• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

B. Kajian Teori

1. Manajemen Risiko

sebagai penjual karena belum pernah menjadi pemilik barang. Lebih tepat dikatakan sebagai pembiayaan konsumen karena kontruksi hukumnya sama.17

Persamaan penelitian dahulu dengan penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang mekanisme atau tahapan-tahapan dalam pembiayaan murabahah. Sedangkan perbedaannya yaitu jika penelitian terdahulu lebih menitik beratkan pembahasan tentang tinjauan hukum islam dan hukum perdata, sedangkan dalam penelitian ini fokus pembahasan lebih kepada proses manajemen risiko yang dilakukan perbankan terhadap pembiayaan murabahah.

49

a) Pertama adalah keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus, dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambil keputusan.

b) Kedua adalah variasi dalam keuntungan, penjualan, atau variable keuangan lainnya.

c) Ketiga adalah kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keungan, seperti risiko ekonomi, ketidakpastian politik, dan masalah industri.

Lebih jauh lagi Joel G. Siegel dan Jae Shim menjelaskan pengertian dari analisis risiko adalah proses pengukuran dan penganalisaan risiko disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi. Sementara itu David K. Eiteman, Arthur I. Stonehil dan Michael H. Moffett mengatakan bahwa risiko dasar adalah the mismatching of interest rate bases for associated assets and liabilities.

Sedangkan manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.

1) Manfaat Manajemen Risiko

Dengan diterapkannya manajemen risiko di suatu perusahaan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, yaitu:

a) Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan, sehingga para manajer menjadi lebih berhati-hati (pudent) dan selalu menempatkan ukuran-ukuran dalam berbagai keputusan.

b) Mampu memberi arah bagi suatu perusahaan dalam melihat pengaruh-pengaruh yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang.

c) Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu menghindari risiko dan menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya kerugian dari segi finansial.

d) Memungkinkan perusahaan memperoleh risiko kerugian minimum.

e) Dengan adanya konsep manajemen risiko (risk manajement concept) yang dirancang secara detail maka artinya perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara suintainable (berkelanjutan).

2) Tahap-Tahap Melaksanakan Risiko

Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu:

a) Identifikasi Risiko

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang

51

dialami perusahaan, termasuk bentuk-bentuk risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Identifikasi ini dilakukan dengan cara melihat potensi-potensi risiko yang sudah terlihat dan yang akan terlihat.

b) Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko

Pada tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk dan format risiko yang dimaksud. Bentuk-bentuk risiko yang diidentifikasi disini telah mampu dijelaskan secara detail, seperti ciri-ciri risiko dan faktor-faktor timbulnya risiko tersebut. Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan juga sudah mulai mengumpulkan dan menerima berbagai data-data baik bersifat kualitatif dan kuantitatif.

c) Menempatkan ukuran-ukuran risiko

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan. Data-data yang masuk juga sudah dapat diterima, baik yanga berbentukkualitatif dan kuantitatif serta pemilihan data dilakukan berdasarkan pendekatan metodologi yang digunakan. Dengan kepemilikan rancangan metodologi penelitian yang ada diharapkan pihak manajemen perusahaan telah memiliki fondasi kuat guna melakukan pengolahan

data. Untuk dipahami bahwa penggunaan ukuran dengan berdasarkan format metodologi penelitian yang digunakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh kecermatan karena jika salah atau tidak sesuai dengan kasus yang ditangani maka hasil yang akan diperoleh nantinya juga dianggap tidak akan akurat.

d) Menempatkan alternatif-alternatif

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan kemudian dijabarkan dalam pengolahan data.

Hasil pengolahan kemudian dijabarkan dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif beserta akibat-akibat atau pengaruh-pengaruh yang akan timbul jika keputusan-keputusan tersebut diambil. Berbagai bentuk penjabaran yang dikemukakan tersebut dipilih dan ditempatkan sebagai alternatif-alternatif keputusan.

e) Menganalisis setiap alternatif

Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul. Dampak yang mungkin timbul baik secara jangka pendek maupun jangka panjang dipaparkan secara komprehensif dan sistematis, dengan tujuan mampu diperoleh gambaran secara jelas dan tegas.

53

Kejelasan dan ketegasan sangat penting gena membantu pengambilan keputusan secara tepat.

f) Memutuskan satu alternatif

Pada tahap ini setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan baik dalam bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam. Pemilihan satu alternatif dari berbagai alternatif yang ditawarkan artinya mengambil alternatif yang terbaik dari berbagai alternatif yang ditawarkan termasuk dengan menolak berbagai alternatif lainnya. Dengan pemilihan satu alternatif sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki fondasi kuat bdalam menugaskan pihak manejemen perusahaan untuk bekerja berdasarkan konsep dan koridor yang ada.

g) Melaksanakan alternatif yang dipilih

Pada tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang dilenkapi dengan rincian biaya. Rincian biaya yang dialokasikan tersebut telah disetujui oleh bagian keuangan serta otoritas pengambil penting lainnya.

h) Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut

Pada tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim manajemen beserta para manajer perusahaan.

Tugas utama manajer perusahaan adalah melakukan kontrol yang maksimal guna menghindari timbulnya berbagai risiko yang tidak diinginkan.

i) Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih

Pada tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan control dilakukan maka selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak manajer perusahaan.

Pelaporan tersebut berbentuk data-data yang bersifat fundamental dan teknikal serta dengan tidak mengesampingkan informasi yang bersifat lisan. Tujuan melakukan evaluasi dari alternatif yang telah dipilih tersebut adalah bertujuan agar pekerjaan tersebut dapat terus dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.

3) Tipe Risiko

Bagi pelaku sector bisnis dan pihak perbankan khususnya perlu mengamati dan memahami tipe-tipe risiko dengan seksama, karena menyangkut dengan penyaluran kredit yang diberikan kepada para debiturnya dan risiko yang akan ditangggung oleh para debiturnya tersebut. Dari sudut pandang akademisi ada dua jenis risiko namun secara umum risiko itu hanya dikenal dalam 2

55

(dua) tipe saja, yaitu risiko murni (pure risk) dan risiko spekulasi (speculative risk). Adapun kedua bentuk tipe risiko tersebut adalah:

a) Risiko murni (pure risk). Risiko murni dapat dikelompokkan pada 3 (tiga) tipe risiko yaitu:

(1) Risiko aset fisik

Merupakan risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan atau perusahaan. Contohnya kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.

(2) Risiko karyawan

Merupakan risiko karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan atau organisasi tersebut.

Contohnya kecelakaan kerja sehingga aktivitas perusahaan terganggu.

(3) Risiko legal

Merupakan risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contohnya perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti ganti kerugian.

b) Risiko spekulatif (speculative risk). Risiko spekulatif ini dapat dikelompokkan kepada empat tipe risiko yaitu:

(1) Risiko pasar

Merupakan risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contohnya harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.

(2) Risiko kredit

Merupakan risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan. Contohnya timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.

(3) Risiko likuiditas

Merupakan risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas. Contohnya kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.

(4) Risiko operasional

Merupakan risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan dengan lancar.

Contohnya terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.

4) Mengelola Risiko

Dalam beraktivitas, yang namanya risiko pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehingga bagi sebuah lembaga bisnis seperti misalnya perbankan sangat penting untuk memikirkan bagaimana

57

mengelola atau me-manage risiko tersebut. Pada dasarnya risiko itu sendiri dapat dikelola dengan 4 (empat) cara, yaitu:

(a) Memperkecil risiko

Keputusan untuk memperkecil risiko adalah dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan yang mengandung risiko tinggi tapi, membatasinya bahkan meminimalisasinya agar risiko tersebut tidak bertambah besar di luar dari kontrol pihak manajemen perusahaan. Karena mengambil keputusan di luar dari pemahaman manajemen perusahaan maka itu sama artinya dengan melakukan keputusan yang sifatnya spekulasi.

(b) Mengalihkan risiko

Keputusan mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima tersebut kita alihkan ke tempat lain sebagaian, seperti dengan keputusan mengasuransikan bisnis guna menghindari terjadinya risiko yang sifatnya tidak diketahui kapan waktunya.

(c) Mengontrol risiko

Keputusan mengontrol risiko adalah dengan cara melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya risiko sebelum risiko itu terjadi. Kebijakan seperti ini biasanya dilakukan dengan memasang alat pengaman atau pihak penjaga keamanan pada tempat-tempat yang dianggap vital. Seperti memasang alarm

pengaman pada mobil, alarm kebakaran pada rumah dan menempatkan satpam pada siang atau malam hari.

(d) Pendanaan risiko

Keputusan pendanaan risiko adalah menyangkut penyediaan sejumlah dana sebagai cadangan (reserve) guna mengantisipasi timbulnya risiko di kemudian hari seperrti perubahan nilai tukar dolar terhadap nilai mata uang domestik di pasaran. Maka kebijakan sebuah perbankan adalah harus memiliki cadangan dalam bentuk mata uang dolar sehingga sejumlah perkiraan akan terjadi kenaikan atau perubahan tersebut.18

b. Manajemen Risiko Bank Syariah

Bisnis adalah suatu aktivitas yang selalu berhadapan dengan risiko dan return. Bank Syariah adalah salah satu unit bisnis. Dengan demikian, bank syariah juga akan menghadapi risiko manajemen bank itu sendiri. Bahkan kalau dicermati mendalam, bank syariah merupakan bank yang sarat dengan risiko. Karena dalam menjalankan aktivitasnya bank berhubungan dengan produk-produk bank yang mengandung banyak risiko. Demikian pula risiko yang diakibatkan karena ketidakjujuran atau kecurangan nasabah dalam melakukan transakasi. Oleh karena itu, para pejabat bank syariah harus dapat

18Irham Fahmi, Manajemen Risiko Teori, Kasus, dan Solusi, 2-7.

59

mengendalikan risiko seminimal mungkin dalam rangka untuk memperoleh keuntungan yang optimum.19

Sesuai PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi Bank umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, terdapat 10 (sepuluh) risiko yang harus dikelola bank. Kesepuluh jenis risiko tersebut adalah Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Operasional, Risiko Likuiditas, Risiko Kepatuhan, Risiko Hukum, Risiko Reputasi, Risiko Strategis, Risiko Imbal Hasil, dan Risiko Investasi.

Sedangkan dalam pengelolaan manajemen risiko, saat ini bank syariah masih mengacu pada SE BI No. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 dengan cakupan pengelolaan manajemen risiko mencakup 8 (delapan) risiko. Sedangkan untuk dua risiko lain, yaitu Risiko Imbal Hasil dan Risiko Investasi belum dilakukan pengukuran.20

Berikut adalah risiko yang harus dikelola oleh perbankan Syariah :

1) Risiko Kredit/Pembiayaan

Setiap pemberian kredit atau pembiayaan oleh bank mengandung risiko sebagai akibat dari ketidakpastian dalam pengembaliannya. Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok atau bunga (pada bank konvensional) dari pinjaman yang diberikan.

19Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: EKONESIA, 2005), 142.

20 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), 350.

Penyebab utama terjadinya risiko kredit adalah terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko usaha yang dibiayainya. Risiko ini akan semakin tampak ketika perekonomian dilanda krisis atau resesi yang mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar hutang, apalagi misalnya pada bank konvensional diiringi suku bunga yang semakin tinggi. Sebagai akibatnya, bank akan mengalami kesulitan likuiditas jika ia mempunyai kredit macet dalam jumlah besar.

Untuk menghindari risiko ini, bank dapat mengembangkan upaya-upaya untuk mengeliminasinya dengan cara:

a. Bank harus melakukan analisis mendalam terhadap proyek yang akan dibiayai sebelum kredit diberikan. Langkah ini bisa dilakukan bila bank sudah memiliki metode analisis kelayakan kredit, permohonan sesuai prosedur, dan pemberian kredit tidak semata-mata karena agunan yang besar.

b. Bank wajib melakukan pemantauan terhadap kemampuan dan kepatuhan debitur setelah kredit diberikan.

61

c. Bank perlu melakukan peninjauan dan penilaian kembali agunan secara berkala dengan tujuan agar nilai agunan benar-benar mengcover kredit yang diberikan.

d. Apabila terjadi kredit bermasalah bank harus segera menyelesaikannya dengan tuntas.

e. Pembuatan credit line kepada setiap individu debitur maupun kelompok untuk menghindari risiko yang lebi besar bilamana kredit yang dimaksud wanprestasi.

f. Ban yang telah mendiversifikasikan penanaman dananya, sebelum pembelian terhadap surat-surat berharga (SSB) harus dilakukan penilaian terhadap kemampuan penerbit atau memperhatikan SSB dimaksud.21

2) Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko yang timbul akibat adanya perubahan variabel pasar, seperti: suku bunga, nilai tukar, harga equity dan harga komoditas sehingga nilai portofolio/asset yang dimiliki bank menurun. Berdasarkan Bank Indonesia, sebagai bank umum dengan prinsip syraiah, maka Bank Syariah hanya perlu mengelola risiko pasar yang terkait dengan perubahan nilai tukar yang dapat menyebabkan kerugian bank.22

3) Risiko Likuiditas

21Ahmadiono, Dasar-Dasar Bank Syariah, 117-118.

22 M. Sulhan, Ely Siwanto, Manajemen Bank Konvensional dan Syariah,(Malang: UIN Malang Press, 2008),154.

Risiko likuiditas pasar dimana risiko yang timbul karena bank tidak mampu melakukan off setting tertentu dengan harga karena kondisi likuiditas pasar tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan adalah risiko yang timbul karena bank tidak mampu mencairkan asetnya atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain.23

4) Risiko Reputasi

Risiko reputasi adalah risiko disebabkan oleh antara lain:

a) publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank terutama dengan pemberitaan media massa, b) persepsi negatif terhadap bank, c) kehilangan dari costumer, counterpart, atau regulator.

Penyebab hilangnya reputasi di antaranya: a) kesalahan manajemen, b) manajemen tidak mematuhi hukum yang berlaku, c) skandal keuangan, d) ketiadaan kemampuan dalam mengelola, integrasi kesehatan bank. Risiko reputasi ini relatif sulit untuk diukur apalagi terkait dengan persepsi nasabah.

5) Risiko Strategik

Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh: a) adanya penetapan strategi dan atau pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, b) pengambilan keputusan bisnis yang

23Ibid,. 156.

63

tidak tepat, dan c) kurangnya responsif bank terhadap perubahan eksternal.

6) Risiko Kepatuhan

Risiko yang disebabkan bank tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Pada praktiknya, risiko kepatuhan berkaitan dengan perundang-undangan yang dikeluarkan pihak-pihak yang berwenang dalam perbankan maupun terkait lainnya, seperti ketentuan CAR, KAP, PPAP, BMPK, PDN, Pajak, dan sebagainya.

7) Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko yang timbul akibat tidak berfungsinya:

a) Proses internal: pelanggaran prosedur dan ketentuan, pelanggaran kontrol (proses riview produk baru, berkaitan dengan desain dan implementasi produk baru, kontrol terhadap pelaksanaan produk jasa yang sudah ada) dan sebagainya.

b) Kesalahan manusia: hubungan antar pegawai (diskriminasi, pelecehan seksual), kesalahan pegawai, penyimpangan pegawai, tidak terpenuhinya jumlah pegawai dan sebagainya.

c) Kegagalan sistem: kegagalan hardware, kegagalan software, konfigurasi lemah (saluran telepon tidak berfungsi, kapasitas jaringan tidak mendukung) dan sebagainya.

d) Problem eksternal: kejahatan eksternal (pencurian, penipuan, pemalsuan), bencana faktor alam (gempa bumi, banjir, angin topan, gempa, tsunami), faktor manusia (perang, terorisme, perampokan), penerobosan sistem teknologi (hacker, penembusan user id) dan sebagainya.

Risiko operasional yang dapat mempengaruhi operasional bank dan merugikan yang melekat pada setiap aktivitas fungsional perbankan di antaranya: pembiayaan, operasional dan jasa, pendanaan dan instrument hutang, teknologi, dan sistem informasi, treasury dan investasi, pembiayaan perdagangan, sumber daya insani dan aktivitas umum.24

8) Risiko Hukum

Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperrti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan agunan yang tidak sempurna.25

c. Kerugian Yang Ditimbulkan Akibat Terjadinya Risiko26 1. Dampak terhadap karyawan

24Ibid,. 158-159.

25Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia, (Jakarta:

Salemba Empat, 2013), hlm 213.

26Ibid., hlm 31.

65

Karyawan suatu bank dapat terpengaruh oleh peristiwa risiko (risk event) yang menimbulkan risk loss terkait dengan keterlibatan mereka. Pengaruh tersebut dapat berupa:

a) Dikenakan sanksi indisipliner karena kelalaian yang menimbulkan kerugian;

b) Pengurangan pendapatan seperti pengurangan bonus atau pemotongan gaji;

c) Pemutusan hubungan kerja.

2. Dampak terhadap nasabah

Kegagalan dalam pengelolaan risiko dapat berpengaruh terhadap nasabah. Dampak yang terjadi dapat secara langsung maupun tiak langsung dan tidak seketika dapat diidentifikasikan.

Pengaruh risk event yang berlangsung secara berkelanjutan, pada gilirannya akan menimbulkan risk loss terhadap kelangsungan usaha bank itu sendiri. Konsekuensi risk loss yang berdampak terhadap nasabah bank, adalah:

a) Merosotnya tingkat pelayanan;

b) Berkurangnya jenios dan kualitas produk yang ditawarkan;

c) Krisis likuiditas sehingga menyulitkan dalam pencairan dana;

d) Perubahan peraturan.

2. Pembiayaan Murabahah

a. Definisi Pembiayaan Murabahah

Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu yang ditetapkan dengan imbalan atau bagi hasil.27

Murabahah atau disebut juga ba’i bitsmanil ajil. Kata murabahah berasalah dari kata ribhu (keuntungan). Sehingga murabahah berarti saling menguntungkan. Secara sederhana murabahah berrati jual beli barang ditambah keuntungan yang disepakati.

Jual beli murabahah secara terminologis adalah pembiayaan yang saling menguntungkan yang dilakukan oleh shahib al-mal dengan pihak yang membutuhkan melalui transaksi jual beli dengan penjelasan bahwa harga pengadaan barang dan harga jual terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau angsur.

Jual beli murabahah adalah pembelian oleh satu pihak untuk kemudian dijual kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan. Atau singkatnya jual beli murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan

27Kasmir, Manajemen Perbankan, 333.

67

pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk Natural Certainty Contract, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh).28

Dari penjelasan di atas maka, pembiayaan dengan akad murabahah adalah pembiayaan berupa transaksi jual beli barang sebesar harga perolehan barang ditambah margin keuntungan yang disepakati para pihak (penjual dan pembeli). Besar margin keuntungan dinyatakan dalam bentuk nominal rupiah atau presentase dari harga pembelian.29

b. Landasan Hukum Murabahah

Jual beli dengan sistem murabahah merupakan akad jual beli yang diperbolehkan, hal ini berdasarkan pada dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadist ataupun ijma’ ulama. Di antara dalil yang memperbolehkan praktik akad jual beli murabahah adalah firman Allah:

















































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu membunuh dirimu; sesunguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu.30(QS. An-Nisa’ : 29).

Dalam surat Al-Baqarah, Allah SWT. berfirman:

28Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah, (Jakarta: PRENADAMEDIA, 2013), 136.

29Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, 212.

30Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit J-ART, 2005), 84.

ﱠﻞَﺣَأَو