BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan penelitian adalah:
1. Secara Teoritis
Manfaat diadakan penilitian ini adalah dapat memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengetehui peran Guru PAI serta dengan adanya penelitian ini peneliti, dapat mengetahui juga kepribadian Guru PAI SMA Muhammadiyah Wilayah Disamakan.
2. Secara Praktis
a. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan peran Guru.
b. Bagi peneliti memberikan tambahan khazanah pemikiran baru berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam dan mampu meningkatkan peran guru dalam rangka mewujudkan cita-cita tujuan peserta didik.
c. Sebagai bahan pertimbangan terhadap penilitian lain yang ada relevannya dengan masalah tersebut.
10 BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Sikap Kedisiplinan Beribadah
1. Pengertian Peran Guru Pendidikan agama islam
Dalam bahasa Indonesia kata guru berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti orang yang digugu atau orang yang dituruti pendapat dan perkataannya.
Seorang guru merupakan panutan bagi para murid-muridnya sehingga setiap perkataannya selalu dituruti dan setiap perilaku dan perbuatannya menjadi teladan bagi para murid-muridnya. Secara etimologi dalam literatur kependidikan islam seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mualim, murabbih, mursid, mudarris, dan mu’addib, yang artinya orang yang memberikan ilmu pengetahuan dengan tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik agar menjadi orang yang berkepribadian baik.3 Sedangkan secara terminologi menurut Muhaimin bahwa guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid baik secara individual maupun secara klasikal. Baik sekolah maupun diluar sekolah.4
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan
3Muhaimin, Sepengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam ( jakarta: Raja Grafindo Persada), h. 44-49
4 Ibid.
masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak mesti dalam lembaga pendidikan formal, tetap bisa juga dilakukan di Mesjid, di Surau atau Mushollah, diRumah, dan lain sebagainya5
Dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa peran Guru merupakan untuk membentuk karakter siswa dalam mengembangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, guru pendidikan agama Islam juga harus mengembangkan keterampilan anak, sehingga ia mampu untuk menghadapi segala permasalahan didalam hidupnya.
Peran guru pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan (being) agama islam melalui kegiatan pendidikan.4 Dari ketiga aspek tersebut “aspek being (beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai Islam) yang menjadikan tujuan utama pendidikan agama islam di sekolah.6 Jadi pendidikan agama islam dapat diartikan sebagai ajaran yang memberikan nilai-nilai Islami dan mengubah karakter seseorang yang menjadi lebih baik.
“Kehadiran guru dalam proses pembelajaran merupakan peran yang penting, peran guru itu belum dpat digantikaan oleh teknologi seperti radio,televisi, tipe recorde, internet, komputer maupun teknologi yang paling modern”.7
Posisi Guru tidak dapat di gantikan oleh teknologi walaupun itu
5Syaiful Bahri Djamarah, (2000), Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi edukatif, jakarta: Rineka Cipta,2000) h. 31
6 Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam,[t.t], [t.H] , h. 147
7 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,(jakarta: Kalam Mulia,2010),h.74.
12
teknologi sekarang sudah canggih. Karena Guru betul-betul memberikan arahan kepada murid dalam proses pembentukan karakter yang menjadikan murid untuk disiplin. Guru juga berperan menyampaikan ilmu kepada muridnya. Selain menyampaikan ilmunya dari Guru juga murid bisa belajar membaca menulis dan berhitung.
a. Guru Sebagai Pemimpin (lead)
Peran guru sebagai pemimpin akan berhasil apabila guru memiliki kepribadian, “seperti: kondisi fisik yang sehat, percaya diri sendiri, memiliki daya kerja yang besar dan antusiasme, gemar dan cepat mengambil keputusan, bersikap obyektif dan mampu menguasai emosi, serta bersikap adil”.8 Peran guru pendidikan agama Islam sebagai pemimpin, pembinaan dalam pendidikan agama Islam dalam mengembangkan suasana keagamaan merupakan tenaga inti untuk mengarahkan siswa-siswi beriman, bertaqwa serta berakhlak mulia, dan dapat mengamalkan nilai-nilai agama Islam baik disekolah, dilingkungan keluarga, dimasyakat. Adapun tugas pokok sebagai sebagai pemimpin dalam pembelajaran agama Islam sebagai berikut:
1) Mengarahkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pembiasaan peserta didik dalam menerapkan norma agama.
2) Memimpin dan membawa kegiatan pembinaan disiplin beribadah disekolah, seperti ibadah solat, zakat, infak, sodaqoh.
3) Memantau dan mengawasi sikap dan perilaku peserta didik dalam kegiatan
8Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (jakarta : PT. Bumi Aksara ,2010 ) h. 44.
dan pergaulan peserta didik dalam kegiatan dan pergaulan peserta didik sehari-hari disekolah sesuai tuntunan akhlakul karimah.
b. Guru Sebagai teladan
Setiap tenaga pendidik (guru) dilembaga pendidikan harus memiliki tiga hal yaitu competency, personality, dan religiusy. Competency menyangkut kemampuan dalam menjalankan tugas secara profesional yang meliputi kompetensi sosial. Personality menyangkut integritas, komitmen, dan dedikasi, sedangkan religius menyangkut pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman dibidang keagamaan. Ketiga hal tersebut guru akan mampun menjadi model dan mampu mengembangkan keteladanan dihadapan siswanya.9 Sebagimana penjelasan diatas bahwasanya guru harus memiliki tiga hal penting yaitu kompetensi personality dan religius agar dapat dikatakan sebagai guru teladan dalam kehidupan sehari-hari, keteladanan itu sangat penting dan efektif apa lagi dirana pendidikan. siswa-siswi lebih mengerti bila seorang guru yang ditirunya. Firman Allah SWT dalam surat Al-ahzab ayat 21
Terjemahannya:
“ sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap(rahmat) Allah
( kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
9Tobroni,Pendidikan Islam, Paradigma Teologis,Filosofis dan Spritualitas,(Malang:
UMM, 2008), h. 128.
14
Keteladanan merupakan media amat baik dalam pengembangan suasana keagamaan.”keteladanan pendidikan terhadap peserta didik kunci keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk moral spritual dan sosial anak.10 Dalam hal ini keteladanan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan suatu contoh terhadap siswa didalam kehidupan sehari-hari agar menjadi manusiawi.
c. Guru sebagai fasilitator
Guru berperan sebagai fasilitator, guru akan memberikan pelayanan, fasilitas atau kemudian dalam kegiatan proses pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan pembelajaran yang serasi dengan perkembangan siswa, maka proses pembalajaran akan berlangsung secara efektif sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal. Sebagai seorang fasilitator, tugas Guru adalah membantu untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian Guru memahami karakteristik siswa termasuk gaya belajar, kebutuhan kemampuan dasar yang dimiliki siswa.11 Guru sebagai fasilitator yang menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya untuk dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada siswa yang diajarnya.
Peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, khususnya yang berhubungan dengan pemanfaatan media dan sumber belajar sebagai berikut:
10 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam,( jakarta: Kalam Mulia, 2004), h. 154
11Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi kurikulum berbasis Kompetensi,(
jakarta: kencana, 2008), h. 14.
a) Guru perlu mehami berbagai jenis media dan sumber ide bagai berikut:
b) Guru perlu mempunyai keterampilan dalam merancang suatu media.
c) Guru perlu di tuntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar.
d) Guru dituntut agar mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa.12
Dari point diatas dapat disimpulkan bahwa selain mentransferkan ilmu yang dia miliki kepada siswanya guru juga dituntun untuk memahami semua jenis media. Selain jenis media guru juga harus mempinyai sebuah keterampilan dalam merancang suatu media proses belajar mengajar. Guru juga dituntun bagaimana dia mampu berkomunikasi dalam berinteraksi dengan siswa.
d. Guru sebagai motivator
Peran guru sebagai motivator sangat penting dalam proses pembelajaran, membangkitkan minat, mengarahkan siswa-siswi untuk melakukan sesuatu bekaitan dengan kebutuhan atau keinginan yang mempunyai hubungan dengan kepentingan sendiri, minat akan selalu berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan pada diri seorang.
Dalam hal ini guru menciptakan kondisi tertentu agar siswa-siswi selalu butuh dan ingin dimotivasi. Berikut ini merupakan fungsi motifasi:
1) Motivasi merupakan alat pendorong terjadinya perilaku belajar peserta didik.
2) Motivasi merupakan alat untuk mempengaruhi prestasi belajar peserta didik.
3) Motivasi merupakan alat untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran lebih bermakna.
4) Motivasi merupakan alat untuk membangun sistem pembelajaran lebih bermaknain terus belajar.13
Dari keempat point diatas dapat simpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan yang timbul dalam diri siswa untuk meningkatkan giat belajar siswa
12Wina Sanjaya, Pembalajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,(
Jakarta: kencana, 2008), h.14.
13 Nanang Hanafiah, Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran,(Bandung. PT Refika Aditama,2010), h. 26.
16
dan tujuan proses pembelajaran tercapai.
e. Guru sebagai Evaluator
Peran guru sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi siswa-siswi dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya sehingga dapat menentukan bagaimana siswa-siswi berhasil atau tidak pembelajaran yang telah dilakukan, apakah materi yang diajarkan sudah dikuasi atau belum oleh siswa-siswi, apakah metode yang digunakan sudah cukup tepat.
Peran Guru yang dimaksud disini adalah dalam proses pembelajaran guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan.14
Dapat difahami bahwa guru sebagai evaluator harus memiliki kompetensi dalam mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang di berikan oleh guru.
Adapun fungsi evaluator terbagi menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut:
Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan yang telah diprogramkan.15 Informasi yang diperoleh melalui
14 Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesi Guru, (Raja Grafindo Persada, 2011), h. 58.
15 Wina Sanjaya, Op.cit., h. 32.
evaluasi ini merupakan umpan balik (feedback) terhadap proses pembelajaran.
Umpan balik ini dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya.16 Dengan demikian guru harus menggunakan evaluasi melalui umpan balik (feedback) agar bisa menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sebagaimana disampaikan User Usman, peranan guru yang dianggap paling dominan dirumuskan sebagai berikut: 1) Guru sebagai demonstrator, dimana guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ini ilmu yang dimilikinya akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. 2) Guru sebagai pengelolah kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek lingkungan sekolah yang perlu diorgansasikan. 3) Guru sebagai mediator atau fasilitator hendaknya memliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifikan proses belajar memgajar.17 4) Guru sebagai evaluator, yakni untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan tercapai atau belum dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. 5) Guru sebagai pelaksana administrasi sekolah. 6) Guru sebagai pribadi, sebagai petugas keamanan. 7) Guru psikologis.
2. Pengertian pendidikan Agama Islam
16Moh. Uzer Usman, Menjadi guru profesional, cet. 15, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), h.12.
17Enco Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Meningkatkan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2008), h.37.
18
Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Pengertian yang lain ini sering beliau mengatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama islam.18
Sedangkan menurut Alim dalam Miftahur Rohman dan Hairudin mengatakan bahwa pendidikan islam adalah sebuah program terencana dalam menyiapkan individu untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama islam serta diikuti tuntutan menghormati agama islam dalam hubungan antar ummat beragama hingga terwujud kesatuan dan bangsa.19
Penerapan pendidikan Islam yang berusaha untuk mengembangkan kepentingan dunia dan akhirat adalah pendidikan yang mementingkan aqidah, akhlak mulia, teknologi yang fungsional bagi pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan UUD 1945. 20
Jadi Pendidikan agama islam adalah usaha sadar dalam menyakini, memahami dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar ummat beragama dalam masyarakat yang mewujudkan persatuan nasional.
18Ahmad Harimba dalam Nur Uhbiyati,Ilmu Pendidikan Islam,(Bandung: Pustaka Setia, 1998) cet,2 h.5
19Miftahur Rohman dan Hairudin, Konsep Tujuan Pendidikan Islam Perspektif Nilai-Nilai Sosial Kultural, (Al- Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Vol 9, No. 1, 2018) h, 22.
20 Marwan Saridjo, mereka bicara pendidikan islam:sebuah bunga rampai (jakarta: PT:
RajaGrafindo, 2009) h.20-21
Pendidikan agama islam menurut Drs. Ahmad D.Marimbaba dalam buku pengantar filsafat pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran islam.
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam adalah sesuatu yang akan dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha. Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan, maka tujuan pendidikan adalah sesuatu yang akan dicapai dengan kegiatan pendidikan.
Dapun tujuan pendidikan menurut Hasan Langgung dalam bukunya Manusia dan Pendidikan, mengatakan bahwa: Tujuan pendidikan adalah untuk menjalankan tiga fungsi yang secara keseluruhan bersifat normatif, fungsi-fungsi tersebut adalah: (1) menentuan haluan bagi proses pendidikan, (2) pelaksanaan penentuan haluan yang dimaksud yaitu memberikan rangsangan, artinya jika haluan dan proses pendidikan tersebut dipandang bernilai dan ia inginkan, maka tentulah akan mendorong pelajar mengeluarkan tenaga yaang diperlukan, (3) “menjadi kriteria dalam menilai proses pendidikan “.21
Dari pendapat tersebut diatas dapat diuraikan bahwa yang menjadi tujuan utama adalah tujuan yang akan menentukan haluan pendidikan. Dalam bagian yang berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan, sedangkan jika mengenai penilaian, maka tujuan yang dimaksud adalah sebagai kriteria dalam menilai proses pendidikan.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak
21Hasan Langgung, Manusia Dan Pendidikan, h. 102
20
serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran islam.22
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan agama Islam untuk menanamkan sikap religius dalam menegakkan kebenaran untuk memanusiakan manusia.
Tujuan Pendidikan Islam menurut Abdurrahman An Nahlawi, pendidikan agama Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun secara sosisal.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Tujuan Pendidikan Agama Islam mengaktualisasikan diri kita kepada Tuhan bahwasanya kita ini hanya sebatas hamba baik secara individual maupun sosial.
B. Kedisiplinan Beribadah 1. Pengertian Kedisiplinan
Disiplin berasal dari kata ”dispcle” yang berarti Belajar. Disiplin
merupakan arahan untuk melatih dan membuat seseorang melakukan sesuatu menjadi lebih baik.23 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), disiplin berarti latihan batin dan watak supaya mentaati tatatertib, kepatuhan pada aturan.24
Disiplin dalam arti yang positif seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli berikut ini Hodges dalam Avin Fadillah Helmi mengatakan
22M. Arifin.Ilmu Pendidikan Islam,Tinjauan Teoritis Dan Praktis Berdasarkan Pendekatakan Interdisipliner. (jakarta: PT. Bumi Aksara) h.29
23 Heru Subekti, Artikel Tentang Disiplin Kerja, Selasa 25 Maret 2009
24 Muhammad Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Amani) h.84
bahwa disiplin dapat diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. 25
Menurut Nurcholis Madjid dalam Uliana Rahmawati mengatakan bahwa ditinjauan dari sudut ajaran kegamaan, disiplin adalah sejenis perilaku taat atau patuh yang sangat terpuji. Tetapi agama juga mengajarkan bahwa ketaatan dan kepatuhan boleh dilakukan hanya terhadap hal-hal yang jelas tidak melanggar larangan Allah SWT.26
Dari pendapat diatas bisa dapat disimpulkan bahwasanya disiplin merupakan latihan pola pikir untuk mengatur keyakinan jiwa yang didasari dengan ketaatan perilaku yang teratur.
Disiplin menurut Flippo dalam Atmodiwirjo(2000) disiplin adalah setiap usaha mengkordinasikan perilaku seseorang ada masa yang akan datang dengan menggunakan hukum dan ganjaran.
Dari urian diatas dapat disimpulkan bahwasanya untuk mengkordinasikan perilaku seseorang dari masa kemasa yang akan datang harus diberikan sebuah hukuman dan ganjaran supaya bagaimana hidup seseorang itu bisa terarah.
Menurut M. Hafi Anshori, disiplin adalah suatu sikap mental yang dengan kesadaran dan keinsyafannya mematuhi peraturan-peraturan atau larangan yang ada terhadap suatu hal karna mengerti betul-betul perintah atau larangan.27
25Avin Fadillah Helmi, Disiplin Kerja,(Buletin Psikologi,Vol 4 No 2, Desember 1996) h.33
26 Uliyana Rahmawati, Hubungan Antara Kedisiplinan Ibadah Shalat Disekolah Dengan Kedisiplinan Dirumah Siswa Kelas VB SD N Kateguhan 2 Tawang Sari Sukoarjo Tahun Pelajaran 2017/2018, ( Skripsi: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbyah Dan Keguruan, Institut Agama Islam Negara Surakarta) h.11
27 M. Hafi anshori,Pengantar Ilmu Pendidikan, (PT. Usaha Nasional, Surabaya 1983) h.66
22
Dari pernyataan diatas kita dapat simpulka bahwasanya disiplin dapat juga dilakukan dengan baik apa bila seseorang itu betul-betul mengerti tentang sebuah aturan terhadap suatu hal.
Menurut melayu S.P Hasibuan, defenisi disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusaahan dan norma-norma sosial yang berlaku.28
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya sikap seseorang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas tanggung jawabnya.
2. Kedisiplinan ibadah
Secara etimologi ibadah berarti merendahkan diri serta tunduk (Jawas 2008). Sedangkan menurut Syar’a, ibadah mempunyai beberapa pengertian yang mencakup taat kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-Nya melalu lisan para Rasul-Nya, merendahkan diri kepada Allah SWT, dengan ketundukan yang disertai dengan rasa mahabbah(kecintaan) yang paling tinggi, serta segala perilaku yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah SWT baik berupa ucapan dan perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.
Mejalankan agama menjadi parameter utama kehidupan ini pendidikan agama disekolah sebaiknya ditentukan pada pembiasaan beribadah kepada
28 Melayu S.P Hasibuan, Manejemen Sumber Daya Manusia,Edisi Revisi. (Jakarta: PT: Bumi Aksara, 2001)
peserta didik, yaitu kebiasaan untuk melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama puasa, dan sebagainya.29
Ibadah secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu ‘abada, ‘ibada,
‘abadatun, yang artinya melayani, patuh, tunduk. Sedangkan menurut terminologi adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridohi Allah azza wajalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zahir maupun yang batin. 30
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya kedisiplinan beribadah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT untuk tunduk patuh pasrah kepada ajaran islam yang ditetapkan oleh Allah SWT.
Ibadah juga usaha berarti segala usaha lahir dan batin yang sesuai dengan perintah agama yang harus dituruti oleh pemeluknya. Secara umum ibadah juga dapat diartikan sebagai upacara yang berhubungan dengan agama.
Ibadah juga didasari oleh kesadaran beragama pada manusia yang membawa konsekuensi manusia itu melakukan penghambaan kepada Tuhannya. Manusia yang menjalani hidup beribadah adalah manusia yang menjalani hidupnya dengan pegangan yang teguh apa yang dipercainya yang diwahyukan oleh Allah SWT.31
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin beribadah adalah sebuah perasaan taat dan patuh terhadap perbuatan atau pernyataan terhadap Allah yang didasari oleh peraturan agama.
29Jamal Ma’ruf Asmani, Tips Menjadi Guru Yang Efektif, kreatif, Dan Inofatif, (yogyakarta: Diva Pers 2009) h.94-95
30 Amin Syukur, Pengantar Studi Islam,(Semarang: CV. Bima Sakti,2003), h.80
31 Jurnal, AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA,Vol. 1. No. 3, Maret 2012
24 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran secara individual maupun kelompok. Beberapa deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan menjelaskan yang mengarah pada penyimpulan. Penelitian kualitatif bersifat induktif, penelitian membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpunan dengan pengamatan seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan. Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yang pertama yaitu, mengembangkan dan mengungkap (to describe and explore) dan kedua mengembangkan dan menjelaskan (to describe and explaim).32
Dengan demikian peneliti akan menyimpulkan bahwa Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran secara individual maupun kelompok yang
32 1Lexy J Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2012), h. 6.
bertujuan untuk mengembangkan dan mengungkap (to describe and explore) dan mengembangkan dan menjelaskan (to describe and explaim).
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah Wilayah diSamakan. Dan yang menjadi objek penelitian dalam penelitian ini adalah Guru dan Siswa di SMA Muhammadiyah Wilayah diSamakan. Karena adanya beberapa siswa pada saat waktu shalat masih berkeliaran dan minimnya kesadaran siswa-siswi tentang ibadah.
C. Fokus Penelitian
Adapun yang menjadi fokus penelitian adalah:
1. Peran Guru Pendidikan Agama Islam.
2. Membina Sikap Kedisiplinan Beribadah
D. Deskripsi Fokus Penelitian
Adapun yang menjadi Deskripsi fokus penelitian adalah:
1. Guru pendidikan agama Islam
Guru pendidikan agama Islam ialah membentuk karakter siswa dalam mengembangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, guru pendidikan agama islam juga harus mengembangkan keterampilan anak, sehingga ia mampu untuk menghadapi segala permasalahan didalam hidupnya.
2. Membina Sikap Kedisiplinan Beribadah
Kedisiplinan beribadah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT
26
untuk tunduk patuh pasrah kepada ajaran Islam yang ditetapkan oleh Allah SWT. Jadi membina sikap kedisplinan beribadah dapat di artikan sebagai mengubah prilaku sikap yang awalnya kurang taat kepada Allah SWT.
Terhadap ajaran yang telah di tetapkan.
E. Sumber Data
Penelitian ini adalah penelitian pengamatan yang bertumpu pada sumber
Penelitian ini adalah penelitian pengamatan yang bertumpu pada sumber