Secara umum diharapkan penelitian ini dapat memiliki manfaat sebagai berikut.
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menguatkan teori bahwa model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan kreativitas siswa.
5
b. Hasil dari penelitian ini diharap dapat menambah wawasan pembaca dan menambah literatur bagi penelitian lain yang relevan.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat membantu peneliti mengembangkan kreativitas menulis karya ilmiah dan menambah wawasan tentang pengaruh Quantum Teaching terhadap kreativitas siswa pada pembelajaran IPA.
b. Bagi Guru
Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan guru dalam memilih model yang akan digunakan dalam proses pembelajaran di kelas agar kualitas pembelajaran lebih baik dan sesuai dengan karakteristik siswanya.
c. Bagi Siswa
Memberikan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan dan menarik bagi siswa sehingga dapat mendorong siswa dalam meningkatkan kreativitasnya.
6 BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teoritis
1. Hakikat IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa Inggris yaitu natural science, artinya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Berhubungan dengan alam atau bersangkut-paut dengan alam, science artinya ilmu pengetahuan. Jadi IPA atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menurut Darmodjo dalam Samatowa (2006:2) merupakan pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dan segala isinya, akan tetapi IPA tidak hanya dipandang sebagai pengetahuan melainkan sebagai suatu metode ilmiah. IPA sebagai metode ilmiah ini maksudnya IPA merupakan cara atau metode untuk mengamati alam sekitar seperti observasi dan eksperimen yang menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.
Samatowa (2011:3) menyatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang mempunyai objek dan menggunakan metode ilmiah. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu guru sebagai fasilitator perlu menciptakan kondisi dan menyediakan sarana agar siswa dapat mengamati dan memahami objek IPA.
Dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebuah ilmu pengetahuan tentang alam sekitar yang diperoleh melalui metode ilmiah. IPA
7
di SD lebih memfokuskan pada membekali siswa kemampuan berbagai cara untuk memahami alam.
2. Pembelajaran IPA di SD
a. Pengertian Pembelajaran IPA di SD
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku akibat pengalaman, yang relatif menetap, menuju kebaikan, perubahan positif-kualitatif. Suasana belajar yang ideal di sekolah adalah berlangsung secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Suyono, 2011:11-13). Mengajar berdasarkan KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan untuk membantu orang lain mencapai kemajuan semaksimal mungkin sesuai dengan tingkat perkembangan potensi kognitif, afektif, maupun psikomotornya. Dalam pengajaran sains, pada hakikatnya pengajaran didefinisikan sebagai transformasi dari pengetahuan sains. Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam adalah sebuah ilmu pengetahuan tentang alam sekitar yang diperoleh melalui metode ilmiah. IPA di SD lebih memfokuskan pada membekali siswa kemampuan berbagai cara untuk memahami alam.
Sedangkan pembelajaran IPA adalah hafalan dan pemahaman konsep, anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan sikap ingin tahu dan berbagai penjelasan logis. Hal ini akan mendorong anak untuk mengekspresikan kreativitasnya. Menurut Bundu (2006:11) secara garis besar sains memiliki tiga komponen yaitu: (1) proses ilmiah, misalnya mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang dan melaksanakan eksperimen, (2) produk ilmiah, misalnya konsep, hukum dan teori, dan (3) sikap ilmiah, misalnya ingin tahu, hati-hati, objektif dan jujur. Dalam pembelajaran IPA, anak didik diharapkan
8
menguasai standar kompetensi kajian ilmiah yang meliputi: (1) penyelidikan, (2) berkomunikasi ilmiah; (3) pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah, dan (4) sikap dan nilai ilmiah. Kompetensi tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses SAINS. Keterampilan proses SAINS tersebut adalah (1) melakukan observasi, (2) mengemukakan hipotesis, (3) menginterprestasi; (4) merancang percobaan, (5) melakukan investigasi, (6) menarik kesimpulan; dan (7) mengkomunikasikan hasil, Semiawan dkk dalam Samatowa (2011:99-100).
Jadi pembelajaran IPA dapat disimpulkan sebagai suatu kegiatan membantu peserta didik dalam pengetahuan tentang alam sekitar yang diperoleh melalui metode ilmiah secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
b. Tujuan Pembelajaran IPA di SD
Pada prinsipnya pembelajaran IPA di sekolah dasar membekali siswa
kemampuan berbagai cara untuk “mengetahui” dan “cara mengerjakan” yang dapat membantu siswa dalam memahami alam sekitar (Asy’ari, 2006:23). Lebih lanjut Asy’ari menjelaskan secara rinci tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar sebagai berikut.
1) menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat,
2) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan,
9
3) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
4) ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, dan
5) menghargai alam sekitar dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
Tujuan pembelajaran IPA untuk siswa Sekolah Dasar dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Sekolah Dasar bertujuan agar siswa.
1) memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari,
2) memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan dan gagasan tentang alam sekitar,
3) mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar,
4) bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama, dan mandiri,
5) mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, 6) mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk
memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan
10
7) mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan pembelajaran IPA menurut kurikulum 2006 untuk kelas V adalah. 1) mengidentifikasi fungsi organ tubuh manusia dan hewan,
2) memahami cara tumbuhan hijau membuat makanan,
3) mengidentifikasi cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkunganya,
4) memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses,
5) memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi, serta fungsinya, 6) menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu
karya/model, dan
7) memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam
Tujuan pembelajaran IPA dalam penelitian ini adalah memahami perubahan yang terjadi di alam dan hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam c. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA di SD
Ruang lingkup pembelajaran IPA menurut Asy’ari (2006:23-24) meliputi 2 aspek yaitu kerja ilmiah atau proses sains dan pemahaman konsep. Lingkup kerja ilmiah yang dimaksud adalah memfasilitasi keberlangsungan proses ilmiah yang meliputi penelitian, komunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah, sikap dan nilai ilmiah. Lingkup pemahaman konsep berupa
materi-11
materi IPA. Berdasarkan Kurikulum 2006 (standar isi) ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1) makhluk hidup dan proses kehidupan, yang meliputi Manusia, hewan, tumbuhan, dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan,
2) benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya, yang meliputi: cair, padat, dan gas,
3) energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana,
4) bumi dan alam semesta, meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya, dan
5) sains, lingkungan teknologi dan masyarakat merupakan penerapan konsep sains dan saling keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat melalui pembuatan suatu karya teknologi sederhana.
Standar kompetensi mata pelajaran IPA untuk satuan pendidikan dasar SD/MI/SDLB/Paket A yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 adalah sebagai berikut.
1) melakukan pengamatan terhadap gejala alam dan menceritakan hasil pengamatannya secara lisan dan tertulis,
2) memahami penggolongan hewan dan tumbuhan, serta manfaat hewan dan tumbuhan bagi manusia, upaya pelestariannya, dan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya,
3) memahami bagian-bagian tubuh pada manusia, hewan, dan tumbuhan, serta fungsinya dan perubahan pada makhluk hidup,
12
4) memahami beragam sifat benda hubungannya dengan penyusunannya, perubahan wujud benda, dan kegunaannya,
5) memahami berbagai bentuk energi, perubahan dan manfaatnya, dan 6) memahami matahari sebagai pusat tata surya, kenampakan dan
perubahan permukaan bumi dan hubungan peristiwa alam dengan kegiatan manusia.
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI dalam penelitian ini meliputi aspek memahami matahari sebagai pusat tata surya, kenampakan dan perubahan permukaan bumi dan hubungannya peristiwa alam dengan kegiatan manusia. 3. Karkteristik Siswa SD
Siswa kelas V termasuk dalam kelas tinggi. Usia rata-rata siswa kelas V adalah 11 tahun. Usia ini termasuk dalam masa kanak akhir. Masa kanak-kanak akhir berlangsung antara 6-12 tahun. Menurut Izzati (2013:115) ciri-ciri anak masa kelas tinggi adalah.
1) perhatiannya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari, 2) ingin tahu, ingin belajar, dan realistis,
3) timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus,
4) siswa memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajar mereka di sekolah, dan
5) siswa suka membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.
Menurut Suryabrata (2002:205-206) pada masa ini anak-anak memiliki sifat khas yaitu.
13
1) adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini membawa kecenderungan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan praktis,
2) amat realistik, ingin tahu, ingin belajar,
3) menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus,
4) sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan bantuan guru untuk menyelesaikan tugasnya.
5) pada masa ini anak memandang nilai adalah ukuran yang tepat untuk prestasi belajarnya, dan
6) anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok-kelompok teman sebaya. Biasanya dalam bermain mereka tidak terpaku dalam peraturan tradisional tetapi mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya. Selain memiliki sifat-sifat di atas, anak usia 6-12 tahun juga memiliki karakteristik pertumbuhan kejiwaan. Berikut karakteristik kejiwaan anak usia 6-12 tahun menurut Suharjo (2006:37-38).
1) pertumbuhan fisik dan mental tumbuh pesat,
2) kehidupan sosialnya diperkaya selain kemampuan dalam kerjasama juga dalam hal bersaing dan kehidupan kelompok sebayanya,
3) semakin menyadari diri selain mempunyai keinginan, perasaan tertentu juga semakin bertumbuhnya minat tertentu,
14
5) dalam bergaul tidak membedakan jenis kelamin yang menjadi dasar adalah perhatian dan pengalaman yang sama,
6) mempunyai kesanggupan untuk memahami hubungan sebab akibat, dan 7) ketergantungan terhadap orang dewasa semakin berkurang dan kurang
memerlukan perlindungan orang dewasa.
Kegiatan belajar pada masa kanak-kanak akhir menurut Poerwanti&Widodo (2005:44-45) berfungsi untuk mengembangkan kemampuan sebagai berikut.
1) belajar keterampilan fisik untuk bermain seperti lari, lompat dan sebagainya,
2) membina sikap positif untuk dirinya,
3) bergaul dengan teman sebaya sesuai norma dan etika di masyarakat, 4) belajar memainkan peran sosial sesuai jenis kelamin,
5) belajar dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan matematika, 6) mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari,
7) mengembangkan kata hari, moral, dan skala sikap nilai yang selaras dengan budaya masyarakat,
8) mengembangkan sikap objektif terhadap kelompok dan lembaga kemasyarakatan, dan
9) belajar mencapai kemerdekaan dan kebebasan pribadi dan bertanggung jawab.
Pada masa ini anak dapat berpikir secara logis mengenai objek dan kejadian, meskipun masih terbatas pada hal yang bersifat konkret, dapat digambarkan, atau
15
pernah mengalami. Menurut Marsh dalam Izzaty (2013:116) strategi guru dalam masa ini adalah.
1) menggunakan bahan-bahan yang konkret, 2) gunakan alat visual, misalnya OHP,
3) gunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan anak, 4) penyajian dengan singkat dan terorganisasi, dan
5) berilah latihan nyata dalam menganalisis masalah.
Berdasarkan pendapat tadi siswa kelas V berarti memiliki ciri-ciri seperti di atas. Maka guru harus mengerti kebutuhan siswa dalam belajar di kelas dengan menyajikan materi dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan model Quantum Teaching dalam pembelajaran untuk membantu siswa dalam menemukan hal-hal baru itu baik dalam materi maupun dalam proses belajarnya sekaligus untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajarnya.
4. Model Quantum Teaching a. Pengertian Quantum Teaching
DePorter dalam Nilandari (2005:5) menyatakan bahwa Quantum Teaching adalah orkestrai bermacam-macam interaksi yang ada di dalam proses pembelajaran. Interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Asas utama dari Quantum Teaching adalah
“Bawalah dunia mereka ke dunia kita, antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Hal
ini berarti pembelajaran dengan model Quantum Teaching adalah pembelajaran dengan membawa siswa ke dunia pengajar dan mengantarkan dunia pengajar ke
16
dunia siswa. Dengan demikian sebuah materi akan mudah diterima oleh siswa karena sesuai dengan dunia mereka.
b. Prinsip Quantum Teaching
Menurut DePorter dalam Nilandari (2005:7-8) Quantum Teaching memiliki lima prinsip. Prinsip pertama, Segalanya Berbicara. Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rencana pembelajaran semuanya mengirimkan pesan tentang belajar. Sebagai contoh, mimik muka yang diberikan guru kepada siswanya akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Seorang guru yang memberikan mimik muka gembira dan penuh senyum akan memberikan dampak positif terhadap perilaku dan hasil belajar siswa. Selain itu dalam sebuah bukan hanya guru yang berhak untuk bicara, tetapi siswa juga berhak untuk berargumen dan menyatakan pendapatnya. Hal ini akan sangat efektif dalam mengembangkan kreativitas siswa dalam menanggapi dan berpendapat dalam sebuah forum.
Kedua, Semuanya Bertujuan. Segala sesuatu yang terjadi dalam pembelajaran harus memiliki tujuan. Apa yang disusun dalam perencanaan pembelajaran harus mempunyai tujuan dan batasan yang jelas. Hal ini sangat penting agar semua proses pembelajaran tidak melenceng dari tujuan utama. Misalnya penataan ruang kelas, setiap kursi dan meja harus memiliki tujuan. Sebagai contoh meja dan kursi ditata empat-empat. Hal itu bertujuan agar kegiatan kelompok dapat berjalan dengan lancar.
Ketiga, Pengalaman sebelum Pemberian Nama. Proses belajar paling baik ketika kita telah memiliki pengalaman/mengalami informasi sebelum memperoleh
17
nama apa yang telah kita pelajari. Dalam memahami suatu pengetahuan, akan lebih bermakna apabila siswa telah mengalami atau memiliki pengalaman terlebih dahulu terhadap pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, ketika mempelajari pesawat sederhana, siswa diajak untuk membuat contoh-contoh pesawat sederhana. Kemudian siswa bersama dengan guru menamai jenis pesawat sederhana yang telah dibuat siswa tersebut.
Keempat, Akui Setiap Usaha. Belajar mengandung resiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Jadi pada saat mengambil langkah ini mereka patut memdapat penghargaan dan pengakuan atas tindakan dan kepercayaan diri mereka. Guru hendaknya memberi penghargaan kepada siswa ketika mereka berani mengangkat tangan dan memberikan pendapat atau pertanyaan. Penghargaan tersebut sangat penting bagi siswa untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan dirinya. Selain itu siswa juga merasa bahwa dirinya dihargai oleh guru dan teman-temannya.
Kelima, Layak Jika Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Setiap pencapaian dari siswa layak untuk mendapat apresiasi. Setiap kegiatan dan tugas yang telah dilaksanakan siswa sebaiknya diberi umpan balik. Umpan balik dapat berupa kunjung karya dengan memberikan bintang atau senyum kepada karya yang dianggap paling baik ataupun dapat dilakukan dengan pemberian tepuk tangan bersama-sama setelah siswa menyelesaikan suatu kegiatan atau tugas. Adanya perayaan atau apresiasi akan membuat siswa termotivasi untuk menyelesaikan setiap tugas dengan baik dan benar.
18
Setelah mengetahui prinsip-prinsip diatas maka ketika melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas harus memperhatikan prinsip tersebut agar pembelajaran dapat memberikan makna dan perubahan positif kepada siswa.
c. Strategi pembelajaran Quantum Teaching
Menurut DePorter dalam Nilandari (2005:7-8) Quantum Teaching ditulis dan dirancang berdasarkan Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching yang disebut dengan TANDUR. TANDUR ini memiliki makna sebagai berikut.
1) tumbuhkan, 2) alami, 3) namai, 4) demonstrasikan, 5) ulangi, dan 6) rayakan. 1) Tumbuhkan
Tumbuhkan minat belajar siswa dengan cara memuaskan siswa tentang manfaat belajar bagi dirinya. Guru harus menumbuhkan minat belajar siswa dengan cara merancang suatu pembelajaran agar menarik dan tidak membosankan. Dalam menumbuhkan minat siswa, guru juga harus memperhatikan prinsip model Quantum Teaching, misalnya prinsip segalanya berbicara. Cobalah untuk menumbuhkan suasana yang sangat meyenangkan, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke dalam alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke dalam alam pikiran
19
guru, yakinkan siswa mengapa harus mempelajari hal itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. Jika sudah demikian , maka siswa akan menikmati pembelajaran. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan memberikan cerita lucu, menayangkan video inspirasi, gambar yang disukai siswa, dll. Kegiatan itu dapat dilakukan ketika guru memberikan apersepsi kepada siswa.
2) Alami
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa. Misalnya melalui sebuah percobaan. Dalam percobaan tersebut siswa diberi kesempatan untuk mencoba dan memperoleh pengalaman belajar. Percobaan yang dilakukan oleh siswa dapat meningkatkan kreativitasnya, hal ini selaras dengan pendapat Treffinger dalam Semiawan (1999:106) yang menyatakan bahwa salah satu cara mengembangkan kreativitas siswa adalah dengan memberikan pengalaman belajar kepada siswa melalui eksperimen. Tahapan Alami ini juga memudahkan siswa dalam memahami materi dan menganalisis masalah yang diberikan oleh guru. Dalam langkah ini guru harus memperhatikan prinsip semuanya bertujuan, yaitu setiap langkah dan pekerjaan yang dilakukan siswa harus memiliki tujuan yang mengacu pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. 3) Namai
Sediakan kata kunci, model, rumus, dan strategi. Setelah mencoba, maka siswa bersama dengan guru menamai pengetahuan, konsep, teori, yang telah diperoleh dalam proses mencoba. Dengan adanya bimbingan dari guru maka diharapkan siswa tidak salah dalam menamai pengetahuan yang diperolehnya.
20
Melalui langkah ini secara tidak langsung guru telah menerapkan prinsip pengalaman sebelum pemberian nama, sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih bermakna dan membekas bagi siswa.
4) Demonstrasikan
Sediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukan bahwa mereka tahu. Dalam langkah ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan, menerjemahkan, dan menerapkan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam langkah ini guru dapat mendemonstrasikan terlebih dahulu sebelum siswa mempresentasikan pengetahuannya. Kebebasan dalam mengungkapkan atau mempresentasikan gagasan ini dapat meningkatkan kreativitas siswa. Selain melalui presentasi, siswa dapat mendemonstrasikan pengetahuannya dengan menjawab LKS dan soal evaluasi. Rahmawati (2001:3) mengungkapkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan kreativitas anak, perlu diciptakan suasana yang menjamin terpeliharanya kebebasan psikologis. Sedangkan untuk memelihara kebebasan psikologis menurut Seto Mulyadi dalam Rahmawati (2001:3) dapat diciptakan dengan membangun suasana bermain yang dapat melatih dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menampilkan gagasan-gagasan baru secara lancar dan orisinal. Jadi melalui kegiatan demonstrasikan ini kebebasan psikologis akan terpelihara sehingga kreativitas anak akan tumbuh dan berkembang.
5) Ulangi
Tunjukan pada siswa cara-cara mengulangi materi dari materi yang telah mereka pelajari. Langkah ini bertujuan untuk mengingat kembali dan mengetahui
21
kemampuan dan kekurangan siswa dalam menerima sebuah materi. Guru membimbing siswa untuk mengulangi hal-hal yang mereka dapatkan mulai dari awal pembelajaran sampai pembelajaran usai, sehingga siswa dapat merasakan secara langsung dimana kesulitan mereka dan akhirnya mereka dapat menguasai suatu pengetahuan.
6) Rayakan
Apresiasi untuk penyelesaian, partisipasi, dan perolehan keterampilan siswa. Langkah ini digunakan guru untuk memberikan respon dan umpan balik terhadap kegiatan yang telah dilakukan siswa. Rayakan ini memberikan rasa dihargai dalam diri siswa sehingga mereka merasa termotivasi untuk menyelesaikan tugas yang akan datang dengan baik dan benar. Hal yang dapat dilakukan guru dalam langkah rayakan ini adalah dengan memberikan pujian, tepuk tangan, bintang, dan bentuk penghargaan lainnya. Melalui tahap rayakan ini guru dapat meningkatkan kreativitas siswa, hal ini selaras dengan Munandar (2010:114-115) yang menyatakan bahwa hadiah yang diberikan setelah mendeklarasikan sajak yang dibuat, karangan yang dibuat di depan kelas dapat meningkatkan motivasi intrinsik dan kreativitas siswa. Selain itu apresiasi guru terhadap kemampuan yang dimiliki oleh siswa dapat mengembangkan kreativitas siswa, hal ini diungkapkan oleh Treffinger dalam Semiawan (1999:106) yaitu untuk mengembangkan kreativitas anak pembelajaran hendaknya menghindari perilaku judgmental dari guru, sebaiknya guru memberikan apresiasi terkhadap kemampuan yang dimiliki siswa. Dalam tahap rayakan ini guru telah menerapkan prinsip akui setiap usaha dan mengapresiasi keberhasilan siswa.
22
Kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif akan meningkatkan kreativitas pada siswa. Fathurrohman (2015:181) yang menyatakan bahwa TANDUR ditujukan untuk meningkatkan minat belajar sehingga proses penyampaian materi dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian pembelajaran akan berlangsung menyenangkan, materi akan lebih cepat diterima dan lebih bermakna serta meningkatkan kreativitas siswa.
5. Pembelajaran Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK)
Kegiatan eksplorasi dimaknai sebagai kegiatan untuk melibatkan siswa dalam mencari informasi yang luas mengenai materi yang sedang dipelajari dari berbagai sumber baik yang ada di lingkungan sekolah atau di luar sekolah, misalnya melalui lembar kerja siswa, buku teks, media massa (koran), majalah, praktikum, internet, dan museum. Metode pembelajaran yang digunakan juga