• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ini kalau dibaca pelan-pelan "Setiap orang dilarang meniru rupiah dengan merendahkan kehormatan uang nilai rupiah". Tadi ada contoh-contoh misalnya tokoh-tokoh kita siapa pun itu ya itu merendahkan kehormatan uang rupiah atau juga yang merendahkan yang bersangkutan. Saya rasa itu dua hal yang berbeda. Kalau kita mau pakai pasal ini dengan tambahan yang barusan saya pikir bisa melengkapi. Jadi setiap orang dilarang meniru uang rupiah dan merendahkan kehormatan uang rupiah. Yang dimaksud adalah meniru uang rupiahnya. Kalau tadi bisa nuansanya orangnya itu yang dimasukan gambarnya itu. Jadi mungkin kita membuat lebih jelas supaya jangan nanti salah persepsi.

KETUA RAPAT:

Bu Vera silakan.

HJ. VERA FEBYANTHY/ F-PD:

Saya menangkap maksudnya Pak Ara. Kalau memang itu orangnya kan taruhlah pasal ini sudah disahkan, misalnya tahun 2010 sudah disahkan. Barad masih ada tiruan-tiruan itu yang ada gambar Bu Mega, gambarnya Gus Dur, Bagaimana itu? Itu bisa saja orang mengatakan akhirnya jadi politis. Inikan sudah ada, nanti bagaimana itu, itu harus dipikirkan. Padahal itu diprintnya sudah tahun kapan. Tapi kalau ada orang yang mau mengangkat isu ini bisa jadi. Jadi itu sebaiknya saya hanya mau menanyakan kepada pihak pemerintah atau pun dari Bapak siapa yang bicara mengenai pemberlakuan terhadap, kita inikan perlu masukan supaya jelas. Jangan sampai nanti yang rupiahnya atau pelakunya yang disampaikan oleh Pak Ara itu tadi.

NUSRON WAHID/ F-PG:

Atau tidak usah ini, inikan sangat interpretatif sekali. Kita hapus sajalah. Republik masa ngurusin beginian.

Pak Ketua, jadi saya usul pasal-pasal mengenai tindak pidana diputus dulu, nanti apakah itu mengenai kategori meniru atau tidak itu kan sudah dijelaskan melalui Pasal 23 itu. Saya kira DIM nya pemerintah ini sudah relevan. Memang punya DPR RI ini dulu semangatnya saya tidak mengerti terlalu sakralistik memandang rupiah ini. Terlalu mengada-ada sehingga apa namanya, kita pakai

136

punya pemerintah saja nanti. Kecuali untuk promosi, untuk pendidikan, main-main kan bagian dari pendidikan kan. Tidak apaapa itu, Saya pikir semua DIM yang ada kaitannya dengan pidana itu diputus dulu biar cepat dan yang ini kita sisir nanti,

KETUA RAPAT:

Jadi artinya apakah Pasal 33 atau DIM 140 itu kita. Inikan persetujuan terhadap, artinya kita kan mengakui, kita mengurusi yang begitu-begitu yang kita anggap mengada-ada itu.

NUSRON WAHID/ F-PG:

Kan nanti di DIM 106, 107 di situ sudah ada dijelaskan. Yang kategori meniru itu apa, ini apa, sudah ada di situ. Jadi saya kira semangatnya itu Pasal 34 itu orang yang serius dengan sengaja meniru. Kira-kira begitu kan ya Pak, maknanya itu. Yang dengan serius, dengan sengaja itu,

KETUA RAPAT:

Berarti pengertiannya begitu ya Pak 'ketika menjelaskan di pasal.

DIRJEN PERBENDAHARAAN (HERY PURNOMO):

Pasal 33 kalau yang versi pemerintah itukan pada dasarnya kan tidak boleh meniru uang.

Tadi di DIM 106 tadi kalau mau meniru ada tulisannya biasanya spacement. Jadi kalau ada orang meniru tentu kalau rumusannya seperti ini akan kena dia. Tapi kalau misalnya tadi merendahkan kehormatan uang inikan urusannya sangat susah, abstrak. Jadi mungkin uang mainan, saya kira tidak ada kesengajaan untuk itu. Jadi mungkin yang menirunya itu perlu dikenakan sanksinya itu.

KETUA RAPAT:

Memang tidak setiap orang yang meniru. Misalnya ada nanti gantungan kunci rupiah, apa itu dianggap melanggar juga kan lucu ini. lni justru mernpromosikan kita pariwisata.

HJ. VERA FEBYANTHY/ F-PD:

Darimana kita bisa mencari penirunya, itu sudah didistribusi sekian banyak.

NUSRON WAHID/ F-PG:

lnikan yang ngusulin Ibu.

HJ. VERA FEBYANTHY/ F-PD:

lya, tadi Pak Heri bilang gantungan gambar rupiah. Kita mau cart dimana orangnya. Semua juga bikin merchadise itu dimana-mana.

NUSRON WAHID/ F-PG:

Yang paling repot kalau anak kita garribar-gambar, dikasih taring, dikasih jenggot pahlawannya. Waktu saya kecil suka ngitu saya. Ibu Vera, kita ini nyusun undang-undang bukan cerita Bu. Kembali kan ke undang-undang, jangan cerita yang bukan-bukan.

HJ. VERA FEBYANTHY/ F-PD:

Ini saya mengambil satu praktek yang nanti akan terjadi. Karena faktakan kita lihat peredaran monopoli uang-uang itu banyak pengenalan terhadap anak-anak kecil.

KETUA RAPAT:

137

Saya kira saya stop saja, kita tidak masuk di situ, Saya boleh memahami ini Pasal 33 itu akan baru bisa diterapkan bergantung daripada DIM 106 yang akan kita isi apa itu. Pokoknya di situlah.

Jadi kalau itu kita buat sedemikian rupa ya beberapa yang disebut aman.

DIRJEN PERBENDAHARAAN (HERY PURNOMO):

Mungkin untuk memperoleh garribaran sebetulnya diloanAan pertanyaan Bu Vera Ito tilkanakan kepada slaps ya. mohon izIn untuk dijelaskan oleh dart KemehukHAM. Silakan.

KEMENTERIAN KUMHAM RI:

Bapak dan Ibu, Saya rasa rumusan yang ada di DIM 140 atau Pasal 34 ini sebetulnya kalau yang diusul DPR RI ini yang sebetulnya tidak multitafsir, tidak padat juga tidak karat. Karena ini yang sering disebut dengan delik materiil. Jadi tidak berhenti sampai setiap orang yang meniru saja. Kalau meniru saja memang itu sangat luas tafsirannya. Tapi di situ ada diteruskan, biasanya dengan maksud untuk merendahkan kehormatan ini. Jadi memang nanti penyidik dan juga nanti di pengadilan akan dibuktikan dulu peniruan itu memang maksud untuk merendahkan kedaulatan Republik Indonesia atau tidak. lni yang sering di dalam hukum disebut dengan delik materill. Kalau delik formal setiap orang yang meniru tidak diembel-embeli dengan maksud untuk apa, jadi memang nanti di dalam tahap pembuktian sangat menentukan apakah ini dengan maksud untuk merendahkan atau tidak.

Saya kira itu.

lr. H. I EMIR MOEIS, M.Sc./ F-PDIP: Pak,

Mumpung Bapak dari hukum ya? Saya ingin menanyakan apakah daripada kita periksa pada saat sudah di pengadilan, kenapa tidak sengaja di depan kita masuk saja dengan sengaja? Saya masih ingat lagi itu Pak.

DEPKUMHAM:

Atau meniru, Saya kira memang sudah tidak ada maksud lain sengaja Pak. ltu sudah meniru.

Ir. H. I EMIR MOEIS, M.Sc./ F-PDIP:

Ya kalau meniru, tetapi kalau seperti mengedarkan tadi atau apa kan bisa sengaja dan bisa tidak sengaja itu Pak. Apa kita tidak masukan saja kata "dengan sengaja" itu. Ya, ini secara hukum bagaimana kalau itu?

DEPKUMHAM:

Kalau memang tambahkan "dengan sengaja" untuk yang lain-lain mengedarkan apa, Saya kira itu akan lebih kuat karena ada dibuktikan dulu unsur kesengajaannya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Mungkin itu nanti. Prinsip kita, tidak ada masalah untuk mempertegas. Cuman kami nanti tolong di pasal-pasal mana yang perlu ada kata-kata "dengan sengaja" itu kita tambahkan itu. Saya kira disitu supaya mempertegas.

Oke, Saya kira itu Pasal 33. Kita sudah ketok kan? DIM 141 sudah, 142 sudah, sekarang DIM 143 "Setiap orang yang membeli atau menjual rupiah yang sudah rusak, dipotong, dihancurkan dan

138

atau dilakukan perubahan atau perbuatan apapun pada rupiah sebagaimana dimaksud Pasal 24 ayat (2) dipidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 5 tahun, dan denda paling sedikit Rp 200 Juta dan paling banyak Rp 1 Milyar". Cuman ini ada pertanyaan barangkali ya Saya tidak tahu kepada siapa Saya bertanya. Kalau di DIM 140 dan 141 itu maksimumnya 6, oh sudah, Saya cabut lagi pertanyaannya, sudah terjawab.

Silakan, Saya persilakan.

Setuju ya?

(RAPAT SETUJU)

DIM 144 "Setiap orang yang mengimpor atau mengekspor rupiah yang sudah dirusak, dipotong, dihancur dan atau dilakukan perubahan atau perbuatan apapun", Saya membacakan DIM Pemerintah saja ya? Ya karena sama. Ini jangan dianggap Pemerintah, Saya pro Pemerintah begitu.

"dipidana dengan pidana penjara paling singkat 10 tahun atau paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp 5 Milyar dan paling banyak Rp 10 Milyar". lni mengimpor atau mengekspor rupiah yang sudah dirusak.

Oke ya?

(RAPAT : SETUJU)

DIM 145 "Setiap orang yang memalsu rupiah yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun, paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp 1 Milyar dan atau paling banyak Rp 5 Milyar", lni pemalsuan ini, 5 tahun paling sedikit 10 tahun paling lama,

Setuju? Atau kita mau tambah tahunnya?

Hj. VERA FEBYANTY I F-PD:

Pak, Tanya dulu pihak Pemerintah.

KETUA RAPAT:

Oh,Pemerintah, silakan,

Yang Saya bacakan kan di Pemerintah ini. Sudah ya? Yang itu sudah, Oke, Pemerintah?

Belum?

DIRJEN PERBENDAHARAAN (HERY PURNOMO):

Sudah tercantum seperti ini Pak, setuju Pak. KETUA RAPAT:

Oke.

(RAPAT : SETUJU)

Sekarang, DIM 146 "Setiap orang yang menyimpan secara fisik dengan cara apapun yang diketahuinya merupakan rupiah palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dipidana dengan pidana paling singkat 3 tahun atau paling larva 7 tahun dan denda paling sedikit Rp 1 Milyar dan atau paling banyak Rp 5 Milyar". Dendanya sama, tahun penjaranya lebih ringan.

Ir. H. I EMIR MOEIS, M.Sc./ F-PDIP:

139

Ini yang mungkin perlu ditambahkan juga "dengan sengaja atau tidak sengaja" tadi Pak. Saya kira catatan juga untuk HukHAM.

KETUA RAPAT:

Saya kira "dengan sengaja" itu sudah tidak perlu kita perdebatkan lagi, kita cuman mempertegas saja disitu. Jadi, nanti dalam perumusan tinggal ditambahkan.

Hj. VERA FEBYANTY I F-PD: Pak Heri, Saya mau tanya ini.

Inikan 3 tahun, paling singkat 3 tahun paling lama 7 tahun. Jadi, artinya ada klasifikasi 3 tahun dia paling minimal hukumannya atau maksimal 7 tahun, Kalau ini, Saya tidak tahu ya ini menurut Saya 3 tahun sebenarnya kalau dilepas, besok palsuin uang lagi. Ya, menyimpan kan? Menyimpan uang, mengedarkan, membelanjakan uang diketahui.

KETUA RAPAT:

Makanya usulan Pak Emir tadi ada istilah "dengan sengaja". Bisa saja dia, kita sekarang ini sedang menyimpan uang palsu. Bisa saja terjadi, kita tidak tahu itu uang palsu atau tidak palsu tetapi ada di kantong lbu Vera begitu, Karena tidak tahu itu Bu Vera dipenjara 3 tahun, kan tidak sengaja kan? Nah itu makanya itu. Makanya disitu Pak Emir sudah.

Ir. MEMED SOSIAWAN/ F-PKS: Pimpinan,

Kalau untuk yang dengan sengaja terjadi Pasal 35 ayat (2) sudah ada poinnya Pak, yaitu dengan cara apapun diketahuinya. Jadi, tidak perlu dengan sengaja. Kalau dia sudah tahu itu sudah palsu, disimpan kemudian itu pasti itu. Demikian juga yang ayat (3)-nya dan ayat (2) (3) itu merupakan pecahan dari usulan DPR yang lama. Kalau DPR "digabung, menyimpan, dan mengedar.

KETUA RAPAT:

Belum, kita belum ke ayat (3). Masih ayat (2) itu.

Ir. MEMED SOSIAWAN/ F-PKS:

ltu sama juga yang diketahuinya.

KETUA RAPAT:

Oke ya kita sahkan dulu yang DIM 146 yang Pemerintah, ada Pak. Setuju ya?

(RAPAT : SETUJU)

Oke, ini ayat baru berarti tambahan dari Pemerintah. Pecahan dari tambahan ayat "Setiap orang yang mengedarkan, menyimpan, membelanjakan rupiah yang diketahuinya merupakan rupiah palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) dipidana penjara paling singkat 5 tahun atau paling lama 10 tahun dan Benda paling sedikit Rp 5 Milyar dan paling banyak Rp 50 Milyar".

Silakan Pemerintah jelaskan ini.

DIRJEN PERBENDAHARAAN (HERY PURNOMO):

Baik, pada prinsipnya, ini merupakan pemecahan dari ayat (2) DIM DPR 146 karena disana

"menyimpan" itu dibedakan dengan yang lainnya Pak. Jadi, setiap orang yang menyimpan itu disendirikan. Yang menyimpan, ada tambahan kata-kata "secara fisik". Kemudian, yang ayat (3)-nya

140

itu adalah setiap orang yang mengedarkan, membelanjakan rupiah yang diketahuinya merupakan rupiah palsu. Jadi, ini kita pecah jadi 2 normanya itu.

KETUA RAPAT:

Bagaimana membedakan dengan ayat sebelumnya Pak, kata "menyimpan"-nya ada dua-duanya itu? Apakah kata "rnenylmpan" di ayat (3)-nya Itu kita hllangkan supaya membedakan dengan ayat (2)-nya?

DIRJEN PERBENDAHARAAN (HERY PURNOMO):

Saya rasa tidak ada "menyimpan"-nya ini Pak. "Menyimpan"-nya hilang ya? Jadi, cuman mengedarkan dan membelanjakan ya? Jadi, "menyimpan"-nya di ayat (2), "mengedarkan dan membelanjakan" di ayat (3).

Ir. MEMED SOSIAWAN/ F-PKS:

Sebentar Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Silakan.

Ir. MEMED SOSIAWAN/F-PKS:

Kalau menurut Saya, ini sudah benar Pak ayat (3) ini. Kalau yang ayat (2) itu "menyimpan"

saja, pasif. Kalau yang ayat (3), "mengedarkan, menyimpan, membelarijakan". Orang tidak mungkin mengedarkan secara banyak dan kemudian membelanjakan secara besar juga kalau dia tidak punya simpanan. Artinya dia tidak punya penyimpanan yang besar. Nah ini kumulatif jadinya. Jadi, dia mengedarkan tetapi menyimpan juga yang banyak. Kalau yang 2 ini menyimpan saja ini, tetapi dia tidak mengedarkan sebagai stock begitu loh. Kalau dia nyetock, edarkan nyetock, edarkan belanjakan nyetock begitu.

Itu pandangan Saya Pimpinan.

Dokumen terkait