• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penulisan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 18-0)

Bab I Pendahuluan

1.4 Manfaat Penulisan

1.4 Manfaat Penulisan

Penulis sangat berharap agar karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, terutama untuk:

a. Lahan Praktek

Perawat ruangan mampu mengaplikasikan intervensi keperawatan serta mengetahui rasional tindakan keperawatan yang diberikan pada klien dengan gagal jantung (CHF) dalam upaya mengurangi keluhan sesak yang dirasakan.

b. Institusi Pendidikan

Melalui penulisan kali ini diharapkan pada institusi pendidikan agar mampu melakukan berbagai penelitian lainnya yang dapat menambah khazanah ilmu keperawatan, khususnya pada pasien dengan gagal jantung.

c. Mahasiswa FIK

Karya ilmiah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang sedang mempelajari asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung.

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Fisiologi Jantung

Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada (toraks), diantara kedua paru. Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang terdiri atas 2 lapisan :

Perikardium parietalis, yaitu lapisan luar yang melekat pada tulang dada dan selaput paru.

Perikardium viseralis, yaitu lapisan permukaan dari jantung itu sendiri, yang juga disebut epikardium.

Diantara kedua lapisan selaput tersebut, terdapat sedikit cairan pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan yang timbul akibat gerak jantung saat memompa. Cairan ini disebut cairan perikardium.

Gambar 1: Letak jantung pada manusia

Gambar 2: Anatomi organ jantung

Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium (serambi), dan dua ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel (bilik). Atrium kanan berfungsi sebagai penampungan (reservoir) darah yang rendah oksigen dari seluruh tubuh.

Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui 4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri, dan selanjutnya ke seluruh tubuh melalui aorta. Kedua atrium tersebut dipisahkan oleh sekat, yang disebut septum atrium.

Fungsi ventrikel kanan yaitu menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Fungsi ventrikel kiri menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan ke seluruh tubuh melalui aorta. Kedua ventrikel ini dipisahkan oleh sekat yang disebut septum ventrikel.

Gambar 3: Pembagian ruang jantung

Fungsi utama jantung adalah sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah agar darah dapat mengalir ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah arteri maupun vena. Selain itu jantung juga berfungsi sebagai suatu sistem sirkulasi yang menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida).

Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Keadaan ini biasa disebut sebagai sirkulasi paru. Kemudian dilanjutkan dengan sirkulasi sistemik dimana jantung akan mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh.

2.2 Definisi Congestive Heart Failure (CHF)

Congestive Heart Failure atau gagal jantung kongestif adalah gangguan multisistem yang terjadi apabila jantung tidak lagi mampu memompa darah yang mengalir ke dalamnya melalui sistem vena (Robbins, 2007).Keadaan ini merupakan keadaan patofisiologis dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Dapat pula digambarkan sebagai suatu keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompensatoriknya. Gagal jantung merupakan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan adanya gejala gagal jantung seperti: sesak nafas, lelah saat beraktivitas, adanya tanda-tanda retensi cairan seperti kongesti paru atau bengkak di pergelangan kaki, serta adanya bukti objektif kelainan struktur dan fungsi jantung yang didapatkan dari hasil pemeriksaan lanjutan.

2.3 Etiologi

Etiologi dari gagal jantung meliputi : 1. Kelainan Otot Jantung.

Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup aterosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.

2. Aterosklerosis koroner

Aterosklerosis mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat).

Infark miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.

3. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload)

Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertrofi otot jantung tidak dapat berfungsi secara normal, dan akhirnya akan terjadi gagal jantung.

4. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif

Keadaan ini berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.

5. Penyakit jantung lain

Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme yang biasanya terlihat mencakup gangguan aliran darah melalui jantung (misalnya stenosis katup semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (misalnya tamponade perikardium, perikarditas konstriktif, atau stenosis katup AV), atau pengosongan jantung abnormal (misalnya insufisiensi katup AV). Peningkatan mendadak afterload akibat meningkatnya tekanan darah sistemik (hipertensi “Maligna”) dapat menyebabkan gagal jantung meskipun tidak ada hipertropi miokardial.

6. Faktor Sistemik

Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal: demam, tirotoksikosis), hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk mcmenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia atau anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis (respiratorik atau metabolik) dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung. Disritmia jantung yang dapat terjadi dengan sendirinya secara sekunder akibat gagal jantung, menurunkan efisiensi keseluruhan fungsi jantung.

2.4 Patofisiologi

Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kemampuan kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. Konsep curah jantung paling baik dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV di mana curah jantung (CO: Cardiac output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR: Heart Rate) x Volume sekuncup (SV: Stroke Volume).

Frekuensi jantung adalah fungsi sistem saraf otonom. Bila curah jantung berkurang, sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung. Tetapi pada gagal jantung dengan masalah utama kerusakan dan kekakuan serabut otot jantung, volume sekuncup berkurang dan curah jantung normal masih dapat dipertahankan.

Volume sekuncup, jumlah darah yang dipompa pada setiap kontraksi tergantung pada tiga faktor : preload, kontraktilitas, dan afterload.

Preload adalah sinonim dengan hukum Starling pada jantung yang menyatakan bahwa jumlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan serabut jantung.

Kontraktilitas mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium.

Afterload mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriol.

Pada gagal jantung jika satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut terganggu, hasilnya curah jantung berkurang. Kemudahan dalam menentukan pengukuran hemodinamika melalui prosedur pemantauan invasif telah mempermudah diagnosa gagal jantung kongestif dan mempermudah penerapan terapi farmakologis yang efektif.

2.5 Tanda, Gejala dan Klasifikasi CHF

Menurut New York Heart Association (NYHA), CHF diklasifikasikan sebagai berikut:

Kelas I Berupa penyakit ringan dan masih dapat melakukan aktivitas biasa.

Ketika melakukan aktivitas biasa tidak menimbulkan gejala lelah, palpitasi, sesak nafas atau angina.

Kelas II Aktivitas fisik sedikit terbatas. Ketika melakukan aktivitas biasa dapat menimbulkan gejala lelah, palpitasi, sesak nafas atau angina tetapi akan merasa nyaman ketika istirahat.

Kelas III Ditandai dengan keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan aktivitas. Ketika melakukan aktivitas yang sangat ringan dapat menimbulkan lelah, palpitasi, sesak nafas.

Kelas IV Keluhan-keluhan seperti gejala isufisiensi jantung atau sesak nafas sudah timbul pada waktu pasien beristirahat. Keluhan akan semakin berat pada aktivitas ringan.

2.6 Manifestasi Klinis CHF

Gambaran klinis gagal jantung sering dipisahkan menjadi efek ke depan (forward) atau ke belakang (backward), dengan sisi kanan atau kiri jantung sebagai titik awal pandang.

Jenis gagal jantung Efek forward Efek backward

Gagal jantung kiri Penurunan tekanan darah sistemik Kelelahan

Peningkatan kecepatan denyut jantung

Penurunan pengeluaran urine

Ekspansi volume plasma

Peningkatan kongestif paru, terutama sewaktu berbaring

Dispnea

Apabila memburuk, terjadi gagal jantung kanan

Gagal jantung kanan Penurunan aliran darah paru

Penurunan oksigenasi darah

Kelelahan

Penurunan tekanan darah sistemik dan semua tanda-tanda gagal jantung kiri

Peningkatan penimbunan darah dalam vena, edema pergelangan kaki dan tungkai

DVJ

Hepatomegali dan splenomegali

2.7 Gagal Jantung Kanan

Bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti visera dan jaringan perifer.

Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kernbali dari sirkulasi vena. Manifestasi klinis yang tampak meliputi edema ekstremitas bawah (edema dependen), yang biasanya merupakan pitting edema, pertambahan berat badan, hepatomegali (pembesaran hepar), distensi vena leher, asites (penimbunan cairan di dalam rongga peritoneum), anoreksia dan mual, nokturia dan lemah. Edema dimulai pada kaki dan tumit (edema dependen) dan secara bertahap bertambah ke atas tungkai dan paha hingga pada akhirnya ke genital eksterna dan tubuh bagian bawah.. Pitting edema adalah edema yang akan

tetap cekung bahkan setelah penekanan ringan dengan ujung jari, baru jelas terlihat setelah terjadi retensi cairan paling tidak sebanyak 4,5 kg.

Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena di hepar. Bila proses ini berkembang, maka tekanan dalam pembuluh portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar rongga abdomen, suatu kondisi yang dinamakan asites. Pengumpulan cairan dalam rongga abdomen ini dapat menyebabkan tekanan pada diafragma dan distres pernapasan. Anoreksia (hilangnya selera makan) dan mual terjadi akibat pembesaran vena dan stasis vena di dalam rongga abdomen. Nokturia, atau rasa ingin kencing pada malam hari, terjadi karena perfusi renal di dukung oleh posisi penderita pada saat berbaring. Diuresis terjadi paling sering pada malam hari karena curah jantung akan membaik dengan istirahat. Lemah yang menyertai gagal jantung sisi kanan disebabkan karena menurunnya curah jantung, gangguan sirkulasi, dan pembuangan produk sampah katabolisme yang tidak adekuat dari jaringan.

2.8 Gagal Jantung Kiri

Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis yang terjadi meliputi sesak (dispnea), batuk, mudah lelah, denyut jantung cepat (takikardi) dengan bunyi jantung S3, kecemasan dan kegelisahan.

Dispnea terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli yang mengganggu pertukaran gas. Dispnea bahkan dapat terjadi saat istirahat atau dicetuskan oleh gerakan yang minimal atau sedang. Dapat terjadi ortopnea, kesulitan bernapas saat berbaring. Pasien yang mengalami ortopnea tidak akan mau berbaring, tetapi akan menggunakan bantal agar bisa tegak di tempat tidur atau duduk di kursi, bahkan saat tidur. Beberapa pasien hanya mengalami ortopnea pada malam hari, suatu kondisi yang dinamakan Paroxysmal Nokturnal Dispnea (PND). Hal ini terjadi bila pasien, yang sebelumnya duduk lama dengan posisi kaki dan tangan di bawah, pergi berbaring ke tempat tidur. Setelah beberapa jam cairan yang tertimbun di ekstremitas yang sebelumnya berada di bawah mulai diabsorbsi, dan ventrikel kiri yang sudah terganggu, tidak mampu mengosongkan peningkatan volume dengan adekuat.

Akibatnya, tekanan dalam sirkulasi paru meningkat dan lebih lanjut, cairan berpindah ke alveoli hingga timbulah keluhan sesak.

2.9 Pemberian Posisi pada Pasien Gagal Jantung

Pemberian posisi pada klien dengan gagal jantung dimaksudkan untuk mengurangi rasa sesak yang menyerang serta meningkatkan rasa kenyamanan bagi klien. Menurut Angela dalam Supadi, Nurachmah dan Mamnuah (2008), klien dengan penyakit kardiopulmonal yang mengalami keluhan sesak, tidak dapat tidur dalam posisi berbaring melainkan harus dalam posisi duduk atau setengah duduk. Berbagai posisi yang dapat digunakan untuk mengatasi ketidaknyamanan akibat sesak diantaranya adalah posisi fowler, semi fowler, dan posisi ortopnea.

Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana kepala bagian tempat tidur lebih tinggi atau dinaikan. Perry & Potter (2005) menyebutkan bahwa posisi semi fowler adalah posisi dimana kepala dan tubuh dinaikan dengan derajat kemiringan 450, yaitu dengan menggunakan gaya gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen pada diafragma. Serupa dengan kedua posisi ini, posisi ortopnea merupakan adaptasi dari posisi fowler tinggi, dimana klien duduk di tempat tidur atau di tepi tempat tidur dengan meja yang menyilang di atas tempat tidur. Dalam hal tujuan pemberian posisi fowler, semi fowler, dan posisi ortopnea; ketiganya memiliki kesamaan tujuan yaitu untuk mengatasi masalah kesulitan pernafasan dengan meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga meningkatkan ekspansi dada dan ventilasi paru serta meningkatkan rasa nyaman.

Gambar 4: Posisi fowler dan semi fowler

BAB III

PEMBAHASAN KASUS PASIEN KELOLAAN

3.1 Pengkajian Informasi Umum

Nama : Tn.A (47 tahun)

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Tanggal masuk : 21 Mei 2013

Sumber Informasi : Klien, keluarga, status

Keluhan Utama

Sesak yang memberat sejak 1 minggu sebelum masuk RS, disertai perut membuncit dan bengkak pada kedua kaki

Alasan Masuk

Klien merasa perut membengkak dan sesak yang dirasa memberat ± 1 minggu SMRS, berobat di salah satu RS di daerah Subang dan diberikan terapi, namun tidak ada perubahan

Sesak (+), batuk (+)

Kondisi badan semakin kuning Riwayat Penyakit dahulu

Penyakit kuning (icterus obstruktif) (+), Diabetes melitus (-), Hipertensi (+), asma (-), alergi (-), liver (+)

Klien mengatakan sewaktu kecil pernah sakit kuning, kemudian kambuh lagi dalam kurun waktu 8 tahun terakhir ini

Hipertensi tidak terkontrol

Klien dan keluarga mengatakan pernah di rawat dengan keluhan yang sama, namun untuk keluhan sesak dan bengkak baru kali ini saja.

Riwayat Penyakit keluarga

Klien mengatakan keluarga tidak ada yang memiliki penyakit yang sama Aktivitas/Istirahat

Gejala (S) : Klien bekerja sebagai staf di salah satu SMA di daerah Subang.

Aktivitas klien terbatas. Klien mengatakan sesak masih suka dirasakan

baik saat berbaring maupun beraktivitas. Klien mengatakan mudah capek setelah melakukan aktivitas.

Tanda (O) : Status mental compos mentis. GCS E4M6V5. Klien terlihat lemah dan berbaring di tempat tidur. Klien istirahat lebih sering dengan menggunakan bantal tambahan. Terdapat edema pada ekstremitas bawah.

Sirkulasi

Gejala(S) : Klien memiliki riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Klien mengatakan hipertensi tidak dikontrol. Flebitis (-), Edema kaki/kaki (+). Klien mengatakan sesak masih dirasakan mudah capek setelah beraktivitas, yang dirasakan adalah capek setelah dari kamar mandi.

Tanda (O) : TD kiri berbaring 140/90 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 31 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC, pengisian kapiler > 2 detik. Bunyi jantung 1 dan 2 normal, murmur (+), gallop (-), bunyi napas vesikuler (+), wheezing (-), ronkhi (+), membrane mukosa kering, bibir kering, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (+), kuku pucat, distensi vena jugularis (+). Akral hangat (+). Terdapat pitting edema. Derajat pitting edema: 3 Lingkar abdomen 90 cm. Hasil rontgen menunjukan terjadinya kardiomegali, hasil echocardiographi menunjukan adanya penebalan katup mitral.

Integritas Ego

Gejala (S) : Klien mengatakan ingin segera pulang dan kembali bekerja di sekolah. Klien mengatakan mulai tidak betah dan bosan karena sudah lama dirawat.

Tanda (O) : Kondisi umun tenang, kooperatif Eliminasi

Gejala (S) : Klien mengatakan pola BAB lancar dan tidak ada masalah. Klien BAK menggunakan pispot yang diletakan di bawah tempat tidur.

Klien menggunakan diapers untuk BAB, terkadang klien mampu ke kamar mandi namun tidak sering karena klien merasa lemah dan mudah lelah. Klien mengatakan urin berwarna sangat kuning.

Tanda (O) : Bising usus (+), nyeri tekan (-), riwayat

perdarahan (-). Urin output 24 jam: 2300 cc (dengan pemberian Lasix

Makanan/Cairan

Gejala (S) : Klien mengatakan: mengalami penurunan nafsu makan dan jarang menghabiskan makanannya, jarang makan daging atau jeroan, klien terkadang makan ikan asin, klien tahu bahwa minumnya dibatasi oleh dokter dan klien mematuhinya. Klien dibatasi minum 600 cc/ hari Tanda(O) : BB: 57 kg dan TB: 160 cm. Membran mukosa kering, kesulitan

mengunyah (-). Bunyi napas vesikuler (+), Ronkhi (+). Turgor kulit klien elastis. Pada ekstremitas bawah terdapat edema. Bibir sedikit pucat. Penampilan lidah merah muda. Asites (+), kondisi gigi masih lengkap, tidak ada pembengkakan gusi.

Higiene

Gejala(S) : Aktivitas sehari-hari (mobilisasi, higiene, berpakaian, dan toileting) klien dibantu keluarga, karena klien mengatakan mudah capek setelah beraktivitas.

Tanda (O) : Bau badan (+), kondisi kulit kepala bersih dan tidak ada kutu.

Memakai pakaian dibantu keluarga. Kulit klien terlihat kering dan bersisik, terutama di bagian ekstremitas bawah.

Neurosensori

Gejala(S) : Klien mengatakan tidak pusing dan sakit kepala. Klien mengeluh lemah setelah beraktivitas.

Tanda(O) : Status mental compos mentis. Orientasi waktu, ruang dan orang baik.

Ekspresi wajah klien tenang. Memori saat ini dan lalu masih baik.

Pendengaran baik, penglihatan saat pengkajian bagus. Klien tidak menggunakan kaca mata, kontak lensa dan alat bantu dengar.

Nyeri/Kenyamanan

Gejala(S) : Klien mengatakan saat awal-awal merasakan nyeri di perut dan dada sebelah kiri. Nyeri dada tidak menyebar. Klien mengatakan skala nyeri: di perut 5 dan nyeri dada 7. Saat nyeri, klien hanya tidur, dan klien merasakan nyeri berkurang. Sekarang nyeri sudah berkurang dan tidak dirasakan mengganggu. Klien mengatakan mudah capek setelah beraktivitas.

Tanda(O) : Klien terlihat lemah dan hanya berbaring di tempat tidur. Klien tidak memperlihatkan ekspresi wajah kesakitan.

Pernafasan

Gejala (S) : Klien mengatakan merasa sesak saat berbaring dan saat tidur malam hari. Klien mengeluh adanya batuk. Klien sudah berhenti merokok sejak satu tahun ini. Klien mulai merokok sejak SMA, dan biasanya menghabiskan hamper satu bungkus per hari.

Tanda (O) : Bunyi napas vesikuler (+), wheezing (-), ronkhi (+), penggunaan otot- otot aksesori (+), RR: 31 x/menit. Taktil fremitus tidak terkaji, batuk (+). Pengisian kapiler lambat dan kuku serta bibir terlihat pucat. Klien terpasang nasal kanul oksigen 3 tpm/L

Keamanan

Gejala(S) : Kerusakan penglihatan (-), kerusakan pendengaran (-), alergi (-).

Klien mengatakan mudah capek setelah beraktivitas, terutama setelah dari kamar mandi.

Tanda(O) : Klien terlihat lemah. TD kiri berbaring 140/90 mmHg, nadi 80 x/menit, RR 31 x/menit, suhu 35,5 ºC, Terdapat edema pada ekstremitas bawah.

Interaksi Sosial

Gejala(S) : Status perkawinan; sudah menikah dengan 2 anak. Hidup dengan anak dan istri serta keluarga lainnya yang berdekatan rumahnya.

Tanda (O) : Klien senang bercerita pada saat pertama pengkajian, klien nampak berbincang pada keluarga yang datang membesuk.

Penyuluhan/Pembelajaran

Bahasa dominan : Indonesia melek huruf : +. faktor resiko keluarga : tidak ada penyakit hipertensi dan jantung.. Diagnosa saat masuk per dokter : Ikterus obstruktif, CHF Fc II-III.

Alasan dirawat per pasien: bengkak dan sesak yang semakin memberat.

Perubahan yang diantisipasi dalam situasi kehidupan setelah pulang : pola makan dan lingkungan yang disesuaikan untuk pasien, serta semangat untuk sembuh perlu ditingkatkan.

Klien mengetahui penyakitnya, dan patuh terhadap pengobatan.

Pertimbangan pemulangan : Belum ada perencanaan pulang, dijadwalkan operasi perbaikan katup jantung awal bulan Juni

Terapi Obat-obatan:

Obat Dosis Tujuan

Captopril 2 x 6,25 mg Obat hipertensi berat hingga sedang, untuk gagal jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretic dan digitalis, dalam hal ini captropil diberikan bersama diuretic dan digitalis

Aspirin 1 x 80 mg Sebagai pencegahan thrombosis, mengurangi bahaya thrombosis korener lebih lanjut, mengurangi resiko kematian dan atau serangan MCI

Aldacton 1x 100 mg Kandungan obat: spironolactone. Berfungsi sebagai diuretic. Indikasi: gangguan edamtosa, gagal jantung kongestive, sirosis hati, edema idiopatik, dan hipertensi

Lasix 1 x 40 mg Diuretik dengan meningkatkan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh ginjal

NaCl Capsule 3x 500 mg Sebagai terapi unuk koreksi elektrolit

Leshicol 3 x 60 mg Sebagai makanan tambahan untuk menunjang fungsi hati

Urdafak 3 x 25 mg Obat untuk pengobatan batu empedu kolesterol radiolusen yang diameternya tidak lebih dari 20 mm

Omeperazol 2 x 20 mg Sebagai pengobatan jangka pendek pada tukak usus duodenum, tukak lambung, dan refluks esophagitis

Arixtra 1 x 2,5 mg Sebagai antikoagulan (pengencer darah) yang mencegah pembentukan gumpalan darah

KSR 1 x 60 mg Untuk pengobatan dan pencegahan hipokalemia

Obat Dosis Tujuan

Propanolol 3 x 10 mg Obat golongan beta bloker non selektif yang umumnya digunakan dalam pengobatan tekanan darah tinggi. Indikasi lainnya: pencegahan perdarahan varises pada hipertensi portal, angina, aritmia, dan pembesaran jantung

Vit K 1 x 10 mg Sebagai pencegahan atau mengatasi perdarahan akibat devisiensi vitamin K

Hasil Laboratorium

Pemeriksaan pada tanggal 27 Mei 2013

Pemeriksaan Normal Hasil

Darah Perifer Lengkap

Hemoglobin (g/dl) 13.0-16.0 8.3

Hematokrit (%) 37.0-43.0 24.2

Eritrosit (juta/ul) 4.00-5.00 3.11

Jumlah trombosit (juta/ul) 117

Jumlah leukosit (juta/ul) 10.69

Basofil (%) 0.5-1.0 0.2

Eusinofil (%) 1-4 0.4

Neutrofil (%) 55-70 88.2

Limfosit (%) 20-40 4.4

Monosit (%) 2-8 6.8

Laju endap darah 0-10 3

Pemeriksaan pada tanggal 29 Mei 2013

Pemeriksaan Normal Hasil

Darah Perifer Lengkap

Hemoglobin (g/dl) 13.0-16.0 9.0

Hematokrit (%) 37.0-43.0 25.6

Eritrosit (juta/ul) 4.00-5.00 3.34

Jumlah trombosit (juta/ul) 74

Jumlah leukosit (juta/ul) 8.9

Basofil (%) 0.5-1.0 0.2

Eusinofil (%) 1-4 1.0

Neutrofil (%) 55-70 83.6

Limfosit (%) 20-40 4.1

Monosit (%) 2-8 11.1

Laju endap darah 0-10 15

3.2 Analisa Data

NO DATA MASALAH

1. DS:

Klien mengeluh sesak pada malam hari dan pada saat berbaring

DO:

TD kiri berbaring: 140/90 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 31 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC

Hasil rontgen: kardiomegali dan adanya kongesti pulmonal

Klien bernafas cepat dangkal

Klien terpasang nasal kanul oksigen 3 tpm/L Klien menggunakan otot-otot bantu pernafasan Suara nafas: vesikuler (+), ronkhi (+), wheezhing (-)

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan

ekspansi paru

NO DATA MASALAH 2. DS:

Klien mengatakan mudah capek setelah melakukan aktivitas, terutama saat ke kamar mandi

DO:

Bunyi jantung 1 dan 2 normal, murmur (+), gallop (-) Nadi perifer lemah

Urin output 24 jam: 2300 cc (dengan pemberian Lasix 40 mg).

CRT >2”

Konjungtiva anemis, bibir dan kuku pucat Akral hangat

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan

kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi

3. DS:

Klien mengatakan mudah capek setelah aktivitas.

Klien mengatakan mudah capek setelah aktivitas.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 18-0)

Dokumen terkait