viii ABSTRAK
Tri Sestuning Susanti, 2015: Pengelolaan Manajemen Risiko Pembiayaan Murabahah pada Bank Syariah (Studi Kasus di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember) Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis. Manajemen risiko pembiayaan adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari penyaluran pembiayaan.
Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah 1) bagaimana pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember. 2) bagaimana mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember. 3) langkah-langkah apa sajakah yang digunakan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember dalam penanganannya terkait penyelesaian pembiayaan bermasalah.
Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan pengelolaan manajemen risiko pembayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pemabntu Jember. 2) mendeskripsikan mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pemabantu Jember. 3) mendeskripsikan langkah-langkah yang dilakukan Bank Jatim Syariah Cabang Pemabantu Jember dalam penanganannya terkait penyelesaian pembiayaan bermasalah.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, jenis penelitian Field Research (penelitian lapangan), teknik penentuan informan menggunakan purposive, metode pengumpulan data: metode observasi (non partisipatif), wawancara, dan dokumenter dan analisis data menggunakan deskriptif kualitatif yang memicu tiga pola fikir yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta keabsahan data dengan triangulasi sumber.
Penelitian ini memperoleh kesimpulan 1) pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember telah dilaksanakan sejak awal nasabah mengajukan pembiayaan. Proses manajemen risiko dilakukan dengan empat tahap yaitu: identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko. 2) mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember yaitu dimana nasabah megajukan pembiayaan atas pembelian suatu barang dengan akad murabahah kepada bank, tetapi bank tidak membelikan barang tersebut melainkan bank sebagai penyedia dana untuk pembelian barang tersebut, selanjutnya bank akan akan mewakilkan (akad wakalah) atas pembelian barang kepada nasabah, nasabah akan melakukan pembayaran dengan sistem angsuran, jangka waktu pembayaran ditetapkan oleh nasabah. 3) untuk langkah penyelesaian pembiayaan bermasalah bank akan terlebih dahulu melakukan penyelamatan dengan restrukturisasi, jika memang sudah tidak dapat diselamatkan maka bank akan melakukan pencairan agunan.
A. Latar Belakang
Perbankan adalah suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan memberikan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum muslimin, pembiayaan yang dilakukan dengan akad yang sesuai syariah telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sejak zaman Rasulullah SAW.
Praktik-praktik seperti menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang telah lazim dilakukan sejak zaman Rasulullah. Dengan demikian, fungsi- fungsi utama perbankan modern yaitu menerima deposito, menyalurkan dana, dan melakukan transfer dana telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan kehidupan umat Islam, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. 1
Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah:
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.2
Sedangkan Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank
1 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta : IIIT Indonesia, 2004),18.
2 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarata: PT. RajaGrafindo Persada, 2013),24
2
Islam atau yang biasa disebut Bank Tanpa Bunga, adalah lembaga keuangan atau perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW. Atau dengan kata lain, Bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam.3
Bank merupakan satu-satunya lembaga keuangan depositori. Sebagai lembaga keuangan depositori, bank memiliki izin untuk menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan yaitu berupa giro, tabungan dan deposito. Dana yang diperoleh kemudian dapat dialokasikan ke dalam aktiva dalam bentuk pemberian pinjaman dan investasi. Kekhususan kegiatan yang dilakukan oleh bank inilah yang membedakan bank dengan lembaga keuangan lain. Disamping kekhususan dalam menghimpun dana masyarakat atau dana pihak ketiga tersebut bank diperbolehkan untuk menjalankan usaha yang sama dengan usaha lembaga keuangan lain.4
Perbankan syaraiah adalah suatu sistem yang pelaksanaannya berdasarkan hukum islam. Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman.
Salah satu fungsi bank syariah yaitu menghimpun dan menyalurkan dana kepada nasabah. Dalam menghimpun dan menyalurkan dananya kepada nasabah, secara garis besar produk pembiayaan perbankan syariah didasarkan
3 Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), 13
4 Ferry N. Idroes dan sugiarto, Manajemen Risiko Perbankan Dalam Konteks Kesepakatan Basel dan Peraturan Bank Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 4.
pada sistem bagi hasil. Praktik bagi hasil ini terkemas dalam dua jenis pembiayaan, yiatu pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah.
Jenis pembiayaan lainnya terkemas dalam pembiayaan berakad atau sistem jual beli, yaitu pembiayan murabahah, pembiayaan bai as-salam, dan pembiayaan isthisna’.
Salah satu skim fiqih yang paling popular digunakan oleh perbankan syariah adalah skim jual beli murabahah. Transaksi murabahah ini lazim dilakukan oleh Rasululah SAW dan para sahabatnya. Pembiayaan murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati penjual dan pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk Natural Certainty Contrancts (NCC) yaitu, kontrak atau akad dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing).5 Namun demikian, pembiayaan tersebut tidak terlepas dari risiko-risiko yang akan dihadapi.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan yang dicirikan dengan adanya penyerahan barang di awal akad dan pembayaran kemudian, baik dalam bentuk angsuran maupun dalam bentuk limp sum (sekaligus). Dengan demikian pemberian pembiayaan murabahah dengan jangka waktu panjang dapat menimbulkan risiko tidak bersaingnya bagi hasil kepada dana pihak ketiga.6
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 pada tanggal 19 Mei 2003 tentang penerapan manajemen risiko untuk bank umum,
5 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, 51
6 Ibid, 263
4
merupakan keseriusan Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan. Keseriusan tersebut lebih dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia No. 7/25/PBI/2005 pada agustus 2005 tentang sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan pejabat bank umum, yang mengharuskan seluruh pejabat bank dari tingkat terendah hingga tertinggi memiliki sertifikat manajemen risiko sesuai dengan tinggat jabatannya.
Berdasarkan kedua peraturan di atas Bank Indonesia menekankan bahwa perbankan dalam menjalankan bisnis dan pengendalian diperlukan untuk mengatur risiko-risikonya, yang mencakup risiko identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian.7
Sangat menarik jika mengetahui secara mendalam manajemen risiko yang ada pada pembiayaan yang terjadi di lapangan, sehingga tidak hanya mendengar tentang teorinya saja, akan tetapi mengetahui langsung penerapannya di lapangan. Selain itu juga dapat diketahui bagaimana strategi yang digunakan untuk menghadapi risiko yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada pembiayaan. Sehingga penerapan manajemen risiko bisa terlaksana secara ideal. Risiko pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah merupakan salah satu risiko yang perlu dikelola secara tepat karena kesalahan dalam pengelolaan risiko dalam pembiayaan dapat berakibat fatal.
Risiko yang sangat fatal dalam pembiayaan biasanya dimana nasabah tidak menggunakan dana pembiayaan sesuai dengan perjanjian antara pihak bank dan nasabah pada awal pengajuan pembiayaan. Jika risiko tersebut
7 Ferry N. Idroes,Manajemen Risiko Perbankan Pemahaman Pendekatan 3 Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), 52.
terjadi maka pihak bank akan dirugikan. Sehingga untuk meminimalisir terjadinya risiko tersebut pihak bank harus menerapkan manajemen risiko.
Dimana bank menggunakan sebuah strategi untuk mengelola risiko-risiko terkait pembiayaan yang disalurkan oleh bank kepada nasabah.
Atas dasar uraian di atas menarik keinginan peneliti untuk melakukan penelitian tentang hal tersebut. Peneliti mempunyai argumen bahwa semakin banyak pembiayaan yang diberikan bank syariah kepada nasabah, tentunya juga mempunyai risiko yang apabila pengelolaannya kurang maksimal akan menyebabkan kerugian-kerugian bank syariah itu sendiri.
Peneliti memilih Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember karena Bank Jatim Cabang Pembantu Jember merupakan bank syariah yang baru didirikan tahun 2012, namun Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember dapat bersaing dengan bank syariah lainnya. Hal tersebut terbukti dengan jumlah nasabah yang hingga kini mencapai 1000 nasabah. Hal tersebut memunculkan asumsi peneliti, jika semakin banyak nasabah maka kemungkinan risiko yang akan timbul juga semakin banyak. Sehingga hal tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian tentang manajemen risiko yang dilakukan oleh Bank Jatim Syariah Cabang Pemabantu Jember.
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka pembahasan ini layak untuk diangkat dan dikaji melalui penelitian dengan topik pengeloalaan manajemen risiko dan menuangkan ke dalam bentuk skripsi dengan judul
“PENGELOLAAN MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN
6
MURABAHAH PADA BANK SYARIAH (Studi Kasus Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember)”.
B. Fokus Penelitian
Rumusan masalah adalah langkah awal untuk menentukan sesuatu hal yang diteliti. Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah pada Bank Syariah (Studi Kasus Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember)?
2. Bagaimana mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember?
3. Langkah-langkah apa yang dilakukan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember dalam penanganannya terkait pembiayaan bermasalah?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. 8
1. Untuk mendeskripsikan pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah pada Bank Syariah (Studi Kasus pada Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember).
8 STAIN JEMBER, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: STAIN Jember Press, 2014), 45.
2. Untuk mendeskripsikan mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember.
3. Untuk mendeskripsikan langkah-langkah dilakukan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember dalam penanganannya terkait pembiayaan bermasalah.
D. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian diharapkan memiliki manfaat. Manfaat tersebut bisa bersifat teoritis dan praktis. Untuk penelitian kualitatif, manfaat penelitian lebih bersifat teoritis, yaitu untuk pengembangan ilmu, namun juga tidak menolak manfaat praktisnya untuk memecahkan masalah. Bila penelitian kualitatif dapat menemukan teori, maka akan berguna untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengendalikan suatu gejala. 9
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
Diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan atau wawasan tentang masalah yang akan dikaji, khususnya mengenai pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah pada Bank Syariah, sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah.
9 Sugiyono, Metode Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2013), 291.
8
2. Secara Praktis a. Bagi Peneliti
Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan yang berkaitan dengan pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah pada Bank Syariah dan dapat menjadi penelitian ilmiah yang memenuhi syarat sebagai laporan atau tugas akhir untuk mendapat gelar Sarjana Strata Satu (S1).
b. Bagi IAIN Jember
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan IAIN Jember khususnya Fakultas Syariah Jurusan Muamalah dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
c. Bagi Masyarakat
Dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu mengenai pengajuan pembiayaan murabahah. Dimana dengan penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mempersiapkan persyaratan dalam hal pengajuan pembiayaan murabahah sehingga dapat meminimalisir risiko pembiayaan murabahah pada Bank Syariah ke depannya.
E. Definisi Istilah
Berikut adalah istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makana istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti. 10
10STAIN JEMBER, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 52.
Adapun definisi yang perlu adanya pemaparan yaitu sebagai berikut:
1. Pengelolaan
Proses, cara, perbuatan mengelola. Atau proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. 11
2. Manajemen Risiko
Suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.12
3. Pembiayaan
Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu yang ditetapkan dengan imbalan atau bagi hasil.13
4. Murabahah
Murabahah adalah akad jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam konteks ini, penjual harus
11 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 534.
12 Irham Fahmi, Manajemen Risiko Teori, Kasus, dan Solusi, (Bandung: ALFABETA, 2013 ), 2.
13 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), 333.
10
memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan sebagai tambahannya. 14
Maksud peneliti dengan judul tersebut di atas yaitu peneliti ingin mengetahui proses pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah yang dilakukan di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember. Manajemen risiko disini yaitu proses meminimalisir risiko yang muncul dari pembiayaan yang dilakukan oleh bank.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan suatu hal sangat penting dalam memberikan gambaran secara singkat tentang isi dan kerangka penulisan skripsi yang nantinya akan dapat memberikan pemahaman sekilas bagi penulis dan pembaca karya tulis ini. Untuk lebih memudahkan dalam pembuatan skripsi, maka sebaiknya disusun suatu sistematika yang sesuai dengan urutan-urutan yang ada dalam skripsi.
Sistematika pembahasan dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara singkat tentang semua hal yang berkaitan dalam pembahasan skripsi, sistematika pembahasan tersebut terdiri dari:
BAB I, Membahas tentang pendahuluan yang terdiri dari sub-sub bab yaitu:
Latar belakang sebagai bahan pertimbangan awal mengetahui dan mengkaji lebih jauh dari permasalahan yang ada, sebagai kelanjutannya adalah fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, selanjutnya
14 Ahmadiono, Dasar-Dasar Bank Syariah, (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 57.
gambaran teknis dalam penelitian diklasifikasikan kedalam sistematika pembahasan.
BAB II, Kajian kepustakaan, yang mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori mengenai pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah pada bank syariah.
BAB III, Dalam bab ini akan dikemukakan mengenai metode penelitian yang meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV, Ini membahas tentang penyajian data dan analisis yang didalamnya mencakup gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis, serta pembahasan temuan.
BAB V, Penutup, kesimpulan dan saran, sebagai sub bab terkait dari skripsi yang berisikan tentang kesimpulan dari keseluruhan pembahasan yang telah dijelaskan.
45 BAB II KEPUSTAKAAN
A. Penelitian Terdahulu
Studi pustaka perlu dikaji terlebih dahulu untuk menguasai teori yang relevan dengan topik atau masalah penelitian dan rencana model analisis yang dipakai. Sehubungan dengan penelitian ini, ada beberapa peneliti yang terlebih dahulu pernah melakukan penelitian mengenai manajemen risiko dan pembiayaan murabahah, antara lain :
1. Manajemen Risiko Pembiayaan di Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Forsitama Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. Penelitian Evi Septi Hernawati dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2014. Penelitian ini membahas tentang manajemen risiko pembiayaan yang diterapkan di BMT Forsitama.
Hasil dari penelitian di atas menunjukkan bahwa manajemen risiko pembiayaan di BMT Forsitama telah dilaksanakan dengan baik.
Terbukti dengan adanya pembiayaan macet 0,12% dari jumlah pembiayaan. Pembiayaan pada BMT Forsitama dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pesat. Manajemen risiko pembiayaan yang digunakan dalam mengidentifikasi risiko pembiayaan yaitu survey dan wawancara. Setelah diidentifikasi BMT melakukan pengukuran dengan membagi ke dalam empat golongan yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. dalam pemantauannya BMT menggunakan beberapa cara
seperti memantau pelunasan nasabah, rekening anggota, usaha nasabah, dan lain-lain. Kemudian untuk mengendalikan risiko BMT mempunyai 4 cara yaitu penetapan prosedur dan kebijakan pembiayaan, asuransi, peningkatan SDM, dan penagihan intensif.15
Jika dalam penelitian di atas menjelaskan tentang penerapan manajemen risiko di BMT secara keseluruhan, maka dalam penelitian ini lebih fokus kepada pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah, jadi pembahasannya dibatasi hanya untuk pembiayaan murabahah.
2. Pelaksanaan Pengawasan Pembiayaan Murabahah Sebagai Upaya Meminimalisir Risiko Bermasalah pada BMT Usaha Gabungan Terpadu (UGT) Sidogiri Capem Jenggawah. Penelitian oleh Moh.
Hozin tahun 2013. Penelitian ini membahas bagaimana proses pelaksanaan pengawasan pembiayaan murabahah sebagai upaya meminimalisir risiko bermasalah pada BMT UGT Sidogiri Capem Jenggawah.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pelaksanaan pengawasan pembiayaan pada BMT UGT Sidogiri Capem Jenggawah secara terus- menerus dilakukan guna menjamin pembiayaan serta menghindari pembiayaan bermasalah. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa bagaimana mengatasi kredit bermasalah yang mencerminkan pelaksanaan
15 Evi Septi Hernawati, Manajemen Risiko Pembiayaan di Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Forsitama Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta, SKIPSI, (Yogyakarta, UIN Suka, 2014),
47
pengawasan kredit yang dipengaruhi oleh keterlambatan pembayaran pinjaman.16
Jika dalam penelitian di atas lebih mengkaji tentang proses pengawasan yang dilakukan untuk menghindari kredit bermasalah, maka dalam penelitian ini fokus kajian lebih kepada pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah, jadi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengelola risiko yang akan timbul dalam jangka waktu tertentu terkait pembiayaan murabahah.
3. Implementasi pembiayaan al Murabahah pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Semarang dengan pendekatan hukum perdata Indonesia. Penelitian oleh Irjayanti Erning Tri tahun 2008. Penelitian ini membahas tentang tahapan-tahapan dalam pembiayaan, yaitu:
permohonan, investigasi, analisa pembiayaan, persetujuan komite pembiayaan (SP3), Penandatanganan akad pembiayaan, pencairan pembiayaan, perhitungan angsuran, pembayaran angsuran,dan pelunasan ditinjau dengan hokum perdata di Indonesia.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa menurut Hukum Islam kontruksi hokum murabahah merupakan jual beli yang hukumnya halal dan tidak mengandung riba, karena dalam hukum islam tidak membedakan perjanjian penyerahan barang secara obligatoir dan kebendaan, sedangkan apabila dilihat dari KUH Perdata, kontruksi al murabahah tidak bisa dikatakan sebagai jual beli karena bank bukan
16 Moh. Hozin, Pelaksanaan Pengawasan Pembiayaan Murabahah Sebagai Upaya Meminimalisir Risiko Bermasalah pada BMT Usaha Gabungan Terpadu (UGT) Sidogiri Capem Jenggawah, SKRIPSI, (Jember, IAIN JEMBER, 2012)
sebagai penjual karena belum pernah menjadi pemilik barang. Lebih tepat dikatakan sebagai pembiayaan konsumen karena kontruksi hukumnya sama.17
Persamaan penelitian dahulu dengan penelitian ini yaitu sama- sama membahas tentang mekanisme atau tahapan-tahapan dalam pembiayaan murabahah. Sedangkan perbedaannya yaitu jika penelitian terdahulu lebih menitik beratkan pembahasan tentang tinjauan hukum islam dan hukum perdata, sedangkan dalam penelitian ini fokus pembahasan lebih kepada proses manajemen risiko yang dilakukan perbankan terhadap pembiayaan murabahah.
B. Kajian Teori
1. Manajemen Risiko
a. Pengertian Manajemen Risiko
Ada banyak definisi tentang risiko. Risiko dapat ditafsirkan sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya (future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini. Menurut Ricky W.
Griffin dan Ronald J. Ebert, risiko adalah uncertainty about future events. Adapaun Joel G. Siegel dan Jae K. Shim mendifinikan risiko pada tiga hal, yaitu:
17 Erjayanti Erning Tri, Implementasi pembiayaan al Murabahah pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Semarang dengan pendekatan hukum perdata Indonesia, (Semarang, 2008)
49
a) Pertama adalah keadaan yang mengarah kepada sekumpulan hasil khusus, dimana hasilnya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambil keputusan.
b) Kedua adalah variasi dalam keuntungan, penjualan, atau variable keuangan lainnya.
c) Ketiga adalah kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keungan, seperti risiko ekonomi, ketidakpastian politik, dan masalah industri.
Lebih jauh lagi Joel G. Siegel dan Jae Shim menjelaskan pengertian dari analisis risiko adalah proses pengukuran dan penganalisaan risiko disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi. Sementara itu David K. Eiteman, Arthur I. Stonehil dan Michael H. Moffett mengatakan bahwa risiko dasar adalah the mismatching of interest rate bases for associated assets and liabilities.
Sedangkan manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.
1) Manfaat Manajemen Risiko
Dengan diterapkannya manajemen risiko di suatu perusahaan ada beberapa manfaat yang akan diperoleh, yaitu:
a) Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan, sehingga para manajer menjadi lebih berhati-hati (pudent) dan selalu menempatkan ukuran- ukuran dalam berbagai keputusan.
b) Mampu memberi arah bagi suatu perusahaan dalam melihat pengaruh-pengaruh yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang.
c) Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu menghindari risiko dan menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya kerugian dari segi finansial.
d) Memungkinkan perusahaan memperoleh risiko kerugian minimum.
e) Dengan adanya konsep manajemen risiko (risk manajement concept) yang dirancang secara detail maka artinya perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara suintainable (berkelanjutan).
2) Tahap-Tahap Melaksanakan Risiko
Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu:
a) Identifikasi Risiko
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang
51
dialami perusahaan, termasuk bentuk-bentuk risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Identifikasi ini dilakukan dengan cara melihat potensi-potensi risiko yang sudah terlihat dan yang akan terlihat.
b) Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko
Pada tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk dan format risiko yang dimaksud. Bentuk-bentuk risiko yang diidentifikasi disini telah mampu dijelaskan secara detail, seperti ciri-ciri risiko dan faktor-faktor timbulnya risiko tersebut. Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan juga sudah mulai mengumpulkan dan menerima berbagai data-data baik bersifat kualitatif dan kuantitatif.
c) Menempatkan ukuran-ukuran risiko
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan. Data-data yang masuk juga sudah dapat diterima, baik yanga berbentukkualitatif dan kuantitatif serta pemilihan data dilakukan berdasarkan pendekatan metodologi yang digunakan. Dengan kepemilikan rancangan metodologi penelitian yang ada diharapkan pihak manajemen perusahaan telah memiliki fondasi kuat guna melakukan pengolahan
data. Untuk dipahami bahwa penggunaan ukuran dengan berdasarkan format metodologi penelitian yang digunakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh kecermatan karena jika salah atau tidak sesuai dengan kasus yang ditangani maka hasil yang akan diperoleh nantinya juga dianggap tidak akan akurat.
d) Menempatkan alternatif-alternatif
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan kemudian dijabarkan dalam pengolahan data.
Hasil pengolahan kemudian dijabarkan dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif beserta akibat-akibat atau pengaruh- pengaruh yang akan timbul jika keputusan-keputusan tersebut diambil. Berbagai bentuk penjabaran yang dikemukakan tersebut dipilih dan ditempatkan sebagai alternatif-alternatif keputusan.
e) Menganalisis setiap alternatif
Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul. Dampak yang mungkin timbul baik secara jangka pendek maupun jangka panjang dipaparkan secara komprehensif dan sistematis, dengan tujuan mampu diperoleh gambaran secara jelas dan tegas.
53
Kejelasan dan ketegasan sangat penting gena membantu pengambilan keputusan secara tepat.
f) Memutuskan satu alternatif
Pada tahap ini setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan baik dalam bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam. Pemilihan satu alternatif dari berbagai alternatif yang ditawarkan artinya mengambil alternatif yang terbaik dari berbagai alternatif yang ditawarkan termasuk dengan menolak berbagai alternatif lainnya. Dengan pemilihan satu alternatif sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki fondasi kuat bdalam menugaskan pihak manejemen perusahaan untuk bekerja berdasarkan konsep dan koridor yang ada.
g) Melaksanakan alternatif yang dipilih
Pada tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang dilenkapi dengan rincian biaya. Rincian biaya yang dialokasikan tersebut telah disetujui oleh bagian keuangan serta otoritas pengambil penting lainnya.
h) Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut
Pada tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim manajemen beserta para manajer perusahaan.
Tugas utama manajer perusahaan adalah melakukan kontrol yang maksimal guna menghindari timbulnya berbagai risiko yang tidak diinginkan.
i) Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih
Pada tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan control dilakukan maka selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak manajer perusahaan.
Pelaporan tersebut berbentuk data-data yang bersifat fundamental dan teknikal serta dengan tidak mengesampingkan informasi yang bersifat lisan. Tujuan melakukan evaluasi dari alternatif yang telah dipilih tersebut adalah bertujuan agar pekerjaan tersebut dapat terus dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.
3) Tipe Risiko
Bagi pelaku sector bisnis dan pihak perbankan khususnya perlu mengamati dan memahami tipe-tipe risiko dengan seksama, karena menyangkut dengan penyaluran kredit yang diberikan kepada para debiturnya dan risiko yang akan ditangggung oleh para debiturnya tersebut. Dari sudut pandang akademisi ada dua jenis risiko namun secara umum risiko itu hanya dikenal dalam 2
55
(dua) tipe saja, yaitu risiko murni (pure risk) dan risiko spekulasi (speculative risk). Adapun kedua bentuk tipe risiko tersebut adalah:
a) Risiko murni (pure risk). Risiko murni dapat dikelompokkan pada 3 (tiga) tipe risiko yaitu:
(1) Risiko aset fisik
Merupakan risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan atau perusahaan. Contohnya kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
(2) Risiko karyawan
Merupakan risiko karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan atau organisasi tersebut.
Contohnya kecelakaan kerja sehingga aktivitas perusahaan terganggu.
(3) Risiko legal
Merupakan risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Contohnya perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti ganti kerugian.
b) Risiko spekulatif (speculative risk). Risiko spekulatif ini dapat dikelompokkan kepada empat tipe risiko yaitu:
(1) Risiko pasar
Merupakan risiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Contohnya harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
(2) Risiko kredit
Merupakan risiko yang terjadi karena counter party gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan. Contohnya timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
(3) Risiko likuiditas
Merupakan risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas. Contohnya kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
(4) Risiko operasional
Merupakan risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan dengan lancar.
Contohnya terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
4) Mengelola Risiko
Dalam beraktivitas, yang namanya risiko pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehingga bagi sebuah lembaga bisnis seperti misalnya perbankan sangat penting untuk memikirkan bagaimana
57
mengelola atau me-manage risiko tersebut. Pada dasarnya risiko itu sendiri dapat dikelola dengan 4 (empat) cara, yaitu:
(a) Memperkecil risiko
Keputusan untuk memperkecil risiko adalah dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan yang mengandung risiko tinggi tapi, membatasinya bahkan meminimalisasinya agar risiko tersebut tidak bertambah besar di luar dari kontrol pihak manajemen perusahaan. Karena mengambil keputusan di luar dari pemahaman manajemen perusahaan maka itu sama artinya dengan melakukan keputusan yang sifatnya spekulasi.
(b) Mengalihkan risiko
Keputusan mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima tersebut kita alihkan ke tempat lain sebagaian, seperti dengan keputusan mengasuransikan bisnis guna menghindari terjadinya risiko yang sifatnya tidak diketahui kapan waktunya.
(c) Mengontrol risiko
Keputusan mengontrol risiko adalah dengan cara melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya risiko sebelum risiko itu terjadi. Kebijakan seperti ini biasanya dilakukan dengan memasang alat pengaman atau pihak penjaga keamanan pada tempat-tempat yang dianggap vital. Seperti memasang alarm
pengaman pada mobil, alarm kebakaran pada rumah dan menempatkan satpam pada siang atau malam hari.
(d) Pendanaan risiko
Keputusan pendanaan risiko adalah menyangkut penyediaan sejumlah dana sebagai cadangan (reserve) guna mengantisipasi timbulnya risiko di kemudian hari seperrti perubahan nilai tukar dolar terhadap nilai mata uang domestik di pasaran. Maka kebijakan sebuah perbankan adalah harus memiliki cadangan dalam bentuk mata uang dolar sehingga sejumlah perkiraan akan terjadi kenaikan atau perubahan tersebut.18
b. Manajemen Risiko Bank Syariah
Bisnis adalah suatu aktivitas yang selalu berhadapan dengan risiko dan return. Bank Syariah adalah salah satu unit bisnis. Dengan demikian, bank syariah juga akan menghadapi risiko manajemen bank itu sendiri. Bahkan kalau dicermati mendalam, bank syariah merupakan bank yang sarat dengan risiko. Karena dalam menjalankan aktivitasnya bank berhubungan dengan produk-produk bank yang mengandung banyak risiko. Demikian pula risiko yang diakibatkan karena ketidakjujuran atau kecurangan nasabah dalam melakukan transakasi. Oleh karena itu, para pejabat bank syariah harus dapat
18 Irham Fahmi, Manajemen Risiko Teori, Kasus, dan Solusi, 2-7.
59
mengendalikan risiko seminimal mungkin dalam rangka untuk memperoleh keuntungan yang optimum. 19
Sesuai PBI No. 13/23/PBI/2011 tentang penerapan manajemen risiko bagi Bank umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, terdapat 10 (sepuluh) risiko yang harus dikelola bank. Kesepuluh jenis risiko tersebut adalah Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Operasional, Risiko Likuiditas, Risiko Kepatuhan, Risiko Hukum, Risiko Reputasi, Risiko Strategis, Risiko Imbal Hasil, dan Risiko Investasi.
Sedangkan dalam pengelolaan manajemen risiko, saat ini bank syariah masih mengacu pada SE BI No. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 dengan cakupan pengelolaan manajemen risiko mencakup 8 (delapan) risiko. Sedangkan untuk dua risiko lain, yaitu Risiko Imbal Hasil dan Risiko Investasi belum dilakukan pengukuran.20
Berikut adalah risiko yang harus dikelola oleh perbankan Syariah :
1) Risiko Kredit/Pembiayaan
Setiap pemberian kredit atau pembiayaan oleh bank mengandung risiko sebagai akibat dari ketidakpastian dalam pengembaliannya. Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok atau bunga (pada bank konvensional) dari pinjaman yang diberikan.
19 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Yogyakarta: EKONESIA, 2005), 142.
20 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), 350.
Penyebab utama terjadinya risiko kredit adalah terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian kredit kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko usaha yang dibiayainya. Risiko ini akan semakin tampak ketika perekonomian dilanda krisis atau resesi yang mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar hutang, apalagi misalnya pada bank konvensional diiringi suku bunga yang semakin tinggi. Sebagai akibatnya, bank akan mengalami kesulitan likuiditas jika ia mempunyai kredit macet dalam jumlah besar.
Untuk menghindari risiko ini, bank dapat mengembangkan upaya-upaya untuk mengeliminasinya dengan cara:
a. Bank harus melakukan analisis mendalam terhadap proyek yang akan dibiayai sebelum kredit diberikan. Langkah ini bisa dilakukan bila bank sudah memiliki metode analisis kelayakan kredit, permohonan sesuai prosedur, dan pemberian kredit tidak semata-mata karena agunan yang besar.
b. Bank wajib melakukan pemantauan terhadap kemampuan dan kepatuhan debitur setelah kredit diberikan.
61
c. Bank perlu melakukan peninjauan dan penilaian kembali agunan secara berkala dengan tujuan agar nilai agunan benar- benar mengcover kredit yang diberikan.
d. Apabila terjadi kredit bermasalah bank harus segera menyelesaikannya dengan tuntas.
e. Pembuatan credit line kepada setiap individu debitur maupun kelompok untuk menghindari risiko yang lebi besar bilamana kredit yang dimaksud wanprestasi.
f. Ban yang telah mendiversifikasikan penanaman dananya, sebelum pembelian terhadap surat-surat berharga (SSB) harus dilakukan penilaian terhadap kemampuan penerbit atau memperhatikan SSB dimaksud.21
2) Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko yang timbul akibat adanya perubahan variabel pasar, seperti: suku bunga, nilai tukar, harga equity dan harga komoditas sehingga nilai portofolio/asset yang dimiliki bank menurun. Berdasarkan Bank Indonesia, sebagai bank umum dengan prinsip syraiah, maka Bank Syariah hanya perlu mengelola risiko pasar yang terkait dengan perubahan nilai tukar yang dapat menyebabkan kerugian bank. 22
3) Risiko Likuiditas
21 Ahmadiono, Dasar-Dasar Bank Syariah, 117-118.
22 M. Sulhan, Ely Siwanto, Manajemen Bank Konvensional dan Syariah,(Malang: UIN Malang Press, 2008),154.
Risiko likuiditas pasar dimana risiko yang timbul karena bank tidak mampu melakukan off setting tertentu dengan harga karena kondisi likuiditas pasar tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan adalah risiko yang timbul karena bank tidak mampu mencairkan asetnya atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain. 23
4) Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko disebabkan oleh antara lain:
a) publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank terutama dengan pemberitaan media massa, b) persepsi negatif terhadap bank, c) kehilangan dari costumer, counterpart, atau regulator.
Penyebab hilangnya reputasi di antaranya: a) kesalahan manajemen, b) manajemen tidak mematuhi hukum yang berlaku, c) skandal keuangan, d) ketiadaan kemampuan dalam mengelola, integrasi kesehatan bank. Risiko reputasi ini relatif sulit untuk diukur apalagi terkait dengan persepsi nasabah.
5) Risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh: a) adanya penetapan strategi dan atau pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, b) pengambilan keputusan bisnis yang
23 Ibid,. 156.
63
tidak tepat, dan c) kurangnya responsif bank terhadap perubahan eksternal.
6) Risiko Kepatuhan
Risiko yang disebabkan bank tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Pada praktiknya, risiko kepatuhan berkaitan dengan perundang- undangan yang dikeluarkan pihak-pihak yang berwenang dalam perbankan maupun terkait lainnya, seperti ketentuan CAR, KAP, PPAP, BMPK, PDN, Pajak, dan sebagainya.
7) Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang timbul akibat tidak berfungsinya:
a) Proses internal: pelanggaran prosedur dan ketentuan, pelanggaran kontrol (proses riview produk baru, berkaitan dengan desain dan implementasi produk baru, kontrol terhadap pelaksanaan produk jasa yang sudah ada) dan sebagainya.
b) Kesalahan manusia: hubungan antar pegawai (diskriminasi, pelecehan seksual), kesalahan pegawai, penyimpangan pegawai, tidak terpenuhinya jumlah pegawai dan sebagainya.
c) Kegagalan sistem: kegagalan hardware, kegagalan software, konfigurasi lemah (saluran telepon tidak berfungsi, kapasitas jaringan tidak mendukung) dan sebagainya.
d) Problem eksternal: kejahatan eksternal (pencurian, penipuan, pemalsuan), bencana faktor alam (gempa bumi, banjir, angin topan, gempa, tsunami), faktor manusia (perang, terorisme, perampokan), penerobosan sistem teknologi (hacker, penembusan user id) dan sebagainya.
Risiko operasional yang dapat mempengaruhi operasional bank dan merugikan yang melekat pada setiap aktivitas fungsional perbankan di antaranya: pembiayaan, operasional dan jasa, pendanaan dan instrument hutang, teknologi, dan sistem informasi, treasury dan investasi, pembiayaan perdagangan, sumber daya insani dan aktivitas umum.24
8) Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan, seperrti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau pengikatan agunan yang tidak sempurna. 25
c. Kerugian Yang Ditimbulkan Akibat Terjadinya Risiko26 1. Dampak terhadap karyawan
24 Ibid,. 158-159.
25Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syariah Di Indonesia, (Jakarta:
Salemba Empat, 2013), hlm 213.
26 Ibid., hlm 31.
65
Karyawan suatu bank dapat terpengaruh oleh peristiwa risiko (risk event) yang menimbulkan risk loss terkait dengan keterlibatan mereka. Pengaruh tersebut dapat berupa:
a) Dikenakan sanksi indisipliner karena kelalaian yang menimbulkan kerugian;
b) Pengurangan pendapatan seperti pengurangan bonus atau pemotongan gaji;
c) Pemutusan hubungan kerja.
2. Dampak terhadap nasabah
Kegagalan dalam pengelolaan risiko dapat berpengaruh terhadap nasabah. Dampak yang terjadi dapat secara langsung maupun tiak langsung dan tidak seketika dapat diidentifikasikan.
Pengaruh risk event yang berlangsung secara berkelanjutan, pada gilirannya akan menimbulkan risk loss terhadap kelangsungan usaha bank itu sendiri. Konsekuensi risk loss yang berdampak terhadap nasabah bank, adalah:
a) Merosotnya tingkat pelayanan;
b) Berkurangnya jenios dan kualitas produk yang ditawarkan;
c) Krisis likuiditas sehingga menyulitkan dalam pencairan dana;
d) Perubahan peraturan.
2. Pembiayaan Murabahah
a. Definisi Pembiayaan Murabahah
Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu yang ditetapkan dengan imbalan atau bagi hasil.27
Murabahah atau disebut juga ba’i bitsmanil ajil. Kata murabahah berasalah dari kata ribhu (keuntungan). Sehingga murabahah berarti saling menguntungkan. Secara sederhana murabahah berrati jual beli barang ditambah keuntungan yang disepakati.
Jual beli murabahah secara terminologis adalah pembiayaan yang saling menguntungkan yang dilakukan oleh shahib al-mal dengan pihak yang membutuhkan melalui transaksi jual beli dengan penjelasan bahwa harga pengadaan barang dan harga jual terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau angsur.
Jual beli murabahah adalah pembelian oleh satu pihak untuk kemudian dijual kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan. Atau singkatnya jual beli murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan
27 Kasmir, Manajemen Perbankan, 333.
67
pembeli. Akad ini merupakan salah satu bentuk Natural Certainty Contract, karena dalam murabahah ditentukan berapa required rate profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh).28
Dari penjelasan di atas maka, pembiayaan dengan akad murabahah adalah pembiayaan berupa transaksi jual beli barang sebesar harga perolehan barang ditambah margin keuntungan yang disepakati para pihak (penjual dan pembeli). Besar margin keuntungan dinyatakan dalam bentuk nominal rupiah atau presentase dari harga pembelian.29
b. Landasan Hukum Murabahah
Jual beli dengan sistem murabahah merupakan akad jual beli yang diperbolehkan, hal ini berdasarkan pada dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadist ataupun ijma’ ulama. Di antara dalil yang memperbolehkan praktik akad jual beli murabahah adalah firman Allah:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu membunuh dirimu; sesunguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu.30 (QS. An-Nisa’ : 29).
28 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah, (Jakarta: PRENADAMEDIA, 2013), 136.
29 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, 212.
30 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit J-ART, 2005), 84.
Dalam surat Al-Baqarah, Allah SWT. berfirman:
لَحَأَو ُهّللْا َعْيَ بْلا َم رَحَو أوَبِّرْلا
Artinya : Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengaharamkan riba.
Dalam ayat ini, Allah menegaskan legalitas dan keabsahan jual beli secara umum, serta menolak dan melarang konsep ribawi.
Berdasarkan ketentuan ini, jual beli murabahah mendapat pengakuan dan legalitas dari syariah, dan sah untuk dioperasionalkan dalam praktik pembiayaan bank syariah karena merupakan salah satu bentuk jual beli dan tidak mengandung unsur ribawi.
Dalam hadits disebutkan riwayat dari Abu Said al Khudri bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka”. (HR. Al-Buqari dan Ibnu Majah) Dan sabda yang lain: “Ada tiga hal yang mengandung berkah, jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual”. (HR. Ibnu Majah).
Hadist di atas memberikan prasyarat bahwa akad jual beli murabahah harus dilakukan dengan adanya kerelaan masing-masing pihak ketika melakukan transaksi. Segala ketentuan yang terdapat dalam jual beli murabahah, seperti penentuan harga jual, margin yang diinginkan, mekanisme pembayaran, dan lainnya, dan harus terdapat
69
persetujuan dan kerelaan antara pihak nasabah dan bank, tidak bisa ditentukan secara sepihak. 31
c. Rukun dan Syarat Pembiayaan Murabahah
Rukun dari akad murabahah yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa, yaitu:
1) Pelaku akad, yaitu ba’i (penjual) adalah pihak yang memiliki barang untuk dijual, dan musytari (pembeli) adalah pihak yang memerlukan dan akan membeli barang.
2) Objek akad, yaitu mabi’ (barang dagangan)dan tsaman (harga).
3) Shighat, yaitu ijab dan qobul.
Beberapa syarat pokok murabahah menurut Usmani (1999),antar lain sebagai berikut:
a) Murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli ketika penjual secara eksplisit menyatakan biaya perolehan barang yang akan dijualnya dan menjual kepada orang lain dengan menambahkan tingkat keuntungan yang diinginkan.
b) Tingkat keuntungan dalam murabahah dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama dalam bentuk lumpsum atau persentase tertentu dari biaya.
c) Semua biaya yang dikeluarkan penjual dalam rangka memperoleh barang, seperti biaya pengiriman, pajak, dan sebagaimana dimasukkan ke dalam biaya perolehan untuk menentukan harga
31 Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasikdan Kontemporer, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), 91- 92.
agregat dan margin keuntungan didasarkan pada harga agregat ini.
Akan tetapi, pengeluaran yang timbul karena usaha, dan sebagainya tidak dapat dimasukkan ke dalam harga dalam suatu transaksi. Margin keuntungan yang diminta itulah yang meng- cover pengeluaran-pengeluaran tersebut.
d) Muarabahah dikatakan sah hanya ketika biaya-biaya perolehan barang dapat ditentukan secara pasti. Jika biaya-biaya tidak dapat dipastikan, barang/komoditas tersebut tidak dapat dijual dengan prinsip murabahah.32
d. Mekanisme Pembiayaan Murabahah
Mekanisme pembiayaan murabahah yaitu: 33
1) Nasabah mengajukan permohonan kepada bank untuk membeli barang.
2) Bank dan nasabah melakukan negosiasi harga barang, persyaratan, dan cara pembayaran.
3) Bank dan nasabah bersepakat melakukan transaksi dengan akad murabahah.
4) Bank membeli barang dari penjual/supplier sesuai spesifikasi yang diminta nasabah.
5) Bank dan nasabah melakukan akad jual beli atas barang dimaksud.
6) Supplier mengantarkan barang kepada nasabah.
7) Nasabah menerima barang dan dokumen.
32 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), 82-84.
33 Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bisnis Bank Syariah, 213.
71
8) Nasabah melakukan pembayaran sebesar pokok dan margin kepada bank dengan tunai atau mengangsur.
Secara sederhana mekanisme pembiayaan akad murabahah dapat dilihat pada gambar:
Gambar 2.1
Bayar Angsuran
e. Pembayaran Murabahah
Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan. Dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Murabahah muajjal dicirikan dengan adanya penyerahan barang di awal akad dan
Negosiasi
Akad Murabahah
Bank Syariah Nasabah
Penjual/Supplier
pembayaran kemudian (setelah awal akad), baik dalam bentuk angsuran maupun dalam bentuk lump sum (sekaligus).
Bank dapat memberikan potongan apabila nasabah:
1. Mempercapat pembayaran cicilan, atau
2. Melunasi piutang murabahah sebelum jatuh tempo.34
f. Analisis Pembiayaan dan Penanganan Pembiayaan bermasalah 1. Analisis pembiayaan
Beberapa hal yang perludiperhatikan dalam analisis pembiayaan di bank syariah adalah sebagai berikut:
a. Pendekatan analisis pembiayaan
Ada beberapa pendekatan analisis pembiayaan yang dapat diterapkan oleh para pengelola bank syariah dalam kaitannya dengan pembiayaan yang akan dilakukan, yaitu:
1) Pendekatan jaminan, arrtinya bank dalam memberikan pembiayaan selalu memperhatikan kuantitas dan kualitas jaminan yang dimiliki oleh peminjam.
2) Pendekatan karakter, artinya bank mencermati secara sungguh-sungguh terkait dengan karakter nasabah.
3) Pendekatan kemampuan pelunasan, artinya bank menganalisis kemampuan nasabah untuk melunasi jumlah pembiayaan yang telah diambil.
34 Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisi Fiqih dan Keuangan, 115-116.
73
4) Pendekatan dengan studi kelayakan, artinya bank memperhatikan kelayakan usaha yang dijalankan oleh nasabah peminjam.
5) Pendekatan fungsi-fungsi bank, artinya bank memperhatikan fungsinya sebagai lembaga intermediary keuangan, yantur mengatur mekanisme dana yang dikumpulkan dengan dana yang disalurkan.
b. Prinsip Analisis Pembiayaan
Prinsip analisis pembiayaan didasarkan pada rumus 5C, yaitu:
1) Character artinya sifat atau karakter nasabah pengambil pinjaman.
2) Capacity artinya kemampuan nasabah untuk menjalankan usaha dan mengembalikan pinjaman yang diambil.
3) Capital artinya besarnya modal yang diperlukan peminjam.
4) Colateral artinya jaminan yang telah dimiliki yang dberikan peminjam kepada bank.
5) Condition artinya keadaan usaha atau nasabah prospek atau tidak.
Prinsip 5C tersebut terkadang ditambahkan dengan 1C, yaitu Constraint artinya hambatan-hambatan yang mungkin mengganggu proses usaha.
c. Tujuan Analisis Pembiayaan
Analisis pembiayaan memiliki dua tujuan, yaitu:
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum analisis pembiayaan adalah pemenuhan jasa pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan melancarkan perdagangan, produksi, jasa-jasa, bahkan konsumsi yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Sedangkan tujuan khusus analisis pembiayaan adalah:
1. Untuk menilai kelayakan usaha calon peminjam.
2. Untuk menekan risiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan.
3. Untuk menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak.35 2. Penanganan Pembiayaan Bermasalah
Risiko yang terjadi dari peminjaman adalah peminjaman yang tertunda atau ketidakmampuan peminjam untuk membayar kewajiban yang telah dibebankan, untuk mengantisipasi hal tersebut maka bank syariah harus mampu menganalisis penyebab permasalahan.
a. Analisis Sebab Kemacetan 1) Aspek internal
35 Muhammad, Manajemen Bank Syariah,304-305
75
(a) Peminjam kurang cukup dalam usaha tersebut.
(b) Manajemen tidak baik atau kurang rapi.
(c) Laporan keuangan tidak lengkap.
(d) Penggunaan dana yang tidak sesuai dengan perencanaan.
(e) Perencanaan yang kurang matang.
(f) Dana yang diberikan tidak cukup untuk menjalankan usaha tersebut.
2) Aspek eksternal
(a) Aspek pasar kurang mendukung.
(b) Kemampuan daya beli masyarakat kurang.
(c) Kebijakan pemerintah.
(d) Pengaruh lain di luar usaha.
(e) Kenakalan peminjam.
b. Menggali potensi peminjam
Anggota yang mengalami kemacetan dalam memenuhi kewajiban harus dimotivasi untuk memulai kembali atau membenahi dan mengantisipasi penyebab kemacetan usaha atau angsuran. Untuk itu perlu digali potensi yang ada pada peminjam agar dana yang telah digunakan lebih efektif digunakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Adakah peminjam memiliki kecakapan lain?
2. Adakah peminjam memiliki usaha lainnya?
3. Adakah penghasilan lain peminjam?
c. Melakukan perbaikan akad (remidial)
d. Memberikan pinjaman ulang, mungkin dalam bentuk:
pembiayaan al-Qordul Hasan, Murabahah, atau Mudharabah.
e. Penundaan pembayaran.
f. Memperkecil angsuran dengan memperpanjang waktu atau akad dan margin baru (Rescheduling).
g. Memperkecil margin keuntungan atau bagi hasil. 36
Dari hasil survei yang dilakukan pada bank syariah yang di Yogyakarta ditemukan, bahwa dalam proses penanganan pembiayaan dilakukan sesuai dengan kolektabilitas pembiayaan, sebagai berikut:
1. Pembiayaan lancar, dilakukan dengan cara:
a. Pemantauan usaha nasabah
b. Pembinaan anggota dengan pelatihan-pelatihan 2. Pembiayaan potensial bermasalah, dilakukan dengan cara:
a. Pembinaan anggota
b. Pemberitahuan dengan surat teguran
c. Kunjungan lapangan atau silaturrahmi oleh bagian pembiayaan kepada nasabah
d. Upaya preventif dengan penanganan rescheduling, yaitu penjadwalan kembali jangka waktu angsuran serta
36 Ibid,.311-312
77
memperkecil jumlah angsuran. Juga dapat dilakukan dengan reconditioning, yaitu memperkecil margin keuntungan atau bagi hasil.
3. Pembiayaan kurang lancar, dilakukan dengan cara:
a. Membuat surat teguran atau peringatan.
b. Kunjungan lapangan atau silaturrahmi oleh bagian pembiayaan kepada nasabah secara lebih sungguh- sungguh
c. Upaya penyehatan dengan rescheduling, yaitu penjadwalan kembali jangka waktu angsuran serta memperkecil jumlah angsuran. Juga dapat dilakukan dengan reconditioning, yaitu memperkecil margin keuntungan atau bagi hasil
4. Pembiayaan diragukan atau macet, dilakukan dengan cara:
a. Dilakukan rescheduling, yaitu menjadwalkan kembali jangka waktu angsuran serta memperkecil jumlah angsuran.
b. Dilakukan reconditioning, yiatu memperkecil margin keuntungan atau bagi hasil usaha
c. Dilakukan pengalihan atau pembiayaan ulang dalam bentuk pembiayaan al-Qardhul Hasan.37
37 Ibid,. 315
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.38 Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipakai pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati.39
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research).
Sedangkan alasan peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena peneliti ingin mendeskripsikan bagaimana sebuah bank melakukan pengelolaan menajemen risiko pembiayaan murabahah guna meminimalisir risiko yang kemungkinan akan ditimbulkan dari pembiayaan murabahah.
B. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian kualitatif lokasi merupakan salah satu instrumen yang cukup urgen sifatnya. Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember yang beralamat di Jln. Gajah Mada No. 278 Kaliwates-Jember.
38 Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, cet. 20 (Bandung: CV Alfabeta, 2012), 1.
39 Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 4.
79
Selain lokasi tersebut di lingkungan kota asal peneliti, alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember merupakan Bank Syariah yang berdiri baru 3 tahun, namun Bank Jatim Syariah mampu bersaing dengan bank syariah lain, terbukti dengan jumlah nasabah Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember yang mencapai 1000 nasabah.
C. Subyek Penelitian
Penelitian menggunakan Teknik Purposive yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini misalnya dengan memilih informan yang dipandang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan dalam penelitian.40
Adapun subjek penelitian yang akan dilakukan ini adalah:
1. Pimpinan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember.
2. Penyelia Pembiayaan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember.
3. Staf Pembiayaan Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang tidak dapat dapat dihindari dalam kegiatan penelitian. Pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan penelitian untuk mendapatkan kebenaran yang terjadi atau terdapat pada subyek penelitian atau sumber data.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik dalam proses pengumpulan data, seperti : wawancara, observasi, dokumentasi, yang
40 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung : Alfabeta, 2013), 218- 219.
mana masing-masing proses tersebut mempunyai peran penting dalam upaya mendapatkan informasi yang akurat dan sebanyak-banyaknya.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara langsung dengan sistematika terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.41 Dalam hal ini peneliti observasi non partisipatif, dimana peneliti hanya mengamati objek penelitian tanpa ikut terlibat dalam kegiatan. Yang akan diobservasi yaitu proses pengelolaan manajemen risiko pembiayaan murabahah yang dilakukan di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember.
2. Interview/Wawancara
Interview/wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.42 Metode wawancara yang digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini pewawancara (interviewer) menanyakan sejumlah pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dengan menggali keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.43 Yang akan di
41 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Teoritik (Jakarta :PT. Rineka Cipta, 2006), 128.
42 Sugiyono, Kualitatif, 231.
43Arikunto, Pendekatan Teoritik, 227.
81
wawancarai diantaranya adalah Pimpinan Cabang Pembantu, Penyelia Pembiayaan, dan Staf Pembiayaan.
3. Studi Dokumenter
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), biografi, peraturan kebijakan.
Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari peggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.44 Yang akan didokumentasikan diantaranya proses proses pengelolaan manajemen risiko, langkah-langkah penanganan pembiayaan bermasalah, dan penanganan pemberian pembiayaan.
E. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertetu. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis model Miles and Huberman. Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Langkah-langkah dalam analisis data antara lain :
44 Sugiyono, Kualitatif,240.