• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi investor, dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi Indeks Harga Saham Sektor Pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Sehingga para investor yang menginvestasikan dananya pada sektor pertambangan diharapkan dapat memanfaatkan keadaan yang terjadi dan mengambil keputusan dengan baik atas sahamnya.

2. Bagi calon investor, penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan mengenai pengaruh harga minyak dunia dan kurs Rupiah terhadap Indeks Harga Saham Sektor Pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika akan melakukan investasi pada sektor pertambangan.

3. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai sarana pembelajaran dalam memahami pengaruh antara harga minyak dunia dan kurs Rupiah Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga sebagai proses belajar untuk lebih kritis dalam menganalisis suatu permasalahan serta membuka wawasan dan pemahaman untuk mencari jawaban atas perumusan masalah.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pasar Modal

Menurut Tandelilin (2010:26) pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dengan demikian, pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh karena itu, bursa efek merupakan arti dari pasar modal secara fisik. Fungsi perantara (intermediaries) pasar modal menunjukkan peran pentingnya dalam menunjang perekonomian karena menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Disamping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana (investor) dapat memilih investasi yang memberikan return yang paling optimal.

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:1) Pasar modal (capital market) merupakan tempat diperjualbelikannya berbagai instrumen keuangan jangka panjang, seperti utang, ekuitas (saham), instrumen derivatif, dan instrumen lainnya. Masing-masing sekuritas memiliki tingkat return dan risiko yang berbeda-beda. Obligasi merupakan sertifikat atau surat berharga yang berisi

kontrak antara investor sebagai pemberi dana dengan penerbitnya sebagai peminjam dana. Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan. Instrumen derivatif adalah aset finansial yang diturunkan dari saham dan obligasi, dan bukan dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mendapatkan dana. Ada beberapa jenis Instrumen lainnya di pasar modal seperti waran, reksa dana, dan Bukti right.

Sejalan dengan perkembangan pasar modal, Indonesia memiliki empat tipe pasar modal menurut Hartono (2015:33) :

a. Perusahaan yang membutuhkan dana dapat menjual surat berharganya di pasar modal. Surat berharga yang baru dikeluarkan perusahaan dijual di pasar primer (primary market). Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke public (intial public offering atau IPO) atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah going public.

b. Selanjutnya surat berharga yang sudah beredar diperdagangkan di pasar sekunder (secondary market) atau Bursa Efek.

c. (Third Market) pasar ketiga merupakan pasar perdangan surat berharga pada saat pasar kedua tutup. Pasar ketiga dijalankan oleh broker yang mempertemukan pembeli dan penjual pada saat pasar kedua tutup

d. (Fourth Market) pasar keempat merupakan pasar modal yang dilakukan di antara institusi berkapasitas besar untuk menghindari komisi untuk broker.

Pasar keempat umumnya menggunakan jaringan komunikasi untuk memperdagangkan saham dalam jumlah blok yang besar. Contoh pasar

keempat ini misalnya Instinet yang dimiliki oleh Reuter yang menangani lebih dari satu miliar lembar saham tiap tahunnya.

2. Investasi

Menurut Tandelilin (2010:2) investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. Menurut Hartono (2015:5) investasi merupakan penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu. Dengan adanya aktiva yang produktif, penundaan konsumsi sekarang untuk diinvestasikan ke aktiva yang produktif tersebut akan meningkatkan utiliti total. Investasi ke dalam aktiva produktif dapat berbentuk aktiva nyata (seperti rumah, tanah dan emas) atau berbentuk aktiva keuangan (seperti surat-surat berharga) yang diperjual-belikan investor (pemodal). Investor melakukan investasi untuk meningkatkan utilitinya dalam bentuk kesejahteraan keuangan.

(Hartono, 2015:7) Investasi keuangan pada umumnya dibagi ke dalam dua tipe yaitu investasi langsung dan investasi tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara yang lain. Sebaliknya investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan lain. Berikut merupakan diagram investasi langsung dan investasi tidak langsung:

Gambar II. 1

Investasi langsung dan investasi tidak langsung a. Investasi Langsung

Hartono dalam bukunya (2015:7) mengatakan bahwa investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang dapat diperjual-belikan di pasar uang (money market), pasar modal (capital market), atau pasar turunan (derivative market). Investasi langsung juga dapat dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang tidak dapat diperjual-belikan. Aktiva keuangan yang tidak dapat diperjual-belikan biasanya diperoleh melalui bank komersial. Aktiva-aktiva ini dapat berupa tabungan di bank atau sertifikat deposito.

Macam-macam investasi langsung dapat disarikan sebagai berikut ini (Hartono 2015:9-10) :

1) Investasi langsung yang tidak dapat diperjual belikan.

a) Tabungan b) Deposito

2) Investasi langsung dapat diperjual-belikan a) Investasi langsung di pasar uang

(1) T-bill

(2) Deposito yang dapat dinegosiasi

b) Investasi langsung di pasar modal

(1) Surat-surat berharga pendapatan tetap (fixed-income securities).

(a) T-bond

(b)Federal agency securities (c) Municipal bond

(d) Corporate Bond (e) Convertible Bond

(2) Saham-saham (equity seceurities) (a) Saham preferen (preferred stock) (b) Saham biasa (common stock) 3) Investasi langsung di pasar turunan

a) Opsi

(1) Waran (warrant) (2) Opsi put (put option) (3) Opsi call (call option) b) Features contract

b. Investasi tidak langsung

Investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli surat-surat berharga dari perusahaan investasi. Perusahaan investasi adalah perusahaan yang menyediakan jasa keuangan dengan cara menjual

sahamnya ke publik dan menggunakan dana yang diperoleh untuk diinvestasikan ke dalam portofolionya. Ini berarti bahwa perusahaan investasi membentuk portofolio (diharapkan portofolionya optimal) dan menjualnya eceran kepada publik dalam bentuk saham-sahamnya (Hartono, 2015:10).

3. Saham

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:6) saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat bergarga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.

Hartono (2015:179) dalam bukunya mengatakan bahwa terdapat tiga nilai yang berhubungan dengan saham yaitu nilai buku (book value), nilai pasar (market value) dan nilai intrinsic (intrinsic value).

a. Nilai buku

Nilai buku (book value) per lembar saham menunjukkan aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih adalah sama dengan total ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per lembar saham adalah total ekuitas dibagi dengan nilai jumlah saham yang beredar.

b. Nilai Pasar

Nilai pasar (market value) berbeda dengan nilai buku. Jika nilai buku merupakan nilai yang dicatat pada saat saham dijual oleh perusahaan, maka nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Nilai pasar ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham bersangkutan di pasar bursa.

c. Nilai Intrinsik

Beberapa pertanyaan mendasar sering dilemparkan, seperti misalnya apakah harga saham di pasar mencerminkan nilai sebenarnya dari perusahaan.

Jika tidak, berapa nilai sebenarnya dari saham yang diperdagangkan tersebut.

Nilai seharusnya ini disebut dengan nilai fundamental (fundamental value) atau nilai intirinsik (intirinsic value). Analisis fundamental merupakan analisis untuk menghitung nilai intrinsik saham dengan menggunakan data keuangan perusahaan.

4. Indeks Harga Saham

Menurut Tandelilin (2010:89) indeks-indeks harga saham bursa efek merupakan indeks yang menggunakan rata-rata tertimbang dari nilai pasar (market value weighted). Nilai pasar atau kapitalasasi pasar untuk suatu saham dihitung sebagai perkalian antara jumlah lembar saham dengan harga penutupan pasar (closing price). Menurut Hartono (2015:150) Suatu indeks diperlukan sebagai

indikator untuk mengamati pergerakan harga dari sekuritas-sekuritas. Sampai sekarang BEI mempunyai beberapa indeks, yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indeks liquid 45 (ILQ-45), indeks-indeks IDX (Indonesia Stock Exchange) Sektoral, indeks Jakarta Islamic Index (JII), indeks Papan Utama dan Indeks Papan Pengembangan, indeks Kompas 100, indeks BISNIS-27, indeks PEFINDO25, indeks SRI-KEHATI, indeks Saham Syariah Indonesia (Indonesia sharia Stock Index atau ISSI), dan Indeks IDX30, Infobank 15, SMintra 18, MNC36.

a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Menurut Tandelilin (2010:86) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau composite stock price index menggunakan seluruh saham tercatat sebagai komponen perhitungan indeks. Masing-masing pasar modal memiliki indeks yang dibentuk berdasarkan saham-saham yang dipakai sebagai dasar dalam perhitungan indeks harga. Perhitungan indeks rata-rata dibobot nilai pasar juga digunakan pada berbagai indeks di bursa dunia lainnya, antara lain indeks S&P 500 di pasar saham Amerika yang juga telah lama dikenal di berbagai negara dunia. IHSG mulai diperkenalkan pertamakali pada tanggal 1 April 1983 dengan menggunakan landasan dasar (baseline) tanggal 10 Agustus 1982. Jumlah saham yang tercatat pada waktu itu adalah hanya sebanyak 13 saham. Indeks harga saham dapat menggambarkan kondisi pasar di BEI. Indeks Harga Saham Gabungan yang turun memperlihatkan kondisi pasar yang sedang lesu dan jika indeks harga saham gabungan mengalami kenaikan memperlihatkan kondisi pasar yang sedang bergairah.

Rumus yang digunakan untuk menghitung IHSG adalah sebagai berikut (Hartono, 2015:153)

IHSG𝑡 = Nilai Pasar

Nilai Dasar X 100 Notasi :

IHSGt :indeks harga saham gabungan hari ke-t

Nilai Pasar :rata-rata tertimbang nilai pasar (jumlah lembar tercatat di bursa dikalikan dengan harga pasar per lembarnya) dari saham umum dan saham preferen pada hari ke-t.

dimana:

p = closing price (harga yang terjadi) untuk emiten ke-i.

q = jumlah saham yang digunakan untuk penghitungan indeks (jumlah saham yang tercatat) untuk emiten ke-i.

n = jumlah emiten yang tercatat di BEI (jumlah emiten yang digunakan untuk perhitungan indeks)

Nilai Dasar :Hari dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 agustus 1982 dengan nilai 100.

IHSG selalu disesuaikan untuk kejadian seperti IPO, right issues, partial/company listing, konversi dari warrarnt dan convertible bond dan delisting (mengugurkan diri dari pencatatan misalnya karena kebangkrutan) (Hartono, 2015:154). Beberapa kejadian tersebut akan merubah nilai dasar karena akan merubah nilai pasar total.

Rumus untuk menyesuaikan nilai dasar adalah

NDB = NPL + NPTS

NPL X NDL

Notasi :

NDB : nilai dasar baru yang disesuaikan NPL : nilai pasar lama

NPTS : nilai pasar tambahan saham NDL : nilai dasar lama

b. Indeks LQ 45

Intensitas transaksi setiap sekuritas di pasar modal berbeda-beda, sebagian sekuritas memiliki frekuensi yang sangat tinggi dan aktif diperdagangkan di pasar modal, namun sebagian sekuritas lainnya relatif sedikit, frekuensi transaksi cenderung bersifat pasif. Hal ini menyebabkan perkembangan dan tingkat likuiditas IHSG menjadi kurang mencerminkan kondisi riil yang terjadi di bursa efek. Di Indonesia persoalan tersebut dipecahkan dengan menggunakan indeks LQ 45. Indeks LQ 45 terdiri dari 45 saham di BEI dengan likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar serta lolos seleksi menurut beberapa kriteria pemilihan (Tandelilin, 2010:87).

c. Indeks-indeks IDX Sektoral

(Hartono, 2015:156-157) Indeks-indeks ini adalah bagian dari IHSG yang diklasifikasikan ke dalam 9 sektor industri menurut JASICA (Jakarta Stock Exchange Industial Classification). Indeks ini dikenalkan pada tanggal 2 Januari 1996 dengan tanggal basis 28 Desember 1995. Nilai basis untuk

masing-masing sektor adalah 100. Indeks ini dikaji setiap tahunnya pada awal bulan Juli. Kesembilan sektor indeks ini adalah sebagai berikut.

1) Sektor-sektor utama: penggalian (extractive) a) Sektor 1, Pertanian (Agriculture)

b) Sektor 2, Pertambangan (Mining)

2) Sektor-Sektor kedua: Industri Pengolahan/Pabrikan (Processing/Manufacturing Indusrty)

c) Sektor 3, Industri dasar dan Kimia (Basic Industry and Chemicals) d) Sektor 4, Aneka Industri (Miscellaneous Industry)

e) Sektor 5, Industri Barang-barang Konsumen (Consumer Goods Industry)

3) Sektor-sektor Ketiga: Jasa (Service)

f) Sektor 6, Properti, Lahan Yasan dan Konstruksi Bangunan (Property, Real Estate and Building Construction)

g) Sektor 7, Infrastruktur, Utiliti-utiliti dan Transportasi (Infrastructure, Utilities and Transportation)

h) Sektor 8, Keuangan (Finance)

i) Sektor 9, Perdagangan, Jasa-jasa dan Investasi (Trade, Services and investment)

d. Indeks Kompas 100

Pada tanggal 10 Agustus 2007, BEJ (Bursa Efek Jakarta) bekerja sama dengan harian Kompas merilis indeks yang baru yang disebut dengan

Kompas 100. Indeks ini berisi 100 Saham yang berkategori mempunyai likuiditas yang baik, kapitalisasi pasar yang tinggi, fundamental yang kuat, serta kinerja perusahaan yang baik (Hartono, 2015:159).

e. Indeks Islamik Jakarta

Jakarta Islamic Index teridiri dari 30 jenis saham yang dipilih dari saham-saham yang sesuai dengan Syariah Islam dan termasuk saham yang likuid. Jakarta Islamic Index dimaksudkan sebagai tolok ukur untuk mengukur kinerja investasi pada saham dengan basis syariah dan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi syariah (Tandelilin, 2010:89).

F. Indeks Papan Utama dan Indeks Papan Pengembangan

Papan Utama (main board) dimaksudkan untuk menampung emiten yang berukuran besar dan mempunyai catatan kinerja yang baik. Papan Pengembangan (Develpoment Board) dimkasudkan untuk penyehatan perusahaan-perusahaan yang kinerjanya menurun, perusahaan-perusahaan yang berprospek baik tetapi belum menguntungkan (Hartono, 2015:158)

G. Indeks BISNIS-27

Indeks ini hasil kerjasama antara IDX dengan Koran harian Bisnis Indonesia. Indeks ini diluncurkan pada tanggal 27 Januari 2009 berisi 27

saham berdasarkan kriteria fundamental dan kriteria teknikal atau likuiditas transaksi (Hartono, 2015:159).

H. Indeks PEFINDO25

Indeks ini hasil kerjasama antara IDX dengan PEFINDO (Pemeringkat EFek INDOnesia atau Credit Rating Indonesia). Indeks ini diluncurkan pada tanggal 18 Mei 2009. Indeks ini berisi 25 saham perusahaan-perusahaan kecil dan menengah atau SME (Small and Medium Enterprises) terdaftar di IDX yang mempunyai kinerja fundamental dan likuiditas baik dan mempunyai kepemilikan publik yang tinggi (Jogiyanto, 2015:160).

I. Indeks SRI-KEHATI

Indeks ini hasil kerjasama anatara IDX dengan Yayasan KEHATI (Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia atau the Indonesian Biodiversity Foundation). Saham-saham yang dimasukkan adalah terdaftar di IDX dengan praktik-praktik memuaskan mendukung keberlanjutan (sustainability) lewat cara-cara perduli terhadap lingkungan, sosial dan tatakelola korporasi yang baik (good corporate governance) (Hartono, 2015:161)

J. Indeks Saham Syariah Indonesia (Indonesia Sharia Stock Index atau ISSI)

Indeks ini diluncurkan oleh IDX pada tanggal 12 Mei 2011. Indeks ini berisi saham-saham yang berda di daftar Efek Syariah (DES) yang

dikeluarkan sesuai regulasi Bapepam-LK No. II.K.1 setiap 6 bulannya di bulan Mei dan Nopember (Hartono, 2015:161).

K. Indeks IDX30

Indeks ini diluncurkan pada tanggal 23 April 2012 yang berisi 30 saham kapitalisasi terbesar di LQ45. Pemilihan saham dilakukan setiap 6 bulan yaitu pada awal Pebruari dan Agustus. Kriteria pemilihan saham di IDX30 adalah nilai transaksi, frekuensi transaksi, total hari transaksi dan tentu saja kapitalisasi pasarnya (Hartono, 2015:164).

L. Indeks Infobank15

Indeks ini dibuat pada tanggal 7 Nopember 2012 kerjasama antara IDX dengan PT Infoarta Pratama yang merupakan penerbit dari majalah Infobank.

Indeks ini dihitung berdasarkan 15 saham unggulan perbankan dengan beberapa pertimbangan (Hartono, 2015:164).

M. Indeks SMintra 18

Indeks ini berisi 18 saham infrastruktur dan pendukung infrastruktur.

Indeks ini dibuat atas kerjasama antara IDX dengan PT Sarana Multi Infrastructure pada tanggal 31 Januari 2013 (Hartono, 2015:165).

N. Indeks MNC36

Indeks MNC36 diluncurkan pada tangggal 28 Agustus 2013 oleh Grup MNC. Indeks ini berisi 36 saham yang akan dievaluasi setiap 6 bulan yaitu di bulan Mei dan Nopember (Hartono, 2015:165). Kriteria dalam indeks ini secara garis besar menyaring 100 saham terpilih berdasarkan informasi PER, laba operasi, pertumbuhan pendapatan, laba bersih, dan DER hingga tersisa 36 saham terpilih.

5. Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Menurut Samsul (2015:210) secara fundamental harga suatu jenis saham dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan kemungkinan risiko yang dihadapi perusahaan. Kinerja perusahaan tercermin dari laba operasional dan laba bersih per saham serta beberapa rasio keuangan yang menggambarkan kekuatan manajemen dalam mengelola perusahaan. Risiko perusahaan tercermin dari daya tahan perusahaan dalam menghadapi siklus ekonomi serta faktor makro ekonomi dan makro nonekonomi. Dengan kata lain, kinerja perusahaan dan risiko yang dihadapi dipengaruhi oleh faktor makro dan mikro ekonomi.

a. Faktor Makro

Menurut Samsul (2015:210) Faktor makro merupakan faktor yang berada di luar perusahaan, tetapi mempunyai pengaruh terhadap kenaikkan atau penurunan kinerja perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor makro terdiri dari makro ekonomi dan makro nonekonomi. Faktor makro ekonomi yang secara langsung dapat mempengaruhi kinerja saham maupun konerja perusahaan antara lain : (1) Tingkat bunga umum; (2) Tingkat Inflasi; (3) Peraturan perpajakan; (4) Kebijakan pemerintah; (5) Kurs valuta asing; (6) Tingkat bunga pinjaman luar negeri; (7) Ekonomi internasional; (8) Siklus ekonomi; (9) Paham ekonomi; (10) Peredaran uang.

Menurut Samsul (2015:213) faktor makro nonekonomi dapat mempengaruhi kinerja perusahaan secara tidak langsung dan lebih sukar diprediksi. Beberapa contoh faktor makro nonekonomi yaitu : peristiwa politik dalam negeri, peristiwa politik yang terjadi di luar negeri, peperangan, demonstrasi masa, kasus lingkungan hidup dan perubahan perlakuan hukum.

Faktor makro nonekonomi lebih sulit dianalisis karena datanya bersifat kualitatif.

b. Faktor Mikro Ekonomi

Kemajuan dan kemunduran kinerja perusahaan tercermin dari rasio-rasio keuangan yang secara rutin diterbitkan oleh emiten. Pada umumnya perusahaan yang sudah go public telah diwajibkan oleh peraturan yang dikeluarkan Bapepam untuk menerbitkan laporan keuangan triwulan, tengah tahunan, dan tahunan baik yang sudah diaudit maupun belum diaudit bahkan, setiap emiten diwajibkan menerbitkan laporan tahunan yang menjelaskan lebih rinci segala aspek perusahaan mulai dari produksi, penjualan, pemasaran,

sumber bahan buku, kendala yang dihadapi, personalia, organisasi manajemen, prospek perusahaan dan laporan keuangan yang telah diaudit (Samsul 2015:219).

Faktor mikroekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham suatu perusahaan berada di dalam perusahaan itu sendiri antara lain adalah (Samsul 2015:220) : (1) Laba bersih per saham; (2) Laba usaha per saham; (3) Nilai buku per saham; (4) Rasio ekuitas terhadap utang; (5) Rasio laba bersih terhdap ekuitas; (6) Cash flow per saham.

6. Harga Minyak Dunia

Menurut Kimberly Amadeo dalam artikelnya di USEconomy (thebalance.com Juli/23/2017) minyak mentah merupakan sumber bahan bakar cair yang berada di bawah tanah. Tercipta ketika sisa-sisa ganggang prasejarah dipanaskan di bawah tekanan oleh bumi itu sendiri selama jutaan tahun. Itu sebabnya minyak mentah dianggap bukan energi tak terbarukan. Menurut Dimas dalam artikelnya yang dimuat surat kabar online (monexnews.com 16/juli/2015) minyak mentah adalah komoditas hasil bumi yang paling banyak diperdagangkan di pasar internasional.

Pergerakan harga minyak mentah dunia berfluktuasi secara cepat setiap hari, mengikuti dinamika ekonomi dan industri.

Menurut penyedia informasi investasi Seputar Forex (www.seputarforex.com/data/harga_minyak) saat ini terdapat dua harga acuan

minyak bumi yang paling banyak digunakan di dunia yaitu harga minyak Brent dan WTI (West Texas Intermediate) :

a. Brent

Brent merupakan sebutan untuk minyak hasil tambang dari Laut Utara (Eropa), dengan nama Brent berasal dari lahan tambang di laut utara, yang dibuka pada tahun 1970. Harga minyak Brent menjadi dasar pembentukan harga sejak tahun 1971 untuk hampir 40% nilai minyak di seluruh dunia, dan terus digunakan sampai sekarang ini.

b. WTI

(West Texas Intermediate) adalah minyak bumi yang diproduksi di Amerika Utara, dan dalam aplikasinya kebanyakan digunakan untuk produk bensin.

Jenis minyak ini lebih ringan dan mudah diolah, sehingga banyak diminati, terutama di AS dan China.

Selain Brent dan WTI, masih ada jenis-jenis minyak lain yang banyak diperdagangkan di dunia, seperti Dubai Crude (minyak bumi asal Dubai), Oman Crude (minyak bumi asal Oman), Urals Oil (harga minyak acuan ekspor Rusia), OPEC Reference Basket (rerata harga minyak yang diekspor negara-negara OPEC) dan Shale Oil (minyak bumi asal amerika yang dihasilkan dengan teknolgi terbaru dari batu tertentu) . Namun, patokan umum dalam penetapan harga minyak bumi berkiblat pada Brent atau WTI.

Menurut USEconomy (www.thebalance.com) Ada tiga faktor utama yang dilihat oleh pedagang komoditas terhadap harga minyak

a. Penawaran minyak dunia, terutama kuota suplai yang ditetapkan oleh OPEC.

Saat Amerika memproduksi minyak shale oil terjadi peningkatan kuota penawaran minyak yang menyebabkan harga minyak jatuh. OPEC yang biasanya memotong produksi untuk menjaga harga minyak lebih memilih untuk tidak melakukannya dengan tujuan untuk menjaga pangsa pasarnya dan membuat produsen shale oil gulung tikar.

b. Pasokan masa depan yang tergantung pada cadangan minyak. Ini mencakup apa yang tersedia di kilang di AS dan juga di Cadangan Minyak Strategis.

Cadangan ini dapat dikeluarkan dengan mudah untuk meningkatkan pasokan minyak jika harga terlalu tinggi. Arab Saudi juga dapat memanfaatkan kapasitas cadangannya yang besar.

c. Permintaan minyak terutama di Amerika Serikat. Perkiraan ini disediakan setiap bulan oleh Energy Information Agency. Permintaan biasanya naik selama musim liburan musim panas karena kebutuhan transportasi untuk berwisata. Saat musim dingin, ramalan cuaca digunakan untuk menentukan penggunaan minyak untuk pemanas ruangan.

Berikut merupakan karakteristik Minyak (rilgeofisika.blogspot.co.id, 2013/09) : a. Mempunyai bentuk yang cair sehingga dapat mengisi sebuah ruang secara

penuh terutama saat pengangkutan

b. Lebih bersih dan efektif dalam pendistribusiannya karena dapat melalui pipa

Menurut Wira (2011:27) sektor pertambangan memiliki karakter yang sangat dipengaruhi harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia naik, harga komoditas lain seperti emas, perak, batu bara cenderung ikut menanjak. Pengaruh paling banyak ada di batu bara sebagai subtitusi dari minyak dunia.

Selama periode pengamatan terdapat 41 emiten pertambangan yang terdaftar di BEI. Jumlah Emiten batu bara mendominasi yaitu berjumlah 23, sedangkan emiten gas & minyak berjumlah 7, dan emiten batu-batuan berjumlah 2, dan emiten logam dan mineral lainnya berjumlah 9. Menurut website resmi investasi Valbury (blog.valbury.co.id) sub sektor coal mining (pertambangan batu bara) adalah yang paling dominan bila dibandingkan dengan sub sektor lainnya. Sub sektor ini adalah komoditas kelas dunia sehingga secara garis besar karakteristiknya :

a. Sangat dipengaruhi oleh nilai pertukaran mata uang asing (IDR/USD) karena sebagian besar hasil produksinya diekspor ke luar negeri.

b. Sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah tentang kebijakan ekspor bahan mentah atau setengah jadi. Begitu juga dengan pajak ekspor yang dibebankan ke perusahaan tambang batu bara.

b. Sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah tentang kebijakan ekspor bahan mentah atau setengah jadi. Begitu juga dengan pajak ekspor yang dibebankan ke perusahaan tambang batu bara.

Dokumen terkait