Bab IV Analisis Situasi
4.3 Analisis Pemberian Posisi Semi Fowler pada Kondisi Dispnea
Dispnea adalah gejala subjektif berupa keinginan penderita untuk meningkatkan upaya mendapatkan udara pernapasan. Karena sifatnya subjektif, dispnea tidak dapat diukur.
Rasa dispnea buatan bisa didapat jika kita menahan napas selama kurang lebih 45-60 detik, kemudian kita menarik napas, saat itu timbul perasaan yang disebut dyspneic, yaitu kemauan untuk menambah upaya bernapas. Begitu juga setelah melakukan kegiatan latihan berat (vigorous exercise), akan timbul perasaan dyspneic atau terengah-engah. Dispnea sebagai akibat peningkatan upaya untuk bernapas (work of breathing) dapat ditemui pada kondisi kongesti dan edema paru yang biasanya disebabkan oleh abnormalitas kerja jantung. Pada kondisi seperti ini terdapat gangguan kardiopulmonal sehingga menyebabkan penderita sesak dan enggan berada dalam posisi berbaring.
Menurut Angela dalam Supadi, Nurachmah dan Mamnuah (2008), saat terjadi serangan sesak biasanya klien merasa sesak dan tidak dapat tidur dalam posisi berbaring, melainkan harus dalam posisi duduk atau setengah duduk untuk meredakan penyempitan jalan nafas dan memenuhi oksigen dalam darah. Posisi yang paling efektif bagi klien dengan penyakit kardiopulmonal adalah posisi semi fowler dimana kepala dan tubuh dinaikan dengan derajat kemiringan 450, yaitu dengan menggunakan gaya gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen pada diafragma (Perry & Potter, 2005). Hal ini sesuai dengan apa yang dilaporkan pasien pada penelitian kali ini.
Supadi, Nurachmah dan Mamnuah (2008), menyatakan bahwa posisi semi fowler membuat oksigen di dalam paru-paru semakin meningkat sehingga memperingan kesukaran nafas. Posisi ini akan mengurangi kerusakan membran alveolus akibat tertimbunnya cairan.
Hal tersebut dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga O2 delivery menjadi optimal. Sesak nafas akan berkurang dan akhirnya proses perbaikan kondisi klien lebih cepat. Pada penelitian ini pun klien melaporkan sesak yang berkurang setelah pemberian posisi semi fowler.
Dhwanit, Anjan, dan Nilam (2012) melakukan sebuah penilitian tentang efektivitas pemberian posisi semi fowler dibandingkan dengan posisi miring kanan dan kiri kepada 30 orang dengan diagnosa ARDS di ruangan ICU. Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa pemberian posisi semi fowler pada pasien ARDS mampu menaikan tidal volum dan oksigenasi ventilasi mekanik serta mengurangi FiO2 dibandingkan saat pasien diberikan posisi miring kanan dan kiri. Hal ini semakin memperkuat rasional tindakan keperawatan dalam memberikan posisi semi fowler pada pasien yang mengalami sesak.
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah
Pelaksanaan asuhan keperawatan dalam pemberian posisi semi fowler itu sendiri dengan menggunakan tempat tidur ortophedik (jika tersedia). Namun apabila tempat tidur ortophedik tidak ada di ruangan, perawat dapat menggunakan bantal yang cukup untuk menyangga daerah punggung, sehingga dapat mengurangi kondisi sesak nafas pada pasien jantung saat terjadi serangan. Posisi lain yang juga dapat mengurangi keluhan sesak yaitu posisi fowler dan posisi ortopnea. Selain itu, dengan perkembangan zaman, saat ini telah diciptakan gravity balance chair yang dirancang dengan mengadaptasi konsep pemberian posisi semi fowler. Pasien dengan kondisi ekonomi menengah keatas dapat mempergunakan kursi khusus yang dibuat seperti posisi semi fowler saat tidur atau pun saat sesak menyerang.
Gambar 5: Gravity balance chair
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pemberian posisi semi fowler pada pasien dengan gangguan kardiopulmonal dapat efektif mengurangi perasaan sesak (dyspnea). Hal ini terlihat dari respon pasien pada saat penulis memberikan tindakan keperawatan dengan pemberian posisi semi fowler pada saat serangan sesak terjadi. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kim (2004) dan Safitri & Andriyani bahwa pemberian posisi semi fowler dapat mengurangi sesak nafas pada pasien asma. Sedangkan dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Dhwanit, Anjan, dan Nilam (2012) dikatakan bahwa pemberian posisi semi fowler pada pasien ARDS di ICU mampu menaikan tidal volum dan oksigenasi ventilasi mekanik serta mengurangi FiO2.
5.2 Saran
Disarankan bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang bisa mengurangi serangan sesak pada pasien dengan gangguan kardiopulmonal. Hal ini tentu saja akan menjadi landasan ilmu pengetahuan bagi perawat untuk bisa menerapkan tindakan keperawatan tersebut saat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Landasan ilmu keperawatan yang berkembang ini akan membuat kemajuan dalam pelayanan keperawatan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. (edisi kedelapan), volume 2. Jakarta : EGC
Dourman, Karel. (2011). Waspadalah! Jantung Anda Rusak. Cetakan pertama. Jakarta:
Cerdas Sehat
Firdaus, Isman, (2011). Buku Saku Jantung Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia
Guyton and Hall. (2007). Textbook of Medical Physiology. 7th ed. Philadelphia: W.B.
Saunders Company
Joyce. M. Black, (1997). Medical surgikal nursing : Clinical management for Continuity of Care. Philadelphia: WB. Saunders company.
Marilyn. E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien.(edisi ketiga). Jakarta : EGC.
Marulam. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Paul M. Paulman, Audrey A, Paulman, Taylor. (2010). Manual Diagnosis Klinik dalam 10 Menit, Edisi Kedua. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher
Perry & Potter. (2005). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta:
EGC
Price, Sylvia Anderson dan Lorraine MW. (2005). Patofisiologi Vol 1. ed 6. Jakarta : EGC
Rilantono, Lily L. (2012). Penyakit Kardiovaskuler: 5 Rahasia. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Robbins, Stanley C. (2007). Buku Ajar Patologi Robbins. (terjemahan). Jakarta: Penerbit EGC
Safitri, R & Andriyani, A. (2011). Keefektifan pemberian posisi semi fowler terhadap penurunan sesak nafas pada pasien asama di ruang rawat inap kelas III RSUD dr. Moewardi Surakarta. GASTER, Volume VIII, No.2. Diperoleh dari http:// www.jurnal.stikes-aisyiyah-ac.id/index.php/gaster/article/view/29/26 pada 25 Juni 2013
Supadi, E., Nurachmah, & Mamnuah. (2008). Hubungan analisa posisi tidur semi fowler dengan kualitas tidur pada klien gagal jantung di RSU Banyumas Jawa Tengah. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Volume IV No.2 hal 97-108.
Diperoleh dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=60893&idc-24 pada 25 Juni 2013
“NYHA Functional Classification for Congestive Heart Failure”. (2005).
http://www.medicalcriteria.com/criteria/nyha.htm. (diunduh pada tanggal 02 Juli 2013 pukul 03 pukul 13.00 WIB)
O’Brien, Terrence. (2011). “Congestive Heart Failure”.
http://www.emedicinehealth.com/congestive_heart_failure/article_em.htm.
(diunduh pada tanggal 02 Juli 2013 pukul 03 pukul 13.00 WIB)
http://.www.rscm.co.id/index.php?bhs=in&id=ABO0000002
http://www.nursingcenter.com/Inc/journalarticle?Article_ID=102279
http://www.innovativejournal.in/index.php/ijmhs
Catatan Perkembangan Tn.A
Nama klien : Tn.A (47 tahun) Nama Mahasiswa : Laila Hasanah
Hari/
Tanggal
Diagnosa
Keperawatan Implementasi Evaluasi
Jumat/ 24 Mei 2013
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
1. Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Perhatikan adanya penggunaan otot bantu nafas
2. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Meninggikan posisi kepala dan
memberikan posisi yang nyaman 4. Mengobservasi pola batuk dan
karekteristik secret yang keluar 5. Memberikan terapi oksigen tambahan 6. Mengkaji TTV
S:
- Klien mengatakan sesak terlebih saat tidur berbaring - Klien nyaman tidur dengan dua bantal
O:
- TD kiri berbaring 140/90 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 31 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- RR setelah pemberian posisi semi fowler: 25 x/menit - Bunyi nafas Vesikuler (+), ronkhi (+), wheezing (-) - Batuk kering, secret (-)
- Penggunaan otot bantu pernafasan (+)
A: Pola nafas tidak efektif, masalah belum teratasi P:
- Berikan posisi semi fowler
- Lanjutkan terapi oksigen dengan nasal kanul 3 tpm/L - Lihat hasil rontgen torak
Penurunan curah
1. Mengkaji riwayat penyakit jantung sebelumnya
2. Mengauskultasi bunyi jantung 3. Mempalpasi nadi perifer 4. Mengkaji TTV
5. Mengkaji kondisi kulit
S:
- Klien memiliki penyakit hipertensi dan tidak terkontrol - Klien baru kali ini dirawat dengan keluhan sesak
memberat dan keadaan makin melemah - Klien perawatan hari ke 4
6. Mengkaji edema ekstremitas O:
- TD kiri berbaring 140/90 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 31 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Nadi mudah diraba, denyutan agak lemah - Edema di kedua ektremitas bawah
- Derajat pitting edema 3 - CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) A: Masalah belum teratasi
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output - Mengobservasi kondisi kulit - Pantau hasil Echocardiographi Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
1. Mengkaji TTV
2. Mengkaji kemampuan aktivitas yang dilakukan
3. Mengkaji respon kardiopulmonal setelah aktivitas dilakukan
S:
- Klien mudah capek saat melakukan pekerjaan ringan
-O:
- TD kiri berbaring 140/90 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 31 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Konjungtiva anemis (+) - Klien lebih banyak tidur A: Intoleransi aktivitas terjadi P:
- Mengobservasi TTV sebelum dan setelah aktivitas - Mengobservasi respon setelah aktivitas
- Memberikan latihan ROM bertahap Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (ukur minum dan urin) 4. Membantu mempertahankan posisi
semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
6. Membatasi pemasukan cairan ± 600 cc/hari
- Distensi abdomen (+) A: Masalah belum teratasi P:
- Membuat jadwal pemasukan dan pengeluaran cairan - Mempertahankan tirah baring
- Mengukur lingkar abdomen
- Melakukan pemeriksaan shifting dullnes Sabtu/ 25 Mei
2013
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
1. Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Perhatikan adanya penggunaan otot bantu nafas
2. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Meninggikan posisi kepala dan
memberikan posisi yang nyaman 4. Mengobservasi pola batuk dan
karekteristik secret yang keluar 5. Memberikan terapi oksigen tambahan
S:
- Klien mengatakan sesak terlebih saat tidur berbaring - Klien nyaman tidur dengan dua bantal
O:
- TD kiri berbaring 120/90 mmHg, nadi ( 78 x/menit), RR 28 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- RR setelah pemberian posisi semi fowler: 23 x/menit - Bunyi nafas Vesikuler (+), ronkhi (+), wheezing (-)
6. Mengkaji TTV
7. Mengkaji hasil rontgen torak - Batuk kering, secret (-)
- Penggunaan otot bantu pernafasan (+) - Hasil rontgen toraks: terdapat kardiomegali A: Masalah belum teratasi
P:
- Berikan posisi semi fowler
- Lanjutkan terapi oksigen dengan nasal kanul 3 tpm/L - Pantau status pernafasan per 8 jam
Penurunan curah jantung
berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Memantau nilai hasil
echocardiographi
S:
- Klien mengatakan lemah
- Klien mengatakan kadang sesak, namun tidak terlalu sering muncul
O:
- TD kiri berbaring 120/90 mmHg, nadi ( 78 x/menit), RR 28 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Edema di kedua ektremitas - Derajat pitting edema 3-2 - CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) - Hasil echocardiographi: terdapat penebalan katup mitral
(stenosis mitral)
A: Masalah belum teratasi P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output - Mengobservasi kondisi kulit
- Berkolaborasi dalam pemberian terapi obat dan cairan - Pantau nilai Laboratorium terbaru
Intoleransi aktivitas
2. Mengobservasi respon kardiopulmunal terhadap aktivitas
3. Mengevaluasi penyebab kelemahan klien
4. Mengevaluasi tingkat intoleransi aktivitas
S:
- Klien mengatakan masih mudah lelah
- Klien mengatakan aktivitas dibantu keluarga pasien lain saat keluarganya tidak ada.
O:
- TD kiri berbaring 120/90 mmHg, nadi ( 78 x/menit), RR 28 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Klien tampak lemah - Konjungtiva anemis (+)
- Klien hanya berbaring di tempat tidur dan aktivitas hanya tiduran atau duduk saja
- Aktivitas klien dibantu keluarga A: Intoleransi aktivitas terjadi P:
- Mengobservasi TTV sebelum dan setelah aktivitas - Mengobservasi respon setelah aktivitas
- Memberikan latihan ROM ekstremitas bawah Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan
urin)
4. Membantu posisi semi fowler
5. Mengukur lingkar perut dan mengkaji asites
6. Melakukan pemeriksaan shifting
S:
- Klien minum dibatasi hanya ± 600 cc/ hari
- Bengkak masih ada tapi tidak sebesar saat pertama kali masuk ke IGD
O:
- Intake sehari: 1320 cc - Output urine: 1400 cc - BC: (-) 80 cc
dullnes - Lingkar perut 90 cm - Shifting dullness (+) - Asites (+)
- Derajat pitting edema pada ekstremitas bawah 3-2 A: Masalah belum teratasi
P:
- Membuat jadwal pemasukan cairan - Mempertahankan tirah baring - Kolaborasi pemberian diuretic Senin/ 27 Mei
2013
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
1. Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Perhatikan adanya penggunaan otot bantu nafas
2. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Meninggikan posisi kepala dan
memberikan posisi yang nyaman 4. Mengobservasi pola batuk dan
karekteristik secret yang keluar 5. Memberikan terapi oksigen tambahan 6. Mengkaji TTV
S:
- Klien mengatakan sesak berkurang, hanya pada malam hari dan setelah dari kamar mandi saja
- Klien nyaman tidur dengan posisi kepala ditinggikan (posisi semi fowler)
O:
- TD kiri berbaring 120/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 25 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- RR setelah pemberian posisi semi fowler: 21 x/menit - Bunyi nafas Vesikuler (+), ronkhi (+), wheezing (-) - Bunyi ronkhi sudah mulai berkurang
- Batuk kering, secret (-)
- Penggunaan otot bantu pernafasan (-) A: Masalah mulai teratasi
P:
- Berikan posisi semi fowler
- Lanjutkan terapi oksigen dengan nasal kanul 3 tpm/L
- Pantau status pernafasan per 8 jam
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi kondisi kulit 5. Mengobservasi edema ekstremitas 6. Mengobservasi intake dan output
S:
- Klien mengatakan mulai berasa memiliki tenaga lagi O:
- TD kiri berbaring 120/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 25 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Edema di kedua ektremitas berkurang - Derajat pitting edema 3 - 2
- CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) A: Masalah belum teratasi
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan
2. Mengobservasi respon kardiopulmunal terhadap aktivitas
3. Mengevaluasi penyebab kelemahan klien
4. Mengevaluasi tingkat intoleransi aktivitas
S:
- Klien mengatakan mulai berasa memiliki tenaga lagi O:
- TD kiri berbaring 120/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 25 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Klien tampak lebih baik dari hari sebelumnya - Konjungtiva anemis (+)
- Klien mendapat transfusi PRC 2 kantong ( 450 ml dan 430 ml)
- Nilai Hb terakhir 8.3 mg/dL
A: Masalah belum teratasi P:
- Menganjurkan untuk membatasi aktivitas - Pantau hasil laboratorium post transfusi Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan
urin)
4. Membantu posisi semi fowler 5. Mempalpasi abdomen
S:
- Bengkak di kaki mulai berkurang - Distensi abdomen (+)
A: Masalah teratasi sebagian P:
- Mempertahankan tirah baring - Kolaborasi pemberian diuretic Selasa/ 28
Mei 2013
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
1. Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Perhatikan adanya penggunaan otot bantu nafas
2. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Meninggikan posisi kepala dan
memberikan posisi yang nyaman 4. Mengobservasi pola batuk dan
karekteristik secret yang keluar
S:
- Klien mengatakan sesak berkurang, hanya pada malam hari dan setelah dari kamar mandi saja
- Klien nyaman tidur dengan posisi kepala ditinggikan (posisi semi fowler)
O:
- TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 23 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu
5. Memberikan terapi oksigen tambahan
6. Mengkaji TTV 35,5 ºC
- RR setelah pemberian posisi semi fowler: 21 x/menit - Bunyi nafas Vesikuler (+), ronkhi (+), wheezing (-) - Bunyi ronkhi minimal
- Batuk (-) secret (-)
- Penggunaan otot bantu pernafasan (-) A: Masalah mulai teratasi
P:
- Berikan posisi semi fowler
- Lanjutkan terapi oksigen dengan nasal kanul 3 tpm/L - Pantau status pernafasan per 8 jam
Penurunan curah jantung
berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Mengobservasi intake dan output 6. Memberikan klien istirahat
7. Memposisikan kaki klien lebih tinggi saat klien duduk
S:
- Klien mengatakan kondisinya makin membaik O:
- TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 23 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Edema di kedua ektremitas bawah minimal - Derajat pitting edema: 2
- CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (-) A: Masalah teratasi sebagian
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan
Intoleransi aktivitas
2. Mengobservasi respon kardiopulmunal terhadap aktivitas
3. Mengevaluasi penyebab kelemahan klien
4. Mengevaluasi tingkat intoleransi aktivitas
5. Melatih ROM bertahap hanya ekstremitas bawah
6. Menganjurkan klien menggunakan pispot untuk mengurangi aktivitas ke kamar mandi
7. Memantau hasil laboratorium
S:
- Klien mengatakan kondisinya makin membaik O:
- TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 23 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 35,5 ºC
- Klien tampak banyak berbicara dengan keluarga - Klien mampu melakukan aktifitas ringan tanpa sesak - Klien mampu melakukan aktifitas ringan tanpa bantuan
orang lain
- Hasil laboratorium terbaru post transfusi belum ada A: Intoleransi aktivitas teratasi sebagian
P:
- Menganjurkan untuk membatasi aktivitas
- Pantau hasil laboratorium post transfusi, dengan target Hb minimum 9.0 mg/dL
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan urin) 4. Membantu posisi semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
S:
- Distensi abdomen (+)
A: Masalah mulai teratasi sebagian P:
- Mempertahankan tirah baring - Lanjutkan terapi diuretik Rabu/ 29 Mei
2013
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
1. Mengkaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.
Perhatikan adanya penggunaan otot bantu nafas
2. Mengauskultasi bunyi nafas 3. Meninggikan posisi kepala dan
memberikan posisi yang nyaman 4. Mengobservasi pola batuk dan
karekteristik secret yang keluar 5. Memberikan terapi oksigen tambahan 6. Mengkaji TTV
S:
- Klien mengatakan sesak berkurang, hanya pada malam hari dan setelah dari kamar mandi saja
- Klien nyaman tidur dengan posisi kepala ditinggikan (posisi semi fowler)
O:
- TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 21 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 36,3 ºC
- RR setelah pemberian posisi semi fowler: 21 x/menit - Bunyi nafas Vesikuler (+), ronkhi (-), wheezing (-) - Batuk (-) secret (-)
- Penggunaan otot bantu pernafasan (-) A: Masalah teratasi
P:
- Berikan posisi semi fowler
- Pantau status pernafasan per 8 jam Penurunan curah
jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Mengobservasi intake dan output
S:
- Klien mengatakan kondisinya masih sama seperti ini O:
TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR
miokardial 6. Memberikan klien istirahat 21 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 36,3 ºC
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) A: Masalah belum teratasi
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan - Direncanakan operasi perbaikan katup
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
1. Mengobservasi TTV
2. Mengobservasi respon kardiopulmunal terhadap aktivitas
3. Mengevaluasi penyebab kelemahan klien
4. Mengevaluasi tingkat intoleransi aktivitas
5. Melatih ROM bertahap hanya ekstremitas bawah
6. Menganjurkan klien menggunakan pispot untuk mengurangi aktivitas ke kamar mandi
7. Memantau hasil laboratorium
S:
- Klien mengatakan lebih bertenaga dibanding kemarin O:
- TD kiri berbaring 100/80 mmHg, nadi ( 80 x/menit), RR 21 x/menit (tanpa pemberian posisi semi fowler), suhu 36,3 ºC
- Klien tampak banyak berbicara dengan keluarga - Klien mampu melakukan aktifitas ringan tanpa sesak - Klien mampu melakukan aktifitas ringan tanpa bantuan
orang lain
- Nilai Hb post transfusi: 9.0 mg/dL sesuai dengan target yang diharapkan
A: Masalah teratasi P:
- Pantau keadaan umum klien secara berkala
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan
urin)
4. Membantu mempertahankan posisi semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
S:
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- Distensi abdomen (-) A: Masalah belum teratasi P:
- Mempertahankan tirah baring - Lanjutkan terapi diuretic Kamis/ 30
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Mengobservasi intake dan output 6. Memberikan klien istirahat
S:
- Klien mengatakan kondisinya masih sama seperti ini O:
- TD kiri berbaring 110/80 mmHg, nadi ( 84 x/menit), RR 20 x/menit, suhu 36 ºC
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) A: Masalah belum teratasi
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan - Direncanakan operasi perbaikan katup
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan urin) 4. Membantu mempertahankan posisi
semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
S:
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- Distensi abdomen (+) A: Masalah belum teratasi P:
- Mempertahankan tirah baring - Lanjutkan terapi diuretic Jumat/ 31 Mei
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Mengobservasi intake dan output 6. Memberikan klien istirahat
S:
- Klien mengatakan kondisinya lebih baik, sudah beraktivitas ke kamar mandi tanpa sesak O:
- TD kiri berbaring 120/80 mmHg, nadi ( 78 x/menit), RR 22 x/menit, suhu 36 ºC
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+)
A: Masalah belum teratasi P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan - Direncanakan operasi perbaikan katup awal Juni Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan urin) 4. Membantu mempertahankan posisi
semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
S:
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- Distensi abdomen (-) A: Masalah belum teratasi P:
- Mempertahankan tirah baring - Lanjutkan terapi diuretic Sabtu/ 01 Juni
1. Mengauskultasi bunyi jantung 2. Mempalpasi nadi perifer 3. Mengobservasi TTV
4. Mengobservasi edema ekstremitas 5. Mengobservasi intake dan output 6. Memberikan klien istirahat
S:
- Klien mengatakan keluhan saat ini hanya bengkak saja O:
- TD kiri berbaring 110/80 mmHg, nadi ( 82 x/menit), RR 20 x/menit, suhu 36 ºC
Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat
pitting edema: 2 - CRT > 2”
- Bunyi Jantung S1 dan S2 (+), Gallop (-), murmur (+) A: Masalah belum teratasi
P:
- Mengobservasi TTV
- Mengobservasi intake dan output
- Berkolaborasi memberikan terapi obat dan cairan - Direncanakan operasi perbaikan katup awal Juni Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan penurunan curah jantung
1. Mengkaji haluaran urin
2. Mengkaji jumlah cairan yang masuk 3. Mencatat UMU (Ukur minum dan urin) 4. Membantu mempertahankan posisi
semi fowler
5. Mempalpasi abdomen
S:
- Klien minum dibatasi hanya ± 600 cc/ hari O:
- Intake sehari: 900 cc - Output urine: 1200 cc - BC: (-) 300 cc
- Asites (+)
- Shifting dullness (+)
- Edema di kedua ektremitas bawah masih ada, derajat pitting edema: 2
- Distensi abdomen (-) A: Masalah belum teratasi P:
- Mempertahankan tirah baring - Lanjutkan terapi diuretic
BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Laila Hasanah Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 7 Mei 1988
Agama : Islam
Fakultas : Ilmu Keperawatan
NPM : 0706270794
Alamat : Jl.Pisangan Lama 3, RT 001/04 No.6, Jakarta Timur 13230
No.HP : 0858-1329-3696
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
PENDIDIKAN FORMAL TAHUN
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (Program Profesi) 2012-2013 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (S1) 2007-2011
SMAN 31 Jakarta 2004-2007
SMPN 44 Jakarta 2001-2004
SDN 05 Pagi Pisangan Timur 1995-2001
TK Al-Abbasiyah Pisangan Timur 1994-1995