrak yang dikeluarkan oleh unit yang memiliki fungsi perbendaharaan. Nomor tersebut juga menjadi dasar pencatatan komitmen pada pengguna anggaran, sehingga pencatatan nonkontrak dilakukan sebelum adanya realisasi anggaran. Contoh dari transaksi nonkontrak adalah belanja gaji.
3. Pendapatan a. Pendapatan LO
Berdasarkan basis akuntansi yang digunakan, pendapatan dibedakan atas pendapatan yang diakui secara akrual dan pendapatan secara kas. Pendapatan akrual merupakan hak pemerintah yang diakui sebagai pendapatan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.
Pendapatan yang diakui secara akrual terdiri dari pendapatan diterima dimuka dan pendapatan LO. Pendapatan diterima dimuka adalah pendapatan atas suatu transaksi yang telah diterima oleh Pemerintah, namun wajib setor belum menerima manfaat dari Pemerintah. Pendapatan LO merupakan pendapatan yang diakui secara basis akrual, sedangkan pendapatan LRA adalah pendapatan yang diakui secara basis kas. Pendapatan
71 LO merupakan pendapatan yang diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan dan/atau adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
Pendapatan LO dibedakan atas pendapatan yang diperoleh berdasarkan peraturan perundang-undangan dan pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas pelayananyang telah diselesaikan. Pendapatan LO yang diperoleh berdasarkan peraturan perundang-undangan diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan, sedangkan pendapatan-LO yang diperoleh sebagai imbalan atas suatu pelayanan yang telah selesai diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan, diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih imbalan. Selain itu, terdapat pendapatan-LO yang diakui pada saat direalisasi adalah hak yang telah diterima oleh pemerintah tanpa terlebih dahulu adanya penagihan.
Pendapatan LO dicatat berdasarkan azas bruto. Azas bruto merupakan pencatatan dengan membukukan pendapatan secara bruto, yaitu nilai yang diakui sebagai pendapatan dan tidak mencatat jumlah netto, yang merupakan nilai setelah dikompensasikan dengan pengeluaran.
Untuk pengembalian pendapatan, pengembalian yang sifatnya normal dan berulang atas pendapatan-LO pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan, misalnya pada pengembalian pajak.
Sementara itu, untuk koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang atas pendapatan LO yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama, sedangkan koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang atas pendapatan-LO yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang ekuitas pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.
72 Pendapatan LO akan menjadi komponen dari Laporan Operasional yang merupakan bagian dari laporan pertanggungjawaban yang menggunakan basis akrual. Pendapatan LO dibedakan atas:
1. Pendapatan pajak 2. Pendapatan bukan pajak 3. Pendapatan hibah
Pendapatan yang sifatnya tidak rutin perlu dikelompokkan tersendiri dalam kegiatan non operasional. Termasuk dalam pendapatan/beban dari kegiatan non operasional antara lain surplus/defisit penjualan aset non lancar, surplus/defisit penyelesaian kewajiban jangka panjang, dan surplus/defisit dari kegiatan non operasional lainnya
Transaksi pendapatan LO dalam bentuk barang/jasa harus dilaporkan dalam Laporan Operasional dengan cara menaksir nilai wajar barang/jasa tersebut pada tanggal transaksi.
Selain itu, transaksi ini harus diungkapkan sedemikian rupa pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari pendapatan LO.
b. Pendapatan LRA
Pendapatan LRA merupakan pendapatan yang diakui secara basis kas, sehingga pendapatan LRA diakui pada saat kas diterima pada kas negara. Dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan pendapatan LRA adalah bukti penerimaan negara yang mencatat pendapatan LRA pada saat diterimanya kas. Pendapatan LRA akan menjadi komponen dari Laporan Realisasi Anggaran yang merupakan bagian dari laporan pertanggungjawaban yang menggunakan basis kas.
Pendapatan LRA dibedakan atas:
1. Pendapatan pajak 2. Pendapatan bukan pajak 3. Pendapatan hibah
73 Pendapatan LRA dicatat berdasarkan azas bruto. Azas bruto merupakan pencatatan dengan membukukan pendapatan secara bruto, yaitu nilai yang diakui sebagai pendapatan dan tidak mencatat jumlah netto, yang merupakan nilai setelah dikompensasikan dengan
73 Pendapatan LRA dicatat berdasarkan azas bruto. Azas bruto merupakan pencatatan dengan membukukan pendapatan secara bruto, yaitu nilai yang diakui sebagai pendapatan dan tidak mencatat jumlah netto, yang merupakan nilai setelah dikompensasikan dengan