BAB I PENDAHULUAN
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.2 Manfaat Penelitian
1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis dalam disiplin ilmu yang penulis tekuni.
2. Sebagai tambahan informasi dan bahan masukan bagi mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya mahasiswa/i Departemen Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.
3. Sebagai sarana informasi kepada masyarakat untuk dapat mengetahui peranan Perum Pegadaian.
4. Sebagai bahan masukan bagi Perum Pegadaian untuk mengambil kebijakan sehubungan dengan menigkatkan pelayanan kepada masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pembangunan Nasional
2.1.1 Pemerataan Pembangunan Nasional
Dalam TAP MPR No II/MPR/1993 mengenai GBHN, dinyatakan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (TAP MPR No.II/MPR/1993 GBHN, Tujuan Pembangunan Nasional).
Pelaksanaan pembangunan nasional yang dimulai sejak tahun 1969 sampai sekarang telah berhasil memajukan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini merupakan hasil nyata dari pelaksanaan berbagai program pembangunan baik sektoral maupun regional secara langsung maupun tidak langsung yang ditujukan untuk menanggulangi kemiskinan masyarakat.
Adapun 3 faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemiskinan yaitu : 1. Faktor alam.
2. Faktor sosial ekonomi, yaitu tingkat partisipasi angkatan kerja yang rendah, waktu kerja yang rendah, tingkat mobilitas tenaga kerja yang masih rendah.
3. Faktor sosial budaya, yaitu tingkat pendidikan yang rendah, etos kerja yang rendah yaitu merasa puas diri dan pola/gaya hidup yang seadanya.
Masalah kemiskinan tidak terlepas dari kebijaksanaan dan program-program perubahan yang dilaksanakan, dimana program-program tersebut bertujuan untuk mewujudkan pemerataan pendapatan sesuai dengan tujuan trilogi pembangunan.
Yang menjadi patokan dalam menetapkan garis kemiskinan adalah kebutuhan minimum yang meliputi 9 bahan pokok kehidupan sehari-hari.
Tingkat kesejahteraan masyarakat sangat ditentukan oleh pendapatannya.
Dengan demikian, tingkat kebutuhan konsumsi keluarga atau kebutuhan fisik minimum yang dapat dipenuhi akan sangat ditentukan oleh pendapatan yang diterima masyarakat. Untuk memproses pendapatan tersebut banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya tingkat pendidikan formal, jumlah keluarga yang ditanggung, dan jumlah hari kerja.
2.1.2 Pengertian Faktor Sosial Ekonomi
Masyarakat merupakan suatu kumpulan individu yang melakukan interaksi, dimana setiap individu saling membutuhkan satu sama lainnya. Pada hakikatnya manusia mempunyai kecenderungan untuk tetap hidup guna mengembangkan bakat dan kehidupan sosialnya. Sebagai konsekuensinya, mereka harus memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer maupun sekunder agar dapat hidup dengan layak sesuai dengan harkatnya sebagai anggota masyarakat ( Sumardi dan evers, 1989:129).
Dalam usaha memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak terbatas, sedangkan dilain pihak alat-alat untuk memenuhi kebutuhan sifatnya terbatas, maka manusia cenderung untuk memenuhi kebutuhan mereka menurut skala kepentingannya.
Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar sangat erat kaitannya dengan pendapatan yang diperoleh. Selain faktor ekonomi, faktor sosial terutama pendidikan dan jumlah anggota keluarga dapat juga mempengaruhi pendapatan seseorang. Jumlah anggota keluarga yang lebih banyak mendorong mencari nafkah yang lebih banyak untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Pengertian ilmu ekonomi itu sendiri yaitu ilmu sosial yamg mempelajari cara mengelola sumber daya ekonomi yang terbatas. Maka faktor sosial dan ekonomi sangat berkaitan satu sama lainnya.
Status (kedudukan) dapat diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, yang berhubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lainnya dalam kelompok-kelompok yang lebih besar.
Status sosial (kedudukan sosial) dapat diartikan sebagai tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya (Soekanto, 1987:216) .
Dalam kehidupan di masyarakat, pada umumnya berkembang dua jenis status sosial yaitu:
1. Asribed status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena keturunan atau kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Pada umumnya satatus sosial jenis ini dijumpai pada masyarakat-masyarakat dengan sistem berlapis-lapis yang tertutup.
2. Achived status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan atau satatus ini diperoleh berdasarkan kemampuan dan kecakapan masing-masing dalam mencapai tujuannya, misalnya seseorang dapat menjadi hakim apabila memenuhi persyaratan melelui pendidikan yang sesuai dengan bidang kehakiman yaitu sarjana hukum.
Status sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam struktur sosial masyarakat, yang disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dibawakan oleh si pembawa status ( Malo dan Trinoningtias, 1982:55 ).
Untuk melihat tingkatan status sosial ekonomi seseorang ditengah-tengah masyarakat, maka banyak faktor yang harus dilihat, baik itu dari pandangan sosial maupun ekonomi. Sebab di dalam suatu masyarakat pasti ada sesuatu yang dihargainya. Suatu barang yang dihargai di masyarakat tersebut akan menjadi sebab timbulnya sistem yang berlapis-lapis dalam masyarakat.
Suatu barang yang dihargai di masyarakat itu mungkin uang atau benda-benda yang bernilai ekonomi, mungkin tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesholehan dalam agama, atau mungkin, juga keturunan dari keluarga terhormat ( Soemardjan dan soemantri, 1964: 253 )
Dengan perkataan lain, faktor-faktor tersebut diatas sangat menentukan tinggi rendahnya status seseorang dalam masyarakat, sebab barang siapa yang memiliki sesuatu yang dihargai tadi dalam jumlah banyak, akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang menduduki tingkatan/lapisan sosial yang tinggi. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak memenuhi sesuatu yang dihargai tersebut dalam masyarakat hanya mempunyai kedudukan rendah
(Soekanto, 1987 : 27 ).
Dari paparan dan penjelasan di atas, dapatlah kita lihat bahwa penggolongan seseorang itu termasuk kedalam status sosial ekonomi tinggi, sedang dan rendah dalam lapisan masyarakat adalah berdasarkan banyak tidaknya bentuk penghargaan masyarakat kepadanya. Demikian juga terhadap pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang mampu menambah cakrawala berfikirnya seperti: pengetahuan/pendidikan, dan alat komunikasi lainnya serta alat transportasi yang notabene harus diimbangi dengan kemampuan kondisi keuangan seseorang. Sebab pada saat sekarang ini semua fasilitas yang diperlukan manusia tidak terlepas dari kemampuan seseorang untuk membeli dan membiayainya.
Ada beberapa ukuran yang bisa dipergunakan untuk menggolongkan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan yaitu ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, ukuran ilmu pengetahuan (pendidikan) (Soemardjan,1964:157).
Sedangkan Melly G. Tan menyatakan untuk melihat kedudukan sosial ekonomi seseorang adalah pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan/pendapatan dan berdasarkan inilah maka masyarakat itu dapat digolongkan kedalam kedudukan sosial ekonomi tinggi, sedang dan rendah.
2.1.3 Indikator Faktor Sosial Ekonomi Masyarakat
Beberapa indikator yang pada umumnya digunakan sebagai faktor sosial ekonomi masyarakat diantaranya adalah :
2.1.3.1 Pendapatan (Faktor Ekonomi Masyarakat)
Pendapatan merupakan balas jasa yang diperoleh seseorang atas pekerjaan yang telah dilakukan atau diselesaikannya, pendapatan sering disebut gaji atau upah.
Istilah gaji biasanya digunakan untuk para pegawai atau karyawan sedangkan upah digunakan untuk para buruh. Besarnya pendapatan yang diperoleh seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat pendidikan dan pengalaman kerja.
Dengan kemajuan teknologi yang ada maka sebuah perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki pendidikan yang tinggi dan keahlian dibidang tertentu, hal ini bertujuan untuk membantu perusahaan agar bisa terus berkembang, disamping itu seorang karyawan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari
karyawan lain maka ia akan memperoleh pendapatan yang tinggi pula. Dengan demikian semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar pendapatan yang akan diperolehnya.
Faktor lain yang mempengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh seseorang adalah pengalaman kerja yang didapatnya, semakin lama ia bekerja maka semakin banyak pengalaman kerja yang diperolehnya dan hal ini menyebabkan pendapatannya bertambah karena ia dianggap sebagai karyawan senior dalam perusahaan tersebut sehingga perusahaan memberi penghargaan kepadanya lewat pertambahan penghasilannya.
Untuk melihat tingkat kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh, dengan asumsi semakin besar pendapatannya semakin tinggi tingkat kesejahteraan yang ia peroleh karena ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain dilihat dari besarnya pendapatan dapat dilihat pula dari alokasi pengeluaran konsumsi.
Data konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga dapat digunakan sebagai suatu bahan evaluasi taraf hidup. Dari data konsumsi untuk makanan dan bahan bukan makanan, bisa memberikan gambaran bagaimanakah masyarakat mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, karena makanan merupakan kebutuhan manusia untuk tetap hidup, sehingga sebesar apapun pendapatan seseorang ia akan tetap berusaha untuk mendapatkan makanan yang memadai. Apabila secara kuantitas kebutuhan seseorang
sudah terpenuhi maka biasanya ia akan mementingkan kualitas atau beralih pada pemenuhan kebutuhan bukan makanan.
Dengan demikian ada kecenderungan semakin tinggi pendapatan seseorang semakin berkurang persentase pendapatan yang dibelanjakannya untuk makanan.
Oleh karenanya, komposisi pengeluaran rumah tangganya dapat dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kehidupan masyarakat dengan asumsi bahwa penurunan persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran merupakan gambaran baiknya tingkat kehidupan masyarakat.
Menurut kebiasaan masalah pendapatan, mengandung dua hal utama, yakni:
a. Pendapatan dari hasil kerja seseorang.
b. Pendapatan yang datangnya dari milik (Komaruddin, 1993:97 ).
Pendapatan pribadi (personal income) dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apa pun, yang diterima oleh penduduk suatu negara. Dalam pendapatan pribadi telah termasuk juga pembayaran pindahan yang merupakan pemberian-pemberian yang dilakukan oleh pemerintah kepada berbagai golongan masyarakat di mana para penerimanya tidak perlu memberikan balas jasa atau usaha apapun sebagai imbalannya. Pembayaran pindahan ini antara lain uang pensiun yang dibayarkan kepada pegawai pemerintah yang tidak bekerja lagi, bantuan-bantuan kepada orang cacat, bantuan kepada veteran dan berbagai beasiswa yang diberikan pemerintah.
Pembayaran pindahan ini lazim disebut dengan istilah subsidi atau bantuan.
Sedangkan pendapatan disposibel, yaitu pendapatan pribadi dikurangi oleh pajak yang harus dibayar oleh para penerima pendapatan. Pendapatan disposibel adalah pendapatan yang digunakan oleh para penerimanya untuk membeli barang dan jasa yang mereka inginkan. Tetapi tidak semua pendapatan ini digunakan untuk tujuan konsumsi melainkan sebagian ditabung dan membayar bunga untuk pinjaman yang digunakan untuk membeli barang-barang secara mencicil (Sadono Sukirno, 1997:49).
Sumber pendapatan dan penerimaan menurut BPS dibedakan dalam:
1. Pendapatan yang bersumber dari:
a. Penghasilan gaji dan upah
b. Penghasilan dari usaha sendiri dan pekerjaan bebas c. Penghasilan dari pemilikan harta
2. Transfer yang bersifat redistributif, terutama terjadi dari transfer pendapatan yang tidak mengikat dan biasanya bukan merupakan imbalan atas penyerahan barang, jasa atau harta milik (Sumber: www.bps.go.id).
2.1.3.2 Pendidikan ( Faktor Sosial Ekonomi)
Telaah mengenai peran pendidikan dalam pembangunan biasanya berpangkal kepada saran pendapat bahwa pendidikan merupakan prasyarat untuk meningkatkan martabat manusia. Melalui pendidikan masyarakat mendapat kesempatan untuk membina kemampuannya secara wajar. Perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan ekonomi untuk mengupayakan perbaikan dan kemajuan dalam kehidupan
masyarakat. Satu sama lain akan mendukung terlaksananya pemerataan pendapatan masyarakat (Djojohadikusumo, 1994:214).
Jadi, tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kehidupan masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat diukur dengan persentase jumlah penduduk yang memperoleh pendidikan. Ukuran yang lebih umum dan sederhana adalah persentase jumlah penduduk yang dapat membaca dan menulis. Apabila semakin tinggi persentase jumlah ukurannya, maka semakin sejahtera dan sebaliknya semakin rendah semakin tidak sejahtera.
Selanjutnya ukuran tersebut diatas ditentukan oleh banyak faktor- faktor yang paling nyata, yaitu tinggi rendahnya tingkat ekonomi masyarakat tersebut. Pada lingkungan masyarakat yang ekonominya rendah, tingkat pendidikannya juga cenderung rendah. Lingkungan sosial akibat keadaan ekonomi yang rendah, sering kali menghambat tingkat pendidikan masyarakat tersebut.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat dan memiliki makna lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.
a) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b) Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
c) Pendidikan Menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun.
d) Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselengggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran pada pendidikan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA.
Jenis Pendidikan
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
a) Pendidikan Umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
b) Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tetentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jenis ini termasuk kedalam pendidikan formal.
c) Pendidikan Akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tetentu.
d) Pendidikan Profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.
e) Pendidikan Vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).
f) Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
g) Pendidikan Khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan khususnya di Indonesia, yaitu:
1. Faktor Internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
2. Faktor Eksternal, adalah masyarakat pada umumnya dimana masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan (Sumber: www.wikipedia.org).
Melalui pendidikan masyarakat mendapat kesempatan untuk membina kemampuannya secara wajar. Perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan ekonomi untuk mengupayakan perbaikan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Satu sama lain akan mendukung terlaksananya pemerataan pendapatan masyarakat. Jadi tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kehidupan masyarakat.
2.1.3.3 Jumlah Tanggungan Keluarga (Faktor Sosial Masyarakat)
Selain pendidikan, indikator faktor sosial masyarakat lainnya adalah jumlah tanggungan keluarga. Yang dimaksud dengan tanggungan keluarga adalah jumlah tanggungan yang terdiri dari anak, istri, serta famili yang tinggal dalam satu rumah dan menjadi tanggungan kepala keluarga, tetapi jumlah anak tidak selalu berarti sama dengan jumlah tanggungan, hal ini disebabkan anak sewaktu-waktu dapat memisahkan diri, misalnya membentuk keluarga baru.
Beberapa faktor yang menyebabkan jumlah tanggungan dalam satu keluarga besar antara lain telah berkeluarga pada usia muda, kelahiran anak yang begitu dekat, adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki dan sanak saudara yang belum bisa berusaha sendiri sehingga harus tinggal bersama keluarga yang sudah cukup mantap.
Semakin banyak jumlah tanggungan maka semakin besar pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain, hal ini membuat kepala keluarga untuk lebih giat mencari pekerjaan tambahan atau sambilan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
2.2. Jasa
2.2.1. Pengertian Jasa
Philip Kotler merumuskan jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menyebabkan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin atau tidak berkaitan dengan produk fisik (Philip Kotler, 2001:603).
Zithaml dan Bitner mendefinisikan jasa itu mencakup semua aktifitas ekonomi yang keluarannya bukanlah produk atau konstruksi fisik, yang secara umum konsumsi dan produksinya dilakukan pada waktu yang sama, dan nilai tambah yang diberikannya dalam bentuk (kenyamanan, hiburan, kecepatan, dan kesehatan) yang secara prinsip intangible bagi pembeli pertamanya (Yazid, 2003:3).
2.2.2. Karakteristik Jasa
1. Tidak berwujud (intangible)
Jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud. Tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli.
2. Tidak dapat dipisahkan (Inseparability)
Umumnya jasa dihasilkan dan diproduksi secara bersamaan. Jika jasa itu dilakukan oleh orang, maka penyedianya adalah bagian dari jasa.
3. Bervariasi (Variability)
Jasa sangat bervariasi, karena tergantung pada siapa yang meyediakan dan kapan serta dimana jasa itu dilakukan.
4. Tidak tahan lama (Perishability)
Jasa tidak disimpan. Daya tahan suatu jasa tergantung suatu situasi yang diciptakan oleh berbagai faktor (Philip Kotler, 2001:605).
2.2.3. Klasifikasi Jasa
1. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Karakteristik Tindakan Jasa
a. Tindakan nyata yang diarahkan kepada konsumen yaitu kepada badan manusia, seperti pemotongan rambut, operasi plastik.
b. Tindakan nyata yang diarahkan kepada barang atau sesuatu yang dimiliki konsumen, seperti pemotongan rumput taman, jasa pengantaran barang.
c. Tindakan tidak nyata yang dirahkan kepada intelektualita konsumen, seperti penyiaran dan pendidikan.
d. Tindakan tidak nyata yang dilakukan terhadap asset intengibel konsumen seperti asuransi, investasi di bank, dan konsultasi.
2. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Cara Penyajian/Interaksi Sistem penyajian jasa ditentukan oleh dua komponen, yaitu:
a. Komponen interaksi, perlu tidaknya interaksi fisik antara personel kontak dengan konsumen akan menentukan perlu tidaknya konsumen datang ke tempat jasa diproses, seperti tukang cukur, teater, jasa perbaikan atau pengecatan gedung/rumah, dll. Interaksi fisik ini juga ditentukan oleh dapat atau tidaknya transaksi jasa dilaksanakan dengan tanpa kontak langsung, misalnya dengan telepon.
b. Komponen geografis, cara atau sistem penyajian jasa ditentukan oleh sebaran outlet tempat organisasi melayani konsumen, yaitu di satu atau beberapa outlet/lokasi seperti pelayanan bus atau rantai fast food .
3. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Sifat Permintaan
Permintaan jasa sangat bervariasi, ada permintaan yang bisa diprediksi (seperti restoran makanan cepat saji memprediksi jumlah permintaan pada jam-jam makan siang), ada pula yang random (seperti jumlah pengunjung toko eceran dari hari ke hari, jumlah pengunjung restoran makanan cepat saji di luar jam makan siang, dan sebagainya).
4. Klasifikasi Jasa Atas Dasar Jenis Hubungan Dengan Konsumen
a. Penyajian jasa yang kontinyu yaitu hubungan keanggotaan seperti asuransi, perbankan, dll, hubungan tidak formal seperti stasiun radio, jalan raya, dll.
b. Transaksi diskrit yaitu: hubungan keanggotaan seperti tiket perjalanan PP, reparasi dengan garansi, telepon jarak jauh, dll, hubungan tidak formal seperti jasa pos, jalan tol, bioskop, dll (Yazid, 2003:32).
2.2.4 Macam-Macam Jasa
Berkaitan dengan macam jasa, Aubrey Wilson dalam buku Pemasaran Jasa mengutip pendapat dari Green Field, membedakan jasa dalam dua kelompok, yaitu:
1. Jasa Konsumen
Sebagai jasa yang dimanfaatkan oleh rumah tangga dan pribadi sesuai dengan kemampuan rumah tangga. Jasa untuk konsumen digambarkan sebagai pengeluaran
oleh orang perorang dan bukan organisasi, yang tidak mengakibatkan adanya kepemilikan barang. Antara lain menyangkut perawatan pribadi, kesejahteraan (asuransi perumahan), hiburan dan transportasi.
2. Jasa Produsen
Sebagai jasa yang dimanfaatkan oleh organisasi industri atau lembaga. Jasa untuk produsen dapat dikategorikan menjadi:
a. Jasa peralatan yaitu semua pelayanan jasa yang ada kaitannya dengan instalasi, penyelenggaraan perawatan dan perbaikan pabrik, alat pelengkap dan alat operasi, berkas dan perabotan.
b. Jasa pemberian kemudahan yaitu semua pelayanan jasa untuk menyediakan sarana operasi dan organisasi yang produktif termasuk pengadaan uang, penyimpanan, pengangkutan, promosi dan asuransi.
c. Jasa berupa nasehat dan konsultasi yaitu semua pelayanan jasa yang menyampaikan keahlian dan kecakapan khusus maupun umum termasuk penasehat , penggunaan dan pencarian sumber-sumber daya, riset, pendidikan, organisasi dan pemasaran (1982:20).
2.3. Pegadaian
2.3.1. Sejarah pegadaian
Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan
‘BANK VAN LEENING’ yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.
Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari pemerintah
Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari pemerintah