Oktober 2015
B. PEDOMAN INTERVIEW
PEDOMAN INTERVIEW
UNTUK PIMPINAN BANK JATIM SYARIAH CAPEM JEMBER 1. Bagaimana proses manajemen risiko pembiayaan murabahah di Bank
Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember?
Jawaban:
Manajemen risiko merupakan suatu sistem yang digunakan perusahaan untuk meminimalkan risiko yang akan terjadi di masa mendatang. Dalam sebuah perusahaan manajemen risiko sangatlah harus diterapkan, apalagi dalam dunia perbankan yang sarat dengan risiko. Untuk pengelolaan manajemen risiko di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember telah ditetapkan dalam BPP (Buku Panduan Perusahaan). Semua kegiatan yang dilakukan oleh bank telah diatur dalam BPP tersebut. Dalam menjalankan aktivitas bank harus sesuai dengan BPP yang diterbitkan oleh Bank Jatim Pusat.
2. Apa peranan pimpinan dalam proses penyaluran pembiayaan murabahah ? Jawaban:
Peran pimpinan disini pada saat analisis pembiayaan, dimana pimpinan memberikan pengarahan dan pendapat mengenai pembiayaan yang akan diberikan kepada nasabah. Pimpinan juga akan ikut andil dalam proses pemantauan nasabah yang akan mendapatkan pembiayaan dari bank.
3. Bagaimana langkah-langkah Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember dalam menangani risiko yang muncul dari transaksi pembiayaan Murabahah?
Jawaban:
bank akan melakukan pemantauan terhadap nasabah sejak pencairan dana. Biasanya pihak bank akan melakukan survei seminggu setelah pencairan, dan selanjutnya survei dilakukan minimal 3 bulan sekali untuk mengontrol usaha nasabah. Selanjutnya jika telah terjadi risiko maka pihak bank akan mendapatkan pemeriksaan dari SKI (Satuan Kredit Internal), dimana SKI akan memeriksa segala hal yang dapat mengganggu operasional bank dan dapat menurunkan tingkat kesehatan bank.
PEDOMAN INTERVIEW
UNTUK BAGIAN PENYELIA PEMBIAYAAN
1. Bagaimana proses penerapan manajemen risiko terkait pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang PembantuJember ? Jawaban:
Sebenarnya untuk penerapan manajemen risiko di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember itu sendiri sudah ada kebijakan yang diberlakukan dari pusat. Aturan tersebut tertera dalam BPP (Buku Panduan Perusahaan). Jadi segala sesuatu yang dilaksanakan harus sesuai dengan aturan tersebut. Manajemen risiko sudah berjalan ketika nasabah mengajukan pembiayaan. Manajemen risiko juga diterapkan pada saat penyaluran pembiayaan oleh bank.
Dalam proses awal, bank melakukan identifikasi terhadap persyaratan yang diajukan oleh nasabah. Hal yang diidentifikasi terkait kebenaran data yang dilampirkan oleh nasabah, seperti kondisi bisnis, produktifitas usaha, pendapatan nasabah, dan jaminan/agunan. Proses identifikasi ini pertujuan supaya bank dapat menyalurkan pembiayaan dengan benar.
2. Risiko-risiko apa saja yang dipertimbangkan dalam penyaluran pembiayaan murabahah ?
Jawaban:
Dalam pembiayaan murabahah risiko yang sering muncul yaitu nasabah tidak menggunakan dana pembiayaan sesuai dengan kesepakatan dan terjadinya keterlambatan pembayaran angsuran.
Jika risiko tersebut muncul, maka dapat mengakibatkan kerugian dari pihak bank maupun nasabah. Kerugian bagi bank yaitu pihak
bank akan mendapat pemeriksaan dari tim audit tentang apakah risiko tersebut timbul dari kurang maksimalnya manajemen risiko yang telah dilaksanakan dan atau keteledoran dari pihak bank. Jika risiko tersebut terjadi karena kesalahan dari pihak bank maka pihak bank akan mendapatkan sanksi. Dan jika risiko tersebut adalah risiko yang berasal dari nasabah,maka nasabah harus dapat mempertanggung jawabkan atas risiko yang telah terjadi. Sedangkan kerugian bagi nasabah yaitu nasabah akan mendapatkan pemeriksaan dari pihak bank dan juga hal tersebut dapat mengakibatkan nasabah tidak dapat membayar angsuran sehingga agunan yang diberikan kepada bank akan dilelang.
3. Berapa besar kerugian yang dapat ditimbulkan dari risiko pembiayaan murabahah bermasalah ?
Jawaban:
Besar pinjaman yang diajukan oleh setiap nasabah itu berbeda.
Sehingga untuk kerugian pihak bank atas risiko pembiayaan murabahah tidak dapat diperkirakan, kerugian dikalkulasikan berdasarkan pinjaman nasabah.
4. Bagaimana cara mengatasi pembiayaan murabahah bermasalah ? Jawaban:
Adanya pembiayaan bermasalah merupakan suatu risiko yang timbul dari penyaluran pembiayaan. Di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember, suatu pembiayaan dikatakan macet apabila pembiayaan tersebut sudah kolektabilitas 3, 4, 5. Sebelum penyelesaian pembiayaan bermasalah biasanya bank melakukan penyelamatan pembiayaan terlebih dahulu. Jadi pihak bank menganalisis tentang masalah yang timbul dalam pembiayaan atau tentang faktor yang melatarbelakangi terjadinya masalah. Misalnya masalah tersebut disebabkan karena menurunnya pendapatan atas usaha yang dijalankan nasabah, maka bank akan melakukan analisis terhadap masalah tersebut dan ikut memberikan solusi untuk mengatasi masalah yang timbul. Setelah itu bank akan melakukan restrukturisasi pembiayaan atas persetujuan dan permintaan nasabah.
1. Bagaimana proses pengajuan pembiyaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember ?
Jawaban:
Setiap nasabah yang hendak mengajukan pembiayaan harus terlebih dahulu melengkapi data-data terkait pengajuan pembiayaan dan mengisi fom registrasi pembiayaan. Setelah itu bank akan menganalisis terhadap data nasabah dan besarnya pembiayaan yang diajukan.
2. Bagaimana mekanisme pembiayaan murabahah pada Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember ?
Jawaban:
Untuk mekanisme pembiayaan murabahah di Bank Jatim Syariah Cabang Pembantu Jember nasabah menyalurkan pembiayaan murabahah kepada bank, selanjunya bank akan menganalisis dan menentukan besarnya plafon pembiayaan. Proses analisis pembiayaan dilakukan dengan menggunakan prinsip 5C + 1S yiatu character, capacity, capital, collateral, condition, dan syariah. Setelah proses analisis dan penilaian pembiayaan selesai dilakukan, dan semua sudah sesuai dengan persyaratan maka data nasabah akan diberikan kepada pimpinan guna persetujuan oleh pimpinan. Setelah itu bank akan mewakilkan pembelian barang yang diajukan oleh nasabah. Jadi bukan bank yang membelikan barang, melainkan bank mewakilkan pembelian barang tersebut kepada nasabah. Hal tersebut dilakukan karena pihak bank terlalu sibuk untuk membelikan barang tersebut. Untuk penetapan jangka waktu pembayaran ditentukan oleh nasabah, pihak bank hanya menghitung besarnya plafon pembiayaan dan besarnya angsuran perbulan.