• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KESEHATAN MASYARAKAT DESA KALANGAN

3.5 Kesehatan Ibu dan Anak

3.5.1 Masa Pra Kehamilan

Masa pra kehamilan sering dikaitkan dengan masa remaja, dimana menurut World Health Organization (WHO), remaja

(adolescence) adalah berusia 10-19 tahun, sementara di terminologi

lain menyebutkan bahwa PBB menyebutkan anak muda (youth) untuk mereka yang berusia 15-24 tahun yang kemudian disatukan dalam sebuah terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia antara 10-24 tahun. Masa remaja adalah fase utama pembangunan manusia. Perubahan biologis dan psikososial yang cepat yang terjadi selama dekade kedua memengaruhi setiap aspek kehidupan remaja.

Perubahan ini membuat remaja masa yang unik dalam kehidupan dirinya sendiri, serta waktu yang penting untuk meletakkan dasar-dasar kesehatan yang baik di masa dewasa (WHO, 2014).

Masa remaja diwarnai oleh pertumbuhan, perubahan, munculnya berbagai kesempatan, dan seringkali menghadapi risiko-risiko kesehatan reproduksi. Remaja sering kurang informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi, hubungan seksual, dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau serta terjamin kerahasiaannya. Jaminan kerahasiaan, kemampuan membayar, dan persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi remaja pada akses pelayanan kesehatan. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja. Banyak pula di antara remaja yang kurang atau tidak memiliki hubungan yang stabil dengan orang tua maupun dengan orang dewasa lain (Kilbourne, 2000).

Periode remaja merupakan “Window Opportunity”, periode yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang baik agar tidak mengalami masalah kesehatan di kemudian hari, dan menjadi manusia dewasa yang sehat dan produktif. Beberapa masalah yang sering dialami oleh remaja antara lain anemia, kegemukan, mental-kejiwaan (gangguan belajar), perilaku berisiko (merokok, hubungan seks pra nikah, penyalahgunaan narkoba, hingga terjangkit HIV/AIDS). Oleh sebab itu, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk dimiliki. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan di mana remaja dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalani fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.

Pengetahuan kesehatan yang penting untuk diketahui oleh remaja antara lain adalah tentang tumbuh kembang remaja, kesehatan reproduksi remaja, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, penyalahgunaan NAPZA, komunikasi dan konseling pendidikan ketrampilan hidup sehat. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja akan membentuk suatu

perilaku yang dipengaruhi oleh pendidikan, sosial, ekonomi, sosial budaya, pengalaman, dan lingkungan.

Penyebab utama kematian pada remaja perempuan usia 15-19 tahun adalah komplikasi kehamilan, persalinan, dan komplikasi keguguran. Remaja usia 15-24 tahun memiliki angka tinggi untuk penderita penyakit menular seksual (Arsita, 2012).

Keadaan remaja yang ada di Desa Kalangan, mulai dari pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sudah mereka dapatkan rata-rata di bangku sekolah. Pergaulan atau interaksi remaja yang berlaku di masyarakat ada batasan-batasan tertentu. Terdapat nilai-nilai yang sudah diterapkan dalam budaya masyarakat Desa Kalangan. Berdasarkan keterangan dari salah satu anggota Karang Taruna Desa Kalangan, yakni bapak M (31 tahun), beliau menyampaikan pandangannya mengenai remaja yang ada di Desa Kalangan sebagai berikut:

“...kalau masalah perilaku remaja, disini baik-baik saja, ya cuman kalau pacaran wajar ya, paling cuma boncengan gitu, terus udah pulang, kalau misalnya masalah seks bebas di daerah sini hampir nggak ada,

sing malah sering ya mung ngrokok niku (yang sering

hanya merokok). Di sini itu kalau ada tamu laki–laki misal datang ke rumah perempuan itu sudah ada batasnya, jam sembilan niku wes sampun kudu

wangsul (itu sudah harus segera pulang) tamunya,

kalau misal melebihi, pihak Karang Taruna langsung mendatangi, kemudian menegur...”

Dari situasi ini Bapak M menyatakan kalau anak perempuan juga sudah banyak yang dipantau oleh keluarganya, sengaja memang tidak diperbolehkan keluar pada waktu malam hari, apalagi terlebih dengan teman laki–laki. Selain itu juga, di Desa Kalangan terdapat juga pembinaan untuk para remaja melalui Taman Pendidikan Alquran (TPA), mulai dari remaja sampai dewasa. Biasanya dilakukan 3 kali

dalam seminggu di masjid Desa Kalangan. Banyak dari usia remaja yang ikut mengikuti kegiatan TPA tersebut.

Bapak A (40 tahun) adalah salah satu pengurus dan pendiri TPA di Desa Kalangan. Bapak A mempunyai komitmen apabila mengajar harus menghasilkan pengajar-pengajar baru agar ilmunya bisa tersampaikan dari generasi ke generasi. Bapak A juga memberikan pernyataan mengenai remaja dalam mengikuti TPA sebagai berikut:

“…Kalau di situ (Desa Kalangan) ada Madrasah Diniyah terus maju jadi ikatan TPA terus SMP terus SMA, itu ada wadahnya ikatan Alumni Madrasah Diniyah Al Kautsar. (karena) ketika TPA nanti diikat kencang, tapi ketika remaja kan sok buyar. Jadi itu ada ikatan. Beberapa kali (ada) pertemuan, kadang-kadang yang SMP-SMA suruh ngajar adik-adiknya lagi, jadi mata rantai terus…”

Remaja Desa Kalangan dibentuk melalui media ikatan alumni TPA, agar setelah selesai mengikuti TPA tetap bisa mengajarkan kembali kepada adik kelasnya. Sistem inilah yang terus digalakkan agar generasi muda khususnya remaja Desa Kalangan tetap mempelajari ajaran-ajaran yang dapat dijadikan sebagai pembatas perilaku negatif remaja. Materi kesehatan tidak secara langsung diajarkan dalam TPA, namun adab-adab bersuci dalam Islam terkait kebersihan dan kesehatan ada diajarkan, seperti di ungkapkan Bapak A (40 tahun) berikut ini:

“…(TPA) diajarkan Thoharoh, Toharoh itu bersuci, hukumnya ketika anak belum baligh 5 kewajiban dibekali dengan edukasi, itu termasuk bersuci, kewajiban sholat, wudhu, tayamum, sama istinja’. Buang air besar dan buang air kecil tidak boleh membuang air besar dan air yang kecil di air yang tenang, tidak boleh menghadap ke arah Ka’bah, terus tidak boleh membuang air besar sembarangan. membersihkan tinja itu ada aturannya, pakai air itu

kalau ada, kalau tidak ada ya pakai batu. kalau sekarang di kota tidak ada batu ya pakai kapas. Diajarkan tentang tayamum kalau nggak ada air ya pakai debu... “

Pengajaran TPA yang diberikan kepada remaja di Desa Kalangan merupakan salah satu media untuk pembentukan diri pada remaja sekaligus untuk menekan tingkat kenakalan remaja. Pembinaan dilakukan kepada remaja yang pernah terlibat minuman keras. Bapak A pernah menjabat sebagai salah satu ketua Karang Taruna dukuh. ditegaskan kepada anggota Karang Taruna bahwa setiap ada kegiatan di dukuh kalau ada miras, maka Bapak A tidak akan pernah mau datang pada acara tersebut. Seperti diungkapkan Bapak A berikut ini:

“…setiap tiga bulan ada pertemuan belajar, terus saya pernah ultimatum (bahwa) saya sebagai ketua, ketika saya tidak bisa membina anak buah itu artinya tanggung jawab moral. Ketika disitu ada kegiatan seperti itu (miras), saya gak hadir..kalau perlu saya keluar, silahkan, akhirnya manut (menurut)…“

Sejak dulu di Desa Kalangan sudah banyak remaja yang melakukan kegiatan minum miras. Warga desa juga sudah banyak yang mengetahuinya. Mereka melakukan kegiatan minum-minuman keras pada tengah malam, biasanya dimulai pukul 23.00 WIB sampai larut malam. Pernah ada razia dari aparat yang membuat jera remaja yang melakukan minum-minuman keras. Namun kegiatan razia aparat harus diteruskan agar kegiatan miras di lingkungan desa bisa reda.

Pergaulan remaja di Desa Kalangan memiliki faktor risiko pengaruh dari desa sekitar. Desa Kalangan berbatasan langsung dengan desa yang di dalamnya terdapat tempat prostitusi. Jarak lokasi prostitusi dengan desa tidak terlalu jauh, akses jalan menuju ke sekolah (SMP, SMA) atau pasar yang ada di ibukota kecamatan berada di jalur yang sama tempat prostitusi tersebut. Hal ini berisiko membahayakan remaja di sekitarnya.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menyatakan bahwa perilaku seks bebas dari remaja di Kabupaten Klaten sudah sangat berisiko terhadap penularan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV-AIDS. Faktor utama adalah perkembangan pergaulan, gaya hidup remaja dan faktor ekonomi keluarga. Hal tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan akan kesehatan reproduksi dari remaja itu sendiri. Di Desa Kalangan dan Kabupaten Klaten secara umum baru masih akan dibentuk program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang digunakan sebagai salah satu wadah untuk penanggulangan masalah-masalah kesehatan, termasuk didalamnya adalah masalah kesehatan ibu dan anak. agar tidak terjadi keterlambatan yang menyebabkan kematian ibu dan bayi, maka mengedukasi remaja pra hamil lebih akan memberikan hasil yang baik untuk penurunan angka kematian ibu dan anak.