• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pegadaian

2.3.5 Peranan Perum Pegadaian

Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian mempunyai peranan penting dalam penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan pengembangan usaha diperlukan dana yang cukup besar. Sumber dana yang selama ini dipergunakan untuk keperluan penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai berasal dari dana intern Perusahaan dan pinjaman dari lembaga keuangan masih belum mencukupi, maka diperlukan dana dari sumber lain yang sah.

Perusahaan Umum Pegadaian sebagai Badan Usaha Milik Negara yang melaksanakan tugas pelayanan kepada masyarakat di bidang penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai, perlu didukung dengan partisipasi masyarakat berupa keikutsertaan dalam pendanaan.

Dengan persaingan yang begitu ketat saat ini, kualitas jasa mempunyai peranan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan jasa pegadaian.

Mempertahankan konsumen menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan jasa terutama Perum Pegadaian.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan langkah dan prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan untuk menguji hipotesis penelitian (Muhammad Teguh, 1999:7).

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan di Kotamadya Medan tepatnya di Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat terhadap pemanfaatan jasa Perum Pegadaian Adapun faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat adalah Pendapatan nasabah, Pendidikan nasabah, Jumlah tanggungan keluarga.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data Primer yang digunakan dalam Penulisan skripsi ini adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan, kuisioner yang telah dipersiapkan oleh penulis.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan, buku literatur, media internet serta bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.3 Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Sugiyono (2003 : 78) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditetapkan kesimpulannya.

Berdasarkan pendapat diatas, yang menjadi populasi penelitian ini adalah keseluruhan pengguna jasa Perum Pegadaian, yang berjumlah 547.731 orang selama tahun 2007.

2. Sampel

Teknik penerikan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah Simple Random Sampling dengan mempergunakan rumus taro Yamane yang dikutip Rakhmat Jalaluddin (2002 : 82), yaitu :

2+1

= Nd n N

Keterangan:

n = Jumlah Sampel N= Populasi

d= Presisi (10%)

Maka :

Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel sebanyak 100 orang yang ditetapkan sebagai responden. yaitu para nasabah pengguna jasa Perum Pegadaian dimana teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling yaitu secara acak.

3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:

1. Observasi

Observasi adalah salah satu teknik operasional pengumpulan data melalui proses pencatatan secara cermat dan sistematis terhadap obyek yang diamati secara langsung, dalam hal ini adalah nasabah.

2. Wawancara

Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data dan informasi dengan mewawancarai pimpinan atau pejabat-pejabat berwenang di Perum Pegadaian yaitu di kantor Daerah I Medan.

3. Kuisioner (Daftar Pertanyaan)

Kuisioner adalah salah satu teknik pengumpulan data dan informasi dengan cara menyebarkan angket (daftar pertanyaan) yang harus dijawab secara tertulis oleh responden yang dijadikan sampel penelitian. Dalam hal ini yang menjadi responden adalah para nasabah.

4. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah mengumpulkan data dan informasi melalui telaah berbagai literatur yang relevan atau berhubungan dengan permasalahan yang ada di dalam penulisan skripsi ini, dapat diperoleh dari buku-buku, majalah, koran, internet dan lain-lain.

3.5. Pengolahan Data

Penulis melakukan pengolahan data dengan metode statistika menggunakan program komputer E-Views 4.1 dalam penulisan skripsi ini.

3.6 Model Analisis Data

Model analisis yang digunakan dalam menganalisa data adalah model ekonometrika. Teknik analisis yang digunakan adalah model kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square/OLS).

Adapun persamaan fungsi dasarnya adalah sebagai berikut :

Y=f(X1,X2,X3)………..(1)

Kemudian fungsi tersebut diatas dispesifikasikan kedalam kedalam model ekonometrika dengan persamaaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Y=α+β1X12X23X3+μ……….(2) Dimana:

Y = Pemanfaatan jasa Perum Pegadaian (jumlah pinjaman/Rp) α = Intercept

X1 = Pendapatan Nasabah(Rp/Bulan) X2 =Pendidikan akhir nasabah(tahun)

X3 = Jumlah Tanggungan Kepala Keluarga(Orang) β1β2β3 = Koefisien Regresi

μ = Term Of Error (kesalahan penggangu)

Bentuk hipotesis sebagai berikut:

, 1>0

X

Y artinya jika kenaikan pada X1 (pendapatan nasabah), maka Y (pemanfaatan

jasa Perum Pegadaian) akan mengalami peningkatan, ceteris paribus.

, 2 <0

X

Y artinya jika terjadi kenaikan pada X2 (pendidikan nasabah), maka Y

(pemanfaatan jasa Perum Pegadaian) akan mengalami penurunan, ceteris paribus.

Y artinya jika terjadi kenaikan pada X3 (jumlah tanggungan keluarga) maka

Y akan mengalami peningkatan ceteris paribus.

3.7 Test of Goodness of Fit (Uji Kesesuaian) 3.7.1. Koefisien determinasi (R-square)

Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel-variabel independen secara bersama mampu memberikan penjelasan mengenai variabel dependen.

3.7.2 Uji F-statistik (Uji keseluruhan)

Uji F-statistik ini adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh koefisien regresi secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Nilai F-hitung dapat di peroleh dengan rumus:

F-hitung =

R² : koefisien determinasi k : jumlah variabel independen n : jumlah sampel

Hipotesis yang digunakan :

Ho : β1β2β3 = 0 Artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

Ha : β1β2β3 ≠ 0 Artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.

3.7.3 Uji t-statistik (Uji Parsial)

Uji t-statistik merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel independen lainnya konstan.

3.8 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik 3.8.1 Multikolinearity

Multikolinearity adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel independen dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel independen lainnya. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearity dapat dilihat dari nilai R2, F-hitung, t-hitung, dan standard error.

Adapun multikolinearity ditandai dengan:

a. Standard error tidak terhingga

b. Tidak ada satupun atau sangat sedikit t-statistik yang signifikan pada

%

c. Terjadi perubahan tanda atau tidak sesuai dengan teori.

d. R2 sangat tinggi (Catur Sugiyanto, 1994:82).

Pengujian yang lain, yang dapat digunakan untuk melihat multikolinearity antar variabel adalah dengan menggunakan uji parsial (Wahyu Ario Pratomo dan Paidi Hidayat, 2007:90).

3.8.2 Heterokedastisitas

Heterokedastisitas terjadi apabila variabel pengganggu (Error Term) tidak mempunyai varian yang konstan (sama) untuk semua observasi sehingga residual variabel pengganggu tidak bernilai nol atau E

( )

µi 2 ≠σ2.

Ini merupakan pelanggaran salah satu asumsi klasik tentang model regresi linier berdasarkan metode kuadrat terkecil biasa. Heterokedastisitas pada umumnya lebih banyak ditemui pada data cross section yaitu data yang menggambarkan keadaan pada suatu waktu tertentu misalnya data hasil suatu survei. Keberadaan heterokedastisitas akan dapat menyebabkan kesalahan dalam penaksiran sehingga koefisien regresi menjadi tidak efisien dan dapat meyesatkan (Nachrowi Djalal Nachrowi dan Hardius Usman, 2006:109).

Menguji Heterokedastisitas

Untuk menguji keberadaan heterokedastisitas dilakukan dengan cara uji formal yaitu Uji White (white`s General Heterocedasticity Test).

Uji White memulai pengujiannya dengan membentuk model:

i

i X X X

Y01 12 23 3

Kemudian persamaan di atas, dimodifikasi dengan membentuk regresi bantuan (auxiliary regression) sehingga model menjadi:

i

i α α X α X α X α X α X α X α X X X υ

µ 2 = 0 + 1 1+ 2 2 + 3 3 + 4 12 + 5 22 + 6 32 + 7 1 2 3 + Pedoman dari penggunaan uji white ini adalah tidak terdapat masalah heterokedastisitas dalam hasil estimasi, jika nilai R2 hasil regresi dikalikan dengan

jumlah data atau (n.R2 = χ hitung) lebih kecil dibandingkan 2 χ tabel. Sementara, 2 akan terdapat masalah heterokedastisitas apabila hasil estimasi menunjukkan bahwa χ hitung lebih besar dibandingkan 2 χ tabel (Wahyu Ario Pratomo dan Paidi 2 Hidayat, 2007:98).

3.9 Defenisi operasional

1. Pemanfaatan Jasa Perum Pegadaian (Y) yang diukur dari jumlah pinjaman nasabah (Dalam Rupiah).

2. Pendapatan (Χ ) adalah segala sesuatu bentuk penghasilan yang didapat oleh 1 nasabah baik itu gaji pokok dan juga di luar gaji pokok (Dalam Rupiah per Bulan).

3. Pendidikan (Χ2) adalah jenjang pendidikan terakhir nasabah (diberi nilai/scors SD = 1, SLTP = 2, SLTA = 3, Perguruan tinggi = 4

4. Jumlah tanggungan keluarga (Χ ) Jumlah tanggungan terdiri dari anak, istri 3 serta famili yang tinggal dalam satu rumah dan menjadi tanggungan kepala keluarga.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perum Pegadaian 4.1.1 Sejarah Berdirinya Perum Pegadaian

Lembaga kredit dengan sistem gadai pertama kali hadir di bumi nusantara pada saat VOC berkuasa, adapun institusi yang menjalankan usaha ini adalah Bank Van Leching. Dengan surat keputusan Gubernur Jenderal Van lmhof tanggal 28 agustus 1746 dengan modal sebesar (f 7.500.000) yang terdiri dari modal VOC 2/3 dan sisanya milik swasta. Tahun 1800 VOC dibubarkan dan kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Belanda, semasa pemerintahan Deandels dikeluarkan peraturan tentang macam barang yang dapat diterima sebagai jaminan gadai seperti perhiasan, kain dan lain-lain.

Tahun 1811 kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Inggris -Rafles selaku penguasa mengeluarkan peraturan dimana setiap orang yang dapat mendirikan Bank Van Learnig asal mendapt izin penguasa setempat, yang disebut lisentiestelsel ini ternyata tidak menguntungkan pemerintah. Tahun 1811 lisentiestelsel ini ternyata dihapuskan, dan diganti dengan pachstelsel yang dapat didirikan oleh anggota masyarakat umum dengan syarat sanggup membayar sewa dengan tinggi kepada pemerintah.

Tahun 1816 Belanda kembali menguasai Indonesia, pachstelsel semakin berkembang, namun berdasarkan penelitian pemerintah ternyata banyak pachstelsel

yang melakukan perbuatan sewenang-wenang, seperti menaikan suku bunga, memiliki barang jaminan yang kadaluarsa karena tidak melelangnya, membayar uang kelebihan kepada yang berhak, dengan adanya kekurangan tersebut tahun 1870 pachstelsel dihapuskan dan diganti lagi dengan licentiestelsel, dengan maksud untuk mengurangi pelanggaran yang merugikan masyarakat umum dan pemerintah. Usaha ini tidak berhasil, karena ternyata penyelewengan masih berjalan tanpa menghiraukan peraturan pemerintah sehingga timbul kehendak pemerintah untuk menguasai sendiri badan usaha ini.

Tahun 1900 diadakan penelitian untuk maksud tersebut dan berkesimpulan bahwa badan usaha tersebut cukup menguntungkan. Maka didirikan STBL No. 131 tanggal 1 April 1901 sebagai Pegadaian Negeri pertama di Indonesia, tanggal 1 April inilah kemudian dijadikan hari lahirnya Pegadaian. Pada mulanya uang pinjaman yang diberikan pada peminjam berjumlah f 300 dan tidak dikenakan ongkos administratif.

Karena Pegadaian Negeri ini semakin berkembang dengan baik maka dikeluarkan peraturan monopoli, diantaranya STBL No 749 tahun 1914 dan STBL No 28 tahun 1921.

Sanksi terhadap pelanggaran peraturan monopoli diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana pasal 509. berdasarkan STBL No 266 tahun 1930. pegadaian Negeri dijadikan perusahaan Negara seperti yang dimaksudkan dalam pasal 2 pada Indonesia Bedrijvenwet STBL No 419 tahun 1927.

Proklamasi kemerdekaan RI mengakibatkan pengalihan penguasaan terhadap Pegadaian Negara, yaitu kepada pemerintahan RI melalui peraturan pemerintah No 176 tahun 1961, maka tanggal 1 Januari 1967 Pegadaian Negara dijadikan Perusahaan Negara dan berada dalam lingkup Departemen Keuangan.

Perusahaan Pegadaian Negara ini mengalami kerugian, untuk itu dikeluarkan instruksi Presiden No 17 tahun 1969, undang-undang No 9 tahun 1969 dan peraturan pemerintah No 17 tahun 1969 dan pelaksanaannya.

Menurut surat keputusan Menteri Keuangan RI No .Kep.664/MK/9/1969, yang mulai berlaku 1 Mei 1969, perusahaan Pegadaian Negara menjadi jawatan Pegadaian.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 10 tahun 1990, Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum Pegadaian, dengan status Perum Pegadaian hingga sekarang, diharapkan mampu mengelola usahanya secara profesional, berwawasan bisnis oriental tanpa meninggalkan misinya yaitu pertama turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan dan kebijaksanaan dan program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman atas dar hukum gadai, kedua mencegah timbulnya pegadaian gelap, riba dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Kantor cabang mengadakan transaksi dengan para nasabah, melaksanakan pencatatan dan selanjutnya mengirimkan laporannya ke kantor daerah. Sedangkan Kantor daerah diberi otorisasi penuh untuk mengelola dan mengawasi setiap operasional cabang oleh kantor pusat.

4.1.2 Visi dan Misi Perum Pegadaian

1. VISI : Pada tahun 2013, Perum Pegadaian menjadi ”Champion” dalam pembiayaan mikro dan kecil berbasis gadai dan fiducia bagi masyarakat menengah ke bawah.

2. MISI :

a. Membantu program pemerintah meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya golongan menengah ke bawah dengan memeberikan solusi keuangan yang terbaik melalui penyaluran pinjaman skala mikro, kecil dan menengah atas dasar hukum gadai dan fidusia.

b. Memberikan manfaat kepada pemangku kepentingan dan melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik, secara konsisten.

c. Melaksanakan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya.

Perjalanan Misi Perusahaan Perum Pegadaian :

Misi Pegadaian sebagai suatu lembaga yang ikut menigkatkan perekonomian dengan cara memberikan uang pinjaman berdasarkan hukum gadai kepada masyarakat kecil, agar terhindar dari praktek pinjaman uang dengan bunga yang tidak wajar ditegaskan dalam keputusan Menteri Keuangan No.Kep-39/MK/6/1/1971 tanggal 20 Januari tahun 1970.

Dengan seiring perubahan status perusahaan dari Perjan menjadi Perum pernyataan misi perusahaan perusahaan dirumuskan kembali dengan pertimbangan

jangan sampai misi perusahaan itu justru membatasi ruang gerak perusahaan dan sasaran pasar tidak hany masyarakat kecil dan golongan menengah saja.

Maka terciptalah misi perusahaan Perum Pegadaian yaitu ”Ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah melalui kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang menguntungkan”.

Bertolak dari misi pegadaian tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya pegadaian adalah sebuah lembaga dibidang keuangan yang mempunyai visi dan misi bagaimana masyarakat mendapat perlakuan dan kesempatan yang adil dalam perekonomian.

Dengan tugas pokok sebagai berikut:

a. Membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas dasar hukum gadai kepada para petani, nelayan, pedagang kecil, industri kecil yang bersifat produktif, kaum buruh/pegawai negeri yang ekonomi lemah dan bersifat konsumtif.

b. Ikut serta mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar, ijon, pegadaian gelap, dan praktek riba lainnya.

c. Disamping menyalurkan kredit, maupun usaha-usaha lainnya yang bermanfaat terutama bagi pemerintah dan masyarakat.

d. Membina pola perkreditan supaya benar-benar terarah dan bermanfaat dan bila perlu memperluas daerah operasinya.

4.1.3 Struktur Organisasi Perum Pegadaian

Dalam menjalankan aktifitasnya Perum Pegadaian Medan tentu menetapkan suatu struktur organisasi yang efisien dan efektif dalam menunjang operasional perusahaan. Dalam struktur organisasi yang sesuai akan memudahkan seseorang mengetahui kemana karyawan akan bertanggung jawab atas tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Struktur organisasi Perum Pegadaian Kantor Daerah I Medan dapat dilihat pada halaman berikut:

Fungsi dan tugas masing –masing bagian adalah : a. Pimpinan Wilayah

Kegiatan perusahaan di wilayah terutama bidang operasional serta membantu fungsi-fungsi kantor pusat sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan direksi. Sedangkan fungsi lainnya adalah membantu dalam menetapkan sewa modal, promosi produk yang ditawarkan dan juga mewaikili pusat dalam hal masalah hukum apabila jasa yang ditawarkan mendapat masalah.

b. Inspektur Wilayah

Penilaian atas sistem pengendalian manajemen dan pelaksanaan seluruh kegiatan perusahaan, memberikan saran-saran dan mengawasi kantor wilayah dan kantor cabang dalam menjalankan usahanya.

c. Bagian Operasional/Pemasaran (OPP)

Merencanakan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan operasional dan pengembangan usaha inti, usaha lain dan syariah serta melakukan pemasarannya. Setiap cabang memberikan laporan setiap bulannya baik dari omzet setiap produk yang ada di pegadaian sehingga bagian pengembangan dapat membandingkan perkembangan disetiap kantor cabang di daerah baik itu dari usaha jasa gadai, jasa titipan, jasa taksiran.

d. Asisten Manajer Usaha Inti

Merencanakan, mengkoordinasi, melakukan dan mengawasi pelaksanaan dan kegiatan operasional usaha inti serta melakukan pemasarannya serta mengatur semua kegiatan operasional dan pengembangan.

e. Asisten Manajer Usaha Lain

Merencanakan, mengkoordinasi, melakukan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan operasional usaha lain serta melakukan pemasaran dan bekerja sama dengan staff operasional pengembangan dalam menjalankan usaha lain dan berusaha untuk melakukan promosi kepada masyarakat.

f. Manajer Keuangan

Perbendaharaan serta akuntansi kantor wilayah. Manajer keuangan yang menentukan biaya yang keluar dengan persetujuan pimpinan wilayah.

g. Asisten Manajer perbendaharaan

Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan, mengawasi pengurusan perbendaharaan penagihan dan perpajakan serta menuyusun rencana kerja dan anggaran kantor wilayah dan kantor cabang. Kerja sama dengan para staff keuangan dalam menjalankan fungsinya baik masalah pajak, listrik, telepon dan lainnya yang menyusun biaya-biaya yang harus dikelarkan setiap bulannya selama setahun kedepan.

h. Assisten Manajer Akuntansi

Mengawasi verivikasi dokumen keuangan dan pembukuan serta penyajian laporan keuangan serta mengawasi kinerja satff pegawai dalam melakukan pengelompokkan dokumen keuangan serta pembukuan dan laporan keuangan kantor wilayah dan kantor cabang.

i. Manajer Sumber Daya Manusia

Merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, menegndalikan administrasi dan pengembangan serta kesejahteraan SDM dan bekerja sama dengan staff pegawai dalam melakukan beberapa hal diantaranya pelatihan, diklat untuk pegawai, akses, mutasi, dan lainnya sesuai dengan kewarganegaraan.

j. Asisten Manajer Administrasi dan pengembangan SDM

Merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengawasi proses usulan diklat rekrutmen, promosi, mutasi, pensiunan pegawai, pengangkatan, kepangkatan, dan kenaikan gaji berkala, pemberian penghargaan dan hukuman.

k. Assisten Manajer Perusahaan

Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksankan dan mengawasi proses pembuatan daftar gaji dan tunjangan, asuransi pegawai,cuti, bantuan pembinaan jasmani dan rohani, rekreasi, surat perintah perjalanan dinas serta bantuan lainnya untuk pegawai kantor wilayah dan kantor cabang.

l. Manajer Logistik

Merencanakan, mengendalikan kegiatan dan perlengkapan, rumah tangga dan pengelolaan bangunan pada kantor pusat dan kantor cabang dengan menjaga fasilitas yang dimiliki maupun perawatan bangunannya agar perlengkapan rumah tangga dapat dirawat.

m. Asisten Manajer Perlengkapan dan Rumah Tangga

Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan dan pengurusan tata usaha, kantor, kebutuhan rumah tangga, perlengkapan dan keamanan serta kenderaan dinas.

n. Assisten Manajer Bangunan

Merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan, dan mengawasi pelaksnaan pengurusan administrasi tanah, bangunan dan prasarananya, rencana bangunan, membuat kalkulasi biaya, dan pemeliharaan bangunan, serta pengawasan pelaksanaan pembangunan, perbaikan bangunan di kantor pusat dan kantor cabang.

o. Fungsional Hukum dan Humas

Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan kehumasan, protokol dan hukum di kantor pusat dan kantor cabang.

p. Ahli Taksir

Membantu pimpinan wilayah dalam merencankan, melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan tugas sesuai dengan keahliannya dalam rangka penilaian dan penyesuaian taksiran barang jaminan sesuai dengan prosedur.

q. Fungsional Teknologi Informasi

Melakukan pemeliharaan dan pengamanan database, perangkat lunak, jaringan dan teknis perangkat lunak dan meluakan pemeliharaan dan perawatan database ( data pegawai yang ada di komputer).

4.1.4 Bidang Usaha Perum Pegadaian

Perum Pegadaian adalah suatu lembaga yang menjalankan operasional aktif dalam bidang perkreditan dengan menerima jaminan barang bergerak sebagai agunan atau yang disebut kredit cepat aman, untuk mengenal produk pegadaian ada produk jasa yang ditawarkan. Adapun Produk-produk layanan pegadaian yang ditawarkan saat ini adalah :

A. Produk Layanan Pegadaian 1. Kredit cepat aman (KCA) 2. Kredit Syariah (KRESYARI) 3. Kredit Angsuran Fidusia (KREASI) 4. Kredit Angsuran Gadai (KRASIDA) 5. Kredit Usaha Rumah Tangga (KRISTA) 6. Ar-RahnUsaha Mikro(ARRUM)

7. Gadai Efek (INVESTA)

8. Kiriman uang cepat dan aman (KUCICA) 9. Murabahah Logam Mulia (MULIA) 10. Jasa Taksiran dan Titipan

B. Produk Jasa yang ditawarkan Perum Pegadaian 1. Jasa Kredit cepat aman (KCA)

Merupakan Kredit jangka pendek guna memenuhi kebutuhan nasabah yang yang merupakan fasilitas pinjaman berdasarkan hukum gadai dengan prosedur yang cepat, aman dan murah. Pada operasionalnya, jenis barang bergerak adalah perhiasan, barang elektronik, kenderaan barang-barang rumah tangga, mesin dan tekstil yang dapat dijadikan agunan. Dalam hal pelunasan kredit perlu diketahui bahwa kredit tersebut dapat diliunasi sebelum jatuh tempo. Apabila kredit tidak ditebus sampai batas jangka waktu yang diberikan maka barang jaminan tersebut akan dilelang satu sampai dua minggu dari tanggal jatuh tempo dan saat itu masih diberikan kesempatan untuk menebus barang jaminan, apabila masih belum juga ditebus sampai batas waktu ditentukan dilelang di depan umum.

2. Jasa Taksiran

Jasa yang diberikan kepada masyarakat selain jasa kredit cepat aman (KCA) adalah jasa taksiran. Jasa taksiran ini diberikan kepada masyarakat dimulai pada tahun 1994. Pegadaian melayani masyarakat yang ingin mengetahui keaslian serta mutu dari perhiasannya. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah, pegadaian melakukan berbagai cara dan upaya untuk mewujudkan pelayanan yang mantap dan terbaik seperti:

a. Penyediaan, pelatihan karyawan untuk menghasilkan penaksir yang benar-benar ahli dan terampil dalam menaksir nilai suatu barang berharga.

b. Penyediaan sarana-sarana lain eperti mempergunakan teknologi yang lebih baik untuk membantu juru taksir dalam menentukan nilai suatu barang.

Barang-barang yang ditaksir terbatas hanya barang-barang berharga seperti emas, perak, berlian dan lain-lain.

3. Jasa Titipan

Jasa titipan ini dibrikan kepada masyarakat yang menginginkan keamanan barang mereka selama mereka berpergian untuk waktu yang lama. Penitipan barang-barang ini berlaku seperti surat berharga dan barang-barang-barang-barang berharga lainnya.

Jasa titipan adalah suatu bentuk layanan penyimpanan barang untuk dititipkan sementara di cabang pegadaian. Yang dimaksud dengan titipan adalah:

1. Barang berharga yang berdasarkan ketentuan yang berlaku diterima sebagai barang gadaian.

2. Surat-surat berharga atau dokumen lain yang oleh pemiliknya dianggap berharga.

Syarat-syarat penitipan barang berdasarkan ketetapan yang dibuat oleh pihak Perum Pegadaian adalah:

1. Barang pegadaian tidak menngusut atau tidak bertanggung jawab atas asal usul barang titipan, status barang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik.

2. Perum Pegadaian tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau penyusutan yang diakibatkan oleh proses alamiah barang itu sendiri.

3. Dalam hal penitip meninggal dunia, barang titipan hanya dapat diambil oleh salah seorang ahli waris dan dengan surat kematian dari yang berwenang.

4. Untuk barang yang rusak sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan oleh kesalahan pegadaian akan diganti oleh Pegadaian sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5. Perum Pegadaian bertanggung jawab atas keadaan barang titipan sampai jatuh

5. Perum Pegadaian bertanggung jawab atas keadaan barang titipan sampai jatuh