BAB I : PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini akan diperoleh beberapa manfaat.. Secara lebih spesifik manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah :
1) Bagi Peneliti, hasil penelitian ini dapat melatih pola pikir dalam peneliti dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagaimana terjadinya pergantian Kantor Akuntan Publik.
2) Bagi Kantor Akuntan Publik, hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada auditor yang bekerja di KAP untuk dapat
menjalankan kewajibannya dengan baik agar perusahaan tetap memberikan kepercayaan kepada Kantor Akuntan Publik tersebut.
3) Bagi Peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan (referensi) ataupun bandingan bagi para peneliti yang berminat dalam bidang sejenis atau dalam bidang lain yang terkait dengan penelitian ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Teori Agensi
Jansen dan Meckling (1976:5) mengatakan bahwa hubungan keagenan adalahsuatu kontrak di mana satu atau lebih orang (principal) melibatkan orang lain(agent) untuk melakukan beberapa layanan atas nama mereka dan kemudian mendelegasikan sebagian kewenangan pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Dengan kata lain, para pemilik perusahaan atau pemegang saham menunjuk manajemen yang dimaksudkan untuk mengelola perusahaan yang dimilikinya.
Jensen dan Meckling (1976:6) juga menyatakan bahwa masalah agensidisebabkan oleh adanya perbedaan kepentingan dan informasi asimetri antaraprincipal dan agent. Di satu pihak para pemegang saham menginginkan investasi mereka menghasilkan return yang bagus, dengan hasil keuangan yang bertambah, dalam hal ini pendapatan dividen yang besar. Namun di lain pihak, manajemen menginginkan adanya tambahan kompensasi ataup bonus ketika mereka merasa melakukan tugasnya dengan baik sehingga dapat menambah kepuasan mereka. Perbedaan tersebut menimbulkan konflik kepentingan:
1. antara shareholders dan manajer 2. antara shareholdersdan debtholders
3. antara manajer, shareholders, dan debtholders
Karena adanya konflik kepentingan antara manajer (agent) dan Shareholder itulah memicu terjadinya pergantian manajemen.Pergantian manajemen yang dilakukan atas keputusan RUPS inilahdiharapkan dapat mendukung keinginan para shareholders. Manajemen yang baru akan menerapkan kebijakan akuntansi dan sistem akuntansi yang berbeda dengan manajemen yang lama. Maka dari itu manajemen baru juga mengharapkan kantor akuntan publik yang menjadi partner perusahaannya dapat bekerjasama sehingga menghasilkan opini yang diharapkan manajemen baru tersebut.
Apabila perusahaan memperoleh opini yang tidak diharapkan dari auditornya,seperti opini adverse atau disclaimer, manajemen baru akan melakukan pergantian KAP karena para stakeholder menganggap bahwa opini adversemenunjukkan adanya ketidakberesan di dalam perusahaan.
Di dalam teori agensi juga menyatakan bahwa setiap manusia akanmelakukan tindakan sesuai dengan kepentingannya. Oleh karena itu perusahaan melakukan pergantian KAP dipicu adanya rasa ketidakpuasan terhadap kinerja dari auditor itu sendiri.
2.1.2 Pengertian Audit
Audit merupakan suatu proses sistematis yangmembandingkan kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pengertian audit menurut Boynton et. al., (2001:5) adalah proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan
peristiwa ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, serta menyampaikan hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Sedangkan pengertian audit menurut Alvin A. Arens (2006:4) adalahpengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untukmenentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan, auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen.
Prosessistematis tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasaripernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk mengevaluasi. Pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dilakukan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Penyampaian hasil audit dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report). Pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor, organisasi buruh dan kantor pelayanan pajak,
2.1.3 Opini Audit
Menurut standar profesional akuntan publik SA Seksi 110, tujuan auditatas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untukmenyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan
auditormerupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, sebagai pihak yang independen, auditor tidak dibenarkan untuk memihak kepentingan siapapun dan untuk tidak mudah dipengaruhi, serta harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak memiliki suatu kepentingan dengan kliennya.
Pendapat auditor (opini audit) merupakan bagian dari laporan audityang merupakan informasi utama dari laporan audit. Opini audit diberikanoleh auditor melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan simpulan atas opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya. Boynton et. al., (2001:73) mengemukakan bahwa laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan keuangan yang diaudit. Dengan demikian, auditor dalam memberikan pendapat sudah didasarkan pada keyakinan profesionalnya.
Opini audit tersebut dinyatakan dalam paragraf pendapat dalam laporanaudit. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenailaporan keuangan secara keseluruhan. Laporan keuangan yang dimaksud dalam standar pelaporan tersebut adalah meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
Tujuan dalam standar pelaporan tersebut adalah untuk memungkinkan pemegang saham, kreditur, pemerintah, karyawan, dan pihak lain
yangberkepentingan terhadap laporan keuangan menentukan seberapa jauh laporan keuangan yang dilaporkan oleh auditor dalam laporan audit dapat dipercaya.
Menurut Bastian(2007:136) terdapat lima jenis pendapat yang dapatdiberikan oleh auditor, yaitu:
1. Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Unqualifed Opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabilaaudit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standarpemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaantertentu yang memerlukan bahasa penjelas.Dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, auditor menyatakanbahwa keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas suatu entitassesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (UnqualifiedOpinion With Explanatory Language)
Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas dapatditambahkan dalam laporan audit bentuk baku. Pendapat ini diberikanapabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standarpemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsipakuntansi yang berlaku umum, tetapi terdapat keadaan atau kondisitertentu yang memerlukan bahasa penjelas. Kondisi atau keadaan
yangmemerlukan bahasa penjelas tambahan antara lain dapat diuraikan sebagaiberikut.
a) Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditorindependen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalamparagrapf pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggungjawabdalam pelaksanaan audit.
b) Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan olehprofesi atau pihak yang berwenang. Penyimpangan tersebut adalahyang terpaksa dilakukan agar pemakai laporan keuangan auditantidak tersesatkan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasan penyimpangandilakukan dalam satu paragraf khusus.
c) Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang material.
d) Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalammempertahankan kelangsungan hidupnya.
e) Auditor menemukan penggunaan prinsip dan metode akuntansi.
3. Pendapat Wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion) Jenis pendapat ini diberikan apabila :
a) Luas pemeriksaan akuntan sangat dibatasi oleh klien.
b) Akuntan publik tidak dapat melakanakan prosedur pemeriksaanyang penting atau tidak dapat memperoleh informasi pentingkarena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupunakuntan.
c) Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansiyang lazim.
d) Prinsip akuntansi yang digunakan didalam laporan keuangan tidakditerapkan secara konsisten.
e) Akuntan publik tidak dapat menjaga independensinya dalamhubungan klien.
f) Tidak ada bukti kompeten yang mencukupi atau adanyapembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhilaporan keuangan secara keseluruhan.
g) Auditor merasa yakin bahwa laporan keuangan berisipenyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum yangberdampak material, tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangansecara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapat berupapengungkapan yang tidak memadai maupun perubahan prinsipakuntansi.
h) Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporankeuangan yang disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi adabeberapa elemen yang di kecualikan yang pengeculainya tidakmempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
Auditor harus menjelaskan alasan pengecualian dalam satuparagraf terpisah sebelum paragraf pendapat.Pendapat wajar dengan pengecualian tersebut baru dapatditerbitkan oleh auditor apabila laporan keuangan
menyajikansecara wajar namun, karena dengan kondisi tertentu sehinggaauditor memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian sepertiyang telah disebutkan diatas.
4. Pendapat Tidak Wajar ( Adverse Opinion).
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikansecara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai denganprinsip akuntansi yang berlaku umum.Auditor harus menjelaskan alasanmendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yangmenyebabkan pendapat tidak wajar di berikan terhadap laporan keuangan.Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraf terpisah sebelumparagraf pendapat.Pendapat tidak wajar ini hanya bisa diberikan ketika auditor merasayakin bahwa keseluruhan laporan keuangan yang disajikan memuat salahsaji yang material sehingga tidak menyajikan secara wajar posisikeuangan. Bila auditor menyatakan pendapat tidak wajar, ia harusmenjelaskan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat dalamlaporannya (a) semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dan(b) dampak utama hal yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajarterhadap posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas, jikasecara praktis untuk dilaksanakan. Jika dampak tersebut tidak dapatditentukan secara beralasan, laporan audit harus menyatakan hal itu.
5. Pendapat Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion) Pernyataan tidak memberikan pendapat ini layak diberikan apabila:
a) Ada lingkup audit yang sangat material.
b) Auditor tidak independen terhadap klien.
Pernyataan ini tidak dapat diberikan apabila auditor merasa yakinbahwa terdapat penyimpangan yang material dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor tidak diperkenankan mencantumkan paragraf lingkup audit, apabila menyatakan alasan mengapa auditnya tidak berdasarkan standar yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam satu paragraf khusus sebelum paragraf pejelasan.
2.1.4 Pergantian Manajemen
Pergantian KAP oleh perusahaan terjadi ketika lingkungan perusahaan berubah, dengan adanya pergantian manajemen lama ke manajemen yang baru.Perusahaan yang tidak puas atas kinerja suatu manejemen dan perusahaan ingin meningkatkan image perusahaan maka pergantian manajemen harus dilakukan.
Manajemen lama memiliki kebijakan akuntansi yang berbeda dengan manajemen baru.Kebijakan dan sistem terebut yang pada akhirnya menentukan hasil kinerja karyawan.Keputusan manajemen lama belum tentu sependapat dengan manajemen baru.Maka dari itu, manajemen baru membuat kebijakan dan sistem yang berbeda dengan pandangan untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih baik bagi perusahaan.Dan salah satunya membuat keputusan untuk melakukan pergantian KAP yang telah digunakan oleh manajemen lama.
2.1.5 Reputasi Auditor
Reputasi auditor adalah potensi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki oleh auditor tersebut. Reputasi auditor berkaitan dengan kinerja auditor itu senidir, yang bersifat kompeten ataupun independen.Tingkat kinerja auditor menentukan reputasi auditor tersebut.Semakin baik reputasi yang dimiliki oleh seorang auditor maka banyak klien yang memiliki kepercayaan terhadapnya. Reputasi seorang auditor juga ditentukan oleh bagaimana auditor tersebut memegang kode etik sebagai auditor dalam melaksanakan setiap tugas audit yang dipercayakan kepadanya.
Terjadinya kasus pelanggaran etika dalam sebuah perusahaan semua berasal dari sikap auditor yang jauh dari kode etik profesinya.dan pada akhirnya tidak hanya mencemarkan nama perusahaan, nama auditor serta nama KAP tersebut menjadi buruk. Pada akhirnya perusahaan tidak memiliki kepercayaan terhadap auditor dan KAP tersebut sehingga reputasi auditor dapat memicu perusahaan melakukan pergantian KAP.
2.1.6 Kesulitan Keuangan (Financial Distress)
Kesulitan keuangan (financial distress) adalah kondisi dimanaperusahaan mengalami kesulitan keuangan dan terancam bangkrut. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan maka akan muncul biaya kebangkrutan yang disebabkan oleh keterpaksaan menjual aset dibawah harga pasar, biaya likuidasi, dan sebagainya (Meisya, 2013:28). Financial distress menurut Karen Wruck (1990) dalamAhmad dan Herni (2010:172) adalah situasi
dimana arus kas operasi perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan (seperti kredit perdagangan atau biaya bunga) dan perusahaan ditekan untuk melakukan kegiatan perbaikan. Kondisi keuangan perusahaan menggambarkan tingkat kesehatan perusahaan sesungguhnya.
Setyorini dan Ardiati (2006:6) menyatakan bahwa kesulitankeuangan yang terdiri dari kesulitan likuiditas sampai dengan kondisiperusahaan berpotensi bangkrut disebabkan oleh banyak hal, baik dari luar maupun dari dalam perusahaan. Meskipun sebab-sebab terjadinya kesulitan keuangan sangat bervariasi, tetapi kebanyakan penyebabnya adalah karena serangkaian keputusan manajemen yang salah sehingga kondisi perusahaan memburuk.
Perusahaan berpotensi bangkrut memiliki kecenderungan mengganti auditornya karena dalam perusahaan berpotensi bangkrut, terdapat pengaruh yang besar terhadap putusnya kerja antara manajemen dan auditor, yang dapat memicu perusahaan untuk melakukan pergantian KAP.
Perusahaan yang bangkrut (yang mempunyai rasio hutang yangtinggi) dan sedang mengalami posisi keuangan yang tidak sehatcenderung akan menggunakan KAP yang mempunyai indepedensi yang tinggi untuk meningkatkan kepercayaan diri perusahaan di mata pemegang saham dan kreditur untuk mengurangi resiko litigasi (Maharani dan Purnomosidhi, 2009:5)
Jika ditinjau dari segi aspek keuangan perusahaan, makaterdapat tiga keadaan yang menyebabkan financial distress(Ahmad dan Herni, 2010:176-177), yaitu:
1. Faktor ketidakcukupan modal atau kekurangan modal
Terjadinya ketidakseimbangan aliran penerimaan uang yangbersumber pada penjualan atau penagihan piutang denganpengeluaran uang untuk membiayai operasi perusahaan tidakmampu menarik dana untuk memenuhi kekurangan danatersebut, maka perusahaan akan berada pada kondisi tidaklikuid.
2. Besarnya beban hutang dan bunga
Apabila perusahaan mampu menarik dana dari luar, misalnyamendapatkan kredit dari bank untuk menutup kekurangan dana,maka masalah likuiditas perusahaan dapat teratasi untuk sementara waktu. Tetapi kemudian timbul persoalan baru yaituadanya keterkaitan kewajiban untuk membayar kembali pokokpinjaman dan bunga kredit.Walaupun demikian, hal ini tidakmembahayakan perusahaan dan masih memberikan keuntunganbagi perusahaan apabila tingkat bunga lebih rendah dari tingkatinvestasi harta atas hutang yang diterima.Ketidakmampuanperusahaan melakukan manajemen risiko atas hutangnya dapa mengakibatkan perusahaan harus mendapatkan risikomenderita kerugian yang seharusnya tidak perlu terjadi.
3. Menderita kerugian
Pendapatan yang diperoleh perusahaan harus mampu menutupseluruh biaya yang dikeluarkan dan menghasilkan laba bersih.Besarnya laba bersih sangat penting bagi perusahaan untukmelakukan reinvestasi, sehingga
akan menambah kekayaanbersih perusahaan dan meningkatkan ROE (Return On Equity)untuk menjamin kepentingan pemegang saham.
Oleh karena ituperusahaan harus selalu berupaya meningkatkan pendapatandan mengendalikan tingkat biaya. Ketidakmampuanperusahaan untuk mempertahankan keseimbangan pendapatandengan biaya, niscaya perusahaan akan mengalami financialdistress
Kerugian utama perusahaan yang mempunyai tingkat hutangyang lebih tinggi adalah peningkatan risiko kesulitan keuangan, dan akhirnya likuidasi.
Hal ini mungkin mempunyai pengaruh merugikan bagi pemilik ekuitas dan hutang (Fachrudin, 2008). Adapun akibat kesulitan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Risiko biaya kesulitan keuangan mempunyai dampak negatifterhadap nilai perusahaan yang mengoffset nilai pembebasanpajak (tax relief) atas peningkatan level hutang.
2. Jika pun manajer perusahaan menghindarkan likuidasi ketikakesulitan, hubungannya dengan pemasok, pelanggan, pekerja,dan kreditor menjadi rusak parah.
3. Pemasok penyedia barang dan jasa secara kredit mungkin lebihberhati-hati, atau bahkan menghentikan pemasokan samasekali, jika mereka yakin tidak ada kesempatan peningkatanperusahaan dalam beberapa bulan.
4. Pelanggan mungkin mengembangkan hubungan denganpemasok mereka, dan merencanakan sendiri produksi mereka dengan andaian ada keberlanjutan dari hubungan tersebut.
2.1.7 Ukuran Perusahaan
Perusahaan besar lebih banyak disorot oleh investor dibanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan audit harus sesuai dengan ukuran perusahaan klien dan jenis layanan yang dibutuhkan. Ukuran perusahaan klien merupakan besarnya ukuran sebuah perusahaan yang dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar.
Perusahaan kecil cenderung memilih KAP yang memiliki fee yang tidak begitu besar.Sedangkan perusahaan besar tidak menjadi masalah mengenai fee yang ditawarkan oleh KAP sehingga lebih banyak pilihan dalam memilih KAP.Ukuran perusahaan juga menjadi salah satu faktor bagi perusahaan dalam melakukan pergantian KAP.
2.1.8 Pergantian KAP
Pergantian KAP merupakan perpindahan kantor akuntan publik olehperusahaan klien. Pergantian KAP oleh perusahaan terjadi ketika lingkunganperusahaan berubah, ketika ingin mendapatkan auditor yang lebih efektif atau jasa yang berbeda, ketika ingin menaikkan image perusahaan, dan ketika ingin mengurangi biaya audit. Selain itu, pergantian KAP juga timbul karena pengaruh kompetisi pasar auditor.
Mautz dan Sharaf (1961) dalam Myers (2003:3) menyatakan bahwasemakin luasnya hubungan relasi antara KAP dengan klien dapat mempunyaipengaruh yang merugikan pada independensi KAP karena
obyektifitas KAP pada klien akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Untuk meminimalisir adanya dampak dari independensi yang berkurang, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergantian KAP.
Kadir (1994) mengemukakan dua pendekatan yang dapatdigunakan untuk menjelaskan mengapa perusahaan berpindah KAP,yaitu perspektif auditor dan perspektif perusahaan. Serupa dengan Kadir, Mardiyah (2002) juga menyatakan dua faktor yang mempengaruhi perusahaan berpindah KAP adalah faktor klien (ClientrelatedFactors), yaitu: kesulitan keuangan, manajemen yang gagal, perubahan ownership, Initial Public Offering (IPO) dan faktor auditor (Auditor-related Factors), yaitu: fee audit dan kualitas audit.
Pergantian auditor secara wajib dengan secara sukarela bisadibedakan atas dasar pihak mana yang menjadi fokus perhatian dari isutersebut. Jika pergantian auditor terjadi secara sukarela, makaperhatian utama adalah pada sisi klien. Sebaliknya, jika pergantian terjadi secara wajib, perhatian utama beralih kepada auditor (Febrianto, 2009).
Pergantian KAP sendiri dapat bersifat mandatory maupun voluntary. Dua dasar argumentasi rotasi yang bersifat mandatory umumnya dikelompokkan menjadi dua hal: (1) kualitas dan kompetensi pekerjaan audit cenderung menurun secara signifikan dari waktu ke waktu, (2) independensi auditor dapat rusak oleh panjangnya hubungan dengan manajemen. (Hoyle, 1978:13).
Klien yang di audit oleh KAP baru mungkin lebih puas dengan beberapa pertimbangan. (1) perusahaan cenderung untuk mengganti auditor adalah bahwa mereka tidak puas dengan pelayanan yang diberikan dari auditor sebelumnya atau mereka mempunyai beberapa jenis perselisihan dengan auditor sebelumnya. Oleh karena itu, perusahaan mengganti auditor dalam tiga tahun yang lalu dengan harapan akan mengalami suatu peningkatan dalam kepuasan klien. (2) perikatan audit yang baru, ada ketidakyakinan manajemen klien terhadap kualitas pelayanan yang disediakan dari KAP.
Akibatnya, ada dorongan yang kuat dari KAP untuk memprioritaskan pelayanan klien dalam tahun-tahun pertama setelah memperoleh klien baru (Craswell dalam Myers, 2003:16).
Behn dalam Nagy(2008) menunjukkan bahwa pergantian auditor merupakan variabelyang mempengaruhi kepuasaan klien. Seorangauditor baru akan cenderung memperlihatkan kinerjanya pada tahuntahun pertama saat auditor melakukan audit. Pada awal tahun kontrak pelakasanaan audit, auditor baru akan berusaha mencari tahu kinerja auditor lama, dan untuk itu auditor baru akan membandingkan dengan kinerja yang mungkin dapat dicapainya. Harapan seorang auditorbaru adalah pelaksanaan audit sebaik-baiknya, tanpa mengurangi sikap profesionalnya sebagai seorang auditor.
Tujuan pergantian auditor dimaksudkan untuk meningkatkan (memanipulasi) hasil operasi atau kondisi keuangan perusahaan. Pergantian auditor menyebabkan dampak negatif.
2.2 Penelitian Relevan Terdahulu
Beberapa penelitian mengenai pergantian KAP telah dilakukan diberbagai negara dengan kurun waktu dan variabel yang berbeda-beda.
Schwartz dan Menon melakukan penelitian pada tahun 1985 yangmeneliti motivasi bagi perusahaan yang gagal untuk mengganti auditor.Faktor-faktor yang diteliti meliputi kualifikasi audit, pelaporan sengketa,perubahan manajemen, fee audit, dan kebutuhan asuransi.
Berdasarkan hasil penelitian mereka, ditemukan bahwa perubahan manajemen dan kualifikasi audit terkait dengan perpindahan auditor di perusahaan gagal. Ukuran tampaknya tidak menjadi masalah yang berkaitan dengan perpindahan auditor diantara perusahaan gagal. Schwartz dan Menon (1985) juga menyatakan bahwa opini audit selain WTP akan membuat perusahaan kecewa dan meninggalkan KAP tersebut sehingga terjadilah pergantian KAP.
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh Mardiyah (2002) adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan kontrak, keefektifan auditor,reputasi klien, biaya audit, faktor klien, dan faktor auditor terhadap auditorchanges dengan analisis regresi dan model RPA (Recursive PartitioningAlgorithm). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa perubahan kontrak, keefektifan auditor, reputasi auditor, fee audit, faktor klien, faktor auditor, dan pergantian manajemen berpengaruh signifikan terhadap auditor changes.
Penelitian Hudaib dan Cooke pada tahun 2005 yang dilakukan di Inggris meneliti efek interaktif perubahan Managing Director/Chief ExecutiveOfficer
(MD) dan kesulitan keuangan bersama-sama dengan lima variabel kontrol (jenis perusahaan audit, fee audit, gearing, waktu, dan ukuran perusahaan) pada opini audit dan auditor switching. Hudaib dan Cooke (2005) menemukan bahwa perusahaan yang tertekan secara finansial danmengubah MD paling mungkin untuk menerima laporan audit yang qualified, ceteris paribus. Selain itu, Hudaib dan Cooke (2005) menemukan bukti dari ancaman keakraban dan intimidasi dan bahwa probabilitas switchingmeningkat dengan tingkat keparahan opini qualified.
Penelitian Nasser et al (2006) bertujuan untuk menguji aspek hubungan auditor-klien, yaitu masa perikatan audit dan auditor switching, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sampel yang digunakan adalah perusahaan publik yang terdaftar di KLSE (Kuala Lumpur stock Exchange) pada periode 1990-2000. Penelitian ini memberikan bukti tentang hubungan antara auditor switching dan tiga variabel, yaitu ukuran klien, ukuran KAP, dan financial distress. Sedangkan untuk variabel tingkat pertumbuhan klien tidak berpengaruh terhadap auditor switching.
Penelitian yang dilakukan Damayanti dan Sudarma (2008) memberikan hasil bahwa variabel fee audit dan ukuran KAP yang mempunyai pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel yang lain, yaitu pergantian manajemen, opini akuntan, kesulitan keuangan perusahaan, dan persentase perubahan ROA tidak memiliki pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel
Penelitian yang dilakukan Damayanti dan Sudarma (2008) memberikan hasil bahwa variabel fee audit dan ukuran KAP yang mempunyai pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel yang lain, yaitu pergantian manajemen, opini akuntan, kesulitan keuangan perusahaan, dan persentase perubahan ROA tidak memiliki pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel