• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1. PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

a. Untuk memperoleh informasi mengenai perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi pasien BPJS dalam memanfaatkan pelayanan RS Imelda dan RS Martha Friska.

b. Untuk memecahkan masalah turunnya angka pemanfaatan pelayanan RS Imelda oleh pasien BPJS.

c. Sebagai tambahan bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti lain yang mengkaji topik yang relevan dengan penelitian ini.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumah Sakit

2.1.1 Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit/pasien mencari pengobatan yang diberikan oleh tenaga medis. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah sakit mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan secara paripurna. (UU No 44 tahun 2009 tentang rumah sakit). Rumah sakit lebih berperan dalam tindakan kuratif dan rehabilitatif tetapi sekarang ini rumah sakit juga melakukan tindakan promotif dan preventif dalam bentuk edukasi informasi kesehatan berupa leaflet, brosur dan sebagainya.

2.1.2 Fungsi Rumah Sakit.

UU No 44 tahun 2009 tentang rumah sakit menjelaskan bahwa fungsi rumah sakit adalah sebagai berikut :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka

peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

2.1.3 Klasifikasi Rumah Sakit

Menurut Undang – Undang No 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit umum diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan medis baik berupa pelayanan spesialis dasar dan subspesialis. Klasifikasi rumah sakit menjadi hal yang penting dalam menentukan kelas rumah sakit. Klasifikasi rumah sakit dibagi menjadi :

1. Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis paling sedikit 4 spesialis dasar, 5 spesialis penunjang medik, 12 spesialis lain dan 13 subspesialis.

2. Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis paling sedikit 4 spesialis dasar, 4 spesialis penunjang medik, 8 spesialis lain dan 2 subspesialis dasar.

3. Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis paling sedikit 4 spesialis dasar, 4 spesialis penunjang medik.

4. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis paling sedikit 2 spesialis dasar.

2.2 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan)

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan sedangkan BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian (UU No 24 tahun 2011 tentang BPJS).

BPJS Kesehatan adalah badan hukum publik yang bertanggung jawab kepada Presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia termasuk orang asing yang bekerja minimal 6 bulan di Indonesia.

BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas : kemanusiaan, manfaat dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional, BPJS menganut prinsip : kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta. (BPJS Kesehatan, 2014)

2.2.1 Visi dan Misi BPJS Kesehatan

Visi BPJS Kesehatan adalah terwujudnya jaminan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan bagi seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2019

berlandaskan gotong royong yang berkeadilan melalui BPJS Kesehatan yang handal, unggul dan terpercaya. (BPJS Kesehatan, 2014)

Adapun Misi BPJS Kesehatan untuk dapat mewujudkan jaminan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kualitas layanan yang berkeadilan kepada peserta , pemberi pelayanan kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya melalui sistem kerja yang efektif dan efisien.

2. Memperluas kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) mencakup seluruh Indonesia paling lambat 1 Januari 2019 melalui peningkatan kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan dan mendorong partisipasi masyarakat serta meningkatkan kepatuhan peserta.

3. Menjaga kesinambungan program JKN-KIS dengan mengoptimalkan kolektibilitas iuran, sistem pembayaran fasilitas kesehatan, dan pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel.

4. Memperkuat kebijakan dan implementasi program JKN-KIS melalui peningkatan kerjasama antar lembaga, kemitraan, koordinasi dan komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

5. Memperkuat kapasitas dan tata kelola organisasi yang didukung dengan SDM yang profesional, penelitian, perencanaan dan evaluasi, pengelolaan proses bisnis dan manajemen risiko yang efektif dan efisien serta infrastruktur dan teknologi informasi yang handal.

2.2.2 Peserta BPJS Kesehatan

Pasien BPJS dalam hal ini adalah merupakan peserta BPJS Kesehatan. Peserta BPJS Kesehatan adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran. Peserta BPJS terdiri dari :

1. Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan, yang terdiri dari fakir miskin dan orang tidak mampu yang didaftarkan serta biaya iuran ditanggung oleh Pemerintah.

2. Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) Jaminan Kesehatan, yang terdiri dari : a. Pekerja Penerima Upah (PPU) termasuk anggota keluarganya (Isteri/suami,

anak kandung, anak tiri, dan/atau anak angkat yang sah dan belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun bagi yang masih melanjutkan pendidikan formal) sebanyak-banyaknya 5 orang dan dapat mengikutsertakan keluarga tambahan yang meliputi : anak ke 4 dan seterusnya, orang tua kandung dan mertua.

b. Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau perorangan.

c. Bukan Pekerja (BP) terdiri dari : Penerima Pensiun Penyelenggara Negara, Veteran, Perintis Kemerdekaan termasuk anggota keluarganya (Isteri/suami, anak kandung, anak tiri, dan/atau anak angkat yang sah dan belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun bagi yang masih melanjutkan pendidikan formal) sebanyak-banyaknya 5 orang, Penerima Pensiun Bukan Penyelenggara Negara. (BPJS Kesehatan, 2016)

2.3 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk-bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan kesehatan tersebut (Mubarak dan Cahyati,2009). Dalam hal ini pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah rumah sakit.

Proses pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat atau pasien yang dikemukan oleh Andersen (2001) bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan terdiri dari :

a. Karakteristik Kontekstual (Contextual Characteristics) yang terdiri dari :

i. Karakteristik predisposisi kontekstual ( contextual predisposing characteristics)

Karakteristik ini merupakan kondisi yang mempredisposisi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan walaupun kondisi ini tidak secara langsung memengaruhi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Karakteristik predisposisi dapat dibagi ke dalam 3 kelompok yakni :

a) Faktor demografi meliputi umur, jenis kelamin, status perkawinan.

b) Struktur sosial meliputi tingkat pendidikan, komposisi etnis dan ras, pekerjaan dan status sosial.

c) Kepercayaan kesehatan merupakan nilai komunitas/organisasi dan norma tradisi dan perspektif politik dalam menilai bagaimana pelayanan

kesehatan itu seharusnya diorganisir, dibiayai dan dapat dijangkau oleh populasi.

ii. Karakteristik pemungkin kontekstual (contextual enabling characteristics)

a) Kebijakan kesehatan (Health Policies), merupakan keputusan pemerintah yang dibuat mengenai kesehatan atau memengaruhi masyarakat untuk hidup sehat. Kebijakan ini dapat berupa kebijakan publik yang dibuat oleh badan pemerintahan baik legistatif, eksekutif dan judikatif dari tingkat lokal sampai nasional. Kebijakan tersebut juga dapat dibuat oleh sektor privat / pembuat keputusan seperti pihak eksekutif dari organisasi manajemen kesehatan atau badan akreditasi seperti Joint Commision on Accreditation of Health Care Organization (JCAHO) , National Committee for Quality Assurance (NCQA).

b) Karakteristik pembiayaan (Financing), merupakan kemampuan untuk membayar pelayanan kesehatan seperti pendapatan per kapita, cakupan asuransi kesehatan, harga alat medis dan pengeluaran per kapita untuk pelayanan kesehatan.

c) Karakteristik organisasi (organization), meliputi jumlah dan distribusi fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga medis serta bagaimana mereka terstruktur untuk menawarkan pelayanan kesehatan. Struktur tersebut meliputi tersedianya pelayanan di dalam masyarakat seperti rasio dokter dan jumlah tempat tidur rumah sakit terhadap populasi, tempat dan jam pelayanan, pengawasan kualitas dan pemanfaatan pelayanan kesehatan dan

program edukasi.

iii. Karakteristik kebutuhan kontekstual (contextual need characteristic)

a) Karakteristik kebutuhan lingkungan (environmental need characteristics) meliputi pengukuran lingkungan fisik yang berhubungan dengan kesehatan seperti kualitas rumah, air dan udara, tingkat kecelakaan dan kematian seperti kecelakaan dan penyakit akibat pekerjaan, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan dan penggunaan senjata api.

b) Indeks kesehatan populasi (population health indicies) merupakan indikator umum dari kesehatan komunitas yang meliputi tingkat kematian, tingkat kesakitan dan disabilitas.

b. Karakteristik individu (individual characteristics)

i. Karakteristik predisposisi individual (individual predisposing characteristics) a) Faktor demografi meliputi umur, jenis kelamin.

b) Faktor sosial menentukan status seseorang di dalam masyarakat dan kemampuannya untuk menghadapi masalah yang ada serta penggunaan sumber daya yang ada untuk mengatasi masalah tersebut. Faktor sosial terdiri dari :

1. Pengukuran tradisional (traditional measures) yakni tingkat pendidikan, pekerjaan dan etnis.

2. Expanded measures meliputi jaringan sosial (social network) dan

interaksi sosial yang dapat memfasilitasi akses ke pelayanan kesehatan.

c) Kepercayaan kesehatan (health beliefs) merupakan sikap, nilai dan pengetahuan yang dimiliki seseorang mengenai kesehatan dan pelayanan kesehatan yang dapat memengaruhi persepsi akan kebutuhan dan penggunaan pelayanan kesehatan.

ii. Karakteristik pemungkin individual (individual enabling characteristics)

a) Pembiayaan (financing) pelayanan kesehatan meliputi pendapatan, kepemilikan asuransi dan harga pelayanan kesehatan.

b) Organisasi (organization) pelayanan kesehatan yang meliputi ketersediaan fasilitas kesehatan seperti praktik dokter, klinik dan rumah sakit), sarana transportasi, waktu tempuh dan waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

iii. Karakteristik kebutuhan individual (individual need characteristics)

a) Perceived need adalah bagaimana seseorang melihat kondisi kesehatan umum dan fungsional dirinya, bagaimana seseorang mengalami dan merespon terhadap keluhan sakit, nyeri dan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatannya.

b) Evaluated need merupakan keputusan dari tenaga profesional dan pengukuran objektif terhadap status fisik pasien dan kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan medis.

c. Perilaku kesehatan (Health Behaviour)

i. Personal health practices adalah perilaku yang dimiliki individu yang dapat memengaruhi status kesehatan seperti diet dan nutrisi, olahraga, stress, alkohol, perokok, perawatan diri dan kepatuhan terhadap pengobatan.

ii. Process of medical care adalah perilaku pemberi pelayanan kesehatan kepada pasien dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan seperti konseling, edukasi, anjuran pemeriksaan, pengobatan dan kualitas komunikasi pemberi pelayanan-pasien.

iii. Use of personal health services (health care).

Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh perilaku kesehatan.

Pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama rumah sakit adalah respon akan adanya kondisi kesehatan yang lebih serius dapat dijelaskan dengan adanya faktor kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan karakteristik demografi.

d. Outcomes

i. Perceived health status adalah kondisi dimana seseorang dapat hidup dengan nyaman, fungsi tubuh yang baik dan bebas dari rasa nyeri.

ii. Evaluated health status adalah kondisi kesehatan pasien berdasarkan keputusan profesional berdasarkan standar klinis. Profesional dalam hal ini adalah tenaga medis / dokter.

iii. Kepuasan konsumen (consumer satisfaction) adalah penilaian individual terhadap pelayanan kesehatan yang diterima. Kepuasan konsumen dapat dinilai dari penilaian pasien terhadap waktu tunggu, waktu tempuh, dan pelayanan kesehatan yang diterima.

Gambar 2.1 Model Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Sumber : Andersen, 2001.

2.4 Preferensi Konsumen

Menurut Munandar (2012), preferensi konsumen berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen terhadap produk barang atau jasa. Preferensi ini terbentuk dari persepsi konsumen terhadap atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu produk barang atau jasa tertentu. Kotler (2005) menjelaskan bahwa preferensi komsumen merupakan suatu sikap kesukaan konsumen terhadap produk tertentu dari berbagai pilihan produk barang atau jasa yang tersedia, sebagai evaluasi dari sifat kognitif seseorang, perasaan emosional dan kecenderungan bertindak melalui objek atau ide.

Menurut Nicholson Walter (1999), preferensi mempunyai tiga sifat dasar yaitu : 1. Kelengkapan ( completeness)

Jika A dan B merupakan dua kondisi, maka setiap orang harus bisa

menspesifikasikan apakah : a. A lebih disukai daripada B.

b. B lebih disukai daripada A.

c. A dan B sama-sama disukai.

Dengan dasar ini, tiap orang diasumsikan tidak pernah ragu dalam menentukan pilihan sebab, mereka tahu mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.

Dengan demikian selalu bisa menjatuhkan pilihan atas dua alternatif..

2. Transitivitas (transitivity).

Jika seseorang mengatakan bahwa ia lebih menyukai A daripada B atau lebih menyukai B daripada C, maka ia harus lebih menyukai A daripada C. Dengan demikian orang tidak bisa mengartikulasi preferensinya saling bertentangan.

3. Kesinambungan (continuity).

Jika seseorang mengatakan bahwa A lebih disukai daripada B, ini berarti segala kondisi di bawah pilihan A lebih disukai daripada kondisi di bawah pilihan B.

Preferensi konsumen muncul dalam tahap evaluasi alternatif dalam proses keputusan pembelian, dimana dalam tahap tersebut konsumen dihadapkan dengan berbagai pilihan produk maupun jasa dengan berbagai macam atribut yang berbeda-beda. Tahap preferensi yang dimiliki konsumen terhadap suatu produk merupakan awal dari tahap loyalitas konsumen terhadap produk atau jasa tersebut sehingga pihak penyedia produk harus mempelajari bagaimana menimbulkan rasa preferensi tersebut di dalam diri konsumen.

2.5 Landasan Teori

Konsep pemanfaatan pelayanan kesehatan rumah sakit sebagai sarana pelayananan kesehatan mengacu pada teori Andersen (2001) bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pencarian pelayanan kesehatan terdiri atas 4 faktor yaitu

a) Faktor Kontekstual yang terdiri dari :

i. Faktor predisposisi kontekstual yang terdiri dari ciri-ciri demografi, struktur sosial dan kepercayaan kesehatan.

ii. Faktor pemungkin kontekstual yang terdiri dari kebijakan kesehatan, pembiayaan dan organisasi.

iii. Faktor kebutuhan kontekstual yaitu terdiri dari faktor lingkungan dan indeks kesehatan populasi.

b) Faktor individu yang terdiri dari :

i. Faktor predisposisi individu yang meliputi demografi, struktur sosial dan kepercayaan kesehatan.

ii. Faktor pemungkin individu yang meliputi pembiayaan dan organisasi.

iii. Faktor kebutuhan individu yang meliputi perceived need dan evaluated need.

c) Health behaviour, yang terdiri dari : i. Personal health practices

ii. Process of medical care

iii. Use of personal health services (health care) d) Outcomes, yang terdiri dari :

i. Perceived health status

ii. Evaluated health status iii. Consumer Satisfaction

Penelitian terdahulu tentang faktor faktor yang memengaruhi pasien untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti.

Anggraheni (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan Masyarakat Untuk Memilih Jasa Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Simo Kabupaten Boyolali.

Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pasien dalam pemanfaatan rumah sakit adalah kualitas pelayanan, fasilitas, biaya pengobatan dan kepercayaan masyarakat terhadap suatu instansi kesehatan. Dalam penelitian ini faktor yang paling dominan dalam memengaruhi pasien dalam pemilihan pemanfaatan rumah sakit adalah biaya pengobatan yang lebih murah sebanyak 80%

responden.

Wulandari (2007), dalam penelitiannya berjudul Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Konsumen Dalam Memilih Berobat Rawat Inap Pada Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara mutu pelayanan, fasilitas dan biaya berobat terhadap kecenderungan pasien memilih berobat di RS Nirmala Suri Surakarta. Faktor yang paling dominan memengaruhi pemilihan pasien untuk berobat ke RS Nirmala Suri Surakarta adalah mutu pelayanan.

Putra (2010), dalam Analisis Permintaan Penggunaan Layanan Kesehatan Pada Rumah Sakit Umum di Kabupaten Semarang. Dalam penelitian ini menyatakan

bahwa faktor-faktor pendapatan keluarga, tingkat pendidikan, jarak ke pelayanan kesehatan dan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap frekuensi ke layanan kesehatan

Arsyad (2015), dalam Analisis Permintaan Jasa Pelayanan Kesehatan Khusus BPJS di Rumah Sakit Umum Haji Padjonga Daeng Ngalle Kabupaten Takalar.

Penelitian ini menyatakan bahwa faktor faktor yang memengaruhi pasien BPJS memanfaatkan pelayanan kesehatan di RSU Haji Padjonga Daeng Ngalle di Kabupaten Takalar adalah biaya kunjungan, jarak, jenis penyakit dan kualitas pelayanan. Faktor pendapatan dan pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan khusus BPJS.

2.6 Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori yang memakai model pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh Andersen (2001), maka didapatkan variabel independen berupa demografi (umur, jenis kelamin dan status perkawinan) dan struktur sosial (suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan) yang diambil dari karakteristik individual predisposisi, serta variabel independen berupa pembiayaan (pendapatan) dan organisasi (jumlah dan jenis spesialistik, ketersediaan fasilitas penunjang medis) yang diambil dari karakteristik individual pemungkin. Variabel dependen berupa pemanfaatan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang diambil dari perilaku kesehatan (health behaviours) dari model pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh Andersen (2001). Kerangka konsep penelitian dijabarkan dalam bagan di bawah ini :

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Sumber : Model Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Andersen, 2001.

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat perbedaan faktor demografi (umur, jenis kelamin dan status perkawinan) pasien BPJS antara RS Imelda dan RS Martha Friska.

2. Terdapat perbedaan faktor struktur sosial (suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan) pasien BPJS antara RS Imelda dan RS Martha Friska.

3. Terdapat perbedaan faktor pendapatan pasien BPJS antara RS Imelda dan RS Martha Friska.

4. Terdapat perbedaan faktor organisasi ( jenis dan jumlah spesialistik dan ketersediaan fasilitas penunjang medis) pasien BPJS antara RS Imelda dan RS Martha Friska.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang mengambil sampel dari populasi.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia dan Rumah Sakit Martha Friska Brayan Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan sejak Januari 2017 - Desember 2017 diawali dengan pengajuan judul, penyusunan proposal dan seminar proposal.

3.3 Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi adalah kumpulan semua individu dalam suatu batas tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta BPJS yang terdapat dalam rayon RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska Brayan Medan. Jumlah populasi adalah tidak diketahui.

b. Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang dianggap mewakili populasi.

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien BPJS rawat inap di RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska Brayan Medan. Teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah accidental sampling.

Besar sampel ditentukan dengan Rumus Lemeshow (1997) yaitu : Z21-α/2

n =

P(1-P) d

Keterangan :

2

n = jumlah sampel

Z = derajat kepercayaan (5%) P = perkiraan proporsi

d = tingkat presisi (10%)

Perhitungan sampel :

Z21-α/2 P(1-P) (1,96) 2

n = = = 96 orang . 0,5 . 0,5

d2 (0.1)2

Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 96 orang (RS Imelda sebanyak 48 orang dan RS Martha Friska sebanyak 48 orang)

Tabel 3.1 Jumlah Sampel Tiap Ruang Rawat Inap RS Imelda

Ruangan Jumlah sampel

Kelas 1 1/3 x 48 = 16 orang Kelas 2 1/3 x 48 = 16 orang Kelas 3 1/3 x 48 = 16 orang

Total 48 orang

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Tiap Ruang Rawat Inap RS Martha Friska

Ruangan Jumlah sampel

Kelas 1 1/3 x 48 = 16 orang Kelas 2 1/3 x 48 = 16 orang Kelas 3 1/3 x 48 = 16 orang

Total 48 orang

3.4 Metode Pengumpulan Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui hasil pengisian kuesioner. Kuesioner dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan variabel faktor-faktor yang memengaruhi pasien BPJS dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan dari teori Andersen (2001).

3.4.1 Validitas dan Reliabilitas

Sebelum dilakukan pengumpulan data, dilakukan uji validitas dan realibilitas terhadap kuesioner agar layak digunakan dalam penelitian serta untuk mengukur sejauh mana kuesioner dapat dijadikan sebagai alat ukur dalam penelitian ini. Uji coba kuesioner ini dilakukan terhadap 30 pasien BPJS yang sedang menjalani rawat inap di RS Imelda Pekerja Indonesia. 30 pasien BPJS pada uji coba kuesioner tidak akan diikutsertakan sebagai sampel dalam penelitian ini.

Uji validitas dilakukan dengan cara melakukan korelasi antara skor masing-masing variabel dengan skor total. Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Item pertanyaan yang tidak valid, selanjutnya akan dihilangkan. Nilai r tabel koefisien dengan korelasi Pearson Product Moment untuk

sampel 30 orang (df=n-2=28) dengan tingkat kemaknaan 5% adalah 0,362. Dari 3 item pernyataan untuk jumlah dan jenis spesialistik, 3 item pernyataan tersebut valid.

Dari 4 item pertanyaan untuk ketersediaan fasilitas penunjang medis, terdapat 3 item pertanyaan yang valid dan 1 item pertanyaan tidak valid.

Item yang sudah valid selanjutnya akan dilakukan uji reabilitas dengan membandingkan Alpha Cronbach’s dengan r table. Apabila Alpha Cronbach’s ≥ r tabel maka instrumen tersebut reliabel, dan sebaliknya bila Alpha Cronbach’s <r tabel maka instrumen tersebut tidak reliabel. Hasil uji reliabilitas terhadap 6 item pertanyaan mempunyai nilai Alpha Cronbach’s lebih besar dari r table (0,362), dapat disimpulkan seluruh pertanyaan tersebut reliabel.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

Definisi Operasional pada penelitian adalah sebagai berikut :

1. Umur adalah usia responden dihitung dari tanggal lahir hingga ulang tahun terakhir.

2. Jenis kelamin adalah penggolongan gender responden berdasarkan laki-laki atau perempuan.

3. Status perkawinan adalah status responden berdasarkan sudah menikah atau belum menikah.

4. Suku adalah etnis responden sesuai dengan garis keturunan ayah.

5. Tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal terakhir yang telah ditempuh oleh responden.

6. Pekerjaan adalah jenis pekerjaan utama sehari-hari yang dijalani oleh responden tersebut.

7. Pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diperoleh responden dalam satu bulan.

8. Jenis dan jumlah spesialistik adalah keaneka-ragaman jenis dan jumlah dokter spesialis yang dibutuhkan oleh pasien, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan formal sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai kewenangannya.

9. Ketersediaan fasilitas penunjang medis adalah tersedianya fasilitas penunjang medis yang dipakai oleh dokter spesialis dalam pelayanan kesehatan sehingga pasien tidak perlu dirujuk keluar. Contoh : Laboratorium darah, foto rontgen, CT Scan, dan sebagainya.

10. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan rawat inap oleh peserta BPJS yang disediakan oleh rumah sakit.

3.6 Metode Pengukuran Data

3.6 Metode Pengukuran Data