BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.3 Uji Beda
4.3.4 Perbedaan Karakteristik Faktor Organisasi Pasien BPJS
Tabel 4.8 Perbedaan Karakteristik Faktor Pendapatan Pasien BPJS yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
No Variabel Kategori n1
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 responden, pendapatan yang dimiliki oleh responden terbanyak adalah sebesar < 5 juta rupiah sebanyak 38 orang (79,2%) di RS Imelda Pekerja Indonesia dan 35 orang (72,9%) di RS Martha Friska.
Hasil uji mann whitney didapatkan nilai p = 0,806 (α= 5%), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik pendapatan pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska Medan.
4.3.4 Perbedaan Karakteristik Faktor Organisasi Pasien BPJS yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Hasil uji mann whitney untuk perbedaan karakteristik faktor organisasi (jenis dan jumlah spesialistik serta ketersediaan fasilitas penunjang medis) pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.9 Perbedaan Karakteristik Faktor Organisasi (Jenis dan Jumlah Spesialistik serta Ketersediaan Fasilitas Penunjang Medis) Pasien BPJS
yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
No Variabel Kategori n1
2 Ketersediaan fasilitas penunjang medis
Hasil uji mann whitney untuk jumlah dan jenis spesialistik didapatkan nilai p = 0,026 (α= 5%), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik jumlah dan jenis spesialistik di RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska Medan. Ini berarti ada perbedaan yang bermakna antara jumlah dan jenis spesialistik di RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska dimana jumlah dan jenis spesialistik di RS Martha Friska lebih tersedia dari RS Imelda Pekerja Indonesia.
Hasil uji mann whitney didapatkan nilai p = 0,028 (α= 5%), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik ketersediaan fasilitas penunjang medis di RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska Medan. Ini berarti ada perbedaan yang bermakna antara ketersediaan fasilitas penunjang medis di RS Imelda Pekerja Indonesia yang lebih tersedia dari ketersediaan fasilitas penunjang medis di RS Martha Friska.
BAB 5 PEMBAHASAN
Pada penelitian ini, faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan seperti faktor demografi (umur, jenis kelamin dan status pernikahan), faktor struktur sosial (suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan), faktor pendapatan dan faktor organisasi (jumlah dan jenis spesialistik, ketersediaan fasilitas penunjang medis). Pengujian uji statistik dengan analisis bivariat menggunakan uji mann whitney diperoleh bahwa terdapat perbedaan karakteristik jumlah dan jenis spesialistik dan ketersediaan fasilitas penunjang medis antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska dengan nilai p < 0,05. Ini berarti kedua faktor di atas merupakan faktor yang membuat pasien BPJS untuk memilih rumah sakit yang lebih baik.
5.1 Perbedaan Karakteristik Faktor Demografi (Umur, Jenis Kelamin dan Status Perkawinan) Pasien BPJS yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien BPJS yang memanfaatkan kedua rumah sakit tersebut adalah pasien dengan umur masa dewasa (18-45 tahun). Dalam pengamatan peneliti, RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang berdiri di dalam rayon mereka. Para pekerja di perusahaan tersebut semuanya sudah didaftarkan sebagai peserta BPJS Kesehatan. Para pekerja di perusahaan tersebut termasuk ke dalam golongan usia produktif / umur dewasa, sehingga dalam karakteristik umur,
didapatkan lebih banyak umur 18-45 tahun (dewasa) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di kedua RS tersebut dan tidak tampak perbedaan karakteristik umur pasien BPJS yang memanfaatkan kedua RS tersebut. Hal ini juga dapat terjadi karena pasien BPJS kategori umur lanjut usia terbanyak menderita penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes mellitus sehingga pasien BPJS kategori lanjut usia lebih banyak memanfaatkan pelayanan rawat jalan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (klinik) ataupun ke poli dokter spesialis yang terdapat di rumah sakit. Dalam hal ini juga BPJS Kesehatan tidak akan menyetujui klaim dari rumah sakit apabila pasien hipertensi dan diabetes mellitus tanpa komplikasi dilakukan rawat inap apabila tidak ada indikasi. Dalam uji beda juga tidak terdapat perbedaan karakteristik umur antara pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Menurut asumsi peneliti, ini dikarenakan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska berada di rayon yang sama sehingga memperebutkan pelanggan yang sama, pelanggan dalam hal ini lebih banyak merupakan pekerja pada perusahaan-perusahaan yang terdapat dalam rayon tersebut.
Teori Andersen (2001) mengenai model pemanfaatan pelayanan kesehatan menjelaskan bahwa umur merupakan karakteristik predisposisi individual yang memengaruhi seseorang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini, usia dewasa (18-45 tahun) lebih memperhatikan kesehatan diri sehingga apabila mengalami sakit maka individu tersebut akan memanfaatkan pelayanan kesehatan agar tidak terjadi penyakit yang parah atau terlambat dalam penanganan.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukan oleh Smeltzer
& Bare (2001), yang menyatakan bahwa frekuensi dan intensitas infeksi akan meningkat pada usia lebih dari 40 tahun. Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anjaryani (2009) yang menyatakan bahwa sebagian besar pasien rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang berusia 40-60 tahun.
Hasil penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian Kustiati (2012) yang menyatakan bahwa sebagian besar pasien yang menjalani rawat inap di RS Roemani Muhammadiyah Semarang adalah usia 41-60 tahun.
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa responden terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan di kedua RS. Asumsi awal peneliti bahwa akan terdapat perbedaan jenis kelamin pasien BPJS yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di antara kedua RS tersebut yakni akan lebih banyak pasien berjenis kelamin perempuan yang memanfaatkan RS Imelda dikarenakan RS Imelda Pekerja Indonesia telah memfokuskan untuk membangun dan meningkatkan fasilitas untuk pelayanan ibu dan anak. Namun pada kenyataannya setelah dilakukan uji beda menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik jenis kelamin pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. RS Imelda Pekerja Indonesia mungkin perlu untuk memiliki tim marketing yang memperkenalkan fasilitas-fasilitas baru yang sudah ditambahkan dan program ibu dan anak yang sekarang ini menjadi program unggulan rumah sakit sehingga dapat menarik minat peserta BPJS untuk memanfaatkan pelayanan tersebut di RS Imelda.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Hutapea (2009) yang menyatakan bahwa responden terbanyak di RS dr Soetomo adalah perempuan. Hal ini sejalan juga dengan keadaan masyarakat dimana populasi terbanyak adalah perempuan. Menurut data BPS Sumatera Utara tahun 2016, menyatakan bahwa jumlah penduduk Kota Medan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1.091.937 jiwa dan perempuan sebanyak 1.128.388 jiwa.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa status perkawinan responden terbanyak dari kedua RS adalah sudah menikah Hasil uji beda juga menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik status perkawinan pasien BPJS dalam memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
5.2 Perbedaan Karakteristik Faktor Struktur Sosial ( Suku , Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan ) Pasien BPJS yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku responden terbanyak di kedua RS adalah Suku Jawa. Hasil uji beda juga menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik suku pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Hal ini sejalan dengan data populasi suku terbanyak di Indonesia adalah Suku Jawa dengan persentase 40,22%, dan di kota Medan khususnya Suku Jawa dengan persentase 33,03% berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010. Asumsi peneliti pada awalnya bahwa akan terdapat kecenderungan suku tertentu yang akan memanfaatkan kedua RS tersebut, contohnya : Suku Batak akan lebih banyak memanfaatkan RS Imelda berhubung satu suku dengan pemilik RS Imelda atau Suku Tionghoa yang cenderung akan lebih banyak memanfaatkan RS Martha Friska
dikarenakan pemilik RS Martha Friska juga merupakan Suku Tionghoa. Namun tidak tampak adanya perbedaan yang mencolok akan perbedaan suku di antara kedua RS tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan terakhir responden sebagian besar adalah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini sejalan dengan data sensus oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Utara tahun 2015 yang menyatakan bahwa persentase tingkat pendidikan angkatan kerja berumur di atas 15 tahun adalah tamat SMA sebanyak 35,48%. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik tingkat pendidikan pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Hal ini bisa diakibatkan akibat sudah mulai membaiknya sistem pendidikan di Indonesia sehingga tingkat pendidikan masyarakat juga ikut membaik yakni tamat SMA. Dengan banyaknya tingkat lulusan SMA maka secara statistik tidak tampak adanya perbedaan karakteristik tingkat pendidikan di RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Menurut Andersen (2001), tingkat pendidikan merupakan karakteristik predisposisi individual yang memengaruhi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Teori lain mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh Lawrence Green (1980) menyatakan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor predisposisi yang memengaruhi perilaku masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuan tentang
penyakit akan lebih luas serta individu tersebut akan lebih memperhatikan kesehatan dirinya agar dirinya tidak jatuh ke tahap sakit yang berat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden di kedua RS adalah bekerja sebagai pegawai swasta. Hasil uji beda menunjukkan tidak ada perbedaan karakteristik pekerjaan Pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Hal ini dikarenakan faktor rayon BPJS dimana sebagian besar masyarakat yang berada di rayon tersebut merupakan pegawai swasta yang bekerja pada perusahaan-perusahaan yang banyak berdiri di rayon tersebut. Pasien yang memiliki pekerjaan tetap seperti sebagai PNS, pegawai swasta, wirawasta menandakan bahwa mereka memiliki pendapatan tetap sehingga mereka mampu untuk mengeluarkan biaya untuk iuran BPJS setiap bulannya. Adapun bagi pasien yang bekerja sebagai pegawai swasta di perusahaan ataupun PNS, mereka sudah mendapat kartu BPJS dari tempat bekerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagi pasien yang tidak bekerja ataupun pasien golongan tidak mampu, mereka mendapatkan kartu BPJS Penerima Bantuan Iuran / Bantuan Pemerintah dan ada juga yang dibantu dan dibayarkan iuran BPJSnya oleh keluarga.
5.3 Perbedaan Karakteristik Faktor Pendapatan Pasien BPJS yang Memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Dari hasil penelitian, pendapatan responden sebagian besar mempunyai rentang pendapatan > 2,2 juta - 5 juta rupiah baik di RS Imelda Pekerja Indonesia maupun di RS Martha Friska. Data ini menunjukkan bahwa pendapatan responden sebagian besar sudah di atas UMK, sebagian responden yang memiliki pendapatan di
atas UMK adalah pegawai swasta yang mana sudah difasilitasi oleh pemberi kerja dengan kartu BPJS Kesehatan dan Tenaga Kerja sehingga mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya ekstra untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Hasil uji beda juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pendapatan pasien BPJS yang memanfaatkan RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Tidak adanya perbedaan tingkat pendapatan dikarenakan sebagian besar responden merupakan pegawai swasta di perusahaan-perusahaan dalam rayon kedua RS. Sebagaimana yang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan bahwa gaji/pendapatan pekerja harusnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yakni minimal adalah setara Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
Arsyad (2015) menyatakan bahwa faktor pendapatan tidak berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan pada pasien BPJS. Hal ini juga sejalan dengan penelitan Debra (2015) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh pasien BPJS. Namun hasil ini tidak sesuai dengan teori Andresen (2001) yang menjelaskan bahwa faktor pembiayaan (tingkat pendapatan) memengaruhi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan saat ini pemanfaatan pelayanan kesehatan sudah dapat diakses dengan kartu BPJS dimana kartu BPJS ini dapat diperoleh oleh setiap orang dengan membayar iuran tertentu sesuai dengan kemampuan individu dalam memilih kelas rawatan BPJS. Apabila seseorang termasuk dalam golongan tidak mampu maka dapat mengajukan diri sebagai penerima bantuan iuran agar biaya bulanan BPJS ditanggung oleh pemerintah.
5.4 Perbedaan Karakteristik Faktor Organisasi ( Jumlah dan Jenis Spesialistik dan Ketersediaan Fasilitas Penunjang Medis) antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
5.4.1 Jumlah dan Jenis Spesialistik
RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska sama-sama merupakan RS Kelas B dan telah memenuhi syarat-syarat pelayanan spesialistik yang wajib dipenuhi untuk RS Kelas B yakni wajib mempunyai 4 spesialis dasar, 4 spesialis penunjang medis, 8 spesialis lain dan 2 subspesialis dasar. RS Imelda Pekerja Indonesia telah memenuhi syarat 4 spesialis dasar yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis anak, spesialis bedah umum dan spesialis kandungan, 4 spesialis penunjang medis yaitu spesialis patologi klinik, spesialis patologi anatomi, spesialis radiologi dan spesialis rehabilitasi medik, 8 spesialis lainnya yaitu spesialis mata, spesialis syaraf, spesialis THT, spesialis paru, spesialis jantung, spesialis anestesi, spesialis kulit dan kelamin, bedah anak, bedah tulang, bedah syaraf, urologi dan bedah plastik dan spesialis bedah mulut serta minimal 2 subspesialis yaitu konsultan hematologi dan onkologi, konsultan alergi dan imunologi, konsultan ginjal dan hipertensi. Pada RS Martha Friska juga telah memenuhi syarat 4 spesialis dasar yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis anak, spesialis bedah umum dan spesialis obstetri dan ginekologi, 4 spesialis penunjang medik yaitu spesialis patologi klinik, spesialis patologi anatomi, spesialis radiologi dan spesialis rehabilitasi medik, 8 spesialis lainnya yaitu spesialis mata, spesialis syaraf, spesialis THT, spesialis paru, spesialis jantung, spesialis anestesi, spesialis kulit dan kelamin, bedah anak, bedah tulang, bedah syaraf, bedah digestif, bedah onkologi, bedah thorax, urologi dan spesialis
bedah mulut serta minimal 2 sub spesialis yaitu konsultan ginjal dan hipertensi, konsultan alergi dan imunologi, konsultan anestesi kardiovaskular, dan konsultan onkologi kandungan.
Jumlah dan jenis spesialistik merupakan suatu hal yang terpenting dan merupakan nilai jual dari suatu rumah sakit. Kelengkapan jenis pelayanan spesialistik serta konsistensi waktu pelayanan merupakan hal multak yang harus diperhatikan dan ditingkatkan sehingga dapat menarik minat pasien BPJS untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kelengkapan dan konsistensi jenis pelayanan yang dimaksud adalah lengkapnya keaneka-ragaman jenis spesialistik serta konsistensi pelayanan yang berarti jenis pelayanan itu selalu tersedia setiap hari sehingga pasien tidak kecewa apabila sudah berkunjung ke rumah sakit tetapi dokter spesialis yang ingin dicari tidak tersedia.
Hasil uji statistik dengan uji beda menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah dan jenis spesialistik antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Dari hasil wawancara dengan responden di RS Imelda Pekerja Indonesia didapatkan bahwa pasien mengatakan jumlah dan jenis spesialistik lengkap, hanya saja ada dokter spesialis tidak melakukan kunjungan (visite) setiap hari, kadang hanya diperiksa oleh dokter umum rumah sakit yang sedang bertugas, walau demikian menurut responden dokter spesialis masih kompeten dalam menangani penyakitnya.
Responden mengharapkan agar rumah sakit dapat menambah jenis pelayanan spesialistik seperti pelayanan bedah digestif, onkologi kandungan dan radioterapi sehingga pasien tidak perlu jauh-jauh dirujuk ke RS lain. Responden juga
mengharapkan agar RS menambah lagi jumlah dokter spesialis pada pelayanan spesialistik yang sudah tersedia sehingga dokter spesialis dapat selalu datang setiap hari untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Hasil wawancara responden di RS Martha Friska didapatkan bahwa menurut responden jumlah dan jenis spesialistik lengkap, kunjungan dokter (visite) satu kali sehari namun ada masukan pasien agar dokter bisa melakukan kunjungan dua kali sehari sehingga pasien lebih terkontrol, kemampuan dokter juga kompeten dalam menangani penyakit pasien. Sesuai dengan Permenkes No 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, dijelaskan bahwa visite dokter spesialis adalah kunjungan dokter spesialis setiap hari kerja sesuai dengan ketentuan waktu kepada setiap pasien yang menjadi tanggung jawabnya, yang dilakukan antara jam 08.00 - 14.00. Jadi dokter spesialis wajib melakukan visite kepada pasiennya minimal sekali sehari dalam waktu yang telah ditentukan sehingga dapat memenuhi standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Jadi RS Imelda wajib melakukan pemantauan secara berkala sehingga konsistensi visite dokter spesialis dapat berjalan dengan baik. Namun pada RS Martha Friska dimana ada masukan pasien agar dokter spesialis dapat melakukan visite dua kali sehari tidak dapat ditanggapi karena dokter spesialis telah melakukan kewajibannya dengan melakukan visite yang telah dijelaskan pada standar pelayanan minimal rumah sakit. Pada RS Martha Friska juga menyediaan satu dokter umum untuk setiap lantai yang bertugas melakukan visite dan memantau keadaan pasien, walaupun dokter spesialis sudah
melakukan visite, dokter umum juga melakukan visite pemantauan keadaan pasien sesuai dengan shift masing-masing.
Hal yang telah diuraikan di atas sejalan dengan penelitian Cahyaningrum (2013) bahwa kualitas dokter memengaruhi keputusan pasien untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Penelitian yang dilakukan oleh Fiil (2012) menyatakan bahwa ada hubungan kualitas pelayanan dokter terhadap keputusan pasien untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Asmita (2008) dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa kualitas pelayanan dokter mencakup keterampilan teknis medis, sikap, penyampaian informasi dan ketersediaan waktu konsultasi dokter berpengaruh terhadap loyalitas pasien dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian di atas juga didukung oleh teori Andersen (2001) yang menyatakan bahwa faktor organisasi merupakan faktor pemungkin individual yang memengaruhi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Teori Alan Dever (1984) juga menjelaskan bahwa ketersediaan sumber daya yang mencukupi dari segi kualitas maupun kuantitas sangat memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan.
5.4.2 Ketersediaan Fasilitas Penunjang Medis
Fasilitas penunjang medis merupakan fasilitas yang selalu dipakai oleh tenaga medis (dokter) dalam membantu menegakkan diagnosis dan memberikan terapi yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden di RS Martha Friska lebih banyak mengeluh tentang ketersediaan fasilitas penunjang medik dibandingkan dengan RS Imelda Pekerja Indonesia. Hasil uji beda menunjukkan ada perbedaan
ketersediaan fasilitas penunjang medis antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska.
Hasil wawancara di RS Imelda Pekerja Indonesia, pasien mengatakan bahwa pemeriksaan penunjang seperti cek darah, rontgen dan CT Scan tersedia dan dilakukan di dalam rumah sakit, hanya saja pada pasien yang menderita keluhan benjolan sebelum dilakukan tindakan operasi perlu dilakukan pemeriksaan jaringan pada benjolan tersebut, untuk memeriksakan jaringan tersebut dapat dilakukan di rumah sakit, hanya saja apabila dokter pemeriksa jaringan berhalangan datang maka pasien diarahkan ke luar rumah sakit untuk memeriksakan jaringan benjolannya dan setelah memiliki hasil tes jaringan pasien baru dapat dilakukan tindakan operasi untuk benjolan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara di RS Martha Friska Medan, pasien mengatakan untuk pelayanan foto rontgen masih dilakukan didalam RS Martha Friska tetapi untuk pemeriksaan CT Scan tidak dapat dilakukan karena alat CT Scan di RS sedang rusak sehingga pasien diarahkan ke RS Martha Friska Internasional Multatuli untuk menjalani pemeriksaan CT Scan dengan memakai ambulans rumah sakit. Namun demikian pasien tidak merasa keberatan akan hal ini dikarenakan disediakan sarana transportasi serta pelayanan yang diberikan oleh dokter yang memuaskan bagi pasien. Responden juga memberikan masukan agar pihak RS seharusnya segera memperbaiki alat CT Scan yang rusak sehingga dapat memudahkan pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang di dalam rumah sakit.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraheni (2012) yang menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh
ketersediaan fasilitas rumah sakit. Gunawan (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tenaga medis yang tersedia, ruang perawatan yang nyaman dan fasilitas yang memadai berpengaruh positif terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hal ini juga didukung oleh teori Andersen (2001) dimana faktor organisasi yakni ketersediaan fasilitas kesehatan mencakup fasilitas penunjang medis merupakan faktor pemungkin individu yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan.
5.5 Implikasi Penelitian
Implikasi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat perbedaan jumlah dan jenis spesialistik di antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Hal ini berimplikasi agar ke depannya pihak rumah sakit dapat lebih memperhatikan jumlah dan jenis spesialis yang sudah ada sehingga konsistensi pelayanan dapat selalu terjaga.
2. Terdapat perbedaan ketersediaan fasilitas penunjang medis di antara RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Martha Friska. Hal ini berimplikasi agar pihak rumah sakit dapat lebih memerhatikan ketersediaan fasilitas penunjang medis mencakup pemeliharaan mesin sehingga pelayanan fasilitas penunjang medis untuk menunjang dokter dalam menegakkan diagnosis dapat selalu berjalan lancar.
5.6 Keterbatasan Penelitian
1. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner sehingga kualitas data yang dihasilkan bersifat subjektif dan kebenaran data yang dikumpulkan tergantung pada kejujuran responden saat mengisi kuesioner.
2. Jumlah sampel dalam penelitian yang kecil.
3. Peneliti tidak meneliti semua faktor yang terdapat dalam model pemanfaatan pelayanan kesehatan Andersen (2001), sehingga perlu adanya peneliti lain yang
3. Peneliti tidak meneliti semua faktor yang terdapat dalam model pemanfaatan pelayanan kesehatan Andersen (2001), sehingga perlu adanya peneliti lain yang