• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ROSTIA (Halaman 28-48)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai peningkatan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX SMP Pesantren Putri Yatama Mandiri. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat:

1. Bagi siswa, untuk lebih memahami dan mengapresiasi karya sastra terkhusus cerpen.

2. Bagi guru, memberikan sumbangan pemikiran terhadap guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya permasalahan-permasalahan siswa dalam menulis cerpen dan memotivasi guru untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukannya khususnya pembelajaran menulis cerpen.

3. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian yang sejenis dengan penelitian ini.

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

Dalam menulis cerpen, aspek manfaat bagi pembacanya perlu dipertimbangkan agar cerpen yang diciptakan tidak semata-mata merupakan karya picisan belaka (Murni, 2008). Sebuah cerpen juga mengandung unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur itulah yang disebut unsur intrinsik. Kepaduan antarberbagai unsur intrinsik itulah yang membuat sebuah cerpen berwujud (Nurwahidah, 2007). Melalui kegiatan menulis cerpen, siswa dilatih dan dikembangkan kemampuan bahasanya (sastra), kemampuan berimajinasi, dan kemampuan mendeskripsikan objek dengan kreatif (Syaddad, 2012). Melalui kegiatan menulis cerpen, siswa diharapkan dapat menuangkan gagasannya secara kreatif dalam bentuk tulisan yang berupa cerita fiksi, yaitu cerita pendek yang mengandung nilai-nilai kehidupan dan menarik untuk dibaca.

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian tindakan kelas mengenai menulis cerpen banyak dilakukan dengan memanfaatkan metode maupun media yang bermacam-macam sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurwahidah (2007), dalam laporan hasil penelitiannya yang berjudul “ Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Melalui Metode Menulis Pengalaman Secara Langsung ( Writing In The Here and Now ).

Berdasarkan Peristiwa yang Pernah Dialami Siswa Kelas IX SMP Pesantren Putri Yatama Mandiri Kab. Gowa”, menyimpulkan bahwa kemampuan menulis cerpen berdasarkan peristiwa yang pernah dialami siswa kelas IX SMP Pesantren Putri Yatama Mandiri, Kabupaten Gowa pada aspek tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, amanat, organisasi, kosakata, dan ejaan belum memadai.

Selain itu, Arifin (2001), dalam laporan hasil penelitiannya yang berjudul

“Kemampuan Siswa Kelas II SLTPN 1 Bantimurung, Kabupaten Maros Menulis Cerita Dongeng dari Media Gambar” juga ditemukan bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerita masih sangat rendah. Fariqoh (2003), melakukan penelitian tentang peningkatan menulis cerpen dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Dengan Metode Karya Wisata Kelas I 3 MA Ma’mahadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal”. Fariqoh mencoba menggunakan metode karya wisata sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terbukti keterampilan menulis siswa meningkat setelah pembelajaran menggunakan metode karya wisata.

Peningkatan ini dapat terlihat pada daya serap siswa sebelum ada tindakan yaitu 58,66 % kemudian meningkat 10,22 % setelah ada siklus I menjadi 69,38 % pada siklus II meningkat 7,25 % menjadi 76,63 %. Dengan demikian belajar menulis cerpen dengan metode karya wisata dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Penelitian selanjutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Kusworosari (2007). Penelitian tersebut berjudul“Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Dengan Pengalaman Pribadi Sebagai Basis Melalui Pendekatan

8

Keterampilan Proses Kelas X I SMA N 5 Semarang”. Melalui pendekatan proses dan pengalaman pribadi penelitian yang dilakukan Kusworosari mengalami peningkatan.

Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menulis cerpen dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,31 / 18 % dengan nilai rata-rata klasikal pada siklus II 73,65 % peningkatan keterampilan cerpen pada siswa kelas XI SMA N 5 Semarang, diikuti adanya perubahan perilaku belajar yang positif dari perilaku negatif. Laksmi (2007), dalam penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek Berdasarkan Cerita Rakyat pada Siswa Kelas X-8 SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang”

menyimpulkan bahwa pembelajaran menulis cerpen berdasarkan cerita rakyat dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I dan siklus II , baik data tes maupun nontes. Dari data tes dapat diketahui peningkatan nilai menulis cerita pendek berdasarkan cerita rakyat , yaitu sebesar 4 dari nilai 69 pada siklus I menjadi 72 pada siklus II meskipun masih berada pada kategori baik. Hasil analisis data nontes menunjukkan adanya peningkatan perilaku siswa.

a. Pengertian Menulis Kreatif

Banyak konsep yang dipaparkan para ahli tentang pengertian menulis kreatif. Berikut ini beberapa konsep yang dipaparkan para ahli tentang menulis kreatif. Menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi gagasan.

Banyak yang melakukannya secara spontan, tetapi juga ada yang berkali-kali mengadakan koreksi dan penulisan kembali (Sumardjo, 2001: 30). Menurut Salam

(2009: 21), menulis kreatif pada dasarnya adalah proses penciptaan karya sastra.

Proses tersebut dimulai dari munculnya ide sampai membahasakan ide dalam bentuk tulisan.

Selain itu, Mirriam (2006: 169) menyatakan bahwa menulis kreatif merupakan gagasan yang mengalir dari pikiran seseorang ke dalam sebuah tulisan.

Gagasan kreatif yang sudah diungkapkan dalam bentuk tulisan akan menggambarkan hal-hal yang ingin dikemukakan oleh penulis. Syaddad (2012) juga mengemukakan bahwa menulis kreatif adalah kegiatan menuangkan ide, gagasan, pendapat, dan perasaan mengenai apa yang terjadi di sekeliling kita dalam bentuk karya sastra. Jadi, menulis kreatif adalah proses penulisan ide, gagasan, pendapat, dan perasaan mengenai apa yang terjadi di sekeliling kita dalam sebuah tulisan yang berbentuk karya sastra.

b. Proses Kreatif dalam Menulis

Menurut Kurniawan (2012: 15-21), tahap kreatif universal dalam menulis yaitu: (1) tahap pencarian ide dan pengendapan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap editing dan revisi.

1) Tahap Pencarian Ide dan Pengendapan

Menyiapkan ide sebagai sumber inspirasi merupakan langkah awal dalam menulis. Dalam menulis karya sastra, idealnya sumber inspirasi itu datang dari setiap peristiwa atau hal-hal yang dijumpai atau dialami setiap hari, misalnya, cinta, kesedihan, kemiskinan, kerinduan, Tuhan, rumah, air mata, dan sebagainya.

Setiap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, baik yang dialami langsung ataupun

10

tidak, selalu menimbulkan efek rasa bagi setiap manusia. Dalam konteks menulis,

“efek rasa” dari setiap peristiwa yang dijumpai manusia adalah sumber inspirasi.

Peristiwa yang memilki “efek rasa” yang lain dari setiap peristiwa pada suatu waktu, disebut dengan momen estetik. Saat kita mendapatkan momen estetik sebagai sumber inspirasi itu, untuk kemudian dijadikan bahan cerita maka sumber inspirasi itu akan diendapkan dan dikreasikan dalam pikiran dan perasaan kita.

Proses pengendapan itu biasanya dilakukan dengan perenungan atau kontemplasi, yang bisa saja ditambahi dengan menulis hal-hal penting lain yang akan diceritakan. Proses pengendapan pengalaman tersebut penting, karena dalam proses pengendapan itulah akan terjadi kemungkinan-kemungkinan dramatisasi peristiwa untuk kepentingan cerita yang menarik. (Kurniawan dan Sutardi, 2012) 2) Tahap Penulisan

Pada tahap penulisan, Anda harus menuliskan ide yang sudah Anda dapat dan kemungkinan-kemungkinan dramatisasi peristiwa yang sudah dikontemplasikan dan diendapkan. Jangan pikir baik dan buruknya dulu.

Menulislah sebanyak-banyaknya dengan kesungguhan dan keseriusan. Muntahkan ide Anda dengan kata-kata sampai selesai. (Kurniawan dan Sutardi, 2012)

3) Tahap Editing dan Revisi

Karya yang sudah jadi adalah karya ekspresivitas, maka dari itu perlu diberikan sentuhan terakhir (finishing touch) untuk menyelesaikan karya, yaitu melalui editing dan revisi. Editing adalah pemeriksaan kembali karya yang baru ditulis dari aspek kebahasaannya, baik kesalahan kata, frasa, tanda baca, penulisan, sampai kalimat-kalimatnya; sedangkan revisi adalah pemeriksaan kembali karya

yang baru ditulis dari aspek isi (content) atau logika cerita. Semakin cermat dan teliti dalam melakukan editing dan revisi, semakin baik. Hal itu menunjukkan tingkat keseriusan dan kesungguhan penulis dalam membuat karya. (Kurniawan dan Sutardi, 2012)

2. Cerpen

a. Pengertian Cerpen

Menurut Aminuddin (2007:2), cerita pendek adalah cerita yang pendek, namun tidak setiap cerita yang pendek dapat digolongkan ke dalam cerpen. Cerita pendek adalah cerita yang pendek dan didalamnya terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya sehingga secara keseluruhan cerita bisa menyentuh nurani pembaca yang dapat dikategorikan sebagai buah sastra cerpen itu. Dengan cerita yang pendek itu, harus dapat merebut hati pembaca sehingga pembaca seperti diteror dan akan terus bertanya-tanya. Ketegangan yang diciptakan oleh cerpenis sengaja menggelitik perhatian pembaca melalui teknik-teknik yang dipilih dalam menyampaikan misi yang diembannya.

Dalam cerpen dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan. Panjang cerpen itu sendiri bervariasi. Ada cerpen yang pendek (shorts short story), bahkan mungkin pendek sekali: berkisar 500an kata; ada cerpen yang panjangnya sedang (middle short story), serta ada cerpen yang panjang (long short story), yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata.

12

Menurut Aminuddin (2007: 4), ada tiga hal yang dapat dijadikan pedoman mengenal cerpen, yaitu:

1) Menurut bentuk fisiknya, cerita pendek (atau disingkat cerpen) adalah cerita yang pendek.

2) Ciri dasar lain cerpen adalah sifat rekaan (fiction). Cerpen bukan penuturan kejadian yang pernah terjadi (nonfiksi), atau berdasarkan kenyataan atau kejadian yang sebenarnya. Cerpen benar-benar hasil rekaan pengarang. Akan tetapi, sumber cerita yang ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan.

3) Ciri cerpen yang lain adalah sifat naratif atau penceritaan.

Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa cerpen adalah cerita atau narasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar telah terjadi, tetapi dapat terjadi di mana dan kapan saja), serta relatif pendek. Penceritaan atau narasi tersebut harus dilakukan secara hemat dan ekonomis. Itulah yang menyebabkan dalam sebuah cerpen biasanya ada dua atau tiga tokoh saja, hanya ada satu peristiwa, dan hanya ada satu efek saja bagi pembaca. Akan tetapi, cerita yang disajikan dalam cerpen merupakan suatu kesatuan bentuk yang betul-betul utuh dan lengkap. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa cerpen adalah cerita pendek yang bersifat fiktif yang membahas satu masalah yang kemudian dikemas oleh pengarangnya supaya pembaca benar-benar terhanyut saat membaca ceritanya.

b. Unsur-Unsur Cerpen

Menurut Aminuddin (2007), cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun yang sama. Cerpen dibangun dari dua unsur yaitu unsur

intrinsik dan ekstrinsik. Cerpen memiliki unsur peristiwa, plot, tema, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Cerpen sebagai karya sastra prosa memiliki unsur-unsur ‘dalam’ (intrinsik) yang membangunnya. Unsur-unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan memengaruhi unsur lainnya.

1) Unsur Intrinsik Cerpen a) Tema

Widodo (2002:23) mengemukakan bahwa suatu cerita harus memiliki tema, yaitu ide atau gagasan yang akan dikemukakan dalam cerita. Tema dapat diperoleh dari pengalaman sehari-hari, imajinasi, dan kejadian yang paling berkesan. Aminuddin (2007: 11-12) menyatakan,

“Tema kita dapat setelah kita membaca secara menyeluruh isi cerpen.

Dengan demikian tema tersamar dalam cerita.Tema yang diangkat dalam cerpen biasanya sesuai dengan amanat atau pesan yang hendak disampaikan oleh pengarangnya. Tema menyangkut ide cerita. Tema menyangkut keseluruhan isi cerita yang tersirat dalam cerpen. Tema dalam cerpen dapat mengangkat masalah persahabatan, cinta kasih, permusuhan, dan lain-lain. Hal yang pokok adalah tema berhubungan dengan sikap dan pengamatan pengarang terhadap kehidupan. Pengarang menyatakan idenya dalam unsur keseluruhan cerita. Mencari arti sebuah cerpen, pada dasarnya adalah mencari tema yang terkandung dalam tema tersebut. Cerpen yang baik memiliki efek penafsiran bagi pembaca setelah membaca cerpen tersebut.”

b) Alur atau Plot

Istilah lain untuk alur ialah plot, yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab-akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh (Nensilianti, 2003: 81). Menurut Aminuddin (2007: 15), bahwa alur atau plot merupakan sebuah narasi dari berbagai peristiwa, tetapi dengan penekanan pada hubungan kausalitasnya. Alur atau plot dalam sebuah karya sastra merupakan struktur dari berbagai aksi dan

14

tindakan; dan berbagai aksi disusun dengan maksud untuk membangkitkan emosi serta efek artistik tertentu.

c) Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita dalam cerpen terbatas. Berbeda dengan novel yang digambarkan secara mendetail, tokoh dalam cerpen perlu dicitrakan lebih jauh oleh si pembaca. Dengan demikian, cerpen yang baik hendaknya mampu membangkitkan imajinasi pembaca lebih jauh. Mutu sebuah cerpen banyak ditentukan oleh kepandaian penulis menghidupkan watak paratokohnya.

Kehadiran tokoh memiliki kepribadian tersendiri. Hal ini bergantung pada masa lalunya, pendidikannya, asal daerahnya, maupun pengalaman hidupnya. Cerpen yang baik hendaknya mampu menampilkan jati diri tokoh, walaupun tidak harus digambarkan secara implisit (Aminuddin. 2007: 21).

Menurut Dola (2007: 19), tokoh dibedakan atas dua macam, yaitu: (1) tokoh utama; kalau laki-laki diistilahkan leading mandan kalau perempuan diistilahkan leading lady, (2) tokoh bawahan atau (figuran).Adapun cara-cara penggambaran tokoh menurut M. Saleh Saad (Dola, 2007: 20), antara lain: (1) gambaran tentang tempat atau lingkungan, (2) melalui percakapan atau dialog, (3) pikiran sang tokoh, atau pendapat tokoh-tokoh lain tentangdia, dan (4) perbuatan sang tokoh sendiri yang biasanya menggambarkan karakternya.

d) Latar

Menurut Pradotokusumo (Rapi, 2005:48), latar (setting) dalam sebuah cerita (narasi) merupakan latar belakang dimana para pelaku menjalani kehidupan mereka. Latar memiliki pengaruh yang demikain kuat terhadap

personalitas/pribadi, aksi/tindakan, dan cara berpikir tokohnya. Latar berfungsi sebagai pendukung alur dan perwatakan. Gambaran situasiyang tepat akan membantu memperjelas peristiwa yang sedang dikemukakan. Selanjutnya, Juanda (2003: 23) mengatakan bahwa latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita. Suatu cerita hakikatnya tidak lain ialah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu di suatu tempat.

e) Sudut Pandang

Sudut pandang dapat juga disebut dengan point of view. Menurut Brooks dalam Rapi (2005: 53), penggunaan satu istilah dalam dua makna cukup membingungkan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar point of view digunakan untuk menyatakan gagasan atau sikap batin pengarang yang dijelmakan di dalam karya sastra. Sudut pandang atau point of view berhubungan dengan siapa yang menceritakan kisah dalam cerpen. Cara yang dipilih pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Hal ini disebabkan oleh watak dan pribadi si pencerita akan banyak menentukan cerita yang dituturkan kepada pembaca. Tiap orang punya pandangan hidup, cara berpikir, maupun emosi yang berbeda-beda.

Penentuan pengarang tentang soal siapa yang akan menceritakan kisah akan menentukan bagaimana sebuah cerpen bisa terwujud.

Menurut Aminuddin (2007: 30), titik pandang pengarang dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

1) Tokoh yang terlibat langsung (sudut pandang tokoh). Pengarang muncul dalam sudut pandang tokoh cerita. Ia menggunakan kata ganti orang pertama

16

(aku, saya). Pengarang menceritakan hal-hal yang dialaminya atau yang diimajinasikannya. Ia mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri dengan kata-katanya sendiri.

2) Tokoh sampingan (sudut pandang tokoh sampingan). Pengarang sebagai pengamat saja. Ia hanya menceritakan apa yang didengar dan dilihat dari luar kancah peristiwa. Ia tidak melibatkan diri sebagai pelaku.

3) Orang yang serba tahu, serba melihat dan serba mendengar (sudut pandang impersonal). Pengarang betul-betul ada di luar cerita dan serba tahu sampai ke alam pikiran tokoh cerita. Ia mampu menceritakan rahasia batin tokoh pelaku yang diceritakan.

f) Gaya Bahasa

Gaya bahasa ini menyangkut ciri khas pengarang dalam mengungkapkan ekspresi ceritanya dalam cerpen yang dia tulis. Gaya tersebut menyangkut bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan, dan menceritakannya dalam sebuah cerpen (Aminuddin, 2007: 39).

g) Amanat

Amanat adalah bagian akhir yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca. Dalam hal ini, pengarang “menitipkan” nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari cerpen yang dibaca. Amanat menyangkut bagaimana sang pembaca memahami dan meresapi cerpen yang dia baca. Pesan-pesan kehidupan yang ada dalam cerpen hadir secara tersirat dalam keseluruhan isi cerpen. Pembaca dapat memaknainya dihubungkan dengan latar belakang maupun kehidupan sekarang yang ia hadapi (Aminuddin, 2007: 49).

2) Unsur Ekstrinsik Cerpen

Unsur ekstrinsik cerpen adalah unsur-unsur (faktor-faktor) yang terdapat di luar karya sastra yang mempengaruhi suatukarya sastra dan mempermudah memahami karya sastra tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain: biografi pengarang, agama, falsafah, dan nilai-nilai yang dianut pengarang, sejarah, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang melatarbelakangi terciptanya karya sastra. Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra juga merupakan unsur ekstrinsik dan berada diluar karya sastra itu sendiri.

c. Langkah-Langkah Menulis Cerpen

Menurut Komaidi (2011: 144), langkah-langkah menulis cerpen adalah:

mencari ide, gagasan atau inspirasi, membuat kerangka karangan, menulis cerita, mengoreksi naskah, dan mengirim tulisan ke media massa.

1) Mencari ide, gagasan, atau inspirasi

Menurut Komaidi (2011: 145), ide cerita sebenarnya banyak sekali kalau kita mau kritis dan peka pada kehidupan sekitar. Ide dapat diperoleh dari membaca buku, majalah, koran, atau apa saja, ngobrol sama teman, atau melihat alam sekitar. Kalau kita peka, semua kejadian di sekitar kita adalah ide-ide yang bagus.Namun, tidak semua ide dapat kita tulis karena begitu banyaknya. Untuk mengabadikan ide-ide tersebut, sebaiknya kita senantiasa membawa buku catatan kecil ke mana saja kita pergi, ketika muncul ide sebaiknya kita catat, siapa tahu suatu saat nanti ide-ide tersebut dapat kita jadikan cerita atau jenis karangan

18

lainnya. Ide-ide tersebut harus kita catat agar kita tak lupa. Kita bisa menjadikan ide-ide itu di kemudian hari menjadi cerita yang menarik.

2) Membuat kerangka karangan

Menurut Komaidi (2011: 145), kerangka karangan berisi garis besar cerita atau poin-poin penting cerita pada bagian awal, tengah, dan akhir, seperti setting, tokoh, alur cerita, masalah atau konflik, solusi atau pemecahan masalah (ending cerita). Kerangka tersebut akan membantu penulis dalam menyusun cerita secara lebih detail dan mau dibawa ke mana cerpennya.

3) Menulis cerita

Menurut Komaidi ( 2011: 146 ), kiat awal dalam menulis cerita adalah selesaikan dulu cerita, apapun bentuknya, bagaimanapun jeleknya, dan jangan berhenti di jalan. Hal ini dikarenakan banyak penulis yang menulis cerita tapi tidak rampung, lalu ditinggal, lagi dan lagi. Menulis cerita atau karya apapun sebaiknya ditulis sampai selesai. Hal yang terpenting adalah menyelesaikan cerita terlebih dahulu. Jadi, sebaiknya, masalah kualitas diabaikan terlebih dahulu karena kelebihan dan kekurangan cerita dapat ditemukan setelah cerita selesai ditulis.

4) Mengoreksi naskah

Menurut Komaidi ( 2011: 146 ), setelah menulis cerita dari awal hingga akhir, cobalah diendapkan terlebih dahulu beberapa saat atau sehari dua hari, lalu dibaca dan dikoreksi, nanti akan ditemukan juga dengan sendirinya kekurangan cerita tersebut sehingga dapat diperbaiki. Cerita yang baik tak bisa ditulis sekali jadi, tapi kadang harus dikoreksi atau ditulis berkali-kali hingga sempurna. Untuk

mengukur kualitas cerita, cobalah berikan kepada orang lain untuk mengomentari, bagaimana kritik dan sarannya, apa kelebihan dan kelemahannya, lalu coba perbaiki lagi.

5) Mengirim tulisan ke media massa

Menurut Komaidi (2011: 147), sebagus apapun cerita, jika hanya tersimpan di laci, cerita tersebut menjadi tidak bermanfaat secara luas. Dengan mengirim naskah cerpen ke media massa, kualitas cerpen tersebut dapat teruji.

Lebih dari itu, barangkali cerpen tersebut dapat memberi manfaat bagi orang lain, setidaknya menghibur, memberi inspirasi, ataupun memberi pelajaran baik kepada orang lain. Cerpen tersebut dapat pula menghasilkan honorarium kepada penulisnya jika berhasil dimuat di media massa.

Selain langkah-langkah di atas, adapula langkah-langkah menulis cerpen menurut ahli yang lain. Menurut Pribadi (2013), Langkah-langkah menulis cerpen dapat dilakukan sebagai berikut.

1. Menangkap ide

Langkah awal agar bisa menulis sebuah cerita adalah memiliki ide cerita.

Ide cerita tidak harus yang rumit-rumit. Kejadian sehari-hari yang dilihat atau dialami bisa menjadi ide cerita. Ide ini dapat juga dijadikan judul cerita. Misalnya melihat seorang gadis sedang menyapu halaman. Itu bisa menjadi ide cerita sekaligus dapat dijadikan judul, “Gadis Penyapu Halaman”. Kalau judulnya dirasa kurang pas, bisa diganti dengan judul yang lain.

2. Menulis dengan gaya bahasa sendiri

20

Langkah selanjutnya adalah menuliskannya dengan gaya bahasa sendiri.

Orang yang bisa baca tulis tentu bisa melakukannya. Ini yang kadang enggan dilakukan oleh pemula. Rasa pesimis sudah menghantui padahal belum mencoba.

Bagaimana akan bisa jika mencoba pun tak dilakukan? Menulis dengan gaya bahasa sendiri berarti menulis dengan gaya yang biasa dilakukan. Berarti pula menulis sebisanya, ya sebisanya saja. Tak perlu dipaksakan dengan gaya bahasa yang mendayu ala Khahlil Gibran misalnya. Kalau bisanya cuma sepanjang 2000 karakter, itu bagus. Itu adalah proses menuju ke cerpen sepanjang 7000 karakter atau lebih. Kalau suka menulis narasi saja, itu bagus. Kalau menulis banyak dialognya, itu juga bagus. Semua bagus, yang penting menghasilkan tulisan.

3. Membuat paragraf pembuka

Tulisan yang digores pertama kali adalah paragraf pembuka. Membuat paragraf pembuka juga tidak perlu rumit-rumit. Namun demikian, yang perlu diperhatikan bahwa bagian ini adalah bagian yang penting sebagaimana judul cerpen. Ada yang mengibaratkan bagian ini seperti manekin (patung pajangan) yang dipasang di etalase sebuah toko. Hal itu berarti harus menarik, agar pembaca terpancing untuk terus membacanya.

4. Merangkai alur dan plot

Langkah selanjutnya adalah melanjutkan paragraf pembuka yang sudah ditulis. Merangkai kejadian demi kejadian. Dialog demi dialog. Narasi demi narasi. Alur dan plot akan terbentuk dengan sendirinya. Tuliskan saja apa yang

Langkah selanjutnya adalah melanjutkan paragraf pembuka yang sudah ditulis. Merangkai kejadian demi kejadian. Dialog demi dialog. Narasi demi narasi. Alur dan plot akan terbentuk dengan sendirinya. Tuliskan saja apa yang

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ROSTIA (Halaman 28-48)

Dokumen terkait