• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aji Mutthahari Morfi Nasution

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Aji Mutthahari Morfi Nasution"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUSAHAANDALAM MELAKUKAN PERGANTIAN

KANTOR AKUNTAN PUBLIK (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa

Efek Indonesia Periode 2011-2015)

OLEH

Aji Mutthahari Morfi Nasution 150522075

PROGRAM STUDI AKUNTANSI EKSTENSI DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Idiah Wahyuni Ratnaningtias, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUSAHAAN DALAM MELAKUKAN PERGANTIAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015) adalah hasil tulisan saya sendiri. Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan/atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin itu, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan penulis aslinya.

Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut di atas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini.

Medan, April 2016

Yang membuat pernyataan,

Aji Mutthahari Morfi Nasution NIM : 150522075

(3)

ABSTRAK

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perusahaan Dalam Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik (Studi Empiris

pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia dalam melakukan pergantian kantor akuntan publik. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah opini audit, pergantian manajemen, reputasi auditor, kesulitan keuangan, ukuran perusahaan klien, dan pergantian KAP.

Populasi dari sampel adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari periode 2011-2015. Sampel ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini memiliki 205 sampel dari 41 perusahaan. Dalam penelitian ini, hipotesis diuji dengan menggunakan regresi logistik.

Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa pergantian kantor akuntan publik dipengaruhi hanya oleh opini audit. Variabel-variabel lain yang digunakan dalam penelitian ini, seperti pergantian manajemen, reputasi auditor, kesulitan keuangan, dan ukuran perusahaan klien tidak memiliki pengaruh terhadap pergantian kantor akuntan publik yang dilakukan oleh perusahaan.

Kata kunci: pergantian KAP, opini audit, reputasi auditor.

(4)

ABSTRACT

Factors that Influence the Company to Change the Audit Firm (Empirical Study on Manufacture Companies that Listed in Indonesia

Stock Exchange From 2011-2015)

The research arranged to examine the factors that influence companies in Indonesia Stock Exchange to change their audit firm. Variables that used in this research are audit opinion, management changes, auditor’s reputation, financial distress, client’s size and change of audit firms.

Population of samples are manufacture companies that listed in Indonesia Stock Exchange from 2011-2015. Sampling determining is done by using

purposive sampling method. This research has 205 samples from 41 companies.

This research used logistic regression to test the hyphotesis.

The result of this research indicates that the changes of audit firm are influenced by only audit opinion. Other variables that used in this research, like management changes, auditor’s reputation, financial distress, and client’s size have no effect to change of audit firm by companies.

Key Words: change of audit firm, audit opinion, auditor’s reputation.

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan nikmat kesehatan, kesempatan, kemampuan dan kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perusahaan Dalam Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015).

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Untuk dapat menyelesaikan Skripsi ini, tentunya tidak dapat terlepas dari segala hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi. Namun berkat hidayah dari Allah SWT skripsi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS.,Ak., CPA selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Serta Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM., Ak selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., AkselakuKetua Program Studi S-1 Akuntansi. Serta Ibu Dra. Mutia Ismail, MM., Ak selaku Sekretaris Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Sucipto, MM, Ak selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan perhatian, kritik, dan nasihat serta memberikan ilmu dalam menghadapi setiap ujian sehingga penulis dapat mempertanggungjawabkan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Hotmal Ja’far, MM., Ak dan Ibu Dra. Nurzaimah, M.M., Ak selaku dosen penguji dan dosen pembanding yang telah membantu penulis

(6)

dalam memberikan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

6. Terima kasih penulis ucapkan yang teristimewa bagi kedua orang tua penulis Ayahanda Sriadhi dan Ibunda Asnah yang selalu memberikan nasihat, semangat, doa dan kasih sayang yang tiada pernah putus penulis rasakan, sehingga ini menjadi hadiah bagi mereka dengan kesuksesan proses pembelajaran dan terima kasih kepada seluruh keluarga besar. Serta terima kasih kepada Reizsa yang telah meluangkan waktu memberikan doa, motivasi, pemahaman dalam penulisan skripsi ini serta teman-teman akuntansi ekstensi stambuk 2015 yang telah bersama menjalani perkuliahan selama ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Januari 2017 Penulis,

Aji Mutthahari Morfi Nasution NIM : 140522093

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka ... 11

2.1.1Teori Agensi ... 11

2.1.2Pengertian Audit... 12

2.1.3Opini Audit ... 13

2.1.4Pergantian Manajemen ... 19

2.1.5Reputasi Auditor ... 19

2.1.6Kesulitan Keuangan ... 20

2.1.7Ukuran Perusahaan... 24

2.1.8Pergantian KAP ... 24

2.2 Penelitian Relevan Terdahulu ... 26

2.3 Kerangka Konseptual ... 31

2.4 Hipotesis ... 32

2.4.1 Pengaruh Opini Audit terhadap Pergantian KAP ... 32

2.4.2 Pengaruh Pergantian Manajemen terhadap Pergantian KAP ... 32

2.4.3 Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Pergantian KAP ... 33

2.4.4 Pengaruh Kesulitan Keuangan terhadap Pergantian KAP .... 34

2.4.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien terhadap Pergantian KAP ... 35

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 36

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 36

3.3 Batasan Operasional ... 36

3.4 Definisi Operasional... 37

3.4.1Opini Audit ... 37

3.4.2Pergantian Manajemen ... 37

3.4.3Reputasi Auditor ... 37

3.4.4Kesulitan Keuangan ... 38

3.4.5Ukuran Perusahaan Klien ... 38

3.4.6Pergantian KAP ... 39

3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 39

(8)

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian ... 40

3.7 Jenis Data ... 41

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.9 Teknik Analisis ... 42

3.9.1Statistik Deskriptif ... 43

3.9.2Uji Penilaian Keseluruhan Model ... 43

3.9.3Koefisien Determinasi ... 44

3.9.4Uji Kelayakan Model Regresi ... 44

3.9.5Uji Multikolinearitas ... 45

3.9.6Model Regresi Logistik ... 45

3.10 Hipotesis Statistik ... 46

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi ... 47

4.2 Deskripsi Sampel Penelitian ... 49

4.3 Analisis dan Pembahasan ... 50

4.3.1Uji Statistik Deskriptif ... 50

4.3.2Uji Hipotesis Penelitian ... 51

a. Uji Kesesuaian Keseluruhan Model ... 52

b. Uji Koefisien Determinasi ... 52

c. Uji Kelayakan Model Regresi ... 53

d. Uji Multikolinieritas ... 54

e. Matriks Klasifikasi ... 54

f. Uji Regresi Logistik ... 56

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 63

5.2 Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

(9)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 31

(10)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 30

3.1 Ringkasan Variabel, Dimensi, Indikator, dan Skala Pengukuran ... 39

4.1 Prosedur Pemilihan Sampel ... 48

4.2 Sub Sektor Industri Sampel Penelitian ... 49

4.3 Hasil Statistik Deskriptif ... 50

4.4 Hasil Uji Keseluruhan Model... 52

4.5 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 53

4.6 Hasil Uji Kelayakan Model Regresi ... 53

4.7 Hasil Uji Multikolinieritas ... 54

4.8 Hasil Matriks Klasifikasi... 55

4.9 Hasil Uji Regresi Logistik ... 56

4.10 Ringkasan Hasil Penelitian ... 62

(11)

DAFTAR TABEL

No. Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Data Sampel Penelitian ... 69 Lampiran II Hasil Output SPSS ... 78

(12)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Audit memiliki peranan penting dalam dunia bisnis, pemerintahan, dan ekonomi (Boynton, et. al., 2001:3). Hal ini terlihat pada kebutuhan dalam kegiatan audit, yang dilakukan oleh auditor independen, oleh berbagai macam lembaga. Sebuah perusahaan akan membutuhkan auditor independen, atau lebih dikenal dengan auditor eksternal untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan tersebut. Laporan keuangan merupakan suatu hal terpenting dalam mengomunikasikan fakta-fakta mengenai perusahaan dan sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi dan kegiatan keuangan dari suatu perusahaan. Banyak pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, yaitu pemilik perusahaan, kreditur, lembaga keuangan, investor, pemerintah, masyarakat umum dan pihak lainnya.

Pendapat auditor (opini audit) merupakan bagian dari laporan audityang merupakan informasi utama dari laporan audit. Opini audit yang tidak berdasarkan keadaan sesungguhnya dapat merugikan banyak pihak seperti halnya dalam memberikan laporan audit yang dibuat hanya untuk kepentingan sendiri dan untuk tujuan sendiri dengan mengabaikan keadaan yang sebenarnya. Opini audit yang tidak sesuai akan menjadikan reputasi seorang auditor menjadi buruk dan akan berpengaruh pula terhadap pergantian Kantor Akuntan Publik.

(13)

Reputasi auditor adalah potensi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki oleh auditor tersebut. Reputasi auditor yang baik akan meningkatkan kualitas dan image dari KAP tersebut. Dan sebaliknya jika reputasi auditor pada KAP tersebut buruk maka semakin lama kepercayaan perusahaan pada KAP tersebut akan hilang dan pada akhirnya menurunkan kualitas KAP tersebut.

Pergantian manajemen merupakan salah satu cara perusahaan dalam menentukan strategi baru untuk menghasilkan hasil dan mencapai tujuan perusahaan yang lebih baik lagi. Pergantian manajemen dalam suatu perusahaan tidak hanya berdampak pada kebijakan perusahaan tetapi juga pada segala keputusan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan. Salah satunya adalah keputusan dalam hal melakukan pergantian KAP.

Kesulitan keuangan (financial distress) adalah kondisi dimanaperusahaan mengalami kesulitan keuangan dan terancam bangkrut. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan maka akan muncul biaya kebangkrutan yang disebabkan oleh keterpaksaan menjual aset dibawah harga pasar, biaya likuidasi, dan sebagainya (Meisya, 2013:2). Jika suatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan maka seluruh kegiatan perusahaan akan berbeda dari sebelumnya sehingga untuk dapat kembali dalam keadaan normal, perusahaan perlu melakukan berbagai cara salah satunya meminimalisir biaya audit melalui pergantian KAP.

Ukuran perusahaan merupakan suatu hal yang dimiliki oleh perusahaan berkaitan dengan aset yang menjadi milik perusahaan yang menentukan besar

(14)

kecilnya perusahaan tersebut. Ukuran perusahaan juga menjadi salah satu faktor yang memicu pergantian KAP.

Tidak sedikit kasus yang berkaitan dengan kecurangan ataupun kekeliruan yang dilakukan Kantor Akuntan Publik sehingga perusahaan perlu melakukan pergantian KAP. Namun pada dasarnya pelanggaran tidak hanya dilakukan oleh KAP, tetapi pada perusahaan itu sendiri yang melakukan kecurangan demi keuntungan pribadi.

Manajemen perusahaan memiliki kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan perusahaan untuk menggambarkan kinerja perusahaan. Auditor sebagai pihak yang menyediakan fungsi audit diharapkan mampu menjadi hubungan dari suatu kepentingan antara pihak manajemen maupun pihak stakeholder. Ketika melakukan proses audit, auditor diharuskan bersikap objektif. Objektivitas ini dapat dilihat dari independensi auditor, dalam arti auditortidak terpengaruh oleh manajemen dalam pelaksanaan audit.

Menurut Porter et. al., dalam Nasser et. al., (2006:1) menyatakan kemandirian/independensi auditor ini sering disebut sebagai landasan profesi audit karena merupakan dasar kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi.

Pada umumnya, bentuk independensi auditor terdiri atas :

1. Independence in fact, maksudnya agar auditor menyimpulkan opinidalam laporan audit sebagai pengamat professional dan tidak beratsebelah.

(15)

2. Independence in appearance, maksudnya auditor menjauhi keadaan yangdapat membuat orang lain meragukan objektivitas pola pikiran auditor.

Berbagai kasus telah terjaditerkait dengan lunturnya independensi auditor. Auditor mungkin saja tidak dapat menemukan, bahkan mengabaikan kesalahan saji material, baik itu berupa kecurangan maupun kekeliruan. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan audit (audit failure), dimana auditor tidak dapat menemukan kesalahan salah saji material dalam laporan keuangan sehingga dapat terjadi kesalahan dalam menentukan opini audit terhadap laporan keuangan. Kesalahan memberikan opini audit ini dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi klien dan dapat merugikan banyak pihak serta auditor mungkin saja dapat dituntut secara hukum jika kesalahan berasal dari auditor itu sendiri.

Contoh kasus terbesar yang terkait dengan independensi auditor adalah kasus runtuhnya perusahaan Enron yang melakukan kerjasama dengan KAP Arthur Andersen dengan cara memanipulasi laba perusahaan. Laba dalam laporan keuangan Enron dicatat overstated oleh staf akuntan Enron yang merupakan mantan auditor di KAP Arthur Andersen, sementara KAP Arthur Andersen menjadi auditor eksternal atas laporan keuangan tersebut. Akibat dari peristiwa ini, Enron hancur dan KAP Arthur Andersen dicabut izin operasinya oleh pemerintah AS (Hutabarat, 2012:1).

Di Indonesia juga terjadi kasus yang melibatkan auditoreksternal dan kliennya. Kasus yang menimpa akuntan publik JAS yang diindikasi

(16)

melakukan kesalahan dalam mengaudit laporan keuangan PT Great River Internasional, Tbk menyebabkan munculnya keraguan atas opini audit dan akibatnya masyarakat mengkritik profesi auditor. Kasus tersebut munculsetelah adanya temuan auditor investigasi dari Bapepam yang menemukan indikasi penggelembungan akun penjualan, piutang dan aset hingga ratusan milyar rupiah pada laporan keuangan PT Great River, Tbk yang mengakibatkan perusahaan tersebut akhirnya kesulitan arus kas dan gagal dalam membayar utang. Berdasarkan investigasi Bapepam menyatakan bahwa akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan PT Great River, Tbk ikut menjadi tersangka. Oleh karenanya, Menteri Keuangan RI terhitung sejak tanggal 28 November 2006 telah membekukan izin akuntan publik JAS selama dua tahun karena terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan laporan audit atas laporan keuangan konsolidasi PT. Great River, Tbk tahun 2003 (Hutabarat, 2012:2).

Dengan alasan mencegah hilangnya independensi auditor, digagaslahkewajiban mengganti auditor secara periodik, atau yang sering disebut rotasiauditor. Rotasi atau pergantian auditor secara wajib (mandatory) ini adalah peraturan perputaran auditor yang harus dilakukan oleh perusahaan, dengan tujuan untuk menghasilkan kualitas dan menegakkan independensi auditor. Indonesia merupakan salah satu negara yang mewajibkan adanya pergantian kantor akuntan dan mitra audit yang diberlakukan secara periodik sesuai peraturan yang berlaku. Peraturan

(17)

tersebut adalah PeraturanMenteri Keuangan Republik Indonesia PMK 17/2008.

Pada tanggal 6 April 2015, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik (PP 20/2015), dimana dalam Pasal 11 ayat (1) dikatakan bahwa “Pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a terhadap suatu entitas oleh seorang Akuntan Publik dibatasi paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut- turut”. Kemudian pasal 11 ayat (3) dijelaskan bahwa “Pembatasan pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) juga berlaku bagi Akuntan Publik yang merupakan Pihak Terasosiasi”. Selanjutnya dalam Pasal 11 ayat (4) dijelaskan bahwa “Akuntan Publik dapat memberikan kembali jasa audit atas informasi keuangan historis terhadap entitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 2 (dua) tahun buku berturut-turut tidak memberikan jasa tersebut”.

Jika berdasarkan PMK 17/2008 sebuah KAP dibatasi hanya boleh melakukan audit laporan keuangan historis perusahaan dalam 6 tahun berturut-turut dan Akuntan Publik dalam 3 tahun berturut-turut, maka berdasarkan PP 20/2015 ini tidak ada pembatasan lagi untuk KAP.

Selain pergantian secara wajib (mandatory), terdapat pula pergantianauditor secara sukarela (voluntary). Pergantian kantor akuntan publik secaravoluntary ini terjadi karena adanya dua hal yaitu auditor mengundurkan diri atau auditor dipecat oleh klien. Pengunduran diri yang

(18)

dilakukan oleh auditoratau pemecatan terhadap auditor ini menyebabkan klien melakukan pergantian KAP secara voluntary.

Penelitian mengenai pergantian KAP sudah pernah dilakukan olehbeberapa peneliti. Schwartz dan Menon (1985) meneliti motivasi bagiperusahaan yang gagal untuk mengganti auditor. Faktor-faktor yang diteliti meliputi kualifikasi audit, pelaporan sengketa, perubahan manajemen, feeaudit, dan kebutuhan asuransi. Pada penelitian Mardiyah (2002), variabel independen yang digunakan adalah auditor switching dan variabel dependen yang digunakan adalah perubahan kontrak, keefektifan auditor, reputasi klien, feeaudit, faktor klien, faktor auditor. Chadegani, et. al. (2011) melakukan penelitian mengenai hubungan antara variabel dependen pergantian KAP dengan enam variabel independen, yaitu log of asset,pergantian manajemen, ukuran klien, ukuran KAP, opini audit qualified, dan kesulitan keuangan pada perusahaan-perusahaan di Teheran Stock Exchange(TSE).

Penelitian Mardiyah pada tahun 2002 membuktikan bahwaperubahan kontrak, keefektifan auditor, reputasi auditor, fee audit, faktorklien, faktor auditor, dan pergantian manajemen berpengaruh signifikan terhadap auditor changes. Penelitian yang dilakukan Calderon dan Ofobike pada tahun 2008 membuktikan bahwa hanya opini audit yang berpengaruh terhadap pergantian KAP.

Penelitian yang dilakukan oleh Chadegani et. al. pada tahun 2011 memberikan hasil bahwa hanya ukuran KAP yang berhubungan denganauditor switching. Perbedaan hasil penelitian-penelitian ini yang

(19)

mendorongpenulis untuk melakukan penelitian mengenai pergantian KAP yang dilakukan oleh perusahaan.

Terdapat perbedaan variabel yangdigunakan dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Penelitian ini menambahkan variabel independen seperti pergantian manajemen, reputasi auditor, dan ukuran perusahaan karena faktor tersebut juga dapat memicu pergantian kantor akuntan publik dalam suatu perusahaan. Saya tertarik untuk melakukan penelitian ini karena merupakan suatu hal penting suatu perusahaan melakukan pergantian Kantor Akuntan Publik berdasarkan faktor-faktor tertentu, dengan judul penulisan saya “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perusahaan dalam Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015)”.

1.2 Perumusan Masalah

Pada bahagian latar belakang telah diuraikan hasil-hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa beberapa faktor dapat mempengaruhi terjadinya pergantian Kantor Akuntan Publik. Penelitian ini memperluas penelitian terdahulu dengan menganalisis faktor-faktor lainnya dalam mempengaruhi pergantian Kantor Akuntan Publik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel penelitian perusahaan manufaktur di Indonesia Berdasarkan uraian diatas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(20)

1) Apakah faktor opini audit berpengaruh pada pergantian Kantor Akuntan Publik?

2) Apakah faktor pergantian manajemen berpengaruh pada pergantianKantor Akuntan Publik?

3) Apakah faktor reputasi auditor berpengaruh pada pergantian Kantor Akuntan Publik?

4) Apakah faktor financial distress berpengaruh pada pergantian Kantor Akuntan Publik?

5) Apakah faktor ukuran perusahaan klien berpengaruh pada pergantianKantor Akuntan Publik?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian memiliki tujuan utama, yaitu melakukan pengujian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergantian Kantor Akuntan Publik.

1.4 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini akan diperoleh beberapa manfaat.. Secara lebih spesifik manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah :

1) Bagi Peneliti, hasil penelitian ini dapat melatih pola pikir dalam peneliti dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagaimana terjadinya pergantian Kantor Akuntan Publik.

2) Bagi Kantor Akuntan Publik, hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada auditor yang bekerja di KAP untuk dapat

(21)

menjalankan kewajibannya dengan baik agar perusahaan tetap memberikan kepercayaan kepada Kantor Akuntan Publik tersebut.

3) Bagi Peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan (referensi) ataupun bandingan bagi para peneliti yang berminat dalam bidang sejenis atau dalam bidang lain yang terkait dengan penelitian ini.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Teori Agensi

Jansen dan Meckling (1976:5) mengatakan bahwa hubungan keagenan adalahsuatu kontrak di mana satu atau lebih orang (principal) melibatkan orang lain(agent) untuk melakukan beberapa layanan atas nama mereka dan kemudian mendelegasikan sebagian kewenangan pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Dengan kata lain, para pemilik perusahaan atau pemegang saham menunjuk manajemen yang dimaksudkan untuk mengelola perusahaan yang dimilikinya.

Jensen dan Meckling (1976:6) juga menyatakan bahwa masalah agensidisebabkan oleh adanya perbedaan kepentingan dan informasi asimetri antaraprincipal dan agent. Di satu pihak para pemegang saham menginginkan investasi mereka menghasilkan return yang bagus, dengan hasil keuangan yang bertambah, dalam hal ini pendapatan dividen yang besar. Namun di lain pihak, manajemen menginginkan adanya tambahan kompensasi ataup bonus ketika mereka merasa melakukan tugasnya dengan baik sehingga dapat menambah kepuasan mereka. Perbedaan tersebut menimbulkan konflik kepentingan:

1. antara shareholders dan manajer 2. antara shareholdersdan debtholders

(23)

3. antara manajer, shareholders, dan debtholders

Karena adanya konflik kepentingan antara manajer (agent) dan Shareholder itulah memicu terjadinya pergantian manajemen.Pergantian manajemen yang dilakukan atas keputusan RUPS inilahdiharapkan dapat mendukung keinginan para shareholders. Manajemen yang baru akan menerapkan kebijakan akuntansi dan sistem akuntansi yang berbeda dengan manajemen yang lama. Maka dari itu manajemen baru juga mengharapkan kantor akuntan publik yang menjadi partner perusahaannya dapat bekerjasama sehingga menghasilkan opini yang diharapkan manajemen baru tersebut.

Apabila perusahaan memperoleh opini yang tidak diharapkan dari auditornya,seperti opini adverse atau disclaimer, manajemen baru akan melakukan pergantian KAP karena para stakeholder menganggap bahwa opini adversemenunjukkan adanya ketidakberesan di dalam perusahaan.

Di dalam teori agensi juga menyatakan bahwa setiap manusia akanmelakukan tindakan sesuai dengan kepentingannya. Oleh karena itu perusahaan melakukan pergantian KAP dipicu adanya rasa ketidakpuasan terhadap kinerja dari auditor itu sendiri.

2.1.2 Pengertian Audit

Audit merupakan suatu proses sistematis yangmembandingkan kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pengertian audit menurut Boynton et. al., (2001:5) adalah proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan

(24)

peristiwa ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan, serta menyampaikan hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Sedangkan pengertian audit menurut Alvin A. Arens (2006:4) adalahpengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untukmenentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan, auditing harus dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen.

Prosessistematis tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasaripernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk mengevaluasi. Pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dilakukan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Penyampaian hasil audit dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report). Pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor, organisasi buruh dan kantor pelayanan pajak,

2.1.3 Opini Audit

Menurut standar profesional akuntan publik SA Seksi 110, tujuan auditatas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untukmenyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan

(25)

auditormerupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, sebagai pihak yang independen, auditor tidak dibenarkan untuk memihak kepentingan siapapun dan untuk tidak mudah dipengaruhi, serta harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak memiliki suatu kepentingan dengan kliennya.

Pendapat auditor (opini audit) merupakan bagian dari laporan audityang merupakan informasi utama dari laporan audit. Opini audit diberikanoleh auditor melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan simpulan atas opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya. Boynton et. al., (2001:73) mengemukakan bahwa laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh auditor dalam mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan atas laporan keuangan yang diaudit. Dengan demikian, auditor dalam memberikan pendapat sudah didasarkan pada keyakinan profesionalnya.

Opini audit tersebut dinyatakan dalam paragraf pendapat dalam laporanaudit. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenailaporan keuangan secara keseluruhan. Laporan keuangan yang dimaksud dalam standar pelaporan tersebut adalah meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Tujuan dalam standar pelaporan tersebut adalah untuk memungkinkan pemegang saham, kreditur, pemerintah, karyawan, dan pihak lain

(26)

yangberkepentingan terhadap laporan keuangan menentukan seberapa jauh laporan keuangan yang dilaporkan oleh auditor dalam laporan audit dapat dipercaya.

Menurut Bastian(2007:136) terdapat lima jenis pendapat yang dapatdiberikan oleh auditor, yaitu:

1. Pendapat Wajar tanpa Pengecualian (Unqualifed Opinion)

Pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diberikan auditor apabilaaudit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standarpemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaantertentu yang memerlukan bahasa penjelas.Dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, auditor menyatakanbahwa keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas suatu entitassesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas (UnqualifiedOpinion With Explanatory Language)

Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas dapatditambahkan dalam laporan audit bentuk baku. Pendapat ini diberikanapabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standarpemeriksaan, penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan prinsipakuntansi yang berlaku umum, tetapi terdapat keadaan atau kondisitertentu yang memerlukan bahasa penjelas. Kondisi atau keadaan

(27)

yangmemerlukan bahasa penjelas tambahan antara lain dapat diuraikan sebagaiberikut.

a) Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditorindependen lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalamparagrapf pengantar untuk menegaskan pemisahan tanggungjawabdalam pelaksanaan audit.

b) Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan olehprofesi atau pihak yang berwenang. Penyimpangan tersebut adalahyang terpaksa dilakukan agar pemakai laporan keuangan auditantidak tersesatkan. Auditor harus menjelaskan penyimpangan yang dilakukan berikut taksiran pengaruh maupun alasan penyimpangandilakukan dalam satu paragraf khusus.

c) Laporan keuangan dipengaruhi oleh ketidakpastian yang material.

d) Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalammempertahankan kelangsungan hidupnya.

e) Auditor menemukan penggunaan prinsip dan metode akuntansi.

3. Pendapat Wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion) Jenis pendapat ini diberikan apabila :

a) Luas pemeriksaan akuntan sangat dibatasi oleh klien.

b) Akuntan publik tidak dapat melakanakan prosedur pemeriksaanyang penting atau tidak dapat memperoleh informasi pentingkarena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupunakuntan.

(28)

c) Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansiyang lazim.

d) Prinsip akuntansi yang digunakan didalam laporan keuangan tidakditerapkan secara konsisten.

e) Akuntan publik tidak dapat menjaga independensinya dalamhubungan klien.

f) Tidak ada bukti kompeten yang mencukupi atau adanyapembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhilaporan keuangan secara keseluruhan.

g) Auditor merasa yakin bahwa laporan keuangan berisipenyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum yangberdampak material, tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangansecara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapat berupapengungkapan yang tidak memadai maupun perubahan prinsipakuntansi.

h) Pendapat ini hanya diberikan jika secara keseluruhan laporankeuangan yang disajikan oleh klien adalah wajar, tetapi adabeberapa elemen yang di kecualikan yang pengeculainya tidakmempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

Auditor harus menjelaskan alasan pengecualian dalam satuparagraf terpisah sebelum paragraf pendapat.Pendapat wajar dengan pengecualian tersebut baru dapatditerbitkan oleh auditor apabila laporan keuangan

(29)

menyajikansecara wajar namun, karena dengan kondisi tertentu sehinggaauditor memerlukan pendapat wajar dengan pengecualian sepertiyang telah disebutkan diatas.

4. Pendapat Tidak Wajar ( Adverse Opinion).

Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikansecara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai denganprinsip akuntansi yang berlaku umum.Auditor harus menjelaskan alasanmendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yangmenyebabkan pendapat tidak wajar di berikan terhadap laporan keuangan.Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraf terpisah sebelumparagraf pendapat.Pendapat tidak wajar ini hanya bisa diberikan ketika auditor merasayakin bahwa keseluruhan laporan keuangan yang disajikan memuat salahsaji yang material sehingga tidak menyajikan secara wajar posisikeuangan. Bila auditor menyatakan pendapat tidak wajar, ia harusmenjelaskan dalam paragraf terpisah sebelum paragraf pendapat dalamlaporannya (a) semua alasan yang mendukung pendapat tidak wajar, dan(b) dampak utama hal yang menyebabkan pemberian pendapat tidak wajarterhadap posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas, jikasecara praktis untuk dilaksanakan. Jika dampak tersebut tidak dapatditentukan secara beralasan, laporan audit harus menyatakan hal itu.

5. Pendapat Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion) Pernyataan tidak memberikan pendapat ini layak diberikan apabila:

(30)

a) Ada lingkup audit yang sangat material.

b) Auditor tidak independen terhadap klien.

Pernyataan ini tidak dapat diberikan apabila auditor merasa yakinbahwa terdapat penyimpangan yang material dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor tidak diperkenankan mencantumkan paragraf lingkup audit, apabila menyatakan alasan mengapa auditnya tidak berdasarkan standar yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang dalam satu paragraf khusus sebelum paragraf pejelasan.

2.1.4 Pergantian Manajemen

Pergantian KAP oleh perusahaan terjadi ketika lingkungan perusahaan berubah, dengan adanya pergantian manajemen lama ke manajemen yang baru.Perusahaan yang tidak puas atas kinerja suatu manejemen dan perusahaan ingin meningkatkan image perusahaan maka pergantian manajemen harus dilakukan.

Manajemen lama memiliki kebijakan akuntansi yang berbeda dengan manajemen baru.Kebijakan dan sistem terebut yang pada akhirnya menentukan hasil kinerja karyawan.Keputusan manajemen lama belum tentu sependapat dengan manajemen baru.Maka dari itu, manajemen baru membuat kebijakan dan sistem yang berbeda dengan pandangan untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih baik bagi perusahaan.Dan salah satunya membuat keputusan untuk melakukan pergantian KAP yang telah digunakan oleh manajemen lama.

(31)

2.1.5 Reputasi Auditor

Reputasi auditor adalah potensi dan kepercayaan publik yang disandang auditor atas nama besar yang dimiliki oleh auditor tersebut. Reputasi auditor berkaitan dengan kinerja auditor itu senidir, yang bersifat kompeten ataupun independen.Tingkat kinerja auditor menentukan reputasi auditor tersebut.Semakin baik reputasi yang dimiliki oleh seorang auditor maka banyak klien yang memiliki kepercayaan terhadapnya. Reputasi seorang auditor juga ditentukan oleh bagaimana auditor tersebut memegang kode etik sebagai auditor dalam melaksanakan setiap tugas audit yang dipercayakan kepadanya.

Terjadinya kasus pelanggaran etika dalam sebuah perusahaan semua berasal dari sikap auditor yang jauh dari kode etik profesinya.dan pada akhirnya tidak hanya mencemarkan nama perusahaan, nama auditor serta nama KAP tersebut menjadi buruk. Pada akhirnya perusahaan tidak memiliki kepercayaan terhadap auditor dan KAP tersebut sehingga reputasi auditor dapat memicu perusahaan melakukan pergantian KAP.

2.1.6 Kesulitan Keuangan (Financial Distress)

Kesulitan keuangan (financial distress) adalah kondisi dimanaperusahaan mengalami kesulitan keuangan dan terancam bangkrut. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan maka akan muncul biaya kebangkrutan yang disebabkan oleh keterpaksaan menjual aset dibawah harga pasar, biaya likuidasi, dan sebagainya (Meisya, 2013:28). Financial distress menurut Karen Wruck (1990) dalamAhmad dan Herni (2010:172) adalah situasi

(32)

dimana arus kas operasi perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan (seperti kredit perdagangan atau biaya bunga) dan perusahaan ditekan untuk melakukan kegiatan perbaikan. Kondisi keuangan perusahaan menggambarkan tingkat kesehatan perusahaan sesungguhnya.

Setyorini dan Ardiati (2006:6) menyatakan bahwa kesulitankeuangan yang terdiri dari kesulitan likuiditas sampai dengan kondisiperusahaan berpotensi bangkrut disebabkan oleh banyak hal, baik dari luar maupun dari dalam perusahaan. Meskipun sebab-sebab terjadinya kesulitan keuangan sangat bervariasi, tetapi kebanyakan penyebabnya adalah karena serangkaian keputusan manajemen yang salah sehingga kondisi perusahaan memburuk.

Perusahaan berpotensi bangkrut memiliki kecenderungan mengganti auditornya karena dalam perusahaan berpotensi bangkrut, terdapat pengaruh yang besar terhadap putusnya kerja antara manajemen dan auditor, yang dapat memicu perusahaan untuk melakukan pergantian KAP.

Perusahaan yang bangkrut (yang mempunyai rasio hutang yangtinggi) dan sedang mengalami posisi keuangan yang tidak sehatcenderung akan menggunakan KAP yang mempunyai indepedensi yang tinggi untuk meningkatkan kepercayaan diri perusahaan di mata pemegang saham dan kreditur untuk mengurangi resiko litigasi (Maharani dan Purnomosidhi, 2009:5)

Jika ditinjau dari segi aspek keuangan perusahaan, makaterdapat tiga keadaan yang menyebabkan financial distress(Ahmad dan Herni, 2010:176- 177), yaitu:

(33)

1. Faktor ketidakcukupan modal atau kekurangan modal

Terjadinya ketidakseimbangan aliran penerimaan uang yangbersumber pada penjualan atau penagihan piutang denganpengeluaran uang untuk membiayai operasi perusahaan tidakmampu menarik dana untuk memenuhi kekurangan danatersebut, maka perusahaan akan berada pada kondisi tidaklikuid.

2. Besarnya beban hutang dan bunga

Apabila perusahaan mampu menarik dana dari luar, misalnyamendapatkan kredit dari bank untuk menutup kekurangan dana,maka masalah likuiditas perusahaan dapat teratasi untuk sementara waktu. Tetapi kemudian timbul persoalan baru yaituadanya keterkaitan kewajiban untuk membayar kembali pokokpinjaman dan bunga kredit.Walaupun demikian, hal ini tidakmembahayakan perusahaan dan masih memberikan keuntunganbagi perusahaan apabila tingkat bunga lebih rendah dari tingkatinvestasi harta atas hutang yang diterima.Ketidakmampuanperusahaan melakukan manajemen risiko atas hutangnya dapa mengakibatkan perusahaan harus mendapatkan risikomenderita kerugian yang seharusnya tidak perlu terjadi.

3. Menderita kerugian

Pendapatan yang diperoleh perusahaan harus mampu menutupseluruh biaya yang dikeluarkan dan menghasilkan laba bersih.Besarnya laba bersih sangat penting bagi perusahaan untukmelakukan reinvestasi, sehingga

(34)

akan menambah kekayaanbersih perusahaan dan meningkatkan ROE (Return On Equity)untuk menjamin kepentingan pemegang saham.

Oleh karena ituperusahaan harus selalu berupaya meningkatkan pendapatandan mengendalikan tingkat biaya. Ketidakmampuanperusahaan untuk mempertahankan keseimbangan pendapatandengan biaya, niscaya perusahaan akan mengalami financialdistress

Kerugian utama perusahaan yang mempunyai tingkat hutangyang lebih tinggi adalah peningkatan risiko kesulitan keuangan, dan akhirnya likuidasi.

Hal ini mungkin mempunyai pengaruh merugikan bagi pemilik ekuitas dan hutang (Fachrudin, 2008). Adapun akibat kesulitan keuangan adalah sebagai berikut:

1. Risiko biaya kesulitan keuangan mempunyai dampak negatifterhadap nilai perusahaan yang mengoffset nilai pembebasanpajak (tax relief) atas peningkatan level hutang.

2. Jika pun manajer perusahaan menghindarkan likuidasi ketikakesulitan, hubungannya dengan pemasok, pelanggan, pekerja,dan kreditor menjadi rusak parah.

3. Pemasok penyedia barang dan jasa secara kredit mungkin lebihberhati- hati, atau bahkan menghentikan pemasokan samasekali, jika mereka yakin tidak ada kesempatan peningkatanperusahaan dalam beberapa bulan.

4. Pelanggan mungkin mengembangkan hubungan denganpemasok mereka, dan merencanakan sendiri produksi mereka dengan andaian ada keberlanjutan dari hubungan tersebut.

(35)

2.1.7 Ukuran Perusahaan

Perusahaan besar lebih banyak disorot oleh investor dibanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan audit harus sesuai dengan ukuran perusahaan klien dan jenis layanan yang dibutuhkan. Ukuran perusahaan klien merupakan besarnya ukuran sebuah perusahaan yang dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar.

Perusahaan kecil cenderung memilih KAP yang memiliki fee yang tidak begitu besar.Sedangkan perusahaan besar tidak menjadi masalah mengenai fee yang ditawarkan oleh KAP sehingga lebih banyak pilihan dalam memilih KAP.Ukuran perusahaan juga menjadi salah satu faktor bagi perusahaan dalam melakukan pergantian KAP.

2.1.8 Pergantian KAP

Pergantian KAP merupakan perpindahan kantor akuntan publik olehperusahaan klien. Pergantian KAP oleh perusahaan terjadi ketika lingkunganperusahaan berubah, ketika ingin mendapatkan auditor yang lebih efektif atau jasa yang berbeda, ketika ingin menaikkan image perusahaan, dan ketika ingin mengurangi biaya audit. Selain itu, pergantian KAP juga timbul karena pengaruh kompetisi pasar auditor.

Mautz dan Sharaf (1961) dalam Myers (2003:3) menyatakan bahwasemakin luasnya hubungan relasi antara KAP dengan klien dapat mempunyaipengaruh yang merugikan pada independensi KAP karena

(36)

obyektifitas KAP pada klien akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Untuk meminimalisir adanya dampak dari independensi yang berkurang, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergantian KAP.

Kadir (1994) mengemukakan dua pendekatan yang dapatdigunakan untuk menjelaskan mengapa perusahaan berpindah KAP,yaitu perspektif auditor dan perspektif perusahaan. Serupa dengan Kadir, Mardiyah (2002) juga menyatakan dua faktor yang mempengaruhi perusahaan berpindah KAP adalah faktor klien (ClientrelatedFactors), yaitu: kesulitan keuangan, manajemen yang gagal, perubahan ownership, Initial Public Offering (IPO) dan faktor auditor (Auditor-related Factors), yaitu: fee audit dan kualitas audit.

Pergantian auditor secara wajib dengan secara sukarela bisadibedakan atas dasar pihak mana yang menjadi fokus perhatian dari isutersebut. Jika pergantian auditor terjadi secara sukarela, makaperhatian utama adalah pada sisi klien. Sebaliknya, jika pergantian terjadi secara wajib, perhatian utama beralih kepada auditor (Febrianto, 2009).

Pergantian KAP sendiri dapat bersifat mandatory maupun voluntary. Dua dasar argumentasi rotasi yang bersifat mandatory umumnya dikelompokkan menjadi dua hal: (1) kualitas dan kompetensi pekerjaan audit cenderung menurun secara signifikan dari waktu ke waktu, (2) independensi auditor dapat rusak oleh panjangnya hubungan dengan manajemen. (Hoyle, 1978:13).

(37)

Klien yang di audit oleh KAP baru mungkin lebih puas dengan beberapa pertimbangan. (1) perusahaan cenderung untuk mengganti auditor adalah bahwa mereka tidak puas dengan pelayanan yang diberikan dari auditor sebelumnya atau mereka mempunyai beberapa jenis perselisihan dengan auditor sebelumnya. Oleh karena itu, perusahaan mengganti auditor dalam tiga tahun yang lalu dengan harapan akan mengalami suatu peningkatan dalam kepuasan klien. (2) perikatan audit yang baru, ada ketidakyakinan manajemen klien terhadap kualitas pelayanan yang disediakan dari KAP.

Akibatnya, ada dorongan yang kuat dari KAP untuk memprioritaskan pelayanan klien dalam tahun-tahun pertama setelah memperoleh klien baru (Craswell dalam Myers, 2003:16).

Behn dalam Nagy(2008) menunjukkan bahwa pergantian auditor merupakan variabelyang mempengaruhi kepuasaan klien. Seorangauditor baru akan cenderung memperlihatkan kinerjanya pada tahuntahun pertama saat auditor melakukan audit. Pada awal tahun kontrak pelakasanaan audit, auditor baru akan berusaha mencari tahu kinerja auditor lama, dan untuk itu auditor baru akan membandingkan dengan kinerja yang mungkin dapat dicapainya. Harapan seorang auditorbaru adalah pelaksanaan audit sebaik- baiknya, tanpa mengurangi sikap profesionalnya sebagai seorang auditor.

Tujuan pergantian auditor dimaksudkan untuk meningkatkan (memanipulasi) hasil operasi atau kondisi keuangan perusahaan. Pergantian auditor menyebabkan dampak negatif.

(38)

2.2 Penelitian Relevan Terdahulu

Beberapa penelitian mengenai pergantian KAP telah dilakukan diberbagai negara dengan kurun waktu dan variabel yang berbeda-beda.

Schwartz dan Menon melakukan penelitian pada tahun 1985 yangmeneliti motivasi bagi perusahaan yang gagal untuk mengganti auditor.Faktor-faktor yang diteliti meliputi kualifikasi audit, pelaporan sengketa,perubahan manajemen, fee audit, dan kebutuhan asuransi.

Berdasarkan hasil penelitian mereka, ditemukan bahwa perubahan manajemen dan kualifikasi audit terkait dengan perpindahan auditor di perusahaan gagal. Ukuran tampaknya tidak menjadi masalah yang berkaitan dengan perpindahan auditor diantara perusahaan gagal. Schwartz dan Menon (1985) juga menyatakan bahwa opini audit selain WTP akan membuat perusahaan kecewa dan meninggalkan KAP tersebut sehingga terjadilah pergantian KAP.

Tujuan penelitian yang dilakukan oleh Mardiyah (2002) adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan kontrak, keefektifan auditor,reputasi klien, biaya audit, faktor klien, dan faktor auditor terhadap auditorchanges dengan analisis regresi dan model RPA (Recursive PartitioningAlgorithm). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa perubahan kontrak, keefektifan auditor, reputasi auditor, fee audit, faktor klien, faktor auditor, dan pergantian manajemen berpengaruh signifikan terhadap auditor changes.

Penelitian Hudaib dan Cooke pada tahun 2005 yang dilakukan di Inggris meneliti efek interaktif perubahan Managing Director/Chief ExecutiveOfficer

(39)

(MD) dan kesulitan keuangan bersama-sama dengan lima variabel kontrol (jenis perusahaan audit, fee audit, gearing, waktu, dan ukuran perusahaan) pada opini audit dan auditor switching. Hudaib dan Cooke (2005) menemukan bahwa perusahaan yang tertekan secara finansial danmengubah MD paling mungkin untuk menerima laporan audit yang qualified, ceteris paribus. Selain itu, Hudaib dan Cooke (2005) menemukan bukti dari ancaman keakraban dan intimidasi dan bahwa probabilitas switchingmeningkat dengan tingkat keparahan opini qualified.

Penelitian Nasser et al (2006) bertujuan untuk menguji aspek hubungan auditor-klien, yaitu masa perikatan audit dan auditor switching, dan faktor- faktor yang mempengaruhinya. Sampel yang digunakan adalah perusahaan publik yang terdaftar di KLSE (Kuala Lumpur stock Exchange) pada periode 1990-2000. Penelitian ini memberikan bukti tentang hubungan antara auditor switching dan tiga variabel, yaitu ukuran klien, ukuran KAP, dan financial distress. Sedangkan untuk variabel tingkat pertumbuhan klien tidak berpengaruh terhadap auditor switching.

Penelitian yang dilakukan Damayanti dan Sudarma (2008) memberikan hasil bahwa variabel fee audit dan ukuran KAP yang mempunyai pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel yang lain, yaitu pergantian manajemen, opini akuntan, kesulitan keuangan perusahaan, dan persentase perubahan ROA tidak memiliki pengaruh terhadap perusahaan publik di Indonesia untuk berpindah KAP. Variabel yang paling signifikan adalah variabel ukuran KAP yang merupakan salah

(40)

satu proksi dari kualitas audit sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas audit merupakan faktor penting yang mempengaruhi perusahaan berpindah KAP. Selain itu, variabel fee audit juga merupakan variabel yang signifikan sebagai faktor kesesuaian harga yang mempengaruhi keputusanperusahaan untuk melakukan perpindahan KAP.

Chadegani, et. al. (2011)melakukan penelitian mengenai hubungan antara auditor switching dengan enam variabel independen, yaitu log of asset, pergantian manajemen, ukuran klien, ukuran KAP, opini audit qualified, dan kesulitan keuangan pada perusahaan-perusahaan di Teheran Stock Exchange (TSE). Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa hanya ukuran KAP yang berhubungan secara signifikan dengan pergantian auditor dalam TSE.

Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menyatakan bahwa ada hubungan yang tidak signifikan antara penerimaan opini audit qualified dengan pergantian auditor.

Wijayani dan Juniarti (2011) melakukan penelitian mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi perusahaan di Indonesia melakukan auditorswitching. Faktor-faktor tersebut adalah pergantian manajemen, opini audit, financial distress, persentase perubahan ROA, ukuran KAP, dan ukuran perusahaan klien. Sampel dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Hasil dari penelitian Wijayani dan Juniarti menyatakan bahwa pergantian manajemen dan ukuran KAP berpengaruh secara signifikan terhadap auditor switching. sementara variabel-variabel lain

(41)

seperti opini audit, financial distress, perubahan ROA dan ukuran klien tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap auditor switching.

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Nama

(Tahun)

Variabel HasilPenelitian 1 Schwartz dan

Menon (1985)

Kualifikasi audit, pelaporan sengketa, perubahan manajemen, fee audit, dan kebutuhan asuransi

Perubahan manajemen dan kualifikasi audit terkait dengan perpindahan auditor di perusahaan gagal

2 Nasser et. al.

(2006)

Ukuran KAP, ukuran klien, pertumbuhan klien,

financial

distress, audit tenure.

Ukuran KAP, ukuran klien, financial distress, dan audittenure berpengaruh terhadap pergantian KAP.

3 Damayanti dan Sudarma (2008)

Audit fee, ukuran KAP, opini akuntan, pergantian manajemen, kesulitan keuangan perusahaan, dan persentase perubahan ROA.

Audit fee dan ukuran KAP yang berpengaruh terhadap pergantia KAP.

4 Calderon dan Ofobike (2008)

Audit fee, ukuran KAP, ukuran klien, audit opinion, going concern, control environment, accounting disagreement,

financial estatement, manajemen risiko, scope limitation.

Audit opinion yang berpengaruh terhadap pergantian KAP

5 Mardiyah (2002)

Perubahan kontrak,

keefektifan auditor, reputasi klien, fee audit, faktor klien, faktor auditor

Perubahan kontrak, keefektifan auditor, faktor klien, faktor auditor, reputasi klien dan feeaudit berpengaruh.

6 Wijayani dan Opini audit, ukuran KAP, Pergantian manajemen dan

(42)

Juniarti (2011)

ukuran klien, pergantian manajemen, financial distress, perubahan persentase ROA

ukuran KAP yang berpengaruh terhadap pergantian KAP

7. Chadegani et. al(2011)

Log of asset, perubahan manajemen,

ukuran KAP, audit fee, opini audit

qualified,financial distress

Ukuran KAP yang berpengaruh

terhadap pergantian KAP

Sumber: Penelitian Terdahulu

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka pemikiran merupakan sintesa dari serangkaian teori yangtertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya merupakan gambaransistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi atau alternatif solusi dari serangkaian masalah yang ditetapkan.

H1

H2

H3

H4

H5

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Pergantian Manajemen

(X2)

Kesulitan Keuangan (X4)

Reputasi Auditor(X3) Opini Audit

(X1)

Ukuran Perusahaan (X5)

Pergantian KAP

(Y)

(43)

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini sebanyak enam variabel.

Sebagai variabel independen adalah Opini Audit (X1), Pergantian Manajemen (X2), Reputasi Auditor (X3), Kesulitan Keuangan (X4), Ukuran Perusahaan (X5). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Pergantian Kantor Akuntan Publik (Y). Model penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

2.4 Hipotesis

2.4.1 Pengaruh Opini Audit Terhadap Pergantian KAP

Laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan tidak memenuhi Prinsip Akuntansi Berterima Umum pada umumnya akan memperoleh opini diluar opini wajar tanpa pengecualian. Sehinggaperusahaan akan berpindah KAP yang mungkin dapat memberikan opini sesuai dengan yang diharapkan perusahaan (Tandirerung 2012:3). Manajemen akan memberhentikan auditornya sebagai suatu bentuk hukuman atas opini yang tidak diharapkan perusahaan atas laporan keuangannya dan berharap untuk mendapatkan auditor yang lebih mudah diatur (Carcello dan Neal, 2003) karena manajemen ingin mencapai tujuannya yaitu menampilkan laporan keuangan yang telah memenuhi standar dan aturan yang berlaku.

H1: Terdapat pengaruh dari jenis opini audit terhadap pergantian KAP.

2.4.2 Pengaruh Pergantian Manajemen terhadap Pergantian KAP

Perusahaan akan mencari KAP yang selaras dengan kebijakan danpelaporan akuntansinya (Nagy, 2005:4). Dengan melakukan pergantianmanajemen, manajemen yang baru akan menerapkan kebijakan akuntansi yang berbeda dengan manajemen yang lama. Oleh karena itulah

(44)

manajemen yang baru mengharapkan KAP yang dipakai perusahaannya dapat bekerjasama sehingga menghasilkan opini yang diharapkan manajemen.

Untuk alasan itulah perusahaan dengan manajemen baru akan melakukan pergantian KAP agar mendapatkan KAP yang dapat memberikan opini sesuai apa yang diinginkan manajemen.

H2 :Terdapat pengaruh pergantian manajemen terhadap pergantian KAP 2.4.3 Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Pergantian KAP

Berdasarkan teori agensi yang mengasumsikan bahwa manusia ituself interest, maka kehadiran pihak ketiga sebagai mediator hubungankeagenan diperlukan, dalam hal ini adalah auditor. Investor akan lebih cenderung pada data akuntansi yang dihasilkan dari auditor yang bereputasi (Praptitorini dan Januarti, 2007:7). Perusahaan tidak akan mengganti KAP jika KAP nya sudah bereputasi. Perusahaan yang sedang melakukan aktivitas pendanaan atau melakukan new financing tentunya berharap mendapatkan reaksi yang positif dari pergantian KAP yang dilakukan. Dengan mengganti auditornya dengan auditor yang lebih punya nama maka reputasi perusahaan juga akan terangkat dimata investor (Eichenseher 1989 dalam Kawijaya dan Juniarti, 2002:2).

Dalam hal ini auditor yang memiliki reputasi, diproksikan dengan KAP Big Four. Dengan kata lain, KAP yang bereputasi ini akan menambah kepercayaan diri sebuah perusahaan dalam menarik simpati b para calon investor. Untuk itu jika perusahaan telah menggunakan KAP yang bereputasi, perusahaan tidak akan melakukan pergantian KAP karena KAP bereputasi ini mendukung perkembangan perusahaan ke depannya.

(45)

H3 : Terdapat pengaruh reputasi auditor terhadap pergantian KAP

2.4.4 Pengaruh Kesulitan Keuangan (Financial Distress)Terhadap Pergantian KAP

Kondisi keuangan perusahaan merupakan gambaran atas kinerjadari perusahaan. Kondisi keuangan perusahaan klien mungkin memilikiimplikasi penting terhadap pengambilan keputusan dalam mempertahankan perusahaan audit. Karena perusahaan klien yang bangkrut dan mengalami posisi keuangan yang tidak sehat mungkin lebih mencari auditor yang memiliki independensi yang tinggi untuk meningkatkan kepercayaan para pemegang saham dan kreditur serta mengurangi risiko litigasi daripada posisi keuangan yang sehat (Francis dan Wilson dalam Maharani dan Purnomosidhi, 2010:10). Schwartz dan Soo (1995:2) menyatakan bahwa perusahaan yang bangkrut lebih sering berpindah KAP daripada perusahaan yang tidak bangkrut.

Ketidakpastian dalam bisnis pada perusahaan-perusahaan yang terancam bangkrut (mempunyai kesulitan keuangan) menimbulkankondisi yang mendorong perusahaan berpindah KAP. Sehingga kesulitan keuangan signifikan mempengaruhi perusahaan terancam bangkrut untuk berpindah KAP (Schwartz dan Menon, 1985:3). Berdasarkan argumen tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi keuangan perusahaan yang sehat memiliki kecendurungan untuk mempertahankan KAP daripada kondisi keuangan perusahaan yang tidak sehat. Sehingga H4 dapat diyatakan sebagai berikut:

H4 : Terdapat pengaruh financial distress terhadap pergantian KAP

(46)

2.4.5 Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien terhadap Pergantian KAP

Ukuran perusahaan klien merupakan salah satu variabel yangsering diuji pengaruhnya terhadap pergantian KAP. Abbott et al.(2000:1) menunjukkan adanya hubungan yang positif antara ukuran klien dengan pemilihan perusahaan audit yang memiliki kualitas yang tinggi. Idealnya, ukuran perusahaan audit harus sesuai dengan ukuranperusahaan klien dan jenis layanan yang dibutuhkan. Sebuah ketidaksesuaian ukuran antara perusahaan klien yang besar diaudit oleh perusahaan audit yang kecil dapat menyebabkan berakhirnya keterlibatan audit (Hudaib dan Cooke, 2005:20), yaitu pergantian KAP.

H5 : Terdapat pengaruh ukuran perusahaan klien terhadap pergantian KAP.

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas, yaitu penelitian yangbertujuan untuk mengetahui hubungan serta pengaruh antara dua variabel ataulebih (Indriantoro dan Supomo, 2002:27). Penelitian ini bertujuan untukmenguji pengaruh variabel independen, yaitu opini audit, pergantian manajemen, reputasi auditor, financial distress,dan ukuran perusahaan klien terhadap variabel dependen,yaitu pergantian KAP. Metode dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Dalam penelitian ini data dan informasi dikumpulkan dari Bursa Efek Indonesia.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan berdasarkan perusahaan dalamindustri manufaktur go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2015 melalui website www.idx.co.id.

3.3 Batasan Operasional

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan maka penelitian ini memberikan batasan operasional. Adapun yang menjadi batasan operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Objek penelitian ini adalah Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur selama periode 2011 – 2015.

(48)

3.4 Definisi Operasional

Pada bagian ini berisi tentang definisi operasional dari variabel- variabelyang diteliti yaitu opini audit, pergantian manajemen, reputasi auditor,financial distress, ukuran perusahaan klien dan pergantian KAP.

Selain itujuga berisi tentang cara pengukuran dari variabel-variabel tersebut.

Adapunoperasionalisasi variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:

3.4.1 Opini Audit

Variabel opini audit menggunakan variabel dummy. Jika perusahaanklien menerima opini selain wajar tanpa pengecualian (unqualified)maka diberikan nilai 1. Sedangkan jika perusahaan klien menerimaopini wajar tanpa pengecualian (unqualified), maka diberikan nilai 0(Damayanti dan Sudarma, 2008:14).

3.4.2 Pergantian Manajemen

Variabel pergantian manajemen menggunakan variabel dummy.

Jikaperusahaan klien mengganti direksi atau CEO maka diberikan nilai1.

Sedangkan jika perusahaan klien tidak mengganti direksi atauCEO, maka diberikan nilai 0 (Damayanti dan Sudarma, 2008:14).

3.4.3 Reputasi Auditor

Reputasi auditor merupakan prestasi dan kepercayaan publik yangdisandang auditor atas nama besar yang dimiliki auditor tersebut.Dalam penelitian ini reputasi auditor diproksikan dengan afiliasidengan The Big Four yang menggunakan variabel dummy. Jika KAPtermasuk dalam kategori The Big Four Auditors diberi nilai 1, jika tidak diberi nilai 0 (Sinarwati,

(49)

2010:7). KAP di Indonesia yangberafiliasi dengan The Big Four Auditors yaitu:

1. KAP Purwantono, Suherman, Surja berafiliasi denganErnst&Young, 2. KAP Osman Bing Satrio dan Rekan berafiliasi dengan DeloitteTouche

Tohmatsu,

3. KAP Sidharta, Sidharta, Widjaja berafiliasi dengan KPMG

4. KAP Tanudiredja, Wibisana dan rekan berafiliasi denganPricewaterhouse Coopers.

3.4.4 Kesulitan Keuangan (Financial distress)

Tirapat dan Nittayagasetwat (1999:21) mengatakan bahwaperusahaan mengalami financial distress jika perusahaanmenghentikan operasinya dan perusahaan merencanakan untukmelakukan restrukturisasi. Dalam penelitian ini financial distressdiproksikan dengan menggunakan variabel dummy. Jika perusahaanmendapat laba bersih negatif selama dua tahun berturut-turut, makaakan diberi nilai 1. Sebaliknya jika tidak mendapat laba bersihnegatif selama dua tahun berturut-turut, akan mendapat nilai 0(Elloumi dan Gueyie, 2001).

3.4.5 Ukuran Perusahaan Klien

Ukuran perusahaan merupakan suatu skala di mana dapatdiklasifikasikan besar kecil perusahaan berdasarkan total aset.Semakin besar total aset perusahaan menunjukkan bahwa ukuran perusahaan semakin besar. Akan tetapi, sebaliknya, semakin kecil nilai total aset perusahaan menunjukkan bahwa ukuran perusahaan semakin kecil. Perusahaan klien dikatakan besar

(50)

salah satunya karena kompleksitas usaha dan peningkatan pemisahan antara manajemen dan kepemilikan, sehingga menimbulkan permintaan yang sangat tinggi bagi perusahaan audit independen untuk mengurangi biaya keagenan (Watts dan Zimmerman dalam Maharani 2010:74). Variabel ukuran perusahaan klien dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rasio ukuran perusahaan klien yaitu logaritma natural atas total asset perusahaan (Nasser et. al., 2006:6).

3.4.6 Pergantian KAP

Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah pergantian KAP. Variabel ini merupakan variabel dummy, jika perusahaan melakukan pergantian KAP maka diberi nilai 1 dan jika tidak maka diberi nilai 0 (Damayanti dan Sudarma, 2008:16).

3.5 Skala Pengukuran Variabel

Variabel dan skala pengukuran diringkas sebagai berikut:

Tabel 3.1

Ringkasan Variabel, Dimensi, Indikator, dan Skala Pengukuran

Variabel Jenis Indikator Skala

Pengukuran Opini

Audit (X1)

Independen Variabel dummy, diberikan nilai 1 jika mendapatkan opini selain wajar tanpa pengecualian, nilai 0 jika mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian

Skala Nominal

Pergantian Manajemen (X2)

Independen Variabel dummy, diberikan nilai 1 jika perusahaan melakukan pergantian manajemen, nilai 0 jika

Skala Nominal

Referensi

Dokumen terkait

CONSIDERING as useful consultations as well as the exchange of opinions at different levels on bilateral relations and international issues of mutual interest,. WISHI NG

Dari gambaran diatas jelas terlihat bahwa sebagian besar aktivitas SPG dihabiskan dengan posisi berdiri yang lama saat bekerja serta faktor penggunaan sepatu hak tinggi menambah

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh produk, harga, promosi, dan saluran distribusi PT Naga Bhuana Aneka Piranti Sukoharjo terhadap

Sapi yang terbukti memiliki alel heterozigot dapat dibiarkan saja, karena memang mutasi dengan alel resesif yang terjadi tidak terekspresi sebagai defect.. Selain

Setelah dilakukan analisis data untuk skor postes dengan menggunakan uji kesamaan dua rata-rata dapat disimpulkan peningkatan kemampuan koneksi matematis pada kelas yang

Kompetensi Dasar Materi Pokok dan Uraian Materi Pengalaman Belajar Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/ Alat Jenis Tagihan Bentuk Instrumen

Observasi merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap objek penelitian yaitu Sistem Informasi Akademik pada Madrasah

Sedangkan responden strata III mayoritas berumur 20-30 tahun dan 41-50 tahun yaitu masing-masing 29,4%, berpendidikan SLTP dan SLTA yaitu masing-masing 38,2%, bekerja buruh